• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEOLOGI MUSIK

Dalam dokumen Undang-Undang Hak Cipta (Halaman 62-82)

Tujuan Teologi

Sebelum membahas beberapa alasan tentang teologi musik secara khusus, hal ini akan memberikan pencerahan bagi kita, bila terlebih dahulu mengkaji mengapa teologi sebagai suatu disiplin sangat berguna, dan membahas serta menemukan apakah salah satu dari prinsip-prinsip ini berlaku dalam praktik musik.

Kemudian, diskusi akan menjadi lebih efektif bila dilanjutkan untuk mengkaji kebutuhan akan teologi musik. Dengan demikian, hal ini akan membangun fondasi yang kuat dalam diskusi ini.

John Macquarrie (1977) dalam bukunya berjudul Principles of Christian Theology mendefinisikan teologi sebagai,” ... the study, which, through participation in and reflection upon a religious faith, seeks to express the content of this faith in the clearest and most coherent language available”. Yaitu studi, yang melalui partisipasi dalam dan refleksi atas keyakinan agama, berusaha untuk mengekspresikan isi dari iman dalam bahasa yang paling jelas dan paling koheren yang ada.

Meskipun pertanyaan itu telah dijawab dengan jelas selama berabad - abad, akan tetapi tetap saja, dasar

50

untuk menanyakan apakah pernyataan iman yang beralasan itu benar-benar diperlukan. Beberapa tradisi Gereja, terutama beberapa Gereja Pantekosta independen, secara halus memberikan penilaian ‘rendah’ terhadap teologi. Mereka percaya bahwa itu adalah konstruksi manusia dengan sedikit atau tidak ada relevansi dengan karya Allah yang sebenarnya melalui Roh-Nya.

Alfred C. Lamb (2015: 2-5) dalam bukunya berjudul An Approach to Christian Doctrine, menjelaskan mengapa teologi diperlukan dan apa manfaatnya membawa masuk ke dalam Gereja. Dia memaparkan enam alasan mengapa teologi itu penting. Pertama, teologi memungkinkan seorang Kristen untuk menghadapi pertanyaan- pertanyaan yang secara tak terelakkan muncul dalam iman, dengan kejujuran dan kecerdasan. Kedua, teologi menarik orang-orang percaya ke dalam warisan iman yang kaya yang telah diwariskan selama berabad-abad, dan dengan demikian memperluas pengalaman iman mereka.

Ketiga, bagi mereka yang berkhotbah dan memimpin Gereja, teologi menghasilkan esensi pesan yang harus dikomunikasikan.

Berikutnya keempat, teologi menerapkan iman kepada konteks langsung di mana ia dipraktikkan, dan dengan demikian membuat iman relevan dengan masyarakat moderen dan berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan iman. Kelima, teologi adalah alat apologetik yang diperlukan, memungkinkan Gereja untuk menghadapi

51

para pengkritiknya dengan pertahanan yang beralasan jika diperlukan. Keenam, akhirnya, teologi memberikan dasar bagi perilaku moral, sebuah kerangka di mana pemahaman iman dapat dipraktikkan dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya adalah, dapatkah secara umum alasan- alasan teologi ini sebagaimana telah diuraikan di atas memberikan wawasan apa pun tentang perlunya teologi musik? Pertanyaan ini perlu dijawab, karena; Pertama, agar tidak ada keraguan bahwa penggunaan musik menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang baik musisi maupun non-musisi, dan teologi akan membantu serta memungkinkan Gereja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cerdas. Kedua, Musik Gerejawi memiliki sejarah yang kaya dan warisan praktis yang dapat memberi informasi dan mengilhami kegiatan musik yang ada di Gereja.

Namun, tentunya harus ada juga metode reflektif teologi untuk memungkinkan musisi dan pemimpin mengatasi implikasi warisan musik ini. Ketiga, musik adalah bentuk komunikasi. Jika musik harus efektif sebagai alat ekspresi dan komunikasi bagi Gereja. Maka orang Kristen harus jelas apa pesannya, dan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan pesan ini. Ini adalah tugas teologi.

Keempat, setiap budaya dan konteks mengekspresikan dirinya dalam beberapa cara melalui musik.

