• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERGI KE KOTA

Dalam dokumen BAHAN AJAR 5 bahasa indonesia (Halaman 37-40)

Sesudah salju gula berhenti turun, musim semi pun tiba. Burung-burng bernyanyi di semak- semak yang mulai berdaun disepanjang pagar. Rumput mulai menghijau dan hutan penuh dengan bunga-bunga liar. Seperti bunga mentega, bunga ingu, bunga tudung, dan bunga dan bunga rumut yang berbentuk binatang muncul di mana-mana.

Segera setah hari terasa hangat, Laura dan Mary minta agar diperkenankan berlari-lari dengan kaki telanjang di halaman belakang dan disekitar tumpukan kayu. Hari berikutnya, mereka boleh lari lebih jauh dan tidak lama kemudian sepatu-sepatu mereka diminyaki untuk disimpan. Mereka boleh bermain sepanjang hari penuh tanpa memakai sepatu.

Setiap malam mereka harus membasuh kaki dahulu, sebelum pergi tidur. Bagian kaki di bawah tepi rok kecoklat-coklatan, seperti muka mereka.

Mereka punya rumah-rumah kecil dibawah kadua pohon oak besar, di halam depan. Rumah- rumahan Laura di bawah pohon Laura. Rumput hijau di bawah pohon-pohon itu menjadi permadani mereka, daun-daun pohon yang rapat dan lebat menjadi atapnya. Dari celah-celah daun-daun itu mereka dapat melihat belahan-belahan kecil langit biru.

Pa membuat ayunan dari kulit kayu yang liat dan kuat disebuah dahan yang rendah di pohon milik Laura. Ayunan itu miliknnya, sebab ada dipohonnya. Akan tetapi, ia tidak boleh memntingkan dirinya sendiri dan harus mengizinkan Mary memakai ayunan itu kapan saja Mary menginginkan.

Mary punya sebuah piring kecil yang retak untuk main-mainan. Laura punya sebuah mangkuk indah, hanya saja bibirnya pecah sedikit. Charlote dan Nattie, serta kedua boneka kayu buatan Pa, tinggal bersama mereka di rumah-rumahan. Tiap hari mereka membuat topi baru, dari daun, untuk Charlotte dan Nattie serta pinggang cawan kecil dari daun juga, untuk diletakkan di atas meja mereka.

Meja itu terbuat dari batu yang permukaannya yang halus dan datar.

Sapi-sapi mereka, Sukey dan Rosie, dilepaskan di hutan agar dapat makan rumput-rumputl liar dan daun-daun segar. Di halaman kandang terdapat dua anak sapi. Di kandang babi ada tujuh ekor anak sapi bersama induknya.

Tahun lalu Pa membuka sebidang tanah dari pepohonan yang rapat. Kini, Pa membajak tanah di anatara tunggul-tunggul, di tempat terbuka dan memulai menanam benih. Suatu malam, ia pulang dari bekerja dan bertanya pada Laura, ”Coba tebak, apa yang ku lihat hari ini?”

Laura tidak dapat menerka.

“Waktu aku akan bekerja di ladang padi ini,” kata Pa, ”kulihat seekor rusa betina berdiri di tepi ladang. Pasti kau tak dapat menerka, rusa betina itu membawa apa.”

“Anaknya,” terka Laura dan Marry bersama-sama, merapatkan tangan.

“Tepat,” kata Pa.” Ia membawa anaknya. Manis sekali. Kulitnya lembut, mata besar. Kakinya sangat kecil, tidak lebih besar dari ibu jariku. Kakiku ramping sekali. Dan moncongnya sangat lembut.”

Anak rusa itu memandangiku dengan matanya yang sangat besar. Agaknya ia belum pernah ketemu manusia. Tidak takut sama sekali!. ”Oh, Pa, kau tidak menembak anak rusa itu bukan?” kata Laura. ”Tidak! tidak akan pernah!,” kata Pa. “Aku juga tidak akan menembak induk mereka, atau bapak mereka. Aku tidak akan berburu lagi. Aku harus menunggu hingga anak-anak hewan itu besar semua.

Sementara itu terpaksa kita harus makan tanpa daging segar.”

Kata Pa, begitu selesai menanam, ia akan mengajak mereka semua ke kota. Laura dan Mary boleh ikut juga, kini mereka telah cukup besar.

Kedua anak itu sangat senang. Hari berikutnya mereka bermain pura-pura pergi ke kota. Mereka tidak dapat memainkan khayalan itu dengan baik sebab mereka belum tahu secara pasti seperti apakah kota itu. Mereka hanya tahu bahwa di kota ada toko. Namun, mereka belum pernah melihat toko.

