BAB IX JAMINAN PERORANGAN
C. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-undang Hukum Perdata
68 DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku
Abdulkadir Muhammad, 2010, Hukum Perdata Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti
Djaja S. Meliala, 2012, Hukum Perdata Dalam Perspektif BW, Bandung, Nuansa Aulia
Kasmir, 2008, Dasar-dasar Perbankan, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada
Mariam Darus Badrulzaman, 2011, Aneka Hukum Bisnis, Bandung, Alumni
R. Subekti, Tjitrosoedibio, 2008, Kamus Hukum, Cet-17, Jakarta, Pradnya Paramita
Riduan Syahrani, 2006, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Edisi Revisi, Bandung, Alumni
Salim HS, 2014, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Ed.1-8, Jakarta, Rajawalipers
Sentosa Sembiring, 2008, Hukum Perbankan, Bandung, CV. Mandar Maju
W.J.S. Poerwadarminta, 1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka
B. Jurnal
Aktieva Tri Tjitrawati, 2010, Penataan Aturan Hipotik Kapal Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, Jurnal Yuridika Vol. 25 No. 3, Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Sulfandi Kandou, 2016, Tinjauan Yuridis Jaminan Hipotik Kapal Laut dan Akibat Hukumnya, Jurnal Lex Crimen Vol. V/No. 4/Apr-Juni, 2016
C. Peraturan Perundang-undangan
69 BAB VI HAK TANGGUNGAN
www.google.com
Gb iii : Tanah dan sertifikat tanah A. Pendahuluan
Meningkatnya pembangunan nasional yang bertitik berat pada bidang ekonomi, dibutuhkan penyediaan dana yang cukup besar, sehingga memerlukan lembaga hak jaminan yang kuat dan mampu memberi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang dapat mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam rangka memelihara kesinambungan pembangunan tersebut, yang para pelakunya meliputi baik Pemerintah maupun masyarakat sebagai orang perseorangan dan badan hukum, sangat diperlukan dana dalam jumlah yang besar. Dengan meningkatnya kegiatan pembangunan, meningkat juga keperluan akan tersedianya dana, yang sebagian besar diperoleh melalui kegiatan perkreditan.
Peningkatan laju perekonomian akan menimbulkan tumbuh dan berkembangnya usaha yang dilakukan oleh masyarakat, biasanya pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya selalu berupaya menambah modal usahanya dengan cara melakukan pinjaman atau kredit langsung dengan perbankan. Dimana kredit yang banyak berkembang dalam masyarakat adalah kredit dengan hak tanggungan (Bachtiar Jajuli, 1987 : 43).
Mengingat pentingnya kedudukan dana perkreditan tersebut dalam proses pembangunan, sudah semestinya jika pemberi dan penerima kredit serta pihak lain yang terkait mendapat perlindungan
70
melalui suatu lembaga hak jaminan yang kuat dan yang dapat pula memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan.
Dalam Pasal 51 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang disebut juga Undang- Undang Pokok Agraria, sudah disediakan lembaga hak jaminan yang kuat yang dapat dibebankan pada hak atas tanah, yaitu hak tanggungan, sebagai pengganti lembaga hypotheek dan credietverband.
Dengan telah di undangkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah. Maka lembaga jaminan hypotheek dan credietverband dikonversikan dan diunifikasikan menjadi hak tanggungan khusus mengenai hak jaminan atas tanah.
Dari uraian di atas, begitu pentingnya hak tanggungan dalam pembangunan perekonomian di Indonesia khususnya kepentingan pendanaan bagi masyarakat melalui pembebanan hak tanggungan, maka pada pertemuan ini, pokok bahasan yang akan disampaikan adalah mengenai hak tanggungan. Adapun sub bab materi akan membahas mengenai :
1) Pengertian Hak Tanggungan;
2) Asas-asas Hak Tanggungan;
3) Subjek dan Objek Hak Tanggungan;
4) Tata Cara Pemberian, Pendaftaran dan Peralihan Hak Tanggungan Hapusnya Hak Tanggungan;
5) Hapusnya Hak Tanggungan;
6) Eksekusi Hak Tanggungan.
