BAB III. Metodologi Penelitian
4.9 Profil Informan
IV.9.1 Informan Utama
Dalam penelitian ini terdapat informan utama yang mengetahui banyak hal mengenai permasalahan yang ingin di ungkapkan dalam penelitian ini. Para informan ini terlibat langsung dalam memakmurkan Masjid dan pelaksanaan alokasi dana serta pengawasan terhadap proses pembangunan di desa Manis.
Namun tidak semua informan bersedia identitasnya dicantumkan dalam tulisan ini, sebagian informan meminta agar identitasnya tidak dicantumkan dengan alasan tertentu. Para informan Utama yang dimaksud adalah:
1. Misdi Adi Prabowo (Kepala desa Manis Pulau Rakyat)
Misdi Adi Prabowo (50) tahun Beliau adalah salah satu tokoh masyarakat desa Manis yang sudah lama berdomisili di desa tersebut. Beliau menjabat sebagai kepala desa sudah hampir dua periode, periode pertama tahun 2003 – 2008 dan periode kedua tahun 2009 – sekarang ini. Orang tua beliau adalah Alm. Abd.
Khalik yang juga mantan kepala desa Manis.
Selama proses wawancara berlangsung, bapak ini menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan santai, terkadang dengan bahasa dan kata – kata nya yang agak keras. Saat ini bapak Misdi adalah pensiunan dari PTPN-IV kebun Pulu Raja, isterinya adalah pembina ibu – ibu PKK di desa ini. Kegiatan PKK di desa
ini cukup baik dan telah mendapat penghargaan dari pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten.
Beliau memiliki 3 orang anak kandung, anaknya yang yang pertama bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) di PTPN-IV kebun Pulu Raja. Anak beliau sering membantu beliau bekerja dalam menyelesaikan tugas dan berbagai urusan di kantor desa. Bapak Misdi menghabiskan waktunya sehari – hari di kantor desa, ia mengaku sangat senang dengan pekerjaan yang ia lakoni saat ini, meskipun dengan beban yang sangat berat harus melayani masyarakat sampai 24 jam, ia tetap bertanggung jawab berdasarkan tugas pokok yang ini miliki serta hak dan kewajibannya sebagai kepala desa.
Beliau menjelaskan tentang Badan Kemakmuran Masjid desa dengan masyarakat desa, menurutnya Badan Kemakmuran Masjid antara pemerintahan desa dengan masyarakat desa adalah hubungan yang terjalin cukup baik, khususnya dalam mewujudkan segala kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan. Masyarakat juga berperan dan ikut serta berpartisipasi dalam segala kegiatan untuk memakmurkan masjid. Dengan sosialisasi yang diberikan oleh anggota BKM, menjadikan masyarakat tahu akan apa saja peran dan fungsi BKM dalam masyarakat.
Sekarang dengan jelas telihat bahwa dari kegiatan – kegiatan masyarakat desa Manis yang berhubungan dengan Keagamaan, terlihat bahwa masyarakat tidak perlu banyak dikomandoi dalam berbagai hal kegiatan agama atau hari-hari besar Islam. Seperti yang dikatakan pak kades berikut ini:
“Saya salut kepada pengurus BKM mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap organisasi, job description,
pembagian kerja, dan lalin-lain. Sejak hampir setahun belakangan ini masyarakat disekitar lebih banyak melihat dan memberikan masukan-masukan untuk berbagai kegiatan keagaman dan peran-peran sosial lainya. keikut sertaan orang-orang disini dalam program kerja yang cukup baik dan dalam melaksankannya pun orang itu bertanggung jawab.”
Selain itu, Pak kades menjelaskan bahwa masalah keagamaan di desa Manis sudah menjadi tanggung kita bersama, karena organisasi BKM hanyalah wadah tempat berkumpulnya warga muslim dalam menjalankan aktivitas keagamaan. BKM menganggap bahwa segala program yang direncanakan untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan desa dalam mewujudkan keharmonisan dalam masyarakat harus sesuai dengan perencanaan yang telah disusun oleh para anggota – anggota BKM. Yang memberatkan karena program yang direncanakan oleh BKM tidak sama dengan ide – ide yang direncanakan masyarakat desa lainya. Inilah masalah – masalah yang timbul dalam pelaksaaan berbagai kegiatan dalam masyarakat.