52

Karena salah satu tugas teologi adalah menerapkan iman pada konteks langsung, dengan demikian musik tidak dapat diabaikan. Lebih dari itu, musik harus dipahami secara teologis agar dapat memenuhi tugasnya secara efektif. Kelima, sebagaimana dengan berkhotbah dan mengajarkan iman, ukuran otoritas spiritual diperlukan, yang berasal dari teologi. Karena musik berdiri di samping disiplin ini, dan menyampaikan pesan yang sama,

Oleh karenanya, hal itu membutuhkan ukuran otoritas yang sama. Teologi memberikan perihal tersebut, tetapi jika pesan musik Kristen harus menonjol dari pesan musik "sekuler", Teologi harus memahami musik dan bagaimana komunikasinya untuk memastikan bahwa pesannya berwibawa. Keenam, nilai musik evangelis dan apologetis akan dibahas dalam sub-bab berikutnya. Jadi intinya di sini bahwa musik memenuhi peran-peran ini, dan dengan demikian membutuhkan teologi yang kuat bila musik ingin menjadi efektif. Akhirnya, peran teologi dalam bimbingan moral tidak dapat diterapkan secara lebih efektif daripada di bidang musik, terutama ketika kontribusi musik terhadap kerusakan moral diperdebatkan secara terbuka.

Maka hal tersebut menjadi jelas, bahwa musik itu bersifat teologis, dan membutuhkan refleksi teologis agar dapat memenuhi fungsinya di Gereja. Hal ini, dengan ekstensi atau lanjutan musik ibadah yang benar (true of worship music). Namun, ada beberapa gambaran yang signifikan

53

di luar diskusi di atas, yang mengindikasikan kebutuhan terhadap teologi musik.

Kebutuhan Terhadap Teologi Musik

Seorang teolog dan sekaligus musisi Gereja, David B. Pass (1989: 5,6) dalam bukunya berjudul Music and the Church, menyatakan dengan tegas bahwa teologi musik tidak hanya dibenarkan, tetapi juga penting bagi kehidupan Gereja Kontemporer:

The Bible very clearly provides us with the principles needed to solve these controversies. However, there are no prepackaged answers or special verses we can turn to. Only by carefully studying the Bible, theology, and many other disciplines can one attempt to form a coherent theology of music and church music.... I believe that we must have such a theology.

Without it we will never know how music relates to our Christian lives and why it is so important to us as individuals and to us together as the body of Christ.

Pass menjelaskan bahwa Alkitab dengan sangat jelas memberi kita asas-asas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kontroversi ini. Namun, tidak ada paket atau kemasan jawaban atau ayat-ayat khusus yang bisa kita tunjukan. Lebih jauh Pass mengatakan bahwa hanya dengan mempelajari Alkitab, teologi, dan banyak disiplin ilmu lainnya, seseorang dapat mencoba untuk membentuk teologi yang koheren terhadap musik dan Musik Gereja. Dia percaya bahwa kita harus memiliki teologi semacam itu. Tanpa itu kita tidak akan pernah tahu bagaimana musik berhubungan dengan kehidupan

54

Kekeristenan kita, dan mengapa itu sangat penting bagi kita sebagai individu dan bagi kita bersama sebagai tubuh Kristus.

Studi ini akan menunjukkan tempat sentral di mana musik selalu hadir dalam berbagai kegiatan, hubungan dan ibadah, orang-orang Ibrani dan Gereja. Ini adalah salah satu bagian yang paling penting, paling konsisten, dan juga faktor utama yang paling memecah belah ibadah Kristen. Namun demikian, sejauh ini belum ada teologi yang dikembangkan dan diformulasikan untuk mendukungnya. Martin Luther mengembangkan teologi musik yang dapat dikatakan belum sempurna, dan pandangannya bertentangan dengan pandangan Calvin, yang merongrong pengaruhnya. John Wesley banyak bicara tentang musik, tetapi bukan musik yang sama dengan toko-toko Gereja lainnya.

Akibatnya bahwa pandangannya kadang-kadang lebih emosional daripada yang timbul dari refleksi informasi (informed reflection). Terlepas dari itu semua, Wesley melihat pentingnya musik, dan membuat salah satu kontribusi terbesar bagi musik dalam sejarah Gereja.

Bukti-bukti ini seharusnya dapat meyakinkan siapa pun yang berpandangan perlunya teologi secara umum untuk mengakui bahwa pemikiran teologis harus diterapkan pada penggunaan Musik Gerejawi.

