• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isi BRIK Rumput Laut

N/A
N/A
Erry Setiawan

Academic year: 2025

Membagikan "Isi BRIK Rumput Laut"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

Dalam Bab II diuraikan mengenai aspek produksi rumput laut, yang dimulai dari sejarah rumput laut di Indonesia.

RUMPUT LAUT, KOMODITAS POTENSIAL YANG BELUM TERMANFAATKAN

Beberapa Alasan Mengapa Rumput Laut merupakan Komoditas Potensial bagi Ekspor Indonesia

Harga jual rumput laut yang cukup tinggi juga merupakan salah satu faktor pendorong untuk budidaya rumput laut2. Rumput laut umumnya diperdagangkan dalam bentuk: (1) rumput laut kering, (2) produk yang dapat langsung dikonsumsi, dan (3) produk hidrokoloid (karaginan, agar-agar, dan alginat).

Produktivitas Rumput Laut di Indonesia yang Masih Relatif Rendah

Selama periode tersebut baik dari segi nilai maupun volume ekspor, rumput laut Indonesia juga terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan nilai ekspor yang mencapai 14,04%. Beberapa faktor yang diduga berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas ini adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha di bidang rumput laut serta rendahnya dukungan pemerintah terkait dengan infrastruktur dan kebijakan (Wahyudin, 2013).

Industri Rumput Laut yang Kurang Berkembang

Berbagai informasi penting tersebut selanjutnya dikupas secara lebih mendalam dalam Info Komoditi Rumput Laut ini. Nilai Sosial Ekonomi Rumput Laut: Studi Kasus Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

PRODUKSI RUMPUT LAUT INDONESIA

  • Peran Budidaya dalam Produksi Rumput Laut Dunia
  • Peran dan Produksi Indonesia .1 Sejarah Rumput Laut Indonesia
    • Kontribusi Rumput laut Indonesia di Pasar Dunia
    • Produksi Indonesia
  • Budidaya dan Produktivitas .1 Metode Budidaya
    • Perbandingan Metode Budidaya dengan Negara Lainnya Terdapat dua metode budidaya rumput laut yang sering digunakan
    • Perbandingan Produktivitas Rumput Laut Indonesia dan Negara Lainnya
  • Proses Produksi Rumput Laut Kering
  • Kebijakan dalam Produksi Rumput Laut Kering
  • Kebutuhan Investasi Rumput Laut
  • Penutup

Turunnya produksi rumput laut di Provinsi Maluku disebabkan oleh adanya penyakit rumput laut (Puska Dagri, 2013). Neish (2013), seperti yang dikutip oleh Valderrama, et al (2015) menghitung nilai investasi penanaman rumput laut di Indonesia.

KONSUMSI DAN PENGOLAHAN RUMPUT LAUT

  • Pengolahan Rumput Laut
  • Pemanfaatan Rumput Laut di Indonesia
  • Kebutuhan Karaginan dan Agar-Agar Dunia
  • Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Karaginan dan Agar–Agar
  • Penutup

Rumput laut dapat mengurangi fosfor dan nitrogen konten (seperti amonium) dari pembuangan limbah perawatan dan pertanian. Selain diekstraksi dalam bentuk karaginan, rumput laut juga dapat diekstraksi menjadi bentuk agar–agar yang kemudian menjadi bahan baku produk tepung agar. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan pemanfaatan rumput laut di negara lainnya (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014).

Sementara itu, Tabel 3.6 menunjukkan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk memulai investasi usaha pengolahan rumput laut kering menjadi agar–agar dengan kapasitas 12,5 ton/hari.

DAFTAR PUSTAKA

Pendahuluan

Indonesia sebagai negara bahari memiliki sumber daya laut yang sangat kaya, salah satunya yaitu rumput laut. Pemasaran rumput laut kering sudah cukup meluas tidak hanya pasar dalam negeri tetapi juga pasar luar negeri (ekspor) (KKP, 2014). Kecilnya penyerapan rumput laut di dalam negeri, dikarenakan (1) harga ekspor lebih menguntungkan, khususnya ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) serta (2) masih tingginya biaya logistik.

Disamping itu, kebijakan rumput laut di dalam negeri yang belum sepenuhnya komprehensif dan operasional sehingga penyerapan rumput laut kering di dalam negeri masih relatif kecil yaitu hanya 35,69% (ASTRULI dan KKP, 2014).