Sehingga musyawarah untuk memakmurkan masjid desa harus sampai beberapa kali dilaksanakan untuk mencapai kesepakatan bersama. Untuk penyusunan program – program pelaksanaan pemerintahan desa tahun 2011 saja belum tersusun dan di sepakati bersama. Aktifitas ketua BKM yang cukup banyak diluar tugas ia sebagai Karyawan Perkebunan, sehingga musyawarah menjadi terkendala karena penyusunan laporan tersebut harus diketahui dan disetujui oleh Kades dan perangkat desa lainya.
2. H. Syahrin Lubis (Ketua Badan Kemakmuran Masjid desa Manis) Syahrin Lubis adalah seorang bapak berumur 48 tahun, yang sudah lama tinggal dan menetap di desa Manis , pendidikan beliau hanya SMU sederajat. Ia memiliki 5 anak kandung, istrinya adalah karyawan PTPN-IV kebun Pulu Raja.
Sehari - harinya ia bekerja sebagai Pegawai PTPN-IV kebun Pulu Raja dan menjabat sebagai ketua (BKM) Badan Kemakmuran Masjid di Manis Pulau Rakyat mulai tahun 2008 sampai sekarang.
Beliau menjelaskan keberadaan BKM memiliki pengaruh terhadap perkembangan mental para pemuda dan masyarakat khususnya didesa Manis. Para pemuda maupun masyarakat yang dalam didikan BKM lebih memiliki kecenderungan pergi kemasjid untuk sholat dibandingkan dengan pemuda atau masyrakat lain yang tidak ikut dalam didikan BKM. Sangat kita sukuri karena secara rutin para pemuda dan masyarakat mandapat pengetahuan agama dan siraman rohani, walaupun pelaksanaan kegiatan kajian keislaman belumlah maksimal jika kita melihat dari kajian akidah dan hukum Islam. Hal inilah yang harus menjadi kontrol dan motivasi dari BKM untuk mengajak para pemuda dan masyarakat untuk ikut beraktifitas didalamnya .
“kegiatan yang dilakukan Badan Kemakmuran Masjid sudah dikatakan baik, karena para pemuda dan masyrakat mau bersama- sama melakukan kegitan yang diadakan oleh BKM. Hal ini membuat lebih mudah mengingatkan para memuda dan masyarakat terhadap kondisi lingkungannya yang rentan terhadap aktifitas negatif, seperti contoh kita lihat dalam lingkungan disekitar kita bahwa perilaku dan tindakan para
pemuda saat ini sangat menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Ini semua merupakan tanggung jawab tanggung jawab kita bersama dalam mencari solusi dan mendidik generasi muda saat ini.”
Kegiatan di desa Manis saat ini sudah dapat dikatakan lumayan, karena BKM sudah hampir mampu mengendalikan masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan. Sebagaian besar masyarakat desa juga menunjukkan sikap perduli untuk recana yang dikelola Badan Kemakmuran Masjid.
3. Supartini (Bendahara Badan Kemakmuran Masjid desa Manis) Supartini adalah seorang ibu yang berumur 40 tahun, yang sudah lama tinggal dan menetap di desa Manis mulai sejak lahir. Suparti memiliki 4 anak kandung, suaminya adalah karyawan PTPN-IV kebun Pulu Raja.. Sehari - harinya ia bekerja dan menjabat sebagai Bendahara Badan Kemakmuran Masjid desa Manis mulai tahun 2008 sampai sekarang. Pengalamannya yang begitu lama menjabat sebagai Bendahara Badan Kemakmuran Masjid desa Manis membuat dirinya cukup dikenal dimasyarakat, dan berdasarkan kinerjanya yang sangat baik
Beliau memberikan penjelasan tentang Badan Kemakmuran Masjid dengan masyarakat desa Manis, yaitu dengan sosialisasi yang telah diberikan oleh BKM kepada masyarakat dapat terlihat didesa ini bahwa BKM dan masyarakat ikut berpartisipasi dalam mewujudkan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan.