David Pass adalah salah seorang yang menjawab kebutuhan ini, dan dia telah membuat kajian yang baik

55

dalam pengembangan teologi musik. Menurutnya ada lima alasan mengapa teologi musik diperlukan:

Pertama, kita memerlukan suatu cara untuk merefleksikan secara kritis tentang praktik Musik Gerejawi. Gereja telah banyak berinvestasi dalam menyusun penalaran teologis yang baik untuk menilai dan mempertahankan praktik dari sebagian besar aktivitas liturgis kita, tetapi ini tidak terjadi pada musik, terlepas dari signifikansinya. Hasilnya bahwa kita tidak memiliki cara untuk menguji apakah praktik musik kita sah atau tidak. Kebingungan dan ketidak pahaman akan hal ini telah membawa konflik, dan ini dapat dilihat ketika musisi dari berbagai tradisi dan latar belakang denominasi Gereja mencoba memaksakan keyakinan alam bawah sadar mereka (their subconscious beliefs) terhadap satu sama lain. Ini adalah apa yang disebut Pass sebagai "praktik ideologis" yang oleh beberapa kalangan denominasi Gereja diyakini bahwa praktik mereka murni dan tidak tercemar oleh teori. Padahal sebenarnya, ini hanyalah praktik yang tidak diinformasikan, dan tentunya hal ini berbahaya bagi Gereja karena menyebabkan perpecahan dan konflik.

Kedua, musik memiliki tempat di semua aspek utama kehidupan Gereja, termasuk penginjilan, ibadah, pendidikan, dan persekutuan. Bayangkan bila musik tidak ada dalam kegiatan tersebut. Gerangan apa yang akan terjadi, hal ini dapat dipastikan kegiatan tersebut

56

akan menjadi kurang efektif bila dibandingkan musik hadir di tengah kegiatan tersebut. Ketika musik dihilangkan “dengan sadar” (clear rationale) dalam kehidupan Gereja. Tentu saja musik tidak dapat memenuhi perannya dalam berbagai kegiatan Gereja, dan ini menjadi tidak pasti (uncertain), disalahpahami (misunderstood), dan disalahgunakan (abused). Hal ini secara alami mempengaruhi dampak dari kegiatan yang menjadi bagiannya.

Ketiga, Gereja secara terus menerus bekerja dalam berbagai situasi dan periode sejarah di mana ada perubahan dan pergolakan yang cukup besar. Musik sering menjadi pusat perubahan ini. Musik Gerejawi, bagaimanapun, membutuhkan "transendensi,” rasa aman dan benar-benar terlepas dari perubahan tersebut, dan tidak terpengaruh oleh mereka; seperti halnya Gereja.

Teologi musik memastikan bahwa hal ini dapat tercapai.

Keempat, Musik Gerejawi perlu terhubung dengan teologi, hubungan tersebut harus benar-benar dalam dan konsisten sesuai dengan kebenaran iman Kristen. Jika gagal melakukan hal ini, hubungan tersebut akan menjadi dangkal dan bahkan menyesatkan. Teologi musik memastikan bahwa musik dan teologi saling berinteraksi secara bermakna.

Akhirnya, pada era kontemporer atau kekinian yang semakin menglobal ini, Musik Gerejawi terus bergerak ke dalam budaya dan masyarakat baru secara konsisten.

57

Oleh karenanya, agar hal ini dapat dilakukan secara efektif dan tanpa membahayakan atau kesalahpahaman, maka harus ada pedoman teologis yang jelas untuk membimbing praktik musik.

Diskusi di atas menguraikan dengan sangat jelas betapa pentingnya suatu teologi musik bagi Gereja, dan betapa pentingnya teologi semacam itu sejak dulu. Namun, kami menambahkan satu pemikiran lebih jauh pada dialog ini bahwa banyak orang di Gereja sudah "melakukan" teologi kaitannya dengan musik. Namun, sering tidak diakui sebagaimana seharusnya, dan karenanya tidak dikenakan metode atau prosedur teologis yang biasa. Juga, teologi yang sedang dilakukan, bahkan ketika diakui, atau mengklaim nama teologi untuk dirinya sendiri, sebagian besar tidak mendapat informasi, baik dalam tataran musik maupun sehubungan dengan signifikansi teologis musik. Hasilnya adalah banyak emosi yang muncul, dan sedikit refleksi yang membantu.

