BAB II KAJIAN TEORI
2.10 Kerangka konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka teori diatas maka determinan stunting merupakan multifaktor yang sangat kompleks. Namun, karena adanya keterbatasan peneliti, maka peneliti melakukan penyederhanaan dengan meneliti beberapa variabel penelitian. Variabel penelitian yang dipilih tersebut merupakan determinan kejadian
stunting pada baduta serta merupakan bagian dari program intervensi spesifik.
Determinan kejadian stunting pada baduta berkaitan dengan program gizi yang telah dijalankan di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador sebagai intervensi atau usaha untuk mengatasi kejadian stunting. Berdasarkan tinjauan teori serta tujuan penelitian, maka susunan konsep penelitian adalah sebagai berikut:
Variabel Independen (X) Variabel Dependen (Y)
Gambar 2.3 Susunan Konsep Penelitian 2.11 Hipotesis Penelitian
1. Ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
2. Ada hubungan pengetahuan ibu tentang stunting dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
Stunting 1. Pendidikan ibu anak baduta
2. Pengetahuan ibu anak baduta 3. Penghasilan keluarga
4. Kunjungan ANC ibu anak baduta pada saat hamil 5. Riwayat mengkonsumsi
tablet besi selama kehamilan 6. Pemberian ASI ekslusif pada
bayi umur 0-6 bulan
7. Pemberian MP ASI pada usia 6-23 bulan
8. Riwayat mengkonsumsi Vitamin A pada anak baduta 9. Monitoring pertumbuhan
pada anak baduta
3. Ada hubungan penghasilan keluarga dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
4. Ada hubungan kunjungan ANC pada ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
5. Ada hubungan riwayat pemberian tablet besi (tablet Fe) pada saat ibu hamil dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
6. Ada hubungan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0-6 bulan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
7. Ada hubungan pemberian MP ASI pada anak usia 6-23 bulan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
8. Ada hubungan pemberian vitamin A pada anak usia 6-23 bulan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
9. Ada hubungan monitoring pertumbuhan pada anak 0-23 bulan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023.
41 3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan rancangan penelitian adalah kasus kontrol, menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui hubungan antara pendidikan ibu, pengetahuan ibu tentang gizi, penghasilan keluarga, kunjungan ANC ibu pada saat hamil, riwayat pemberian tablet besi pada saat ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif pada bayi 0-6 bulan, pemberian MPASI pada anak usia 6-23 bulan, pemberian vitamin A dan Monitoring pertumbuhan dengan kejadian stunting pada anak baduta.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara. Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador yang terdiri dari 10 desa yaitu Tanjung Prapat, Laut Tador, Pelanggiran, Perk Tanjung kasau, Dwi Sri, Tanjung Kasau, Tanjung Seri, Mekar Sari, Sei Simujur dan Kandangan. Alasan pemilihan tempat penelitian adalah berdasarkan dari laporan e-PPGBM tahun 2023 Puskesmas Laut Tador Kabupaten Batubara bulan Januari- Maret tahun 2023, terdata sebanyak 154 orang mengalami stunting pada anak baduta.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian di lakukan selama 5 bulan pada bulan Maret sampai dengan Juli tahun 2023 meliputi survei awal, penyusunan proposal, penelitian, analisa data serta pelaporan hasil penelitian.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian
Ibu yang memiliki baduta stunting sebanyak 154 orang yang berdomisili di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara
3.3.2 Sampel Penelitian
Sebagian dari populasi yaitu ibu yang memiliki baduta stunting. Sampel penelitian ini terdiri dari sampel kasus dan sampel kontrol yang berdomisili di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara. Sampel kasus adalah ibu yang memiliki baduta yang mengalami stunting sedangkan sampel kontrol adalah ibu yang memiliki anak yang tidak stunting.
3.3.3 Besar sampel
Perhitungan besar sampel minimal dilakukan dengan menggunakan rumus penelitian case control studies menurut Lameshow (1997) sebagai berikut:
Keterangan
n = besar sampel minimum α = Tarif kemaknaan 5% = 0,05.
