• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Menyimpang

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Perilaku Menyimpang

a. Pengertian Perilaku Menyimpang

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.17

Perilaku menyimpang adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang diluar nilai-nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat, dalam arti demikin perilaku menyimpang selalu normative sifatnya.

Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu system social. 18

Bruce J Cohen perilaku menyimpang merupakan setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.19

17Zulikhah, Bimbingan Konseling Islam Terhadap Perilaku Penyimpangan Seksual Anak Cacat mental di SLBN Pembina Yogyakarta. (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2008)

18Kun Maryati dkk, Sosiologi untuk SMA dan MA kelas x ( PT Gelora Aksara Pertama, 2001), hlm. 122

19 https://www.yuksinau.id/perilaku-menyimpang/#Teori_perilaku

24

Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkahlaku, perbuatan, atau tangaan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hokum yang ada di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berprilaku sesuai dengan sesuatu yang di anggap oleh masyarakat. Namun faktanya di tengah ehidupan masyarakat kadang-kadang masih banyak kita temukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku, begitu juga keadaan yang sering kali kita jumpai di sekolah misalnya seorang siswa menyontek pada waktu ulangan, berbohong, merokok, dan mengganggu siswa lain.20 Begitu juga perilaku yang ditunjukkan oleh siswa-siswadi SMPN 2 Praya Barat menunjukkan tindakan penyimpangan atau pelanggaran terhadap norma/aturan yang berlaku di sekolah, sehingga sekolah melakukan bimbingan dan konseling secara ketat agar siswa yang melakukan perilaku menyimpang tersebut tidak lagi

20 Heru Prasetyo, dkk, PengendalianPerilaku Menyimpang di Madrasah Tsanamiyah AL-Ishlah Baitil Mal-Pontianak. Hal. 3

25

melakukan tindakan menyimpang dan mempengaruhi siswa- siswa yang lainnya.

Bentuk-bentuk perilaku menyimpang di sekolah lainnya seperti rambut panjang bagi siswa putra, rambut disemir, sering bolos, pacaran, ramai didalam kelas, dan lain sebagainya.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan penyimpangan perilaku adalah factor yang ada dalam diri anak itu sendiri, factor dari rumah tangga, factor lingkungan, masyarakat, serta factor yang bersal dari sekolah.

b. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang

Beberapa factor penyebab terjadinya perilaku menyimpang pada siswa anatara lain: Sikap Mental Yang Tidak Sehat, ketidak harmonisan dalam keluarga, pelampiasan rasa kecewa, dorongan kebutuhan ekonomi, pengaruh lingkungan dan media massa, keinginan untuk dipuji, proses belajar yang menyimpang.21

Untuk itu dapat diuraikan sebagai berikut:

21 Tim sosiologi, sosiologi 1 suatu kajian kehidupan masyarakat, ( Ghalia Indonesia:

2007), hal. 105

26 1) Sikap mental yang tidak sehat

Perilaku menyimpang dapat pula disebabkan karena sikap mental yang tidak sehat.Sikap itu ditunjukkan dengan tidak merasa bersalah atau menyesal atas perbuatannya.Contohnya mengejek temannya.

2) Ketidakharmanisan dalam keluarga

Tidak adanya keharmonisan dalam keluarga dapat menjadi penyebab terjadinya perilaku menyimpang.

3) Pelampiasan rasa kecewa

Seseorang yang mengalami kekecewaan apabila tidak dapat mengalihkannya ke hal yang positif, maka ia akan berusaha mencari pelaria untuk memuaskan rasa kecewanya.

4) Dorongan kebutuhan ekonomi

Perilaku menyimpang juga terjadi karena dorongan kebutuhan ekonomi.Contohnya, perbuatan mencuri.

5) Pengaruh lingkungan dan media massa

Seseorang yang melakukan tindakan perilaku menyimpang dapat disebabkan karena terpengaruh oleh oleh lingkungan dan teman sepermainnya. Begitu juga peran media massa, sangat berpengaruh terhadap penyimpangan perilaku.

