• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan Kesehatan Pekerja Perdoski

N/A
N/A
eva timkerkesmas3

Academic year: 2025

Membagikan "Pemeriksaan Kesehatan Pekerja Perdoski"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

yang

(2)

PEDOMAN PELAYANAN

PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Edisi ke-1

Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia Kolegium Kedokteran Okupasi Indonesia

September 2024

(3)

Hak Cipta dilindungi undang-undang, dilarang memperbanyak, mencetak, dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apa pun juga tanpa seizin penulis.

PEDOMAN PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA Cetakan Pertama edisi ke-1, Jakarta 2024

Ukuran B5

Halaman romawi i-xiI Halaman isi 1-567

PENERBIT:

Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia Sekretariat PERDOKI

Apartemen Menteng Square Tower A Lt. 3 Unit AO-22 Jl. Pramuka Barat No. 28, Kenari, Senen, Jakarta Pusat Telpon : +62 811 1437 455

Email : [email protected] Website : www.perdoki.or.id

Perpustakaan Nasional = Katalog Dalam Terbitan (KDT)

ISBN: 978-623-88415-5-4

(4)

TIM PENYUSUN

Editor:

dr. David Rudy Wibowo, Sp.Ok dr. Izzatul Abadiyah, Sp.Ok

Penulis:

DR.dr. Astrid B Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K) DR. dr. Suryo Wibowo, MKK, Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K)

dr. Ardi Artanto, MKK, Sp.Ok dr. Ariningsih, MKK, Sp.Ok dr. David Rudy Wibowo, Sp.Ok

dr. Ferdianto, Sp.Ok dr. Indah Tri Murtiningsih, Sp.Ok

dr. Izzatul Abadiyah, Sp.Ok dr. Puspita Sampekalo, Sp.Ok dr. Rakhmi Savitri, MKK, Sp.Ok

dr. Wening Tri Mawanti, Sp.Ok

Kontributor:

Prof. DR.dr. Dewi S Soemarko, MS, Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K) DR.dr. Liem Jen Fuk, MKK, Sp.Ok, Subsp.ToksiKO (K)

DR.dr. Kasyunnil Kamal, MS, Sp.Ok

dr. Anna Suraya, MKK, Sp.Ok, Subsp.ToksiKO (K), Ph.D dr. F. Handoyo Kun Hendrawan, MPH, Sp.Ok, Subsp.FiKO (K)

dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok, Subsp.BioKO (K)

dr. Raymos Parlindungan Hutapea, MKK, Sp.Ok, Subsp. BioKO(K) dr. Maya Setyawati, MKK, Sp.Ok

dr. Sinatra Gunawan, MKKK, Sp.Ok MH.Kes, SH, MH

(5)

DISCLAIMER

Penulis dan penerbit tidak bertanggung jawab atas kesalahan, kelalaian, atau kerugian yang mungkin timbul akibat penggunaan informasi yang terdapat dalam buku ini.

Segala informasi yang terdapat dalam buku ini bersifat umum dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penulis dan penerbit tidak bertanggung jawab atas tindakan atau keputusan yang diambil berdasarkan informasi dalam buku ini.

Buku ini hanya memberikan panduan secara umum dan tidak menjamin keberhasilan dalam pelaksanaannya. Penulis dan penerbit tidak menjamin keberhasilan atau hasil yang diperoleh melalui penerapan informasi dalam buku ini.

(6)

KATA SAMBUTAN KETUA UMUM PERHIMPUNAN SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera bagi kita semua!

Puji syukur ke hadirat Allah SWT kami ucapkan atas terbitnya, buku “Pedoman Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja”. Menurut regulasi yang berlaku di Indonesia, pemeriksaan kesehatan pekerja secara berkala merupakan kewajiban bagi setiap pengelola tempat kerja, yang bertujuan untuk deteksi dini adanya gangguan kesehatan baik akibat kerja maupun bukan akibat kerja, serta adanya faktor risiko penyakit tertentu pada pekerja. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi setiap penyelenggara pemeriksaan kesehatan pekerja agar bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari pemeriksaan kesehatan pekerja. Dana yang terbatas tidak selalu harus menjadi penghalang terselenggaranya pemeriksaan kesehatan pekerja yang efektif. Namun perlu perencanaan yang baik, sesuai dengan risiko individu maupun risiko pekerjaan, serta dilakukan tindak lanjut yang sesuai. Saat ini pemeriksaan kesehatan pekerja masih banyak yang belum diselenggarakan sesuai dengan harapan dan sering tidak ditindaklanjuti dengan baik, sehingga biaya yang sudah dikeluarkan tidak dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut, khususnya upaya pencegahan dan pengendalian di tempat kerja.

Buku Panduan ini diharapkan dapat digunakan untuk menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan pekerja yang efektif dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Terima kasih tak terhingga saya sampaikan kepada seluruh tim penulis, tim kontributor dan tim editor yang di antara kesibukannya masih bersedia meluangkan waktu untuk menyelesaikan buku panduan ini. Tentu masih ada kekurangan dalam penulisan buku ini, sehingga kami mengharapkan adanya masukan yang konstruktif agar buku ini dapat lebih bermanfaat baik bagi dokter maupun pihak penyelenggara tempat kerja, dan tentunya bagi pekerja itu sendiri.

Sehingga pekerja Indonesia diharapkan dapat sehat terus dan meningkat produktivitasnya.

DR. dr. Astrid W. Sulistomo, MPH, Sp.Ok, Subsp. BioKO(K) Ketua Umum PERDOKI

(7)

KATA SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT atas terbitnya buku Pedoman Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja . Buku ini berisi tentang Pemeriksaan Kesehatan Pekerja dan juga apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaannya. Pemeriksaan kesehatan pekerja merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pekerja.

Pemeriksaan ini merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh manajemen tempat kerja.

Dengan terbitnya buku ini diharapkan dokter dan juga dokter spesialis terkait dapat melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu akan meningkatkan manfaat bagi pekerja.

Terima kasih banyak kepada semua tim penyusun dan kontributor yang sudah terlibat dalam pembuatan buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat yang lebih banyak lagi untuk semua pelaksana pemeriksaan kesehatan pekerja dan pekerja khususnnya. Masukan dari semua pihak sangat diharapkan untuk perbaikan buku ini.

Wassalam Wr. Wb

Prof. DR. dr. Dewi Sumaryani Soemarko, MS, Sp.Ok, Subsp.PsiKO(K) Ketua Kolegium Kedokteran Okupasi Indonesia

(8)

KATA SAMBUTAN KETUA IKATAN DOKTER INDONESIA

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, buku Pedoman Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja telah selesai disusun oleh PERDOKI.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pemeriksaan kesehatan merupakan salah satu upaya preventif kesehatan kerja. Karena saat ini komposisi penduduk Indonesia terbanyak pada usia produktif sehingga pemeriksaan kesehatan pekerja sesuai risiko pekerjaan menjadi hal yang penting dilaksanakan dengan tujuan deteksi dini penyakit pada pekerja sehingga diharapkan pekerja Indonesia sehat sehingga produktivitas meningkat dan cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat tercapai.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi tenaga medis, tenaga kesehatan, praktisi K3 juga manajemen tempat kerja untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan pekerja dan hubungannya dengan upaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di tempat kerja.

Dengan demikian, kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik terbitnya buku panduan ini, sehingga diharapkan kita dapat bersama-sama mengimplementasikan upaya preventif kesehatan kerja di tempat kerja melalui program pemeriksaan kesehatan pekerja secara rutin.

Kami juga mengucapkan apresiasi yang luar biasa kepada Sejawat-Sejawat PERDOKI yang telah membuat buku panduan ini. Buku Panduan ini adalah kekayaan intelektual organisasi PERDOKI dan IDI untuk dipersembahkan demi kemajuan kesehatan Rakyat Indonesia.