Z1-α = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α 5% = 1.96 Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β 20% = 0.842
P0 = proporsi stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador = 23% (0,23) Pa = perkiraan proporsi di populasi = 60% (0,6)
Pa-P0 = perkiraan selisih proporsi yang diteliti dengan proporsi di populasi = 37% (0,37)
Hasil perhitungan
Berdasarkan pehitungan di atas, besar sampel setiap variabel dengan α = 0,05 akan dilakukan perbandingan 1 sampel kasus dan 1 sampel kontrol sehingga diperoleh besar sampel adalah minimal 112 orang untuk sampel kasus dan 112 orang untuk kontrol. Maka total keseluruhan sampel penelitian ini adalah minimal sebanyak 224 orang. Sesuai dengan keadaan di lapangan sampel dapat ditambahkan sebanyak 10 persen dari total minimal sampel sehingga total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 248 sampel.
Berdasarkan penelitian Nadia (2018) menyebutkan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh pemberian ASI Ekslusif sedangkan jenis kelamin tidak mempengaruhi terjadinya Stunting.
3.3.4 Prosedur pengambilan sampel
Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampel.
Sampel pada penelitian ini adalah ibu baduta yang memiliki baduta stunting dan baduta normal sebanyak 248 sampel. Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah ibu yang bertempat tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador Kabupaten Batubara. Ibu yang memiliki anak stunting dijadikan sebagai sampel kasus, dan sampel kontrol diambil dari ibu yang memiliki anak baduta normal.
Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador kabupaten Batubara terdiri dari 10 desa yaitu Tanjung Prapat, Laut Tador, Pelanggiran, Perk Tanjung kasau, Dwi Sri, Tanjung Kasau, Tanjung Seri, Mekar Sari, Sei Simujur dan Kandangan. Berdasarkan data e- PPGBM tahun 2023 jumlah anak baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador kabupaten Batubara memiliki 428 baduta dimana terdapat 154 baduta yang mengalami stunting. Untuk mendapatkan persamaan persepsi dalam hal pemilihan sampel maka peneliti, bidan desa dan kader posyandu melakukan pertemuan terlebih dahulu yang membahas mengenai pengukuran dan pengisian kuesioner. Peneliti bersama bidan desa dan kader posyandu yang telah dilatih memulai kegiatan pemilihan sampel dengan melakukan skrining di 10 desa secara berurut pada Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador dan melakukan pengukuran kepada anak baduta berdasarkan panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur, lalu hasilnya dibandingkan dengan tabel baku standard WHO 2005. Kegiatan pengambilan sampel dihentikan setelah jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi yaitu 248 ibu yang memiliki baduta stunting dan baduta normal. Ibu yang memiliki
anak baduta stunting dijadikan sebagai sampel kasus, dan sampel kontrol diambil dari ibu yang memiliki anak baduta normal. Sebelum dijadikan sampel penelitian terlebih dahulu peneliti, bidan desa dan kader posyandu memberi penjelasan mengenai prosedur penelitian ini, selanjutnya meminta kesedian ibu baduta yang menjadi sampel atau responden untuk mengikuti jalannya penelitian dan menanda tangani informed consent sebagai bukti konkrit.
3.4 Definisi Operasional dan Aspek Pengukuran
Variabel adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut dan kemudian di Tarik kesimpulannya. Definisi operasional variable penelitian adalah fenomena observational yang memungkinkan peneliti untuk menguji secara empiric mengenai kesahihan outcome yang diprediksi.
Tabel 3.1 Definisi Opearasional Variabel Defenisi
Operasional
A Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Dependen
Stunting Status gizi baduta berdasarakan indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U).
Kuesioner 0.Stunting, bila Z-skor
-2 SD sampai
< -3
1.Normal,bila Z- score -2 SD sampai +3 SD
Ordinal
Independen Pendidikan ibu anak baduta
Jenjang pendidikan formal terakhir yang diikuti atau dialami ibu baduta
Kuesioner 0. Menegah ke bawah, bila
pendidikan SD/tidak sekolah, SLTP/sedera jat, SLTA/
sederajat 1. Tinggi, bila
pendidikan akademi/ D3/
Perguruan Tinggi
Ordinal
Pengetahuan ibu anak baduta
Segala sesuatu yang diketahui ibu (Pengetahuan ibu ) tentang stunting.