BKM di desa Manis menghasilkan hubungan yang akrab dan kekeluargan, seperti hal nya dengan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan didesa ini, dengan
sosialisasi keagamaan yang telah diarahkan oleh Departemen Agama agar masyarakat aktif dan dapat memahami maksud dan tujuan dalam Memakmurkan Masjid dan lainya. BKM memberikan suatu proses pembelajaran yang dapat diterima dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat desa dalam mewujudkan keharmonisan dalam bermasyarakat beragama, seperti apa yang dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“Dalam mewujudkan peran-peran sosial bermasyarakat beragama saat ini berjalan cukup baik, misalnya dalam kegiatan – kegiatan keagamaan seperti perwiritan, maulid nabi, isra’
miraj dan lainya itu dapat terlaksanakan sampai selesai dengan aman. Bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh BKM dalam meningkatkan partisipasi masyarakat desa misalnya, mengundang masyarakat untuk hadir di masjid agar mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan –kegiatan keagamaan atau pun memberikan suatu pengumuan baik lisan atau pun tulisan yang akan disampai oleh para perangkat desa lainnya seperti dari para anggota BKM, kepala dusun, RT/RW dari masing – masing dusun yang mewakili masyarakat, sehingga masyarakat dapat paham.”
Badan Kemakmuran Masjid yang berdasarkan tugas pokok dan kewajiban dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan , yaitu sebagai contoh hubungan antara kades, dengan sekdes, para kaur dan kadus terbina dengan baik. Pelayanan yang telah diberikan oleh BKM kepada masyarakat dan dapat diterima oleh masyarakat.
BKM memiliki peranan yang signifikan dalam pengolahan proses sosial dalam masyarakat, dengan menciptakan kehidupan harmonis, sehingga dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang sejahtera, rasa tentram dan harmonis.
Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2006 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Badan Kemakmuran Masjid, adalah penyelenggara bahwa dalam meningkatkan kinerja badan kemakmuran masjid sesuai perkembangan dan keadaan serta untuk meningkatkan pengendalian dan pengawasan dipandang perlu menetapkan susunan organisasi dan tata kerja badan kemakmuran masjid disini terlihat jelas bahwa BKM dalam desa itu dapat dikatakan bersifat selaras, seperi melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dengan keterbukaan dalam masyarakat.
4. Arif Budiaman (Anggota Badan Kemakmuran Masjid desa Manis) Arif Budiaman adalah pria berumur 30 tahun, beliau sudah lama tinggal dan menetap di desa Manis. Pria ini memiliki 2 anak kandung, isterinya bekerja sebagai ibu rumah tangga, sehari - harinya ia bekerja sebagai karyawan PTPN-IV kebun Pulu Raja dan pendidikan terakhirnya adalah SLTA. Ia menjabat sebagai anggota Badan Kemakmuran Masjid mulai tahun 2008 dan sampai sekarang.
Beliau menjelaskan bahwa BKM sudah dapat diterima dalam masyarakat, karena masyarakat selalu diikut sertakan dalam berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan seperti maulid nabi, Perwiritan, pembayaraan zakat, dan masih banyak lagi. Selain itu tokoh masyarakat juga ikut terlibat dalam berbgai kegiatan keagamaan. BKM juga dapat berfungsi Untuk menyelesaikan masalah – masalah yang timbul di desa, secara langsung yg melibatkan masyarakat, musyawarah dilakukan secara langsung. Seperi yang dikatakan informans ebagai berikut:
“Misalnya untuk kegiatan hari-hari besar Islam yang ada pada lingkungan dusun tertentu, kepala dusun mengadakan
musyawarah dengan mengundang seluruh anggota masyarakat yang ada pada lingkungan dusun tersebut.”
Biasanya musyawarah dilakukan di Masjid atau dirumah-rumah masyarakat dan dilaksanakan satu bulan sekali atau lebih jika ada kegiatan yang harus dilakukan pasti diadakan rapat, dan jika akan melaksanakan suatu kegiatan tertentu, misalnya kegiatan hari besar keagamaan dan kegiatan - kegiatan lain - lain Kebijakan maupun keputusan BKM selalu ditanggapi oleh masyarakat dengan baik.
5. Purnomo Agung (Anggota Badan Kemakmuran Masjid desa Manis) Agung ini berumur 29 tahun, beliau sudah lama tinggal dan menetap di desa Manis, pendidikan terakhirnya adalah SLTA. Pria ini memiliki 1 anak kandung, ia bekerja sebagai karyawan PTPN-IV kebun Pulu Raja dan isterinya bekerja sebagai karyawan PTPN-IV kebun Pabatu juga. Beliau pendidikan terakhirnya adalah SLTA. Ia menjabat sebagai anggota Badan Kemakmuran Masjid tahun 2008 dan sampai sekarang ini.
