BAB II TINJAUAN TEORITIS
C. Perkembangan UMKM
2. Perbedaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan, yakni sebagai berikut :
a. Usaha Mikro
Usaha produktif milik perseorangan dan atau badan usaha perseorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro yang diatur oleh undang-undang b. Usaha kecil
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik secara langsung maupun tidak langsung.
25
14
c. Usaha Menengah
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil dan usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang.
3. Keunggulan Usaha Mikro Kecil dan Menegah
Meski skala bisnis yang ditargetkan oleh bisnis UMKM tidak sebesar perusahaan kelas kakap, banyak orang yang nyaman berbisnis dalam level ini karena keunggulan yang ditawarkan pada bisnis usaha mikro kecil dan menengah serta keunggulan tersebut sulit didapatkan di level bisnis raksasa.
Salah satu keunggulan yang utama adalah kemudahan dalam mengadopsi inovasi dalam bisnis, terutama dalam bidang tekonologi. Adopsi teknologi terbaru menjadi lebih mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis UMKM karena tidak memiliki birokrasi yang berbelit dan sistem yang rumit. Selain kemudahan aplikasi teknologi, keunggulan dalam factor hubungan antara karyawan karena lingkupnya lebih kecil, dan fleksibilitas untuk menyesuaikan bisnis dengan kondisi pasar yang dinamis.
4. Perkembangan UMKM di Indonesia
Data yang dihimpun dari kementerian Koperasi dan UMKM adalah sebagai berikut:
a. 2009 berjumlah 52.764.750 unit dengan pangsa 99,99%
26
14
b. 2010 berjumlah 54.114.821 unit dengan pangsa 100,53%
c. 2011 berjumlah 55.206.444 unit dengan pangsa 99,99%
d. 2012 berjumlah 56.534.592 unit dengan pangsa 99,99%
e. 2013 berjumlah 57.895.721 unit dengan pangsa 99,99%
f. 2014 berjumlah 57.895.721 unit dengan pangsa 99,99%
g. 2015 berjumlah 59.262.772 unit dengan pangsa 99,99%
h. 2016 berjumlah 61.651.177 unit dengan pangsa 99,99%
i. 2017 berjumlah 62.922.617 unit dengan pangsa 99,99%
Pada tahun 2014-2016 jumlah UMKM lebih dari 57.900.000 unit dan pada tahun 2017 jumlahnya diperkirakan berkembang sampai lebih dari 59.000.000 unit. Dan pada tahun 2016, Presiden RI menyatakan UMKM yang dimiliki daya tahan tinggi akan mampu untuk menopang perekonomian negara, bahkan saat terjadi krisis global. Pada November 2016 Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) menerima pelaku para bisnis ini di istana merdeka untuk dimintai pendapatnya.
Jokowi sangat berharap pelaku bisnis usaha kecil, mikro dan menengah menjadi garda terdepan dalam membangun ekonomi rakyat.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat penyaluran kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terus bertumbuh menjelang akhir 2020 Kredit berpotensi bertumbuh seiring dengan tingginya kebutuhan modal baru tahun 2021 saat ini tercatat lebih dari dari 65 juta aumkma yang tersebar di indonesia. Pada 2016, tercatat ada 61,7 juta UMKM di Indonesia. Jumlahnya terus meningkat, pada 2017, jumlah UMKM mencapai 62,9juta dan pada tahun 2018, jumlah UMKM mencapai 64,2 Juta diprediksikan bahwa pada tahun 2019, 2020 hingga 2021
27
14
jumlahnya terus meningkat. Dikutip dalam situs Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, saat ini telah tercatat sebanyak 314 Unit UMKM yang tersebar di wilayah Kabupaten Bulukumba. Dan hanya ssekitar 23%
yang diberikan bantuan melalui UMKM, dan dana yang diberikan sekitar 10 juta samapai 50 juta per orang unit UMKM.
UMKM telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dan ASEAN. Sekitar 88,8-99,9% bentuk usaha ASEAN adalah bentuk usaha mikro kecil dan menengah dengan penyerapan tenaga kerja mecapai 51,7-97,2%. Bisnis ini memiliki proporsi sebesar 99,99% dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia atau sebanyak 56,54 juta unit. Oleh karena itu, kerjasama untuk pengembangan dan ketahanan bisnis usaha mikro kecil dan menengah perlu diutamakan.
