A. Telaah Pustaka
4. Pertumbuhan Batita
23 presisi, akurasi dan validasi pengukuran antropometri, Kesalahan ini sering terjadi karena pengukuran, perubahan vhasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan, analisis dan asumsi yang keliru, Sumber kesalahan biasanya berhubungan dengan latihan petugas yang tidak cukup, kesalahan alat atau alat tidak diterapkan, kesulitan pengukuran (Supariasa dkk, 2016).
b. Penilaian Status Gizi secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu:
survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi.
24 disepakati. Standar yang biasa digunakan adalah kerva persentil. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) kurva pertumbuhan yang digunakan saat ini mengacu pada kurva pertumbuhan WHO. Indikator Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan yang diukur untuk anak usia 0-5 tahun, terdiri atas indikator BB/TB, TB/U, dan lingkar kepala.
Indikator BB/TB dan TB/U bertujuan untuk mengetahui kondisi status gizi anak. Indikator BB/TBB digunakan untuk mengetahui apakah berat badan anak proporsional dengan panjang atau tinggi bbadan yang dimiliki anak, sedangka TB/U digunakan untuk mengetahui status gizii anak apakah anak mengalami stunting. BB/TB menggambarkan kekurusan (tthinness), outcome dari proses ini adalah wasting. Wasting biasanya disebabkan oleh penyakit atau kekurangan gizi yang menyebabkan banyak penurunan berat badan (Prawesti, 2018).
5. Definisi Wasting a. Definisi Wasting
Wasting merupakan bagian dari kekurangan gizi, menurut UNICEF, Wasting adalah kurangnya berat badan terhadap tinggi badan sehingga tubuh anak tersebut tidak proporsional (low weight for height). Wasting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena memiliki dampak yang besar. Wasting dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian anak.
Apabila keadaan kurang gizi pada masa balita terus berlanjut, maka dapat mempengaruhi intellectual per-formance, kapasitas kerja, dan kondisi kesehatannya di usia selanjutnya. Masalah gizi pada anak akan mengganggu proses tumbuh kembang anak, baik secara mental maupun secara fisik, seperti gangguan fisiologis serta metabolisme tubuh yang dapat mengakibatkan
25 kematian, menurunkan kemampuan berfikir, menurunkan sumber daya manusia serta produktivitas kerja dan pada akhirnya masalah gizi dapat mengakibatkan enurunan kualitas bangsa (Susanti et al., 2014).
Wasting pada anak merupakan indikator utama dalam menilai kualitas modal sumber daya manusia di masa mendatang. Wasting dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan peningkatan keparahan, durasi, dan kerentanan terhadap penyakit menular. Selain itu, Wasting pada awal kehidupan anak terutama pada periode dua tahun pertama, dapat menyebabkan kerusakan yang permanen. Pada periode tersebut merupakan fase penting pertumbuhan dan perkembangan anak yang sering disebut sebagai periode “Golden Period”. Apabila keadaan Wasting pada masa balita terus berlanjut, maka dapat mengakibatkan perkembangan kognitif dan kemampuan belajar yang buruk, berkurangnya massa tubuh tidak berlemak, perawakan dewasa yang pendek, terganggunya metabolisme glukosa, dan produktivitas rendah. Selain itu juga, Wasting juga meningkatkankejadian mortalitas tiga sampai sembilan kali lebih tinggi daripada anak yang tidak Wasting (Prawesti, 2018).
b. Etiologi Wasting
Wasting disebabkan oleh asupan nutrisi yang inadekuat dan dapat juga terjadi akibat penyakit infeksi gastrointestinal seperti diare dan infeksi saluran pernapasan merupakan contoh dari penyakit yang dapat mengakibatkan Wasting. Selain itu, infeksi pada mulut dan gigi, efek samping dari obat tertentu, gangguan fungsi usus, hiperaktivitas, perubahan
26 metabolisme, dan gangguan nafsu makan juga memiliki peran tersendiri dalam menimbulkan Wasting.
c. Manifestasi Klinis dan Dampak Wasting
Wasting merupakan ancaman serius pada kelangsungan hidup anak dan perkembangannya. Angka mortalitas pada anak kurus (BB/TB Z-score
<-2) dan anak sangat kurus (BB/TB Z-score <-3) menunjukkan tiga sampai sembilan kali lebih tinggi daripada anak yang tidak kurus. Selanjutnya, anak wasting yang bertahan hidup meningkatkan risiko tumbuh stunting.
Anak-anak yang terkena Wasting memiliki berat badan kurang dibandingkan dengan tinggi badannya. Akibatnya anak dapat mengalami hal- hal seperti berikut:
1) Perlambatan gerak lambung dan penurunan sekresi asam lambung 2) Atrofi dan fibrosis sel asinai pangkreas
3) Penurunan rerata filtrasi glomerulus dan aliran plasma pada ginjal 4) Anemia
5) Trombositopenia
6) Berkurangnya volume jantung 7) Hilangnya otot-otot pernapasan 8) Atrofi mukosa usus halus 9) Penumpukan lemak dalam hati 10) Hipoplasia sel penghasil aritrosit
11) Memudahkan infeksi tuberkulosis, bronkitis, atau pneumonia 12) Penurunan daya eksporasi terhadap lingkungan
13) Peningkatan frekuensi menangis
27 14) Penurunan interaksi dengan sesamanya
15) Kurangnya perasaan gembira 16) Cenderung menjadi apatis 17) Gangguan kognitif
18) Gangguan prestasi belajar 19) Gangguan tingkah laku
20) Meningkatkan risiko kematian d. Penanganan Wasting
Karena Wasting merupakan salah satu masalah gizi yang cukup serius dan dapat berdampak kematian, diperlukan penanganan yang cukup serius terhadap masalah ini. Langkah penanganan yang dapat dilakukan adalah :
1) Pemantauan berat badan dengan Kartu Menuju Sehat 2) Penyediaan pelayanan konseling gizi
3) Pemberian makanan tambahan (suplemen) selain ASI 4) Pemberian vaksin
5) Pengadaan rehabilitas dengan cara penyediaan makanan padat energi dan pemberian makanan tambahan (suplemen) seperti kacang-kacangan dan produk yang berasal dari hewan (Pramudya, dkk. 2012)
28 B. Kerangka Teori Dan Konsep
1. Kerangka Teori
Gambar 1. Model Konseptual UNICEF Tentang Determinan Kekurangan Gizi Anak (Wasting, Stunting, Dan Underweight)
Sumber : Unicef’s Approach To Scraling Up Nutrition Tahun 2013.
DAMPAK JANGKA PANJANG:
Tinggi badan saat dewasa, kemampuan kognitif, produktivitas, ekonomi, kesehatan reproduksi, penyakit tidak menular
Konsekuensi Lintas Generasi
DAMPAK JANGKA PENDEK : Morbiditas, Mortalitas, Disabilitas
KEKURANGAN GIZI ANAK (WASTING, STUNTING,
UNDERWEIGHT)
Penyakit terutama Penyakit Infeksi Asupan Makanan
Pelayanan Kesehatan &
Kesehatan Lingkungan Pola Asuh
Pemberian ASI Ketersediaan Pangan
Keluarga PENYEBAB
LANGSUNG
Kemiskinan, Karakteristik Keluarga, Sosiodemografi PENYEBAB
TIDAK LANGSUNG
MASALAH UTAMA
Krisis Politik dan Ekonomi MASALAH
DASAR
29 2. Kerangka Konsep
Gambar 2. Kerangka Konsep