BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja adalah bagian penting yang harus diperhatikan dalam manajemen SDM. Manager yang sukses harus memiliki kemampuan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawannya.
a. Memaknai Produktivitas
Pengertian produktivitas dapat diartikan secara umum sebagai tingkat perbandingan antara hasil keluaran (output) dengan masukan (input) (Bernandin dan Russel, dalam Triton, 2010, hal.80). Memahami konsep dan teori produktivitas secara baik dapat dilakukan dengan cara membedakannya dari efektivitas dan efesiensi. Efektivitas dapat didefinisikan sebagai tingkat ketetapan dalam memilih atau menggunakan suatu metode untuk melakukan sesuatu (efektif = do right things). Efesiensi dapat didefinisikan sebagai tingkat ketetapan dan berbagai kemudahan dalam melakukan sesuatu (efesiensi = do things right). Produktivitas memiliki dua dimensi, dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Dimensi yang ke dua yaitu efesiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
b. Keterkaitan Produktivitas Dengan Faktor Lain
(Klingner Nanbaldin, dalam Triton, 2010 hal 82) menyatakan bahwa produktivitas merupakan fungsi perkalian dari usaha pegawai (effort) yang didukung dengan motivasi yang tinggi, dengan kemampuan pegawai yang dapat diperoleh melalui latihan-latihan. Produktivitas meningkat, berarti ferformansi yang baik, akan menjadi feedback bagi usaha, atau motivasi pekerja pada tahap berikutnya. Selain berkaitan produktivitas dengan usaha
dan kemampuan SDM, produktivitas juga memiliki hubungan keterkaitan dengan efesiensi, efektivitas, kualitas dan finansial.
c. Produktivitas Parsial dan Terpadu
Untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimum, organisasi harus menjamin dipilihnya orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat serta kondisi yang memungkinkan mereka bekerja optimal.
Menurut Sinungan (Dalam Triton, 2010, hal. 84)
Produktivitas mengikutsertakan pendayagunaan secara terpadu sumber daya manusia dan keterampilan, barang modal, teknologi, manajemen informasi energi, dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup untuk seluruh masyarakat melalui produktivitas total. Dengan demikian, produktivitas terpadu dicapai dengan pendekatan inter displiner untuk menentukan tujuan efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.
d. Meningkatkan Produtivitas
Bidang-bidang yang berkaitan dengan program-program peningkatan produktivitas antara lain adalah yang pertama mencakup dinamika struktur organisasi, kedua mencakup proses-proses dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), dan ketiga mencakup mekanisme pelaksanaan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Menurut Gomes (Dalam Triton, 2010 hal. 85) lingkup perbaikan produktivitas, antara lain :
a. Fleksibilitas dan melakukan prosedur prosedur pelayanan sipil
b. Sentralisasi manajemen yang mendukung pelayanan, antara lain meliputi daftar gaji, pembelian, dan lain-lain
c. Mengumpulkan laporan-laporan keuangan untuk meningkatkan pendapatan
d. Desentralisasi yang terpilih atau reorganisasi kedalam unit-unit yang sama
e. Pemakaian yang meningkat mengenai ukuran-ukuran kinerja dan stndar- standar kerja untuk memonitor produktivitas
f. Konsolidasi pelayanan-pelayanan
g. Penggunaan model-model keputusan ekonomi rasional untuk menjadwalkan dan masalah konservasi energi lainnya.
e. Menilai Kinerja Karyawan Secara Efektif
Penilaian kinerja akan efektif apabila dalam penilaian kinerja benar- benar memperhatikan dan memprioritaskan dua hal berikut sebagai persyaratan:
1. Kriteria pengukuran kinerja memenuhi obyektivitas. Untuk memenuhi persyaratan ini, maka ada tiga kualifikasi penting bagi pengembangan kriteria pengukuran kinerja yang obyektif, yaitu:
a) Relepansi, berarti harus ada kesesuaian antara kriteria dengan tujuan-tujuan penilaian kinerja. Misalnya apabila tujuan perusahaan adalah meningkatkan kualitas produk dan penilaian kinerja
dilakukan dibagian produksi, maka kualitas pekerjaan seseorang dijadikan kriteria lebih utama dibandingkan keramahan.