Kuesioner 0. kurang, bila skor ≤ 50%
1. Cukup, bila skor ≥ 50%
Ordinal
Penghasilan keluarga
Jumlah penghasilan keluarga per bulan berdasarkan upah minimum kerja (UMK) di Kabupaten
Batubara tahun 2023
Kuesioner 0. Tidak sesuai, bila
< Rp.2.711.000
1. Sesuai, bila ≥ Rp.2.711.000
Ordinal
Kunjungan ANC ibu anak baduta pada saat hamil
Jumlah kunjungan ANC ibu anak baduta ke fasyankes selama kehamilan
Kuesioner 0. Kurang, bila tidak pernah atau kurang dari 6 kali 1. Cukup, bila
6 kali
Ordinal
Riwayat mengkon sumsi tablet besi selama kehamilan
Jumlah tablet besi yang dikonsumsi ibu anak baduta selama kehamilan
Kuesioner 0. Kurang, bila
< 90 Tablet 1. Cukup, bila
90 tablet
Ordinal
Pemberian ASI ekslusif
Pemberian ASI Ekslusif tanpa makanan/minuman lain pada anak baduta usia 0- 6 bulan
Kuesioner 0. Tidak,bila tidak diberikan ASI Ekslusif 1. Ya, bila
diberikan ASI Ekslusif
Ordinal
Pemberian MP-ASI
Pemberian MP-ASI pada anak baduta pada usia 6-24 bulan dengan 4 bintang (karbohidrat,protein hewani, kacang- kacangan dan sayur/buah) serta memperhatikan usia,frekuensi, jumlah,tektur, variasi dan responsif -
Kuesioner 0 Tidak, bila tidak diberikan sesuai standar Kemenkes 1 Ya,bila
diberikan sesuai dengan standart kemenkes
Ordinal
Riwayat mengkon sumsi vitamin A pada anak baduta
Jumlah kapsul vitamin A yang dikonsumsi anak baduta pada usia 6-24 bulan
Kuesioner 0. Kurang, bila tidak
diberikan Vit A sesuai umur
1. Cukup, bila Diberikan Vit A sesuai umur
Ordinal
Monitoring pertumbu han pada anak baduta
Pemantauan pertum buhan anak baduta oleh petugas kesehatan (TPG, bidan desa, dan kader posyandu yang terlatih) pada usia 0-24 bulan.
Kuesioner 0. Tidak, bila tidak melakukan monitoring sesuai usia baduta 1.Ya, bila
melakukan monitoring sesuai usia baduta
Ordinal
3.5 Metode Pengumpulan data 3.5.1 Sumber data
1. Dari aplikasi e-ppgbm
2. Dari ibu baduta yang diwawancarai menggunakan kuesioner.
3.5.2 Jenis data
1. Data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner.
2. Data sekunder yang diperoleh dari aplikasi data e-PPGBM 3.5.3 Cara pengumpulan data
Pengisian koesioner dilakukan oleh peneliti sendiri, bidan desa dan kader posyandu yang sudah dilatih. Untuk mendapatkan data yang valid, maka sebelum dilakukan pengumpulan data, peneliti melakukan pertemuan terlebih dahulu untuk persamaan persepsi dalam pengukuran dan pengisian kuesioner.
3.6 Metode Pengolahan Data 1. Editing
Langkah awal setelah data hasil wawancara dikumpulkan seluruhnya adalah melakukan penyuntingan (editing). Hal ini yang dicermati adalah kelengkapan jawaban dari check list yang telah diisi untuk memastikan semua pernyataan telah diisi, dapat terbaca dan melihat kekeliruan yang mempunyai kemungkinan mengganngu pengilahan data selanjutnya.
2. Koding
Pada langkah ini penulis melakukan pemberian kode pada jawaban dan hasil pemeriksaa yang terdapat di kuesioner untuk memudahkan pengolahan data.
