BAB IX JAMINAN PERORANGAN
B. Peraturan Perundang-undangan
21 DAFTAR PUSTAKA
22
23 BAB III HAK-HAK JAMINAN MENURUT HUKUM PERDATA A. Pendahuluan
Lembaga jaminan sebagian besar mempunyai ciri-ciri internasional. Dikenal hampir semua negara dan perundang-undangan modern, bersifat menunjang perkembangan ekonomi dan perkreditan serta memenuhi kebutuhan masyarakat akan fasilitas modal (Sri Soedewi Masjchun Sofwan, 1982 : 73).
Jenis-jenis lembaga jaminan yang dikenal di Indonesia dapat digolongkan menurut cara terjadinya, sifatnya, objeknya, kewenangan menguasainya dan lain-lain. Lembaga jaminan yang dikenal dalam praktik perbankan adalah jaminan pokok dan jaminan tambahan.
Sedangkan dalam literatur hukum jaminan sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli hukum tidak dikenal model jaminan demikian. Jenis-jenis lembaga jaminan yang dikenal dalam praktik perbankan tersebut (jaminan pokok dan jaminan tambahan) mempunyai kesamaan atau kemiripan dengan pembagian lembaga jaminan yang sudah ada sebagaimana dikemukakan oleh para ahli hukum (M.Khoidin, 2017 : 9-10).
Demi mempermudah jalannya pengaturan, maka oleh pembentuk KUH Perdata diadakanlah beberapa penggolongan benda dengan spesifikasinya masing-masing, tanpa menanggalkan metoda keilmuan agar supaya dapat dipertanggungjawabkan secara logis.
Setiap benda yang digolong-golongkan sepasang demi sepasang, sesuai sistem yang dianut membawa akibat lanjut yang berbeda-beda mana kala benda yang bersangkutan dijadikan objek transaksi.
Mengkombinasikan penggolongan benda dengan urusan transaksi bisnis, benar-benar memerlukan kecermatan yang akurat demi tegaknya efisiensi yang dituntut oleh hiruk pikuknya pasar (Moch.
Isnaeni, 2017 : 20).
Benda yang diatur oleh Buku II KUH Perdata pada umumnya akan dijadikan objek transaksi, sedang proses transaksi sebagian besar menyangkut perjanjian obligatoir yang tunduk pada Buku III KUH Perdata. Saat benda dijadikan objek perjanjian yang tentu saja dari perjanjian itu akan lahir perikatan sebagaimana diatur oleh Pasal 1233 KUH Perdata, maka pihak-pihak yang terikat berharap agar prestasi
24
yang diinginkan dapat terwujud, karena itu merupakan haknya. Apabila dari perikatan yang dijalin itu tak menghasilkan hak, berarti tidak untung atau menderita rugi, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugat ke pengadilan supaya kerugian itu dipulihkan.
Pemulihan kerugian tersebut oleh hukum memang dijanjikan pasti dapat terwujud sampai prestasi sebagai objek perikatan yang diinginkan terealisasi secara utuh. Untuk keperluan itulah maka dikemas Pasal 1131 KUH Perdata sebagai jaminannya (Moch. Isnaeni, 2017 : 41).
Dari uraian di atas, pokok bahasan pembelajaran pada Bab III ini akan mengangkat tema tentang hak-hak jaminan menurut hukum perdata. Adapun tujuan umum pembelajaran dalam BAB III adalah :
1) Memberikan mahasiswa pemahaman mengenai jaminan umum dan jaminan khusus;
2) Memberikan mahasiswa pemahaman tentang jaminan kebendaan dan jaminan perorangan;
3) Mahasiswa dapat mengetahui jaminan benda bergerak dan jaminan benda tidak bergerak ;
4) Mahasiswa mengetahui jaminan menguasai benda dan jaminan tanpa menguasai benda;
5) Mahasiswa dapat mengetahui jaminan regulatif dan jaminan non regulatif;
6) Mahasiswa dapat mengetahui jaminan eksekutorial khusus dan jaminan non eksekutorial khusus; dan
7) Memberikan mahasiswa pemahaman mengenai hak-hak yang memberi jaminan.