b) Reliabilitas. Berarti harus terpenuhinya konsistensi atas kriteria yang dijadikan ukuran kinerja. Dalam hal ini, cara melakukan pengukuran dan pihak yang melakukan penilaian kinerja turut mempengaruhi reliabilitas pengukuran.
c) Diskriminasi. Berarti pengukuran dan penilaian kinerja harus mampu menunjukkan perbedaan-perbedaan kinerja hasil pengukuran. Hasil pengukuran yang seragam, misalnya baik semua atau jelek semua menunjukkan tidak ditemukannya diskriminasi dalam penilaian kinerja.
2. Proses penilaian kinerja memperhatikan nilai objektivitas. Proses penilaian kinerja sangat penting diperhatikan. Objaktivitas dalam proses penilaian berarti tidak adanya pilih kasih, pengistimewaan, atau bahkan kecurangan dalam proses penilaian kinerja terhadapa karyawan tertentu.
Dalam hal ini peningkatan produktivitas manusia merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas, faktor-faktor lain yang sangat tergantung pada kemampuan tenaga manusia yang memanfaatkannya.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja perusahaan menurut Simanjutak (Dalam Triton, 2010, hal 103) adalah sebagai berikut:
3. Kualitas dan kemampuan fisik karyawan
Produktivitas dalam perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas dan kemampuan karyawan yang pada dasarnya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, latihan, etos kerja, mental dan kemampuan fisik karyawan yang bersangkutan terhadap peningkatan produktivitas.
a. Sarana pendukung
Sarana pendukung ini dikelompokkan dalam dua golongan yaitu : 1) Menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan cara
berproduksi, saran dan peralatan produksi yang digunakan, tingkat keselamatan dan kesehatan kerja, serta suasana dalam lingkungan itu sendiri.
2) Menyangkut kesejahteraan karyawan yaitu, pengupahan dan jaminan sosial serta jaminan kelangsungan kerja.
b. Supra sarana
Supra sarana merupakan suatu keadaan dimana aktivitas perusahaan tidak terjadi dalam isolasi, akan tetapi kejadian-kejadian yang terjadi dalam perusahaaan dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar perusahaan seperti, kebijksanaan pemerintah, hubungan industri, faktor manajemen dan sebagainya.
G. Kerangka Pikir
Gambar 2.1
Pengaruh Balas Finansial Dan Pelatihan Tarhadap Produktivitas Kerja Karyawan
H. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsepsional, maka disusun hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga bahwa Balas Jasa Finansial berpengaruh terhadap produktivitas kerja 2. Diduga bahwa Pelatihan berpengaruh terhadap produktivitas kerja
Balas jasa Finansial
Gaji
Insentif
Tunjangan (X)
Pelatihan
On Job Training
Potensi Kerja
Tanggung Jawab (X)
Produktivitas kerja
SDM yang tepat
Disiplin
Kualitas Kerja (Y)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Menurut ( Sugyono : 2010), Metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
B. Tempat Dan Waktu Penelitian
Adapun yang menjadi lokasi pada penelitian ini PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar di Desa Pamatata Kecamatan Pamatata Kabupaten Kepulauan Selayar.
Penelitian ini dilakukan kurang lebih dua bulan, terhitung dari bulan April sampai Juni 2015
C. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi : 1. Field Research, meliputi:
a. Wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden (Singarimbun & Effendi, 2005 : 192). Dalam hal ini data diperoleh dengan melakukan wawncara dengan pihak pimpinan, kepala bagian, dan beberapa karyawan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan..
b. Kuesioner, merupakan metode pengumpulan data melalui penyebaran daftar pertanyaan yang diajukan sehubungan dengan materi penelitian kepada responden yang telah terpilih.
2. Library Research
Yaitu dengan menggunakan studi kepustakaan dan literatur-literatur lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan dimana akan didapatkan data-data yang dibutuhkan oleh peneliti guna melengkapi hasil dari penelitian.
