• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Kerja .1 Diagram Alir

Dalam dokumen LAPORAN TETAP PRAKTIKUM TID (Halaman 60-81)

BAB V PENUTUP

3.3 Prosedur Kerja .1 Diagram Alir

Mulai

Dipasang beberapa penetes dengan jarak seragam pada lateral

Dialirkan air melalui lateral, dengan tinggi tekan < 5 cm, air yang diatur dengan keran pengatur debit

Ditampung air dari penetes dalam botol penampung selama waktu 10 menit, kemudian diukur dengan gelas

ukur

Diulang langkah kerja no. 2 dan no. 3 untuk tinggi tekan yang berbeda (percobaan dilakukan untuk tiga variasi

kedalaman sekrup pengatur debit)

selesai

Gambar 3.5 Diagram Alir Sistem Irigasi Tetes

3.3.2 Langkah Kerja

Adapun langkah kerja yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

1. Dipasang beberapa penetes dengan jarak seragam pada lateral

2. Dialirkan air melalui lateral, dengan tinggi tekan < 5 cm, air yang diatur dengan kran pengatur debit

3. Ditampung air penetes dalam botol penampung selama waktu 10 menit, kemudian diukur dengan gelas ukur

4. Diulang langkah kerja no.2 dan no.3 untuk tinggi tekan yang berbeda (percobaan dilakukan untuk tiga variasi kedalaman sekrup pengatur debit)

3.4 Analisis Data

a. Debit rata-rata seperempat terendah (qn) qn = 1

4Γ— 16

b. Debit rata-rata keseluruhan (qa) qn = π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Žβˆ’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž

16

c. Menghitung nilai Eu Eu = 100% Γ—π‘žπ‘›

π‘žπ‘Ž

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan (Terlampir)

4.2 Pembahasan

Irigasi tetes adalah metode irigasi yang memberikan air langsung ke akar tanaman secara perlahan melalui pipa kecil atau selang dengan lubang-lubang kecil.

Sistem ini dirancang untuk efisiensi penggunaan air, karena hanya area akar tanaman yang dibasahi, sehingga mengurangi penguapan dan limpasan. Irigasi tetes sangat cocok untuk tanaman hortikultura, seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias. Sistem ini juga dapat diaplikasikan pada lahan yang memiliki keterbatasan sumber daya air atau tanah yang tidak merata. Selain itu, irigasi tetes dapat membantu meningkatkan hasil panen dengan memastikan tanaman menerima air dalam jumlah yang tepat sesuai kebutuhan.

Kinerja irigasi tetes dipengaruhi oleh beberapa faktor penting. Kualitas air harus dijaga agar bebas dari partikel padat dan mineral yang dapat menyumbat lubang tetesan, sehingga sistem filtrasi sangat diperlukan. Tekanan air juga harus stabil untuk memastikan distribusi air yang merata di seluruh area, karena tekanan yang terlalu rendah atau tinggi bisa menggangu efisiensi irigasi. Jenis tanah turut mempengaruhi penyerapan air, tanah berpasir membutuhkan irigasi lebih sering dengan volume kecil, sedangkan tanah liat menyerap air lebih lambat namun mempertahankannya lebih lama. Selain itu, jarak antara titik tetesan dan kondisi iklim, seperti suhu dan kelembaban, juga mempengaruhi seberapa efektif sistem ini dalam mengairi tanaman.

Irigasi tetes memiliki kelebihan utama dalam efisiensi penggunaan air, karena air diberikan langsung ke akar tanaman. Sehingga mengurangi penguapan dan limpasan.

Sistem ini jugo menghemat tenaga kerja dan energi, serta membantu menjaga kelembaban tanah secara konstan, yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Namun, kekurangan dari irigasi tetes termasuk biaya awal yang relatif tinggi untuk interaksi dan perawatan, terutama dengan kebutuhan filtrasi untuk mencegah penyumbatan. Selain in itu, siatem ini memerlukan pemantauan berkala untuk memastikan setiap titik tetes berfungsi dengan

baik. Jika terjadi kerusakan pada pipa atau lubang tetes, perbaikan bisa memakan waktu dan mengganggu distribsui air.

