BAB I PENDAHULUAN
A. Penyajian Hasil Data
2. Prilaku Erotis Dalam Novel Nayla
Kutipan 2
“ suntik kurus dong, mak…Body lu udah gak asik banget deh diliatnya. Gue banci aja gak nafsu, gimana lekong?!
Kata si bencong.”( Ayu: 2006: 159)
Nayla yang bekerja di sebuah club malam mengharuskan penampilannya tetap seksi agar lelaki yang berkunjung tetap tergoda dengannya. Nayla mulai dirayu oleh sibencong yang teman kerjannya supaya suntik kurus, ujarnnya sibencong, gue aja banci gak nafsu apalagi lekong. Hal ini dilakukan sibencong agar Nayla tetap memperbaiki penampilan, supaya tamu-tamu lelaki tetap terbius oleh body Nayla.
membangkitkan gairah. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan.
Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu(Notoatmojo dalam qim7882. blogspot. com/ 2009/ 04/ pengertian perilaku html., diakses 18 Apri 2014).
Perilaku manusia pada hakikatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup(Kusmiyati dan Desminiarti dalam qim7882. blogspot. com/ 2009/ 04/
pengertian perilaku html., diakses 18 April 2014).
Perilaku erotis terjadi karena sikap erotis yang memberi pengaruh dan respon individu terhadap objek erotis dan situasi erotis dan situasi erotis yang berkaitan dengan pengalaman, motivasi, emosi, persepsi, kognisi, dan nila-nilai yang telah teradopsi untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Untuk memperjelas esensi dari penelitian ini, maka prilaku erotis yang penulis maksud berdasarkan analisis erotisme dalam novel Nayla karya djenar maesa ayu melalui Teori Erich Fromm dapat dilihat dari kutipan berikut:
Kutipan 1 :
“ Semenjak remaja ia suka memasukkan benda-benda ke dalam vaginanya sambil membayangkan perempuan yang ia idamkan. Sekarang pun dengan kekasihnya yang seorang model mereka sering bercinta dengan cara saling memasuki vagina satu sama lain dengan jari mereka.”(Ayu, 2006: 5)
Berdasarkan kutipan di atas, pengarang memaparkan bagaimana sosok Nalya yang senang de gan hal- hal diluar batas normal. Perempuan yang memenuhi hasrat seksualnya dengan mencari objek lain meskipun tidak dilakukan dengan laki-laki, tetapi melakukannnya sendiri atau melakukan dengan perempuan. Juli sejak remaja selalu memasukkan benda- benda divaginanya sambil membayangkan perempuan yang diinginkan bahkan sampai sekarang juli dengan kekasihnnya yang model sering kali memasukkan jari-jarinya kevaginanya,hal itu untuk meluapkan nafsu mereka.
Perilaku yang berkaitan dengan keinginan untuk menimbulkan rangsangan terhadap diri sendiri atau disebut masturbasi.Hal ini juga terjadi pada teman-teman Nayla, di samping itu juga mereka bercinta dengan sesama jenis.
Kutipan 2 :
“Tak jarang di depan mata saya mereka bercumbu. Seakan saya tak berada di tempat itu.” (Ayu, 2006: 5)
Percumbuan ini dilakukan oleh ibu Nayla bersama dengan om Indra kekasihnya di depan Nayla. Om indra yang telah memperkosa Nayla sejak umur 9 tahun dirumahnnya sendiri tanpa sepengetahuan ibunya.
Kutipan 3 :
“Mereka memasukkan tongkat Madura ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual selama lima menit.
Mereka merendam vagina ke dalam daun sirih.Dan paling parah dari semua itu, perempuan takut terangsang.
Perempuan menahan rangsangan supaya bisa “mengelabui
“ reaksi tubuh agar vagina tak terlalu banyak cairan.
(Ayu:2006: 79)
Perempuan yang ingin melakukan hubungan seksual, tetapi takut terangsang. Jadi, mereka melakukan berbagai hal untuk mencegah rangsangan agar vaginanya tidak terlalu banyak mengeluarkan cairan dan takut pasangannya tidak menikmati dari hubungan itu. Hal ini sering kali mereka lakukan setiap ingin berhubungan.mereka menikmati saat berhubungan dengan sesama jenis kelamin dengan merendam vagina kedalam daun sirih agar mereka menahan rangsangan dan vaginanya tidak cepat mengeluarkan cairan.
Kutipan 4 :
“Nayla menggelitik Juli hingga keduanya terjatuh dari ranjang ke lantai karpet. Kulit telanjang mereka merapat.Saling menyentuh dan meraba.Saling mengecup dan menjilat.Saling memberi dan menerima.”
