BAB I PENDAHULUAN
C. Praktik Pembuangan Limbah Tekstil Sisa Kain Jahit di Desa
33
C. Praktik Pembuangan Limbah Tekstil Sisa Kain Jahit di Desa Selagek
34
berbagai macam kain seperti kain kaos, katun, drill, dan lain sebagainya,”32
Selain itu dari analisis maslahah mursalah terhadap pembuangan limbah sisa potongan kain jahit, sebagaimana yang dikatakan oleh Tn. S selaku pemilik usaha konveksi, peneliti juga menanyakan bagaimana cara mengolah atau memanfaatkan limbah potongan kain tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa;
“Disini saya mengolahnya menjadi keset, dan baju tapi tidak semua potongan kain itu saya manfaatkan karena potongan kain itu ada yang besar dan yang kecil jadi yang besar aja yang saya gunakan menjadi kerajinan sedangkan yang kecil-kecil saya buang.33
2. Tn. A (salah satu pemilik usaha konveksi)
Pengusaha konveksi yang lainnya yaitu Tn. A yang mengatakan bahwa:
“Disini potongan kain saya kumpulkan pakai karung karena ada yang ingin membeli potongan kain tersebut dan yang berukuran sangat kecil saya buang dihalaman belakang rumah dengan cara membuat lubang di tanah dan menumpuknya disana.34
32 Wawancara dengan Tn. S, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. S
33 Wawancara dengan Tn. S, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. S
34 Wawancara dengan Tn. A, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. A
35
3. Ny. KWN (salah satu pemilik usaha konveksi)
Peneliti juga mencari data ke tempat usaha konveksi lainnya yaitu Ny.
KWN selaku salah satu pemilik usaha konveksi, beliau mengatakan:
“Potongan kain sisa yang Saya hasilkan disini tidak selalu bisa saya manfaatkan terutama potongan kain yang kecil, itu Saya buang dan Saya menimbunnya di pekarangan belakang rumah jika tidak ada yang datang untuk membelinya dikarenakan potongan kain sisa tersebut bisa di beli di tempat usaha konveksi lain di desa ini.”35
4. Tn. MTM (salah satu pemilik usaha konveksi)
Di tempat usaha konveksi milik Tn. MTM, peniliti juga menanyakan hal yang sama terkait pembuangan limbah sisa kain tersebut, dan Tn. MTM mengatakan:
“Kalau Saya disini, selalu mengumpulkan potongan sisa kain tersebut, terkadang Saya manfaatkan untuk menambah bakal baju yang Saya buat, menjadikannya keset dan terkadang menjualnya ke pengepul sisa kain bekas. Kalaupun ada yang Saya tidak bisa manfaatkan Saya mengumpulkannya di belakang rumah dan Saya bakar.” 36
35 Wawancara dengan Ny. KWN, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Ny. KWN
36 Wawancara dengan Tn. MTM, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. M
36
5. Tn. HR (Salah satu karyawan konveksi Tn. S)
Peneliti juga memperoleh data dari keterangan karyawan Tn. S yang mengatakan bahwa:
“Untuk sisa potongan kain tersebut Tn. S terkadang menyuruh Saya mengolahnya menjadi keset, dan baju tapi yang kecil-kecil Saya buang di halaman belakang rumahnya.”37
6. Tn. WK (Salah satu karyawan konveksi Tn. A)
Peneliti juga mewawancarai karyawan Tn. A dan mengatakan:
“Disini Saya selalu di suruh oleh Tn. A untuk mengumpulkan sisa kain tersebut pakai karung karena ada yang ingin membeli potongan kain tersebut dan yang berukuran sangat kecil Saya tidak tahu dimana Tn. A membuangnya.”38
7. Ny. S (Tokoh Masyarakat desa Selagek)
Tidak cukup dari beberapa orang yang telah di wawancarai peneliti juga mencoba mewawancarai salah seorang warga yang dekat dengan bebarapa pengusaha konveksi di desa Selagek, dan beliau mengatakan:
“Dari beberapa pengusaha konveksi yang ada disini memang rata- rata mereka menimbun dan membakarnya dibelakang pekarangan rumah namun masih ada saja yang saya lihat hanya menimbunnya
37 Wawancara dengan Tn. HR, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. S
38 Wawancara dengan Tn. WK, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. A
37
ditanah dah menimbulkan pencemaran tanah karena kain yang susah terurai dalam tanah, selain itu dari membakar sisa kain tersebut di belakang rumah membuat polusi udara bagi warga yang rumahnya dekat dengan si pengusaha konveksi terutama bagi tetangga, dan yang saya perhatikan juga ada beberapa potongan kain yang Saya temukan di pinggiran sungai.”39
8. Tn. M (Kepala Dusun Selagek)
Selain itu, peneliti juga mencari data untuk memperjelas penemuan dengan mewawancarai Kadus Selagek, dan beliau mengatakan:
“Karena usaha konveksi di desa ini semakin berkembang jadi memang permasalahan terkait pembuangan limbah sisa kain tersebut kini menjadi salah satu PR yang harus kita selesaikan bersama, yang saya temukan disini dari beberapa pengusaha konveksi yang ada memang rata-rata mereka menimbun, membakarnya, dan menjualnya, namun limbah kain yang di temukan di pinggiran sungai saya masih belum tahu, tetapi itu mungkin saja benar ada oknum yang membuangnya kesana karena berkembangnya usaha konveksi di desa bertambah pula limbah kain yang di hasilkan.”