Praktikum ini menggunakan 16 emiter dan dilakukan percobaan sebanyak tiga kali. Air dari penetes ditampung dalam gelas penampung selama waktu 10 menit, kemudian dilakukan perhitungan yang menghasilkan rata-rata setiap emiter. Emiter A, nilai rata-ratanya 58,33, A2 51,66, A3 43,33, A4 42,33, B1 60,33, B2 53,66, B3 68, B4 55,33, C1 92, C2 87, C3 91,33, C4, 120,33, D1 63,66, D2 60, D3 77,66, D4 32,33 kemudian diperoleh nilai qn sebesar 42, 4125, nilai qa 66,08 dan Eu sebesar 64,183 %.

Penerapan irigasi tetes dalam bidang teknik pertanian menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi tantangan ketersediaan air dan peningkatan produktivitas lahan.

Dalam teknik pertanian, sistem ini digunakan untuk memberikan air dan nutrisi secara langsung ke akar tanaman dengan volume yang terukur, sehingga efisiensi sumber daya dapat dioptimalkan. Teknologi sensor dan otomatisasi sering kali digunakan dalam sistem ini untuk mengontrol aliran air berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi cuaca, sehingga mengurangi limbah air dan meningkatkan hasil panen. Irigasi tetes juga memungkinkan petani menanam di lahan kondisi tanah yang kurang ideal, seperti tanah berpasir atau berbatu, dengan tetap menjaga produktivitas. Penerapan ini sangat penting untuk pertanian intensif, khususnya pada tanaman hortikultura dan sayuran bernilai tinggi, karena mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:

1. Mengenal sistem irigasi tetes memberikan pemahaman tentang metode irigasi yang efisien dalam penggunaan air dan nutrisi, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas, sistem ini memberikan keuntungan berupa penghematan air, peningkatan hasil panen, dan pengendalian kelembaban tanah secara lebih presisi.

2. Mempelajari dan memahami kinerja sistem irigasi penting untuk mengoptimalkan penggunaan air dalam pertanian, meningkatkan efisien distribusi, dan mencegah pemborosan sumber daya.

3. Menghitung nilai Emission Uniformity (eu) pada sistem irigasi tetes bertujuan untuk menilai seberapa merata distribusi air ke seluruh tanaman. Nilai eu yang tinggi, menunjukkan bahwa air diberikan secara konsisten ke setiap tanaman, yang penting untuk pertumbuhan optimal dan penghindaran pemborosan air.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat saya sampaikan yaitu pada saat praktikum diharapkan kepada pelaksana praktikum untuk lebih teliti lagi dalam melakukan pratikumnya dan diperhatikan apabila terjadi sedikit kesalahan maka dapat berakibat fatal.

ACARA VI

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDROLIK

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) adalah sistem pembangkit listrik yang menggabungkan beberapa sumber energi terbarukan, seperti angin, surya dan air.

Pengembangan PLTH bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan. Di daerah terpencil atau sulit dijangkau oleh jaringan istrik utama, PLTH menjadi solusi yang efisien karena sumber daya alam yang melimpah dapat dimanfaatkan secara optimal. PLTH juga membantu mengurangi emisi karbon, sehingga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim global. Selain itu, system hibrid ini biasanya dilengkapi dengan teknologi penyimpanan energi, seperti baterai, untuk menjaga kestabilan pasokan listrik.

Bendungan merupakan infrastruktur penting dalam pengelolaan sumber daya air, terutama untuk keperluan irigasi, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir.

Pembangunan bendungan sering kali menjadi solusi yang efektif untuk memastikan ketersediaan air sepanjang tahun, terutama di wilayah dengan musim kering yang panjang. Bendungan berfungsi sebagai penampung air yang kemudian dialirkan ke saluran irigasi, memungkan petani mendapatkan pasokan air yang cukup untuk lahan pertanian mereka. Dengan adanya bendungan, daerah pertanian dapat lebih produktif karena tanaman tidak bergantung sepenuhnya pada curan hujan. Selain untuk pertanian, bendungan juga sering dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih masyarakat dan sektor industri.