(Ayu, 2006:81-82)
Kedua perempuan ini saling menggoda hingga keduanya melakukan hubungan layaknya sepasang kekasih yang berlawanan jenis.
Mereka menikmati cinta sesama jenis atau lesbian dan tetap menginginkan satu sama lain secara jasmani.
Perilaku erotis tampak di antara mereka berdua untuk membangkitkan gairah dengan gerakan tubuh di antaranya, mencium, membelai, mencumbu, dan berpuncak pada persetubuhan.
Kutipan 5 :
“Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki.Karena, saya tidak mengisap payudara ibu.Saya mengisap penis ayah. Dan saya tidak mengisap air susu ibu. Saya mengisap air mani ayah”
(Ayu, 2006: 90)
Menurut Fromm (2005: 53) cinta bapak adalah cinta bersyarat.
Prinsipnya adalah “Aku mencintai kamu karena memenuhi harapanku, karena kamu melakukan tugasmu, karena kamu menyukai aku.”Nayla dalam kutipan paragraf ini dicintai oleh ayahnya dan segala sesuatu yang semestinya diperoleh dari ibunya, melainkan dia peroleh dari ayahnya seperti menetek, kasih sayang, dan lain-lain.
kutipan 6 :
“ Semua berjalan cepat. Kami bercinta dalam waktu yang sesingkat itu tidak ada satu orang pun yang bisa memuaskan saya seperti Juli, tetapi memang bukan sekadar kepuasan kelamin yang saya cari.Saya butuh kepuasan rohani.Mendengar suara mereka
mengerang.Merasakan tubuh mereka
menggelinjang.Menyaksikan mereka tak lebih dari seekor binatang sangatlah menyenangkan. Setelah malam itu mereka akan mengendus- endus kenikmatan yang saya berikan. Mereka dengan tak berdaya menunggu giliran seperti pengungsi menunggu jatah makan.Jika mereka diberikan kesempatan, mereka mati-matian membuktikan kejantanan.” (Ayu, 2006: 101)
Nayla termasuk seseorang yang mencari cinta dengan pribadi yang baru.Pengalaman jatuh cinta yang dirasakan Nayla terhadap Juli, dia rasakan
sangat menyenangkan dan mendalam serta berujung keinginan untuk menaklukkan cinta yang baru.
Cinta yang paling fundamental yang mendasari semua jenis cinta adalah cinta sesama. Dalam cinta sesama mengimplikasikan unsu-unsur rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, dan pemahaman tentang manusia lain.
Kutipan 7 :
“Saya juga sembunyi-sembunyi bercinta dengan mereka yang saya suka. “ (Ayu, 2006: 104)
.
Di samping Nayla sering bercinta dengan Juli, dia juga mencari pribadi yang lain. Perasaan dalam diri Nyala terhadap Juli belum dapat dirasakannya karena penilaian dan keputusan untuk menentukan hidupnya belum dilakukan.
Orgiastik seksual menjadi salah satu upaya putus asa untuk menghilangkan kecemasan yang disebabkan oleh keterpisahan, dan berujung pada keterpisahan yang tidak ada habis-habisnya, karena tindakan seksual tanpa cinta tidak pernah menjembatani dua insan manusia, kecuali untuk sesaat.Hal itulah yang dilakukan Nayla untuk mengatasi keputusasaannya bersama Juli.
Kutipan 8 :
“ Padahal saya ingin mengatakan kalau Om Indra sering meremas-remas penisnya di depan saya hingga cairan putih muncrat dari sana. Bahkan ketika kami sedang nonton televisi dan Ibu pergi sebentar ke kamar mandi, Om Indra kerap mengeluarkan penis dari dalam celananya hanya untuk sekejap menunjukkan kepada saya.Om Indra juga
sering menggesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya.
(Ayu:2006: 113)
Laki-laki ini memiliki keinginan untuk membangkitkan gairah seksualnya dengan melakukan rangsangan terhadap Nayla anak kekasihnya yang masih berumur empat belas tahun.Perilaku erotis ini terjadi pada Om Indra dan Nayla. Om indra sering kali memperlihatkan penisnya kepada Nayla hingga cairan putih muncrat dari sana ketika ibu nayla keluar sebentar atau ke kamar mandi.
Kutipan 9 :
“Om Indra tidak hanya mengeluarkan atau menggesek- gesekkan penisnya ke tengkuk saya. Ia memasukkan penisnya itu ke vagina saya. “ (Ayu, 2006: 113)
Kebutuhan yang jauh lebih universal dan eksistensial adalah penyatuan yang memunculkan kebutuhan biologis lebih spesifik yaitu keinginan besar terhadap penyatuan kutub maskulin dan kutub feminin serta hasrat seksualnya sudah terpenuhi.