39 Wawancara dengan Ny. S, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Ny. S
38
Sementara itu, Kepala Dusun Selagek juga menjelaskan:
“Saya sudah melihat konveksi yang ada disana memang benar adanya sisa potongan kain jahit di masing-masing konveksi, saya juga sudah menghimbau kepada pengelola agar selalu membersihkan tempat usahanya agar tidak mengotori lingkungan sekitar dan pembuangan sisa potongan kain agar di buang pada tempatnya, dan saya akan berusaha berbicara terkait masalah ini kepada pemilik konveksi agar ada tindaklanjut dari pihak pemiliknya”.40
9. Tn. T (Kepala desa Selagek)
Dari hasil wawancara dengan Kepala Desa Selagek Kecamatan Terara menyampaikan dampak pencemaran lingkungan desa selagek yaitu:
“Dari kami selaku pemerintah desa akan mencoba turun sosialisasi atau memberikan pemahaman terhadap pengelola maupun pemiliknya agar upaya-upaya yang harus dilakukannya untuk menanggulangi limbah sisa potongan kain jahit dan pemilik konveksi harus selalu membersihkan tempat konveksi dengan cara membersihkan 3 hari sekali secara rutin dan potongan kain dibuang pada tempatnya sehingga limbah tersebut tidak mengganggu lingkungan sekitarnya. Saya selaku kepala desa akan
40 Wawancara dengan Tn. M, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. M
39
melakukan yang terbaik untuk warga desa selagek untuk mengatasi masalah-masalah yang ada”.41
Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan dengan pemilik konveksi, karyawan, masyarakat, Kepala dusun, dan Kepala desa Selagek tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa limbah sisa potongan kain tersebut sudah semaksimal mungkin di manfaatkan oleh pemilik usaha konveksi. Namun terdapat permasalahan yang sama di antara pemilik usaha konveksi yaitu masih ada yang membuang limbah sisa potongan kain yang berukuran sangat kecil dengan cara membuat lubang di halaman belakang rumahnya yang digunakan sebagai tempat pembuangan sisa limbah kain tersebut, polusi udara yang di timbulkan karena membakar tumpukkan limbah kain dan beberapa oknum yang membuangnya ke sungai.
Kegiatan oprasional dalam pengelolaan usaha jahit suatu konveksi menjadi perhatian yang sangat serius peneliti, karena hal ini syarat mutlak penjagaan terhadap nyawa dan kesehatan seseorang. berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti dalam hal pemeliharaan jiwa (Hifdzu an- Nafs) di konveksi Tn. S yang berada di desa Selagek yaitu terdapat 2 macam pegawai, ada yang pegawai tetap atau dihitung harian dan ada pegawai yang dikontrak dan dibayar sesuai dengan jumlah busana yang dijahitnya. Adapun untuk pegawai tetap atau harian jam kerja di mulai pukul 08.00-15.00 WIB, pemilik konveksi memberikan jam istirahat untuk sholat dhuhur dan makan
41 Wawancara dengan Tn. T, tanggal 27 Juni 2021 di rumah Tn. T
40
siang, apabila terdapat orderan yang banyak dan segera untuk diselesaikan maka para pekerja akan melakukan lembur sampai pukul 17.00 WIB. Pemilik konveksi juga memberi keringanan istirahat untuk pegawai yang merasa lelah pada saat jam kerja. Dan untuk pekerja yang dikontrak akan bekerja dirumahnya sendiri sehingga waktu untuk bekerja tidak ditentukan tetapi busana yang dikerjakan harus jadi sesuai dengan perjanjian diawal. Gaji yang diberikan oleh pemilik konveksi kepada para pegawai dapat memenuhi kebutuhan pokok.