Saluran irigasi yang terhubung dengan bendungan di Desa pengga telah mendukung kegiatan pertanian desa, yang merupakan salah satu mata pencaharian warga.

Saluran irigasi ini dirancang untuk memastikan distribusi air yang merata setiap lahan pertanian sehingga produktivitas pertanian dapat meningkat. Pengelolaan saluran irigasi di desa ini membutuhkan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah desa untuk menjaga kebersihan serta memastikan aliran air tidak tersumbat. Dengan adanya saluran irigasi yang teratur, para petani di desa Pengga bisa menanam berbagai jenis tanaman di sepanjang tahun dan tidak terhambat musim. Saluran rigasi di desa Pengga tidak hanya membantu menjaga kestabilan produksi pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi desa secara keseluruhan.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu : 1. Memahami kerja PLTMH Pengga

2. Mangenal Mesin yang digunakan Ξ‘LΞ€ΞœΞ—

1.3 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu : 1. Agar mahasiwa dapat memahami kerja PLTMH Pengga

2. Agar mahasiswa dapat mengenal mesin yang digunakan PLTMH

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pembangkit listrik tenaga mikro hydro (PLTMH) adalah suatu pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti saluran inigasi, bendungan, sungai atau air terjun alami dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan dari jumlah debit air.

Salah satunya bendungan, pembangunan bendungan berfungsi untuk penyediaan air baku, penyediaan air irigasi, pengendalian banjir dan atau pembangkit tenaga air. Pembangkit listrik tenaga mikro hydro (PLTMH) adalah pembangkit listrik energi terbarukan skala kecil yang memanfaatkan aliran sungai dan beda ketinggian dengan daerah pedesaan yang belum terjangkau oleh jaringan listrik PLN (Sitanggang, 2022).

Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit listrik yang menggunakan energi air. Kondisi air yang bisa memanfaatkan sebagai sumber daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki kapasitas aliran dan ketinggian tertentu dan instalasi. Semakin besar kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari instalasi, maka semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Mikrohidro juga dikenal sebagai white resauces dengan kelemahan bebas bisa dikatakan "energi putih”.

Dikatakan dengan demikian karena instalasi pembangkit listrik seperti ini menggunakan sumber daya yang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan (Fachri, dkk., 2019).

PLTMH dikategorikan untuk pembangkit listrik tenaga air pada daya antara 100 kw hingga 5000 kw sementara PLTMH menghasilkan daya kurang dari 100 kw. Dengan daya yang kecil hingga sedang. PLTMH dan PLTHM dibangun pada saluran irigasi atau sungai pada daratan yang berbukit sehingga terdapat energi mekanik aliran air. Komponen utama dari pembangkit listrik ini diantaranya reservoir, pipa pesat, turbin air, generator, dan saluran pembuangan sebagaimana pada PLTA tetapi dengan kapasitas yang lebih kecil. Dengan daya yang dihasilkan PLTM dan PITMH dapat dihubungkan dengan jaringan listrik yang terkoneksi dengan pembangkit lainnya (on grid) atau dapat langsung digunakan untuk jumlah pemukiman atau keperluan tertentu (Taufiqurrahman & windarata. 2020).

Bendungan yaitu bangunan yang berupa urukan tanah, urukan batu, beton dan/pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang (talling), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk. Secara umum, terdapat dua jenis bendungan yaitu single purpose dam dan multi purpose dam. Single purpose dam merupakan bendungan yang dibuat hanya

untuk saluran khusus, seperti penyediaan air irigasi sementara, multi purpose dam merupakan bendungan yang dibangun dengan desain untuk berbagai tujuan seperti irigasi, penyediaan air baku dan juga sebagai pembangkit listrik sering dikaitkan dengan kapailtas daya listrik yang dihasilkan hlen bendungan tersebut, mengacu pada penjelasanan badan penelitian dan pengembangan energi dan sumber daya mineral (Litbam ESDM), pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) merupakan pembangkit listrik yang dihasilkan dari aliran air dengan kapasitas keluaran (output) antara 5 kw sampai Mw per unit (Fatih, dkk., 2021).