27 6) Keinginan untuk dipuji

Sesorang dapat bertindak menyimpang karena keinginan untuk mendapat pujian, seperti banyak uang, selalu berpakaian mahal, dan gaya hidup yang mewah atau berprestasi. Agar keinginan ini terwujud, ia rela melakukan perbuatan menyimpang , seperti mencuri atau mencontek.

7) Proses belajar yang menyimpang

Hal ini terjadi melalui interaksi social dengan orang-orang atau temannya yang berperilaku menyimpang, misalnya terlibat perkelahian.

c. Media Pembentuk Perilaku Menyimpang

Kepribadian menyimpang dalam diri seseorang dapat terbentuk karena adanya media pencetus yang dapat mendorong terbentuknya kepribadian menyimpang itu.media pembentkan kepribadian menyimpang itu, antara lainkeluarga, lingkungan tempat tinggal, krlompok bermain, dan media massa.22

Untuk itu dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Keluarga

22 Ibid, 106

28

Pembentukan kepribadian seseorang untuk pertama kalinya akan berawal dari keluarga karena proses sosialisasi yang dialami seseorang individu untuk membentuk kepribadiannya itu berawal dari media sosialisasi ini. Keluarga merupakan factor penentu bagi perkembangan atau pembentukan kepribadian seorang anak selanjutnya.

Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik bila ia terlahir dalam lingkungan keluarga yang baik. Sebaliknya, kepribadian seorang anak akan cenderung negative jika ia terlahir dalam lingkungan kelurga yang kacau yang dibebani dengan sebagai macam masalah dan kemiskinan yang mencekik, atau keluarga yang selalu diliputi oleh percekcokan , kehilangan peran orang tua untuk membimbing dan mendidik karena kriminalitas, dan sebagainya. Keluarga semacam ini akan gagal memenuhi fungsinya utnuk membentuk kepribadian yang baik karena keluarga ini gagal mensosialisasikan niali- nilai baik dalam diri anak-anaknya. Itulah sebabnya mengapa keluarga dapat juga berperan dalam pembentukan perilaku yang menyimpang.

29 2) Lingkungan Tempat Tinggal

Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian sesorang individu dalam proses pembentukannya.

Seseorang individu yang tinggal dalam lingkungan yang baik, para anggotanya taat dalam melakukan ibadah, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan positif akan mempengaruhi kepribadiannya menjadi baik. Sebaliknya, bila seseorang individu hidup dan tinggal dalam lingkungan yang buruk, warga masyarakatnya suka melakukan tindakan kriminalitas, seperti pencurian, suka menggunakan obat-obatan, mengedar narkoba , cenderung akan membentuk kepribbadian yang buruk atau menyimpang. Jadi, lingkungan tempat tinggal juga dapat memengaruhi kepribadian seseorang menjadi menyimpang.

3) Kelompok Bermain

Lingkungan tempat tinggal dan kelompok bermain merupakan dua media sosialisasi yang sangat berkaitan karena seseorang individu akan memiliki kelompok bermain atau pergaulan dalam lingkungan tempat tinggalnya tersebut.

Namun, adakalnya seseorang individu juga memiliki kelompok bermain atau pergaulan diluar lingkungan tempat tinggalnya tadi yang ia peroleh dari lingkungan sekolah atau di uar

30

sekolah. Kelompok bermain atau pergaulan ini juga dapat memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang individu.

Jiak ia memiliki keompok bermain yang positif, suka belajar, dan melakukan hal-hal atau perbuatan baik, maka perilakunya cenderung positi. Sebaliknya, apabila sesorang individu memiliki kelompok bermain yang negative, maka polo perilaku dan kepribadiannya akan cenderung negative, seperti suka bolos, merokok dan malas belajar.

4) Media Massa

Media massa dapat disebut sebagai media sosialisasi yang dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Pemberitaan yang ada di media massa, seperti surat kabar, televise, atau internet dapat memicu maraknya perilaku menyimpang. Misalnya, tayangan yang berbau ponografi, pornoaksi, dan kekerasan.