Perkembangan potensi UMKM di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada pelaku UMKM. Menurut data bank Indonesia, setiap tahunnya kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhan.
Walaupun pada tahun 2015, sekitar 60%-70% dari seluruh sektor ini belum mempunyai akses pembiayaan melalui perbankan.24
Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan yang mewajibkan kepada perbankan untuk mengalokasikan kredit/pembiayaan kepada UMKM mulai tahun 2015 sebesar 5%, 2016 sebesar 10%, 2017 sebesar 15% dan pada akhir tahun 2018 sebesar 20%. Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, semua orang harus berlomba-lomba menjalankan UMKM dan meraih peluang bisnis yang ada.
Untuk itu, diperlukan pengaturan keuangan bisnis yang baik untuk menunjang keberlangsungannya.
24 Ramdhansyah, “Pengembangan Model Pendanaan UMKM Berdasarkan Persepsi Umkm Jurnal Keuangan dan Bisnis. (Vol 5 No.1 2013), h. 21-30.
28
14
5. Faktor Perkembangan UMKM di Indonesia
1) Pemanfaatan sarana teknologi, informasi dan komunikasi
Kemajuan UMKM disejalankan dengan perkembangan teknologi yang semakin kian berkembang. Hasil penelitian menyatakan bahwa salah satu kesuksesan bisnis adalah penunjangan teknologi yang baik dan tepat sasaran. Pada tahun 2017, 8 juta unit usaha mikro kecil dan menengah yang sudah go digital. Angka ini diharapkan terus bertambah demi keberlangsungan dan kemajuan bisnis di Indonesia 2) Kemudahan pinjaman modal
Perkembangan bisnis usaha mikro kecil dan menengah di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan di Indonesia. Untuk mendorong pertumbuhan UMKM, diperlukan keterbukaan akses pembiayaan dari perbankan dan alokasi kredit khusus untuk UMKM.
3) Menurunnya Tarif PPH Final
Penurunan tarif PPH akan berdampak baik bagi para pemilik bisnis usaha mikro kecil dan menengah untuk mempermudah pebisnis menjalankan kewajiban perpajakan.
6. Pembiayaan UMKM
Dukungan modal untuk pengusaha kecil, mikro dan menengah terus disuntikkan oleh pemerintah dan lembaga keuangan. Tentuu hal ini membuat iklim ekonomi di Indonesia semakin sehat. Namin tentu saja hal itu perlu diregulasi dengan baik agar modal yang telah disiapkan menjadi tepat sasaran dan bisa mengembangkan potensi ekonomi di masyarakat.
Salah satu dukungan modal yaitu kredit UMKM dari pemerintah yang beberapa waktu belakangan semakin serius durespon oleh lembaga keuangan maupun pemangku kebijakan.
29
14
Bank Syariah Usaha Mikro Kecil
dan Menengah
Menurut sugiyono (2014) kerangka pemikiran adalah bentuk strategi konseptual yang dianggap penting untuk diselesaikan.25Agar lebih mudah memahami konsep kerangka pikir, maka penelitian ini mendefinisikan beberapa istilah sebagai berikut:
D. KERANGKA PIKIR
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
25 Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta ( 2014):h. 70.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan atau dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang tertentu. Jawaban dari saat masalah dapat berupa jawaban abstrak dan umum atau jawaban yang konkrit dan spesifik dalam jawabannya.
Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hal ini pengertian dari penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan data kualitatif (data yang terbentuk kalimat, skema dan gambar).
Jadi metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.26
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini adalah studi kasus Bank Syariah Indonesia (Ex bank syariah mandiri) Kabupaten Bulukumba yang beralamat di Jl Lanto Dg Pasewang No. 88, Caile, Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan 92517.
26 Sangadji, Etta Mamang, Sopiah, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: CV Andi Offset.
2010),h. 50.
33
34
2. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian yang akan dilaksanakan pada 07 Juni sampai dengan 05 Juli 2021.