Upaya pemerintah dalam menyediakan kebutuhan energi listrik terua ditingkatkan dibuktikan dengan adanya realisasi pembangunan unit pembangkit listrik yang telah dilakukan, baik melalui APBN, swasta, atau melalui kerja sama investasi luar negri. Namun, apabila diperhatikan bahwa posisi penggunaan energi dalam pembangkitan listrik, penyediaan listrik masih mengendalikan bahan-bahan yang bukan pembangkit listrik, atau dari fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Selain defisitnya cadangan fosil sebagai sumber energi listrik, fosil tidak dapat diperbarui sehingga mengalami kelangkaan yang menyebabkan harga terus meningkat. Selain itu, penggunaan energi yang dihasilkan oleh fosil juga memberi dampak buruk terhadap lingkungan, seperti polusi akibat gas buang dan penggunaannya dan efek rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar dari fosil. Melihat kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan berupa peraturan pemerintah (PP) untuk mereduksi dan menekan penggunaan energi dari fosil (Wahid, dkk., 2021).

BAB III

METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu, 5 oktober 2024 pukul 06.30 WITA-selesai di Bendungan Pengga, Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis

3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 Diagram Alir

3.3.2 Langkah Kerja

Adapun langkah kerja pada praktikum ini yaitu:

1. Ditentukan lokasi dari bendungan dan PLTMH Mulai

Ditentukan lokasi dan bendungan PLTMH

Dievakuasi komponen dalam pengamatan (Rumah pembangkit atau power house (PLTMH))

Dijelaskan hasil pengamatan

Selesai

Gambar 3.6 Diagram Alir Pengenalan Bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidrolik

2. Dievakuasi komponen dalam pengamatan (Rumah pembangkit atau power house (PLTMH))

3. Dijelaskan hasil pengamatan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan (Terlampir)

4.2 Pembahasan

Bendungan pengga berada di desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. PLTH memanfaatkan aliran sungai dari sumber seperti sungai atau waduk untuk menghasilkan listrik, prosesnya dimulai dengan pengambilan air dari sumber dan mengalirkannya melalui saluran yang dirancang khusus untuk membawa air ke turbin. Di dalam turbin, energi kinetik dari aliran air digunakan untur memutar bilah turbin, yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.

Sumber air untuk PLTMH biasanya berasal dari sungai, waduk, atau sumber air lainnya. Sumber air merupakan semua bentuk penyimpanan dan aliran air yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti irigasi, konsumsi, domestik, dan pembangkit listrik, kapasitas sumber air merajuk pada volume maksimum air yang dapat ditampung atau dikelola dalam suatu sistem, seperti bendungan atau reserver. Efisiensi PLTMH adalah rasio antara energi listrik yang dihasilkan dengan energi potensial yang tersedia dari aliran air, efisiensi ini dipengaruhi olen berbagai faktor termasuk desain turbin, kondisi aliran air, dan kehilangan energi selama proses konversi. Saluran irigasi adalah sistem yang dirancang untuk mendistribusikan air dari sumbernya ke lahan pertanian, efisiensi saluran sangat penting untuk mengurangi kehilangan air akibat evaporasi, kebocoran dan pengaliran yang tidak terkontrol.

Pembangkit listrik tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah sistem yang memanfaatkan aliran air dalam skala kecil untuk menghasilkan energi listrik dengan cara yang ramah lingkungan. Prinsip kerja melibatkan penggunaan turbin yang digerakkan oleh aliran air. saat air mengalir melalui sistem, ia memutar turbin yang terhubung ke generator, mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. Komponen utama PLTMH meliputi generator, turbin, investor, dan sistem kontrol yang mengatur aliran air untuk efisiensi.