Selain itu Adapun motif yang mendorong mereka melakukan tindakan kejahat atau perilaku menyimpang itu antara lain ialah:

(1) Untuk memuaskan kecendrungan keserakahan (2) Meningkatnya agresivitas dan dorongan seksual

(3) Salah-asuh dan salah didik orang tua, sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya

(4) Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru

(5) Kecendrungan pembawaan yang patologis atau abnormal

31

(6) Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.23

Untuk itu, bagi para keluarga, masyarakat, dan pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh pihak sekolah harus mengetahui jenis-jenis atau contoh penyimpangan social di sekolah yang dilakukan para sejumlah pelajar baik putra maupun putri, khususnya di sekolah sehingga semua pihak dapat menentukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangannya. Adapun contoh penyimpangan social di sekolah yang terjadi si sekolah dapat diklasifikasikan dari yang menyimpang social yang ringan hingga berat, yaitu sebagai berikut:

1) Membolos dengan alasan yang tidak jelas atau tidak berada di sekolah pada jam-jam belajar sekolah;

2) Memalsukan surat keterangan ijin tidak masuk;

3) Berpakaian tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sekolah

4) Menggunakan aksesoris dan make up berlebihan ke sekolah, khususnya pelajar perempuan;

5) Sengaja datang terlambat ke sekolah;

6) Tidak mengerjakan PR dari guru;

7) Sengaja tidak mengikuti upacara bendera setiap hari senin;

8) Melakukan tindakan mencontek dengan berbagai cara saat ujian berlangsung;

9) Sengaja membiarkan rambut menjadi panjang, khususnya pelajar pria;

10)Membuat gaduh atau bercanda selama guru memberikan penjelasan di kelas;

23 Kartini kartono, patologi social 2 kenakalan remaja (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2017), hlm. 9

32

11) Berkelahi dengan sesame pelajar selama berada di sekolah;

12) Melakukan tawuran antar pelajar atau antar sekolah

13) Melakukan pemerasan dan penindasan kepada teman sekolah;

14) Melakukan tindakan pencurian terhadap barang milik orang lain atau property sekolah;

15) Melakukan bullying terhadap teman sekolah;

16) Merokok di wilayah sekolah;

Semua contoh tindakan penyimpangan social yang terjadi di sekolah dapat di minimalisir dan di hilangkan jika adanya kerjasama antara pihak keluarga dan sekolah. Langkah-langkah yang dapat diambil oleh pihak sekolah adalah sebagai berikut:

1) Melakukan pendataan bagi setiap siswa yang melakukan tindakan penyimpangan social di sekolah sehingga pihak sekolah dapat mel;okalisir sumber permasalahannya;

2) Memberikan tindakan dan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melakukan penyimpangan social dan memberikan penghargaan kepada siapa saja yang melaporkan adanya penyimpangan social yang dilakukan;

3) Memberikan bimbingan dan konseling sesuai dengan kasus penyimpangan social yang dilakukan oleh siswa, baik pria maupun perempuan;

4) Melakukan kunjungan ke rumah bagi siswa yang melakukan penyimpangan social di sekolah ;

5) Mengembangkan dan membudayakan pendidikan berbasis karakter dan agama di sekolah, dan

6) Mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan keolahragaan guna memberikan ruang dan kesempatan bagi siswa untuk mengekpresikan.24

24https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/contoh-penyimpangan-sosial-di-sekolah

33 G. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, karena data-data yang akan di paparkan dalam bentuk kata-kata atau kalimat, tidak dalam bentuk data statistik.

Menurut Sugiyono (2010:1), menjelaskan bahw25a metode penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi yang obyek yang alamiah, dimana peneliti sebagai kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi dan analisis dan bersifat induktif.

