PELEMBAGAAN KAIDAH KEADILAN SAHABAT
B. Motivasi Pelembagaan Kaidah Keadilan Sahabat
1. Politik
Kaidah adâlah al-shahâbah dan Ahl al-Sunnah merupakan kaidah dan aliran keagamaan yang tidak bisa dipisahkan, karena
ahli hadits inilah yang membela dan menegakan kaidah bahwa seluruh sahabat ‘adil dan tidak perlu diteliti. Namun begitu, analisis kondisi sosial dan politik tidak bisa dilepaskan dalam melihat perkembangan Ahl al-Sunnah.
Sebagaimana telah dijelaskan pada pada awal bab ini, bahwa kaum Mu’tazilah dapat berkembang, tumbuh subur, dan kokoh ketika lembaga negara (khalîfah), turut campur dalam menegakkan ajaran ini. Demikian juga dengan paham Sunni, ketika al-Muttawakil, salah seorang khalifah Bani ‘Abassiyah berkuasa, maka para ahli hadits pun segera mendapatkan perhatian dan tempat pada kekuasaan. Ahmad b. Hanbal, yang mendapatkan gelar ra’îs al- muhadditsîn, mendapatkan momentumnya pada saat al-Mutawakil mengambil alih kekuasaan dan mendapatkan dukungan yang luas dari kalangan mayoritas umat Islam saat itu. Salah satu contoh dukungan politik yang kuat terhadap paham Sunni adalah perburuhan al-Mutawakil terhadap tokoh-tokoh Mu’tazilah.
Muhammad b. ‘Abd al-Mâlik al-Zayyât, mantan perdana menteri pada masa pemerintahan al-Wathiq ditangkap dan dihukum mati atas tuduhan ahli bid’ah dan menganut paham I’tizâl. Harta benda dan seluruh keluarganya disita.44
Di Mesir, al-Mutawakil memerintahkan Gubernur Mesir untuk mencukur hakim tertinggi (qâdî qudhah) Mesir, Abû Bakr Muhammad b. al-Layth, karena sang qâdî ini telah melakukan penyiksaan pada masa pelaksanaan al-mihnah kemudian sang qâdî dijatuhi hukuman cambuk, mengaraknya keliling kota di atas keledai. Jabatannya kemudian digantikan oleh al-Harîts b. al-Musakin.45
Selanjutnya al-Mutawakil memerintahkan untuk menghentikan berbagai diskusi dan dialog, menghentikan seluruh kegiatan yang
44Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat ‘Abasiyyah II (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), 12.
Lihat juga Muhyi al-Dîn al-Khayat, Târîkh al-Islâm, Vol. III, 66.
45Ibid., 25.
biasa berlangsung pada masa al-Mu’tashim dan al-Wathiq, serta memerintahkan orang supaya taslîm dan taqlîd. Selain itu, al- Mutawakil memerintahkan para ahli hadits supaya memperbanyak hadits dan supaya aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah kelihatan menonjol.46
Terhadap kaum Syi’ah, al-Mutawakil juga bertindak tegas.
Pada tahu 236 H, al-Mutawakil mengeluarkan maklumat mengenai sekte Syi’ah. Maklumat itu memerintahkan penghancuran dan pemerataan seluruh bangunan monumen yang sangat dimuliakan kaum Syi’ah dan menjadi tempat ziarah mereka. Monumen yang dihancurkan tersebut termasuk bangunan monumen di Karbala yang merupakan perlambang makam al-Husein b. ‘Ali yang gugur tahun 61 H pada masa pemerintahan Yazîd b. Mu’âwiyah. Bangunan yang indah dan megah beserta rumah-rumah di sekitar Karbala dihancurkan dan diratakan kemudian dibajak dan ditanami, selanjutnya dilarang untuk diziarahi. Dekrit ini mendapatkan reaksi keras dari kamu Syi’ah. Sungguhpun demikian, al-Mutawakil menghadapi tantangan ini dengan kekerasan.
