Dari uraian di atas tampak bahwa telah terjadi pergeseran pemikiran antara ulama jumhur, pemikir modern dan golongan Syiah mengenai prinsip keadilan bagi para sahabat. Ulama Jumhur yang memaparkan prinsip-prinsip keadilan bagi para sahabat dalam kajian hadis menganggap kaidah-kaidah tersebut bersifat final.
Pengertian Al-Sahâbah
KEMUNCULAN KAIDAH KEADILAN SAHABAT
Pengertian ‘Adâlah
Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang bukan Muslim tidak termasuk ahl-i-ridâ85 (kelompok yang tidak disukai umat Islam). Oleh karena itu, orang yang tidak mengikuti ketentuan agama Allah tidak dapat dipercaya beritanya, termasuk berita yang bersumber dari Nabi.
Problematika ‘Adâlah pada Masa Nabi Muhammad dan Sahabat
Artinya ada ribuan Sahabat yang tidak tercatat dan tercatat riwayatnya.105 Dari sebelas ribu dua puluh enam Sahabat yang tercatat, hanya sekitar seribu lima ratus enam puluh lima Sahabat atau 1,37% yang terlibat dalam siaran. hadits dari jumlah sahabat. Selebihnya, sekitar sembilan ribu empat ratus enam puluh satu sahabat yang tercatat dalam al-Ishâbah fî Tamyiz al-Shahâbah belum meriwayatkan hadis dari Nabi. Padahal, menurut data yang berhasil dikumpulkan penulis, dalam al-polar al-tis'ah, jumlah sahabat yang meriwayatkan hadits hanya 1046 sahabat atau sekitar 0,91%.
Adapun aturan 'adalah al-shahâbah, pada zaman Nabi dan para Sahabat, para Sahabat Nabi tidak ada cacat sama sekali, sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk memeriksanya, atau syariat' kull al-shahâbah hum 'udûl" hanyalah sebuah doktrin yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Sebelum masuk lebih dalam pembahasan, mari kita simak dulu sebuah hadits yang sangat populer di kalangan ahli hadits, yaitu hadits berikut ini. pertanyaan yang muncul dari hadits di atas adalah apakah makna hadits tersebut memiliki makna prediktif atau menjelaskan realitas perilaku para sahabat yang ada pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Mushthafâ al-Siba'î, menjelaskan hadits di atas sebagai hadits yang memiliki makna prediktif, artinya tidak mungkin terjadi kebohongan. Lebih tegas lagi, al-Sibâ'î menjelaskan bahwa hadits ini merupakan peringatan bagi umatnya, Nabi tidak menjelaskan bahwa kebohongan terjadi pada para sahabat yang ada di sekitarnya. Berdusta terhadap agama Muhammad tersebar luas pada masa awal, sehingga dikenal pada masa para sahabat, bahkan pada masa berdusta terhadap Nabi Muhammad.
ƁÃªŮž
Dengan demikian, makna hadits tersebut bukan “siapa yang berbohong atas namaku” tetapi berubah menjadi “siapa yang ingin berbohong atas namaku”.
ƓŲ±
ƑƆŰDz
ŦƓž
Ɓ ČƓƆŷ ª±ŝȞ
Perumusan Kaidah Keadilan Sahabat
Dinamika kritik antar sahabat dan munculnya syarat penerimaan sejarah sebagaimana dikemukakan oleh al-Khalafâ' al-Râshidûn menunjukkan bahwa sejak awal telah terjadi kekeliruan, kekeliruan dan pemalsuan hadis-hadis Nabi Muhammad. Di antara mereka yang meriwayatkan dari Ibn Sîrîn adalah al-Sha'bî, al-Auza'î, 'Âshim al-Ahwal, Mâlik b. Pada periode berikutnya, Abû 'Amr al-Auza'î124, seorang tabi'în, juga memberikan pernyataan yang hampir sama, namun dengan lafal yang berbeda.
Huqal berkata, "Al-Auza'iy telah menjawab 1000 masalah dengan pertanyaan dan para ulama mengakui ketinggian ilmunya." Dia meninggal pada tahun 157 di Beirut. Misalnya, Malik mendefinisikan sahabat sebagai orang yang tidak hanya pernah melihat Nabi, tetapi juga “bersahabat” dengan Nabi. Hanbal berkata: "Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakar, 'Umar dan 'Aisyah) adalah seorang Muslim.".