Kode untuk masing-masing katagori variable independen serta dependen yang terdiri atas dua katagori, diberi kode nol untuk katagori yang menjadi preferensi serta kode satu kepada kategori yang menjadi resiko
3. Tabulasi
Tabulasi adalah langkah pengelompokan data yang telah diperoleh dengan tujuan untuk membantu peneliti dalam menarik kesimpulan. Langkah ini umumnya dilakukan dalam bentuk tabel. Bentuk dari tabel dapat sederhana dan tabel silang.
3.7 Metode Analisis data
Setelah data berhasil dikumpulkan dilakukan analisis data dengan program aplikasi SPSS versi 22.
3.7.1 Entri data
Memasukkan semua data dari hasil kuesioner yang berdasarkan variable yang diteliti.
3.7.1.1 Analisis Univariat.
Analisis univariat dilakukan pada masing-masing variable, yaitu variable independen dan variable dependen. Analisis ini bertujuan untuk mendeskripsikan setiap pertanyaan atau pernyataan kuesioner yang diteliti. Analisa univariat pada penelitian ini untuk menentukan proporsi katagori dari variable dependen dan distribusi frekuensi dari katagori masing masing variable independen dengan narasi yang relevan.
3.7.1.2 Analisa Bivariat
Analisis bivariate merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variable, baik berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif. Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable dependen dengan variabel independen dengan menggunakan uji Chi-square karena outcome yang diharapkan dalam bentuk dikotomi. Pengolahan dengan Chi-square dilakukan menggunakan Sofware Analisis Variabel yang diinput kedalam program pengilahan data ini bertujuan untuk menyeleksi kandidat variable yang layak masuk kedalam multiple logistic regression ( MLR). Variabel dengan tingkat signifikansi (sig) atau p value lebih kecil 0,25 yang layak dilanjutkan dalam analisis MLR menggunakan metode backward LR
3.7.1.3 Analisa Multivariat
Analisis multivariat digunakan untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan terhadap variabel dependen. Sebelum dilakukan analisis multivariat akan dilakukan seleksi bivariat. Variabel-variabel yang akan masuk dalam analisa multivariat adalah variabel ketika seleksi bivariat memiliki nilai p<0,25. Karena variable dependen dan independen pada penelitian ini adalah jenis data katagorikal maka analisa multivariate yang sesuai dengan menggunakan uji Regresi Logistik.
Variabel yang diolah dengan me4tode ini akan dilahat tingkat korelasinya dengan besarnya nilai Odds Ratio (OR).Interpretasi nilai OR, harus memperhatikan kualitas rumus yang digunakan melalui Area Under Curve (AUC), nilai yang mendekati 1 menunjukkan kaualitas yang bagus. Variabel independen dengan OR tertinggi yang dianggap menjadi factor yang mempunyai korelasi erat terhadapo variable dependen.
52 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Laut Tador merupakan puskesmas yang ada di Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador sebayak 3060 orang, terdiri dari 1504 laki-laki, dan 1556 perempuan. Jumlah kepala keluarga sebanyak 978. Kepadatan penduduk 215,71 jiwa/km2. Sebagian besar mata pencaharian pokok keluarga adalah wiraswasta, buruh tani, petani, dan ibu rumah tangga. Sebagian besar penduduk merupakan etnis Melayu, Jawa, dan Banjar.
Wilayah kerja Puskesmas Laut Tador meliputi 10 desa, yaitu Desa Tanjung Prapat, Laut Tador, Pelanggiran, Perk Tanjung kasau, Dwi Sri, Tanjung Kasau, Tanjung Seri, Mekar Sari, Sei Simujur dan Kandangan.
Berdasarkan data e-PPGBM tahun 2023, jumlah Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador tercatat sebanyak 428 orang, 154 diantaranya mengalami stunting. Pada penelitian ini total sampel yang digunakan 248 orang dimana sampel kasus (Baduta yang mengalami stunting) sebanyak 124 orang dan sampel kontrol (Baduta yang tidak mengalami stunting) sebanyak 124 orang (perbandingka kasus dan kontrol, yaitu 1:1).
Pemerintahan Daerah Kabupaten Batubara telah melakukan upaya inovasi dalam penurunan dan pencegahan stunting. Inovasi tersebut melibatkan petugas gizi
di seluruh puskesmas di Kabupaten Batubara, termasuk Puskesmas Laut Tador.
