DAFTAR PUSTAKA
4.3 Pola Pemasaran dan Distribusi
Tahun 2014 produksi rumput laut Indonesia ditargetkan dapat mencapai 10 juta ton rumput laut basah atau sekitar satu juta ton rumput laut kering. Data KKP (2015) capaian target produksi tahun 2014 melebihi dari yang sudah ditargetkan, yaitu 10,2 juta ton.
Capaian produksi ini merupakan berkat upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendukung peningkatan produksi melalui pembinaan secara berkala kepada masyarakat dalam hal berbudidaya rumput laut. Pada tahun 2015, produksi rumput laut ditargetkan mencapai 10,6 juta ton atau hampir 59,2% dari total produksi budidaya perikanan yang ditargetkan di tahun 2015 sebesar 17,9 juta (Ditjen Perikanan dan Budidaya-KKP, 2015).
tiga pola pemasaran. Pola pertama, Petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (desa) kemudian dijual lagi ke pedagang besar (kabupaten) dan dari pedagang besar di kabupaten dijual untuk ekspor (ke Surabaya). Pola kedua, petani rumput laut menjual ke pedagang besar yang eksportir dan pola ketiga, petani menjual ke pedagang pengumpul (desa) dengan konsumen akhir yaitu pabrik pengolahan.
Dari ketiga saluran pola pemasaran ini, sekitar 90% petani memilih pola pemasaran pertama karena dengan pedagang desa sebagai perpanjangan tangan petani ke pedagang besar di Kabupaten.
Namun, tidak sering petani langsung menjual ke pedagang besar untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi dengan memotong pedagang pengumpul di desa.
Gambar 4.2 Jalur Pemasaran Rumput Laut di Sulawesi Tengah.
Sumber: Hasil Survei Puska Dagri (2012)
Sulawesi Selatan
Pola pemasaran rumput laut di Sulawesi Selatan sedikit berbeda dengan di Sulawesi Tengah. Saluran pemasaran rumput laut yang ada di Sulawesi Selatan umumnya melalui beberapa lembaga dalam memasarkan rumput laut dari petani ke eksportir dan pabrik olahan (Survei Puska Dagri, 2012). Pelaku yang berperan dalam pemasaran tersebut diantaranya petani/produsen rumput laut, pedagang pengumpul, pedagang besar, eksportir dan pabrik pengolahan.
Petani (Rumput Laut)
Pedagang Pengumpul
(Desa)
Pabrik
Pengolahan Ekspor
Pedagang Besar (Kabupaten)
Pola pemasaran rumput laut dari petani sampai eksportir dan atau pabrik dilakukan melalui empat pola. Pola pertama, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul desa yang kemudian melalui pengumpul desa rumput laut langsung di ekspor. Pola kedua, petani rumput laut menjual rumput laut ke pedagang pengumpul desa yang kemudian langsung menjual ke pabrik pengolahan. Pola ketiga, petani menjual rumput laut ke pedagang pengumpul (kecamatan) kemudian ke pedagang pengumpul desa dari pedagang pengumpul desa kemudian langsung ekspor. Dan pola keempat, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (kecamatan) kemudian ke pedagang pengumpul (desa) terus ke pabrik pengolahan. Secara umum, rumput laut yang berasal dari Sulawesi Selatan hampir 50% untuk tujuan ekspor. Adapun saluran distribusi atau penyaluran rumput laut dapat dilihat pada Gambar 4.3
Gambar 4.3 Jalur Pemasaran Rumput Laut di Sulawesi Selatan.
Sumber: Hasil Survei Puska Dagri (2012)
Maluku
Pemasaran rumput laut di Maluku lebih banyak dipasarkan untuk pasokan antar pulau dan ekspor. Industri pengolahan yang berbahan baku rumput laut di daerah Maluku masih relatif kecil sehingga produksi rumput laut lebih sering diperjualbelikan ke luar wilayah. Pola pemasaran rumput laut dari petani sampai pedagang antar pulau dan atau eksportir dilakukan melalui dua pola. Pola pertama, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul desa. Rumput laut sampai di
Pedagang Pengumpul
(Desa)
Pedagang Pengumpul (Kec. Petani) Petani
(Rumput Laut)
Ekspor Pabrik
Pengolahan
pedagang pada perdagangan antar pulau dilakukan melalui pedagang pengumpul (kecamatan). Pola kedua, petani rumput laut menjual hingga ke eksportir (yang berasal dari Surabaya) melalui pedagang pengumpul (kecamatan) yang terlebih dahulu dijual ke pedagang pengumpul (desa). Adapun saluran distribusi atau penyaluran rumput laut di Maluku dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Jalur Pemasaran Rumput Laut di Maluku.