Imam al-Nawâwî,136 seorang ulama yang hidup pada masa setelah Abu Zar'ah al-Râzî menekankan atas dasar ijma' bahwa semua sahabat adalah jujur, baik terlibat fitnah maupun tidak.139 Al-Khathîb al-Baghdadî140 . Thâbit, atau lebih dikenal dengan sebutan "al-Khathîb al-Baghdâdî", seorang penulis yang produktif, salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Târîkh al-Baghdâd. Ahli hadits selanjutnya, dan pendapat ini banyak dijadikan rujukan para ahli hadits pada masa berikutnya, adalah Ibnu Hajar al-Asqanlanî, beliau menegaskan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ'ah sepakat bahwa semua sahabat Nabi saw. jujur.
Motivasi Perumusan Keadilan Sahabat
Secara teologis, pendapat al-Ma'mun sejalan dan mendukung para pemimpin kelompok Mu'tazilah. Kelompok Mu'tazilah merupakan salah satu sekte dalam Islam yang mengusung persoalan teologis yang lebih mendalam dan filosofis. Ketika para ahli hadits menyatakan bahwa semua sahabat adalah benar, Mu'tazilah menolaknya karena implikasi dari menerima aturan ini adalah menerima transmisi pertama tanpa komentar atau seleksi.
Sejarah menyebutkan bahwa keduanya sepakat untuk menggulingkan dua pemimpin yang berseberangan, 'Ali dan Mu'awiyah. Dari sinilah terjadi proses penggabungan dan penyatuan kelompok jama'ah (pendukung Mu'âwiyyah) dan kelompok sunnah (netralis politik di Madinah). Sebagai bentuk kesungguhan al-Makmun dalam menjaga ajaran Mu'tazilah, ia menulis surat kedua kepada gubernur Baghdad, Ishâq b.
Mereka harus bergumul dengan Mu'tazilah yang menjadi sekolah resmi negara, selain itu al-Makmun cenderung lebih dekat dengan Syi'ah daripada pemahaman para ahli hadits. Definisi sahabat yang dikemukakan para ahli hadits pada masa itu mendapat tantangan luar biasa dari para Mu'tazilah. Berbeda dengan mu'tazilah, Syi'ah berpandangan bahwa hak khalifah setelah Nabi 'Alî b.
Pemikiran Pelembagaan Kaidah Keadilan Sahabat
PELEMBAGAAN KAIDAH KEADILAN SAHABAT
Motivasi Pelembagaan Kaidah Keadilan Sahabat
- Politik
- Agama
Maklumat tersebut mengarahkan agar semua bangunan monumental yang sangat dihormati oleh Syiah dimusnahkan dan diratakan serta menjadi tempat ziarah mereka. Al-Qadir juga membantu Sunni mengatur hari-hari besar mereka sebagai tandingan Syiah. Sebagai reaksi terhadap Syi'ah, kebangkitan Sunni pada abad ke-19 bukan sahaja untuk mendefinisikan ortodoksi Islam, tetapi juga tentang mempertahankan khalifah sebagai pemimpin masyarakat Islam.
Selanjutnya, dalam sejarah Islam di Timur Tengah, walaupun terdapat dinasti yang didominasi Syiah, yaitu Dinasti Buwaihi (Syi'a Zaidiyah didirikan pada 334 H/945 M), Dinasti Dailamiyah (juga Syi' a Zaidiyah, didirikan pada 315 H/927 M), Hamdaniyah (ditubuhkan pada 317 H/1004 M) dan Fatimiyyah (pembahagian Syiah Ismailiyah, didirikan pada 297 H/900 M), tetapi dinasti-dinasti tersebut tidak pernah cuba untuk menggantikan Sunni- mungkin tidak boleh terbalik. dikuasai oleh Bani Abbasiyah di Baghdad. Dinasti-dinasti ini, walaupun mereka cukup aktif dalam perkembangan Syiah, tetapi mereka tetap memberi kebebasan kepada Sunni untuk kekal dalam Sunni mereka. Malah, pemerintah Sunni sering bekerjasama dengan pihak berkuasa Syiah yang sederhana untuk menghalang pertumbuhan kumpulan Syiah yang melampau, termasuk Syiah Qaramitah.
Menurut Azyumard Azra, pertarungan ideologi politik Sunni-Syiah baru muncul ketika Dinasti Safawi berkuasa di Indonesia. Abî Thalib dan ulama Syiah lainnya sambil mengutuk Abu Bakar, Umar, Usman dan penguasa Bani Umayyah dan Abbasiyah. Bangkitnya Kesultanan Safawi menjadikan Persia sebagai pusat agama dan politik Syiah sejak saat itu hingga saat ini.
Pendekatan Pelembagaan Kaidah Keadilan Sahabat
Dan memang (mengubah kiblat) nampaknya sangat sulit kecuali bagi orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Pertama, Muhajir yang pertama masuk Islam, yaitu mereka yang hijrah ke Madinah sebelum Damai Hudaybiyah. Sebelum Perdamaian Hudaybiyah, kaum musyrik juga menindas dan berperang melawan umat Islam di negara lain.