C. Jenis Data
Sumber data yang biasanya digunakan dan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer adalah data yang berasal dari sumber asli atau pertama. Sedangkan Data sekunder adalah data-data yang dikumpulkan oleh institusi/lembaga pengumpulan data yang telah dipublikasikan kepada masyarakat luas. Menurut Moleong (2001:112) pencatatan sumber data melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya. Pada penelitian kualitatif, kegiatan- kegiatan ini dilakukan secara sadar, terarah dan senantiasa bertujuan memperoleh suatu informasi yang diperlukan.27Penentuan sumber data didasarkan atas jenis data yang telah ditentukan. Adapun sumber data pada penelitian ini, penulis menggunakan sumber data menjadi 2 bagian yaitu :
1. Data Primer
Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung dengan cara observasi dan wawancara di Bank Syariah Mandiri Kabupaten Bulukumba
27 Moleong Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (PT Remaja Rosda Karya:
Bandung2001), h. 120.
35
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek penelitiannya. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari Website Bank Syariah Mandiri Kabupaten Bulukumba
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akurat, penelitian ini digunakan dengan metode pengumpulan data yang dikenal secara umum yaitu :
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan atau peninjauan secara mendalam. Apabila dihubungkan dengan penelitian maka observasi dapat diartikan sebagai salah satu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap sesuatu baik benda, perilaku, maupun kondisi dari berbagai gejala yang diteliti.
2. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari respondennya sedikit/kecil. Wawancara dilakukan dua pihak yaitu pewawancara (interview) dan yang mengajukan pertanyaan kepada orang yang diwawancarai dengan maksud untuk mengkontruksi kejadian dan kegiatan. Wawancara secara garis besar dibagi menjadi dua yakni, wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur, wawancara
36
terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data telah mengetahui pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.Dalam hal ini, peneliti melakukan Tanya jawab atau wawancara secara tidak terstruktur kepada pimpinan dan staff dari Bank Syariah Mandiri Kabupaten Bulukumba.
3. Dokumentasi
Dokumentasi ialah kumpulan dari dokumen-dokumen dapat memberikan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan proses pengumpulan dan pengelolaan dokumen secara sistematis serta menyebar luaskan kepada pemakai informasi tersebut. Menurut Hamidi (2004:72) dokumentasi merupakan informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun perorangan. Dokumentasi diperlukan untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara.28 E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data meliputi analisis kualitatif dimana digunakan untuk menilai objek penelitian berdasarkan sifat tertentu dimana dalam penilaian yang sifatnya dinyatakan tidak dalam angka dan digunakan untuk menjelaskan analisis data yang diolah secara terstruktur.
28 Hamidi,Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press(2004): h. 61-70.
37
Teknik analisis data yang digunakan penulis berasal dari observasi, wawancara, dokumentasi dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Penulis mencoba memaparkan data-data dan informasi yang diperoleh, kemudian menganalisis dari sumber data tertulis. Penyusun mencari sistematis data yang diperoleh dari hasil, catatan lapangan, wawancara dan dokumentasi dengan cara mengorganisasi data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesia, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami baik oleh individu maupun orang lain. Pada tahap ini data yang diperoleh di lapangan akan dianalisis dan diolah kemudian disimpulkan secara garis besar, maka garis besar analisis data yang akan dilakukan oleh penulis yaitu :
1. Redukasi Data
Redukasi data merupakan bagian dari analisis berbentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan penelitian dapat ditarik dan diverifikasi.
2. Penyajian Data
Penyajian data adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang penelitian, baik individu maupun berkelompok untuk melengkapi proses pembuatan laporan atas hasil penelitian kemudian menguraikan setiap permasalahan penelitian secara umum dan menjelaskan kembali secara spesifik.
38
3. Penarikan Kesimpulan
Data yang sudah tersusun rapi merupakan langka selanjutnya dalam menganalisis data kualitatif. Kesimpulan yang diperoleh selama di lapangan diverifikasi selama penelitian berlangsung, dengan cara meninjau kembali catatan lapangan sehingga terbentuk penegasan kesimpulan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Bank Syariah Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk menjadi yang terdepan dalam industri keuangan Syariah. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap halal matter serta dukungan stakeholder yang kuat, merupakan faktor penting dalam pengembangan ekosistem industri halal di Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah Bank Syariah. Bank Syariah memainkan peranan penting sebagai fasilitator pada seluruh aktivitas ekonomi dalam ekosistem industri halal.
