• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSIAPAN PASIEN

Dalam dokumen Pemeriksaan Kesehatan Pekerja Perdoski (Halaman 38-41)

BAB VI

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Pemeriksaan kesehatan pada pekerja dapat dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan (pekerja datang langsung), ataupun secara on-site di tempat kerja. Agar pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berjalan lancar, maka sebaiknya dibuatkan alur pemeriksaan kesehatan yang jelas dan persiapan pemeriksaan sebaiknya diinformasikan kepada pasien, sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan.

jenis pemeriksaan laboratorium lainnya yang memerlukan persiapan puasa. Pasien juga sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik atau olahraga yang berat sebelum berpuasa.

Bagi pasien wanita yang akan menjalani pemeriksaan urinalisa dianjurkan sebaiknya tidak dalam keadaan haid (± 7 hari sebelum atau setelah haid).

Bagi pasien yang akan menjalani pemeriksaan Feses Lengkap, dianjurkan untuk membawa bahan feses berupa tinja pagi hari dalam wadah tertutup yang bersih.

Bagi pekerja yang akan menjalani pemeriksaan biomonitoring, dianjurkan untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter spesialis kedokteran okupasi untuk mengetahui pantangan-pantangan apa saja yang perlu dihindari sebelum pemeriksaan biomonitoring dilakukan.

6.1.2 Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Audiometri

Sebelum menjalani pemeriksaan audiometri, idealnya pasien tidak terpapar pajanan bising (termasuk menggunakan earphone) 12 – 14 jam sebelumnya dan dilakukan anamnesis lengkap sebagai data dasar hasil pemeriksaan audiometri.

Anamnesis yang dilakukan sebelum pemeriksaan audiometri yaitu mengenai adanya:

a. Keluhan gangguan pendengaran saat ini, b. Riwayat telinga berdenging (tinnitus), c. Riwayat keluar cairan dari telinga,

d. Riwayat benturan pada telinga atau kepala,

e. Riwayat pusing berputar atau gangguan keseimbangan, f. Riwayat pemakaian obat-obatan ototoksik,

g. Riwayat gangguan pendengaran pada keluarga, dan h. Riwayat penyakit Diabetes Melitus, Hipertensi dan Alergi

Sebelum audiometri dilakukan, pasien harus dilakukan pemeriksaan fisik telinga menggunakan otoskop untuk memastikan kondisi membran timpani intak atau tidaknya, dan membran timpani tidak tertutup kotoran telinga. Bila terdapat serumen prop pada telinga, maka perlu dilakukan pembersihan serumen terlebih dahulu.

6.1.3 Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Spirometri

Sebelum melakukan pemeriksaan spirometri, pasien diinformasikan untuk tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol minimal 24 jam sebelumnya.

Pasien sebaiknya menggunakan pakaian yang longgar, menghindari makan kenyang 2 jam sebelum pemeriksaan serta menghindari latihan fisik 30 menit sebelumnya.

Sebelum pemeriksaan spirometri sebaiknya dilakukan anamnesis sebagai berikut:

a. Riwayat kebiasaan merokok dan waktu terakhir kali merokok, b. Waktu terakhir kali makan kenyang,

c. Riwayat asma, d. Riwayat batuk lama,

e. Keluhan pernapasan saat ini,

f. Riwayat pajanan kimia di tempat kerja, dan g. Riwayat minum obat-obatan sebelumnya

Terdapat beberapa kontraindikasi pemeriksaan spirometri (Lamb, 2023) seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini:

Tabel 6.1. Kontraindikasi Absolut dan Kontraindikasi Relatif Pemeriksaan Spirometri Kontraindikasi Absolut Kontraindikasi Relatif o Ketidakstabilan hemodinamik

o Infark miokard atau sindrom koroner akut baru- baru ini

o Infeksi saluran pernapasan, pneumotoraks baru- baru ini, atau emboli paru

o Aneurisma yang membesar atau berukuran besar (>6 cm) pada aorta toraks dan abdomen

o Hemoptisis akut o Hipertensi intrakranial o Ablasi retina

o Pasien yang tidak dapat diinstruksikan untuk menggunakan perangkat dengan benar dan berisiko menggunakan perangkat secara tidak tepat, seperti anak-anak dan pasien dengan demensia.