Sebuah contoh dari hal ini dapat diberikan dalam pertanyaan yang sering diajukan tentang bagaimana ibadah Kristen harus dilakukan agar sesuai dan dihormati. Musik, tentu saja, sering menjadi pusat dari kontroversi semacam itu. Ini diilustrasikan dengan baik oleh debat yang dilakukan melalui sosial media seperti facebook, instagram dan youtube. Sementara debat itu berfokus pada nilai relatif dari himne tradisional dan paduan suara kontemporer, banyak dari apa yang

58

dikatakan lebih terkait dengan gaya presentasi musik yang sebenarnya, daripada pada pilihan musik semata.

Apa yang disarankan ini adalah bahwa banyak orang yang terlibat dalam diskusi ini berbicara tanpa dasar teologis yang kuat terhadap komentar mereka tentang musik.

Pernyataan budaya dan prasangka sering dibuat dengan sedikit pemikiran atau pemahaman teologis, tetapi dengan klaim otoritas teologi. Jelaslah bahwa mengembangkan kerangka kerja teologis yang dapat digunakan untuk menilai dan mengarahkan penggunaan musik akan jauh untuk menyatukan berbagai sudut pandang yang berbeda, setidaknya dalam refleksi dan debat yang produktif.

Kontribusi David Pass (1989:7) terhadap teologi musik telah diakui dan dicatat. Dia telah melakukan pra studi sebelum melakukan penelitiannya. Berikut adalah pandangannya:

As important as biblical references to music and the history of music in the Bible and later times are, one will never derive a theology of church music by simply quoting biblical texts on music and recounting the history of church music. The reason is simple; there is a difference between descriptive statements (what is or was the case), and normative statements (what should be the case). A description of music in the Bible cannot yield normative statements about what the church should be doing with music today. Neither will the history of church music provide us with such norms.

59

Pas mengatakan bahwa sama pentingnya dengan referensi alkitabiah tentang musik dan sejarah musik dalam Alkitab di kemudian hari, orang tidak akan pernah memperoleh teologi Musik Gerejawi hanya dengan mengutip teks Alkitab tentang musik dan menceritakan sejarah musik Gereja. Alasannya sederhana; ada perbedaan antara pernyataan deskriptif (apa yang terjadi atau apa kasusnya), dan pernyataan normatif (apa yang seharusnya menjadi kasus). Deskripsi musik dalam Alkitab tidak dapat menghasilkan pernyataan normatif tentang apa yang harus dilakukan Gereja dengan musik saat ini. Sejarah musik Gereja tidak akan memberi kita norma-norma seperti itu.

Menurut pandangan kami sebagai peneliti, Pass benar bahwa "hanya mengutip" Alkitab dan sejarah Gereja tidak akan menghasilkan teologi. Dia mengambil sikap skeptisnya terlalu jauh. Hasilnya adalah bahwa dia mengembangkan suatu teologi musik tanpa ada jalan lain bagi kesaksian Alkitab tentang penggunaan musik. Dia tidak sepenuhnya mengabaikan Kitab Suci, tetapi dia mengabaikan sejumlah besar materi yang relevan dengan penggunaan musik. Pertanyaan yang diajukan oleh metode Pass adalah salah satu validitasnya. Benarkah studi tentang musik Alkitab dan Gereja tidak relevan dengan teologi musik dewasa ini? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya mengkaji metode teologis

60

secara umum yang disampaikan oleh beberapa sarjana di bawah ini.

Alfred C. Lamb (2015) memberikan empat sumber terhadap teologi Kristen. Sebagai seorang teolog Methodis.

Dia secara alami memandang tradisinya dan menemukan

“Wesleyan Quadrilateral” sebagai penuntunnya. Empat poin segi empat, empat sumber metode Lamb adalah sebagai berikut.

Pertama, dia mengakui Kitab suci (Alkitab) sebagai sumber teologi utama, dan memberikan sejumlah alasan untuk melakukannya. Dia merenungkan hubungan yang diberikannya kepada para teolog kontemporer dengan Gereja apostolik. Dia mencatat nilainya dalam wahyu, dan dalam mengkomunikasikan kata-kata dan karya-karya Yesus; nilainya dalam pemahaman yang diberikannya tentang sifat manusia, dosa dan penebusan Allah sangat berharga dalam pandangannya; ajarannya tentang sifat dan tujuan Allah diakui, untuk menyebutkan beberapa cara yang dikontribusikannya bagi teologi.

