• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Sosial remaja

BAB II KAJIAN TEORI

B. Problematika Sosial remaja

mengajar, maupun untuk mengatasi hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajarmengajar. Adapun aspek-aspek yang dinilai meliputi: hasil belajar murid dan latar belakang kehidupannya.

dan adanya hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat.

Dengan adanya interaksi, maka manusia sejak lahir telah mempengaruhi perilaku orang lain dan benda-benda disekitarnya.

Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang per orang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan system serta bentuk-bentuk hubungan tersebut, atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Dengan kata segi kehidupan bersama.

Yang dimaksud perkembangan sosial adalah pola tingkah laku sosial atau suatu tindakan. Adapun tindakan diartikan sebagai perilaku manusia yang mempunyai maksud subjektif bagi dirinya. Arti bagi tindakan tersebut merupakan perwujudan dari pola pikir manusia (individu) yang bersangkutan. Tidak semua tindakan manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan kenyataan sosial paling mendasar, yang menyangkut komponen- komponen dasarnya, yaitu tujuan, alat, kondisi, nilai, dan norma.

Sedangkan tindakan sosial dibedakan menjadi:

1) Tindakan sosial yang bersifat instrumental, yaitu tindakan yang dilaksanakan dengan pertimbangan dan pilihan secara sadar, meliputi proses sosial yang sistematis untuk mencapai tujuan.

2) Tindakan sosial yang bersifat irasional, yaitu suatu tindakan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan terlebih dahulu azas manfaat dan tujuan.

3) Tindakan sosial yang bersifat tradisional, yaitu suatu tindakan yang dilaksanakan dengan memperhatikan unsur rasional dan kondisi atau tradisi sosial yang sudah baku tanpa memperhatikan proses dan tujuan. Menurut teori interaksionisme simbolis, tindakan manusia didasarkan pada tiga hal, yaitu:

a) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.

b) Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang terhadap orang lain.

c) Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi sosial berlangsung.32

b. Pengertian Remaja

Remaja dalam bahasa aslinya adolescense, berasal dari Bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan” dengan pengertian yang lebih luas adolescence saat ini mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Sedangkan adolescense diartikan sebagai suatu periode perkembangan manusia yang dimulai dengan masa cukup umur (puber) dan berakhir dengan tercapainya kematangan sebagai orang dewasa.33

Menurut Melly Sri Sulastri Rifa’i remaja adalah pemuda pemudi yang berada pada masa perkembangan disebut masa “adolescence”

(masa remaja menuju masa kedewasaan).34 Masa ini merupakan taraf perkembangan dalam kehidupan manusia, di mana seorang sudah tidak dapat disebut anak kecil lagi, tetapi juga belum dapat disebut orang dewasa. Taraf perkembangan ini pada umumnya disebut masa pancaroba atau masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kearah kedewasaan.

Masa remaja adalah masa perlihan diri anak menjadi dewasa yang dimulai dengan timbulnya tanda-tanda puber yang pertama dan berakhir pada waktu remaja mencapai kematangan fisik dan mental. Hakikat remaja adalah disaat menemukan dirinya sendiri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru untuk menjadi pribadi yang dewasa.35

32Moh Padil Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, (Malang: UIN-Press, 2007), hal. 69.

33Danuyansa Asih Wardji, Ensiklopedia Psikologi, (Jakarta: Arcam, 1996), cet. ke-1, hal. 6.

34Melly Sri Sulastri Rifa’i, Psikologi Perkembangan Remaja, (Bina Aksara, 1987), hal. 1.

35Samadi Suryo Broto, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Rake Saran, 1993), hal. 129.

Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”.

Remaja juga merupakan pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan.

Dalam perkembangannya tidak sedikit perubahan-perubahan yang dialami, perubahan fisik sering kali diikuti oleh adanya perubahan emosional, yang kemudian menjelma menjadi remaja yang sensitif, mudah sekali terpancing oleh suasana sekitarnya, dan cepat sekali mengikuti perubahan yang terjadi pada lingkungannya, dan paling suka sekali mengikuti model-model yang sedang berlaku tanpa berpikir lagi, apakah sesuai atau tidak pokoknya ikut tren masa kini dan remaja yang tersebut masih bersifat labil.36

Masa remaja dibagi menjadi dua tingkat yaitu:37

1) Masa remaja awal kira-kira-kira pada usia 13-16 tahun, dimana pertumbuhan jasmani dan kecerdasan berjalan sangat cepat.

2) Masa remaja akhir, kira-kira usia 17-21 tahun. Dalam rentangan masa ini terjadi proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek- aspek psikis yang telah dimulai sejak masa-masa sebelumnya. Arahnya adalah kesempurnaan kematangan.

