• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pemberian Kredit

Dalam dokumen NEVI PAULA ANGRAE - Universitas Bosowa (Halaman 35-43)

BAB II TINJAUAN PUSRAKA

2.1. Kerangka Teori

2.1.6. Prosedur Pemberian Kredit

Bilamana ternyata langganan tidak mau membayar hutang- hutangnya makan perusahaan dapat menggunakan tindakan-tindakan hukum dengan mengajikan gugatan perdata melalui pengadilan.

a) Calon peminjam terlebih dahulu mengisi formulir permohonan pinjaman yang telah tersedia.

b) Petugas memberikan petunjuk serta bimbingan kepada calon dalam pengisian formulir.

c) Proses permohonan diteruskan untuk diproses.

2. Evaluasi atau analisis kredit

Fungsi utama dari evaluasi atau analisis pinjaman adalah untuk menilai sampai sejauh mana kredit tersebut diperlukan oleh calon peminjam dan menilai kondisi serta kemampuan peminjam untuk melunasi pinjaman tersebut, rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam mengevaluasi pinjaman adalah sebagai berikut :

a) Melakukan interview pada calon peminjam Tujuan dari interview atau tanya jawab ini adalah:

1) Mengetahui sampai sejauh mana calon penerima kredit menguasai kegiatan usahanya.

2) Meneliti kembali kebenaran data atau informasi yang diterima.

3) Mengenal lebih dekat pribadi serta sifat dan watak dari calon peminjam.

4) Mengetahui hal-hal lain dari calon peminjam seperti latar belakang kehidupan pendidikan dan pengalaman usaha.

b) Melaksanakan survei

Survei dilakukan untuk mendapatkan informasi dari berbagai pihak tentang:

1) Reputasi dan kondisi calon peminjam

2) Hubungan dengan pemberi kredit bank atau koperasi lain dan kondisinya sampai saat ini.

3) Penilaian dari teman, rekan usaha atau tetangga.

c) Melakukan peninjauan ke tempat usaha

Hal ini dilakukan apabila sifat, jenis usaha calon peminjam benar benar memerlukan untuk ditinjau guna melihat sejauh mana perkembangannya.

3. Keputusan pinjaman

a) Setiap permohonan pinjaman memperoleh wewenang dari pengurus koperasi.

b) Manajer simpan pinjam dalam mengambil keputusan mempergunakan bahan pertimbangan sebagai berikut:

1) Hasil evaluasi dari permohonan pinjaman, rekomendasi dari pengurus kelompok.

2) Informasi lain yamg diperoleh dari sumber lain sepanjang menyangkut calon peminjam.

c) Ketentuan peminjam yang tertulis dalam lembaran evaluasi yang memuat:

1) Jumlah pinjaman yang di setujui 2) Penggunaan pinjaman

3) Besarnya bunga pinjaman 4) Tanggal jatuh tempo pinjaman 5) Jaminan pinjaman

d) Setiap keputusan yang diambil harus ditanda tangani manager simpan pinjam koperasiyang bersangkutan.

4. Perjanjian pinjaman

Perjanjian pinjaman berisi hal-hal berikut ini :

a) Perjanjian pinjaman merupakan hal yang harus dilaksanakan sebelum kredit di cairkan.

b) Penandatanganan perjanjian baru harus dapat dilakukan setelah adanya keputusanpinjaman dari hasil evaluasi.

c) Perjanjian pinjaman tersebut dilaksanakan dengan meliputi surat perjanjian pinjamandan surat kuasa menjual memindah hak.

d) Surat perjanjian yang asli harus disimpan koperasi .

e) Penandatanganan perjanjian dilaksanakan di kantor koperasi.

f) Copy dari perjanjian harus dipegang oleh peminjam.