Terima kasih

Salam hormat,

DR. Dr. Moh. Adib Khumaidi,Sp.OT Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga buku berjudul "Pedoman Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja" ini dapat disusun dan diterbitkan. Buku ini hadir sebagai wujud perhatian Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia dalam pengabdian masyarakat terhadap pentingnya kesehatan para pekerja, yang merupakan salah satu pilar utama dalam mendukung produktivitas dan keberlangsungan dunia kerja.

Dalam era globalisasi yang penuh tantangan, kesehatan pekerja menjadi isu yang tidak dapat diabaikan. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bukan hanya menjadi bentuk kepatuhan terhadap peraturan, tetapi juga investasi strategis bagi perusahaan dan masyarakat. Dengan pekerja yang sehat, produktivitas dapat ditingkatkan, risiko kecelakaan kerja diminimalkan, serta beban biaya kesehatan jangka panjang dapat ditekan.

Buku ini disusun dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi instansi terkait, penyedia layanan kesehatan, dan perusahaan dalam menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan pekerja.

Pedoman ini mencakup prinsip-prinsip dasar pemeriksaan kesehatan, prosedur pelaksanaan, hingga pengelolaan data hasil pemeriksaan secara efektif dan sesuai dengan regulasi yang berlaku saat buku ini diterbitkan.

Kami menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Oleh karena itu, kami sangat terbuka terhadap masukan, saran, dan kritik konstruktif dari berbagai pihak untuk penyempurnaan buku ini di masa mendatang. Harapan kami, buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat dan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan produktif di Indonesia.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Semoga buku ini dapat menjadi panduan yang berguna dan memberikan manfaat nyata bagi dunia kerja di tanah air.

Salam hormat,

Tim Penyusun

Jakarta, September 2024

(10)

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN KETUA UMUM PERHIMPUNAN SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA ... vi

KATA SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA ... vii

KATA SAMBUTAN KETUA IKATAN DOKTER INDONESIA ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. LATAR BELAKANG ... 1

1.2. TUJUAN ... 2

1.3. SASARAN ... 2

1.4. RUANG LINGKUP ... 3

1.5. DEFINISI ... 3

BAB II ASPEK ETIK DAN LEGAL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 6

2.1 DASAR HUKUM ... 6

2.2 ASPEK ETIK ... 7

2.3 ASPEK LEGAL ... 9

2.4 KEWENANGAN KLINIS DOKTER SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI DALAM PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 11

2.5 PELIMPAHAN KEWENANGAN DALAM PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 12

BAB III KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 13

3.1 KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN BERDASARKAN TUJUAN ... 13

3.1.1Skrining Kesehatan ... 13

3.1.2Uji Kesehatan ... 14

3.2 KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN BERDASARKAN WAKTU... 15

3.2.1Pemeriksaan Kesehatan Prakerja ... 15

3.2.2Pemeriksaan Kesehatan Berkala ... 15

3.2.3Pemeriksaan Kesehatan Akhir Bekerja ... 16

3.2.4Pemeriksaan Kesehatan Khusus ... 16

BAB IV PERENCANAAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 17

4.1 MENGETAHUI KARAKTERISTIK POPULASI PEKERJA ... 17

4.2 MENGETAHUI ALUR PRODUKSI DAN ALUR KERJA ... 18

4.3 IDENTIFIKASI BAHAYA POTENSIAL PEKERJAAN... 18

4.4 IDENTIFIKASI PENYAKIT YANG MUNGKIN TIMBUL ... 18

(11)

4.5 KLASIFIKASI TINGKAT RISIKO PADA BERBAGAI KELOMPOK PEKERJA YANG MENGALAMI PAJANAN

YANG SAMA ... 19

4.6 MENENTUKAN JENIS PEMERIKSAAN SESUAI STANDAR MEDIS ... 19

4.7 MENENTUKAN JENIS PAKET PEMERIKSAAN PADA BERBAGAI KELOMPOK PEKERJA ... 19

BAB V KEBUTUHAN KETENAGAAN, SARANA, DAN PRASARANA DALAM PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 21

5.1 KEBUTUHAN KETENAGAAN ... 21

5.1.1Dokter Penanggung Jawab ... 21

5.1.2Dokter Pemeriksa Pekerja ... 21

5.1.3Tenaga Kesehatan ... 21

5.1.4Tenaga Administrasi ... 21

5.2 KEBUTUHAN RUANGAN/TEMPAT ... 22

5.3 KEBUTUHAN PERALATAN ... 22

5.4 STANDAR PENCEGAHAN INFEKSI ... 23

5.5 STANDAR KESELAMATAN FASILITAS ... 23

BAB VI PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 26

6.1 PERSIAPAN PASIEN ... 26

6.1.1Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Laboratorium ... 26

6.1.2Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Audiometri ... 27

6.1.3Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Spirometri ... 27

6.1.4Persiapan Sebelum Menjalani Pemeriksaan Lainnya ... 28

6.2 ALUR PEMERIKSAAN SECARA UMUM ... 29

6.3 ANAMNESIS, PENGISIAN KUESIONER, DAN PEMERIKSAAN FISIK ... 30

6.3.1Anamnesis Secara Umum ... 30

6.3.2Anamnesis Okupasi ... 31

6.3.3Pengisian Kuesioner ... 31

6.3.4Pemeriksaan Antropometri dan Tanda Vital ... 31

6.3.5Pemeriksaan Fisik Secara Umum ... 32

6.3.6Pemeriksaan Fisik Khusus ... 33

6.4 PEMERIKSAAN LABORATORIUM ... 34

6.4.1Jenis-jenis Pemeriksaan Laboratorium Dan Indikasi Pemeriksaan ... 34

6.4.2Pemeriksaan Biomonitoring ... 35

6.5 PEMERIKSAAN RADIOLOGI ... 35

6.5.1Foto Thorax ... 35

6.5.2Pemeriksaan ILO Radiografi ... 36

6.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG MEDIS LAINNYA ... 36

6.6.1Pemeriksaan Audiometri Okupasi ... 36

6.6.2Pemeriksaan Spirometri Okupasi ... 37

(12)

6.6.3Pemeriksaan USG Abdomen ... 37

6.6.4Pemeriksaan EKG ... 37

6.6.5Pemeriksaan Treadmill ... 38

BAB VII ANALISIS DAN PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 39

7.1 LAPORAN PEMERIKSAAN KESEHATAN ... 39

7.2 INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA SECARA INDIVIDU ... 39

7.2.1Kesimpulan dan Rekomendasi Pada Pemeriksaan Kesehatan Pekerja ... 39

7.2.2Penilaian Status Kesehatan ... 40

7.3 ANALISIS DATA KESEHATAN PEKERJA DAN LAPORAN ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 42

7.4 PELAPORAN KEGIATAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 44

BAB VIII TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA ... 45

8.1 TINDAK LANJUT BERDASARKAN MASALAH KESEHATAN ... 45

8.1.1Pekerja Yang Diduga Mengalami Penyakit Menular ... 46

8.1.2Hasil Pemeriksaan Laboratorium Yang Melewati Nilai Kritis ... 46

8.1.3Adanya Keluhan Nyeri Saat Dilakukan Anamnesis Dan Pemeriksaan Fisik ... 47

8.1.4Kondisi Medis Yang Merupakan Suspek Atau Dugaan Penyakit Akibat Kerja ... 47

8.1.5Kondisi Medis Lainnya Yang Berisiko Membahayakan Kesehatan Diri Sendiri Maupun Orang Lain Atau Lingkungan Kerjanya. ... 47

8.2 TINDAK LANJUT SECARA KEDOKTERAN OKUPASI BERDASARKAN MASALAH KESEHATAN ... 48

BAB IX PENUTUP ... 49

9.1 KESIMPULAN ... 49

9.2 REKOMENDASI ... 50

REFERENSI ... 51

Lampiran 1: Formulir Survey Diagnosis Stress ... 53

Lampiran 2: Formulir SRQ-20 ... 54

Lampiran 3: Contoh Matriks Risk Register Dalam ISO 31000:2018 ... 55

Lampiran 4: Contoh Tabel Risk Input Dalam ISO 31000:2018 ... 56

Lampiran 5: Contoh Formulir Keluhan GOTRAK dari SNI 9011:2021 ... 57

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Indonesia akan memasuki bonus demografi dengan periode puncak pada tahun 2020 sampai 2030. Bonus demografi ditunjukkan dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai dua kali lipat jumlah penduduk usia anak dan lanjut usia. Penduduk usia produktif yang besar menyediakan sumber tenaga kerja yang berperan penting dalam percepatan pembangunan. Kontribusi aktif tenaga kerja dalam perekonomian semakin memberikan dampak positif bagi pembangunan jika memiliki kualitas yang baik.