3. Dokumentasi
Metode ini dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan dokumen-dokumen dan hal-hal lain yang menunjang penelitian
D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Guna mendukung penelitian maka jenis data yang digunakan sebagai berikut : 1.1.Data kuantitatif
Data berupa angka-angka yang diperoleh dari PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar yang dapat dihitung, seperti jumlah karyawan dan data-data lainnya yang menunjang penelitian.
1.2.Data kualitatif
Data yang diperoleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar yang tidak berbentuk angka, seperti gambaran umum perusahaan, hasil kuesioner, dan data-data lain yang menunjang penelitian.
2. Sumber Data
Penelitian memerlukan data baik deskriptif maupun kuantitatif untuk menguji hipotesis. Data tersebut merupakan fakta yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari dua jenis, yaitu:
1. Data primer, yaitu data yang diambil secara langsung dari objek penelitian.
Cara yang digunakan dalam memperoleh data primer yaitu dengan wawancara dan kuesioner yang diberikan pada karyawan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar.
2. Data sekunder, yaitu data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, bukan oleh periset sendiri untuk tujuan lain. Cara memperoleh data sekunder yaitu dengan melakukan penelitian kepustakaan dan dari dokumen-dokumen yang ada pada PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar.
.
E. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai tetap yaitu 50 orang dan pegawai kontrak 21 orang. Populasi atau universe adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2008: 115). Enciklopedia of Education Evaluation dalam Arikunto (2008:
115) menjelaskan bahwa: “A populasi is a set (or collection) of all element possessing one or more attributes of interest.” Tidak seluruh populasi tersebut yang akan diteliti, namun hanya akan mengambil sampel yang dianggap representatif.
Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik probabilitas dengan cara random sampling (Metode Sampel Acak Sederhana), yaitu dengan metode pemilihan sampel dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan untuk lokasi pengambilan sampel diputuskan di Kantor PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar.
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 karyawan yang dipilih secara random dari total populasi sebesar 71 karyawan yang terdiri dari karyawan tetap 50 orang dan karyawan kontrak 21 orang. Jadi jumlah keseluruhan adalah 71 karyawan.
Untuk menentukan jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus: Slovin (Sevilla et. al., 1960:182), sebagai berikut:
=
Dimana : n = banyaknya sampel
N = banyaknya populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolelir, yaitu 0,1 atau 10 %
Selanjutnya dari ukuran sampel untuk masing-masing bagian atau departement kerja dengan menggunakan cara kluster (Cluster Sampling), yaitu dengan membagi populasi kedalam beberapa kelompok atau kluster. Teknik tersebut dipakai dengan asumsi bahwa populasi yang diteliti bersifat heterogen ditinjau dari adanya perbedaan job description atau bagian kerjanya. Untuk menentukan ukuran sampel pada masing-masing bagian atau kluster, maka digunakan suatu presentase yang disebut sampel fraction (f) dengan rumus :
= N ∑ xy − ∑ x ∑y
{ N ∑x2 − ∑ x 2 } { N ∑x2 − ∑ y 2 }
Keterangan:
r xy : Regresi
n : Jumah Sampel yang diteliti
x : Variabel x (Balas Jasa FInacial dan Pelatihan) y : Variabel y (produktivitas)
F. Metode Analisis Data
Analisis data dalm penelitian ini menggunakan analisis regresi yang bertujuan untuk mengetaahui besarnya pengaruh beberapa variable independen terhadap variable devenden. Dalam penelitian ini analisis regresi yang dipakai adalah analisis regresi berganda, dimana secara umum data hasil pengamatan Y dipengaruhi oleh beberapa variable bebas X1, X2,..., E sehingga rumus umum dari regresi berganda Menurut Riduwan (2007: 152), yaitu :
Y=α+a1X1+a2X2+ E
Dimana Y= Variabel dependen, yaitu produktivitas karyawan Y = Produktivitas
α = Konstanta a1,a2 = Koefiaien
X1 = Balas jasa Financial X2 = Pelatihan
E = Standar Error
G. Operasional Variabel
Operasional Variable adalah penarikan batasan yang lebih menjelaskan ciri- ciri spesifik yang lebih substantive dari suatu konsep. Tujuannya: agar peneliti dapat mencapai suatu alat ukur yang sesuai dengan hakikat variabel yang sudah di definisikan konsepnya, maka peneliti harus memasukkan proses atau operasionalnya
alat ukur yang akan digunakan untuk kuantifikasi gejala atau variabel yang ditelitinya.