Agung menjelaskan tentang peran sosial yang telah dilakukan BKM dalam lingkungan masyakatanya didesa ini, peran-peran yang dilakukan BKM berjalan dengan baik. Mengenai kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada, selalu berjalan sangat baik. Misalnya, masyarakat dusun dikerahkan agar mengumpulkan dana untuk pelaksanaan kegiatan tertentu di desa seperti gotong royong disekitar masjid, panitia hari-hari besar Islam dan kegiatan lainya.
BKM desa ini merupakan organisasi yang sudah dipercaya dan diberi tugas untuk membantu dan melayani masyarakat. Walaupun kami memiliki jabatan sebagai anggota saja, tetapi kami bisa melakukan pekerjaan kami yang lain. Sampai saat ini hubungan diantara anggota dan pengurus desa berjalan lancar sesuai dengan tugas dan kewajiban masing – masing, soal disiplin jam kerja, bahwa tugas anggota BKM sebenarnya tidak terikat jam kantor. Pelayanan sosial yang dibutuhkan masyarakat dapat dilakukan dimasjid.. Contohnya saja ada seseorang yang ingin berinfaq/sodaqoh atau ingin bertemu anggota atau ketua BKM dapat langsung menemuinya di masjid ataupun dirumahnya pribadi.
Masyarakat cukup puas dengan badan kemakmuran masjid dan perangkat nya, ramah dan mau berkorban untuk kepentingan umum, seperti yang dikatakan informan sebagai berikut:
“Ketua BKM itu orangnya bukan saja baik, tetapi juga pintar bicara dan suka memberi bantuan untuk berbagai kegiatan yang akan diadakan di desa ini.”
IV.9.2 Informan Tambahan
Informan tambahan yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam kegitan yang diteliti. Informan adalah masyarakat desa Manis Pulau Rakyat dengan menggunakan teknik snow ball.
Teknik ini merupakan teknik penentuan informan penelitian dengan mengikuti informasi-informasi dari informan sebelumnya.
1. M. Husain
Pak Husain berumur 52 tahun, bapak ini sudah cukup lama tinggal dan menetap di desa Manis ini, pendidikan terakhirnya adalah SMU beliau adalah tokoh agama dan merupakan guru agama di desa ini. Selama proses wawancara berlangsung, bapak ini menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan ramah- tamah dan santai. Saat ini pak Husein adalah pensiunan guru agama dari Madrasyah Sanawiyah PTPN-IV kebun Pulu Raja , beliau pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa. Isterinya bekerja sebagai ibu rumah tangga, ia memiliki 3 orang anak kandung.
Dengan santainya dia menjelaskan bahwa Badan Kemakmuran Masjid haruslah memakmurkan masjid karena masjid merupakan pusat aktivitas dan ibadah. Keberadaan BKM juga memiliki pengaruh terhadap masyarakat sekitar.
Jika memakmurkan masjid dalam hal sholat berjamaah sehari-hari sangat sedikit sekali anggota BKM yang sholat berjamaah dimasjid. Sedangkan bila memakmurkan masjid dalam hal banyak melakukan banyak kegiatan BKM telah dikatan berhasil meramaikan masjid dan mengajak warga sekitar khususnya masyarakat, remaja, untuk meramaikan kegiatan dimasjid.
Aktivitas anggota BKM juga dapat dikatakan sudah baik,mereka dapat menjalankan berbagai tugas pokok mereka, mulai dari menjadi panitia hari-hari besar Islam, panitia penerimaan zakat, serta menjadi contoh dalam masyarakat.
Selain itu keberadaan BKM memiliki pengaruh terhadap. Perkembangan mental spritual anggotanya. Anggota BKM lebih memiliki kecenderungan kemasjid dan sholat. Dibandingkan dengan masyarakat disekitarnya.suatu yang patut disukuri
karena secara rutin mereka mendapat penegetahuan agama dan siraman rohani, walaupun kegiatan kajian keIslaman belumlah maksimal. Seperti yang diungkapkan informan dibawah ini:
“Masalah anggota BKM yang minim ikut dalam pelaksanaan sholat berjamaah sudah pernah dibicarakan oleh omasyarakat.
Tetapi kami memaklumi karena mereka para anggota BKM kebanyakan adalah karyawan perkebunan. Tetapi walaupun demikian segala bentuk kegiatan yang dilakukan BKM, anggotanya pasti tidak ada yang ketingalan, mereka dipastikan ikut serta dalam berbagai kegiatan tersebut”.
