• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Islam Terhadap Investasi Syariah

Dalam dokumen skripsi - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 42-53)

BAB II KAJIAN TEORI

B. Perspektif Islam Terhadap Investasi Syariah

Dalam Islam sendiri, setiap kegiatan ekonomi sifatnya mubah atau boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

a. Definisi Investasi Syariah

Investasi berasal dari bahasa Inggris investment, yang juga berasal dari kata dasar invest yang berarti menanam. Dalam bahasa Arab investasi disebut dengan istitsmar yang bermakna "menjadikan berbuah, berkembang dan bertambah jumlahnya. 54

Investasi secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan produktif yang bertujuan untuk mengembangkan harta. Investasi juga merupakan suatu komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat sekarang dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Investasi diawali dengan mengorbankan kegiatan konsumsi saat ini untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang.55

Islam sangat menganjurkan untuk berinvestasi karena investasi merupakan kegiatan yang memberikan dampak

53 Badriyah, Pemahaman Konsep.

54Sakinah Sakinah, ―Investasi Dalam Islam,‖ IQTISHADIA: Jurnal Ekonomi & Perbankan Syariah 1, no. 2 (2015): 248.

55Mardhiyah Haryati, ―Investasi Menurut Perspektif Ekonomi Islam,‖

Journal of IslamicEconomics and Business) 1, no. 1 (2016): 66–78.

28 positif, investasi juga dapat menjadi sangat membantu bagi orang lain yang membutuhkan, sebaliknya uang yang diam dan tidak digunakan tidak akan memberikan manfaat baik bagi pemiliknya dan terlebih lagi bagi orang lain.56

b. Akad-Akad Investasi Syariah

Akad Menurut Islam, investasi syariah menerapkan beberapa akad yaitu diantaranya; akad musyarakah, mudharabah, ijarah, akad kafalah, serta wakalah.57

1. Akad Musyarakah, adalah perjanjian antar dua pihak atau lebih yang mana semua pihak terlibat dalam pemberian modal untuk kepentingan suatu usaha, dengan catatan bahwa setiap kentungan dan resiko ditanggung secara bersama-sama.58

2. Akad mudharabah, adalah perjanjian usaha bersama antar dua pihak atau lebih dimana salah satu pihak berperan sebagai penyedia modal, dan pihak lainnya sebagai pihak yang mengelola usaha.59

3. Ijarah, adalah perjanjian antar pihak pemilik barang/jasa dengan pihak penyewa dimana setelah adanya transaksi maka pihak pemilik barang/jasa akan

56Taufik Hidayat, Buku Pintar Investasi Syariah (Jakarta Selatan:

MediaKita, 2011).

57Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

58Dewi Wulan Sari and Mohamad Yusak Anshori, ―Pengaruh Pembiayaan Murabahah, Istishna, Mudharabah, Dan Musyarakah Terhadap Profitabilitas (Studi Pada Bank Syariah Di Indonesia Periode Maret 2015 – Agustus 2016),‖ Accounting and Management Journal 1, no. 1 (2018): 1–8.

59Ibid.

29 memindahkan hak guna atau manfaat dari barang/jasa tersebut kepada pihak penyewa.60

4. Kafalah adalah perjanjian dimana pihak penjamin atau kafil memberikan jaminan kepada pihak yang dijamin atau makful anhu atas hal yang telah dijanjikan.

5. Wakalah, adalah perjanjian dimana pihak yang memiliki kewenangan memberikan kewenangannya kepada pihak yang diberi wewenang untuk melakukan suatu tindakan.61

c. Prinsip-Prinsip Investasi Syariah

Agar terhindar dari praktik investasi yang tidak islami maka ada beberapa hal prinsip dalam investasi yang harus menjadi acuan dan landasan bagi para investor yaitu:

1. Tidak mencari rizki pada hal yang haram, baik dari segi zatnya maupun cara mendapatkannya serta tidak menggunakannya untuk hal-hal yang haram;

2. Tidak mendzalimi dan tidak didzalimi;

3. Keadilan pendistribusian pendapatan;

4. Transaksi dilakukan atas dasar rida sama rida (antaradin);

5. Tidak ada unsur riba, maysir/perjudian/spekulasi dan gharar (ketidak jelasan/samar-samar).62

60Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

61Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.

62Sakinah, ―Investasi Dalam Islam.‖

30 Islam sangat menganjurkan investasi tapi tidak semua bidang usaha diperbolehkan dalam berinvestasi. Aturan- aturan diatas menetapkan batasan-batasan yang halal atau boleh dilakukan dan haram atau tidak boleh dilakukan.