Tabel 3.1 Operasional Variabel
Variabel Indikator Konsep
Pelatihan
(X1) Gaji (X1.1)
Balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai karyawan
Pelatihan E Insentif (X1.2)
Penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan kepada karyawan yang melampaui standar pekerjaan
Produktivitas E Tunjangan (X1.3)
Unsur-unsur balas jasa yang diberikan dalam nilai rupiah secara langsung kepada karyawan individual
Pelatihan (X2)
Wadah lingkungan bagi karyawan, dimana mereka memperoleh keahlian dan pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan
Produktivitas (Y)
Produktivitas (Y)
Kemampuan karyawaan dalam berproduksi dibandingkan dengan input yang digunakan seorang karyawaan dapat dikatakan produktif apabila mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan yang diharapkan dalam waktu yang singkat dan tepat
Skala yang dipakai dalam penelitian ini adalah skala Likert dengan menggunakan ukuran interval, dimana menurut Effendi dalam Singarimbun (2005) cara pengukuran skala Likert adalah dengan menghadapkan seseorang responden dengan sebuah pertanyaan dan kemudian diminta untuk mrmberikan jawaban “sangat tidak setuju”, “tidak setuju”, “ragu-ragu”, “setuju”, dan “sangat setuju”. Jawaban- jawaban ini diberi skor 1 sampai 5. Skala Likert dapat dikategorikan sebagai skala interval.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah singkat PT. ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar
PT. ASDP Idonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar awalnya hanya berstatus Kantor Perwakilan dari Cabang PERUM ASDP SULSELTRA, yang meliputi Perwakilan Bajo’E-Kolaka, Perwakilan Bira-Pamatata. Perwakilan Torobulu-Tampo dan Perwakilan Bau-Bau-Tolandona dengan Kantor Cabangnya berkedudukan di Makassar (dahulu Ujung Pandang). Perkembangan selanjutnya terjadi pemekaran Cabang Sulseltra menjadi dua Cabang, yaitu Cabang Bajo’E dengan wilayah operasionalnya Lintasan Bajo’E-Kolaka dan Lintasan Bau-Bau-Tolandona, Torobulu- Tampo, Bau-Bau-Dongkala-Mawasangka dan Lintasan Kendari-Wawoni yang mana, semua lintasan tersebut berada di Propinsi Sulawesi Tenggara. Dengan berkembangnya wilayah operasional yang dikendalikan oleh Kantor Perwakilan Selayar yaitu adanya Lintasan Perintis Pamatata-Labuang Bajo (Propinsi Nusa Tenggara Timur) pada tahun 2003, maka pada bulan desember tahun 2004 dengan surat keputusan Direksi PT. ASDP Ferry (Persero) Nomor. SK. 355/HK.001/ASDP- 2004 tanggal 31 Mei 2004 dari status Kantor Perwakilan berubah statusnya menjadi Kantor Cabang PT. ASDP (Persero) Selayar dengan klasifikasi Cabang kelas D, berkedudukan di Selayar Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan. Karena
alas an operasional serta pengurusan surat-surat Kapal, pengurusan BBM dan lain- lain kaitannya dengan perawatan kapal, maka kedudukan Kantor Cabang dipindahkan ke Bira. Perkembangan selanjutnya pada tahun 2005, setelah berubah status menjadi Cabang terdapat penambahan wilayah operasional untuk selanjutnya, yaitu Lintasan Bira-Tondasi (Pulau Muna Sulawesi Tenggara).
Pada tanggal 31 Mei 2003, didirikan didewan Notaris suatu PT. (Persero) PT.
ASDP Indonesia Ferry (Pesero) Cabang Selayar yang Kantor Cabangnya di Jl.