Struktur dan Serapan Pasar Dalam Negeri

Kecilnya serapan pasar dalam negeri untuk rumput laut kering dikarenakan harga yang masih relatif mahal7 dibandingkan rumput laut impor terutama yang berasal dari RRT. Masih terbatasnya produk turunan rumput laut di Indonesia dibandingkan negara lain seperti RRT dan Eropa dikarenakan (i) bahan baku yang mahal serta (ii) teknologi melalui penelitian dan pengembangan masih relatif terbatas. Kondisi ini menyebabkan produk hasil industri rumput laut Indonesia menjadi kurang bersaing dengan produk hasil industri dari RRT.

Industri rumput laut Indonesia masih bersaing kuat dengan produk RRT karena pengembangan industri rumput laut di Indonesia masih memiliki beberapa hambatan yang menyebabkan harga kurang bersaing serta kualitas.

Pola Pemasaran dan Distribusi

Pola pertama, Petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (desa) kemudian dijual lagi ke pedagang besar (kabupaten) dan dari pedagang besar di kabupaten dijual untuk ekspor (ke Surabaya). Dan pola keempat, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (kecamatan) kemudian ke pedagang pengumpul (desa) terus ke pabrik pengolahan. Pola kedua, petani rumput laut menjual hingga ke eksportir (yang berasal dari Surabaya) melalui pedagang pengumpul (kecamatan) yang terlebih dahulu dijual ke pedagang pengumpul (desa).

Pola pertama, petani rumput laut menjual ke pedagang pengumpul (desa) ke pedagang besar (provinsi) ke eksportir (dari Surabaya).

Biaya dan Margin Pemasaran Rumput Laut

Saluran pemasaran di NTB terdapat dua jalur yaitu saluran satu tingkat (dari petani dengan satu perantara hingga ke perdagangan antara pulau) dan saluran dua tingkat untuk memasarkan rumput laut dari petani hingga ke eksportir dan perdagangan antara pulau. Lebih lanjut Mahatama dan Farid (2013) menyatakan bahwa saluran pemasaran yang paling efisien baik secara teknis maupun ekonomis yaitu saluran pemasaran rumput laut dari petani ke pedagang pengumpul kemudian ke eksportir. Pada Tabel 4.4 biaya pemasaran rumput laut untuk pola I dan III relatif kecil karena pada pola ini rumput laut di ekspor pada kondisi bahan mentah.

Secara rinci estimasi margin pemasaran rumput laut dari petani hingga ke konsumen (pabrik pengolahan dalam negeri dan eksportir disajikan pada Tabel 4.5.

Biaya Distribusi

Secara umum, pemasaran dalam komoditi rumput laut cukup memberikan penerimaan pada sisi petani yang besar. Hasil survey Puska Dagri (2012) menggambarkan bahwa petani mendapat penerimaan dari perdagangan dalam negeri rumput laut sekitar 63- 65% di tingkat pabrik/industri pengolahan dan 70-71% ditingkat eksportir. Untuk bahan baku rumput laut kering, permasalahan yang dihadapi industri adalah tingginya biaya logistik di dalam negeri dari sentra produksi yang umumnya diambil dari Makassar.

Biaya logistik rumput laut kering dari Makassar-Merak mencapai Rp 11 juta per kontainer ukuran 20 feet.

Perkembangan Harga Rumput Laut

Kandungan air dari rumput lautmasih cukup banyak, yang juga mempengaruhi harga jual dari rumput laut yang dihasilkan para petani. Selain itu, stabilitas harga rumput laut di dalam negeri juga dipengaruhi oleh pangsa pasar rumput laut Indonesia yang mulai menurun. Akan tetapi harga hasil olahan rumput laut seperti ATC, Semi Refined Carrageenan, Refined Carrageenan (RC) dan tepung agar cukup tinggi di pasar dalam negeri.

Selain disebabkan aspek teknis dan ekonomis, aspek regulasi juga menjadi salah satu penyebab belum dapat terimplementasinya Sistem Resi Gudang untuk komoditas rumput laut.

Penutup

Harga rumput laut tergantung pada jenis dan musim panen.Mengingat permintaan rumput laut tidakhanya memenuhi kebutuhan industri pengolahan tetapi juga untuk tujuan ekspor maka harga menjadi indikator. Pasar industri pengolahan rumput laut di dalam negeri yang cukup berkembang yaitu agar-agar dan karaginan. Kedepan perlu kebijakan yang lebih implementatif dan komprehensif dalam meningkatkan penerimaan petani dan kebijakan untuk pengembangan industri pengolahan rumput laut di dalam negeri.