Tujuannya adalah untuk mengendalikan manusia dari kegiatan yang membahayakan masyarakat. Jadi semua kegiatan investasi harus mengacu kepada hukum syariat yang berlaku.63

Investasi tidak boleh disalurkan kepada jenis industri yang melakukan kegiatan haram misalnya pembelian saham pabrik minuman keras, rumah bordil, resto yang menyajikan makanan yang diharamkan dan semua hal yang diharamkan oleh syariah harus ditinggalkan. Semua transaksi yang terjadi harus dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada unsur pemaksaan, tidak ada pihak yang di dzalimi atau mendzalimi, tidak ada unsur riba, tidak ada unsur spekulatif atau judi (maysir). Semua transaksi harus transparan, haram jika ada unsur insider traiding. Inilah beberapa hal yang perlu dipatuhi para investor agar harta yang diinvestasikan mendapatkan berkah dari Allah, bermanfaat bagi orang banyak sehingga dapat dicapai kesjeahteraan di dunia dan juga diakhirat.64

63Abdul Aziz, Manajemen Investasi Syariah (Bandung: Alfabeta, 2010).

64Sakinah, ―Investasi Dalam Islam.‖

31 d. Larangan-Larangan dalam Investasi Syariah

Berdasarkan Fatwa DSN MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 menjelaskan bahwa dalam investasi syariah secara jelas, terdapat 15 tindakan yang dengan jelas dilarang atau diharamkan, yang diantaranya termasuk dengan maysir, gharar, riba, ihtikar, dharar, tadlis, taghrir dan lainnya.65

1. Maysir

Maysir atau spekulasi secara bahasa diartikan sebagai judi, yang secara umum berupa mengundi nasib dimana setiap kegiatannya bersifat untung-untungan (spekulasi).

Maysir dilarang dalam Islam karena sifatnya menguntungkan satu pihak, dan merugikan pihak yang lainnya.66

a. Maysir dalam bentuk permainan

Maysir dalam bentuk permainan ini secara umum diartikan mengundi nasib dan setiap kegiatan yang sifatnya untung-untungan (spekulasi) dari permainan yang diikuti, contoh praktiknya ialah pembelian lotre.67 b. Maysir dalam bentuk taruhan

Maysir dalam bentuk taruhan ini secara umum diartikan mengundi nasib dan setiap kegiatan yang

65Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

66Ar Royyan Ramly, ―Konsep Gharar Dan Maysir Dan Aplikasinya Pada Lembaga Keuangan Islam,‖ Islam Universalia 1, no. 1 (2019): 62–82.

67habiburrahman Habiburrahman, Rudi Arahman, and Siti Lamusiah,

―Transaksi Yang Mengandung Unsur Riba, Maysir, Dan Gharar Dalam Kajian Tindak Tutur,‖ Jurnal Ilmiah Telaah 5, no. 2 (2020): 28–35.

32 sifatnya untung-untungan (spekulasi) dari permainan yang diikuti. Dalam praktiknya di masyarakat ialah dengan mengikuti taruhan kecil-kecilan bahkan mengikuti judi dengan yang nyata.68

2. Gharar

Gharar secara bahasa berarti menipu, memperdaya, ketidakpastian. Adapun gharar bisa ditinjau dalam 3 peristiwa. 69

a. Jual beli ma‘dum, yaitu jual beli barang yang belum berwujud. Contohnya adalah jual beli janin yang masih dalam kandungan.

b. Jual beli barang majhul, yakni jual beli barang yang tidak jelas. Contohnya adalah jual beli mobil tanpa deskripsi.

c. Jual beli barang yang tidak dapat diserahterimakan Contohnya, jual beli ikan yang ada di laut.70

3. Riba

Riba secara bahasa berarti bertambah dan tumbuh.

Adapun riba dibagi menjadi dua jenis, yaitu riba fadl dan riba nasi‘ah.71

68Habiburrahman, dkk, ―Transaksi Yang Mengandung Unsur Riba, Maysir, Dan Gharar Dalam Kajian Tindak Tutur‖.

69Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

70Habiburrahman, Arahman, and Lamusiah, ―Transaksi Yang Mengandung Unsur Riba, Maysir, Dan Gharar Dalam Kajian Tindak Tutur.‖

71Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

33 a. Riba Fadl atau disebut juga riba buyu‘, yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya (mitslan bi mitslin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin).

Pertukaran semisal ini mengandung gharar, yaitu ketidakjelasan bagi kedua pihak akan nilai masing- masing barang yang dipertukarkan.

b. Riba nasî‘ah, yaitu berasal dari kata (nasia) yang berarti menunda menangguhkan, atau menunggu, dan mengarah pada waktu yang diberikan bagi pengutang untuk membayar kembali utang dengan memberikan ―tambahan‖ atau ―premi‖. Karena itu, riba nasî‘ah mengacu kepada bunga dalam utang 4. Batil, yaitu jual beli yang tidak sesuai dengan

rukun dan akadnya (ketentuan asal/pokok dan sifatnya) atau tidak dibenarkan dalamsyariat Islam. 72 5. Bay‘ima‘dum, yaitu melakukan jual beli atas barang

yang belum dimiliki.73

6. Ihtikar atau penimbunan, yaitu membeli barang yang sangat dibutuhkan masyarakat (barang pokok) pada saat harga murah dan menimbunnya dengan

72Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris‖.

