• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Metode Pengolahan Data

Langkah awal setelah data hasil wawancara dikumpulkan seluruhnya adalah melakukan penyuntingan (editing). Hal ini yang dicermati adalah kelengkapan jawaban dari check list yang telah diisi untuk memastikan semua pernyataan telah diisi, dapat terbaca dan melihat kekeliruan yang mempunyai kemungkinan mengganngu pengilahan data selanjutnya.

2. Koding

Pada langkah ini penulis melakukan pemberian kode pada jawaban dan hasil pemeriksaa yang terdapat di kuesioner untuk memudahkan pengolahan data.

Kode untuk masing-masing katagori variable independen serta dependen yang terdiri atas dua katagori, diberi kode nol untuk katagori yang menjadi preferensi serta kode satu kepada kategori yang menjadi resiko

3. Tabulasi

Tabulasi adalah langkah pengelompokan data yang telah diperoleh dengan tujuan untuk membantu peneliti dalam menarik kesimpulan. Langkah ini umumnya dilakukan dalam bentuk tabel. Bentuk dari tabel dapat sederhana dan tabel silang.

3.7 Metode Analisis data

Setelah data berhasil dikumpulkan dilakukan analisis data dengan program aplikasi SPSS versi 22.

3.7.1 Entri data

Memasukkan semua data dari hasil kuesioner yang berdasarkan variable yang diteliti.

3.7.1.1 Analisis Univariat.

Analisis univariat dilakukan pada masing-masing variable, yaitu variable independen dan variable dependen. Analisis ini bertujuan untuk mendeskripsikan setiap pertanyaan atau pernyataan kuesioner yang diteliti. Analisa univariat pada penelitian ini untuk menentukan proporsi katagori dari variable dependen dan distribusi frekuensi dari katagori masing masing variable independen dengan narasi yang relevan.

3.7.1.2 Analisa Bivariat

Analisis bivariate merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variable, baik berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif. Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable dependen dengan variabel independen dengan menggunakan uji Chi-square karena outcome yang diharapkan dalam bentuk dikotomi. Pengolahan dengan Chi-square dilakukan menggunakan Sofware Analisis Variabel yang diinput kedalam program pengilahan data ini bertujuan untuk menyeleksi kandidat variable yang layak masuk kedalam multiple logistic regression ( MLR). Variabel dengan tingkat signifikansi (sig) atau p value lebih kecil 0,25 yang layak dilanjutkan dalam analisis MLR menggunakan metode backward LR

3.7.1.3 Analisa Multivariat

Analisis multivariat digunakan untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan terhadap variabel dependen. Sebelum dilakukan analisis multivariat akan dilakukan seleksi bivariat. Variabel-variabel yang akan masuk dalam analisa multivariat adalah variabel ketika seleksi bivariat memiliki nilai p<0,25. Karena variable dependen dan independen pada penelitian ini adalah jenis data katagorikal maka analisa multivariate yang sesuai dengan menggunakan uji Regresi Logistik.

Variabel yang diolah dengan me4tode ini akan dilahat tingkat korelasinya dengan besarnya nilai Odds Ratio (OR).Interpretasi nilai OR, harus memperhatikan kualitas rumus yang digunakan melalui Area Under Curve (AUC), nilai yang mendekati 1 menunjukkan kaualitas yang bagus. Variabel independen dengan OR tertinggi yang dianggap menjadi factor yang mempunyai korelasi erat terhadapo variable dependen.

52 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Laut Tador merupakan puskesmas yang ada di Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador sebayak 3060 orang, terdiri dari 1504 laki-laki, dan 1556 perempuan. Jumlah kepala keluarga sebanyak 978. Kepadatan penduduk 215,71 jiwa/km2. Sebagian besar mata pencaharian pokok keluarga adalah wiraswasta, buruh tani, petani, dan ibu rumah tangga. Sebagian besar penduduk merupakan etnis Melayu, Jawa, dan Banjar.

Wilayah kerja Puskesmas Laut Tador meliputi 10 desa, yaitu Desa Tanjung Prapat, Laut Tador, Pelanggiran, Perk Tanjung kasau, Dwi Sri, Tanjung Kasau, Tanjung Seri, Mekar Sari, Sei Simujur dan Kandangan.