Dalam hal ini pendekatan kualitatif merupakan suatu rangkaian atau proses menjaring data atau informasi aspek tertentu pada objeknya, untuk mendapatkan data yang akurat tentang hal-hal yang diteliti, maka penulis yang menghubungi sumber-sumber data yang ada dilokasi penelitian, dalam pelaksanaannya penelitian ini dapat dilakukan secara bertahap yaitu:

a) Orientasi yaitu tahap mendapatkan gambar umum tentang permasalahan yang diteliti

25 Sugiono, metode penelitiankuantitatif, kualitatif, dan R dan D. hlm 138-140

34

b) Eksploetasi observasi, wawancara, dan dokumentasi, tahap pengumpulan data.

c) Pengecekan dan Pemeriksaan data, tahap ini dimaksudkan untuk menjamin dan meningkatkan derajat data atau kreabilitas data.

2. Kehadiran Penelitian

Pada umumnya kehadiran penelitian di lokasi penelitian ini dalam rangka untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan karena penelitian ini menggunakan kualitatif, maka kehadiran penelitian di lokasi merupakan keharusan, mengingat fungsi penelitian sendiri sebagai instrument kunci. Dalam hal ini peneliti hadir di lokasi tidak secara terus menerus akan tetapi sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan selama penelitian berlangsung.

3. Sumber Data

Untuk mendapatkan data yang valid dan obyektif terhadap apa yang akan diteliti oleh peneliti, maka dipandang perlu untuk menjelaskan sumber data atau informasi, serta jenis data yang akan dikumpulkan di dalam penelitian ini sehingga kualitas, validitas, dan keakuratan data yang diperoleh dari informasi benar-benar dapat dijamin. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-

35

kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi dan lain-lain.26

Adapun dari sumber data yang akan diperoleh sebagai berikut:

1) Bagian pengurus BK

Karena BK merupakan salah satu bimbingan yang memberikan pertolongan kepada sekumpulan individu (siswa) agar bisa mengatasi masalah yang sedang dihadapinya agar bisa menjalani hidup yang lebih baik lagi.

2) Siswa

Siswa merupankan objek pelaku yang akan diteliti. Karena disini siswa adalah sumber utama, yang dimana siswa disini merupakan pelaku utama atas apa yang akan kita teliti.

Sedangkan yang dimaksud sumber data adalah subyek darimana data yang diperoleh. Hal ini dilakukan oleh penelitian untuk mendapatkan data yang sesuai dengan situasi empiris dan melakukan fungsi teori yaitumeramalkan, menerangkan, dan menafsirkan, keakuratan, kualitas, dan validitas

26 Lexi J. Moleong , Metode penelitian kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),hlm.14

36

informasinya. Dimana sumber data dibagi menjadi dua jenis yaitu:

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan obyek penelitian dan pihak-pihak yang ahli (berkompeten) dalam masalah ini. Data primer harus diperoleh secara langsung dengan cara mengambil data dari aslinya melalui narasumber yang tepat dan yang kita jadikan responden dalam penelitian. Adapun yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, pendidik, peserta didik, dan orang tua.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari telaah pustaka dan studi tentang dokumentasi dari berbagai literatur yang menyangkut masalah ini. Adapun data berupa dokumen dan karya lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 27 4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan dalam upaya memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan

27 Moleong, penelitian,h. 3

37

dalam penelitian tersebut. Penggunaan teknik dalam pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperoleh data yang objektif.

Untuk mendapatkan atau memperoleh data yang diperlukan dalam peneitian ini, maka penelitian menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan yaitu metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi.

a. Metode Observasi

Observasi adalah sebagai suatu aktivitas pengamatan yang meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera, meliputi penciuman, pendengaran.

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

1) Observasi berperan serta

Selain melakukan pengamatan, penelitian ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Kelebihannya, data yang diperoleh lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

38 2) Observasi nonpartisipant

Peneliti tidak terlibat hanya sebagai pengamat independen.

Penelitian ini mengadakan pengamatan secara tidak langsung terhadap kendala-kendala yang akan diteliti.

b. Metode Wawancara (interview)

Wawancara merupakan suatu teknik yang dilakukan secara mendalam (indept interview) kepada responden dan informan kunci, teknik ini digunakan dalam menjaring pertanyaan pokok secara mendalam.