Pelabuhan Pamatata tepatnya di Kabupaten Kepulauan Selayar dan Persero tersebut mencakup 3 galangan yaitu:
a) KMP. BONTOHARU (Melayani Lintasan Komersial Bira-Pamatata) b) KMP. BELIDA ( Melayani Lintasan Komersial Bira-Tondasi)
c) KMP. SANGKE PALLANGGA ( Melayani Lintasan Komersil Bira-Labuang Bajo)
Jadi jelas disini bahwa PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar sekarang telah menjadi salah satu unit produksi dari PT. Industri Kapal Indonesia (IKI).
B. Kondisi Operasional 1. Armada
Saat ini Kapal yang dioperasikan di Cabang Selayar sebagai berikut:
a. KMP. BONTOHARU Melayani Lintasan Komersil Bira-Pamatata b. KMP. BELIDA Melayani Lintasan Komersil Bira-Tondasi
c. KMP. SANGKE PALLANGGA Melayani Lintasan Komersil Bira-Lab.
Bajo 2. Lintasan
Lintasan pokok yang dilayani adalah 3 (tiga) bulan Lintasan, dengan status 2 (dua) Lintasan Komersil dan 1 (satu) buah Lintasan Perintis. Dari Lintasan tersebut terdapat 2 (dua) Lintasan yang melayani/menyinggahi beberapa Pilau : Lintas operasional Cabang Selayar, yaitu sebagai berikut:
a. Lintasan Bira-Pamatata
Lintasan ini merupakan Lintasan Komersil yang menghubungkan Pulau Sulawesi dengan Pulau Selayar ( Lintasan dalam Propinsi Sulawesi Selatan) dengan jarak 18 Mill dan mulai dibuka paada Tahun 1983.
b. Lintasan Bira-Tondasi
Lintasan ini menghubungkan Puulau Sulawesi dengan Pulau Muna (Lintasan antar Provinsi Sulawesi Selatan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara) dengan jarak 155 Mill dan menyinggahi Pelabuhan Sikeli di Pulau Kabaena termasuk Wilayah Sulawesi Tenggara. Semula Lintasan ini merupakan Lintasan Perintis dan pada Tahun 2007 tidak mendapat subsidi lagi sehingga statusnya dianggap sudah Lintasan Komersil.
c. Lintasan Bira-Labuang Bajo
Lintasan ini merupakan Lintasan Perintis yang menghubungkan Pulau Sulawesi dengan Pulau NTT (Lintasan antar Provinsi Sulawesi Selatan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur) dengan jarak 210 Mill dan
menyinggahi Pelabuhan Pattumbukang di Pulau Selayar dan Pelabuhan Jampea termasuk Wilayah Sulawesi Selatan Mulai Tahun 2003.
3. Pelabuhan
Hamper semua pelabuhan, baik pelabuhan awal keberangkatan, pelabuhan yang disinggahi maupun Pelabuhan Tujuan merupakan Pelabuhan yang tidak dikelola oleh PT. ASDP, kecuali Pelabuhan Penyeberangan Labuang Bajo dikelola oleh PT. ASDP Cabang Sape. Pelabuhan-pelabuhan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pelabuhan Penyeberangan Bira, adalah Pelabuhan milik PEMDA Tk I Sulawesi Selatan yang dioperasikan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Tk I dibawah Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan.
b. Pelabuhan Penyeberangan Pamatata, adalah Pelabuhan Milik PEMDA Tk II Kabupaten Kepulauan Selayar yang dioperasikan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Selayar.
c. Pelabuhan Penyeberangan Pattumbukang, adalah Pelabuhan Milik PEMDA Tk II Kabupaten Kepulauan Selayar yang dioperasikan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Selayar.
d. Pelabuhan Jampea adalah merupakan Pelabuhan Laut yang dikelola oleh UPT Perhubungan Laut.
e. Pelabuhan Sikeli adalah merupakan Pelabuhan Laut yang dikelola oleh UPT Perhubungan Laut.
f. Pelabuhan Penyeberangan Tondasi, adalah merupakan Pelabuhan milik PEMDA Tk I Sulawesi Tenggara yang dioperasikan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Tk. I dibawah Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tenggara.
g. Pelabuhan Penyeberangan Bajo, adalah Pelabuhan Milik PT. ASDP yang dioperasikan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Sape.