Kedua, orang-orang yang mula-mula masuk Islam daripada golongan Ansâr yang berbai’at di sebuah tempat bernama ‘Aqabah dan ini berlaku pada tahun kesebelas kenabian. Ayat di atas menjelaskan perangai orang munafik, di mana mereka cenderung menipu dan berkhianat. Dan orang-orang yang menetap di kota Madinah dan (Ansâr) beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Ansâr) ‘mencintai’ orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin), dan mereka (Ansâr) tidak meletakkan kedudukan mereka. Dalam hati mereka keinginan terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesusahan.
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhâjirîn dan Ansâr), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman itu. Menurut al-Qurthubî, Muhâjirîn - Orang-orang di sini ialah orang-orang yang berhijrah kepada Nabi kerana cinta mereka kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW. Mereka telah mendoakan orang-orang sebelum mereka dan diri mereka sendiri dengan doa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.
Pemikiran Pembongkaran Kaidah Keadilan Sahabat
- Perspektif Syi’ah
PEMBONGKARAN KAIDAH KEADILAN SAHABAT
Perspektif Ahmad Amîn
Pemikiran Ahmad Amîn dalam bidang hadits tertuang dalam bukunya yang berjudul Fajr al-Islâm pasal enam pasal tersebut (sub-. Ahmad Amîn mengacu pada apa yang diriwayatkan oleh al-Dhahabî (wafat 748 H) yang mengatakan bahwa, -kata al-Dhahâbî seperti yang dipahami oleh Ahmad Amîn dibantah oleh al-Sibâ'î.
Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Ahmad Amîn juga pernah mengkritik prinsip keadilan para Sahabat. Ini bermakna bahawa Ahmad Amîn tidak mempunyai hak untuk mengaitkan kepada 'Umar perkataan "berkata benar atau berbohong". Ahmad Amîn menulis subbab khusus tentang sahabat perawi hadis, khususnya Abu Hurairah.
Abu Hurairah juga banyak meriwayatkan hadits dari para sahabat lainnya.74 Hal ini sama dengan komentar Ahmad Amin di atas. Ahmad Amin mengatakan bahwa terkadang Hanafiah menyimpang dari hadits Abu Hurairah jika bertentangan dengan qiyas. Kedua, al-Sibâ‘î menuduh Ahmad Amîn mencoba menciptakan opini bahwa semua pengikut mazhab Hanafi memiliki pandangan yang sama dengan yang diungkapkan oleh Ahmed Amîn.
Perspektif Mahmûd Abû Rayyah
Mahmûd Abu Rayyah adalah murid Madrasah al-Da'wah wa al-Irsyad, lembaga Dakwah Muslim yang didirikan oleh Ridha. Dalam buku pertama, Adwâ' 'alâ al-Sunnah al-Muhammadiyyah, kajian hadits ada dalam beberapa bab. Diantaranya membahas beberapa kitab hadits yang diduga atau menurut Mahmud Abu Rayyah tidak menyampaikan perkataan dan perbuatan Nabi melainkan merupakan rekayasa yang dilakukan oleh generasi Nabi sezaman dan selanjutnya untuk membuat hadits.
Dalam buku ini, Mahmûd Abu Rayyah juga menggunakan banyak argumentasi, terkadang diambil dari disiplin ilmu modern. Selain itu, Mahmûd Abû Rayyah juga mengungkapkan kritik ekstrim terhadap Abu Hurairah dalam bukunya yang selanjutnya dikritik oleh Mahmûd Abu Rayyah sebagai kecaman terhadap Abu Hurairah. Secara umum, isu-isu utama dalam kitab Adwâ' 'alâ al-Sunnah al-Muhammadiyyah fokus pada beberapa isu: (a) transmisi hadis dengan makna daripada pengucapan; (b) keadilan teman; (c) pemalsuan hadis; (d) sejarah israi'liyyat; (e) kredibilitas Abu Hurairah; (f) kodifikasi Al-Qur'an; (g) kodifikasi hadits; (h) al-Jarh wa al-Ta'dîl; (i) hadits ahad; dan (j) catatan penting tertentu.
Pada bagian ini, penulis secara khusus membahas karya Mahmûd Abu Rayyah tentang masalah status keadilan bagi para sahabat. Pembahasan tentang sahabat dan kebaikan semua sahabat dibahas panjang lebar oleh Mahmûd Abû Rayyah dalam kitab Adwâ'. Mahmud Abu Rayyah mulai mempelajari sunnah ketika menemukan hadits-hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.