Kualitas tenaga kerja yang baik harus didukung dengan kondisi kesehatan kerja yang baik, agar tercapai produktivitas kerja yang optimal. Pekerja adalah aset bangsa yang memerlukan perlindungan di bidang kesehatan. Pasal 99 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjelaskan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja dan orang lain yang ada di tempat kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Pasal 242 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan menegaskan bahwa pekerja berhak mendapatkan Upaya Kesehatan kerja. Pelayanan kesehatan kerja yang berjalan dengan baik akan meningkatkan status kesehatan pekerja.

Salah satu upaya dalam standar kesehatan kerja adalah pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja.

Pemeriksaan kesehatan pekerja merupakan salah satu bentuk upaya preventif dalam Kesehatan Kerja menurut Pasal 233 ayat (5) butir d Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan. Pemeriksaan kesehatan pekerja yang dilakukan secara rutin berguna sebagai dasar pengembangan program kesehatan kerja di instansi/perusahaan.

Pemeriksaan kesehatan pekerja merupakan upaya deteksi dini gangguan kesehatan pada tahap awal sebelum timbul gangguan kesehatan, agar dapat dilakukan upaya tindak lanjut untuk mencegah kondisi penyakit atau gangguan kesehatan yang lebih parah, dan untuk mencegah kerugian materi dalam melakukan tata laksana gangguan kesehatan tersebut.

Deteksi dini gangguan kesehatan yang dimaksud termasuk gangguan kesehatan akibat faktor-faktor risiko yang ada di tempat kerja maupun yang timbul dari aktivitas pekerjaan.

Prinsip dilakukannya pemeriksaan kesehatan pekerja adalah sesuai dengan kondisi kesehatan dan pekerjaan, agar dapat menilai kemungkinan gangguan kesehatan akibat faktor-faktor risiko tertentu, dengan demikian dapat dilakukan tindak lanjut dan upaya pencegahan yang sesuai. Pemeriksaan kesehatan pekerja perlu dirancang berdasarkan risiko pekerjaan dan mempertimbangkan aspek efektivitas biaya. Sebelum pelaksanaan pemeriksaan kesehatan pekerja perlu dilakukan identifikasi, penilaian dan evaluasi faktor risiko, meliputi fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial. Agar dapat menilai tingkat risiko yang sesuai akibat faktor-faktor tersebut di atas, diperlukan tenaga medis yang memiliki kompetensi di bidang kedokteran kerja.

(14)

Dokter spesialis kedokteran okupasi memiliki kewenangan klinis melakukan surveilans medis pada komunitas pekerja (Occupational Medical Surveillance), merancang dan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan berkala serta khusus pada pekerja dan komunitas pekerja sesuai dengan karakteristik pekerja, jenis pekerjaan dan pajanannya, melakukan analisis dan menyimpulkan hasil pemeriksaan kesehatan kerja secara individu dan kelompok serta membuat rekomendasi yang mampu laksana.

Kompetensi tersebut di atas tertuang dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 90 Tahun 2020 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi. Keterlibatan seorang dokter spesialis kedokteran okupasi dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan pekerja dapat meningkatkan mutu pelayanan, agar dapat terlaksana dengan baik, terarah dan sesuai tujuannya. Agar semua pihak yang berkepentingan dalam pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja mengetahui aspek perencanaan, pelaksanaan, analisis, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan pekerja dengan baik, maka perlu disusun suatu buku Pedoman Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja.

Pasal 3 ayat (4) dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 2 Tahun 1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja telah mengatur bahwa pengusaha atau pengurus dan dokter wajib menyusun pedoman pemeriksaan kesehatan berkala sesuai dengan kebutuhan menurut jenis-jenis pekerjaan yang ada, namun belum dijabarkan secara rinci jenis pemeriksaan medis yang dimaksud, sehingga diperlukan suatu pedoman yang dapat membantu mengembangkan program pemeriksaan kesehatan yang sesuai.

1.2. TUJUAN

1.2.1. Tujuan Umum

Sebagai pedoman dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, analisis, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan pekerja.

1.2.2. Tujuan Khusus

a. Menjadi pedoman dalam menyusun kegiatan pemeriksaan kesehatan pekerja.

b. Menjadi bahan masukan untuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pembuat kebijakan lain dalam penyusunan, implementasi, dan pemanfaatan hasil pemeriksaan kesehatan pekerja.

c. Mengarusutamakan program pencegahan, deteksi dini dan pengendalian gangguan kesehatan pada pekerja termasuk akibat pengaruh buruk dari pekerjaan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas pekerja.

1.3. SASARAN

Dokter, dokter spesialis (khususnya dokter spesialis kedokteran okupasi), pimpinan dan manajemen fasilitas kesehatan, departemen/bagian SDM/HRD instansi/perusahaan,

(15)

pelaksana program keselamatan dan kesehatan kerja, pemangku kebijakan, dan stake holder terkait dalam perencanaan, pelaksanaan, analisis, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan pekerja.

1.4. RUANG LINGKUP

a. Aspek etik dan legal pemeriksaan kesehatan pekerja.

b. Kategori pemeriksaan kesehatan pekerja.

c. Perencanaan pemeriksaan kesehatan pekerja.

d. Kebutuhan ketenagaan, sarana dan prasarana dalam pemeriksaan kesehatan pekerja.

e. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan pekerja.

f. Analisis dan pelaporan hasil pemeriksaan kesehatan pekerja.

g. Tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan pekerja.

1.5. DEFINISI

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Fasyankes adalah tempat dan/atau alat yang digunakan untuk menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan kepada perseorangan ataupun masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/

atau paliatif yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.1

2. Rumah Sakit atau RS adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan perseorangan secara paripurna melalui Pelayanan Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan Gawat Darurat.2

3. Kesehatan Kerja adalah upaya yang ditujukan untuk melindungi setiap orang yang berada di Tempat Kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan dari pekerjaan.3

4. Kedokteran Okupasi adalah bidang spesialisasi dari Ilmu Kedokteran yang bertujuan agar pekerja dan komunitas pekerja mendapatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial dengan upaya-upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor- faktor risiko yang dialami pekerja.

5. Pemeriksaan kesehatan pekerja adalah pemeriksaan kesehatan yang sesuai dengan risiko individu dan risiko pekerjaan pada calon pekerja dan/atau pekerja yang dilakukan oleh dokter dan/atau dokter spesialis sesuai kompetensi dan kewenangannya.

1 Pasal 1 butir 8 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

2 Pasal 1 butir 10 Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

3 Pasal 1 butir 1 Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Kerja.

(16)

6. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain.4

7. Pengurus atau Pengelola Tempat Kerja adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu Tempat Kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.5 8. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan

lainnya yang mempekerjakan pekerja atau penyelenggara negara yang mempekerjakan Aparatur Sipil Negara, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan membayar gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lainnya.6

9. Dokter penanggung jawab pemeriksaan kesehatan pekerja, yang selanjutnya disebut sebagai dokter penanggung jawab adalah dokter/dokter spesialis yang memimpin pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja, serta memiliki kompetensi dan kewenangan klinis dalam merancang, melaksanakan, menganalisis, menyimpulkan, dan membuat rekomendasi hasil pemeriksaan kesehatan pada pekerja.