Tujuan umum pembelajaran dalam BAB VI adalah untuk:
1) Memberikan mahasiswa pemahaman tentang pengertian hak tanggungan;
2) Memberikan mahasiswa pemahaman mengenai asas-asas hak tanggungan;
3) Memberikan mahasiswa pemahaman tentang subjek dan objek hak tanggungan;
4) Mengetahui tata cara pemberian, pendaftaran dan peralihan hak tanggungan hapusnya hak tanggungan;
5) Memberikan mahasiswa pemahaman tentang hapusnya hak tanggungan;
71
6) Memberikan mahasiswa pemahaman mengenai eksekusi hak tanggungan.
Sedangkan tujuan khusus pembelajaran pada BAB VI ini ialah Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai:
1) Pengertian Hak tanggungan;
2) Asas-asas yang terkandung dalam hak tanggungan;
3) Subjek dan objek hak tanggungan;
4) Tata cara pemberian, pendaftaran dan peralihan hak tanggungan
5) Hapusnya hak tanggungan; dan 6) Cara eksekusi hak tanggungan.
Agar mahasiswa dapat menjelaskan materi pada BAB VI dengan baik, maka diberikan soal latihan dalam bentuk essay dan juga tugas partisipasi. Dari tugas yang diberikan tersebut, diharapkan agar tercapainya tujuan khusus dari materi pembelajaran BAB VI.
72 B. Pengertian Hak Tanggungan
Pengertian hak tanggungan terdapat dalam Pasal 1 butir 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah menyatakan bahwa Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.
Dari ketentuan Pasal 1 butir 1 ini dapat disimpulkan bahwa hak tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain (Djaja S. Meliala, 2012 : 133).
Dalam penjelasan umum Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah, Hak Tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain. Dalam arti, bahwa jika debitur cidera janji, kreditur pemegang hak tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahulu daripada kreditur-kreditur yang lain. Kedudukan diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.
Sedangkan Budi Harsono dalam Salim HS (2014 : 97) memberikan pengertian hak tanggungan adalah penguasaan hak atas tanah yang dijadikan agunan. Tetapi bukan untuk dikuasai secara fisik dan digunakan, melainkan untuk menjualnya jika debitur cedera janji dan mengambil dari hasilnya seluruhnya atau sebagian sebagai pembayaran lunas utang debitur kepadanya.
Adapun yang merupakan ciri-ciri dari suatu hak tanggungan adalah sebagai berikut:
a. Hak tanggungan memberikan hak preferensi (hak yang didahulukan) kepada pemegang hak tanggungan;
73
b. Hak tanggungan mengikuti objek (tanah) yang dijamin dalam tangan siapapun objek atau hak atas objek tersebut berada;
c. Hak tanggungan memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga mengikat pihak ketiga, dan memberikan kepastian hukum;
d. Hak tanggungan mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya (Munir Fuady, 2005 : 144).
Sifat yang melekat pada hak tanggungan adalah tidak dapat dibagi-bagi, artinya tetap melekat pada seluruh benda yang dijadikan objek hak meski sebagian dari utang telah dilunasi oleh debitur. Hak tanggungan meliputi benda secara utuh dan keseluruhan sampai semua utang yang dijamin dengan hak tanggungan tersebut dilunasi. Debitur tidak berhak meminta kembali sebagian dari benda yang dijaminkan meski telah membayar sebagian utangnya. Pemegang hak tanggungan tetap berhak menahan seluruh benda yang menjadi objek hak tanggungan meski debitur telah membayar sebagian utangnya. Sifat lain yang perlu diketahui dari hak tanggungan adalah keberadaannya hanya sebagai perjanjian tambahan (accesoir) dari suatu perjanjian pokok. Hak tanggungan lahir dari perjanjian pokok yang sebelumnya telah dibuat oleh debitur dan kreditur. Sebagai suatu perjanjian tambahan, maka kelahiran, peralihan dan hapusnya hak tanggungan bergantung pada perjanjian pokoknya (M. Khoidin, 2017 : 80-81).