C. Kondisi Armada 1. KMP. Bontoharu
Data Spesifikasi Kapal :
a. Kapal/Call Sign : KMP. Bontoharu/YHKW b. Nama Teempat Pembuat : PT. IKI Makassar
c. Tahun Pembuatan : 1999
d. Lintasan : Bira – Pamatata
e. Type Kapal : Ferry Rol On Rol Off (Ro Ro) Ukuran Utama
a. Panjang Seluruh (LOA) : 54, 00 m
b. Panjang (LPP) : 48, 13 m
c. Lebar (B) : 14, 00 m
d. Dalam (D) : 3, 50 m
e. Sarat Air (d) : 2, 50 m
f. GRT/NT : 1124 GRT/359
Mesin Utama
a. Merk : YANMAR
b. Type : 12 LAA – UTE 1
c. Tenaga Kuda/PK : 2 x 1000 HP d. Jumlah Mesin : 2 (dua) Unit e. Kecepatan Operasional : 9 Knot
f. RPM : 1700 RPM
g. Tahun Pembuatan Mesin : 2002
h. Jenis Bahan Bakar : Solar ( HSD )
i. Nomor Mesin : Kiri : 0516 Kanan : 1517 Mesin Bantu
a. Merk : CUMMINS
b. Type : 6 BT5 – ( M )
c. Tenaga Kuda ( PK ) : 2 x 90 KW d. Jumlah Mesin : 2 ( dua ) Unit
e. RPM : 1500 RPM
Kapasitas Tangki
a. Tangki Bahan Bakar : 2 x 21 Ton b. Tangki Air Tawar : 2 x 4.16 Ton
c. Tangki Ballast : Disesuaikan Trim & Stabilitas
d. Kapasitas Muat : _
e. Jumlah Penumpang : 350 Orang
f. Jumlah Kendaraan : 22 Unit
g. Jumlah ABK : 18 Orang
Pintu Rampa
a. Halauan : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
b. Buritan : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
Tinggi Car Dek
a. Halauan : 4 M
b. Buritan : 4 M
2. KMP. Belida
Data Spesifikasi Kapal :
a. Kapal/Call Sign : KMP. Belida/YHRK
b. Nama Tempat Pembuat : PT. Marina Bahagia Palembang c. Tahun Pembuatan : 2002
d. Lintasan : Bira – Sikeli - Pamatata e. Type Kapal : Ferry Rol On Rol Off ( Ro Ro ) Ukuran Utama
a. Panjang Seluruh (LOA) : 53, 50 M
b. Panjang (LPP) : 47, 50 M
c. Lebar (B) : 14, 00 M
d. Dalan (D) : 3, 40 M
e. Sarat Aur (d) : 2, 50 M
f. GRT/NT : 884 / 254
Mesin Utaama
a. Merk : YANMAR
b. Type : 12 LAA ñ UTE 1
c. Tenaga Kuda/PK : 2 x 1000 HP
d. Jumlah Mesin : 2 (Dua) Unit
e. Kecepatan Operasional : 9 Knot
f. RPM : 1700 RPM
g. Tahun Pembuatan Mesin : 2003
h. Jenis Bahan Bakar : Solar (HSD)
i. Nomor Mesin : Kiri : 0544 Kanan : 0547 Mesin Bantu
a. Merk : PERKINS
b. Type : 6 TG2A (M)
c. Tenaga Kuda (PK) : 2 x 124 HP
d. Jumlah Mesin : 2 (Dua) Unit
e. RPM : 1500 RPM
Kapasitas Tangki
a. Tangki Bahan Bakar : 2 x 60 Ton b. Tangki Air Tawar : 2 x 60 Ton
c. Tangki Bullast : Disesuaikan Trim & Stabilitas d. Kapasitas Muak : _
e. Jumlah Penumpang : 300 Orang
f. Jumlah Kendaraan : 22 Unit
g. Jumlah ABK : 19 Orang
Pintu Rampa
a. Halian : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
b. Buritan : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
Tinggi Car Dek
a. Haluan : 3,8 Meter
b. Buritan : 3,8 Meter
3. KMP Sangke Pallangga Data Spesifikasi Kapal :
a. Kapal/Call Sign : KMP Sangke Pallangga/YCEM b. Nama Tempat Pembuat : PT. Daya Radar Utama – Jakarta c. Tahun Pembuatan : 2007