Pemilik konveksi memperhatikan para pegawainya dengan menyediakan makan siang. Makan siang ini disiapkan untuk pegawai untuk memudahkan para pegawai agar tidak perlu membawa bekal dari rumah, serta menjaga pola makan pegawai agar tidak mudah sakit. Apabila ada pegawai yang lembur, maka akan disediakan makan lagi.
Selain dengan para pekerja usaha konveksi ini juga memberikan dampak positif dan negative bagi masyarakat yang berada di desa tersebut bahkan dalam jangka panjang dapat berpengaruh terhadap masyarakat luas.
Mengingat limbah sisa potongan kain jahit ini tidak diolah sepenuhnya oleh pemilik usaha sehingga sebagiannya akan dibuang begitu saja tanpa menggunakan tata cara yang benar.
Sehingga limbah dari sisa potongan kain ini dapat mencemari lingkungan yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat di sekitar konveksi tersebut. Seperti pembuangan limbah sisa potongan kain
41
secara langsung kesungai dapat memberikan dampak pencemaran air karena zat kimia yang berada pada kain tersebut akan menyatu dengan air sungai kemudian air tersebut akan merambat kesumur-sumur warga sehingga air sumur warga akan kotor dan bisa menyebabkan penyakit kulit. Selain itu jika dibuang kesungai secara terus menurus bisa menyebabkan banjir dan menghambat aktivitas warga. Jika limbah sisa potongan kain tersebut dikubur dalam tanah maka akan merusak struktur tanah karena kain mmebutuhkan waktu yang lama untuk terurai sehingga, masyarakat yang memiliki sawah dan dekat dengan lokasi pembuangan sampah tersebut akan dirugikan karena tanamannya akan susah tumbuh dan berakibat pada masyarakat karena akan mengalami kesusahan dalam bercocok tanam. Dan apabila limbah sisa potongan kain tersebut dibakar maka akan membuat udara menjadi kotor dan bisa menyebabkan penyakit saluran pernapasan bagi masyarakat yang menghirup udara dari asap pembakaran tersebut.
Setelah melakukan observasi, dan wawancara peneliti mendapati keberadaan suatu kegiatan yang didalamnya memuat indikator-indikator dari Maslahah Mursalah dari nilai Hifdzu al-Mal dalam pengelolaan limbah sisa kain jahit di Desa Selagek Kecamatan Terara yaitu Limbah sisa kain jahit sebagian dijual dan digunakan membuat suatu kerajinan. Sehingga pemilik konveksi pun memiliki pemasukan pendapatan lain melalui penjualan sisa potongan kain jahit. Pemilik konveksi mengalokasikan dana hasil perolehan dari penjualan ini diinfaq-an ke masjid sekitar sebesar 5%. Dalam wawancara dengan pemilik konveksi menjelaskan bahwa infaq dilakukan karena sebagai
42
bentuk rasa terima kasih atas karunia-nya serta agar setiap kegiatan operasional yang dilakukan oleh pemilik konveksi mendapatkan kemudahan.
Dalam seluruh kegiatan operasional di konveksi, pegawai akan menerima gaji setelah melakukan pekerjaannya, Sistem penggajian di konveksi adalah memberikan gaji kepada seluruh karyawannya yang dibagikan setiap bulan dengan porsi gaji sesuai dengan posisi yang dimiliki oleh pegawai. Besaran gaji pegawai konveksi tergantung pada berapa jahitan yang jadi. Adapaun rata-rata gaji pegawai konveksi adalah sebesar RP.
50.000-100.000 ribu rupiah per hari jadi rata-rata sebulan RP. 1.500.000 Berdasarkan wawancara dengan pemilik konveksi menjelaskan bahwa bonus yang diberikan konveksi kepada para pegawai saat ada hari-hari besar seperti hari raya idul fitri, dan lain-lain.
Tak hanya memberikan manfaat bagi pemilik atau pegawai saja, namun juga bagi masyarakat sekitar, karena setelah melakukan wawancara dengan warga setempat ada beberapa warga yang memiliki kreativitas untuk mengolah limbah sisa potongan kain menjadi suatu produk jadi seperti keset, bros, bando dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual sehingga dengan adanya usaha konveksi ini dapat memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. Sehingga dari hasil penjualan produk warga bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
43