KEMUNCULAN KAIDAH KEADILAN SAHABAT
C. Problematika ‘Adâlah pada Masa Nabi Muhammad dan Sahabat
C. Problematika ‘Adâlah pada Masa Nabi Muhammad dan Sahabat
Seperti telah penulis jelaskan sebelumnya, tidak ada data pasti berapa jumlah sahabat pasca wafatnya Nabi. Jalâl al-Dîn al-Suyûtî dalam kitab Tadrîb al-Râwî menyatakan bahwa menurut al-’Iraqî, lebih dari seratus ribu orang telah melihat Nabi dan mendengarkan hadits darinya. Dalam riwayat yang lain, al-’Iraqî meriwayatkan dari al-Sajî di mana al-Sajî meriwayatkan dari al-Syâfi’î, bahwa ketika Nabi wafat, populasi orang Islam saat itu berjumlah sekitar enam puluh ribu orang, tiga puluh ribu orang berada di Madinah dan sisanya berada di pelosok luar Madinah.104 Akan tetapi, tidak
103Al-Adhlabî, Manhaj Naqd al-Matn (Beirut: Dâr al-Âfaq al-Jadîdah, 1983), 238.
Lihat juga M. Syuhudi Ismail, Metodologi, 129.
104Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, Tadrîb al-Râwî, Vol. II (t.tp. : Dâr Tayyibah, t.t.), 681
semua sahabat Nabi tersebut tercatat dan terekam jejaknya. Ibnu Hajar al-‘Asqalânî dalam kitabnya al-Ishâbah fî Tamyîz al- Shahâbah, hanya mencatat sepuluh persen dari jumlah sahabat, atau 11.026 orang saja. Ini berarti ada ribuan sahabat yang tidak terekam dan tercatat sejarahnya.105 Dari sebelas ribu dua puluh enam sahabat yang tercatat tersebut, hanya sekitar seribu lima ratus enam puluh lima sahabat atau 1,37% saja yang terlibat dalam periwayatan hadits dari jumlah seluruh sahabat. Selebihnya, sekitar sembilan ribu empat ratus enam puluh satu sahabat yang tercatat dalam al-Ishâbah fî Tamyîz al-Shahâbah tidak meriwayatkan hadits dari Nabi. Bahkan, menurut data yang berhasil penulis himpun, dalam al-kutub al-tis’ah, jumlah sahabat yang meriwayatkan hadits hanya 1.046 sahabat, atau sekitar 0,91%
dari jumlah seluruh sahabat atau 9,4% dari seluruh sahabat yang terekam dalam al-Ishâbah fî Tamyîz al-Shahâbah. Adapun hadits yang ada dalam al-kutub al-tis’ah berjumlah 72.469 hadits.
Sepuluh di antara 1.046 sahabat meriwayatkan hadits dalam jumlah besar, yang biasa disebut al-mukaththirûn fî al-hadîs. Abû Hurairah meriwayatkan 8.740 hadits, ‘Âisyah bt. Abî Bakr meriwayatkan 5.965 hadits, ‘Abd Allâh b. ‘Umar meriwayatkan sekitar 5.603 hadits, Ânas b. Mâlik meriwayatkan 4964 hadits,
‘Abd Allah b. ‘Abbâs meriwayatkan 4.848 hadits, Jâbir b. ‘Abd Allah meriwayatkan 3.035 hadits, Sa’d b. Mâlik meriwayatkan 2.066 hadits, ‘Abd Allah b. Mas’ûd meriwayatkan 2.022 hadits,
‘Abd Allah b. ‘Amr b. al-‘Âsh meriwayatkan 1.315 hadits, ‘Alî b.
Abî Thâlib meriwayatkan sebanyak 1.598 hadits, sedangkan ‘Umar b. al-Khaththâb meriwayatkan 1.158 hadits.106
105Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi Saw., Al-Qur’an dan Ahl al-Bait: Kajian Otentik Pasca Kenabian (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), 372.
106Lihat Mausû’ah al-Hadîts al-Syarîf al-Kutub al-Tis’ah (Beirut: Global Islamic Soft- ware Company, 1995).
Berkaitan dengan kaidah ‘adâlah al-shahâbah, apakah pada masa Nabi dan masa sahabat, sahabat Nabi sama sekali tidak mempunyai cacat, sehingga tidak diperbolehkan meneliti mereka, ataukah kaidah “kull al-shahâbah hum ‘udûl” hanya sebuah doktrin belaka yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih mendalam, akan didiskusikan dulu sebuah hadits yang sangat populer dikalangan ahli hadits, yaitu hadits berikut.
Abû Nu’aim telah menceritakan kepada kita, Sa’îd b. ‘Ubayd telah menceritakan kepada kita, dari ‘Alî b. Rabî’ah dari al-Mughîrah, ia berkata: sungguhnya saya telah mendengar dari Nabi Muhammad, ia bersabda: “Sesungguhnya kebohongan atas diriku berbeda dengan kebohongan atas seseorang. Barang siapa dengan sengaja telah berbohong atas namaku, maka ia telah mengambil tempat di neraka.”107
Pertanyaan yang muncul terhadap hadits di atas, adalah apakah matn hadits tersebut bermakna prediktif atau menjelaskan realitas perilaku sahabat yang ada pada masa Nabi Muhammad?