Kedua, teologi menarik sumbernya pada Gereja. Dalam hal teologi, nilai Gereja adalah tradisi yang diturunkan selama berabad-abad, yang telah dicoba dan diuji, baik secara teologis maupun praktis.

Ketiga, pentingnya pengalaman religius pribadi selalu ditegaskan dalam teologi Methodist. Pengalaman seperti itu merupakan bagian integral dari kehidupan, dan

61

setidaknya dalam arti kecil (a small sense), adalah wahyu.

Ini juga universal dalam konten dan makna.

Akhirnya, Lamb, mengakui dunia alam (natural world) sebagai sumber teologi. Mungkin ini dapat diartikan secara sah sebagai sains, atau bahkan secara lebih lunak sebagai nalar, karena ini adalah studi dan refleksi tentang dunia alam yang memberikan pemahaman teologis.

John Macquarrie (1977) sependapat dengan Lamb mengenai sumber-sumber teologi ini, tetapi menambahkan beberapa kontribusi tambahan. Dia memperluas diskusi Lamb tentang dunia alam ke wahyu secara umum sebagai sumber. Intinya adalah bahwa dunia alam mengungkapkan Allah, tetapi itu bukan satu- satunya sumber wahyu. Apa pun sumbernya, wahyu adalah faktor penting dalam perkembangan teologi.

Macquarrie juga mengakui peran pengalaman, tetapi melangkah lebih jauh dari Lamb, menyatakan bahwa pengalaman apa pun dapat berkontribusi pada teologi, dan hal tersebut hanya mnyangkut pengalaman religius.

Hal lain, yang sama sekali terlewatkan oleh Lamb, adalah nilai budaya sebagai sumber teologi. Karena teologi perlu diekspresikan dalam bahasa budaya di mana budaya tersebut dilaksanakan, maka ia harus berdialog dengan budaya ini, dan membiarkan dirinya diinformasikan oleh budaya. Hal tersebut mustahil bagi para teolog untuk menjauhkan diri dari kerangka budaya mereka sendiri, dan karena itu lebih baik jika teolog secara eksplisit

62

mengenali faktor – faktor budaya dalam pemikiran ini dan mencapai kesepakatan tersebut. Akhirnya, Macquarr menambahkan nalar (sense) terhadap sumbernya.

Sedangkan pandangan Lamb tentang dunia alam dapat mencakup hal ini, Pandangan Macquarrie lebih eksplisit dalam menguraikan peran pemahaman manusia dalam pengembangan teologi.

Dengan demikian, setidaknya ada enam sumber teologi yang efektif menurut kedua teolog ini: Alkitab (Scripture), Gereja dan tradisi (church and tradition), pengalaman (experience), dunia alam (the natural world), budaya (culture), dan nalar (sense). Mungkin ada beberapa perdebatan tentang urutan pentingnya sumber-sumber ini. Namun, Lamb dengan jelas dan tegas menempatkan kitab suci, Gereja dan tradisi di garis depan.

Yang pertama dan terpenting adalah wahyu khusus yang diberikan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru (Alfred C. Lamb, 2015: 10).

Hal ini cukup beralasan bahwa Gereja yang menghasilkan dan melestarikan Kitab Suci ini harus dianggap sangat penting. Alasan terbaik untuk menempatkan kedua sumber ini di atas kepentingan lain, adalah bahwa kitab suci dan Gereja adalah sumber teologis yang objektif, yang muncul dari luar orang percaya, dan dengan demikian dapat dengan mudah dimanipulasi menjadi skema yang mementingkan diri. Pengalaman dan wahyu yang diterima melalui dunia alam, serta budaya dan akal

63

adalah sumber subyektif bagi teologi. Mereka penting, tetapi jelas membutuhkan pedoman obyektif untuk mencegah mereka pindah ke fantasi atau bidat.

Sumber-sumber teologi ini secara umum diterima dan bermanfaat, sebagaimana dinyatakan Macquarrie (1977:

4):

These (formative factors) would seem to be almost universally operative in theology, and although we are concerned here with Christian theology, parallels in other faiths will readily suggest themselves...