Keberadaan industri perbankan Syariah di Indonesia sendiri telah mengalami peningkatan dan pengembangan yang signifikan dalam kurun tiga dekade ini.
Inovasi produk, peningkatan layanan, serta pengembangan jaringan menunjukkan trend yang positif dari tahun ke tahun. Bahkan, semangat untuk melakukan percepatan juga tercermin dari banyaknya Bank Syariah yang melakukan aksi korporasi. Tidak terkecuali dengan Bank Syariah yang dimiliki Bank BUMN, yaitu Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah.
Pada 1 Februari 2021 yang bertepatan dengan 19 Jumadil Akhir 1442 H menjadi penanda sejarah bergabungnya Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah menjadi satu entitas yaitu Bank Syariah Indonesia (BSI). Penggabungan ini akan menyatukan kelebihan dari ketiga Bank Syariah
39
40
sehingga menghadirkan layanan yang lebih lengkap, jangkauan lebih luas, serta memiliki kapasitas permodalan yang lebih baik. Didukung sinergi dengan perusahaan induk (Mandiri, BNI, BRI) serta komitmen pemerintah melalui Kementerian BUMN, Bank Syariah Indonesia didorong untuk dapat bersaing di tingkat global.
Penggabungan ketiga Bank Syariah tersebut merupakan ikhtiar untuk melahirkan Bank Syariah kebanggaan umat, yang diharapkan menjadi energi baru pembangunan ekonomi nasional serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat luas. Keberadaan Bank Syariah Indonesia juga menjadi cerminan wajah perbankan Syariah di Indonesia yang modern, universal, dan memberikan kebaikan bagi segenap alam (Rahmatan Lil
„Aalamiin).
2. Visi dan Misi
VISI
Top 10 Global Islamic Bank MISI
1) Memberikan akses solusi keuangan syariah di Indonesia
Melayani >20 juta nasabah dan menjadi top 5 bank berdasarkan asset (500+T) dan nilai buku 50 T di tahun 2025
2) Menjadi bank besar yang memberikan nilai terbaik bagi para pemegang saham
Top 5 bank yang paling profitable di Indonesia (ROE 18%) dan valuasi kuat (PB>2)
41
3) Menjadi perusahaan pilihan dan kebanggaan para talenta terbaik Indonesia
Perusahaan dengan nilai yang kuat dan memberdayakan masyarakat serta berkomitmen pada pengembangan karyawan dengan budaya berbasis kinerja
3. Nilai-nilai Perusahaan
A-K-H-L-A-K
A-manah : Memegang Teguh kepercayaan yang diberikan K- ompeten : Terus belajar dan mengembangkan kapabilitas H- armonis : Saling peduli dan menghargai perbedaan
Loyal : Berdedikasi dan mengutamakan kepentingan Bangsa dan Negara
A-daptif :Terus berinovasi dan antusias dalam menggerakan ataupun menghadapi perubahan
K-olaboratif : Membangun kerja sama yang sinergis 4. Struktur Organisasi
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Bank Syariah Indonesia
Sumber: Website Resmi BSI
42
B. Hasil dan Pembahasan
1. Tahapan Pemberian Pembiayaan UMKM oleh Bank Syariah KC Bulukumba
Dalam Buku Standar Pembiayaan Mikro Syaria yang disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan, dijelaskan terkait tahapan proses pembiayaan dan pengajuan pembiayaan mikro syariah sebagai berikut:
Tahapan I – Permohonan via Form Pengajuan Pembiayaan
1. UMKM yang bermohon wajib melengkapi form pengajuan pembiayaan yang telah disediakan dan ditetapkan formatnya oleh bank.