Gerakan Sunni pada akhirnya ditunggangi oleh ambisi-ambisi pribadi ataupun dendam terhadap masa sebelumnya, sehingga apa yang terjadi pada gerakan Sunni lebih dahsyat dari pada yang terjadi pada masa al-mihnah.
Pada masa berikutnya, sarana-sarana lembaga negara juga digunakan ahli hadits untuk mengokohkan ajaran-ajaran agamanya.
Khalifah al-Qadir (991-1031M) misalnya, memproklamasikan Hanbalisme sebagai mazhab resmi. Dalam salah satu pidatonya, al-Qadir mengharamkan paham kemakhlukan Al-Qur’an.
Kampanye kaum Sunni ini juga dilakukan untuk menghambat laju gerakan kaum Syi’ah. Al-Qadir juga mengharamkan sejumlah
46Ibid.
penafsiran Al-Qur’an secara alegoris. Al-Qadir juga membantu kaum Sunni untuk menyelenggarakan hari-hari besar mereka sebagai tandingan kaum Syi’ah. Al-Qa’im, sebagai pengganti al- Qadir, juga meneruskan upaya-upaya mendefinisikan ortodoksi Islam dalam term mazhab Hanbali dan memobilisasi dukungan masyarakat umum untuk mempertahankan supremasi khalifah dalam urusan keagamaan dan politik. Sebagai reaksi terhadap Syi’ah, kebangkitan Sunni abad XIX bukan hanya dengan mendefinisikan ortodoksi Islam, melainkan juga mempertahankan khalifah sebagai pemimpin umat Islam.47
Selanjutnya, dalam sejarah Islam di Timur Tengah, walaupun ada dinasti yang dikuasai Syi’ah, yaitu antara lain Dinasti Buwaihi (Syi’ah Zaidiyah berdiri pada 334 H/945 M), Dinasti Dailamiyah (juga Syiah Zaidiyah, berdiri pada 315 H/927 M), Hamdaniyah (berdiri pada 317 H/1004 M), dan Fatimiyyah (pecahan Syi’ah Isma’iliyah, berdiri pada 297 H/900 M), namun dinasti-dinasti tersebut tidak pernah mencoba untuk menumbangkan kekuasaan Sunni yang dikuasai Bani Abbasiyah di Bagdad. Dinasti-dinasti ini, meski cukup gencar mengembangkan paham Syi’ah, namun mereka tetap memberikan kebebasan kepada warga Sunni untuk tetap dalam kesunnian mereka. Begitu juga ketika dinasti-dinasti Sunni berkuasa, seperti Dinasti Saljuk (berdiri 429 H/1037 M) dan Dinasti Ayyubiyah (berdiri 564 H/1169 M), kaum Syiah tetap hidup dalam kesyi’ahannya. Bahkan, penguasa-penguasa Sunni sering bekerja sama dengan otoritas Syi’ah moderat untuk mencegah pertumbuhan kelompok-kelompok Syiah ekstrem, termasuk Syi’ah Qaramithah.48
Pertarungan ideologi politik Sunni-Syi’ah, menurut Azyumardi Azra, baru muncul sejak Dinasti Safawi berkuasa di
47Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, bagian Kesatu dan kedua, 24.
48Muhyi al-Dîn al-Khayat, Târîkh al-Islâm, Vol. V, 62.
Persia (907-1501 H/1145-1732 M). Syeikh Ismail, pendiri Dinasti Safawi, memproklamasikan paham keagamaan Syiah sebagai
“paham agama resmi” negara. Ia mewajibkan setiap khotib di mimbar untuk memuja ‘Alî b. Abî Thâlib dan imam-imam Syi’ah yang lain, sembari mengutuk Abu Bakar, Umar, Usman, serta penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Kekuatan militer digunakan untuk menundukkan orang-orang Sunni yang tidak mau mencerca ketiga khalifah tersebut. Kebangkitan Kesultanan Safawi menjadikan Persia sejak masa itu hingga sekarang menjadi pusat keagamaan dan politik Syi’ah. Itulah Iran yang kita kenal sekarang.