Jadi dapat disimpulkan, masa remaja merupakan masa dimana seseorang telah meninggalkan masa kanak-kanaknya. Pada masa remaja mereka sudah seharusnya bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Selain itu, masa remaja merupakan masa dimana anak remaja mulai mencari kebebasan dalam dirinya dan juga merasa bahwa mereka mampu. Meskipun pada kenyataannya mereka masih membutuhkan

36Mohammad Ali, Psikologi Remaja dan Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), cet. ke-7, hal. 9

37Andi Mappiare, Psikologi Remaja, (Surabaya: Usaha Nasional, 1990), hal. 36.

bimbingan agar mereka dapat menjalankan proses perkembangan mereka dengan baik.

2. Problem Remaja

Setiap manusia hidup di dunia ini pasti memiliki problem, baik yang berkategori ringan, sedang, maupun berat. Begitu juga remaja dalam kehidupan sehari-hari dihadapkan kepada problem atau masalah-masalah tersebut. Istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata “Juvenile Delinquency” yang dipakai di dunia Barat. Istilah ini mengandung pengertian tentang kehidupan remaja yang menyimpang dari berbagai pranata dan norma yang berlaku umum. Baik yang menyangkut kehidupan masyarakat, agama, serta hukum yang berlaku.38

Secara garis besar, problem yang dihadapi remaja dalam kehidupannya, Zakiah Daradjat mengemukakan sebagi berikut.

a. Problem yang berhubungan dengan pertumbuhan jasmani

Problem yang dialami oleh anak-anak yang meningkat remaja adalah perubahan jasmani yang terjadi mulai kira-kira usia 13-16 tahun.

Peristiwa-peristiwa menggelisahkan yang banyak terjadi pada usia ini adalah berhubungan dengan:

1) Pertumbuhan pada anggota kelamin.

2) Pertumbuhan yang membedakan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan, dimana tanda tersebut semakin jelas terlihat pada tubuhnya.

3) Pertumbuhan badan yang sangat cepat; anak bertambah tinggi, besar, dan berat badanya capat sekali.

4) Terjadinya menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki- laki.

5) Tumbuhnya jerawat dan bintik-bintik pada muka, punggung, leher, dan sebagainya.

38M. Arifin, Pediman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, Jakarta: Golden Terayon Press, 1982, cet ke-1, hal. 89

b. Problem yang berhubungan dengan orang tua

Diantara kesukaran-kesukaran yang banyak pula dihadapi oleh anak-anak remaja adalah bertalian dengan orang tuanya sendiri, jika orang tua kurang mengerti akan ciri-ciri dan sifat pertumbuhan yang sedang terjadi atas mereka. Di antara yang paling banyak menimbulkan ketegangan antara anak dan orang tua adalah peraturan-peraturan dan ketentuan yang dibuat oleh orang tua.

c. Problem yang berhubungan dengan sekolah dan pelajaran

Salah satu kesukaran pada remaja adalah dalam menghadapi pelajaran. Mereka ingin sukses, ingin tahu bagaimana belajar dengan baik, menghindari kemalasan, ingin pandai, dan menonjol dikelas.

Telah terjadi kenyataan bahwa bakat dan kemampuan yang terjadi diantara anak yang satu dengan lainya tidak sama. Ada yang kuat dengan satu mata pelajaran lainnya.

d. Problem yang berhubungan dengan pribadi

Di samping problem yang berhubungan dengan pertumbuhan jasmani, sekolah, orang tua dan masyarakat itu tidak kalah pentingnya dengan problem pribadi. Remaja membutuhkan orang yang tepat unutk mencurahkan perasaan-perasaan kegelisahan, kecemasan harapanya, dan sebaginya.39

3. Aspek-Aspek Sosial Remaja

Perkembangan sosial remaja menghendaki remaja untuk berusaha menjadi bagian di dalam suatu kelompok sosial tertentu. Dari sini kemudian akan terbentuk suatu proses sosialisasi pada remaja. Pada kenyataannya, kemampuan bersosialisasi ini tidak dimiliki semua remaja dengan porsi yang sama, ada remaja yang mudah melaksanakan sosialisasi ini, mereka pada umumnya berasal dari keluarga atau orang tua yang banyak mengadakan proses-proses sosialisasi di berbagai kelompok sosial di masyarakat. Anak (remaja) dalam hal ini akan mengimitasi perilaku sosial

39TB Aat Syafaat, et all, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam mencegah kenakalan Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), cet. ke-2, hal. 107-109

yang dilakukan oleh orang tuanya. Sebaliknya mereka yang menghalami kesulitan dalam proses sosialisasinya (malu-malu atau kaku dalam bergabung dengan kelompok-kelompok remaja) pada umumnya berasal dari orang tua yang sedikit banyak bersikap seklusif (menyendiri) terhadap berbagai bentuk pergaulan dalam masyarakat. Cara yang seklusif inilah yang ditiru anak (remaja) dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Keberhasilan sosialisasi remaja dapat diukur dari keaktifan remaja yang bersangkutan di dalam suatu kelompok remaja tertentu. Remaja yang aktif di suatu kelompok sosial tertentu berarti telah berhasil dalam proses sosialisasinya di dalam kelompok tersebut. Suatu ketika hal ini dapat saja membuat remaja menjadi pemimpin di dalam kelompoknya apabila dapat diterima oleh anggota kelompoknya. Sebaliknya, remaja yang tidak sukses dalam proses sosialisasinya hanya akan berperan sebagai pihak yang berada

“di pinggiran” dalam kelompoknya. Remaja yang seperti ini biasanya tidak terlalu dipertimbangkan peran dan keberadaannya oleh anggota kelompok yang lain.