5. Pencairan pinjaman

Pencairan pinjaman merupakan tahap akhir setelah ketentuan- ketentuan di penuhi oleh peminjam. Peminjam harus menandatangani kuitansi rangkap 2 sebagai bukti tanda terima uang tersebut. Yang asli ada pada kasir sedangkan kopiannya ada pada peminjam, pinjaman ini diberikan secara tunai dan tidak di benarkan dalam bentuk lain. Bilamana memungkinkan pencairannya di usahakan secara bertahap, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan dalam penggunaan dana tersebut.

Jadi prosedur peminjaman kredit pada koperasi adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan di dalam mengelola permohonan kredit dari

saat permohonan diterima sampai dengan pencairan dana kredit. Manfaat prosedur pemberian kredit adalah untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada anggota, untuk mengetahui dan menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam permohonan kredit dan untuk mengusahakan pemberian kredit dalam waktu relatif singkat.

2.1.4 Unsur Unsur Pemberian Kredit

Adapun unsur-unsur yang tercantum dalam pemberian suatu pinaman menurut Kasmir (2010 : 75), adalah sebagai berikut :

1. Kepercayaan

Adanya suatu keyakinan dari pemberi kredit bahwa kredit yang akan diberikan tersebut benar-benar akan diterima kembali di masa yang akandatang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank karena sebelum dana dikucurkan, sudah dilakukan penelitian dan penyelidikan yang mendalam tentang nasabah untuk mengetahui kemauan dan kemampuannya dalam membayar kredit yang disalurkan.

2. Kesepakatan

Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing- masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.

Kesepakatan penyaluran kredit dituangkan dalam akad kredit yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, yaitu pihak bank dan nasabah.

3. Jangka Waktu

Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.

Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada kredit yang tidak memiliki jangka waktu

4. Balas Jasa

Akibat dari pemberian fasilitas kredit bank tentu mengharapkan suatu keuntungan dalam jumlah tertentu. Balas jasa dalam bentuk bunga, biaya provisi dan komisi, serta biaya administrasi kredit ini merupakan keuntungan utama bank.

5. Resiko

Faktor resiko kerugian dapat diakibatkan dua hal, yaitu resiko kerugian yang diakibatkan nasabah sengaja tidak mau membayar kreditnya padahal mampu dan resiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah tidak sengaja yaitu akibat terjadinya musibah atau bencana alam. Semua resiko ini menjadi tanggungan koperasi.

Syarat-syarat calon nasabah

Dalam usaha menekan resiko yang nantinya akan timbul maka calon nasabah diharuskan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan seperti:

1. Anggota atau calon nasabah berdomisili diwilayah yang dapat dijangkau oleh perusahaan atau koperasi yang bersangkutan.

2. Mempunyai pekerjaan tetap atau usaha

3. Tidak mempunyai tunggakan kredit bermasalah dengan pihak manapun

4. Tidak pernah terlibat tindak pidana 5. Memiliki karakter dan moral yang baik

2.1.8 Kolektibilitas

Istilah kolektibilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu “collectible”, artinya

“yang dapat ditagih”. Jadi kolektibilitas adalah piutang yang dapat ditagih oleh perusahaan kepada pembeli sebagai akibat dari transaksi penjualan secara kredit.

Menurut Ketentuan Bank Indonesia, Kolektibilitas atau collectibility adalah keadaan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh nasabah serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya.

Menurut rahman (1998: 120), kredit bermasalah dengan kolektibilitas macet ditambah kredit-kredit yang memiliki kolektibilitas diragukan memiliki potensi menjadi macet.

Kas yang diperoleh dari penagihan piutang yang akan meningkatkan pendapatan dengan mengurangi resiko piutang tak tertagih. Pembayaran angsuran kredit dikenakan pembebanan besarnya suku bunga kredit. Pembebanan maksudnya metode perhitungan yang akan digunakan sehingga mempengaruhi jumlah bunga yang akan dibayar. Jumlah bunga yang dibayar akan mempengaruhi jumlah angsuran perbulannya oleh anggota.

Kolektibilitas digolongkan berdasarkan kategori tertentu guna mempermudah menilai kelancaran pembayaran kembali oleh debitur.