2. Muchtar
Muchtar berumur 47 tahun, beliau ini sudah cukup lama tinggal dan menetap di desa Manis, Pendidikannya adalah Diploma. Selama proses wawancara berlangsung, bapak ini menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tegas. Beliau sangat aktif dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pendidik / guru SMP.
Beliau mengatakan bahwa peran sosial Badan Kemakmuran Masjid desa Manis ini sudah sangat membantu masyararakat dalam hal kegiatan-kegiatan keagamaan. Karena BKM disini memiliki progran kerja yang selalu melibatkan masyarakat sehingga mereka pun keberadaaan BKM sangat membantu disini.
Menurutnya lagi masyarakat desa Manis menganggap BKM baik, karena kegiatannya meramaikan masjid dan mampu melaksanakan kegiatan lain yang lebih positif disamping membantu masyarakatnya, seperti yang diungkapkan informan dibawah ini :
“Mereka juga mengadakan pelayanan kepada masyarakat ketika ada warga yang kemalangan, mereka ikut membantu dalam dalam pemasangan teratak,dan juga mereka mau mengadakan gotong-royong diperkuburan Muslim, disekitar masjid, dan mereka mau membuka koperasi simpan pinjam yang modalnya dari sumbangan masyarakat sendiri”.
Tetapi juga ada masyarakat yang menganggap banyaknya kegiatan BKM membuat anggotanya sibuk dan kurang dalam pekerjaannya. Selain itu BKM juga aktif didalam kepanitiaan hari-hari besar Islam, dan menjadi contoh dalam masyarakat, dan hubungan BKM Jariyah dengan masyarakat disekitarnya dalam kurun waktu tiga tahun ini terus berjalan.
3. H.R
H.R pria berumur 45 tahun, bapak ini sudah cukup lama tinggal dan menetap di desa Manis, pendidikan terkhirnya adalah SLTA, beliau adalah mantan kepala dusun. Beliau dapat dikatakan sebagai orang yang aktif, ia menjabat sebagai kepala dusun sudah hampir 5 tahun. Pengalamannya dalam menjalankan kegiatan dalam masyarakat cukup baik dan kinerja beliau sangat bagus ketika menjabat sebagai kadus, namun saat ini beliau tidak lagi terpilih menjadi kepala dusun.
Menurut beliau keberadaan BKM di desa ini merupakan wadah dalam menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan dan sebagai suatu organisasi yang
dapat mempererat hubungan silahturahmi dantar masyarakat muslim didesa ini.
Seperti ungkapan informan dibawah ini sebagai berikut :
“Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Badan Kemakmuran Masjid khususnya didesa ini, telah mengajak masyarakat dalam berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, seperti Perwiritan, STM (Serikat Tolong Menolong), gotong royong dalam pembangunan Masjid dan pendirian TPA. Iqra yang sangat membantu anak-anak kita didesa ini dalam memahami pemdalaman pembacaan Al-quran.”
Hubungan BKM Jariyah dengan masyarakat disekitarnya dalam kurun waktu tiga tahun ini terus berjalan. BKM dalam membangun jaringan dengan BKM yang ada di kecamatan lain, mengahasilkan suatu forum komunikasi yang saling menguntungkan satu sama lain. Salah satu contohnya hubungan antar BKM tersebut meaksanakan beberapa kegiatan seperti Perwiritan akbar dan Kegiatan pesantren kilat. Hubungan tersebut bertujuan untuk memudahkan komunikasi dan bertukar pengalaman antar Badan Kemakmuran Masjid di Kecamatan Pulau Rakyat Kabupaten Asahan. Silahturahmi dan diskusi seputar problematika BKM saat ini benar-benar terlihat dengan terbentuknya forum komunikasi dan dakwah Islam.
BKM berkeinginan mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan ibadah dan pembinaan, pengembangan bagi kalangan pemuda dan remaja masjid agar dapat mempersiapkan berperan aktif dalam proses pembagunan serta memberikan kontribusi kepemimpinan dikalangan muda.
4. R.D
R.D pria berumur 25 tahun, pria ini sudah cukup lama tinggal dan menetap di desa manis , pendidikannya adalah Pesantren (Madrasah). Selama proses wawancara berlangsung, pria ini menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jelas. R.D adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara kandung., orang tua R.D bkerja sebagai karyawan di PTPN IV Kebun Pulu Raja, dan ibunya masih bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Beliau menjelaskan keberadaan BKM memiliki pengaruh terhadap perkembangan mental para pemuda khususnya didesa Manis. Para pemuda yang dalam didikan BKM lebih memiliki kecenderungan pergi kemasjid untuk sholat dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain yang tidak ikut dalam didikan BKM.