2. UMKM yang bermohon melakukan penyerahan dokumen yang dipersyaratkan oleh bank.
Tahapan II – Pengverifikasian Dokumen Pengajuan
1. Pihak bank akan melakukan pengverifikasian data yang tertera pada dokumen pengajuan pembiyaan yang diajukan UMKM dengan menganalisa hal-hal berikut:
a) Profil atau Gambaran UmumUMKMyang bermohon
b) Seberapa baik profitabilitas yang dimiliki dan bagaimana aliran kas yang dimiliki pemohon.
c) Analisa yuridis untuk melihat ketaatan dan kekuatan hukum yang dimiliki pemohon dalam menjalankan usahanya.
2. Setelah data terverifikasi dengan baik, bank selanjutnya akan menilai seberapa layak jaminan yang diusulkan sebagai salah satu bahan pertimbangan pemberian pembiyaan.
43
3. Jika jaminan dianggap layak, maka bank akan membuat usulan kepada pimpinan terhadap permohonan tersebut guna dipertimbangkan untuk mendapatkan pembiayaan.
Tahapan III – Persetujuan Pengajuan Pembiayaan
Bank akan melakukan konfirmasi terkait dengan putusan pengajuan dengan dua hasil sebagai berikut
1. Apabila dinyatakan layak, pihak Bank memberikan Surat Persetujuan Prinsip Pembiayaan kepada UMKM yang bermohon (Offering Letter) 2. Apabiladinyatakan tidak layak, maka Pihak Bank akan segera
mengkonfirmasi dan memberikan Surat Penolakan Pembiayaan kepada Nasabah
Tahapan IV – Perikatan Pembiayaan dan Jaminan
1. Berkas dan jaminan yang dinilai layak dan telah disetujui, selanjutnya akan dikonfirmasi pada UMKM yang bermohon untuk kemudian melakukan perikatan pembiayaan dan jaminan.
2. Pihak Bank akan mengverifikasiorisinalitas dokumen jaminan.
3. UMKM yang bermohon akan melakukan perikatan pembiayaan dan jaminan yang dilakukan dan dibuat oleh Notaris yang berafiliasi dengan Bank.
4. Setelah perikatan dilakukan, Bank akan menyimpan dokumen asli dari perikatan pembiayaan dan jaminan.
44
Tahapan V – Kesepakatan terhadap Pembayaran Biaya yang Timbul 1. Setelah terjadi perikatan, maka pihak UMKM yang bermohon akan
diarahkan untuk menyepakati biaya-biaya yang timbul dalam perikatan tersebut sebelum dilakukan pengaturan terhadap fasilitas pembiayaan.
2. Biaya yang dimaksudseperti:
a) Biaya administrasi
b) Biaya Asuransi Jiwa (bila disyaratkan) c) Biaya Asuransi Kebakaran
d) Biaya Asuransi Pembiayaan (bila disyaratkan) e) Biaya Notaris
f) Biaya Penilaian Jaminan, dan g) Biaya Materai
Tahapan VI – Pengaturan Fasilitas Pembiayaan
1. Setelah biaya yang ditimbul disepakati dan dibayarkan, maka bank akan segera melakukan penyediaan terhadap fasilitas pembiayaan.
2. Bank menentukan plafond pembiayaan yang merupakan kesepakatan yang telah ditandatangani di atas dokumen bermaterai.
Tahapan VII – Pembayaran Angsuran
1. Setelah plafond pembiayaan dilakukan, maka selanjutnya UMKM berkewajiban membayarkan angsuran sesuai dengan nominal yang telah disepakati.
2. Pembayaran pengembalian dana Bank dilakukan otomatis ketika terdapat dana di rekening nasabah UMKM tersebut.
45
Tahapan VIII – Pelunasan Pembiayaan 1. Fasilitas pembiayaan dinyatakan lunas apabila:
a) Lunas sesuai jangka waktu pembiayaan,
b) Nasabah UMKM tersebut melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo fasilitas pembiayaan.
2. Nasabah melakukan pelunasan melalui penyetoran dana sesuai dengan sisa dana angsuran. Setelah seluruh kewajiban Nasabah lunas maka pihak Bank akan melakukan pelepasan jaminan dan penghentian permintaan angsuran.