Dalam perkembangan sosial, kontak dengan orang lain adalah sangat penting dilakukan. Untuk itu terdapat hal-hal yang sangat esensial yang harus dikuasai remaja agar kontak sosial yang dibuatnya dapat berjalan dengan baik seperti bahasa, simbol-simbol, larangan-larangan, atau norma- norma sosial lainnya. Di samping itu pengaruh sugesti dari kegiatan- kegiatan orang lain, juga memegang peranan yang sangat penting.

Penelitian melalui analisa buku harian remaja, menunjukan bahwa terdapat perubahan-perubahan serta kondisi-kondisi yang sangat menarik.

Pada tahun-tahun permulaan mereka lebih tertarik kepada kegiatan-kegiatan seperti membaca, mendengarkan radio atau kegiatan-kegiatan kelompok muda-mudi secara terpisah. Dari sini dapat diketahui bahwa remaja mengalami banyak perubahan dalam minat-minatnya dan cenderung untuk belajar dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang lain.40

40Sulaeman Dadang, Psikologi Remaja, (Bandung: Mandar Maju, 1995), hal. 30.

4. Faktor- Faktor yang Menyebabkan Problematika Sosial Remaja

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang memba- hayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur- unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya konflik, antara lain:

a. Perbedaan antara individu dengan individu yang berupa pendirian dan perasaan.

b. Perbedaan kebudayaan. Perbedaan kepribadian dari orang per orang tergantung pada pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan dan perkembangan kepribadian. Seseorang dengan cara sadar atau tidak sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya.

c. Perbedaan kepentingan. Perbedaan kepentingan antar individu atau antar kelompok merupakan sumber lain dari konflik. Wujud kepentingan bisa bermacam-macam, seperti kepentingan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

d. Perubahan sosial. Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

Problema itu akan menggelisahkan remaja, karena dianggap menghambat keinginan remaja untuk memperkuat hubungan dengan anggota kelompoknya, sebab kesetiaan dan keikhlasan terhadap kelompoknya adalah sifat remaja yang penting. Apabila remaja yang

kurang menunjukkan sifat yang demikian maka akan dijauhi oleh teman- temannya. Biasanya kesetiaan remaja terhadap temannya melebihi kesetiaannya terhadap orang tua atau gurunya.

Remaja juga peka terhadap harga diri, sehingga masalah pakaian kadang kala bisa menjadi problema. Juga masalah panggilan nama seseorang, masalah hiasan dan lain-lainnya yang berhubungan dengan harga dirinya, bisa menimbulkan persoalan. Memang pandangan remaja terhadap masyarakat dalam kehidupan bersama banyak dipengaruhi oleh kuat tidaknya pribadi, citra diri atau rasa percaya pada dirinya.

Jadi problema remaja adalah sangat luas dan kompleks meliputi masalah pertumbuhan, masalah masa depan dan masalah yang akan ditimbulkanya. Masalah pertumbuhan adalah masalah yang menyangkut problema yang dihadapi dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan remaja menuju kedewasaannya. Masalah masa depan adalah masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan remaja itu sendiri maupun masa depan bangsa akibat tidak terbinannya remaja. Sedangkan masalah yang ditimbulkan oleh remaja adalah tindakan atau perbuatan remaja yang dapat mengganggu ketertiban dan ketentraman umum.

Masalah yang ketiga ini dikenal dengan sebutan problema kenakalan remaja, sehingga kenakalan remaja tersebut termasuk problema sosial.

Masalah yang muncul dewasa ini adalah berkurangnya nilai-nilai moral di mata generasi muda. Mereka dihadapkan pada kontradiksi dan pengalaman moral, yang menyebabkan meraka bingung untuk memilih mana yang baik untuk mereka. Hal ini nampak jelas pada mereka yang hidup dikota-kota basar, yang mencoba mengembangkan diri ke arah kehidupan yang disangka maju dan modern dimana berkecamuk aneka ragam kebudayaan yang masuk sekolah tanpa adanya filternisasi di dalamnya.

Pemecahan adalah suatu keputusan atau jawaban dalam memcahkan sesuatu permasalahan baik dalam kehidupan, lingkungan dan sekitarnya.

Untuk mendekatkan masalah remaja atau kenakalan remaja pada suatu pemecahan yang tepat, maka hendaknya ditinjau terlebih dahulu dari subjeknya, kemudian baru pada bentuk dan sifat perbuatannya.

C. Peranan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi

Dokumen terkait