1. kredit lancar. Yaitu kredit yang tidak mengalami masalah dengan tunggakan diselesaikan secara baik oleh nasabah.

2. kredit dalam perhatian khusus. Yaitu kredit yang dalam 1 sampai 2 bulan mulai mengalami keterlambatan dalam menyelesaikan pembayaran pokok dan bunga,

3. kredit tidak lancar. Yaitu kredit yang 3 atau 6 bulan mengalami ketidak lancaran pembayaran bunga dan pokoknya dan dilakukan upaya penagihan tapi hasilnya tetap kurang baik.

4. kredit diragukan. Yaitu kredit yang pernah mengalami keterlambatan pembayaran dan telah jatuh tempo belum juga dapat terselesaikan.

5. kredit macet. Yaitu kredit yang sudah jatuh tempo kurang lebih 12 bulan dan belum dibayarkan meskipun usaha penagihan sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil.

2.1.9 Hubungan Kebijakan Piutang Dengan Kolektibilitas

Permasalahan umum yang sering dialami oleh koperasi dan perusahaan yaitu penagihan piutang telah diberikan dan telah jatuh tempo tidak selamanya dapat terselesaikan dengan baik. Jika hal tersebut terus terjadi dan terus menerus maka akan berdampak bagi modal koperasi atau perusahan menjadi semakin kecil. Oleh sebab itu diperlukan perhatian dan penanganan yang serius mengenai piutang agar dapat memperkecil resiko yang akan ditimbulkan bagi koperasi maupun perusahaan. Untuk itu pemimpin berperan besar dalam menggarap upaya penagihan piutang supaya tidak memperlambat perputaran piutang dan operasi koperasi atau perusahaan. Demi mencegah terjadinya piutang bermasalah koperasi atau perusahaan tersebut harus menentukan kebijakan piutang dan menyurvei kemampuan calon nasabahnya.

Maksud dari dikeluarkannya kebijakan piutang tersebut adalah untuk mengelola serta mengorganisir piutang yang dikeluarkan agar dapat ditagih sehingga dapat menjadi kas yang nantinya akan menjadi laba atau keuntungan bagi koperasi atau perusahaan tersebut. Kebijakan piutang yang dilakukan oleh koperasi dan perusahaan tentunya juga guna menghindari resiko yang nantinya akan dialami setelah memberikan pinjaman seperti kecurangan, ketidakberhasilan dalam melakukan penagihan, kesalahan dalam penagihan, pencurian kas serta kinerja yang kurang baik.

2.2 Kerangka pikir

Berdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan penulis, maka penulis membuat suatu kerangka pikir mengenai analisis kebijakan piutang terhadap kolektibilitas piutang.

Kebijakan piutang adalah kebijakan mengenai piutang yang diambil oleh pimpinan koperasi yang harus dijalankan sebagaimana mestinya agar tujuan koperasi biasa tercapai secara efektif dan efisien. Kebijakan piutang diharapkan berpengaruh terhadap kolektibilitas piutang pada koperasi.

Kolektibilitas piutang merupakan tingkat kemampuan pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Kolektibilitas yang baik mengurangi jumlah kredit bermasalah oleh sebab itu diperlukan kebijakan piutang yang baik pula agar pengembalian piutang semakin baik.

Gambar 2.1 kerangka pikir

Kebijakan piutang

Metode Analisis :

Kesimpulan

Rekomendasi ANALISIS

KUANTITATIF (DESKRIPTIF)

ANALISI KUANTITATIF 1. Rasio perputaran piutang 2. Rata rata piutang

3. Rasio Tingkat kolektibilitas 4. NKK

kolektibilitas

Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo

2.3 hipotesis

Kebijakan piutang adalah kebijakan mengenai piutang yang diambil oleh pimpinan koperasi yang harus dijalankan sebagaimana mestinya agar tujuan koperasi biasa tercapai secara efektif dan efisien sedangkan Kolektibilitas piutang merupakan tingkat kemampuan pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya.