2. Peranan Bank Syariah Indonesia Cabang Bulukumba dalam Pengembangan UMKM
a) Peranan dalam Wujud Pemahaman Pentingnya Pembiayaan bagi UMKMdi Bulukumba
Perbankan selain sebagai salah satu agen pembangunan (agent of development) juga merupakan lembaga yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial intermediary institution) yaitu lembaga menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau pembiayaan. Fungsi tersebut juga menjadi concern dari perbankan syariah disamping fungsi lain sebagai lembaga yang mengelola zakat, infak, dan sekedah (ZIS). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Pihak BSI Cabang Bulukumba;
Ya sebagaiaman yang kita ketahui, BSI ini kan hasil merger dari 3 besar bank syariah di Indonesia, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Tujuannya ya agar jangkauan terhadap layanan keuangan dan perbankan syariah semakin luas dan terpusat. Visi misinya kita jelas,
46
BSI mau jadi 10 besar bank syariah dunia. Makanya kami juga di Bulukumba harus lebih bekerja keras juga demi itu.29
Apa yang disampaikan tersebut sejalan dengan apa yang tercantum dalam misi pertama BSI yakni “memberikan akses solusi keuangan syariah di Indonesia.
Dalam misi tersebut dijabarkan tujuan dari BSI adalah utnuk melayani kurang lebih 20 juta nasabah secara maksimal. Untuk menjalankan misi tersebut, bank syariah akan lebih realistis apabila bank syariah tersebut mampu menjalankan kegiatannya secara maksimal. Kegiatan bank syariah antara lain dengan menyediakan jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran seperti bank non-syariah sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta melakukan pengembangan fungsi sosial pengelola dana zakat, infaq, shadaqah serta pinjaman kebajikan (qardhul hasan) sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku. Pihak BSI Cabang Bulukumna menjelaskan;
Dalam rangka pencapaian visi dan misi kita, kita harus bisa dengan gencar melakukan sosialisasi dan terobosan-terobosan baru terkait dengan fungsi bank syariah itu sendiri, apalagi kita baru saja sudah merger sehingga harus ada penginformasian kembali kepada masyarakat. Selain sosialisasi, BSI juga sekarang harus lebih multi-fungsi, harus jadi lembaga pengelola dana-dana syariah seperti zakat dan lain sebagainya.30
Apa yang dijelaskan tersebut relevan dengan urgensi bank syariah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa majelis ulama Indonesia. Prinsip syariah misalnya prinsip keadilan dan keseimbangan („adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, masyir, riba, zalim dan
29 Wawancara dengan Bapak Aldi, 11 Juni 2021 di Kantor BSI KC Bulukumba
30Wawancara dengan Bapak Aldi, 11 Juni 2021 di Kantor BSI KC Bulukumba
47
obyek yang haram.31 Hal ini relevan dengan yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam sruah Al-Baqarah ayat 276;
ٍميِثَأ ٍراهفَك هلُك ُّبِحُي َلَ ُ هللَّٱَو ِِۗتَٰقَدهصلٱ يِب ۡرُيَو ْا ٰوَبِّرلٱ ُ هللَّٱ ُقَح ۡمَي ٦٧٢
.
Terjemahan:
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (Q.S Al-Baqarah/2:276).
Dalam tafsir Al-Misbah, ayat ini ditafsirkan “Allah memusnahkan (meniadakan berkah) pungutan tambahan dari praktek riba, dan memberikan berkah kepada harta yang disedekahkan serta membalasnya dengan balasan berlipat ganda. Allah tidak menyukai orang-orang yang terus menghalalkan segala yang diharamkan seperti riba. Begitu juga terhadap orang yang terus melakukannya.”32 Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah mengembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan pahalanya serta memberkahi harta itu. Karena menghalalkan riba. Ada pula yang menafsirkan "kafir" di sini dengan kufur nikmat karena tidak menunaikan kewajiban pada hartanya. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.
Sistem lembaga keuangan atau aturan yang menyangkut aspek keuangan dalam sistem mekanisme keuangan suatu negara, telah menjadi astrument penting
31Heri, Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah. (Cet.2; Yogyakarta: Ekonisia, 2008),h. 21-22
32https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-276#tafsir-quraish-shihab, diakses pada 21 Juni 2021, 13.56 WITA.