Berdasarkan data e-PPGBM tahun 2023, jumlah Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador tercatat sebanyak 428 orang, 154 diantaranya mengalami stunting. Pada penelitian ini total sampel yang digunakan 248 orang dimana sampel kasus (Baduta yang mengalami stunting) sebanyak 124 orang dan sampel kontrol (Baduta yang tidak mengalami stunting) sebanyak 124 orang (perbandingka kasus dan kontrol, yaitu 1:1).

Pemerintahan Daerah Kabupaten Batubara telah melakukan upaya inovasi dalam penurunan dan pencegahan stunting. Inovasi tersebut melibatkan petugas gizi

di seluruh puskesmas di Kabupaten Batubara, termasuk Puskesmas Laut Tador.

Adapun inovasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Menerbitkan SK Bupati dan Peraturan Bupati Batubara dalam rangka percepatan penurunan stunting.

2. Gerakan Masyarakat Percepatan Penurunan Stunting (GEMA PENTING).

Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam pemetaan stunting yang ada di kabupaten Batubara, seperti melaksanakan kegiatan posyandu terintegrasi dengan melakukan pengukuran panjang, tinggi dan berat badan Balita (termasuk Baduta) berdasarkan antropometri serta pengecekan pertumbuhan dan perkembangan Balita. Gerakan GEMA PENTING ini merupakan salah satu program prioritas utama Bupati Kabupaten Batubara dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat Kabupaten Batubara, khususnya penurunan stunting, sehingga Bupati mendorong peran serta seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan Kabupaten Batubara dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

3. Menggalakkan program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) dan Bapak Angkat keluarga beresiko stunting (BAKBS).

4. Dinas Kesehatan Kabupaten Batubara dan Puskesmas Laut Tador melaksanakan kegiatan pembinaan kader posyandu (refresing kader), pemberian makanan tambahan (PMT) pada Balita, pemantauan kesehatan ibu dan anak (KIA), dan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri.

5. Menggandeng TP-PKK Kabupaten untuk membentuk Laskar Istana (Lakukan Serentak Aksi Konvergensi Intervensi Stunting secara nyata), seperti membentuk duta dalam pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, pembentukan posyandu remaja, gerakan ayah peduli ASI melalui kelas ibu hamil, pendampingan calon pengantin sehat, pelatihan tenaga teknis pemberian makanan pada bayi dan anak untuk program Dapur Sehat atasi Stunting ( Dashat).

6. Pembekalan kader dasawisma dalam pengelolaan MP-ASI dan PMT pemulihan berbasis bahan makanan lokal.

7. Pembentukan kelas Balita Stunting (kebal stunting) dengan sasaran semua Balita di desa dan memprioritaskan Balita stunting dengan memberikan edukasidan pemantauan pertumbuhan Balita.

4.2 Hasil Analisis 4.2.1 Analisis Univariat

1. Jumlah Kasus dan Kontrol

Tabel. 4.1

Jumlah Kasus dan Kontrol Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Kejadian Stunting n %

Stunting 124 50,0

Normal 124 50,0

Total 248 100,0

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah kasus dan kontrol pada penelitian ini masing-masing sebanyak 124. Perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1.

1. Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan Responden Ibu Baduta Tabel. 4.2

Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pendidkan ibu n %

Menengah kebawah 223 89,9

Tinggi 25 10,1

Total 248 100,0

Berdasarkan Tabel 4.2 pada umumnya (89,9%) tingkat pendidikan ibu Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador adalah menengah kebawah.

2. Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan Ibu Baduta Tentang Stunting Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Pengetahuan tentang Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pengetahuan ibu n %

Kurang 152 61,3

Cukup 96 38,7

Total 248 100,0

*Pengetahuan tentang stunting meliputi pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan akibat stunting.

Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar (61,3%) pengetahuan ibu Baduta tentang stunting di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador masih kurang.

4. Distribusi Frekuensi Menurut Penghasilan Keluarga Ibu Baduta Tabel. 4.4

Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Penghasilan Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Penghasilan keluarga n %

Kurang 82 33,1

Cukup 166 66,9

Total 248 100,0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar (66,9%) penghasilan keluarga ibu Baduta termasuk kategori cukup, sebesar ≥Rp.2.711.000 per bulan.

