BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
C. Perilaku Pemilih
Menurut Iksan (2014), Pemilih diartikan sebagai semua pihak yang menjadi tujuan utama bagi para kandidat, untuk dipengaruhi dan diyakinkan agar mendukung dan memberikan suaranya kepada kandidat tersebut. Untuk menjadi pemilih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor. 112 Tahun 2014 tentang pemilihan kepala desa, syarat- syarat untuk menjadi pemilih dalam pemilihan kepala desa ialah:
1. Penduduk desa yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala desa sudah berumur 17 tahun atau sudah/pernah menikah ditetapkan sebagai pemilih,
2. Nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya,
3. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dan
4. Berdomisili di desa sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum disahkannya daftar pemilih sementara yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk atau surat keterangan penduduk.
Nasrudin (2010), berpendapat bahwa perilaku pemilih merupakan tindakan para pemilih dalam memberikan suaranya pada pemilihan kepala daerah.
Sedangkan Miriam Budiarjo (2008), mendefinisikan perilaku pemilih sebagai
kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).
Menurut Ramlan surbakti dalam iksan (2014), perilaku pemilih adalah aktivitas pemberian suara oleh individu yang berkaitan erat dengan pengambilan keputusan untuk memilih atau tidak memilih (to vote or not to vote) dalam suatu pemilihan umum, bila voters atau pemilih memutuskan untuk memilih maka akan memilih atau mendukung kandidat tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian tentang perilaku pemilih diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku pemilih adalah perilaku yang dilakukan oleh pemilih yang dimana memiliki tujuan untuk memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Perilaku pemilih berhubungan erat dengan ideologi antar pemilih dengan kandidat ataupun partai politik, para kandidat mempunyai ideology masing- masing. Selama masa pencarian dukungan atau masa kampanye, timbul penilaian atau persamaan ideologi dari masyarakat terhadap ideology yang dibawa oleh para kandidat, masyarakat akan mengelompokan dirinya kepada kandidat yang memiliki ideologi yang sama seperti mereka dan menjauhkan diri dari ideologi yang tidak sama dengan mereka.
Beberapa ahli menjelaskan teori perilaku pemilih ke dalam berbagai pendekatan. Rochimah (2009) menjelaskan perilaku pemilih ke dalam tiga pendekatan, yakni pendekatan sosiologis, ekonomi dan psikologi sosial.
Pendekatan sosiologis lebih menekankan pada keadaan dan kategori sosial
seseorang di dalam sebuah kelompok seperti keagamaan, kelas, pembagian wilayah, ras, umur, pendidikan, dan kelompok etnis, yang mana keadaan dan kategori tersebut banyak mempengaruhi tindakan-tindakan politiknya. Menurut pendekatan ini, memilih sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan pengalaman pribadi, melainkan suatu pengalaman kelompok. Perilaku memilih seseorang cenderung mengikuti arah predisposisi politik lingkungan sosial dimana ia berada.
Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku memilih seseorang. Untuk itu, pemahaman terhadap pengelompokan sosial baik secara formal seperti keangggotaan seseorang didalam organisasi keagamaan, organisasi profesi, kelompok-kelompok okupasi dan sebagainya, maupun kelompok informal seperti keluarga, pertemanan, ataupun kelompok-kelompok kecil lainnya. Ini merupakan sesuatu yang vital dalam memahami perilaku politik, karena kelompok-kelompok ini mempunyai peranan besar dalam bentuk sikap, persepsi dan orientasi seseorang.
Jadi bisa dikatakan bahwa keangotaan seseorang kepada kelompok-kelempok sosial tertentu dapat mempengaruhi seseorang didalam menentukan pilihnaya pada saat pemilu. Hal ini tidak terlepas dari seringnya anggota kelompok, organisasi profesi dan kelompok okupasi berinteraksi satu sama lain sehingga timbulnya pemikiran-pemikiran untuk mendukung salah satu dari calon yang mengikuti pemilu.
Perilaku pemilih pendekatan sosiologis menilai agama merupakan faktor yang sangat kuat dalam mempengaruhi sikap pemilih terhadap kandidat atau
partai politik. Dalam hal ini, agama diukur dari keyakinan terhadap agama tertentu seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Hubungan antara agama dengan perilaku pemilih nampaknya sangat mempengaruhi dimana nilai- nilai agama selalu hadir didalam kehidupan private dan public dianggap berpengaruh terhadap kehidupan politik dan pribadi para pemilih. Aspek kedaerahan mempunyai hubungan dengan perilaku pemilih, adanya rasa kedaerahan mempengaruhi dukungan seseorang terhadap partai politik atau kandidat tertentu.