d. Lintasan : Bira-Pamatata-Jampea-Lab. Bajo e. Type Kapal : Ferry Rol On Rol Off (Ro Ro) Ukuran utama
a. Panjang Seluruh (LOA) : 45, 50 M
b. Panjang (LPP) : 40, 51 M
c. Lebar (B) : 12, 00 M
d. Dalam (D) : 2, 15 M
e. Sarat Air : 2, 15 M
f. GRT/NT : 560 / 168
Mesin Utama
a. Merk : YANMAR
b. Type : 6 AYM-ET
c. Tenaga Kuda/PK : 2 x 829 HP
d. Jumlah Mesin : 2 (Dua) Unit
e. Kecepatan Operasional : 9 Knot
f. RPM : 1900 RPM
g. Tahun Pembuatan Mesin : 2005
h. Jenis Bahan Bakar : Solar (HSD)
i. Nomor Mesin : Kiri : 0481 Kanan : 0480 Mesin Bantu
a. Merk : PERKINS SABRE
b. Tipe : PDM 85-1006 TG 2 AM
c. Tenaga Kuda (PK) : 2 x 124 HP
d. Jumlah Mesin : 2 (Dua) Unit
e. RPM : 1500 RPM
f. KVA : 20 Orang
Kapasitas Tangki
a. Tangki Bahan Bakar : 2 x 25 Ton b. Tangki Air Tawar : 2 x 35 Ton c. Tangki Bullast Depan : 2 x 19 Ton d. Tangki Bullast Buritan : 2 x 13 Ton
e. Kapasitas Muak : _
f. Jumlah Penumpang : 189 Orang g. Jumlah Kendaraan : 17 Unit
h. Jumlah ABK : 20 Orang
Pintu Rampa
a. Haluan : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
b. Buritan : Panjang : 6 M Lebar : 4 M
Tinggi Car Dek
a. Haluan : 4 Meter
b. Buritan : 4 Meter
D. Status dan Pelimpahan ke PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1996, ASDP. Selayar bersama dengan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar yang ada di Sulawesi Selatan termasuk PG. Gamming dan PG. Bone semuanya yang dikelola oleh PT. ASDP, PT. IKI Makassar (Persero) dilebur menjadi satu Perusahaan perseroan terbaru dengan nama PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar.
Dengan dilakukannya peleburan, maka segala hak dan kewajiban, kekayaan dan karyawan dari PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar dilakukan di Jakarta didepan Komisaris Besar H. Burhanuddin, SE, SH, MH yang dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2001. Banyaknya saham pada PT. ASDP Indonesia Ferry
(Persero) Cabang Selayar Sebanyak 112.500 Lembar Saham prioritas dan 22.500 lembar saham biasa atau seluruhnya senilai Rp. 135 Trilliun.
E. Letak PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar
PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar Terletak di Jl. Pelabuhan Pamatata Desa Pamatata Kecamatan Pamatata Kabupaten Kepulauan Selayar sekitar 47 km dari Kota Benteng Selayar.
F. Struktur Organisasi dan Deskripsi Jabatan ASDP Cabang Selayar
Organisasi merupakan suatu kerangka yang berstruktur berisi tentang wewenang tanggung jawab, serta pembagian tuggas untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Susunan organisasi pada PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar adalah sebagai berikut :
Kepala Komisaris
Kepala Bagian Tata Usaha Dan
Keuangan
Kepala Bagian
Produksi Kepala Bagian
Instalasi
Kepala Bagian Perkaapalan/Pengolahan
Kepala Bagian SDM Umum