10. Dokter pemeriksa pekerja, yang selanjutnya disebut sebagai dokter pemeriksa adalah tim dokter/dokter spesialis yang melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja sesuai kompetensi dan kewenangan klinisnya.

11. Dokter spesialis kedokteran okupasi adalah dokter spesialis yang memiliki kompetensi di bidang kedokteran kerja yang mendapat Sertifikat Kompetensi dari Kolegium Kedokteran Okupasi Indonesia dan terdaftar di Konsil Kedokteran Indonesia sebagai Sp.Ok.7

12. Penyakit Akibat Kerja, yang selanjutnya disingkat PAK adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja.8

13. Tata Laksana Okupasi adalah tata laksana dalam bidang Kedokteran Okupasi pada komunitas pekerja dan/atau pada individu pekerja. Tata Laksana Okupasi pada individu pekerja meliputi Penegakan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Penilaian Kelaikan Kerja, Program Kembali Bekerja, dan Penilaian Kecacatan. Tata Laksana Okupasi pada komunitas pekerja meliputi upaya pencegahan Penyakit Akibat Kerja dan Penemuan Dini Penyakit Akibat Kerja.9

14. Penilaian Kelaikan Kerja adalah penilaian yang dilakukan untuk memastikan pekerja dapat melakukan pekerjaannya secara efektif tanpa risiko terhadap dirinya sendiri maupun rekan kerjanya.10

15. Kewenangan klinis (clinical privilege) adalah hak khusus Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan tertentu untuk melakukan pelayanan medik dan/atau Pelayanan Kesehatan

4 Pasal 1 butir 3 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

5 Pasal 1 butir 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

6 Pasal 1 butir 4 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

7 Standar Pelayanan Kedokteran Okupasi di Rumah Sakit (PERDOKI, 2020).

8 Pasal 1 butir 1 Peraturan Presiden No 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja.

9 Standar Pelayanan Kedokteran Okupasi di Rumah Sakit (PERDOKI, 2020).

10

(17)

tertentu dalam lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk suatu periode tertentu yang dilaksanakan berdasarkan penugasan klinis.11

16. Penugasan klinis (clinical appointment) adalah penugasan kepala/direktur rumah sakit kepada kepada seorang staf medis untuk melakukan sekelompok pelayanan medis dirumah sakit tersebut berdasarkan daftar kewenangan klinis yang telah ditetapkan baginya.12

11 Bagian Penjelasan Pasal 741 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan.

12 Pasal 1 butir 8 Peraturan Menteri Kesehatan No. 755/MENKES/PER/IV/2011 Tentang Penyelenggaraan Komite Medik Di Rumah Sakit.

(18)

BAB II

ASPEK ETIK DAN LEGAL PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

2.1 DASAR HUKUM

Peraturan perundang-undangan yang mendasari aspek hukum pemeriksaan kesehatan pekerja terutama menyangkut kewajiban pemberi kerja, baik di sektor formal maupun informal, termasuk di fasilitas pelayanan kesehatan dan lingkungan matra, untuk melakukan upaya kesehatan kerja sesuai standar kesehatan kerja yang terintegrasi dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Upaya kesehatan kerja bertujuan untuk melindungi pekerja dan orang lain yang ada di tempat kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan.

Pemeriksaan kesehatan pekerja dilaksanakan oleh pemberi kerja sebagai salah satu pelaksanaan upaya preventif dalam kesehatan kerja. Dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan, perusahaan/instansi dapat bekerja sama dengan suatu fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu melakukan pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Berikut ini adalah dasar-dasar hukum pemeriksaan kesehatan pada pekerja:

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan;

3. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1977 tentang Pengujian Kesehatan Pegawai Negri Sipil Dan Tenaga-Tenaga Lainnya Yang Bekerja Pada Negara Republik Indonesia;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2023 tentang Keselamatan Radiasi Pengion Dan Keamanan Zat Radioaktif;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 143 Tahun 1977 tentang Tatalaksana Pengujian Kesehatan Pegawai Negeri Sipil Dan Tenaga-Tenaga Lainnya Yang Bekerja Pada Negara Republik Indonesia;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2011 tentang Klinik;

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Calon Tenaga Kerja Indonesia;

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 61 Tahun 2013 tentang Kesehatan Matra;

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit;

13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;

14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemeriksaan Kesehatan Pelaut;

(19)

15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit;

16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha Dan Produk Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan;

17. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2022 tentang Pelayanan Kesehatan Penyakit Akibat Kerja;

18. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2022 tentang Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Jiwa Untuk Kepentingan Pekerjaan Atau Jabatan Tertentu;

19. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Bangunan, Prasarana, dan Peralatan Kesehatan Rumah Sakit;

20. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 33 Tahun 2021 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Dan Kaidah Teknis Panas Bumi Untuk Pemanfaatan Tidak Langsung;

21. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2019 tentang Pemeriksaan Kesehatan Pelaut, Tenaga Penunjang Keselamatan Pelayaran, Dan Lingkungan Kerja Pelayaran;

22. Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tertentu Berkaitan Dengan Kegiatan Operasional Di Lingkungan Kementerian Pertahanan Dan Tentara Nasional Indonesia;

23. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pemeriksaan Kesehatan Penerimaan Bagi Calon Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;

24. Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 4 Tahun 2020 tentang Keselamatan Radiasi Pada Penggunaan Pesawat Sinar-X Dalam Radiologi Diagnostik Dan Intervensional.

2.2 ASPEK ETIK

Aspek etik dalam pemeriksaan kesehatan memberikan batasan-batasan yang menjaga proses pemeriksaan kesehatan pekerja sejak tahap perencanaan, pemenuhan standar, pelaksanaan, pelaporan, hingga upaya tindak lanjut agar sesuai dengan standar etika yang telah ditetapkan dan norma yang berlaku. Aspek ini mengatur bagaimana etika membangun komunikasi yang baik dengan pihak pemberi kerja, pekerja yang diperiksa, teman sejawat, dan sesama anggota tim pemeriksa kesehatan. Aspek etik juga berperan dalam menentukan jenis pemeriksaan berdasarkan risiko pekerjaan dengan mempertimbangkan kemampulaksanaan yang efektif dan efisien, tanpa dipengaruhi berbagai kepentingan yang dapat mencemari kemandirian profesi. Penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia perlu diperhatikan dalam membagi kompetensi dan kewenangan diantara teman sejawat dokter atau dokter spesialis melalui prosedur yang etis. Aspek etik juga perlu diterapkan dalam menjaga kualitas pemeriksaan kesehatan, yaitu melalui penyediaan fasilitas, sarana, dan prasarana yang mendukung; melakukan pemeriksaan sesuai kompetensi yang dimiliki; serta melakukan rujukan pemeriksaan kepada sejawat yang berkompeten untuk pemeriksaan di luar kompetensinya. Etika kedokteran juga berbicara tentang bagaimana menjaga independensi profesi dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk dalam menerbitkan surat keterangan; bagaimana menyampaikan informasi hasil pemeriksaan kepada pasien yang mungkin dapat

(20)

melemahkan daya tahan psikis maupun fisik; serta bagaimana menentukan sikap apabila berada di tengah-tengah antara kewajiban menjaga kerahasiaan pasien dan kebutuhan pemberi kerja untuk mendapatkan informasi mengenai status kesehatan pekerjanya.