Secara umum wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1) Wawancara terstruktur, artinya wawancara yang digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh.

2) Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. 28

28 Sugiono, metode Penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R dan D, hlm, 138-140

39

Penelitian sendiri menggunakan teknik wawancara yang bersifat wawancara tak terstruktur yaituwawancara yang pertanyaannya tidap disusun terlebih dahulu atau dengan kata lain sangat tergantung dengan keadaan atau subyek.

c. Teknik Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.Dokumentasi juga bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.Adapun domunetasi yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, catatan mingguan, sejarah kehidupan, biografi, peraturan, kebijakan.Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.Dokuntasi merupakan perlengkapan dari penggunaan metode observasi dan wawancaradalam penelitian kualitatif.

5. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul dari pengumpulan data, maka proses selanjutnya adalah mengadakan analisis data yang telah dikumpulkan tersebut. Menurut Bogdan dalam Sugiyono menyatakan bahwa:

Analisis data adalah proses mencari dan menyususn secara sistematis data yang diperoleh dari hasil

40

wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah di pahami dan temuannya dapat di informasikan kepada oranglain. Analisis data dilakukan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,menyususn kedalam pola, memilih mana yang penting dan akan yang dipelajari, sertamembuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.29

Karena data yang dilakukan dalam penelitian ini berbentuk kualitatif maka data-data yang telah dikumpulkan kemudian diuraikan dalam bentuk narasi yang deskriptif.30 6. Keabsahan Data

Setelah data dikumpulkan dan dianalisa, langkah selanjutnya adalah pemeriksaan keabsahan data, kredibilitas data dapat diartikan sebagai kepercayaan terhadap data, apakah menggambarkan keadaan yang sebenarnya ataukah sebaliknya.31

Untuk memperoleh keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yaitu: triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi dan kecakupan refrensial dan ketekunan pengamat.

a. Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk

29 Sugiyono, metodelogi penelitian kuantitatif dan R & D,H. 224

30 Sugiyono, ibid.hlm 245

31Lexy J. Meleong, Metode Penelitian Kualitatif(PT. Remaja Rosda Karya: Bandung, 2014) h.173.

41

keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.

Triangulasi dalam penelitian bertujuan untuk mengecek keabsahan data tertentu dengan membandingkan data tertentu yang diperoleh dari sumber lain.

Triangulasi sumber

Triangulasi sumber dilakukan untuk mendapatkan informasi yang sejenis dari informan atau sumber yang berbeda. Triangulasi dalam hal ini melalui cara-cara sebagai berikut:

a) Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara

b) Membandingkan hasil wawancara dengan data hasil dokumentasi

c) Membandingkan persepsi orang tentang situasi penelitian

d) Membandingkan apa yang dikatakan orang secara umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

42 1) Triangulasi metode

Triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara bersamaan untuk memperoleh informasi yang serupa terhadap data yang diteliti.

a) Pemeriksaaan teman sejawat melalui diskusi, teknik ini dilakukan dengan cara mengekspor hasil penelitian dengan cara diskusi dengan teman sejawat, dosen pembimbing atau dengan seseorang yang ahli. Dengan cara demikian, peneliti mencari kelemahan tafsiran yang kurang jelas, keraguan terhadap yang ditemukan.

b) Kecukupan refrensial

Teknik ini digunakan bila data yang diperoleh dan bahan dokumentasi atau catatan yang ditemukan dilokasi penelitian perlu diperkuat dengan dokumen atau catatan referensi lain dan hasil penelitian terdahulu dengan menambahkan referensi peneliti mengecek kembali keabsahan data dan informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian.

Ketekunan pengamatan, yaitu menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan

43

dengan persoalan atau isu-isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.32

2) Triangulasi Teori

Triangulasi Teori hasil akhir penelitian kualitatif berupa sebuah rumusan infornasi atau thesis statement.

