BAB I Pendahuluan
B. Permasalahan yang Dihadapi
Banyak permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Salah satunya adalah permasalahan sosial budaya dan lingkungan, seperti korupsi yang sudah kronik dan membudaya di kalangan pejabat dan pemerintah dari atas sampai ke bawah. Krisis multidimensi (politik, sosial, ekonomi, asst, dll.), rendahnya SDM (human capital), krisis
kepemilikan dan penyediaan modal, peralatan serta keselamatan kerja.
Di bidang politik; tidak adanya wadah yang menampung aspirasi, dll. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan yang masih rendah, kenyataan akan tampak figur publik dan yang duduk di kursi parlemen bukan putra-putri terbaik bangsa, melainkan aktivis partai yang popular di kalangan massa bawah, sekalipun kurang berkualitas. Juga, premanisme bermunculan di mana-mana. Bencana alam akibat tangan-tangan manusia yang tidak peduli dengan keselamatan lingkungan. Lalu, narkoba yang terus menjadi-jadi akibat penanganan yang tidak memberikan efek jera, TKI yang selalu bermasalah terutama terjadi di beberapa negara, seperti di Malaysia, Arab Saudi, dan sebagainya.
Tak kalah menariknya adalah permasalahan hukum, sudah membudayanya makelar kasus (markus), mafia hukum, dan mafia peradilan. Para penegak hukum (kejaksaan, kepolisian, dan KPK) yang kurang kredibel, illegal logging, illegal fishing, dan birokrasi yang bertele-tele. Kepastian hukum yang tidak menentu. Wilayah perbatasan yang terusik, seperti dengan Malaysia, Papua, dan sebagainya.
Permasalahan pendidikan; kualitas pendidikan rendah, ketergantungan tinggi, kualitas pendidikan di bawah standar, belum terbukanya akses terhadap pendidikan dan dunia kerja.
Lebih dari itu, daya saing lulusan pendidikan dalam negeri lemah. Universitas tidak berdaya saing di tataran level dunia, ongkos biaya pendidikan tinggi, dan sebagainya. Dengan kesadaran pendidikan dan berfilsafat sesuai Pancasila, kiranya dapat membebaskan diri dari berpikir mistik, picik, dangkal.
Kebalikannya, dapat membimbing manusia berfikir rasional,
efektif dan efisien, luas dan mendalam serta mencintai kebijaksanaan.
Permasalahan ekonomi, seperti tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat (sandang, pangan, papan) disebabkan kemiskinan, penghasilan masyarakat di bawah standar UMR, pengangguran merajalela, dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Mata pencaharian juga tidak merata.
Lalu, pembangunan terseok-seok, penyediaan listrik/energi, pengelolaan BBM, dan penyelundupan. Di luar itu, sering terjadi kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat. Ketimpangan ekonomi, infrastruktur yang tidak bagus, pungutan liar, industri militer yang lemah, daya saing yang lemah, dan sebagainya.
Krisis ekonomi Indonesia disebabkan pertumbuhan ekonomi yang telah terjadi pada masa Orba ternyata tidak berkelanjutan.
Pasalnya, terjadinya berbagai ketimpangan ekonomi yang besar, baik antargolongan, antardaerah maupun antarsektor, akhirnya melahirkan krisis ekonomi. Krisis ini semula berawal dari perubahan kurs dolar yang begitu tinggi, kemudian menjalar ke krisis ekonomi, dan akhirnya krisis kepercayaan pada segenap sektor, tidak hanya ekonomi. Krisis ekonomi berkepanjangan dan kegagalan ekonomi ini disebabkan antara lain oleh tidak diterapkannya prinsip-prinsip ekonomi dalam kelembagaan, ketidakmerataan ekonomi, dan lain- lain. Dipicu pula dengan maraknya praktik monopoli, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) oleh para penyelenggara negara.
Semestinya, sistem ekonomi Indonesia mendasarkan diri pada filsafat Pancasila serta konstitusi UUD 1945 dan landasan operasionalnya GBHN sering disebut Sistem Ekonomi Pancasila. Prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam Sistem Ekonomi Pancasila, antara lain mengenal etika dan moral
agama, dan tidak semata-mata mengejar materi. Di samping itu, mencerminkan hakikat kemusiaan yang memiliki unsur jiwa raga, sebagai makhluk individu sosial, sebagai makhluk Tuhan, pribadi mandiri. Sistem demikian tidak mengenal eksploitasi manusia atas manusia. Sebaliknya, menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan, dan kemitraan, mengutamakan hajat hidup rakyat banyak dan menitikberatkan pada kemakmuran masyarakat, bukan kemakmuran individu.
Permasalahan SARA di mana konflik itu dapat berupa konflik vertikal maupun horizontal. Konflik vertikal, misalnya, antara si kuat dan si lemah, penguasa dengan rakyat, mayoritas dengan minoritas, dan sebagainya. Konflik horizontal sendiri ditunjukkan, misalnya, konflik antarumat beragama, antarsuku, antarras, antargolongan, dan sebagainya. Jurang pemisah ini merupakan potensi bagi munculnya konflik. Data-data empiris menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang tersusun atas berbagai unsur yang sangat pluralistik, baik ditinjau dari suku, agama, ras maupun golongan. Pluralitas ini di satu pihak dapat merupakan potensi yang sangat besar dalam pembangunan bangsa. Di lain pihak, juga merupakan sumber potensial bagi munculnya berbagai konflik yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Pada prinsipnya, Pancasila dibangun di atas kesadaran adanya kompleksitas, heterogenitas atau pluralitas kenyataan dan pandangan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang mengatasnamakan Pancasila, tetapi tidak memperhatikan prinsip ini, maka akan gagal.
Beberapa prinsip yang dapat digali dari Pancasila sebagai alternatif pemikiran dalam rangka menyelesaikan masalah SARA ini, antara lain: pertama, Pancasila merupakan paham yang mengakui adanya pluralitas kenyataan, namun mencoba
merangkumnya dalam satu wadah keindonesiaan. Kesatuan tidak boleh menghilangkan pluralitas yang ada. Sebaliknya, pluralitas tidak boleh menghancurkan persatuan Indonesia.
Implikasi dari paham ini adalah berbagai produk hukum dan perundangan yang tidak sejalan dengan pandangan ini perlu ditinjau kembali. Kalau perlu dicabut, karena jika tidak, akan membawa risiko sosial politik yang tinggi. Kedua, sumber bahan Pancasila adalah di dalam tri prakara, yaitu dari nilai- nilai keagamaan, adat istiadat, dan kebiasaan dalam kehidupan bernegara yang diterima oleh masyarakat. Dalam konteks ini, pemikiran tentang toleransi, kerukunan, persatuan, dan sebagainya idealnya digali dari nilai-nilai agama, adat istiadat, dan kebiasaan kehidupan bernegara yang diterima oleh masyarakat. Jalan kembali ke Pancasila tersebut kini masih terbuka, jangan sampai terlambat.