Aspek etik pemeriksaan kesehatan pekerja mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Indonesia tahun 2012 (KODEKI 2012). Pokok-pokok yang digunakan sebagai landasan aspek etik pemeriksaan kesehatan pekerja adalah sebagai berikut:

a. Kewajiban menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan sumpah dan/atau janji dokter.

b. Kewajiban melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran yang tertinggi. Dalam hal situasi fasilitas pelayanan kesehatan tidak optimal atau kurang memadai untuk mendukung pelayanan yang diberikan, pengambilan keputusan profesional wajib diwujudkan dalam atau disertai dengan perilaku profesional dokter demi kepentingan terbaik pasien.

c. Kewajiban menjaga diri dari berbagai pengaruh yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

d. Kewajiban menyampaikan informasi yang mungkin dapat melemahkan daya tahan psikis maupun fisik secara santun, patut, teliti, dan hati-hati dengan perkataan yang tepat. Informasi disampaikan secara jujur namun dapat menahan sebagian informasi yang dapat melemahkan psikis dan/atau fisiknya serta hanya disampaikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien.

e. Kewajiban untuk memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. Pemberian surat keterangan dan/atau pendapat ahli merupakan sisi lain dari tugas profesi seorang dokter untuk kepentingan bukan kesehatan, melainkan untuk kepentingan hukum/legal dalam arti luas dan peradilan.

f. Kewajiban memberikan pelayanan secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral, disertai rasa kasih sayang dan penghormatan atas martabat manusia dalam setiap praktik medisnya.

g. Kewajiban bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, serta menjaga harkat dan martabat kedokteran.

h. Kewajiban menghormati hak-hak pasien, teman sejawat, dan tenaga kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.

i. Kewajiban memerhatikan keseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial-kultural pasiennya, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.

j. Kewajiban saling menghormati dalam bekerja sama dengan para pejabat lintas sektoral di bidang kesehatan, bidang lainnya, dan masyarakat.

k. Kewajiban mempergunakan seluruh keilmuan dan keterampilannya untuk kepentingan pasien dan kewajiban merujuk kepada dokter yang mempunyai keahlian atas pemeriksaan yang tidak mampu dilakukannya dengan persetujuan pasien/keluarganya.

(21)

l. Kewajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan setelah pasien meninggal.

m. Kewajiban melakukan pertolongan darurat, kecuali bila yakin ada orang lain yang bersedia dan mampu melakukannya.

n. Larangan untuk mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.

2.3 ASPEK LEGAL

Penyelenggaraan pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja harus sesuai dengan regulasi, baik itu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan maupun peraturan pelaksanaannya. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja wajib mematuhi sumpah profesi, kode etik profesi, standar profesi, standar kompetensi, standar pelayanan, serta standar prosedur operasional.

Hak dan kewajiban baik pasien, dokter, dokter spesialis, rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemberi kerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan peraturan pelaksanaannya. Pasal 273 dan Pasal 274 Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah mengatur dengan jelas dan tegas mengenai hak dan kewajiban dokter. Pasal 276 dan Pasal 277 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah mengatur dengan jelas dan tegas mengenai hak dan kewajiban pasien. Kewajiban yang dilakukan oleh dokter merupakan pemenuhan atas hak pasien, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan mengenai hak dan kewajiban antara tenaga kerja sebagai pasien dan pemberi kerja yang berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan perlu dituangkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Hal-hal yang tercantum dalam Laporan Pemeriksaan Kesehatan serta Interpretasi Hasil Pemeriksaan Kesehatan pada umumnya memuat tentang identitas Pasien; serta data dan Informasi Kesehatan Pasien yang meliputi hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, pengobatan dan/atau tindakan Pelayanan Kesehatan. Hal-hal tersebut di atas termasuk ke dalam Rahasia Kesehatan pribadi Pasien, dan merupakan bagian dari Rekam Medis.13

Kerahasiaan data dan informasi kesehatan pribadi Pasien, pembukaan isi rekam medis secara rinci telah diatur secara jelas dan tegas dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, di mana setiap orang berhak memperoleh kerahasiaan data dan informasi kesehatan pribadinya, serta memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya, termasuk tindakan dan pengobatan yang telah ataupun yang akan diterimanya dari Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan; dengan pengecualian bahwa kerahasiaan data dan informasi kesehatan pribadi tersebut tidak berlaku dalam hal upaya perlindungan terhadap bahaya ancaman keselamatan orang lain secara individual atau

13 Pasal 788 ayat (3) dan (4) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan

(22)

masyarakat, maupun dalam hal kepentingan pemeliharaan kesehatan, pengobatan, penyembuhan, dan perawatan pasien. Pembukaan rahasia kesehatan pribadi Pasien berupa rekam medis sesuai dengan ketentuan pembukaan rekam medis.14

Pemberi kerja sering kali merasa berhak untuk melihat informasi kesehatan pribadi pekerjanya, dengan alasan demi kepentingan pemeliharaan kesehatan, pengobatan, penyembuhan, dan perawatan Pasien. Permintaan dari pemberi kerja untuk dilakukan pembukaan rahasia kesehatan pribadi Pasien untuk kepentingan kesehatan pasien dapat dibenarkan menurut peraturan perundang-undangan, asalkan dilakukan secara tertulis (secara elektronik atau nonelektronik), serta dilakukan secara terbatas sesuai dengan kebutuhan.15 Persetujuan dari pasien untuk membuka rahasia kesehatan pribadinya kepada pihak pemberi kerja dalam dokumen general consent atau persetujuan umum secara tertulis dan/atau elektronik sudah seharusnya diberikan pada saat pendaftaran pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.16 Ada pun general consent atau persetujuan umum adalah formulir yang berisi persetujuan pasien atau keluarga untuk menerima pelayanan medis di rumah sakit, termasuk pelepasan informasi medis kepada pihak lain selain pasien (termasuk kepada pihak pemberi kerja).

Di sisi lain, ada yang dinamakan Persetujuan Tindakan Kedokteran, atau disebut sebagai Persetujuan Tindakan Pelayanan Kesehatan dalam Pasal 293 sampai dengan Pasal 295 UU 17/2023 tentang Kesehatan. Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent) adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat (atau orang yang mewakili) setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.17 Persetujuan tindakan secara tertulis harus diperoleh sebelum dilakukannya tindakan yang invasif dan/

atau mengandung risiko tinggi.18 Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan,19 dalam hal ini adalah pasien yang kompeten atau keluarga terdekat.20 Sedangkan tindakan kedokteran yang tidak mengandung risiko tinggi dapat diberikan dengan persetujuan lisan, di mana persetujuan lisan tersebut dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju.21 Namun dalam hal persetujuan lisan yang diberikan

14 Pasal 790 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan.

15 Pasal 783 ayat (1) s/d (5) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan.

16 Pasal 783 ayat (10) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan.

17 Pasal 1 butir 1 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

18 Pasal 293 ayat (5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan.

19 Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

20 Pasal 13 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

21 Pasal 3 ayat (2) dan (4) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Tindakan

(23)

oleh pasien dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.22

2.4 KEWENANGAN KLINIS DOKTER SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI DALAM PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Kewenangan seorang tenaga medis/kesehatan ada yang bersifat atributif, dan ada yang bersifat non-atributif. Kewenangan yang bersifat atributif adalah kewenangan yang bersifat melekat dan langsung diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan dan disahkan oleh pimpinan Fasyankes. Bukti kewenangan seorang tenaga medis berupa surat penugasan klinis (clinical appointment) yang diberikan oleh pimpinan Fasyankes tingkat lanjut terhadap tenaga medis yang bersangkutan berdasarkan rekomendasi daftar kewenangan klinis (clinical privilege) dari komite medik setelah melalui proses kredensial. Sedangkan kewenangan non-atributif adalah kewenangan yang diberikan oleh orang lain yang memiliki kewenangan atau kompetensi lebih tinggi kepada seseorang yang memiliki kompetensi atau kewenangan yang lebih rendah. Perlu diingat bahwa kewenangan non-atributif ini hanya bersifat sementara. Kewenangan non-atributif terbagi menjadi dua jenis berdasarkan pertanggungjawaban, yaitu kewenangan yang diperoleh secara mandat, dan kewenangan yang diperoleh secara delegasi. Kewenangan yang diberikan secara mandat kepada tenaga medis/kesehatan tidak menghilangkan tanggung jawab pemberi mandat secara hukum, namun kewenangan yang diberikan secara delegasi disertai dengan peralihan tanggung jawab dan tanggung gugat kepada penerima delegasi.