Dengan potensi produksi serta pasar dalam negeri yang cukup prospektif, maka industri rumput laut di dalam negeri dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

Pendahuluan

Dinamika Harga Rumput Laut di Pasar Dunia

Harga Eucheuma cottonii tahun 2014 Gambar 5.1 jika dikonversi ke mata uang Rupiah menjadi sekitar Rp 17.000/kg, sementara harga normal Eucheuma cottonii di dalam negeri hanya berkisar Rp 10.000/. Perbedaan harga yang sangat signifikan tersebut menyebabkan pengusaha rumput laut lebih memilih untuk menjual produknya ke luar negeri daripada menjual ke industri dalam negeri.

Perkembangan Ekspor-Impor (Nilai dan Volume, Rumput Laut dan Olahannya)

Sepuluh negara tujuan ekspor rumput laut memberikan kontribusi lebih dari 97% terhadap total ekspor rumput laut nasional tahun 2014 (Tabel 5.3). Apabila dilihat dari pangsa dan tren selama periode rumput laut dengan kode HS yang mendominasi ekspor rumput laut Indonesia. Sementara pertumbuhan ekspor rumput laut tersebut ke RRT mengalami peningkatan lebih dari 19% per tahun pada periode 2010-2014.

Sepuluh negara asal impor rumput laut memberikan kontribusi lebih dari 84,7% terhadap total impor rumput laut tahun 2014 (Tabel 5.6).

Peta Perdagangan Internasional

Demikian juga dengan pertumbuhan impor rumput laut dunia HS 121220 juga mengalami penurunan, dimana selama periode 2010 hingga 2013 turun 73,7% per tahun (Tabel 5.9). RRT sebagai pengimpor utama rumput laut jenis ini dengan pangsa pasar hampir 50% dari total impor dunia. Sementara itu, Jepang sebagai negara pengimpor rumput laut HS 121221 terbesar kedua dengan pangsa 14% di tahun 2013, mengalami tren pertumbuhan impor yang menurun pada periode 2012-2014 yaitu sebesar 7,24%.

Sementara itu permintaan Inggris untuk rumput laut jenis tersebut meningkat tajam dengan tren pertumbuhan 138% per tahun di periode Tabel 5.13).

Daya Saing Rumput Laut Indonesia

Jerman merupakan negara pengimpor utama dengan pangsa tahun 2014 mencapai 14% lebih dan pertumbuhan rata-rata per tahun naik 13,9% selama periode 2010-2014. Skor Trade Intensity Index (TII) produk rumput laut Indonesia HS 121221 di Spanyol sangat tinggi.Hal ini menunjukkan daya saing ekspor rumput laut Indonesia di Spanyol sangat baik. Demikian juga dengan ekspor rumput laut ke negara Chili, RRT dan Vietnam cukup baik, yakni dengan indeks TII melebihi 100.

Sementara ekspor rumput laut Indonesia ke Korea Selatan masih mengalami daya saing yang cukup rendah (Tabel 5.18).

Permasalahan Terkait Daya Saing Ekspor Rumput Laut Indonesia

Sementara dalam penelitian Mahatama dan Farid (2013) disebutkan bahwa tidak ada kebijakan input dari pemerintah yang dapat memacu peningkatan produksi petani budidaya rumput laut. Sedangkan menurut Setyaningsih (2011) strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan usaha rumput laut adalah pemberdayaan anggota dan kelompok usaha untuk meningkatkan usahanya, memperluas lahan usaha budidaya, dan meningkatkan keterampilan teknis budidaya rumput laut untuk meningkatkan mutu produk rumput laut.

Penutup

Kelayakan Usaha Budi Daya Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii dengan Metode Longline dan Strategi Pengembangannya Di Perairan Karimunjawa.

PELUANG DAN TANTANGAN RUMPUT LAUT DI INDONESIA

  • Dinamika Produksi dan Perdagangan Rumput Laut Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rumput laut
  • Dinamika Produksi dan Perdagangan Rumput Laut di Dunia Internasional
  • Kebijakan Pemerintah
    • Konsep Kawasan Minapolitan
    • Kegiatan Foreign Buyer Mission
    • Bea Keluar Rumput Laut
    • Wacana Pelarangan Ekspor Rumput Laut Mentah
    • Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI)
    • Surat Kesepakatan Bersama 5 Kementerian
    • Roadmap Rumput Laut Indonesia
    • Sistem Resi Gudang
  • Strategi Mengatasi Hambatan dan Meraih Peluang
  • Penutup

Rumput laut jenis karaginan mempunyai produk turunan berupa Refined Carrageenan (RC), Semi Refined Carrageenan (SRC), dan Alkali Treated Chips (ATC). Namun, keterbatasan teknologi di dalam negeri membuat produk rumput laut Indonesia memiliki nilai tambah yang rendah (Republika Online, 2015a). Sementara menurut data kedua yang dikeluarkan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) sebanyak 350 ribu ton per tahun.