Adapun inovasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menerbitkan SK Bupati dan Peraturan Bupati Batubara dalam rangka percepatan penurunan stunting.
2. Gerakan Masyarakat Percepatan Penurunan Stunting (GEMA PENTING).
Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam pemetaan stunting yang ada di kabupaten Batubara, seperti melaksanakan kegiatan posyandu terintegrasi dengan melakukan pengukuran panjang, tinggi dan berat badan Balita (termasuk Baduta) berdasarkan antropometri serta pengecekan pertumbuhan dan perkembangan Balita. Gerakan GEMA PENTING ini merupakan salah satu program prioritas utama Bupati Kabupaten Batubara dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Batubara, khususnya penurunan stunting, sehingga Bupati mendorong peran serta seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan Kabupaten Batubara dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
3. Menggalakkan program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) dan Bapak Angkat keluarga beresiko stunting (BAKBS).
4. Dinas Kesehatan Kabupaten Batubara dan Puskesmas Laut Tador melaksanakan kegiatan pembinaan kader posyandu (refresing kader), pemberian makanan tambahan (PMT) pada Balita, pemantauan kesehatan ibu dan anak (KIA), dan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri.
5. Menggandeng TP-PKK Kabupaten untuk membentuk Laskar Istana (Lakukan Serentak Aksi Konvergensi Intervensi Stunting secara nyata), seperti membentuk duta dalam pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, pembentukan posyandu remaja, gerakan ayah peduli ASI melalui kelas ibu hamil, pendampingan calon pengantin sehat, pelatihan tenaga teknis pemberian makanan pada bayi dan anak untuk program Dapur Sehat atasi Stunting ( Dashat).
6. Pembekalan kader dasawisma dalam pengelolaan MP-ASI dan PMT pemulihan berbasis bahan makanan lokal.
7. Pembentukan kelas Balita Stunting (kebal stunting) dengan sasaran semua Balita di desa dan memprioritaskan Balita stunting dengan memberikan edukasidan pemantauan pertumbuhan Balita.
4.2 Hasil Analisis 4.2.1 Analisis Univariat
1. Jumlah Kasus dan Kontrol
Tabel. 4.1
Jumlah Kasus dan Kontrol Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Kejadian Stunting n %
Stunting 124 50,0
Normal 124 50,0
Total 248 100,0
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah kasus dan kontrol pada penelitian ini masing-masing sebanyak 124. Perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1.
1. Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan Responden Ibu Baduta Tabel. 4.2
Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pendidkan ibu n %
Menengah kebawah 223 89,9
Tinggi 25 10,1
Total 248 100,0
Berdasarkan Tabel 4.2 pada umumnya (89,9%) tingkat pendidikan ibu Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador adalah menengah kebawah.
2. Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan Ibu Baduta Tentang Stunting Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Pengetahuan tentang Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pengetahuan ibu n %
Kurang 152 61,3
Cukup 96 38,7
Total 248 100,0
*Pengetahuan tentang stunting meliputi pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan akibat stunting.
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar (61,3%) pengetahuan ibu Baduta tentang stunting di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador masih kurang.
4. Distribusi Frekuensi Menurut Penghasilan Keluarga Ibu Baduta Tabel. 4.4
Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Penghasilan Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Penghasilan keluarga n %
Kurang 82 33,1
Cukup 166 66,9
Total 248 100,0
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar (66,9%) penghasilan keluarga ibu Baduta termasuk kategori cukup, sebesar ≥Rp.2.711.000 per bulan.
5. Distribusi Frekuensi Menurut Kunjungan ANC Saat Ibu Baduta Hamil Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Kunjungan ANC pada saat Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Kunjungan ANC n %
Kurang 132 53,2
Cukup 116 46,8
Total 248 100,0
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar (53,2%) ibu Baduta melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali selama kehamilan.
6. Distribusi Frekuensi Menurut Riwayat Pemberian Tablet Besi saat Hamil Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Menurut Riwayat Pemberian Tablet Besi pada saat Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Riwayat pemberian tablet besi n %
Kurang 130 52,5
Cukup 118 47,5
Total 248 100,0
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan sebagian besar (52,5%) ibu Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador termasuk kategori kurang dalam mengkonsumsi tablet besi selama kehamilan.
7. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian ASI Eksklusif pada Baduta Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian ASI Eksklusif pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pemberian ASI eksklusif n %
Tidak diberikan 211 85,2
Diberikan 37 14,8
Total 248 100,0
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada umumnya (85,2%) ibu Baduta tidak memberikan ASI eksklusif pada Baduta.
8. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian MP-ASI pada Baduta
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian MP-ASI pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Riwayat pemberian MP-ASI n %
Tidak diberikan 210 84,7
Diberikan 38 15,3
Total 248 100,0
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa pada umumnya (84,7%) ibu Baduta tidak memberikan MP-ASI pada Baduta.
9. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian Vitamin A pada Baduta Tabel. 4.9
Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian Vitamin A pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pemberian vitamin A pada Baduta n %
Kurang 152 61,2
Cukup 96 38,8
Total 248 100,0
Berdasarkan Tabel 4.9 menunjukkan sebagian besar (61,2%) di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador termasuk kategori kurang dalam pemberian vitamin A pada Baduta sedangkan yang masuk dalam katagori cukup dalam pemberian vitamin A hanya 38,8 % kepada baduta.
10. Distribusi Frekuensi Menurut Monitoring Pertumbuhan pada Baduta Tabel.4.10
Distribusi Frekuensi Menurut Monitoring Pertumbuhan pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023
Monitoring pertumbuhan pada Baduta n %
Tidak dilakukan 168 67,7
Dilakukan 80 32,3
Total 248 100,0
Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan sebagian besar (67,7%) di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador ibu baduta tidak melakukan monitoring pertumbuhan anaknya ke posyandu atau puskesmas dan hanya 32,3% ibu baduta melakukan monitoring pertumbuhan anaknya ke posyandu atau puskesmas.
4.2.2 Hasil Analisis Bivariat
4.2.2.1 Hubungan variabel independen dengan kejadian stunting Tabel 4.11
Hubungan Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pendidikan ibu
Kejadian stunting
Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total
n % n % n %
Menengah
kebawah 112 91,8 111 88,1 223 89,9 0,910 0,93 0.538 – 1,547 Tinggi 12 8,2 13 11.9 25 10,1
Jumlah 124 100 124 100 248 100
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting lebih tinggi (91,8%) pada Baduta dengan ibu yang mempunyai pendidikan menengah kebawah daripada ibu yang berpendidikan tinggi, tetapi secara statistik tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05).
Tabel 4.12
Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Pengetahuan ibu
Kejadian stunting
Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total
n % n % n %
Kurang 68 54,8 84 67,7 152 61,3
0,911 0.94 0.561 – 1,570 Cukup 56 45,2 40 32.3 96 38,7
Jumlah 124 100 124 100 248 100
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting lebih tinggi (54,8%) pada Baduta dengan ibu yang mempunyai pengetahuan kurang daripada ibu
Baduta yang mempunyai pengetahuan cukup, tetapi secara statistik tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05).
Tabel 4.13
Hubungan Penghasilan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.
Penghasilan keluarga
Kejadian stunting
Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total
n % n % n %
Kurang 82 66,1 0 0,0 82 33,1
0,002
5.50O
3,979 – 7,602 Cukup 42 33,9 124 100 166 66,9
Jumlah 124 100 124 100 248 100
Berdasarkan Tabel 4.13, proporsi kejadian stunting lebih tinggi (66,1%) pada Baduta dengan keluarga yang mempunyai penghasilan kurang daripada keluarga yang mempunyai penghasilan cukup, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).
Tabel 4.14
Hubungan Kunjungan ANC Ibu Baduta pada Saat Hamil dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun
2023.
Kunjungan ANC
Kejadian stunting
Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total
n % n % n %
Kurang 77 62,1 55 44,3 132 53,2
0,004
3.001
2.820 - 4,130 Cukup 47 37,9 69 55,7 116 46,8
Jumlah 124 100 124 100 248 100
Berdasarkan Tabel 4.14 proporsi kejadian stunting lebih tinggi (62,1%) pada Baduta dengan ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang (< 6 kali) daripada ibu