Beberapa poin penting terkait kompetensi dokter spesialis kedokteran okupasi secara atributif yang tertuang dalam Perkonsil No. 90/2020 di antaranya adalah:

− Merancang dan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, berkala, dan khusus pada pekerja dan komunitas pekerja sesuai dengan karakteristik pekerja, jenis pekerja, dan pajanannya.

− Melakukan analisis dan menyimpulkan hasil pemeriksaan kesehatan kerja secara individu dan kelompok, serta membuat rekomendasi yang mampu laksana.

− Merancang dan melaksanakan program promotif dan preventif dalam bidang kedokteran okupasi dan kesehatan kerja.

− Mengembangkan dan mengelola program K3 dan kedokteran okupasi di tempat kerja yang sesuai dengan tingkat risiko.

− Mengidentifikasi faktor risiko dan bahaya potensial di tempat kerja maupun lingkungan di tempat kerja yang dapat memengaruhi kesehatan individu pekerja dan komunitas (masyarakat dan komunitas sekitarnya).

Dokter spesialis kedokteran okupasi mampu merancang, melaksanakan, menganalisis, menyimpulkan, dan membuat rekomendasi hasil pemeriksaan kesehatan pekerja sesuai kompetensinya, yang telah diatur dalam SKDI 2012 maupun sesuai Perkonsil No.

90/2020. Kompetensi dokter spesialis kedokteran okupasi dapat mempunyai irisan yang sama dengan kompetensi dokter spesialis bidang lain, yang diatur dalam sharing

22 Pasal 3 ayat (5) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

(24)

kompetensi yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Keterlibatan setiap tenaga medis/kesehatan dalam bidang pemeriksaan kesehatan pekerja harus sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinis masing-masing, yang dibuktikan dengan suatu clinical privilege.

2.5 PELIMPAHAN KEWENANGAN DALAM PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Dokter penanggung jawab dapat memberikan pelimpahan kewenangan secara delegatif kepada perawat terlatih untuk melakukan pemeriksaan antropometri dan tanda vital.

Pemeriksaan visus juga dapat diberikan pelimpahan kewenangan secara delegatif kepada seorang refraksionis atau secara mandat kepada perawat yang telah dilatih. Pemeriksaan lainnya dapat dilakukan oleh dokter penanggung jawab atau dilimpahkan kewenangannya kepada tenaga kesehatan yang berkompeten sesuai dengan kebutuhan.

Pemeriksaan fisik umum merupakan kompetensi dokter umum sesuai SKDI 2012, sehingga tidak memerlukan pelimpahan kewenangan dari dokter spesialis kedokteran okupasi. Pemeriksaan fisik yang bersifat khusus dapat dikonsultasikan kepada dokter spesialis kedokteran okupasi atau dokter spesialis lain sesuai kompetensi dan kewenangannya.

Pelimpahan kewenangan terkait kegiatan merancang, menganalisis, menyimpulkan dan membuat rekomendasi hasil pemeriksaan kesehatan pekerja sebaiknya bersifat mandat, karena tidak dijelaskan dalam SKDI 2012. Pelimpahan kewenangan terkait hal-hal tersebut di atas dapat bersifat delegatif bila tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dilakukan atas persetujuan dari dokter spesialis kedokteran okupasi yang berpraktik di Fasyankes tingkat lanjut yang sama.

(25)

BAB III

KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Pemeriksaan kesehatan pekerja dapat dibagi berdasarkan tujuan dan waktu pelaksanaan.

Kategori pemeriksaan kesehatan pekerja berdasarkan tujuan terdiri dari: skrining kesehatan dan uji kesehatan. Sedangkan kategori pemeriksaan kesehatan pekerja berdasarkan waktu terdiri dari: pemeriksaan kesehatan prakerja, berkala, akhir bekerja, dan khusus.

Penting untuk diketahui bahwa surveilans kesehatan kerja tidak sama dengan pemeriksaan kesehatan, demikian pula surveilans kesehatan kerja tidak sama dengan surveilans kesehatan masyarakat. Setiap kegiatan surveilans sebaiknya dikerjakan setelah selesai dilakukan pemeriksaan kesehatan. Hasil pemeriksaan kesehatan pekerja dapat dimanfaatkan untuk melakukan surveilans kesehatan kerja, dengan catatan bila jenis pemeriksaan yang telah dilakukan sesuai dengan pajanan di tempat kerja. Apabila diperlukan untuk melengkapi data- data surveilans kesehatan kerja, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan tambahan. Perlu diperhatikan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans kesehatan kerja tidak harus mencakup semua pekerja yang terpajan, karena hanya pekerja yang terpajan pada tingkat pajanan berisiko tinggi saja yang dapat dipilih ketika menilai dampak dari pajanan tertentu.

Mengingat bahwa kegiatan surveilans kesehatan kerja membutuhkan keahlian khusus, maka perusahaan/instansi yang ingin menyelenggarakan surveilans kesehatan kerja sebaiknya hanya bekerja sama dengan Fasyankes penyelenggara pemeriksaan kesehatan pekerja yang mempekerjakan dokter spesialis kedokteran okupasi sebagai dokter penanggung jawab pelayanan pemeriksaan kesehatan pekerja.

3.1 KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN BERDASARKAN TUJUAN 3.1.1 Skrining Kesehatan

Skrining kesehatan adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan atau penyakit tertentu pada individu yang bersifat umum.

Skrining kesehatan pekerja tidak selalu didasarkan pada risiko akibat pajanan tertentu yang dialami pekerja di tempat kerja. Tujuan skrining kesehatan adalah sebagai deteksi dini untuk mengurangi risiko terjadinya perburukan ataupun penularan penyakit agar dapat segera dilakukan tata laksana yang sesuai. Jenis pemeriksaan yang sering dilakukan pada skrining kesehatan misalnya pemeriksaan glukosa darah, profil lemak lengkap, asam urat, dan EKG; atau dengan kata lain jenis pemeriksaan untuk mengidentifikasi risiko penyakit metabolik, jantung dan stroke.

Penting untuk diketahui bahwa kegiatan skrining kesehatan bukanlah untuk menegakkan diagnosis pasti. Skrining kesehatan dilakukan pada pekerja yang memiliki kemungkinan besar mengalami penyakit degeneratif, misalnya pada pekerja yang berusia 40 tahun ke atas. Skrining kesehatan juga dilakukan untuk mengidentifikasi risiko penyakit menular dan tidak menular dengan tingkat prevalensi tinggi dan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan, misalnya skrining kanker prostat, kanker payudara, risiko penyakit jantung koroner, dan lain-lain.

(26)

Skrining kesehatan untuk mengendalikan risiko terjadinya penularan penyakit paru dan saluran pernapasan (misalnya tuberkulosis paru) pada suatu industri padat karya perlu dilakukan, baik pada saat pemeriksaan kesehatan sebelum kerja maupun secara berkala.

Jika seorang pekerja yang mengalami tuberkulosis paru bekerja dalam satu ruangan dengan banyak pekerja lain secara bersama-sama, maka pekerja lain tersebut berisiko tertular tuberkulosis paru. Sehingga pekerja tersebut tidak boleh bekerja sementara waktu sampai terjadi penurunan risiko penularan, misalnya telah menjalani pengobatan selama dua minggu dan hasil pemeriksaan sputum BTA sudah negatif.

