Dugaan terhadap suatu penyakit/diagnosis perlu ditindaklanjuti baik oleh pekerja maupun pemberi kerja apabila didapatkan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Masalah kesehatan yang dimaksud adalah temuan klinis hasil pemeriksaan kesehatan pekerja di luar batas normal menurut kriteria yang telah ditentukan secara medis, yang didapatkan dari anamnesis (keluhan utama, riwayat penyakit dahulu, dll.), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi, dll.).
Tindak lanjut terhadap dugaan penyakit atau diagnosis semestinya sesuai dengan edukasi yang telah ditulis pada bagian Rekomendasi yang disampaikan secara tertulis. Rujukan secara medis terutama ditujukan kepada dokter yang mempunyai kompetensi dan kewenangan untuk melakukan penatalaksanaan medis, namun untuk masalah kesehatan yang membutuhkan tata laksana medis sederhana, dalam artian memerlukan pemeriksaan tambahan atau pengobatan yang dapat dilakukan oleh seorang dokter umum, maka tata laksana medis dapat dilakukan oleh dokter penanggung jawab sesuai kompetensi dan kewenangan klinisnya.
Tindak lanjut terhadap dugaan penyakit/diagnosis penyakit berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan pekerja mencakup ketiga hal berikut:
1. Penyampaian hasil pemeriksaan kesehatan pekerja segera ke pihak pemberi kerja, apabila terdapat masalah kesehatan yang cenderung berisiko membahayakan kesehatan ataupun keselamatan diri sendiri atau pekerja lainnya; dengan catatan bahwa harus ada persetujuan secara tertulis dan/atau elektronik melalui persetujuan umum (general consent) pada saat registrasi Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, sesuai Pasal 783 ayat (10) PP 28/2024 mengenai pembukaan isi rekam medis.
2. Penyampaian hasil pemeriksaan kesehatan pekerja kepada yang bersangkutan dan pemberian rujukan ke dokter yang mampu menangani sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinisnya.
3. Rujukan ke dokter spesialis yang mempunyai kompetensi untuk melakukan penegakan diagnosis Penyakit Akibat Kerja, sesuai kewenangan klinisnya. Rujukan
untuk melakukan Penilaian Kelaikan Kerja sebaiknya tetap ditujukan kepada dokter spesialis kedokteran okupasi (secara langsung atau telemedisin).
Ada beberapa masalah kesehatan tertentu yang perlu dilakukan tindak lanjut dengan segera, karena terdapat kecenderungan membahayakan kesehatan ataupun keselamatan diri sendiri atau pekerja lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa pekerja tersebut mengalami gangguan kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan yang dimaksud antara lain misalnya pada pekerja yang diduga mengalami penyakit menular, hasil pemeriksaan laboratorium yang melewati nilai kritis, adanya keluhan nyeri saat dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta kondisi medis lainnya yang berisiko membahayakan kesehatan diri sendiri maupun orang lain atau lingkungan kerjanya.
8.1.1 Pekerja Yang Diduga Mengalami Penyakit Menular
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat menular ke manusia yang disebabkan oleh agen biologi, misalnya:
− Virus: COVID-19, HIV/AIDS (pada tenaga medis/kesehatan), Hepatitis B/C (pada tenaga medis/kesehatan), Hepatitis A (pada penjamah makanan), Typhoid (pada penjamah makanan), dll.
− Bakteri: Tuberkulosis, Antraks, dll.
− Jamur: Tinea korporis (pada pekerja di perkebunan atau yang bekerja di lingkungan kerja lembab), dll.
− Parasit: Malaria (misalnya pada pekerja yang ditugaskan ke daerah endemis malaria), Skistosomiasis (dugaan PAK pada petani), dll.
Apabila ditemukan adanya masalah kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, khususnya yang diduga suatu penyakit menular kepada pekerja lain atau orang lain di tempat kerja, atau terdapat penyakit menular yang telah ditetapkan sebagai wabah, maka dokter penanggung jawab (atau tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya yang diberi kewenangan) perlu segera menginformasikan kepada pekerja yang bersangkutan, atau kepada pihak pemberi kerja apabila pekerja yang bersangkutan tidak dapat dihubungi, agar dapat ditindaklanjuti dengan segera oleh pekerja yang bersangkutan. Jika penularan penyakit sudah dapat teratasi dengan pengobatan yang tepat, maka sebaiknya juga dilakukan Penilaian Kelaikan Kerja oleh seorang dokter spesialis kedokteran okupasi.
8.1.2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Yang Melewati Nilai Kritis
Nilai kritis adalah nilai yang mencerminkan keadaan patologis yang dapat membahayakan jiwa bila tidak segera diambil tindakan, misalnya:
− Nilai Hemoglobin ≤ 6,0 g/dL atau > 20 g/dL,
− Nilai Hematokrit < 20% atau > 60%,
− Nilai Leukosit < 2000 /mm3 atau > 30.000 /mm3,
− Nilai Trombosit < 5000 /mm3 atau > 1.000.000 /mm3
− dll.