5. Distribusi Frekuensi Menurut Kunjungan ANC Saat Ibu Baduta Hamil Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Ibu Baduta Menurut Kunjungan ANC pada saat Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Kunjungan ANC n %

Kurang 132 53,2

Cukup 116 46,8

Total 248 100,0

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar (53,2%) ibu Baduta melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali selama kehamilan.

6. Distribusi Frekuensi Menurut Riwayat Pemberian Tablet Besi saat Hamil Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Menurut Riwayat Pemberian Tablet Besi pada saat Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Riwayat pemberian tablet besi n %

Kurang 130 52,5

Cukup 118 47,5

Total 248 100,0

Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan sebagian besar (52,5%) ibu Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador termasuk kategori kurang dalam mengkonsumsi tablet besi selama kehamilan.

7. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian ASI Eksklusif pada Baduta Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian ASI Eksklusif pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pemberian ASI eksklusif n %

Tidak diberikan 211 85,2

Diberikan 37 14,8

Total 248 100,0

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada umumnya (85,2%) ibu Baduta tidak memberikan ASI eksklusif pada Baduta.

8. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian MP-ASI pada Baduta

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian MP-ASI pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Riwayat pemberian MP-ASI n %

Tidak diberikan 210 84,7

Diberikan 38 15,3

Total 248 100,0

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa pada umumnya (84,7%) ibu Baduta tidak memberikan MP-ASI pada Baduta.

9. Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian Vitamin A pada Baduta Tabel. 4.9

Distribusi Frekuensi Menurut Pemberian Vitamin A pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pemberian vitamin A pada Baduta n %

Kurang 152 61,2

Cukup 96 38,8

Total 248 100,0

Berdasarkan Tabel 4.9 menunjukkan sebagian besar (61,2%) di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador termasuk kategori kurang dalam pemberian vitamin A pada Baduta sedangkan yang masuk dalam katagori cukup dalam pemberian vitamin A hanya 38,8 % kepada baduta.

10. Distribusi Frekuensi Menurut Monitoring Pertumbuhan pada Baduta Tabel.4.10

Distribusi Frekuensi Menurut Monitoring Pertumbuhan pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023

Monitoring pertumbuhan pada Baduta n %

Tidak dilakukan 168 67,7

Dilakukan 80 32,3

Total 248 100,0

Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan sebagian besar (67,7%) di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador ibu baduta tidak melakukan monitoring pertumbuhan anaknya ke posyandu atau puskesmas dan hanya 32,3% ibu baduta melakukan monitoring pertumbuhan anaknya ke posyandu atau puskesmas.

4.2.2 Hasil Analisis Bivariat

4.2.2.1 Hubungan variabel independen dengan kejadian stunting Tabel 4.11

Hubungan Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pendidikan ibu

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Menengah

kebawah 112 91,8 111 88,1 223 89,9 0,910 0,93 0.538 – 1,547 Tinggi 12 8,2 13 11.9 25 10,1

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting lebih tinggi (91,8%) pada Baduta dengan ibu yang mempunyai pendidikan menengah kebawah daripada ibu yang berpendidikan tinggi, tetapi secara statistik tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05).

Tabel 4.12

Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pengetahuan ibu

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Kurang 68 54,8 84 67,7 152 61,3

0,911 0.94 0.561 – 1,570 Cukup 56 45,2 40 32.3 96 38,7

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting lebih tinggi (54,8%) pada Baduta dengan ibu yang mempunyai pengetahuan kurang daripada ibu

Baduta yang mempunyai pengetahuan cukup, tetapi secara statistik tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05).

Tabel 4.13

Hubungan Penghasilan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Penghasilan keluarga

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Kurang 82 66,1 0 0,0 82 33,1

0,002

5.50O

3,979 – 7,602 Cukup 42 33,9 124 100 166 66,9

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Berdasarkan Tabel 4.13, proporsi kejadian stunting lebih tinggi (66,1%) pada Baduta dengan keluarga yang mempunyai penghasilan kurang daripada keluarga yang mempunyai penghasilan cukup, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.14

Hubungan Kunjungan ANC Ibu Baduta pada Saat Hamil dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun

2023.