Sumber: Hasil Survei Puska Dagri (2012)
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Pemasaran rumput laut di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) terbagi dalam tiga jenis pola pemasaran dengan tujuan konsumen akhir yaitu eksportir dan industri pengolahan di dalam negeri. Masing-masing pola pemasaran mempunyai karakteristik sendiri. Pola pertama, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (desa) ke pedagang besar (provinsi) ke eksportir (dari Surabaya). Pola kedua, petani- pedagang pengumpul (desa)-pedagang pengumpul provinsi-pabrik pengolahan (Mataram). Pola ketiga, petani-pedagang pengumpul (desa)-pabrik pengolahan (Mataram). Dari ketiga saluran pemasaran yang paling umum digunakan adalah saluran pertama, yaitu 80%
rumput laut didistribusikan melalui pola pemasaran tersebut. Pola pemasaran pertama dipilih karena volume rumput laut yang diserap lebih banyak dan pembayaran dilakukan secara tunai. Berbeda dengan saluran pemasaran yang menjual ke pabrik pengolahan, umumnya
Pedagang Pengumpul
(Kec) Petani
(Rumput Laut)
Pedagang Pengumpul
(Desa)
Ekspor Perdagangan
Antar Pulau
pembayaran dilakukan dengan tempo dan penentuan kualitas yang cenderung tidak transparan (Hasil Survei Puska Dagri, 2012). Adapun saluran distribusi atau penyaluran rumput laut dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Namun demikian, untuk kasus di wilayah lain pembelian dari eksportir tidak sepenuhnya juga dibayar secara tunai. Jika pembayaran tidak dilakukan secara tunai maka peran asosiasi penting untuk membantu petani, khususnya dalam pembelian. Disisi lain, industri pengolahan di dalam negeri sebenarnya memiliki peran dalam menyelamatkan berlebihnya rumput laut di dalam negeri karena industri masih dapat membeli rumput laut dengan harga yang tinggi dikala harga di tingkat petani turun.
Gambar 4.5 Jalur Pemasaran Rumput Laut di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sumber: Hasil Survei Puska Dagri (2012)
Pola pemasaran akan berjalan efisien bilamana tiap-tiap pelaku pemasaran memiliki fungsi-fungsi pemasaran dalam rangka menyampaikan komoditi rumput laut dari petani/produsen hingga ke konsumen. Fungsi-fungsi pemasaran yang umumnya dilakukan oleh setiap pelaku pemasaran dari gambaran empat pola pemasaran di empat wilayah sentra produksi rumput laut, sebagai berikut:
Petani (Rumput Laut)
Pedagang Pengumpul
(Desa)
Pedagang Pengumpul
(Kec)
Ekspor Perdagangan
Antar Pulau Perdagangan
Antar Pulau
Tabel 4.3 Fungsi-Fungsi Pemasaran dalam Komoditi Rumput Laut
Sumber: Hasil Survei Puska Dagri (2012) dan sumber lainnya
Secara teori, saluran pemasaran dapat dibedakan menurut jumlah tingkatannya. Kotler (1997) menjelaskan bentuk-bentuk saluran pemasaran yang umum digunakan, antara lain: (i) saluran nol tingkat (saluran pemasaran langsung), yang terdiri dari seorang produsen yang langsung menjual ke konsumen akhir; (ii) saluran satu tingkat terdiri dari satu perantara penjualan; (iii) saluran dua tingkat, terdiri dari dua perantara, biasanya adalah pedagang besar dan pedagang eceran; dan (iv) saluran tiga tingkat, terdiri dari tiga perantara, yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang eceran.
Saluran pemasaran dengan tingkat yang lebih tinggi juga dapat ditemukan tetapi jarang terjadi. Setiap saluran pemasaran memiliki peran yang jelas sehingga pemasaran berjalan efektif. Banyaknya tingkat pada saluran pemasaran akan menentukan besarnya biaya pemasaran.Saluran pemasaran yang lebih banyak akan menentukan biaya pemasaran juga lebih besar karena fungsi pemasaran yang dikerjakan lebih banyak.
Berdasarkan pengelompokkan jenis saluran pemasaran yang dijelaskan oleh Kotler (1997), pola pemasaran di Sulawesi tengah termasuk saluran satu tingkat untuk memasarkan rumput laut dari produsen sampai ke pabrik pengolahan. Namun, untuk pola pemasaran dari petani sampai ke eksportir merupakan dua tingkat yang terdiri dari pedagang pengumpul (desa) dan pedagang besar. Pola pemasaran dari petani sampai ke eksportir dan pabrik olahan di Sulawesi Selatan dilakukan dengan satu dan dua tingkat saluran pemasaran.
Fungsi Dalam Pemasaran
Petani Pedagang
Pengumpul Pedagang
Besar Pabrik
Pengolahan Eksportir
Pelaku Pemasaran
A. Fungsi Pertukaran
1. Pembelian v v v v
2. Penjualan v v v v
B. Fungsi Penyedia Fisik
1. Pengumpulan v v v
2. Pengemasan v v v v
3. Penyimpanan v v v v
4. Pemilihan (Sortasi) V V V
5. Pengangkutan v v v
C. Fungsi Penyedia Fasilitas
1. Informasi Harga/Pasar v v v v v
2. Penyedia Dana v
Sementara pola pemasaran di Maluku menggunakan dua tingkat saluran pemasaran dari petani dengan dua perantara penjual untuk sampai ke eksportir dan perdagangan antar pulau. Saluran pemasaran di NTB terdapat dua jalur yaitu saluran satu tingkat (dari petani dengan satu perantara hingga ke perdagangan antara pulau) dan saluran dua tingkat untuk memasarkan rumput laut dari petani hingga ke eksportir dan perdagangan antara pulau. Lebih lanjut Mahatama dan Farid (2013) menyatakan bahwa saluran pemasaran yang paling efisien baik secara teknis maupun ekonomis yaitu saluran pemasaran rumput laut dari petani ke pedagang pengumpul kemudian ke eksportir.