3.1.2 Uji Kesehatan

Uji kesehatan bertujuan untuk menilai apakah pekerja yang diperiksa memiliki kapasitas dan risiko dalam melakukan pekerjaan tertentu. Uji kesehatan dapat dilakukan sebelum kerja atau dilakukan secara berkala pada jenis pekerjaan tertentu.

Hasil penilaian uji kesehatan dapat berupa: a) memenuhi syarat bekerja, atau b) tidak memenuhi syarat bekerja. Kriteria memenuhi atau tidak memenuhi syarat bekerja dapat berbeda-beda sesuai dengan jenis pekerjaannya, sesuai standar medis atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai catatan, pemeriksaan uji kesehatan hanya menggambarkan kondisi kesehatan pada saat dilakukan pemeriksaan, sehingga tidak boleh digunakan untuk menyatakan disabilitas permanen.

Penilaian kapasitas dalam pemeriksaan kesehatan contohnya adalah uji diskriminasi warna untuk mengetahui apakah pekerja memiliki kapasitas membedakan warna yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Jika pekerja memiliki kapasitas tersebut maka pekerja dapat memenuhi syarat bekerja, sebaliknya jika tidak memiliki kapasitas tersebut maka pekerja tidak memenuhi syarat bekerja.

Penilaian risiko dalam pemeriksaan kesehatan contohnya adalah pemeriksaan feses untuk mengetahui apakah pekerja memiliki risiko menularkan penyakit demam tifoid dalam melakukan pekerjaan sebagai penjamah makanan. Jika pekerja bukan pembawa bakteri penyebab penyakit demam tifoid maka pekerja dapat memenuhi syarat bekerja sebagai penjamah makanan, sebaliknya jika merupakan pembawa bakteri penyebab penyakit demam tifoid maka pekerja tidak memenuhi syarat bekerja sebagai penjamah makanan.

Ada kalanya jenis pemeriksaan yang biasanya digunakan dalam skrining kesehatan seperti glukosa darah, profil lemak, dan EKG juga dilakukan pada pekerja dengan jenis pekerjaan tertentu. Jenis pekerjaan tertentu yang dimaksud di sini mengacu pada pekerjaan atau posisi pekerjaan di mana suatu kejadian inkapasitasi mendadak dapat memiliki konsekuensi serius terutama terkait dengan keamanan dan kesejahteraan manusia, dan melibatkan tanggung jawab besar terhadap keselamatan dan keamanan publik (safety-critical jobs). Contohnya adalah kejadian inkapasitasi akibat serangan jantung atau stroke pada seorang pilot atau pengemudi kendaran bermotor umum.

Dengan demikian, jenis pemeriksaan untuk mengidentifikasi risiko penyakit jantung dan stroke perlu dimasukkan dalam uji kesehatan pekerja yang dilakukan secara berkala. Sebaliknya jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang bukan safety-critical jobs, maka jenis pemeriksaan tersebut hanya bersifat skrining kesehatan.

(27)

Setiap pekerja yang tidak memenuhi syarat bekerja setelah menjalani uji kesehatan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter spesialis kedokteran okupasi untuk dilakukan Penilaian Kelaikan Kerja.

3.2 KATEGORI PEMERIKSAAN KESEHATAN BERDASARKAN WAKTU 3.2.1 Pemeriksaan Kesehatan Prakerja

Pemeriksaan kesehatan prakerja dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja pada calon pekerja (pelamar kerja) adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum pekerja diterima untuk melakukan pekerjaan.

2. Pemeriksaan kesehatan pra-penempatan adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada pekerja yang sudah diterima bekerja tetapi diperkirakan akan terpengaruh oleh suatu faktor risiko tertentu.

Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dilakukan dengan memperhatikan aspek non diskriminatif, sehingga hanya jenis-jenis pemeriksaan kesehatan yang bersifat rutin dan relevan saja yang perlu diperiksa. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja yang bersifat uji kesehatan sebaiknya hanya dilakukan pada pekerja yang akan mengisi pekerjaan tertentu yang bersifat safety-critical jobs.

Tujuan utama pemeriksaan kesehatan pra-penempatan adalah untuk mendapatkan data dasar yang diperlukan dalam surveilans kesehatan pekerja. Data dasar adalah data kesehatan pekerja sebelum terpajan faktor risiko tertentu yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Pengumpulan data dasar dalam pemeriksaan kesehatan pra- penempatan contohnya adalah pemeriksaan fungsi pendengaran pekerja untuk mengetahui nilai ambang dengar pekerja sebelum bekerja di lingkungan kerja yang bising. Selanjutnya pekerja akan menjalani pemeriksaan fungsi pendengaran secara berkala dan hasil pemeriksaan berkala ini akan dibandingkan dengan data dasar.

Pemeriksaan kesehatan pra-penempatan juga dapat mempunyai tujuan lain, yaitu untuk uji kesehatan, terutama untuk menilai kapasitas dan risiko kesehatan seperti yang diterangkan pada awal bab ini.

3.2.2 Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada pekerja secara berkala yang pada umumnya dilakukan setahun sekali, namun frekuensi pemeriksaan kesehatan berkala dapat berubah tergantung pada hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, hasil pemantauan lingkungan kerja dan besarnya risiko pekerjaan.

Frekuensi pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering jika hasil pemantauan lingkungan menunjukkan indikasi tingkat pajanan di tempat kerja berisiko tinggi, sebaliknya dapat dilakukan lebih jarang jika hasil pemantauan lingkungan menunjukkan indikasi tingkat pajanan di tempat kerja berisiko sangat rendah. Demikian pula jika hasil pemeriksaan kesehatan tersebut menunjukkan hasil yang melampaui nilai batas tertentu, maka dapat dilakukan pemeriksaan kesehatan yang lebih sering.

(28)

Tujuan pemeriksaan kesehatan berkala adalah untuk mendeteksi secara dini gangguan kesehatan dan risiko kesehatan pada kegiatan skrining kesehatan. Selain itu uji kesehatan dapat juga dilakukan secara berkala pada pekerjaan tertentu yang bersifat safety-critical jobs. Selain itu data-data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan berkala jika cukup lengkap dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja.

Tujuan lain pemeriksaan kesehatan berkala adalah untuk menilai keberhasilan program pencegahan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Contohnya dengan menganalisis hasil pemeriksaan fungsi pendengaran (audiometri) pada sekelompok pekerja yang terpajan bising maka dapat dinilai keberhasilan implementasi program konservasi pendengaran.

Tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan dapat berbeda. Jika tujuan untuk uji kesehatan pekerja, maka ketika didapatkan hasil bahwa pekerja berisiko tinggi untuk terjadi serangan jantung dan stroke maka pekerja tersebut dapat saja tidak memenuhi syarat bekerja. Sebaliknya jika tujuan untuk skrining kesehatan, maka ketika didapatkan hasil bahwa pekerja berisiko tinggi untuk terjadi serangan jantung dan stroke maka pekerja tersebut dapat saja bekerja seperti biasa. Pada kedua jenis tujuan tersebut, individu pekerja diberikan nasihat untuk menjalani modifikasi gaya hidup dan tatalaksana klinis lainnya.

3.2.3 Pemeriksaan Kesehatan Akhir Bekerja

Pemeriksaan kesehatan akhir bekerja adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada pekerja pada akhir dari suatu masa kerja. Pemeriksaan kesehatan akhir bekerja dapat karena pekerja pensiun (pemeriksaan kesehatan purna bakti) atau pasca penempatan.

Pemeriksaan kesehatan akhir bekerja merupakan pemeriksaan kesehatan berkala yang terakhir dilakukan pada pekerja.

Tujuan pemeriksaan kesehatan akhir bekerja adalah untuk mendapatkan data akhir yang diperlukan dalam surveilans kesehatan pekerja terutama untuk jenis pajanan yang memiliki sifat kronik progresif. Untuk jenis pajanan yang bersifat akut maka pemeriksaan kesehatan akhir bekerja dapat menjadi bukti bahwa pada saat berakhirnya pelaksanaan suatu pekerjaan, berakhir pula pajanan tertentu akibat pekerjaan tersebut, sehingga dapat dibuktikan bahwa pekerja tersebut tidak memiliki gangguan kesehatan.