Hampir setiap hari setelah Pa memberitahukan rencana pergi ke kota, Charlotte dan Nettie selalu bertanya apakah mereka boleh ikut. Laura dan Mary selalu menjawab dengan berkata, “Tidak sayang, kau tidak boleh ikut tahun ini! Mungkin tahun depan, bila kalian tidak nakal, kalian boleh ikut.”

Kemudian suatu malam Pa berkata, “Besok pagi kita berangkat ke kota.”

Malam itu, walaupun bukan hari Sabtu, Ma memandikan Laura dan Mary hingga benar-benar bersih. Ia juga mengeriting rambut mereka. Mula-mula rambut Laura dan Mary dibagi-bagi menjadi beberapa jalur. Tiap jalur disisr dengan sisir basah dan digulung pada secarik kain. Kepala mereka jadi penuh gumpalan-gumpalan kecil yang terasa sangat mangganggu ketika dibawa tidur. Keesokan paginya, rambut mereka menjadi bergulung-gulung indah.

Mereka begitu gembira sehingga tidak dapat segera tidur. Malam itu Ma juga tidak menjahit seperti biasa. Ia mempersiapkan segala sesuatu agar besok pagi dapat sarapan dengan cepat. Ia juga harus menyediakan kaus-kaus kaki terbaik, rok dalam dan gaun-gaun anak-anak, kemeja Pa yang bagus, serta gaunnya sendiri, gaun belacu kembang dengan gambar bunga-bunga ungu berlatar belakang coklat tua.

Hari-hari musim semi itu berubah panjang. Sebelum sarapan selesai, Ma telah meniup lampu hingga padam. Pagi yang cerah dan indah telah tiba.

Ma menyuruh Laura dan Mary cepat-cepat menyelesaikan sarapan mereka. Mencuci piring pun dilakukan cepat-cepat. Sementara Ma merapikan tempat tidur, anak-anak memakai kaus kaki dan sepatu. Kemudian Ma membantu mereka mengenakan gaun mereka yang terbaik, belacu biru untuk Mary, belacu merah tua untuk Laura. Mary mengancingkan kencing belakang gaun Laura.

Ma membuka gulungan-gulungan kecil pada rambut mereka dan menyisirnya menjadi gelombang panjang yang terurai sampai bahu. Rambut Mary berwarna kuning emas, cantik sekali.

Rambut Laura berwarna coklat tanah.

Selesai merapikan rambut, Ma memasang topi kerudung mereka, mengikat talinya di bawah dagu. Ma menyematkan bros emas dileher bajunya dan memakai topi ketika Pa menggiring kuda-kuda gerobak ke depan pintu pagarnya.

Pa telah memandikan kuda-kuda itu serta menggosok buku mereka hingga mengkilap. Gerobak juga sudah dibersihkan. Selembar selimut ditutupkan pada tempat duduk di depan. Ma dengan memangku Carrie duduk di depan di samping Pa. Laura dan Mary duduk pada buah papan yang dipasang melintang, di belakang.

Mereka gembira sekali ketika gerobak mulai berjalan menembus hutan musim semi. Carrie tertawa dan melonjak-lonjak, Ma tersenyum dan Pa bersiul-siul sambil mngendalikan kuda. Matahari cerah dan hangat. Bau yang harum segar terpancar dari tumbuh-tumbuhan di hutan.

Cermatilah kembali cerita anak terjemahan diatas! Kemudian, tentukan tema, latar, perwatakan, dan nilai dalam cerita anak terjemahan tersebut dengan melengkapi tabel di bawah ini!

No Unsur keterangan Bukti peristiwa yang mendukung

1. Tema

2. Latar

3. Perwata kan

a. Laura b. Mary c. Pa d. Ma 4. Nilai/am

anat

Pergi ke kota saat pergantian musim.

Waktu : ...

Tempat : ...

Rumah dihutan...

Suasana : ...

Watak:...

Watak:...

Watak:...

Watak:...

A. Sesudah salju gula berhenti turun, musim semi pun tiba. (kalimat pertama pada paragraf pertama)

B. Kata Pa, begitu selesai menanam, ia akan mengajak mereka semua ke kota

...

...

...

...

...

...

2. Menulis Sinopsis Cerita Anak

Carilah sebuah buku cerita anak yang kalian sukai, kemudian tulis ringkasannya! Selanjutnya, tukarkan buku yang kalian baca dengan salah seorang teman! Baca buku cerita temanmu hingga selesai, lalu tulis pula ringkasannya! Selanjutnya, bandingkan hal-hal yang menarik dan yang tidak menarik dari kedua buku cerita yang telah dibaca itu!

Dalam dokumen BAHAN AJAR 5 bahasa indonesia (Halaman 37-40)

Dokumen terkait