BAB I PENDAHULUAN
B. Perilaku Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah SAW
problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakar RA.
pernah membantah Beliau”. Berkata Umar: “Hai anakku, Hafshah, engkau aku peringatkan akan hukuman Allah SWT dan Rasulullah SAW akibat perbuatanmu ini”. Hai anakku, janganlah kamu cemburu kepadanya (Aisyah) yang kecantikanya menarik hati Rasulullah SAW hingga Beliau sangat mencintainya.
Menghadapi keadaan isteri yang kurang menyenangkan sikapnya, Rasulullah SAW bersikap lembut dan sabar, mencari jalan keluar supaya tidak terjadi percekcokan dan perselisihan. Beliau tidak menghiraukan sifat buruk isterinya dan juga tidak mengucapkan yang buruk.
Dalam Hadis Rasulullah SAW:
ُٕثَأ بََُثَّذَح ٍَْع َخًََهَص ُٕثَأ بََُثَّذَح ٔ ٍشًَْع ٍِْث ِذًََّحُي ٍَْع ٌَبًََْٛهُص ٍُْث ُحَذْجَع بََُثَّذَح ٍتْٚ َشُك
ْىَُُُٓضْحَأ بًَبًَِٚإ ٍَُِِٛيْؤًُْنا ُمًَْكَأ َىَّهَص َٔ َِّْٛهَع ُ َّللَّا َّٗهَص ِ َّللَّا ُلُٕص َس َلبَقَنبَق َح َشْٚ َشُْ ِٙثَأ َٛ ِخ ْىُك ُسبَٛ ِخ َٔ بًقُهُخ ُٕثَأ َلبَق ٍسبَّجَع ٍِْثا َٔ َخَشِئبَع ٍَْع ةبَجْنا ِٙف َٔ َلبَقبًقُهُخ ْىِِٓئبَضُِِهًُْك ُسب
ٌحٛ ِحَص ٌٍَضَح ٌثِٚذَح اَزَْ َح َشْٚ َشُْ ِٙثَأ ُثِٚذَح َٗضِٛع Artinya:
(TIRMIDZI - 1082) : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami 'Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin 'Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya." Abu Isa berkata;
"Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas." Dia menambahkan; "Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih."
Perlakuan lembut, sabar, lapang dada dan penuh kasih sayang Rasulullah SAW pada isteri-isterinya, itulah yang menjadi teladan bagi para sahabat-sahabat Beliau di kala masih hidup maupun setelah wafat.
Menurut Umar Basyir (2007 : 52) bahwa Rasulullah SAW dalam majalah nikah bersabda: yang artinya“Segala bentuk permainan ini batil bagi anak Adam, kecuali tiga perkara: melepas panah dari busurnya, latihan berkuda dan senda gurau (bermain-main) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka”.
Kemudian menurut Ridha (2006 : 8), bahwa: „keadilan dan kebaikan adalah landasan dasar syariat Islam. Hubungan antar suami isteri dalam keluarga didasari oleh hubungan timbal balik berkisar seputar keadilan, yaitu hak-hak yang berhubungan dengan perkara peradilan syariat rumah tangga dan kebaikan, yangg hak-hak agama yangg merujuk pada perasaan keagamaan suami isteri. Standar hak-hak keagamaan adalah ketakwaan. Dalam QS. An-Nisa‟ (4) ayat 19, Allah SWT berfirman:
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan
mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(Kementrian Agama RI. 2013:80).
Firman-Nya yang lain dalam QS. Al-Baqarah (2) : 228:
Terjemahnya:
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.
dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Kementrian Agama RI. 2013 : 36)
Arti patut dalam ayat di atas adalah kepatuhan tentang nikmat Allah SWT dalam berumah tangga yang tercermin dalam ketenangan, kebahagiaan dan kasih sayang.
Sedangkan menurut Mahdial-istanbuli (2005 : 249), bahwa Rasulullah SAW bersabda: yang artinya “sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku (Rasulullah) adalah orang terbaik kepada keluarga di antara kalian...”. (HR. Thabrani dengan sanad yang shahih).
Sabda Rasulullah SAW yang artinya:„...orang mukmin yang sempurna imanya siapa yang terbaik akhlaknya dan sebaik-sebaik mereka adalah siapa yang terbaik di dalam memperlakukan isteri...‟.
(HR.Bukhari).
Salah seorang ulama berkata: „jika sebaik-baiknya manusia adalah siapa yang terbaik dalam berbuat baik terhadap isterinya, sebagaimana termaktub di dalam hadis di atas, maka seorang suami yang berlaku sebaliknya adalah orang terburuk perilaku dan akhlaknya‟.