Sangat kita sukuri karena secara rutin para pemuda mandapat pengetahuan agama dan siraman rohani, walaupun pelaksanaan kegiatan kajian keislaman belumlah maksimal jika kita melihat dari kajian akidah dan hukum Islam. Hal inilah yang harus menjadi kontrol dan motivasi dari BKM untuk mengajak para pemuda ikut beraktifitas disalamnya. Seperti yang diungkapkan oleh informan sebagai berikut :
“Segala kegiatan yang dilakukan BKM tentu menyebabkan para pemuda untuk lebih sering beribadah kemasjid. Hal ini membuat lebih mudah mengingatkan para memuda terhadap kondisi lingkungannya yang rentan terhadap aktifitas negatif, seperti contoh kita lihat dalam lingkungan disekitar kita bahwa perilaku dan tindakan para pemuda saat ini sangat menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Ini semua merupakan tanggung jawab
tanggung jawab kita bersama dalam mencari solusi dan mendidik generasi muda saat ini.”
Jaringan kerja yang dilakukan BKM terkadang tidak dapat berkembang dengan baik, hal ini adanya aktifitas yang dtidak seimbang pada masing-masing masjid. Ada masjid yang maju dan dinamis ada juga yang terjebak pada kegiatan rutinitas dan bahkan ada pula masjid yang pakum dengan kegiatannya sehingga dapat kita lihat organisasi BKM yang dibentuk tidak sinergis, ditambah lagi permasalahan internal para pemuda yang mempengaruhi aktifitas dan organisasi tersebut.
Hal ini bukan berarti BKM tidak perduli terhadap para pemuda yang kurang baik. Pada awal terbentuknya BKM dulu para pemuda yang nakal telah diikut serta kan dalam kegiatan BKM, ternyata para pemuda tetap bertingkah laku nakal, ada yang menggunakan Narkoba bahkan mencuri, sementra masyarakat tahu bahwa mereka adalah anak didik dari BKM dan remaja masjid Jariyah.
Tentu saja hal ini dapat mengurangi kepercayaan msyarakat terhadap BKM, sementara untuk mengingatkan dan mengawasi para pemuda secara terus menerus tidak dapat sepenuhnya dilakukan oleh BKM, dikarenakan BKM merasa sungkan untuk menegur para orang tua dari pemuda-pemuda yang berbuat nakal.
Yang mana seharusnya BKM lah yang berhak untuk menegur atau mangancam para pemuda yang berbuat nakal, karena fungsi BKM adalah sebagai tempat ibadah dan dakwah dalam rangka pencerahan ummat melalui Ta’lim, Tazkiah, Tilawal, dan Ishal.
4.10 Analisis Peran Sosial Badan Kemakmuran Masjid (BKM)
BKM sebagai salah satu lembaga sosial yang ada dalam sistem sosial masyarakat turut mempengaruhi kondisi masyarakat. Badan kemakmuran masjid merupakan wadah yang bertujuan untuk membentuk kegiatan-kegiatan yang bersifat ajaran-ajaran agama. Seperti acara isra miqraj, acara mulid nabi Muhammad SAW dan kegiatan yang bersifat hari keagamaan. Lembaga sosial atau dikenal juga sebagai lembaga kemasyarakatan salah satu jenis mengatur rangkaian mendapatkan keteraturan Masjid) merupakan salah satu wadah kegiatan keagamaan yang telah melembaga di kalangan masyarakat khususnya masyakat muslim.
Kegiatan yang bersifat keagamaan tersebuat membuat sebuah perkumpulan yang ada disekitar masyarakat masjid tersebut. Masyarakat yang disekitar masjid pada akhirnya menjadi lebih saling kenal mengenal. Dari kegiatan tersebut membuat interaksi antar warga masyarakat menjadi lebih tinggi. Badan Kemakmuran Masjid selaku pengelola masjid menjadi kontrol sosial dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat desa. BKM memberikan arahan-arahan tata cara berkehidupan yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama.
BKM (Badan Kemakmuran Masjid) merupakan badan atau lembaga resmi yang dibentuk oleh Departemen Agama untuk meningkatkan peranan dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan sarana pembinaan umat islam, yaitu organisasi yang bertujuan untuk mengorganisir kegiatan ibadah dan meningkatkan