• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Profesionalitas Guru

Dalam dokumen Putri Rahina Anugrahini.pdf (Halaman 38-48)

Dalam Bab III Pasal 7 (1) telah dijelaskan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagi berikut:

a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,ketakwaan, dan akhlak mulia.

c. Kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan, sesuai denganbidang dan tugas.

d. Memiliki kompetensi yang diperlukan, sesuai dengan bidang tugas.

e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas kep-rofesionalan.

f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai prestasi kerja.

g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprof-esionalan secaraberkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.59

h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melak-sanakan tugaskeprofesionalan dan

59Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 87.

i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal- hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Dalam ayat 2 pemberdayaan profesi guru atau dosen diselenggara-kan melalui pengembanagn diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemuakn bangsa, dan kode etik profesi sebagaimana telah tertuang dalam Pasal 7 (2).60

Dalam Islam setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional, dalam arti harus dilakukan secara benar. Rasulullah Saw., pernah bersabda bahwa “bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggulah kehancuran.”

Menurut A. Tafsir makan “kehancuran” dalam hadis di atas dapat diartikan secara terbatas dan dapat juga diartikan secara luas. Bila seorang guru mengajar tidak disertai dengan keahliannya, maka yang hancur adalah muridnya. Oleh karena itu guru PAI wajib memiliki prinsip profesional agar dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Adapun prinsip profesionalitas guru PAI ideal menurut Departemen Agama Republik Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Memiliki sifat dan kepribadian sebagai Muslim yang bertakwa kepada Allah Swt. dan sebagai warga negara Indonesia, serta cendekia dan mampu mengembangkannya.

60Ibid., 87-88.

2. Menguasai wawasan kependidikan, khususnya berkenaan dengan pendidikan pada tingkat dasar (sekolah/madrasah)

3. Menguasai bahan dasar pengajaran Pendidikan Agama Islam pada jenjang pendidikan dasar serta konsep dasar keilmuan yang menjadi sumbernya 4. Mampu merencanakan dan mengembangkan program pengajaran

Pendidikan Agama Islam pada jenjang pendidikan dasar

5. Mampu melaksanakan program pengajaran Pendidikan Agama Islam sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak usia pendidikan dasar 6. Mampu menilai proses hasil belajar mengajar murid sekolah/madrasah 7. Mampu berinteraksi dengan teman sejawat dan masyarakat serta peserta

didik sekolah/madrasah

8. Mampu memahami dan memanfaatkan hasil penelitian untuk menunjang pelaksanaan tugasnya sebagai guru Agama Islam di sekolah/ madrasah.61

D. Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi Guru 1. Kualifikasi Guru

Seorang guru dalam menjalankan tugas utamanya memerlukan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi guru yang telah diatur dalam Pasal 8 Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 yang menjelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,

61 Abdul Majid, Belajar danPembelajaran Pendidikan Agama Islam, 91-92.

kompetensi, sertifikat guru, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.62

Adapun yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi fisik seta mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.63 Guru juga bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, seta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.64

Dalam Pasal 9 menjelaskan tentang kualifikasi akademik yang dapat diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat.65Yang dimaksud kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.66

62Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 88.

63 Miftahul Ulum, Demitologi P rofesi Guru, 101.

64Ibid., 35.

65Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 88.

66 Kusnandar, Guru Profesional (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 72.

Guru Pendidikan Agama Islam dapat dikatakan profesional apabila telah memenuhi syarat kualifikasi akademik yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana. Guru PAI juga harus ahli dalam ilmu atau pekerjaanya, yang dimaksud dengan ahli yaitu menguasai materi al- Islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan pengajaran, terutama pada bidang yang menjadi tugasnya.

2. Kompetensi Guru

Kemudian pada Pasal 10 kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik67, kompetensi kepribadian68, kompetensi sosial69, kompetensi profesional70 yang diperoleh melalui pendidikan profesi.71 Yang menarik di sini adalah pernyataan yang menekankan kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru diminta untuk tidak hanya sekedar

67 Munif Chatib, Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2013), 28. Kompetensi pedagogik yaitu meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

68 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008 ), 117. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

69 Munif Chatib, Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara, 29. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing suswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

70E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, 173. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

71Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 88.

mengajarkan ilmu kepada peserta didik saja, tetapi peserta didik juga harus paham dan terampil mengenai materi pelajaran yang diajarkan.

Materi-materi pelajaran itu hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Itulah sebabnya setiap guru harus mengem-bangkan afeksi, kognisi, dan ketrampilan peserta didik secara berimbang dan menilai ketiganya ke dalam rapor.72

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 bahwa standar kompetensi guru termasuk guru Pendidikan Agama Islam terdiri dari empat kompetensi utama, yaitu:

a. Kompetensi pedagogik yang meliputi:

1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, emosional, dan intelektual;

2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik;

3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.

4) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

72 Made Pidarta, Landasan kependidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007), 69. Lihat juga dalam Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan guru di Indonesia.

5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.

6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk aktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.

8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

10)Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

b. Kompetensi kepribadian yang meliputi:

i. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

ii. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

iii. Menampilkan diri sebagai pribadi yang yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.

iv. Menunjukkan etos kerja, bertanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

v. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

c. Kompetensi profesional yang meliputi:

i. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak deskriminatif karena pertim-bangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.

ii. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

iii. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

iv. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

d. Kompetensi sosial yang meliputi:

i. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

ii. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu

iii. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

iv. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

v. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.73

3. Sertifikasi Guru

Sementara sertifikasi guru diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikat pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah, yang dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Demikian disebutkan dalam Bab IV Pasal 11 Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005.74

Dalam Pasal 12 dijelaskan pula bahwa setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.

Kemudian pendidik mendapat anggaran dari pemerintah sebagaimana tertuang dalam Pasal 13 yaitu (1). Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan

73 Abdul Majid, Belajar danPembelajaran Pendidikan Agama Islam, 92-93. Lihat juga dalam Daryanto, Standar Kompetensi dan Penilaian Guru Profesional (Yogyakarta: Gava Media, 2013), 239-245.

74 Made Pidarta, Landasan kependidikan, 69.

pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.75

75Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 89.

BAB III

GAMBARAN UMUM TOKOH WAYANG SEMAR

Dalam dokumen Putri Rahina Anugrahini.pdf (Halaman 38-48)