Pembangunan infrastruktur seperti bendungan dan PLTMH memiliki dampak lingkungan yang signifikan terhadap masyarakat dan sistem pertanian. Dari segi masyarakat, infrastruktur ini dapat meningkatkan ketersediaan air untuk sehari-hari.

Irigasi dan industri yang pada alirannya meningkatkan kualitas hidup. PLTMH juga menyediakan sumber energi terbarukan yang meningkatkan akses listrik di daerah terpencil, mendukung usaha kecil, dan berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi. Di sisi lain pertanian, infrastruktur yang baik memungkinkan pengelolaan air yang lebih efisien, meningkatkan produktivitas tanaman. Serta memungkinkan pengelolaan petani untuk menanam berbagai jenis tanaman, sehingga meningkatkan keberagaman hasil pertanian.

Pembangkit listrik tenaga mikohidro (PLTMH) memberikan berbagai manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan daerah sekitarnya. Dengan menyediakan akses listrik yang dapat diandalkan di daerah terpencil PLTMH memungkinkan masyarakat untuk menikmati program penerangan dan menggunakan alat rumah tangga yang sebelumnya sulitnya dijangkau oleh jaringan utama.

PLTMH berbasis ongred terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja secara sinergis untuk menghasilkan energi listrik dari aliran air, air dari sumber seperti ini, sungai atau saluran irigasi dialirkan melalui sistem in take yang dirancang untuk menangkup dan mengarahkan aliran air menuju turbin, ini berfungsi mengubah energi kinetik dari aliran air menjadi energi mekanik.

PLTMH meskipun memiliki banyak manfaat, juga menghadapi berbagai tantangan utama yang perlu diatasi. Salah satunya adanya ketersediaan dan keberlanjutan aliran yang dapat bervariasi tergantung pada musim dan cuaca. Penurunan aliran air dapat mengurangi efisiensi dan kapasitas pembangkit, sehingga mempengaruhi pasokan listrik.

Selain itu masalah teknik seperti pemeliharaan turbin dan sistem kontrol juga dapat manjadi kendala, terutama di daerah terkendala yang memiliki akses terbatas ke sumber cadang dan layanan teknik.

Skema pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang memanfaatkan aliran air dari bendungan untuk menghasilkan energi listrik. Air sangat ditampung di bendungan (weir) yang berfungsi untuk mengatur pasokan air ke sistem. Air kemudian masuk melalui intake menuju saluran pembawa (headrace), yang mengalirkannya secara stabil ke bak penenang (forebag). Dari bak penenang diteruskan menuju pipa pesat (penstock) dengan tekanan tinggi dan dialirkan menuju rumah pembangkit. Di dalam rumah pembangkit, air

tersebut memutar turbin yang terhubung dengan generator, sehingga menghasilkan listrik, setelah melalui turbin, air dibuang kembali ke sungai melalui saluran pembuang. Sistem ini juga dilengkapi dengan saluran pelimpah untuk membuang kelebihan air dari bendungan agar tidak menyebabkan kerusakan, dari aliran listrik yang dihasilkan kemudian dialirkan ke jaringan transmisi untuk distribusi ke berbagai wilayah.

PLTMH dan bendungan memiliki peran penting dalam penyediaan energi terbarukan serta pengelolaan sumber daya air. PLTA memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik secara efisien. Sementara itu, bendungan berfungsi tidak hanya untuk menyimpan air dan pengendalian air untuk irigasi, yang sangat fatal bagi sektor pertanian.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:

1. Cara kerja PLTMH Pengga yaitu air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dengan ketinggian tertentu menuju rumah pembangkit. Pada rumah pembangkit, air akan memutar turbin sehingga timbul energi mekanik yang menyebabkan berputarnya poros turbin. Dari Poros turbin yang berputar akan dihasilkan energi listrik. Dengan bantuan generator dan akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah warga.