Macquarrie menjelaskan bahwa faktor-faktor formatif ini kelihatannya hampir secara universal berlaku dalam teologi, dan meskipun kita memusatkan perhatian pada teologi Kristen, persamaan-persamaan dalam kepercayaan agama lain akan dengan mudah mengungkapkan diri mereka sendiri ...

Bila membandingkan metode Pass dengan sumber- sumber teologi ini untuk memastikan apakah ia memang menggunakan metode yang sahih (valid). Jika metodenya bertahan, maka ini akan menjadi metode yang digunakan.

Namun, jika metodenya gagal, maka akan disarankan untuk kembali ke metode pengembangan teologis yang diterima untuk studi ini.

Metode Teologi Musik

Ada perbedaan mencolok dalam metode pengembangan bagaimana Pass mendekati teologi musiknya dibandingkan dengan metode yang digunakan oleh dua

64

teolog lainnya sebagaimana telah dibahas di atas. Ini berarti bahwa Pass memiliki alasan yang kuat mengabaikan bobot yang signifikan terhadap tempat penting pada sumber-sumber yang digunakan oleh Lamb dan Macquarrie, atau dia membiarkan teologinya terbuka untuk dipertanyakan. Di permukaan, Pass telah memasukkan Kitab Suci, tetapi itu hanya berkaitan dengan memahami fungsi Gereja, tidak secara langsung berkaitan dengan musik, setidaknya dalam tingkat yang signifikan. Dia mencoba mengembangkan model Gereja, dan dapat dipastikan dia menggunakan sumber tersebut untuk teologinya.

Namun, di sini Pass mengabaikan tradisi Musik Gerejawi yang agung, dan hanya berusaha untuk memahami Gereja sebagaimana adanya. Penggunaan pengalaman sebagai sumber sangat jelas terlihat dalam teologi Pas, tetapi harus dinyatakan bahwa pengalaman tanpa kekuatan penuntun dari kitab suci dan tradisi Gereja adalah berbahaya, dan dapat memimpin teologi ke arah mana pun yang diinginkan oleh penulis. Demikian juga dengan teologi Pass yang bersumber pada kekuatan akal dan berhubungan sampai batas tertentu dengan dunia alam. Hal ini juga membutuhkan keseimbangan yang kuat antara kitab suci dan tradisi Gereja. Budaya yang merupakan unsur terakhir hampir sepenuhnya tidak ada dalam teologi Pass.

65

Dengan demikian, jelas bahwa Pass menggunakan secara efektif hanya tiga dari enam sumber teologi, dan tiga yang ia pilih adalah yang paling subyektif. Sementara sumber- sumber subyektif berharga bagi teologi, harus ada beberapa objektivitas agar teologi menjadi sahih dan seimbang. Sebuah studi tentang teologi Pass menunjukkan ketidakmampuan metodenya, karena ia hanya mengenal satu fungsi musik, yaitu komunikasi.

Sedangkan fungsi musik terdiri dari tiga unsur, yaitu:

ibadah (leitourgia), persekutuan (koinonia) dan persembahan (kerygma). Lebih lagi, sebagaimana pernyataan berikut ini bahwa musik jauh lebih dari sekadar komunikasi, dan bahkan di bidang komunikasi ada beberapa penggunaan musik yang sangat signifikan yang tidak dieksplorasi oleh Pass terutama pendidikan.

Pass mengklaim bahwa pernyataan normatif tidak dapat ditarik dari pernyataan deskriptif. Namun, ketika berhadapan dengan sumber-sumber historis Alkitab dan Gereja terhadap suatu teologi musik, ada jauh lebih banyak dari deskripsi yang tersedia. Ada banyak yang dijelaskan dan itu diakui, akan tetapi ada juga banyak cara seperti ; perintah (command), pengajaran (teaching) dan bimbingan (guidance), yang semuanya bersifat normatif.

Lebih jauh, hal itu tidak benar untuk mengatakan bahwa pernyataan teologis tidak dapat diterima untuk digunakan dalam mengembangkan pernyataan normatif. Ini adalah

Dalam dokumen Undang-Undang Hak Cipta (Halaman 62-82)

Dokumen terkait