Semakin baik kebijakan piutang dalam koperasi maka diharapkan tingkat kolektibilitas juga akan semakin baik.

Hipotesis merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap masalah yang masih harus diuji kebenarannya melalui analisis data. Berdasarkan masalah yang sudah diuraikan penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut.

H : kebijakan piutang mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap kolektibilitas piutang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Simpan pinjam lestari sipatuo yang terletak di desa osango, Kecamatan, Mamasa, Kabupaten Mamasa. Waktu penelitian kurang lebih dua bulan lamanya.

3.2 Jenis Dan Sumber Data

Adapun jenis data yang digunaakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dandata kualitatif. Dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Data kuantitatif adalah jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka-angka.

2. Data kualitatif adalah jenis data yang berupa data dalam bentuk non angka yang sifatnya menunjang sebagai keterangan baik bersifat tulisan maupun lisan yang meliputi gambaran umum perusahaan.

Dan adapula sumber data yang digunakan oleh penulis dalam mendukung penelitian ini adalah sebagai berikut:

Data primer: data yang diperoleh melalui penelitian lapangan, yaitu melakukan penelitan dengan cara terjun lansung ke lapangan dengan menggunakan teknik pengambilan data melalui wawancara.

Data sekunder: data yang diperoleh berdasarkan acuan atau literatur yang berhubungan dengan penelitian. Adapun data sekunder yang tersedia antara lain :

1. kepustakaan, yaitu dengan mencari buku-buku, jurnal dan artikel yang berhubungan dengan objek permasalahan penelitian

2. dokumen berupa laporan keuangan dan dokumen pendukung lainnya 3. bukti yang telah ada, atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang

tidak dipublikasikan secara umum.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam upaya melengkapi data yang diperlukan untuk penulisan ini adalah

1. Wawancara

Pengumpulan data melalui metode wawancara yang dalam hal ini bersama ketua koperasi simpan pinjam lestari sipatuo yang dianggap mengetahui informasi secara relevan mengenai masalah dalam penelitian 2. dokumen

Pengumpulan data melalui dokumen koperasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Data data yang telah penulis peroleh dari metode ini adalah sejarah koperasi, laporan keuangan dan RAT.

3.4 Metode Analisis

Untuk mengolah data dari hasil penelitian penulis menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh kebijakan piutang terhadap kolektibilitas. Analisis ini bersifat kuantitatif. Analisis yang digunakan sebagai berikut:

Rata rata piutang usaha

Perputaran piutang usaha

Rasio kolektibilitas menurut klasifikasinya

Untuk menilai tingkat kolektibilitas

( ) ( ) ( ) ( )

Keterangan

NKK : Nilai Kolektibilitas Kredit DPK : Dalam Perhatian Khusus KL : Kurang Lancar

D : Diragukan

M : Macet

3.5 Definisi Operasional Kebijakan piutang (X)

Kebijakan piutang merupakan prosedur yang harus diikuti dalam mengumpulkan piutang-piutang bilamana sudah jatuh tempo, dan keefektifan kebijaksanaan tersebut tergantung kepada jumlah piutang tak tertagih yang ada.

Semakin kecil jumlah piutang tak tertagih, maka kebijakan pengumpulan piutang semakin efektif dan sebaliknya. Untuk mencari tingkat keefektifan perputaran piutang dirumuskan sebagai berikut:

Tingkat Kolektibilits

kolektibilitas piutang yang baik sangat berdampak pada tujuan yaitu laba.

Kolektibilitas merupakan tingkat kemampuan pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Tingkat kolektibilitas dirumuskan sebagai berikut:

( ) ( ) ( ) ( )

Keterangan

NKK : Nilai Kolektibilitas Kredit DPK : Dalam Perhatian Khusus KL : Kurang Lancar

D : Diragukan M : Macet

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 gambaran umum perusahaan

4.1.1 Sejarah singkat koperasi simpan pinjam lestari sipatuo

Koperasi simpan pinjam lestari sipatuo awalnya bernama koperasi serba usaha lestari sipatuo Didirikan pertama kali pada tahun 2011 dengan anggota 25 orang.