3.2.4 Pemeriksaan Kesehatan Khusus

Pemeriksaan kesehatan khusus adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada pekerja di waktu khusus, di luar pemeriksaan kesehatan prakerja, berkala, maupun akhir. Waktu khusus adalah pasca pekerja mengalami perawatan lama akibat kecelakaan atau sakit. Tujuan pemeriksaan kesehatan khusus adalah untuk uji kesehatan.

(29)

BAB IV

PERENCANAAN PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA

Perencanaan pemeriksaan kesehatan pekerja merupakan langkah penting agar proses pemeriksaan kesehatan berlangsung dengan efektif dan efisien sesuai dengan faktor risiko pada pekerja, memenuhi tujuan pihak perusahaan/instansi, serta sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dengan merancang pemeriksaan kesehatan sesuai dengan risiko yang dialami pekerja, baik risiko pekerjaan maupun risiko individu, maka deteksi dini gangguan kesehatan menjadi lebih optimal, dan progresivitas penyakit dapat dikendalikan sejak dini.

Perencanaan pemeriksaan kesehatan pekerja dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari tim K3 perusahaan/instansi dan unit pengelola SDM, dan sebaiknya bekerja sama dengan dokter spesialis kedokteran okupasi. Bila dianggap perlu, kegiatan perencanaan pemeriksaan kesehatan pekerja juga dapat melibatkan tim ahli yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, seperti ahli K3, ahli higiene industri, ahli ergonomi, dll.

Langkah-langkah perencanaan pemeriksaan kesehatan pekerja meliputi:

1 Mengetahui karakteristik populasi pekerja;

2 Mengetahui alur produksi dan alur kerja;

3 Identifikasi bahaya potensial pekerjaan;

4 Identifikasi penyakit yang mungkin timbul;

5 Klasifikasi tingkat risiko pada berbagai kelompok pekerja yang mengalami pajanan yang sama;

6 Menentukan jenis pemeriksaan sesuai standar medis; dan

7 Menentukan jenis paket pemeriksaan pada berbagai kelompok pekerja.

4.1 MENGETAHUI KARAKTERISTIK POPULASI PEKERJA

Sebelum menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan kesehatan pekerja, langkah awal yang krusial adalah memahami populasi pekerja yang akan disasar. Identifikasi dan pengetahuan mendalam mengenai jumlah dan profil pekerja, serta karakteristik pekerjaan sangat penting untuk merancang program pemeriksaan kesehatan. Salah satu cara untuk mengetahui karakteristik populasi pekerja adalah melalui analisis data internal kepegawaian perusahaan/instansi yang mencakup demografi, jenis pekerjaan, data kesehatan yang tersedia (termasuk data kesehatan dari klinik perusahaan dan informasi kunjungan ke Fasyankes jika tersedia datanya), dan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan kondisi kesehatan. Selain itu, analisis data kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja, serta data analisis dari pemeriksaan kesehatan sebelumnya dapat memberikan wawasan tambahan mengenai area-area yang mungkin memerlukan perhatian khusus. Jika diperlukan, dapat dipertimbangkan untuk mengedarkan kuesioner di kalangan pekerja untuk mendapatkan data-data kesehatan yang diinginkan. Kuesioner yang disebarluaskan haruslah sudah terstandarisasi, tervalidasi, atau telah dipakai secara luas. Dengan pemahaman yang baik tentang karakteristik populasi pekerja, dapat dirancang jenis pemeriksaan yang tepat, sehingga meningkatkan efektivitas pemeriksaan kesehatan yang akan diselenggarakan.

(30)

4.2 MENGETAHUI ALUR PRODUKSI DAN ALUR KERJA

Selain mengetahui karakteristik populasi pekerja, adalah penting untuk memahami alur produksi dan alur kerja. Langkah awal dalam memperoleh pemahaman ini adalah dengan melakukan observasi langsung terhadap proses produksi atau tugas-tugas yang dijalankan oleh para pekerja, termasuk memeriksa alat-alat kerja, bahan kimia yang digunakan, prosedur kerja yang diterapkan, produk jadi yang dihasilkan, serta limbah yang dikeluarkan. Pemahaman ini dapat diperoleh melalui proses wawancara dengan manajemen produksi, pengawas lapangan, dan pekerja itu sendiri. Dengan mengetahui alur produksi dan alur kerja secara mendalam, dapat diidentifikasi risiko-risiko spesifik yang mungkin dihadapi pekerja selama menjalankan tugas-tugasnya.

4.3 IDENTIFIKASI BAHAYA POTENSIAL PEKERJAAN

Setelah mempelajari alur produksi dan alur kerja secara rinci, dapat dilakukan identifikasi bahaya potensial termasuk faktor-faktor risiko yang ada di tempat kerja.

Setelah dilakukan identifikasi bahaya potensial (faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial), dilanjutkan dengan pemetaan area kerja berisiko, serta identifikasi kelompok pekerja dengan jenis dan tingkat pajanan yang sama (similar exposure group).

Dengan demikian para pekerja dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan jenis pekerjaan, tugas, dan pajanan lingkungan kerja yang terkait.

Data yang dapat digunakan untuk menunjang identifikasi bahaya potensial misalnya adalah data health risk assessment (HRA), risk register dalam hazard identification risk assessment and determining control (HIRADC), hazard mapping, dokumen safety data sheet (SDS), hasil pengukuran lingkungan kerja sebelumnya, dan lain-lain.

4.4 IDENTIFIKASI PENYAKIT YANG MUNGKIN TIMBUL

Setelah melakukan identifikasi bahaya potensial pekerjaan, langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi penyakit yang mungkin timbul sebagai akibat dari bahaya potensial pekerjaan. Data mengenai riwayat kesehatan pekerja, faktor risiko individu, dan riwayat kesehatan yang mungkin terkait dengan pekerjaan dapat digunakan untuk sepenuhnya memahami dan memprediksi penyakit yang mungkin timbul. Diperlukan kolaborasi dengan tenaga medis yang berkompeten mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja agar dapat memberikan perspektif medis yang lebih rinci dan membantu mengidentifikasi potensi risiko kesehatan berkaitan dengan jenis pekerjaan tertentu. Pada tahapan ini penting untuk diketahui jenis penyakit mana saja yang dapat dilakukan deteksi dini dengan pemeriksaan sederhana, valid, nyaman, efektif, dan terjangkau, sehingga dapat diterapkan pada program pemeriksaan kesehatan pekerja yang akan diselenggarakan.

Referensi

Dokumen terkait

Pemeriksaan  ini  dilakukan  untuk  memeriksa  semua  aspek  yang  berhubungan  dengan  kesehatan  pekerja  selama  masa  pengabdiannya  Pemeriksaan  kesehatan 

Pemeriksaan Kesehatan sebelum bekerja ditujukan agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang setinggi-tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang

 Pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap karyawan yang akan dilakukan oleh dokter..  Pemeriksaan kesehatan khusus adalah

Jika dalam suatu daerah tersebut sedang mewabah penyakit menular yang dapat membahayakan keberlangsungan kehidupan manusia, maka saat itu hukum pelaksanaan

Sesuai dengan rekomendasi ICRP, pengawasan medis pekerja yang terpapar radiasi harus didasarkan pada prinsip-prinsip mendasar terhadap kesehatan bekerja yang bertujuan untuk

Rumusan masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan pemeriksaan payudara

Dokumen ini membahas tentang malaria, penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia termasuk

Dokumen ini membahas tentang pentingnya menjaga kesehatan diri dan orang lain dari penyakit menular dan tidak menular dengan mengikuti pola perilaku hidup