Indonesia juga perlu memiliki roadmap yang jelas mengenai arah pengembangan rumput laut nasional ke depan.

PERBAIKAN PRODUKSI DAN PENGOLAHAN, KUNCI RUMPUT LAUT INDONESIA AGAR

BERDAYA SAING

Kompleknya Permasalahan dalam Produksi dan Pengolahan Rumput laut

Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menilai rendahnya penggunaan/konsumsi rumput laut lokal oleh industri nasional masih sangat rendah karena adanya kendala pasokan di pasar dalam negeri (Direktorat Jendral Industri Agro, Kementerian Perindustrian, 2015). Produsen pengolah rumput laut dihadapkan pada terbatasnya dan relatif mahalnya rumput laut produksi dalam negeri. Sebagian besar rumput laut kering masih dijual untuk memenuhi pasar ekspor (seperti diuraikan dalam Bab IV).

Jumlah industri pengolahan rumput laut di Indonesia sebanyak tujuh perusahaan (industri agar) dan industri karaginan 12 perusahaan di tahun 2014 (dalam Bab IV).

Perlunya Dukungan Kebijakan Pemerintah dalam Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut

Zamroni memperoleh gelar S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya; Gelar S2 diperoleh dari Massey University, New Zealand untuk bidang perdagangan internasional, tahun 2003; dan Gelar PhD diperoleh dari the Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University, Jepang tahun 2009 dalam bidang international economic and development. Aktif sebagai anggota Dewan Editor di beberapa jurnal ilmiah seperti: Indonesia Economic and Business Studies (RIEBS), dan Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP)-Kementerian Perdagangan. Ernawati memulai karir profesionalnya sebagai Konsultan sejak tahun 2006, ketika bergabung dengan Proyek Bantuan Perdagangan Indonesia (ITAP) di bawah naungan USAID, sebagai ahli di bidang Ekonomi Perdagangan.

Sejak itu penulis bekerja sebagai konsultan di berbagai proyek yang dibiayai oleh organisasi internasional seperti Bank Dunia, AusAid, USAID, dan Uni Eropa.

BIOGRAFI SINGKAT PENULIS

Muhammad Fawaiq adalah peneliti pada Pusat Kebijakan Kerjasama Perdagangan Internasional, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP), Kementerian Perdagangan sejak tahun 2010. Ratna Anita Carolina adalah peneliti pada Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP), Kementerian Perdagangan sejak tahun 2009. Yati Nuryati adalah peneliti pada Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP), Kementerian Perdagangan sejak tahun 2006.

Hasni adalah peneliti pada Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP), Kementerian Perdagangan sejak tahun 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Rumput laut yang lemah akan mudah terserang bakteri patogen penyebab utama penyakit ice-ice sehingga produksi rumput laut akan menurun. Infeksi bakteri terjadi

lingkungan sehingga produksi rumput laut tidak menentu. Dalam upaya memaksimalkan produksi rumput laut maka diperlukan suatu kajian dari aspek ekologis untuk kesesuaian

lingkungan sehingga produksi rumput laut tidak menentu. Dalam upaya memaksimalkan produksi rumput laut maka diperlukan suatu kajian dari aspek ekologis untuk kesesuaian

Biaya sarana produksi dalam kegiatan usahatani rumput laut ini adalah bibit dimana jumlah bibit yang digunakan oleh petani rumput laut rata-rata sebanyak 540 Kg/LLG atau 429

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui potensi budidaya rumput laut, jumlah produksi rumput laut, karakteristik jenis rumput laut yang

Mengingat bahan baku utama Rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii, maka jumlah produksi rumput laut yang dapat disuplai Industri tepung Semi refined carrageenan

Rumput laut yang dibudidayakan petani di Desa Minasa Upa Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros adalah jenis rumput laut (Gracillaria sp) bibit rumput laut diperoleh dari

Modul dengan judul Pengolahan Rumput Laut ini berisi uraian mengenai cara pengolahan selai rumput laut, nata rumput laut, dodol rumput laut dan permen rumput laut. Modul ini