2. Mesin yang digunakan pada PLTMH yaitu generator, gearbox, panel kontrol, pipa pesat, roda gila dan turbin.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat saya sampaikan yaitu sebaiknya dilakukan perawatan rutin pada PLTMH agar efisiensi generator terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Y., Nurjannah, N., & Santi, S. (2019). Tinjauan Kehilangan Air pada Saluran Primer Irigai Kampili Kabupaten Gowa. Teknik Hidro. 12 (1), 65-76.

Ariandi, J., & Kurniati, E. (2022). Analisa Ketersediaan Air Irigasi untuk Kebutuhan Tanaman Padi Dengan Metode Blaney-Criddle dan Optimasi Distribusi Air irigasi Dengan Metode Dinamik Stokastik. Jurnal Kacapuri : Jurnal Keilmuan Teknik Sipil. 5(1), 220-229.

As'ari, H., & Qiram, I. (2023). Peningkatan Laju Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (capsicum frutescens l.) Melalui Penerapan Sistem Irigas Tetes. Jurnal Biosense.

6(02), 265-271.

Bunganaen, W. (2021). Analisis Efisiensi dan Kehilangan Air pada Jaringan Utama Daerah Irigasi Air Sagu. Jurnal Teknik Sipil. 1(1), 80-93.

Fachri, A., Triastianti, R. D., & Indrawati, R. (2019). Studi Potensi Debit Dan Tinggi Jatuh Air Pada Saluran Irigasi untuk Mendukung Kebutuhan Energi Listrik Kawasan Ekowisata di Desa Sriharjo. Jurnal Rekayasa Lingkungan. 19(1), 515-540

Fahrudin, A. (2024). Analisis Kehilangan Air Irigasi di Saluran Irigasi Colo Timur. Jurnal Teknologi Pertanian. 2(4), 101-120.

Fatih, AR, M. F. (2021). Kajian Pengembangan Industri Pengolahan Pasir Besi di Kabupaten Tenggarek dengan Pemanfaatan Bendungan Bagang dan Tugu Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Guna Mendukung Pembangunan yang Berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Penalaran dan Penelitian Mahasiswa. 5(2), 198-217.

Fitriansyah, F., Widuri, E. S., & Ulmi, E. I. (2020). Analisa Kebutuhan Air Irigasi untuk Tanaman Padi dan Palawija pada Daerah Irigasi Rawa (DIR) Danda Besar Kabupaten Barito Kuala. Media Ilmiah Teknik Sipil. 8(2), 19-81.

Hariz, A., Sadi, R. D., & Sari, F. A. (2020). Analisis Kebutuhan Air Irigasi Sawan Padi pada Daerah Irigasi Ciujung Kecamatan Ciruas. Journal of Sustainable Civil Engineering (JOSCE). 2(02), 138-146.

Heryani, N., & Rejekiningrum, P. (2019). Pengembangan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering Melalui Implementasi Panca Kelola Lahan. Jurnal Sumberdaya Lahan. 13(2), 63-71.

Hidayat, R., Haniza, S., & Saily, R. (2021). Evaluasi Kebutuhan dan Kehilangan Air pada Irigasi Hilir Tanjung Kota Padang Panjang. Indonesian Journal of Construction Engineering And Sustainable Development (CESD). 4(1),1-10.

Inarmiwati & Nurhapisah. (2020). Kajian Efisiensi Kehilangan Air Irigasi Saluran Pembawa pada D.I Lanrae Kabupaten Barru. Jurnal Rekayasa Teknik. 10(2), 11-21.

Jokowinarno, D., Purnomo, S. E., & Fahlevi, R. (2020). Kalibrasi Pintu Air di Sistem Irigasi Way Sekampung untuk Meningkatkan Kinerja Irigari. Jurnal Teknik Irigasi. 2(1), 22- 25.

Muanah, M., Karyanik, k., & Romansyah, E. (2020). Rancang Bangun dan Uji Kinerja Penerapan Teknik Irigasi Tetes pada Lahan Kering. Jurnal Agrotek Ummat. 7(2), 103- 109.