Pendekatan ekonomi lebih menyatakan mengenai pemilih yang dapat mengubah pilihannya sewaktu-waktu, terutama berkaitan dengan pemenuhan janji masa depan. Pendekatan ini mencoba menjelaskan bahwa kegiatan memilih sebagai kalkulasi untung dan rugi yang di pertimbangkan tidak hanya “ongkos”
memilih dan kemungkinan suaranya dapat mempengaruhi hasil yang di harapkan, tetapi juga perbedaan dari alternatif berupa pilihan yang ada. Pertimbangan ini digunakan pemilih dan kandidat yang hendak mencalonkan diri untuk terpilih sebagai wakil rakyat atau pejabat pemerintah. Bagi pemilih, pertimbangan untung dan rugi digunakan untuk membuat keputusan tentang partai atau kandidat yang dipilih, terutama untuk membuat keputusan apakah ikut memilih atau tidak ikut memillih.
Pendekatan psikologi sosial lebih kepada pertimbangan unsur loyalitas, serta kedekatan pemilih terhadap kandidat. Dalam hal pendekatan psikologis, seperti namanya, pendekatan ini menggunakan dan mengembangkan konsep psikologi terutama konsep sikap dan sosialisasi untuk menjelaskan pilihan karena
pengaruh kekuatan psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai produk dari proses sosialisasi. Mereka menjelaskan bahwa sikap seseorang sebagai dalam mempengaruhi pemilih. Dalam pendekatan ini dipercaya bahwa tingkah laku individu akan membentuk norma kepercayaan individu tersebut.
Pendekatan ini menganggap sikap sebagai variabel utama dalam menjelaskan perilaku politik. Hal ini disebabkan oleh fungsi sikap itu sendiri, yakni:
1. Sikap merupakan fungsi kepentingan, artinya penilaian terhadap objek diberikan berdasarkan motivasi, minat dan kepentingan orang tersebut.
2. Sikap merupakan fungsi penyesuaian diri, artinya seseorang bersikap tertentu sesuai dengan keinginan orang itu untuk sama atau tidak sama dengan tokoh yang diseganinya atau kelompok panutan.
3. Sikap merupakan fungsi eksternalisasi dan pertahanan diri, artinya sikap seseorang itu merupakan upaya untuk mengatasi konflik batin atau tekanan psikis yang mungkin berwujud mekanisme pertahanan dan eksternalisasi diri.
Kemudian Plano, Riggs, dan Robin dalam Nugraheni (2016) menjelaskan perilaku pemilih ke dalam tiga pendekatan. Dua diantaranya sama dengan yang teori dari Rochimah (2009), yakni pendekatan sosiologis, psikologis. Sedangkan satu lainnya ialah pendekatan rasional. Pendekatan sosiologis menjelaskan bahwa karakteristik sosial seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pendapatan, ras, jenis kelamin, status kewarganegaraan, dan partisipasi sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku pemilih. Kemudian,
pendekatan psikologis menjelaskan mengenai konsep sikap dan sosialisasi dalam hubungannya dengan perilaku pemilih. Pendekatan politik rasional menjelaskan rasional pemilih, yakni mengenai isu-isu politik yang berkembang di masyarakat serta mengenai isu kandidat yang maju. Pendekatan rasional, pendekatan ini isu- isu politik menjadi pertimbangan penting. Para pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan penilainnya terhadap isu-isu politik dan kandidat yang diajukan.
Artinya para pemilih dapat menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan- pertimbangan rasional. Dengan begitu, diasumsikan bahwa para pemilih mempunyai kemampuan untuk menilai isu-isu politik yang diajukan, maupun calon (kandidat) yang ditampilkan . Kalkulasi ini biasanya berkaitan dengan kandidat mana yang menawarkan program-program visi dan misi sesuai dengan referensi politiknya. Dari kedua teori para ahli diatas, pada penelitian ini perilaku pemilih dapat dibedakan menjadi 4 pendekatan, seperti pada tabel 2.1 berikut:
Pendekatan Perilaku Pemilih Sumber Faktor-Faktor
Sosiologi
Rochimah (2009)
Umur
Etnis
Tempat tinggal
Pendidikan
Kelas
Agama
Ras
Plano, Ringgs, dan Robin dalam Nugraheni (2016)
Latar belakang keluarga
Pendapatan
Jenis Kelamin
Pendidikan
Ras
Partisipasi sosial
Status
Kewarganegaraan
Psikologis sosial
Rochimah (2009) Sikap loyal
Sikap politik
Faktor Kedekatan Plano Ringgs, dan
Robin dalam Nugraheni (2016)
Sikap loyal
Sikap politik
Pendekatan Ekonomi Rochimah (2009)
Kebutuhan konkret
Tujuan pemilih
Untung dan rugi
Pendekatan Rasional
Plano Ringgs, dan Robin dalam Nugraheni (2016)
Penilaian terhadap isu politik
Penilaian terhadap Isu kandidat