Dengan Badan Hukum No. 518/142/KEP-M/BH/IV/25.04 Tahun 2011

Koperasi ini berkedudukan di Dusun Rantekatoan Desa Osango Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat. Ruang lingkup keanggotaan koperasi meliputi para pelaku usaha mikro kecil yang berada di Desa Osango.

Koperasi Lestari Sipatuo” adalah koperasi yang bergerak di bidang simpan pinjam. Selain itu, koperasi ini juga mengadakan usaha kerjasama dengan koperasi maupun badan usaha lainnya yang saling menguntungkan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan usaha ternak.

Koperasi ini semakin berkembang hingga saat ini, dimana jumlah anggotanya pun semakin meningkat dari awal hanya 25 orang menjadi 57 orang dan mereka adalah pengusaha kecil ternak dari warga masyarakat Desa Osango.

Namun pada tahun 2016 melalui RAT disepakati untuk mengubah fokus koperasi menjadi simpan pinjam dan bukan lagi serba usaha oleh karena itu nama dari yang semula koperasi serba usaha diubah menjadi koperasi simpan pinjam

4.1.2 Visi misi koperasi simpan pinjam lestari Sipatuo

Visi Koperasi Lestari Sipatuo adalah menjadi mitra terbaik bagi anggota dan mampu mensejahterakan anggotanya.

Misi Koperasi Lestari Sipatuo

1. Mengembangkan ideologi kehidupan perkoperasian

2. Meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya

3. Menggiatkan kesadaran anggota untuk menyimpan pada koperasi secara teratur

4.1.3 Struktur Organisasi Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo

Setiap koperasi tentunya memiliki struktur yang terencana guna mempertegas kewenangan dan tugas tanggung jawab dari masing masing individu yang terkait pada koperasi tersebut. Struktur organisasi umumnya digambarkan melalui skema dalam skema tersebut dapat terlihat tugas dan tanggung jawab dari pemimpin sampai paling rendah

Struktur organisasi melambangkan garis wewenang serta tugas dan tanggung jawab antar satu bagian dengan bagian lainnya yang tentunya tidak dapat dipisahkan dan merupakan suatu kesatuan

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo

Penjelasan tentang Struktur Organisasi Koperasi Simpan Pinjam Lestari sipatuo:

1. Rapat Anggota Tahunan (RAT)

Menjadi puncak kekuasaan tertinggi dalam koperasi, yang didalamnya dibahas seluruh rancangan dan rencana penting yang akan diambil koperasi kedepannya. Adapun hal-hal yang dibahas sebagai berikut:

a. Memutuskan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga RAT

Badan pengawas Dewan pengurus

Ketua Sekertaris bendahara

manager

Juru buku

Petugas luar

kasir Pengawas lapangan

Anggota

b. Memutuskan kebijakan koperasi

c. Menetapkan, mengangkat serta memberhentikan badan pengawas

d. Mengabsahkan laporan pertanggung jawaban pengurus koperasi

2. Badan pengawas

Tugas pokok badan pengawas sebagai berikut:

a. Mengawasi jalannya pelaksanaan koperasi dari semua sisi baik dari manajemen, usaha keuangan, permodalan dan lain lain b. Memeriksa ketetapan catatan koperasi

c. Bertanggung jawab pada hasil pemeriksaan dan merahasiakannya dari pihak ketiga

d. Memberikan pendapat, kritik maupun saran kepada pengurus dalam rapat tahunan

3. Ketua

Adapun tugas yang diemban oleh ketua adalah:

a. Memimpin serta mengorganisir pelaksaaan tugas pengurus lainnya

b. Sebagai pengawasan pelaksanaan tugas pengurus lainnya c. Menuntun jalannya rapat tahunan

d. Memberikan laporan pertanggung jawaban kepada anggota dalam rapat tahunan

e. Memberikan keputusan dalam Koperasi

4. Sekertaris

Adapun tugas-tugas Sekertarisi:

a. Mengatur bagian tata usaha, administrasi, serta menangani surat-surat baik yang masuk maupun yang keluar

b. Menangani urusan personalia dalam koperasi c. Menyusun laporan yang dibutuhkan oleh koperasi 5. Bendahara