Ninasari, A., & Suleyman, S. (2024). Analisis Efektifitas Sistem Irigasi Tetes dalam Budidaya Tanaman Tomat. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP). 7(1), 15-21.

Purwanto, M. Y. J. (2023). Rancangan Outlet Irigasi Pipa pada Petak Sawah. Agricultural Engineering Innovation Journal. 1(1), 61-76.

Rahmadani, S., Nurrochmad, F., & Sujono, J. (2020). Analisis Sustem Pemberian Air Terhadap Tanah Sawah Berbahan organik. Jurnal Pendidikan Teknik Bangunan dan Sipil. 6(2), 66-75.

Rezky, F. L. (2020). Pengaruh Jumlah Pemberian Air dengan Sistem Irigasi Tetes Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung Ungu (Solanum Melongena L.). Jurnal Agrohita. 2(2), 10-19.

Sitanggung, P. P. (2020). Speed Control Turbin pada Pembangkit Listrik Micro Hydro Pintu Air Bendungan. Jurnal Sains Informatika. 1(3), 144-148.

Sultan, М. А., Kurung, E.S., & Misbah, Z. K. (2022). Perencanaan Bangunan Talang Jembatan pada Daerah Irigasi Opiyang. Jurnal Gradasi Teknik Sipil. 6(1), 34-35.

Sunaryo, S. (2020). Analisis Kehilangan Air Irigasi pada Saluran Primer dan Sekunder Daerah Irigasi Rentang Jawa Barat. Jurnal Rekayasa Infrastruktu. 6(1), 7-16.

Suparman, S., & Pragito, P. (2020). Modifikasi Jaringan Irigasi Curah (Sprinkler Irrigation) dengan Menggunakan Metode Knock Down. In Prosiding Seminar Nasional Penerapan IPTEKS.

Surmono, S., Darsono, S., & Huboyo, H. S. (2023). Konstruksi Pembangunan Jaringan Irigasi Studi Kasus Peningkatan Jaringan Irigasi di Serayu Sistem Saluran Induk Sumpiuh.

Jurnal Profesi Insinyur Indonesia. 1(4), 133-138.

Syamsiar, M. D., Rivai, M., & Suwinto, S. (2021). Rancang Bangun Sistem Irigasi Tanaman Otomatis Menggunakan Wireless Sensor Network. Jurnal Teknik ITS. 5(2), A261- A266.

Taufiqurrahman, A., & Windarta, J. (2020). Overview Potensi dan Perkembangan, Pemanfaatan Energi Air di Indonesia. Jurnal Energi Baru dan Terbarukan. 1(3):124- 132.

Tusi, A., & Lanya, B. (2020). Rancangan Irigasi Sprinkler Portable Tanaman Pakcoy. Jurnal irigasi. 11(1), 43-54.

Wahid, A., Musa, R., & Ashad, H. (2021). Kajian Potensi Energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro pada Daerah irigasi Bojo di Kabupaten Luwu. Jurnal Teknik Sipil.

6(1), 221-237.

Wahyudi, S., Noerhayati, E., & Rachmawati, A. (2020). Sistem Irigasi Curah (sprinkler) Berbasis Mikrokontroler IoT (Internet of Things). Jurnal Rekayasa Sipil (e- journal). 8(6), 475-486.

Wardani, M., & Kurniani, E. (2022). Analisis Kebutuhan Air Irigasi Untuk Tanaman Padi di Desa Berora Kecamatan Lopok. Jurnal Kacapun : Jurnal Keilmuan Teknik Sipil. 5(1) 372-380.

Witman, S. (2021). Penerapan Metode Irigasi Tetes Guna Mendukung Efsiensi Penggunaan Air di Lahan Kering. Jurnal Triton. 12(1), 20-28.

Dalam dokumen LAPORAN TETAP PRAKTIKUM TID (Halaman 60-81)

Dokumen terkait