Penetapan batas nilai kritis mesti disesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pimpinan Fasyankes masing-masing, atau mengacu pada literatur yang bersifat
evidence based. Apabila ditemukan adanya temuan klinis hasil pemeriksaan laboratorium yang melewati nilai kritis, maka dokter penanggung jawab (atau tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya yang diberi kewenangan) perlu segera menginformasikan kepada pekerja yang bersangkutan, atau kepada pihak pemberi kerja apabila pekerja yang bersangkutan tidak dapat dihubungi. Jika kondisi pekerja sudah dianggap tidak lagi membahayakan jiwa dengan tata laksana medis yang telah dilakukan, maka sebaiknya juga dilakukan Penilaian Kelaikan Kerja oleh seorang dokter spesialis kedokteran okupasi.
8.1.3 Adanya Keluhan Nyeri Saat Dilakukan Anamnesis Dan Pemeriksaan Fisik Nyeri merupakan pengalaman subjektif seseorang yang menandakan terjadinya suatu gangguan kesehatan yang berpotensi serius, sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja.
Timbulnya rasa nyeri dapat berasal dari kerusakan jaringan, atau bersumber dari penyebab lain yang berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan. Keluhan nyeri dada pada pekerja sebaiknya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan EKG. Nyeri pada sistem muskuloskeletal merupakan keluhan utama yang sering diutarakan oleh pekerja yang mengalami pajanan ergonomi di tempat kerja, sehingga selain dirujuk ke dokter spesialis yang sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinisnya untuk melakukan tata laksana medis, pekerja yang terdapat keluhan nyeri dengan riwayat pajanan ergonomi di tempat kerja sebaiknya juga dirujuk ke dokter spesialis kedokteran okupasi untuk dilakukan Penegakan Diagnosis Okupasi.
8.1.4 Kondisi Medis Yang Merupakan Suspek Atau Dugaan Penyakit Akibat Kerja Selain keluhan nyeri pada sistem muskuloskeletal yang berhubungan dengan pajanan ergonomi di tempat kerja, terdapat masalah kesehatan lainnya yang mengarah pada Penyakit Akibat Kerja dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Misalnya temuan kulit kering dan pecah-pecah pada ujung-ujung jari tangan pada perawat yang sering menggunakan hand sanitizer merupakan dugaan kuat yang mengarah pada suatu dermatitis kontak iritan akibat kerja. Penegakan Diagnosis Okupasi melalui pendekatan 7 Langkah Diagnosis Penyakit Akibat Kerja memerlukan kerja sama yang baik antara Pemberi Kerja dan pekerja yang bersangkutan agar kedua belah pihak bersikap kooperatif dalam hal telusur data. Apabila Penegakan Diagnosis Okupasi telah selesai dikerjakan, maka dapat dilanjutkan dengan aktivitas pelaporan kasus Penyakit Akibat Kerja tersebut oleh Pemberi Kerja atau pekerja yang bersangkutan kepada Badan Penjamin Kecelakaan Kerja (Bapel-JKK) yang sesuai dengan status kepesertaannya, baik itu BPJS Ketenagakerjaan, PT. TASPEN, ataupun PT. ASABRI.
8.1.5 Kondisi Medis Lainnya Yang Berisiko Membahayakan Kesehatan Diri Sendiri Maupun Orang Lain Atau Lingkungan Kerjanya.
Pada prinsipnya, semua kondisi medis yang berisiko membahayakan kesehatan diri sendiri maupun orang lain perlu dilaporkan dengan segera, sehingga risiko membahayakan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan kerjanya dapat dikontrol dengan baik. Contohnya, apabila ditemukan adanya indikasi iskemia jantung atau
aritmia maligna pada pemeriksaan EKG, positive ischemic response dari pemeriksaan treadmill, suspek tumor paru dari pemeriksaan foto Rontgen Thorax, depresi dengan suicide ideation, dll. Apabila ditemukan hal-hal tersebut di atas, maka dokter penanggung jawab (atau tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya yang diberi kewenangan) perlu segera menginformasikan kepada pekerja yang bersangkutan, atau kepada pihak pemberi kerja apabila pekerja yang bersangkutan tidak dapat dihubungi.
Setelah kondisi medisnya sudah terkontrol dengan baik atau membutuhkan istirahat panjang, maka perlu dilakukan Penilaian Kelaikan Kerja oleh dokter spesialis kedokteran okupasi.
8.2 TINDAK LANJUT SECARA KEDOKTERAN OKUPASI BERDASARKAN