• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Konsumen Muslim

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Perlindungan Konsumen Muslim

Secara mendasar, konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang

sifatnya universal. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang lebih kuat dalam banyak hal,maka pembahasan perlindungan konsumen akan selalu aktual dan selalu penting untuk dikaji32

Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara materiil maupun formal makin terasa sangat penting, mengingat makin majunya ilmu pengetahuan

dan teknologi yang merupakan motor penggerak bagi produktifitas dan efisiensi produsen atas barang atau jasa yang dihasilkannya dalam rangka mencapai sasaran usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut, akhirnya baik langsung atau tidak langsung, maka konsumenlah yang pada umumnya akan merasakan dampaknya33

32 2Yusuf Sofie, Kapita Selekta Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia (Jakarta: GhaliaIndonesia, 2007), h. 17.

33 Happy Susanto, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan (Jakarta: Visimedia, 2008), h. 39

Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk lain dan tidak untuk diperdagangkan.34

Definisi konsumen berangkat dari pandangan atau konsep islam terhadap harta, hak dan kepemilikan dengan transaksi atau tidak.35 Konsumen dalam hukum ekonomi islam tidak terbatas pada perorangan saja tetapi juga menyangkut suatu bedan hukum.36

Perlindungan konsumen adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen dalam ushanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang merugikan konsumen itu sendiri.37

Undang-undang nomor 08 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa, perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.38

Kepastian hukum untuk melindungi hak-hak konsumen, yang diperlukan melalui undang-undang khusus, memberikan harapan agar pelaku usaha tidak lagi sewanang-wenang yang selalu merugikan hak konsumen.Dengan adanya undang- undang perlindungan konsumen beserta perangkat hukum lainnya, konsumen

34Subagyo, buku sederhana memahami prinsip-prinsip perlindungan konsumen (surabaya: 2010) h.1

35Muhammad, erika perlindungan konsumen dan ekonomi islam, (yogyakarta: bpfe, 2004) h.128

36Ibid h. 130

37Zulham, hukum perlindungan konsumen, (Jakarta: kencana, 2013), h.21

38Undang-undang no.08 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen pasal 1

27

memiliki hak dan posisi yang berimbang, dan mereka pun bisa menggugat atau menuntut jika ternyata hak-haknya telah dirugikan atau dilanggar oleh pelaku usaha.

Pasal 2 undang-undang nomor 08 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menyebutkan bahwa perlindungan konsumen berdasarkan asas kemanfaatan, keadilan, keseimbangan, keamanan, dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum.39

2. Tujuan Perlindungan konsumen

Perlindungan Konsumen Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang sehat. Dalam kegiatan bisnis yang sehat terdapat keseimbangan perlindungan hukum antara konsumen dengan produsen.

Tidak adanya perlindungan yang seimbang menyebabkan konsumen berada pada posisi yang lemah. Konsumen pada dasarnya memiliki posisi tawar yang lemah dan terus melemah, hal ini disebabkan:

a. Terdapat lebih banyak produk, merek, dan cara penjualannya;

b. Daya beli konsumen makin meningkat;

c. Lebih banyak variasi merek yang beredar di pasaran, sehingga belum d. banyak diketahui semua orang;

e. Model-model produk lebih cepat berubah;

f. Kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga membuka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam pelaku usaha; Iklan yang menyesatkan; dan

39Undang-undang no.08 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen pasal 1

g. Wanprestasi oleh pelaku usaha40

Posisi konsumen sangat lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Salah satu sifat, sekaligus tujuan hukum adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Jadi, sebenarnya hukum konsumen dan hukumperlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarikbatasnya. Menurut Az Nasution berpendapat bahwa hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah yang bersifat mengatur, dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Sedangkan hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak atau satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa di dalam kehidupan bermasyarakat.41

Menurut pasal 3 undang-undang nomor 08 tahun1999 tentang perlindungan konsumen, perlindungan konsumen bertujuan:

a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

b. Mengangkat harta dan martabak konsumen dengan cara menghindarkan dari akses negatif pemakaian barang dan/atau jasa.

c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.

40 Abdul Halim Barkatullah, Hak-Hak Konsumen, (Bandung: Nusa Media, 2010), h. 9.

41 AZ Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, (Cet. II; Jakarta:

Diadit Media, 2006), h. 37

29

d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.

e. Menembuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.

f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.42

Dengan adanya tujuan tersebut diharapkan pelaku usaha dapat memberikan perhatiannya akan hak-hak yang dimiliki konsumen, khususnya terkait hak atas kesehatan.43dalam hal ini pelaku usaha diharapkan dapat menghindari kemungkinan terjadinya peristiwa yang disebabkan tidak dihindarinya hal-hal yang dilarang oleh pelaku usaha dalam memproduksi atau memperdagangkan suatu produk. Untuk itu perlindungan konsumen diatur sedemikian rupa dengan cara:

a. Menciptakan system perlindungankonsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses informasi, serta menjamin kepastian hukum.

b. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku usaha

42Undang-undang no.08 tahun 1999 tentang pelindungan konsumen pasal3

43Mualim, wahyuning widayati dkk, pedoman HAM tentang perlindungan konsumen yang berkaitan dengan pemenuhan hak atas kesehatan, h.37

c. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa

d. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktik usaha yang menipu dan menyesatkan.

e. Membedakan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang- bidang lainnya.44

Hukum perlindungan konsumen adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan produk konsumen antara penyedia dan penggunanya, dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Pemberian Label

Labeling berkaitan erat dengan pengemasan. Label merupakanbagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produkdan penjual.

Sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan, atau bisapula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dilekatkan pada produk.

Dengan demikian ada hubungan erat antara labeling, packaging, danbranding.Secara garis besar terdapat tiga macam label yaitu sebagaiberikut:

1. Brand label, yaitu nama merek yang diberikan kepada produk atau dicantumkan pada kemasan.

44Ibid

31

2. Descriptive label, yaitu label yang memberikan informasi obyektif mengenaipenggunaan, konstruksi/pembuatan, perawatan/perhatian dan kinerja produk, serta karakteristik-karakteristik lainnya yang berhubungan dengan produk.

3. Grade label, yaitu label yang mengidentifikasi penilaian kualitas produk (product’s judgend quality) dengan suatu huruf, angka, atau kata.

4. Jaminan produk

Jaminan adalah janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen, di mana konsumen akan diberi ganti rugibila produk ternyata tidak bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkanatau dijanjikan. Jaminan bisa meliputi kualitas produk, reparasi, ganti rugi(uang kembali atau produk ditukar), dan sebagainya. Jaminan sendiri adayang bersifat tertulis dan ada pula yang tidak tertulis. Dewasa ini jaminan seringkali dimanfaatkan sebagai aspek promosi, terutama pada produk produk tahan lama

32

Dokumen terkait