Keinginan untuk melakukan hubungan intim akhirnya dilakukan oleh Om Indra terhadap Nayla.Tidak lagi meremas-remas penisnya ataukah menggesek-gesekkan kepada Nayla, bahkan dia memasukkan penisnya ke dalam vaginan Nayla.Awalanya memang Om Indra hanya merangsang dirinya sendiri, tetapi lambat laun sudah melakukan hubungan intim itu untuk memperoleh keintiman.Om Indra meyakinkan Nayla bahwa itu itu obat ngompol dan berusaha menunjukkan kasih sayangnya terhadap Nayla.
Nayla hanya pasrah atas semua perlakuan Om indra yang merupakan
kekasih dari ibunnya sendiri. Nayla tidak pernah memberanikan diri untuk menyampaikan ke ibunya bagaimana sebenarnya kelakuan kekasihnya itu.
Kutipan 10 :
“Nyatanya Ibu putus karena mendapati Om Indra menggauli si Pembantu yang hamil.Dengan gagah Ibu megusir Om Indra pergi. Walaupun tanpa sedikit pun menusuki penisnya terlebih dahulu dengan peniti .“
(Ayu, 2006: 114)
Keintiman dibangun umumnya melalui kontak seksual, mengalami keterpisahan dengan pribadi lain pertama-tama sebagai keterpisahan jasmani.Penyatuan jasmani berarti upaya untuk mengatasi keterpisahan.Om Indra tidak hanya melakukan hubungan intim itu dengan Nayla, tetapi melakukannya dengan pembantu. Tampak jelas bahwa Om Indra selalu berusaha untuk mencari pribadi lain yang berbeda dari ibu Nayla dan Nayla sendiri.om indra diusir ketika ibu Nayla mendapati om indra menngauli pembantunya sampai hamil tanpa menusuk penisnya dengan peniti sperti yang dilakukan ibu kepada Nayla ketika ngompol.
Kutipan 11 :
“ Dicumbunya di depan pintu. Ditariknya masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi yang tak berlampu.Dibukanya ritsleuting celana laki-laki itu.
Dilakukannya semua yang ingin ia lakukan saat itu, di kamar mandi tak berlampu, dengan laki-laki itu. “
(Ayu, 2006: 144)
Meskipun Nayla tidak mengenal laki-laki itu, tetapi dia telah menemukan orang yang tepat untuk melampiaskan hasrat seksualnya.Dia
berusaha melakukan pembebasan dari ketegangan yang menyakitkan dan berusaha untuk menaklukkan laki-laki itu.Kata dicumbunya dan dibukanya ritsleuting celana laki-laki itu mengarah ke perilaku erotis yang melibatkan kutub maskulin dan feminine.
Kutipan 12 :
“Seperti ketidakberdayaan saya pada Om Indra yang telah memperkosa saya. Seperti ketidakberdayaan saya pada peniti di tangan Ibu yang menusuk selangkangan dan vagina saya.”
(Ayu, 2006: 147)
Nayla merasakan dirinya tidak berdaya ketika beberapa kali diperkosa oleh Om Indra yang tidak lain adalah kekasih ibunya sendiri.Hal ini berawal dari kedekatan ibu Nyla terhadap Om Indra dan kedekatan beralih kepada Nayla serta kepada pembantunya.Om Indra selalu mencari cinta dengan pribadi yang baru, tetapi akhirnya menjelma menjadi pribadi yang intim. Dan ibu Nayla yang setiap kali menusuk peneti ke vagina Nayla setiap kali ngompol, hal ini dilakukan agar nayla tidak memiliki sifat malas untuk ngompol ditempat.
Kutipan 13 :
“Padahal saya ingin mengatakan kalau Om Indra sering meremas-remas penisnya di depan saya hingga cairan putih muncrat dari sana. Bahkan ketika kami sedang nonton televisi dan Ibu pergi sebentar ke kamar mandi, Om Indra kerap mengeluarkan penis dari dalam celananya hanya
untuk sekejap menunjukkan kepada saya.Om Indra juga sering menggesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya.
(Ayu, 2006: 113)
Nayla berusaha memberi tahu ibunya bagaimana kelakuan om Indra, kekasihnya itu terhadap dirinya. Di rumahnya sendiri om indra selalu memperlihatkan penisnya bahkan merema-remasnya di depan Nayla,ketika ibunya sedang berpergian.