Mushthafâ al-Siba’î, menjelaskan hadits di atas sebagai hadits yang bermakna prediktif, artinya tidak mungkin terjadi kebohongan di
107Al-Bukhârî, Sahîh Al-Bukhâriy, Kitâb al-‘Ilm, Bâb Ithm Man Kadhdhaba ‘Alâ al- Nabiy, hadits nomor 110, Kitâb al-Janâ’iz, Bâb Ma Yukrah min al-Niyâhah ‘alâ al-Mayyit, hadits nomor 1.291, Kitâb Ahâdîth al-Anbiyâ’, Bâb Ma Dhukira ‘an Banî Isrâ’îl, hadits nomor 3.461, Kitâb al-Adab, Bâb Man Sumiya bi Asmâ’ al- Anbiyâ’, hadits nomor 6.197. Lihat juga Muslim, Sahîh Muslim, Muqaddimah al-Imâm Muslim, Bâb fî al-Takhdhîr min al-Kidhb, hadits nomor 3, Kitâb al-Zuhd wa al-Raqâ’iq, Bâb al-Tathabbut fî al-Hadîts wa Hukm fî Kitâbah al-Hadîts, hadits nomor 72.
Ύ˴Ϩ˴Λ͉Ϊ˴Σ Ϯ˵Α˴
ˬ ˳Ϣ˸ϴ˴ό˵ϧ Ύ˴Ϩ˴Λ͉Ϊ˴Σ
˵Ϊϴ˶ό˴γ ˬ˳Ϊ˸ϴ˴Β˵ϋ ˵Ϧ˸Α
˶˷ϲ˶Ϡ˴ϋ ˸Ϧ˴ϋ
˶Ϧ˸Α ˬ˴Δ˴όϴ˶Α ˴έ
˶Ϧ˴ϋ
˶Γ ˴ήϴ˶ϐ˵Ϥϟ
˴ϲ ˶ο ˴έ ˬ˵Ϫ˸Ϩ˴ϋ ˵͉
˴ϝΎ˴ϗ
˵Ζ˸ό˶Ϥ˴γ :
͉ϲ˶Β͉Ϩϟ
ϰ͉Ϡ˴λ
˶Ϫ˸ϴ˴Ϡ˴ϋ ˵ௌ
˴Ϣ͉Ϡ˴γ ˴ϭ
˵ϝϮ˵Ϙ˴ϳ
͉ϥ˶· : Ύ˱Α˶ά˴ϛ
͉ϲ˴Ϡ˴ϋ
˴β˸ϴ˴ϟ
˳Ώ˶ά˴Ϝ˴ϛ ϰ˴Ϡ˴ϋ ˬ˳Ϊ˴Σ˴
˸Ϧ˴ϣ
˴Ώ˴ά˴ϛ
͉ϲ˴Ϡ˴ϋ ˬ˱Ϊ ˶˷Ϥ˴ό˴Θ˵ϣ
˸ ͉Ϯ˴Β˴Θ˴ϴ˸Ϡ˴ϓ
˵ϩ˴Ϊ˴ό˸Ϙ˴ϣ
˶έΎ͉Ϩϟ ˴Ϧ˶ϣ
antara sahabat Nabi Muhammad. Sehingga, makna hadits itu bukan “barang siapa yang telah berbohong atas namaku”, tetapi berubah menjadi “barang siapa yang hendak berbohong atas namaku”. Lebih tegas lagi, al-Sibâ’î menjelaskan bahwa hadits ini merupakan peringatan bagi umatnya, Nabi tidak menjelaskan telah terjadi kebohongan dalam diri sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya. Hal ini disampaikan Nabi Muhammad, supaya sunah- sunahnya dapat tersampaikan kepada generasi-generasi berikutnya tanpa adanya distorsi, dan merupakan dosa besar apabila terjadi kedustaan dan menempatkan pendusta itu pada neraka. 108
Pemaknaan hadits yang disampaikan al-Sibâ’î terhadap hadits di atas akan mendapatkan masalah ketika matn hadits di atas dibandingkan dengan matn hadits berikut yang disampaikan oleh Muhammad ‘Abduh:
Telah tersebar luas kebohongan terhadap agama Muhammad pada masa-masa awal, sehingga hal tersebut sudah diketahui pada masa sahabat, bahkan masa kebohongan terhadap Nabi Muhammad Saw.
telah terjadi pada masa hidupnya, sampai suatu ketika Nabi berkhutbah seraya bersabda: “Wahai manusia, telah banyak kebohongan terhadapku. Ingatlah! Barang siapa dengan sengaja berbohong atas namaku, maka ia telah mengambil tempat di neraka.”109