Tugas pokok bendahara sebagai berikut :

a. Mencatatkan transaksi terhadap nasabah yang ingin melakukan simpan pinjam

b. Membuat laporan perkembangan keuangan koperasi secara periodic

c. Berkerja sama pengurus serta staf dalam menyiapkan bahan- bahan untuk rapat anggota

d. Bekerja sama dengan juru buku dalam menyusun laporan keuangan berjangka

6. Manager

Tugas dari seorang manager pada koperasi adalah:

a. Menjalankan dan mengawasi seluruh kegiatan usaha b. Memberikan pelayanan administratif kepada pengurus

c. Berhak mengambil langkah tindak lanjut atas keputusan yang telah dirapatkan

7. Pengawas lapangan

Pengawas lapangan mengemban tugas sebagai berikut:

a. Menjalankan kebijakan yang telah disepakati dirapat

b. Mengawasi agar tidak terjadi penyimpangan pada jalannya usaha penagihan

c. Berkoordinasi dengan manajer serta pengurus untuk melaporkan kejadian dilapangan

d. Bekerja sama dengan petugas lapangan dalam hal upaya penagihan

8. Kasir

Tugas pokok kasir adalah sebagai berikut:

a. Menerima dan mengeluarkan uang sesuai dengan transaksi yang terjadi dalam satu hari

b. Menyimpan dan menyerahkan segala bentuk bukti transaksi dan diberikan kepada juru buku untuk menjadi lampiran

9. Juru buku

Adapun tugas dari juru buku adalah:

a. Mencatat seriap transaksi yang terjadi sesuai dengan bukti transaksi

b. Menyusun laporan keuangan bersama bendahara dan kasir c. Melampirkan segala bentuk transaksi

10. Petugas lapangan

Petugas lapangan mempunyai tugas sebagai berikut:

a. Membantu nasabah dalam hal permohonan menjadi anggota ataupun pinjaman

b. Melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan c. Melakukan penagihan kepada nasabah

d. Berkordinasi dengan pengawas lapangan dalam melaporkan apa yang terjadi dilapangan

4.2 Deskripsi Data

Piutang merupakan bagian penting dalam sebuah perusahaan baik itu bank maupun lembaga keuangan lainnya oleh sebab itu kebijakan piutang tentunya harus dijalankan seefektif mungkin demi menjamin keberlangsungan piutangnya semakin lama periode piutang tentunya semakin besar resiko tidak tertagihnya yang dengan otomatis hal tersebut menyebabkan kerugian kepada lembaga keuangan selaku yang memberikan piutang. Pengendalian kebijakan piutang sekurang kurangnya dimulai pada saat piutang tersebut belum diberikan seperti pada saat nasabah mengajukan permohonan, persetujuan pemberian piutang tersebut, sampai dengan pengembalian piutang.

Adapun hasil wawancara penulis dengan ketua koperasi simpan pinjam lestari sipatuo mengenai kebijakan piutang yang mereka terapkan selama ini yaitu tanggung renteng dengan digunakannya sistem tersebut akan mengurangi resiko kredit macet karena tungakan anggota akan ditanggung bersama agar pembayaran iuran sesuai dengan tagihan dan tepat waktu. Dan dana yang didapatkan akan terus berputar dari nasabah 1 ke nasabah yang lainnya.