Adapun menurut Abdurrahman as-Sanan (2003 : 51), bahwa: „salah satu perilaku Rasulullah SAW dalam berpoligami adalah senantiasa memperlakukan isteri-isterinya yang adil. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW
ِءاَّزَحْنا ٍذِنبَخ ٍَْع ِمَّضَفًُْنا ٍُْث ُشْشِث بََُثَّذَح ٍفَهَخ ٍُْث َْٗٛحَٚ َخًََهَص ُٕثَأ بََُثَّذَح
َأ ٍَْع
َلبَق ٍكِنبَي ٍِْث ِشَََأ ٍَْع َخَث َلاِق ِٙث
اَرِإ ُخَُُّّضنا َلبَق َُُِّّكَن َٔ َىَّهَص َٔ َِّْٛهَع ُ َّللَّا َّٗهَص ِ َّللَّا ُلُٕص َس َلبَق َلُٕقَأ ٌَْأ ُتْئِش َْٕن نا َج َّٔ َزَت اَرِإ َٔ بًعْجَص بََْذُِْع َوبَقَأ ِِّتَأ َشْيا َٗهَع َشْكِجْنا ُمُج َّشنا َج َّٔ َزَت َٗهَع َتَِّّٛث
بًث َلاَث بََْذُِْع َوبَقَأ ِِّتَأ َشْيا ٌٍَضَح ٌثِٚذَح ٍشَََأ ُثِٚذَح َٗضِٛع ُٕثَأ َلبَق َخًََهَص ِّوُأ ٍَْع ةبَجْنا ِٙف َٔ َلبَق ْىَن َٔ ٍشَََأ ٍَْع َخَث َلاِق ِٙثَأ ٍَْع َةَُّٕٚأ ٍَْع َقَحْصِإ ٍُْث ُذًََّحُي َُّعَف َس ْذَق َٔ ٌحٛ ِحَص ُّْعَف ْشَٚ
َج َّٔ َزَت اَرِإ إُنبَق ِىْهِعْنا ِمَْْأ ِضْعَث َذُِْع اَزَْ َٗهَع ُمًََعْنا َٔ َلبَق ْىُُٓضْعَث
ِلْذَعْنبِث ُذْعَث بًَََُُْٓٛث َىَضَق َّىُث بًعْجَص بََْذُِْع َوبَقَأ ِِّتَأ َشْيا َٗهَع ا ًشْكِث ًحَأ َشْيا ُمُج َّشنا ِتَأ َشْيا َٗهَع َتَِّّٛثنا َج َّٔ َزَت اَرِإ َٔ
ِِّٙعِفبَّشنا َٔ ٍكِنبَي ُل َْٕق َُْٕ َٔ بًث َلاَث بََْذُِْع َوبَقَأ ِّ
َٗهَع َشْكِجْنا َج َّٔ َزَت اَرِإ ٍَِٛعِثبَّتنا ٍِْي ِىْهِعْنا ِمَْْأ ُضْعَث َلبَق َقَحْصِإ َٔ َذًَْحَأ َٔ
بََْذُِْع َوبَقَأ َتَِّّٛثنا َج َّٔ َزَت اَرِإ َٔ بًث َلاَث بََْذُِْع َوبَقَأ ِِّتَأ َشْيا ُل ََّٔ ْلْا ُل َْٕقْنا َٔ ٍَِْٛتَهَْٛن
ُّحَصَأ
Artinya:
(TIRMIDZI - 1058) : Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Yahya bin Khalaf, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari Khalid bin Al Hadza` dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata; "Jika aku berkehendak akan aku katakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, namun yang benar hendaknya berkata; 'Termasuk bagian dari sunnah jika seseorang berpoligami dengan menikahi seorang gadis, dia menginap padanya selama satu minggu. Jika berpoligami dengan seorang janda, dia menginap padanya selama tiga hari.' Hadits semakna diriwayatkan dari Umu Salamah. Abu Isa berkata; "Hadits Anas merupakan hadits hasan sahih. Muhammad bin Ishaq telah memarfu'kannya dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas, sedang selain dia tidak memarfu'kannya. Sebagian ulama mengamalkan hadits ini, mereka berkata; Jika seseorang berpoligami dengan menikahi seorang gadis maka dia menginap padanya selama tujuh hari kemudian membagi hari-harinya dengan adil. Jika menikahi seorang janda, maka dia menginap padanya selama tiga hari. Ini merupakan pendapat Malik, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Sebagian
ulama berpendapat; jika seseorang berpoligami dengan menikahi perawan, maka dia menginap padanya selama tiga hari. Jika menikahi seorang janda, maka dia menginap padanya selama dua malam. Namun pendapat yang pertama lebih sahih."
Berdasarkan dari hadis terebut dapat disimpulkan bahwa, Rasulullah berlaku adil kepada para isterinya sesuai dengan kebutuhan masing-masing, bukan berrdasarkan nafsunya semata.
C. Perilaku Poligami Rasulullah dari Tinjauan Islam dan Kandungan