Bab III Ideologi Pancasila
2. Tujuan Ideologi Pancasila
Pancasila sebagai ideologi nasional mempunyai wewenang dan fungsi utama, yaitu sebagai cita-cita atau tujuan yang harus dicapai secara bersama sama. Yang kedua, sebagai pemersatu masyarakat, sehingga dapat dijadikan solusi dalam konflik. Berkenaan dengan fungsi ideologi, tujuan suatu masyarakat adalah untuk mencapai tujuan dari ideologi itu sendiri.
Pancasila sebagai ideologi mempunyai tujuan yang sama dan harus bekerjasama dengan Pancasila sebagai dasar negara karena kedua-duanya sama mempunyai tujuan dan maksud dalam mempersatukan negara dan menegakkan suatu negara. Keduanya dijadikan suatu dalam suatu negara yang harus ditegakkan oleh masyarakat Indonesia.
Pancasila sebagai ideologi nasional yang berarti Pancasila sebagai cita-cita negara dan sarana yang mempersatukan masyarakat perlu perwujudan yang konkret dan operasional aplikatif demi mengembangkan masyarakat Indonesia. Jadi, kesimpulanya bahwa Pancasila sebagai ideologi, yaitu mempunyai tujuan atau cita-cita bagi masyarakat Indonesia dan sebagai solusi dari segala konflik yang ada di Indonesia.
Dasar negara Pancasila dipergunakan untuk dapat mengatur seluruh tatanan kehidupan bangsa serta negara Indonesia. Dalam arti, segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu sistem ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) haruslah berdasarkan Pancasila. Hal tersebut berarti juga bahwa semua peraturan yang ada dan berlaku di negara Republik Indonesia harus bersumberkan pada Pancasila.
Indonesia memiliki dasar negara yang sangat kuat sebagai filosofi bangsa, di mana Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9 Juni 1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah
dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar negara Republik Indonesia.
Memorandum DPR-GR disahkan pula oleh MPRS dengan ketetapan No XX/MPRS/1966. Ketetapan MPR No.
V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No. IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.
Pancasila memiliki sifat dasar yang pertama dan utama, yakni sebagai dasar negara (philosophische grondslag) Republik Indonesia. Pancasila yang terkandung dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai penjelmaan kehendak seluruh rakyat Indonesia yang merdeka.
Pancasila merupakan intelligent choice karena mengatasi keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya perbedaan.
Penetapan Pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan perbedaan (indifferentism), tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka “bhineka tunggal ika.”
Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa negara Indonesia adalah negara Pancasila. Hal itu mengandung arti bahwa harus tunduk kepadanya, membela, dan melaksanakan dalam seluruh perundang-undangan. Mengenai hal itu, pandangan tersebut melukiskan Pancasila secara integral
(utuh dan menyeluruh) sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang didirikan di atasnya, dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak asasi semua warga bangsa Indonesia. Perlindungan dan pengembangan martabat kemanusiaan itu merupakan kewajiban negara, yakni dengan memandang manusia qua talis, manusia adalah manusia sesuai dengan principium identitatis-nya.
Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan keseragaman sistematikanya melalui Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968 itu tersusun secara hirarkis-piramidal. “Setiap sila (dasar/azaz) memiliki hubungan yang saling mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari pembenaran pada sila lainnya adalah tindakan yang sia- sia”. Oleh karena itu, Pancasila pun harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Usaha memisah-misahkan sila-sila dalam kesatuan yang utuh dari Pancasila, akan menyebabkan Pancasila kehilangan eksistensinya sebagai dasar negara di tengah-tengah ideologi besar dunia yang akan dibicarakan, yaitu ideologi liberalisme, komunisme, dan Pancasila.
Ideologi liberalisme. Ideologi liberalisme adalah ideologi yang sangat mengagung-agungkan kebebasan pribadi (individu) di atas segalanya. Setiap orang mementingkan hak daripada kewajibannya.
Ideologi komunisme. Ideologi komunisme adalah ideologi yang berpikir berdasarkan materialisme historis/dialektika yang berpangkal tolak mengubah masyarakat menjadi masyarakat tanpa kelas, menstratakan golongan masyarakat.