Kunjungan ANC

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Kurang 77 62,1 55 44,3 132 53,2

0,004

3.001

2.820 - 4,130 Cukup 47 37,9 69 55,7 116 46,8

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Berdasarkan Tabel 4.14 proporsi kejadian stunting lebih tinggi (62,1%) pada Baduta dengan ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang (< 6 kali) daripada ibu

yang melakukan kunjungan ANC yang cukup (6 kali) pada saat hamil, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.15

Hubungan Pemberian Tablet Besi pada Ibu Baduta Selama Kehamilan dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten

Batubara Tahun 2023.

Pemberian tablet besi

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Kurang 76 61,2 54 43,5 130 52,5 0,001 3.011 1.780 -- 5,092 Cukup 48 38,8 70 56,5 118 47,5

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Berdasarkan Tabel 4.15 proporsi kejadian stunting pada Baduta lebih tinggi (61,2%) dengan ibu yang diberikan tablet besi yang cukup (90 tablet) selama kehamilan daripada ibu yang diberi tablet besi dengan jumlah yang kurang (< 90 tablet) selama kehamilan, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.16

Hubungan Pemberian ASI Eksklusif pada Baduta dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pemberian ASI eksklusif

Kejadian stunting

Nilai p OR 95% CI Stunting Normal Total

n % n % n %

Tidak

diberikan 111 89,5 100 80,6 211 85,2 0.001 38.9 5.2 –288.8 Diberikan 13 10,5 24 19,4 37 14,8

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Tabel 4.16 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting pada Baduta lebih tinggi (89,5%) pada Baduta yang tidak diberikan ASI ekskusif daripada yang diberikan ASI eksklusif, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.17

Hubungan Pemberian MP-ASI pada Baduta dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pemberian MP-ASI

Kejadian stunting

Nilai P OR (95% CI) Stunting Normal Total

n % n % n %

Tidak

diberikan 111 89,5 99 79,8 210 84,7 0.003 53.7 7.3 – 397.1 Diberikan 13 10,5 25 20,2 38 15,3

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Tabel 4.17 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting pada Baduta lebih tinggi (89,5%) pada Baduta yang tidak diberikan MP-ASI daripada yang diberikan MP-ASI, dan secara statistik menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.18

Hubungan Pemberian Vitamin A pada Baduta dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Pemberian Vitamin A

Kejadian stunting

Nilai P OR (95% CI) Stunting Normal Total

n % n % n %

Kurang 68 54,8 84 67,7 152 61,2 0.908 0.94 0.560 – 1,572 Cukup 56 45,2 40 32,3 96 38,8

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Berdasarkan Tabel 4.18 menunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting pada Baduta lebih tinggi (54,8%) pada Baduta yang diberikan vitamin A dengan jumlah yang kurang daripada yang diberikan vitamin A yang cukup, dan secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05).

Tabel 4.19

Hubungan Monitoring Pertumbuhan Baduta dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023.

Monitoring pertumbuhan

baduta

Kejadian stunting Nilai P OR (95% CI) Stunting Normal Total

n % n % n %

Tidak

dilakukan 112 91,8 111 88,1 223 89,9 0.901 0.97 0,438 – 1,740 dilakukan 12 8,2 13 11,9 25 10,1

Jumlah 124 100 124 100 248 100

Berdasarkan Tabel 4.19 menunjukan proporsi kejadian stunting pada Baduta lebih tinggi (91,8%) pada Baduta yang tidak melakukan monitoring pertumbuhan daripada yang melakukan monitoring, dan secara statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0,05).