Informasi tersebut selanjutnya dibandingkan dengan perspektif teori yang relevan untuk menghindari bias individual peneliti atas temuan atau kesimpulan yang dihasilkan. Selain itu, triangulasi teori dapat meningkatkan kedalam pemahaman asalkan peneliti mampumenggali pengetahuan teoritik secara mendalam atas hasil analisis data yang diperoleh.33

Adapun sistematika penelitian penulis yaitu sebagai berikut:

BAB I berisi bab pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka, kerangka teori dan metode penelitian.

BAB II berisi paparan data temuan, dibagian ini diungkapkan seluruh data dan temuan penelitian yaitu seperti letak

32Ibid.h. 178

33http://hartatyfatshaf.blogspot.com/2013/09/triangulasi-dalam-penelitian- kualitatif_21.html?m=1

44

geografis, serta data-data yang menyangkut permasalahan yang peneliti teliti yaitu permasalahan apa saja yang sering terjadi di SMP Negeri 2 Praya Barat.

BAB III pembahasan yaitu berisi tentang analisis peneliti mengenai bagaimana cara membangun perilaku dan kepribadian yang baik untuk siswa-siswinya .

BAB IV penutup, yaitu berisi tentang simpulan mengenai permasalahan dan perubahan sifat anak.

45 BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Profil SMP Negeri 2 Praya Barat

a. Profil sekolah

Adapun gambaran ( profil ) umum status dan berdirinya SMP Negeri 2 Praya Barat table dibawah ini:

PROFIL SEKOLAH

1. IDENTITAS SEKOLAH

1 NAMA SEKOLAH : SMP NEGERI 2 PRAYA BARAT

2 NPSN : 50201401

3 JENJANG PENDIDIKAN : SMP

4 STATUS SEKOLAH : NEGERI

5 ALAMAT SEKOLAH : SMPN 2 PRAYA BARAT

RT / RW : 0 / 0

KODE POS : 83572

KELURAHAN : KATENG

KECAMATAN : KEC. PRAYA BARAT

KABUPATEN/KOTA : KAB. LOMBOK TENGAH

PROVINSI : PROV. NUSA TENGGARA BARAT

NEGARA : INDONESIA

6 POSISI GEOGRAFIS : -8.8009683 LINTANG

116.2321917 BUJUR

3. DATA PELENGKAP

7 SK PENDIRIAN SEKOLAH : 059410/1985

8 TANGGAL SK PENDIRIAN : 1985-11-22

9 STATUS KEPEMILIKAN : PEMERINTAH DAERAH

10 SK IZIN OPERASIONAL : -

46

11 TGL SK IZIN OPERASIONAL : 1985-01-01

12 KEBUTUHAN KHUSUS DILAYANI :

13 NOMOR REKENING : 0032236389010

14 NAMA BANK : PT. BANK NTB BPD

15 CABANG KCP/UNIT : PRAYA

16 REKENING ATAS NAMA : SMPN 2 PRAYA BARAT

17 MBS : YA

18 LUAS TANAH MILIK (M2) : 25117

19 LUAS TANAH BUKAN MILIK (M2) : 0

20 NAMA WAJIB PAJAK : SMPN 2 PRAYA BARAT

21 NPWP : 001339282915000

Secara geografis SMP Negeri 2 Praya Baratterletak di Desa Kateng yang dimana desa kateng terletak dibagian selatan Ibu Kota Kecamatan merupakan bagian integral dari wilayah Kabupaten Lombok Tengah dengan jarak dari Ibu Kota Kecamatan ±12 Km dan dari Ibu Kota Kabupaten ± 25 Km , sedangkan dari Ibu Kota Provinsi sekitar ± 50 Km dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut :

- Sebelah Utara : Desa Penujak, Bonder dan Tanak Awu

- Sebelah Selatan : Desa Banyu Urip dan Mekar Sari - Sebelah Timur : Desa Pengembur dan Tumpak - Sebelah Barat : Desa Mangkung.

Desa Kateng berada dekat dengan pantai Selong Belanak yang merupakan salah satu tempat wisata yang banyak

Dokumen terkait