Sedangkan tujuan khusus pembelajaran pada BAB III ini adalah : 1) Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai jaminan umum dan
jaminan khusus;
2) Mahasiswa dapat menjelaskan tentang jaminan kebendaan dan jaminan perorangan;
3) Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai jaminan benda bergerak dan jaminan benda tidak bergerak;
4) Mahasiswa dapat menjelaskan tentang jaminan menguasai benda dan jaminan tanpa menguasai benda;
5) Mahasiswa dapat menjelaskan tentang jaminan regulatif dan jaminan non regulatif;
6) Mahasiswa dapat menjelaskan tentang jaminan eksekutorial khusus dan jaminan non eksekutorial khusus;
25
8) Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai hak-hak yang memberi jaminan.
Agar mahasiswa dapat menjelaskan materi pada BAB III dengan baik dan benar, maka diberikan soal latihan dalam bentuk essay beserta tugas partisipatif. Diharapkan dari tugas yang diberikan dapat tercapainya tujuan khusus dari materi pembelajaran BAB III.
26 B. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus
Yang dimaksud dengan jaminan umum adalah jaminan yang ditentukan oleh undang-undang. Tanpa diperjanjikan sebelumnya oleh para pihak (kreditur dan debitur), secara otomatis kreditur sudah mempunyai hak verhaal atas benda-benda milik debitur. Jaminan umum tertuju pada semua benda milik debitur, yaitu benda bergerak dan benda tidak bergerak, baik benda yang sudah ada maupun benda yang baru akan ada. Terhadap jaminan umum ini, para kreditur berkedudukan sebagai kreditur konkuren (persaingan), artinya kedudukan para kreditur adalah sama, tidak ada yang lebih diutamakan di antara kreditur yang satu dengan yang lain. Apabila debitur wanprestasi, maka semua benda milik debitur dijual lelang dan dibagi di antara para kreditur seimbang dengan jumlah piutang masing- masing kreditur (secara ponds-ponds gelijk). Jaminan umum diatur dalam Pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (M.
Khoidin,2017 : 11).
Pasal 1131 KUH Perdata menyatakan:
“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”.
Sedangkan Pasal 1132 menyatakan bahwa “
“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan” (R,Subekti, R. Tjitrosudibio, 1995 : 291).
Dari ketentuan yang tertulis dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dapat disimpulkan bahwa meskipun tanpa diperjanjikan lebih dahulu antara kreditur dan debitur, namun sudah ditentukan sendiri oleh undang-undang bahwa bagi pihak kreditur atas piutang yang diberikan kepada pihak debitur akan dijamin
Berdasarkan
Lahirnya Jaminan Khusus
Jaminan Umum
27
dengan segala harta bendanya bersama-sama dengan para kreditur yang lain.
Meskipun undang-undang telah memberikan bentuk jaminan sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang-undang Hukum Perdata secara umum terhadap harta kekayaan milik debitur baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada baik yang tetap maupun yang bergerak bagi para kreditur ada kalanya kurang memuaskan bagi pihak kreditur sehingga perlu jaminan yang sifatnya khusus.
Adapun pengertian jaminan khusus ialah jaminan yang timbulnya (terjadinya) karena diperjanjikan secara khusus oleh para pihak (kreditur dan debitur). Penyediaan jaminan khusus itu dikehendaki oleh kreditur karena jaminan umum kurang memberikan rasa aman. Jaminan khusus hanya tertuju pada benda-benda khusus milik debitur (asas spesialitas), dan hanya berlaku bagi kreditur tertentu (khusus). Karena diperjanjikan secara khusus, maka kreditur pemegang hak jaminan khusus mempunyai kedudukan preferensi (separatis). Artinya pemenuhan hak kreditur khusus itu didahulukan dari kreditur lainnya. Jaminan khusus dapat bersifat kebendaan (zakenlijk recht), yakni yang tertuju pada benda tertentu; dan dapat pula bersifat perorangan (persoonlijk recht) yang tertuju pada orang tertentu (M. Khoidin,2017 : 11-12).