73Trisno Wardy Putra, ―Investasi Dalam Ekonomi Islam,‖ Ulumul Syar,i 7, no. 2 (2018): 49–57.

34 tujuan untuk menjual kembali pada saat harganya lebih mahal.74

7. Taghrir, yaitu upaya mempengaruhi orang lain, baik dengan ucapan maupun tindakan yang mengandung kebohongan, agar terdorong untuk melakukan transaksi.75

8. Ghabn, yaitu ketidakseimbangan antara dua barang (objek) yang dipertukarkan dalam suatu akad, baik dari segi kualitas dan kuantitas.76

9. Talaqqial-Rukbhan. yaitu merupakan bagian dari ghabn, jual beli dari atas barang dengan harga jauh dibawah harga pasar karena pihak penjual tidak mengetahui harga tersebut.77

10. Tadlis, yaitu tindakan menyembunyikan kecacatan objek akad yang dilakukan oleh penjual untuk mengelabuhi pembeli seolah-olah objek akad tersebut tidak cacat.78

11. Ghishsh, yaitu merupakan bagian dari tadlis, yaitu penjual menjelaskan atau memaparkan keunggulan

74Moch. Bukhori Muslim, ―Ihtikar Dan Dampaknya Terhadap Dunia Ekonomi,‖ Jurnal Studi Al-Qur’an; 6, no. 1 (2010): 1–14.

75Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam:

Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

76Muslim, ―Ihtikar Dan Dampaknya Terhadap Dunia Ekonomi.‖

77Putra, ―Investasi Dalam Ekonomi Islam.‖

78Muslim, ―Ihtikar Dan Dampaknya Terhadap Dunia Ekonomi.‖

35 atau keistimewaan barang yang dijual serta menyembunyikan kecacatan.79

12. Tanajush/Najsh, yaitu tindakan menawar barang dengan harga yang lebih tinggi oleh pihak yang tidak bermaksud membelinya. Untuk menimbulkan kesan banyak pihak yang berminat membelinya.80 13. Dharar, yaitu tindakan yang dapat menimbulkan

bahaya atau kerugian.81

14. Rishwah, yaitu suatu pemberian yang bertujuan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, membenarkan yangbatil dan menjadikan yang batil sebagai sesuatu yang benar.82

15. Maksiat dan zalim, yaitu perbuatan yang merugikan, mengambil, atau menghalangi hak orang lain yang tidak dibenarkan secara syariah.

Sehingga dapat dianggap sebagai salah satu bentuk penganiayaan.83

79Putra, ―Investasi Dalam Ekonomi Islam.‖

80Putra, ―Investasi Dalam Ekonomi Islam.‖

81Habiburrahman, Arahman, and Lamusiah, ―Transaksi Yang Mengandung Unsur Riba, Maysir, Dan Gharar Dalam Kajian Tindak Tutur.‖

82Putra, ―Investasi Dalam Ekonomi Islam.‖

83 Pardiansyah, ―Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam: Pendekatan Teoritis Dan Empiris.‖

36 Larangan ini juga dengan jelas disebutkan dalam dalil dari ayat Al-Quran dan Hadist.

1. Sumber dari Al-Quran a. QS. Al-Maidah ayat 90

ُباَصََْ ْلْاَو ُزِسْيًَْناَو ُزًَْخْنا اًَََِّإ اىَُُيآ ٍَيِذَّنا اَهُّيَأ ا ََ ي

ْىُكَّهَعَن ُِىُبَُِت ْجاَف ٌِاَطْيَّشنا ِمًََع ٍِْي ٌسْجِر ُو َلَْسَ ْلْاَو ٌَىُحِهْفُت 

90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan- perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

b.

QS. An-Nisa ayat 29, yang artinya berbunyi:

َناَىْيَأ اىُهُكْأَت َلَ اىَُُيآ ٍَيِذَّنا اَهُّيَأ اَي َّلَِإ ِمِطاَبْناِب ْىُكَُْيَب ْىُك

ْىُكُِْي ٍضاَزَت ٍَْع ًةَراَجِت ٌَىُكَت ٌَْأ اىُهُتْقَت َلََو َ

ْىُكَسُفََْأ اًًيِحَر ْىُكِب ٌَاَك َ َّاللَّ ٌَِّإ َ



29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah

37 kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

2. Sumber dari Hadist.

َىَّهَسَو ِّْيَهَع ُ َّاللَّ ىَّهَص ِ َّاللَّ ُلىُسَر ىَهََ

ٍَْعَو ِةاَصَحْنا ِعْيَب ٍَْع

ِرَزَغْنا ِعْيَب

Artinya: ―Rasullulah telah melarang jual beli hasah dan jual beli gharar.‖ (HR. Muslim)84

84 Rudiansyah Rudiansyah, ―Telaah Gharar, Riba, Dan Maisir Dalam Perspektif Transaksi Ekonomi Islam,‖ Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law 2, no. 1 (2020): 98.

38

Dalam dokumen skripsi - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 42-53)

Dokumen terkait