Ideologi Pancasila adalah mendasarkan pada struktur filsafat Pancasila itu sendiri yang berpangkal tolak dari nilai dasar yang luhur, tidak berubah, dan terdapat nilai sosial budaya bangsa itu sendiri.
Pancasila sebagai ideologi merupakan ideologi terbuka, yaitu ideologi yang tidak dimutlakkan, berbeda dengan ideologi lain yang lebih bersifat tertutup. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Merupakan kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakat, bukan keyakinan ideologis sekelompok orang, melainkan kesepakatan masyarakat;
b. Tidak diciptakan oleh negara, tetapi ditemukan sendiri oleh masyarakat dan menjadi milik masyarakat;
c. Isinya tidak langsung operasional, sehingga setiap generasi dapat menggali kembali falsafah itu dan mencari implikasinya dalam ranah kekinian;
d. Tidak membatasi kebebasan dan tanggung jawab masyarakat, tetapi menginspirasi masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap falsafah itu;
e. Menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima warga masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
Kebalikannya, ideologi lain yang bersifat tertutup memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ideologi itu merupakan cita-cita sebuah kelompok yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah masyarakat;
b. Ideologi itu akan dipaksakan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat;
c. Bersifat totaliter. Artinya, mencakup semua bidang kehidupan;
d. Tidak menghormati hak asasi manusia dan tidak menghargai pluralism;
e. Menuntut masyarakat untuk memiliki kesetiaan total terhadap ideologi itu;
f. Isi ideologi berupa tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak, dan total;
g. Pancasila sebagai ideologi nasional bangsa Indonesia
Ketetapan MPR RI No XVIII/MPR/1998, di antaranya menentukan bahwa “Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.” Dalam catatan Risalah/Penjelasan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Ketetapan ini, disebutkan “Bahwa dasar negara yang dimaksud dalam Ketetapan ini di dalamnya mengandung makna ideologi nasional sebagai cita-cita dan tujuan negara.”
Dengan demikian, tidak perlu diragukan lagi bahwa Pancasila telah ditetapkan oleh bangsa Indonesia, yang bermakna bahwa Pancasila bukan ideologi bagi suku atau golongan tertentu dari bangsa Indonesia, melainkan merupakan ideologi seluruh bangsa Indonesia. Konsep- konsep yang terdapat dalam Pancasila tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan suatu rangkaian yang merupakan suatu kesatuan sistematis dan integral.
Kehilangan satu konsep, akan menghilangkan eksistensi Pancasila. Konsep yang terdapat dalam Pancasila merupakan kenyataan hidup dalam masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, sehingga merupakan ideologi bangsa Indonesia 3. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka
Ideologi terbuka memiliki tiga dimensi:
a. Dimensi Realitas, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi tersebut secara real berakar dan hidup dalam masyarakat. Bahwa nilai yang terkandung dalam Pancasila memang senyatanya, secara real, terdapat dalam kehidupan di berbagai pelosok tanah air, sehingga nilai-nilai tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah bangsa.
b. Dimensi Idealisme, yaitu ideologi tersebut memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik. Bahwa nilai yang terkandung dalam Pancasila memberikan harapan tentang masa depan yang lebih baik, menggambarkan cita-cita yang ingin dicapai dalam kehidupan bersama.
c. Dimensi Fleksibilitas atau dimensi pengembangan, yaitu ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan pengembangan pemikiran. Bahwa Pancasila memiliki keluwesan yang memungkinkan dan bahkan mendorong pengembangan pemikiran baru yang relevan tentang dirinya, tanpa menghilangkan atau mengingkari hakikat atau jati diri yang terkandung dalam nilai-nilainya.
Dengan demikian, Pancasila tidak diragukan lagi, diharapkan selalu tetap komunikatif dengan perkembangan masyarakatnya yang dinamis dan memantapkan keyakinan masyarakat terhadapnya. Pancasila harus dibudayakan, menjiwai, dan memberi arah dalam proses pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, terutama dalam memecahkan berbagai permasalahan menjadi lebih konsisten, aktual, dan kontekstual. Dengan begitu, Pancasila benar-benar bermanfaat dan bermakna dalam kehidupan nyata.
4. Implementasi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka