149
BAB 10
PRINSIP – PRINSIP ALKITABIAH
150
adalah Sang Musisi. Kita telah melihat bagaimana Allah menampilkan musik dalam karya penciptaannya. Ia juga aktif menggunakan musik terhadap inkarnasi Yesus, pelayanan Yesus dan karya keselamatan-Nya. Musik hadir pada penghakiman terakhir, dan berperan dalam karya ini. Musik memainkan peran penting ketika Allah membangun hubungan dengan umatNya. Musik juga digunakan oleh Allah sebagai instrumen terhadap kehadiranNya dan kuasaNya bersama umatNya.
Semua expresi musik tersebut melahirkan musik ibadah yang sakral, kudus, berasal dari Sang Pencipta Sendiri, dan dipersembahkan kembali kepadaNya dalam kerendahan hati melalui ibadah umat-Nya. Hal tersebut juga menjadikan musik sebagai kendaraan untuk bertemu dengan Allah, serta sebagai saluran bagi keselamatan, kesembuhan, dan pemulihan kekuatan.
Musik adalah Ekspresi Manusia
Meskipun penting untuk memahami musikalitas Allah dan penggunaan musik, hal tersebut sama pentingnya untuk memahami bahwa musik adalah ekspresi kreativitas yang sangat manusiawi. Ketika musik digunakan dalam konteks ibadah, hal tersebut akan memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengekspresikan kasih dan pengabdian mereka kepada Allah dengan cara yang kreatif dan mengalir dari kedalaman batin seseorang.
151
Dengan cara ini, musik menjadi kekuatan pemersatu antara Allah dan umat-Nya, memfasilitasi perasaan Roh yang menyentuh roh, dan memungkinkan untuk memenuhi perintah Yesus agar beribadah dalam roh dan kebenaran. Ini menunjukkan bahwa praktik dalam mempersembahkan kualitas musik terbaik dalam sebuah kebaktian adalah baik dan perlu.
Hal ini disebabkan musik adalah pusat kehidupan manusia, maka dapat dipastikan bahwa musik juga harus menjadi pusat kehidupan Gereja. Sebagaimana musik yang selalu digunakan untuk ekspresi keagamaan, demikian juga hendaknya musik menjadi berkesinambungan dalam kehidupan gereja.
Implikasi dari prinsip teologis ini adalah bahwa para musisi Gereja perlu diberi jalan keluar untuk mengekspresikan ibadah yang kreatif agar bermanfaat bagi seluruh Gereja. Ekspresi musik mereka harus diberikan ruang supaya menjadi kreatif dan inovatif, dan ekspresi musikal dalam konteks ibadah harus diperlakukan dengan intensionalitas, dan tidak dengan cara “sembarangan atau sesuka-sukanya”.
Implikasi lebih lanjut dari prinsip ini adalah kebenaran.
Setidaknya hal ini ditinjau dari sudut pandang manusia, musik didefinisikan secara kultural, dan dengan demikian ibadah kita memiliki unsur budaya manusia. Ini adalah bagian dari berbagai tradisi Gereja yang berbeda, atau gaya ibadah yang berbeda dalam satu tradisi tunggal.
152
Jemaat mempersembahkan musik kepada Allah sesuai budaya musik yang mereka identifikasi untuk menciptakan ekspresi musik dalam ibadah mereka agar otentik dan personal.
Musik Tidak 'Sakral’ atau 'Sekuler' ('Sacred' nor 'Secular')
Musik sebagai ekspresi manusia itu sendiri tidak sakral atau sekuler. Musik hanyalah musik. Nilainya dalam hal spiritual tidak ditentukan oleh musik itu sendiri, tetapi oleh para musisi yang menyusun, mengatur atau melakukannya. Peran lirik yang diatur untuk musik juga menjadi signifikan, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa apa yang disebut musik sekuler dapat digunakan untuk lirik suci, dan dengan demikian menjadi ekspresi ibadah (seperti dalam kasus yang mungkin terjadi pada beberapa Mazmur).
Penting juga dicatat bahwa musik instrumental tanpa lirik memperoleh tempat dalam ibadah. Sesuatu yang oleh banyak Gereja dikembangkan untuk memperoleh manfaat dalam ibadah mereka.
Musik Memiliki Berbagai Fungsi
Kesaksian Alkitab tentang penggunaan musik memberikan bukti kuat tentang beragam fungsi yang diperankan musik dalam kehidupan umat Allah. Musik digunakan untuk ibadah, ekspresi pengabdian kepada Allah. Musik juga digunakan untuk mengumpulkan dan
153
memfasilitasi fellowship atau persekutuan orang-orang percaya (bealivers), membangun dan mendorong satu sama lain. Selain itu, musik juga digunakan untuk menunjukkan kebesaran Allah kepada jemaat bahkan kepada bangsa-bangsa lain (menyiratkan fungsi evangelikal, meskipun ini tidak khusus diterapkan dalam Perjanjian Lama).
Lebih jauh, musik juga digunakan untuk memfasilitasi pengalaman kekuatan supranatural Allah, baik melalui penerimaan pesan kenabian, maupun untuk penyembuhan atau untuk kemenangan atas kekuatan kuasa kegelapan atau musuh manusia. Banyak dari fungsi-fungsi ini dapat dipenuhi dalam konteks ibadah, dan hal ini perlu dieksplorasi lebih dalam lagi oleh Gereja dan para musisinya.
Salah satu aspek penting dari prinsip ini adalah bahwa musik tidak selalu harus digunakan untuk kepentingannya sendiri. Ini dapat digunakan dengan cara yang sangat efektif dalam peran pendukung, memfasilitasi ekspresi bentuk seni lainnya, atau membawa nilai ibadah yang lebih besar ke acara liturgi atau bahkan berkhotbah.
Musik berkuasa untuk Penyembuhan dan Penghancuran
Merujuk pada prinsip di atas, dan menggalinya lebih dalam lagi, bahwa musik merupakan kebenaran. Tentu saja jika hal ini ditinjau dari sudut pandang Alkitab,
154
musik mengandung kuasa yang melekat (inherent power).
Kuasa ini diharapkan digunakan untuk menyenangkan hati Tuhan sebesar-besarnya.
Kesaksian Alkitab mengindikasikan bahwa kuasa ini adalah "a-moral". Seperti diskusi Paulus tentang otoritas bahwa otoritas tersebut dikaruniakan oleh Allah, tetapi cara penggunaannya ditentukan oleh orang bersangkutan. Demikian juga kuasa dalam musik dikaruniakan oleh Allah, yang dapat digunakan untuk tujuan kebaikan atau kejahatan, semua ini tergantung kepada orang yang menggunakannya. Alkitab menjelaskan bahwa suara (sound) dan musik dapat digunakan untuk penyembuhan dan penghancuran. Ilmu pengetahuan sekarang memberikan bukti bahwa musik dapat digunakan untuk penyembuhan atau penghancuran. Musisi Gereja perlu menyadari hal ini, dan menggunakan kuasa atau kekuatan ini dengan sangat berhati-hati.
Struktur dan Pelatihan adalah Faktor Penting Bagi Pelayanan Musik Yang Efektif
Dari hasil penelitian pada bab sebelumnya tentang penggunaan musik dalam ibadah di Alkitab menunjukkan bahwa para musisi yang bertanggung jawab dalam depertemen musik menjadi objek pelatihan intensif, dan diorganisir dengan sangat hati-hati ke dalam struktur yang jelas. Hal ini dapat dilihat dalam lembaga musik yang dibangun oleh Daud.
155
Hasil dari pelatihan yang terstruktur ini menghasilkan keunggulan kinerja, dan kerohanian yang mumpuni dalam kisah Alkitab. Prinsip ini menjadi signifikan dan salah satu prinsip yang perlu ditanggapi dengan serius oleh Gereja, sehingga tidak ada lagi ditemukan musisi yang melayani musik di Gereja tanpa pelatihan atau struktur yang memadai.
Semua Bentuk Musik Dapat Digunakan Untuk Ibadah Meskipun tidak selalu jelas seperti apa persisnya musik pada zaman Alkitab terdengar. Hal tersebut dapat dipahami bahwa sepanjang sejarah musik ibadah dalam Alkitab, berbagai bentuk dimasukkan sebagai bagian dari
"daftar lagu" untuk beribadah. Bentuk-bentuk berbeda yang dimaksud di sini adalah lagu atau mazmur tradisional yang ditulis pada masa lalu, tetapi digunakan oleh orang moderen untuk beribadah.
Lagu kontemporer, kadang-kadang disebut sebagai nyanyian pujian atau himne (hymn) yang ditulis oleh orang-orang Kristen pada zaman ketika lagu itu digunakan untuk beribadah. Lagu spontan, kadang- kadang disebut sebagai "lagu spiritual" dan mungkin termasuk nyanyian glossolalia, atau "nyanyian dalam roh"
, sebuah ekspresi ibadah spontan melalui musik yang belum ditulis sebelumnya, tetapi terjadi dalam perjalanan sebuah acara ibadah. Oleh karenanya, Gereja perlu memberi perhatian lebih besar pada dua yang terakhir, dan terutama yang ketiga, bentuk musik ibadah dengan
156
memberi pengakuan yang lebih besar kepada mereka, dan kebebasan yang lebih besar untuk penggunaannya.
Prinsip-prinsip tersebut adalah ringkasan kekayaan pengajaran yang luas dan signifikan yang diberikan oleh Alkitab terhadap penggunaan musik dalam ibadah.
Mereka memberikan banyak masukan untuk dipikirkan tentang musik ibadah di Gereja saat ini. Namun pengembangannya belum dapat dilakukan dengan baik.
Pertama hal tersebut harus dilihat apakah asas-asas yang sama muncul dari sejarah penggunaan musik oleh Gereja, atau apakah ada di antara prinsip-prinsip tersebut perlu diubah atau didefinisikan ulang secara jelas dalam praktik Gereja selama berabad-abad.
Kemudian, prinsip-prinsip tersebut perlu dikaitkan dengan tantangan menghadapi Gereja hari ini, terutama dalam konteks Indonesia. Bila hal tersebut terjadi, prinsip-prinsip sejati untuk Gereja dewasa ini dapat dikembangkan dan ditawarkan.
157
158
DAFTAR PUSTAKA
Aruan, Robinson. " Musik Batak Dalam Studi Pempribumian Liturgia dan Kebaktian”, Indonesia Regional Asia Program For Advanced Studies (IRAPAS),1977.
Boschman, Lamar. Praises and Worship: The Priority, Purpose and Portrayal of Worship, Lecture notes, International School of Ministry: The International Curriculum, Trimester 1. Good Shepherd Ministry International, USA, 2006.
Connor, Kevin, The Tabernacle of David Bible Temple, Conner Publications: Portland, 1976.
Dickinson, Edward, Music in the History of the Western Church, Green Woood Press: New York, 1969.
Dinwiddie, RD., "The God Who Sings" in Christianity Today, July 15, 1983, hal. 18-21, diakses 8 Mei 2021
<http://douglasdwebster.com/latest/wp-
content/uploads/2019/05/Psalms-Jesus-Prayer- Book-Book-I-Psalms-1-41-2.pdf>
Eaton, John, Vision in Worship, S.P.C.K: London, 1981.
Funk, Virgil, Music and the Bible in Liturgy vol 6 (3), 1987.
Heuken, Adolf, Ensiklopedi Gereja Jilid II, Jakarta:
Yayasan Cipta Loka Ceraka, 1992.
Hesselgrave, David J & Edward Rommen, Kontekstualisasi Makna, Metode dan Model, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
Hoffman, L.A & Walton, J.R., Sacred Sound and Social Change, University of Notre Dame Press, 1992.
Hustad, Donald P, Developing a Biblical Philosophy of Church Music, in Bibliotheca Sacra: 1960.
Lamb, C, Alfred An Approach to Christian Doctrine, Methodist Publishing House: Cape Town 2015.
Listya, Rama, Agastya, Kontekstualisasi Musik Gerejawi, Salatiga: Fak. Teologi UKSW, 1999.
159
McNeill, Rhoderic J. Sejarah Musik, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1998.
Macquarrie, John, Principles of Christian Theology, Charles Schribner’s Sons: New York, 1977.
Pass, B. David, Music and the Church, Broadman Press;
Nashville, 1989.
Prier, Edmund Karl, Sakralitas Musik Rohani dalam majalah Gong Media dan Seni, Yogyakarta: Yayasan Media dan Seni Tradisi, 2000.
Pratt, Waldo, Musical Ministries in the Church, AMS Press:
New York, 1976.
Prior, David, The Message of 1 Corinthians, Inter-Varsity Press: Leicester, 1985.
Rouget,Gilbert.,.Music and Trance: a theory of relations between music and possession,Chicago: The University of Chicago Press, 1985.
Ryrie, Charles. Teologi Dasar 1. Yogyakarta: Andi Offset, 1991.
Ray, David R., Gereja Yang Hidup, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
Rowley, Worship in Ancient Israel, S.P.C.K: London, 1967.
Saragih, Winnardo,.Misi Musik,Jogjakarta: Percetakan Andi Offset, 2008.
Setiawan. Obaja T, Mengobarkan Api Penyembahan:
Menjadikan Penyembahan Sebagai Gaya Hidup, Yogyakarta: ANDI Offset, 2012.
Sorge, Bob, Mengungkap Segi-Segi Pujian dan Penyembahan Yogyakarta: ANDI Offset,1992.
Sendrey, Alfred, Music in Ancient Israel, Vision Press:
London, 1969.
Schleifer, Eliyahu, Sacred Sound and Social Change, Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame, 1995.
160
Warren, Rick, The Purpose Driven Church. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1995.
Werner, E., 'Music' in The Interpreter's Dictionary of the Bible, Vol.3, Abingdon Press: Nashville, 1962.
Wilson, Andrew dan Dickson, The Story of Christian Music, Lion Publishing: Oxford, 1992.
Willoughby,David, The World of Music 3rd Edition, Brown
& Benchmark Publisher, Susquehanna University, 1999.
Tim Penulis
Penulis lahir di Sondi Raya Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun pada tanggal 08 September 1980. Aktif sebagai Dosen Tetap Yayasan Perguruan Darma Agung pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Agama Kristen Universitas Darma Agung. Penulis menyelesaikan Strata-1 Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Medan pada tahun 2013, menyelesaikan pendidikan Strata-2 Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara Medan pada tahun 2019, dan pada tahun 2021 menyelesaikan pendidikan Strata-2 PAK di Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan. Kini penulis tengah menyelesaikan Desertasinya dalam program Doktor (Strata-3) di Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara Medan, dan juga aktif sebagai Pendeta di Gereja Bethel Indonesia (GBI) AVIA SETIA BUDI English Service Medan.
Dr. Padriadi Wiharjokusumo, SS., SH., MH.
Penulis lahir di Kisaran Kabupaten Asahan pada tanggal 08 April 1962. Aktif sebagai Dosen Tetap di Akademi Pariwisata dan Perhotelan Darma Agung Medan, dan Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Konsentrasi Pariwisata. Penulis menyelesaikan pendidikan Strata-1 Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Harapan Medan pada tahun 1999, menyelesaikan pendidikan Strata-1 Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Darma Agung pada tahun 2002, menyelesaikan pendidikan Strata-2 Ilmu Hukum di Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Darma Agung Medan pada tahun 2012, dan pada tahun 2019 menyelesaikan pendidikan Strata-3 Teologi di Program Doktor Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara Medan. Penulis kedua juga dikenal sebagai Mas Andy atau Pastor Andy. Beliau sebelumnya adalah seorang mantan pelaku usaha yang terjun langsung ke kancah persaingan dunia usaha, khususnya dalam dunia pariwisata.
Tidak heran, jika ia sering mendapat kepercayaan dari pemerintah ataupun negara untuk mendampingi tamu-tamu penting dari mancanegara, karena kemahirannya dalam berbahasa asing seperti Inggris, Jerman dan Perancis. Saat masih duduk di bangku kuliah baik di Fakultas Sastra (Inggris) maupun di Fakultas Hukum, lelaki yang suka bergaul ini kerap kali ditugasi menaikan doa dalam acara keagamaan. Ia adalah
tipikal pemimpin yang pemikirannya sangat kritis, yang di dadanya bergejolak rasa keingintahuan yang tinggi akan hal-hal baru. Sebagaimana diakui para koleganya, semangat bekerja dan belajarnya sungguh luar biasa. Kemampuannya dalam bidang pelatihan sumber daya manusia khususnya dalam pelatihan wisata petualangan telah sangat teruji pada berbagai seminar di mana ia tampil sebagai pembicara utamanya.
Barangkali hal ini adalah warisan yang ia dapatkan dari perusahaan asing seperti Amerika, Jerman, Perancis saat ia masih aktif di dunia pariwisata. Mahasiswanya menyebutnya seorang yang sangat disiplin tapi gaul. Ps. Andy memperoleh panggilan pelayanan berawal ketika ia gagal menggempur seorang anak Tuhan dengan ilmu santetnya. Ternyata ia juga adalah mantan “spiritual consultant” yang merangkap sebagai paranormal kalangan atas. Yesus Kristus Tuhan telah membuatnya tersungkur di hadapanNya dan menjadikan hambaNya. Karena kasih karunia Ia dapat menyelesaikan gelar Dr (S3) Teologi. Selain itu, pengetahuannya tentang alam roh dan mantan pengikut Lucifer telah membuatnya sangat mengerti tentang strategi iblis untuk memperdaya setiap orang percaya pada abad ke-21 ini. Kini ia bersama istrinya (penulis pertama) mendirikan sebuah wadah pelayanan bernama KNB Ministry, GBI Avia Setia Budi English Service dan kantor hukum yang bernama Dr. Padriadi Wiharjokusumo & Associates.
Mereka berdua juga adalah seorang komunikator dan motivator rohani. Dalam khotbahnya mereka berbicara tentang issue- issue terkini. Pesannya adalah moderen dan tidak ketinggalan zaman (up-to-date). Mereka berbicara tentang Tuhan yang hadir pada masa sekarang, juga memenuhi undangan pelayanan, baik KKR, seminar, retreat, dll. Pelayanannya bersifat interdenominasi. Kerinduan mereka adalah menjangkau setiap jiwa yang terhilang dan membawanya kepada Yesus Kristus Tuhan.