Selain itu penulis juga menanyakan tentang syarat yang harus dipenuhi nasabah sebelum melakukan pinjaman pada koperasi simpan pinjam lestari sipatuo berdasarkan wawancara penulis mengambil kesimpulan bahwa yang harus dipenuhi oleh nasabah yaitu mengisi formulir yang telah dipersiapkan koperasi, kemudian mengajukan kembali ke koperasi setelah itu membuat surat perjanjian kredit lalu membubuhkan tanda tangan masing masing pihak diatas matrai 6000 dan melampirkan fotocopy KTP dan KK.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut mekanisme proses pengajuan piutang, pemberian piutang, penyaluran hingga pengembalian piutang cukup mudah namun tetap hati hati. Piutang yang diberikan oleh Koperasi Simpan pinjam lestari sipatuo bergulir atas dasar kepercayaan karna dana pinjaman diberikan tanpa jaminan apapun hal tersebut menimbulkan dampak resiko piutang macet menjadi cukup rentan.

Kolektibilitas piutang merupakan tingkat kemampuan pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Kolektibilitas sendiri dapat digolongkan menjadi 5 bagian yaitu L untuk Lancar, DPK untuk Dalam Perhatian Khusus, KL untuk Kurang Lancar, D untuk Diragukan dan M untuk Macet.berikut ini merupakan tabel penyaluran pinjaman pada Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo.

4.1 Tabel Penyaluran Pinjaman Pada Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo Periode 2017 Sampai Dengan 2020

No Tahun Piutang yang diberikan

1 2017 226,200.000

2 2018 395,500.000

3 2019 428,100.000

Jumlah 1.0498.800.000

Sumber : Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo 4.3 Analisi Data

4.3.1 Analisi Kebijakan Piutang

rasio perputaran piutang ini digunakan untuk mengukur sejauh mana efektifitas koperasi dalam menagih penjualan kreditnya untuk diubah menjadi kas. Besaran rasio perputaran piutang mempunyai dampak langsung terhadap besar kecilnya modal yang diinvestasikan pada piutang.

berikut ini merupakan tabel kolektibilitas piutang berdasarkan saldo pinjaman pada Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo.

4.2 Tabel Kolektibilitas Piutang Berdasarkan Saldo Pinjaman

No Klasifikasi Tahun

2017 2018 2019

1 L 203.200.000 322,450.000 367.671.000

2 DPK 9,653.000 33,259.700 36,187,000

3 KL 2.150.000 14.980,000 5.910.000

4 D 7.670.000 10,513.300 13,535.000

5 M 3.527.000 4.297.000 4.797.000

Total 226,200.000 395,500.000 428,100.000

Sumber : koperasi simpan pinjam lestari sipatuo

Rasio perputaran menunjukan berapa cepat proses penagihan piutang. Adapun hasil perhitungan rasio perputaran piutang selama 3 dapat diuraikan sebagai berikut:

Rata rata piutang usaha

2017=

2018=

2019=

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa koperasi simpan pinjam lestari sipatuo mengalami peningkatan setiap tahun yaitu pada tahun 2017 sebesar 212.351.500 pada tahun 2018 sebesar 310.850.000 dan pada tahun 2019 sebesar 411.800.000.

Perputaran piutang usaha

2017=

2018=

2019=

4.3 Tabel Tingkat Perputaran Piutang Pada Koperasi Simpan Pinjam Lestari Sipatuo Selama 3 Tahun Terakhir

Tahun Standar Realisasi

2017 1 1,06

2018 1 1,27

2019 1 1,03

Sumber :data diolah

Besarnya perhitungan rasio perputaran piutang menunjukan bahwa tahun 2017 sebesar 1,06 kali dan pada tahun 2018 terjadi peningkatan menjadi 1,27 kali sedangkan tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 1,03.

4.3.2 Penggolongan Kolektibilitas Piutang

Berikut penggolongan kolektibilitas piutang selama 3 tahun terakhir, berdasarkan sumber data yang diperoleh dari Koperasi simpan pinjam Lestari Sipatuo.

Dalam dokumen NEVI PAULA ANGRAE - Universitas Bosowa (Halaman 35-43)

Dokumen terkait