o Kondisi yang menyebabkan kesulitan memegang corong, seperti nyeri wajah

o Operasi perut, dada, otak, mata, telinga, hidung, atau tenggorokan baru-baru ini

o Krisis hipertensi

6.1.4 Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Lainnya

Terdapat persiapan yang sebaiknya diinformasikan kepada pasien sebelum dilakukan pemeriksaan berikut:

a. Foto Thorax: sebaiknya pasien tidak menggunakan perhiasan yang terbuat dari logam atau emas di area yang akan di-expose (area leher dan dada). Pemeriksaan Foto Thorax tidak dilakukan pada wanita hamil dan pasien yang telah melakukan pemeriksaan foto thorax kurang dari 3 bulan sebelumnya. Bagi pasien wanita, disarankan tidak menggunakan pakaian dalam berkawat.

b. USG Abdomen: sebaiknya pasien diperiksa dalam keadaan puasa, termasuk puasa makan dan minum (kecuali air putih) minimal selama 8 jam terakhir sebelum pemeriksaan USG Abdomen. Selain itu Pasien disarankan untuk tidak buang air kecil kurang lebih 2 jam sebelum pemeriksaan (kecuali, tidak memungkinkan bagi usia tertentu).

c. EKG: sebaiknya pasien dalam keadaan tidak terlalu kenyang atau tidak terlalu lapar.

Sebelum pemeriksaan EKG, sebaiknya pasien tidak menggunakan pelembab pada area dada, tidak mengenakan perhiasan, jam tangan dan benda logam, tidak menyimpan gawai atau jam tangan di saku pakaian yang digunakan.

d. Treadmill: persiapan pemeriksaan treadmill hampir serupa dengan persiapan pemeriksaan EKG dengan tambahan pasien tidak makan kenyang 2 jam sebelum pemeriksaan, tidak merokok dan minum minuman beralkohol setidaknya 3 jam tes dimulai, serta menghindari konsumsi kopi, teh, coklat, dan/atau obat yang mengandung kafein minimal 24 jam sebelumnya. Pasien dengan riwayat hipertensi sebaiknya dilakukan evaluasi tekanan darah terlebih dahulu, dan apabila menggunakan obat golongan beta-blocker, seperti atenolol, propranolol, bisoprolol, diltiazem, labetalol, dll. dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang meresepkan. Terdapat beberapa kontraindikasi pemeriksaan treadmill (PERKI, 2016) seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini:

Tabel 6.2. Kontraindikasi Absolut dan Kontraindikasi Relatif Pemeriksaan Treadmill Kontraindikasi Absolut Kontraindikasi Relatif o Infark miokard akut dalam 2 hari pertama.

o Angina pektoris tidak stabil yang masih berlangsung atau yang dianggap berisiko tinggi.

o Aritmia tak terkontrol yang menimbulkan keluhan atau gangguan hemodinamik.

o Stenosis berat katup aorta yang simtomatik.

o Diseksi aorta akut.

o Miokarditis/perikarditis akut, Endokarditis aktif, Infeksi akut lainnya.

o Gagal jantung yang belum terkontrol.

o Emboli paru akut, infark paru, thrombosis vena dalam.

o Gangguan fisik atau mental atau kondisi medis tertentu yang tidak memungkinkan dilakukannya pemeriksaan treadmill secara aman dan/atau

memperburuk keadaannya bila

dilakukan pemeriksaan treadmill.

o Telah diketahui adanya stenosis koroner cabang utama kiri/left main atau ekuivalen.

o Stenosis katup aorta sedang sampai berat yang tidak menyebabkan gejala.

o Takiaritmia dengan laju ventrikel tak terkontrol.

o Blok Atrioventrikular derajat 2-3.

o Hipertensi sistemik berat (diastolik >110 mmHg, sistolik >200 mmHg saat istirahat).

o Kardiomiopati hipertrofi dengan obstruksi berat left ventricular outflow tract (LVOT).

o Stroke atau transient ischemic attack yang baru terjadi/ recent.

o Hipertensi pulmoner berat.

o Pemakaian alat pacu jantung (fixed rate).

o Gangguan fisik atau mental atau kondisi medis tertentu yang tidak memungkinkan dilakukannya pemeriksaan treadmill secara adekuat, seperti BMI > 40 kg/m2, kehamilan, atau nyeri lutut, dsb.

Dalam dokumen Pemeriksaan Kesehatan Pekerja Perdoski (Halaman 38-41)

Dokumen terkait