4.2.3 Hasil Analisis Multivariat 4.2.3.1 Pemilihan Variabel

Dari hasil analisis bivariat terhadap semua variabel, dipilih variabel-variabel yang mempunyai nilap p <0,25 ke dalam model multivariat, dengan hasl analisis akhir sebagaima terlihat pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20

Model Akhir Hasil Analisis Multivariat Kejadian Stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara Tahun 2023

VARIABEL Koefisien S.E. DF Nilai p OR 95%CI

Penghasilan keluarga 2.267 3.701 1 <

0.001 5.98 3,369 – 6,602

Kunjungan ANC -2.071 4.830 1 <

0.001 3.01 4,369 – 6,602 Pemberian tablet besi -0.121 0.586 1 0.043 3.23 2,379 – 6,512 Pemberian ASI eksklusif pada

Baduta -1.717 1.295 1 <

0.001 2.45 3,229 – 5,602 Pemberian ASI eksklusif pada

Baduta 1.840 1.295 1 <

0.001 9.77 3,229 – 5,602 Berdasarkan hasil multivariat pada tabel 4.20 menunjukkan bahwa variable- variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023 adalah penghasilan keluarga, kunjungan ANC ibu Baduta pada saat hamil, pemberian tablet besi pada ibu Baduta selama kehamilan, pemberian ASI eksklusif pada Baduta, dan pemberian MP-ASI pada Baduta

1. Risiko kejadian stunting pada Baduta 6 kali lebih tinggi pada keluarga Baduta yang mempunyai penghasilan kurang dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai penghasilan yang cukup dengan interval kepercayaan antara 3,4 sampai 6,6.

2. Risiko kejadian stunting pada Baduta 3 kali lebih tinggi pada ibu Baduta yang melakukan Kunjungan ANC yang kurang dibandingkan dengan ibu Baduta yang

melakukan kunjungan ANC yang cukup dengan interval kepercayaan antara 4,4 sampai 6,6

3. Risiko kejadian stunting pada Baduta 3 kali lebih tinggi pada ibu yang diberikan tablet besi dengan jumlah yang kurang pada saat hamil dibandingkan dengan ibu Baduta yang yang diberikan tablet besi dengan interval kepercayaan antara 2,4 sampai 6,5.

4. Risiko kejadian stunting pada Baduta 2,5 kali lebih tinggi pada Baduta yang tidak diberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan Baduta yang diberikan ASI eksklusif dengan interval kepercayaan antara 3,2 sampai 5,6.

5. Risiko kejadian stunting pada Baduta 10 kali lebih tinggi pada Baduta yang tidak diberikan MP-ASI dibandingkan dengan Baduta yang diberikan MP-ASI dengan interval kepercayaan antara 3,3 sampai 9,9.

Berdasarka nilai OR, variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023 adalah pemberian AM-ASI pada Baduta.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Hubungan Penghasilan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Baduta Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang signifikan antara penghasilan keluarga dengan kejadian stunting pada Baduta di wilayah kerja Puskesmas Laut Tador, Kabupaten Batubara tahun 2023 (p < 0,05).

Risiko kejadian stunting pada Baduta 6 kali lebih tinggi pada keluarga Baduta yang

mempunyai penghasilan kurang (≤ Rp. 2.711.000) dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai penghasilan yang cukup (> Rp. 2.711.000) dengan interval kepercayaan antara 3,4 sampai 6,6. Penghasilan keluarga

Hal ini dapat disebabkan karena penghasilan yang diterima tidak sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, apalagi penghasilan yang diperoleh keluarga kurang dari Upah Minimum Kerja di Kabupaten Batubara.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Puspasari, (tahun 2021) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara penghasilan keluarga dengan kejadian stunting. Risiko kejadian stunting pada anak dalam keluarga yang mempunyai penghasilan rendah 3,4 kali lebih besar dibandingkan dengan keluarga dengan penghasian tinggi.

Berdasarka hasil penelitian Pibriyanti, (tahun.2020), ada hubungan antara status ekonomi dengan kejadian stunting pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Slogohimo, Kabupaten Wonogiri. Rendahnya satus ekonomi di Kecamatan Slogohimo disebabkan karena sebagian besar keluarga ekerja sebagai buruh tani yang berpenghasilan rendah, akibatnya daya beli keluarga rendah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi yang cukup untuk Balita. Bila terjadi secara terus-menerus dan dalam waktu yang lama, maka Balita dalam keluarga tersebut berisiko terjadinya stunting.

4.3.2 Hubungan Kunjungan ANC ibu Baduta pada Saat Kehamilan dengan Kejadian Stunting pada Baduta

Berdasarkan hasil analisis multivariat, ada hubungan yang signifikan antara kunjungan ANC dengan kejadian stunting pada Baduta. Risiko kejadian stunting pada Baduta 3 kali lebih tinggi pada ibu Baduta yang melakukan Kunjungan ANC yang kurang (< 6 kali) selama kehamilan dibandingkan dengan ibu Baduta yang melakukan kunjungan ANC yang cukup (6 kali) dengan interval kepercayaan antara 4,4 sampai 6,6

Ibu Baduta yang mendapatkan layanan ANC sesuai dengan program Kementerian Kesehatan selama kehamilan baik dari dokter maupun bidan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, maka kondisi kehamilan dan janin dapat terpantau serta diperolehnya informasi seperti cara pencegahan stunting.

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Najahah (2018) yang dilaksanakan di Propinsi Nusa Tenggara Barat, dimana kunjungan ANC pada ibu hamil merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting Risiko kejadian stunting adalah sebesar 40% pada ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ANC sesuai standar.

4.3.3 Hubungan Pemberian Tablet Besi pada Saat Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting pada Baduta

Berdasarkan hasil penelitian, ada hubungan yang signifikan antara pemberian tablet besi pada saat ibu hamil dengan kejadian stunting pada Baduta. Risiko

kejadian stunting pada Baduta 3 kali lebih tinggi pada ibu yang diberikan tablet besi dengan jumlah yang kurang pada saat hamil dibandingkan dengan ibu Baduta yang yang diberikan tablet besi dengan interval kepercayaan antara 2,4 sampai 6,5.

Kemungkinan hal ini karena tablet tambah darah yang diberikan kepada ibu hamil dan dikonsumsi satu tablet per hari selama 90 hari mencegah terjadinya anemia. Secara tidak langsung berpengaruh pada janin, karena anemia dapat menimbulkan berbagai akibat seperti pendarahan, dan BBLR. Anemia yang sering terjadi pada ibu hamil adalah anemia defisiensi besi, sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah yang sehat. Kondisi ini berhubungan dengan kurangnya asupan nutrisi yang penting untuk pembentukan hemoglobin. Setiap ibu hamil memerlukan pasokan sel darah lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa dalam kondisi normal.

Hasil penelitian Sumiaty (2017) menunjukkan bahwa asupan tablet tambah darah kurang dari 90 tablet pada ibu hamil memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada Baduta, karena ibu tersebut mengalami anemia selama kehamilan.

Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat, komplikasi, partus lama, gangguan kontraksi, keguguran, BBLR, kelahiran prematur, pendarahan dan permasalahan gizi seperti stunting.

4.3.4 Hubungan Pemberian ASI Ekslusif dengan Kejadian Stunting pada Baduta

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada Baduta. Risiko kejadian

stunting pada Baduta 2,5 kali lebih tinggi pada Baduta yang tidak diberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan Baduta yang diberikan ASI eksklusif dengan interval kepercayaan antara 3,2 sampai 5,6.

ASI eksklusif merupakan asupan makananutama saat anak berusia 0-6 bulan, yang mengandung zat gizi lengkap, karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang mudah diserap dan tidak mengganggu fungsi organ tubuh anak. Jika anak usia 6-24 bulan tidak diberikan ASI eksklusif dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan makanan untuk petumbuhan anak, sehingga mengakibatkan terjadinya stunting. Berdasarkan hasil penelitian Noorhasanah, dkk (tahun 20220), terdapat hubungan riwayat ASI eksklusif dengan kejadian stunting.

ASI ekslusif diberikan hingga bayi berusia 6 bulan, agar pertumbuhan dan perkembangan bayi dapat tercapai secara optimal. Selain itu dengan ASI eksklusif 6 bulan kesehatan bayi akan lebih terjamin dan kebutuhan nutrisi terpenuhi, sehingga dapat mencegah stunting.

Penelitian yang dilakukan oleh Nugraheni, dkk (tahun 20190, menunjukkan bahwa ASI eksklusif merupakan fakor yang berhubunga kejadian stunting pada anak usia 6 -24 bulan di Provinsi Jawa Tengah. Lebih lanjut penelitian tersebu, bahwa anak usia 6-24 bulan yang tidak diberikan ASI eksklusif memiliki risiko stunting 1,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang diberikan ASI eksklusif.

Dokumen terkait