• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu Timur

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

B. Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu Timur

2. Kecamatan Bontoharu: Pantai Jeneiya, Jangkar Selayar, Gong Nekara, Benteng Bontobangun, Perkampungan Tua Bitombang\

3. Kecamatan Bontomanai: Permandian alam Eremata, Air terjun Suttia, Pusat Bumi (To'do), Puncak, Kompleks Perkampungan Tua Gantarang 4. Kecamatan Bontomatene: Pantai Pa'badilang, Gua Ereposo, Sumur Tua

Tajuiya, Makam Bulaenna Parangia, Rumah Adat Batangmata

5. Kecamatan Bontosikuyu: Pantai Baloiya, Wisata Jammeng, Gua Bonetappalang, Pantai Batu Etang, Air Terjun Patikore', Air terjun Ohe Gonggong

6. Kecamatan Buki: Kuburan Tua Silolo, Pantai karang Indah, Benteng Pertahanan, Istana Lalaki Buki

7. Kecamatan Pasilambena: Pantai Pulau Madu, Pantai Karumpa, Pulau Kakabia, Perkampungan Tua, Gua Buranga

8. Kecamatan Pasimarannu: Tari Pangaru, Tari Batanda, Gua Majapahit, Rumah Adat Opu Bonerate, Pembuatan Perahu, Pantai Larafu

9. Kecamatan Pasimasunggu: Tari Kondo Buleng, Pusaka Jampea, Pulau Tanamalala, Pulau Jai Lamu, Pulau Batu

10. Kecamatan Pasimasunggu Timur: Perairan Batu So'bolo, Pulau Bembe, Makam Ali Kabar, Pantai Doda

11. Kecamatan Takabonerate: Pantai Bone Lambere, Pulau Kauna, Buhung Tuma, Pulau Tinabo, Pulau Kayuadi

Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu Timur (biasa disebut juga pulau Tanah Jampea) adalah pulau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pulau ini berada di bagian selatan Pulau Selayar tepatnya di antara Pulau Kayuadi kecamatan Taka Bonerate dan Pulau Kalao

kecamatan Pasimarannu dengan koordinat

7°6′0,76″LU120°41′7,39″BTKoordinat: 7°6′0,76″LU 120°41′7,39″BT.

Di pulau ini terdapat 2 kecamatan antara lain kecamatan Pasimasunggu dan kecamatan Pasimasunggu Timur serta 10 desa antara lain desa Bontosaile, desa Maminasa, desa Labuang Pamajang, desa Kembang Ragi, desa Lembang Baji, desa Masungke, desa Tanamalala, desa Bontomalling, desa Bontobulaeng dan desa Bontobaru.

Pulau Jampea merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Selayar setelah Pulau Selayar dan merupakan satu-satunya pulau penghasil beras di Kabupaten Kepulauan Selayar. Penduduk di Pulau Jampea rata-rata menguasai 3 bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Bugis dan bahasa Selayar. Mata pencaharian penduduk di pulau ini selain sebagai nelayan dan petani tambak juga sebagai petani penghasil beras dan penghasil kopra yang sudah terkenal sejak tahun 1918.

Pulau jampea juga dikenal dengan sebutan Benteng Jampea, dimana pulau ini memiliki keindahan alam baik alam bawah laut dan juga kekayaan alam di darat. Menarik dari pulau jampea ini memiliki pelabuhan yang menurut data penelitian menyebutkan bahwa pelabuhan yang ada di pulau jampea (Benteng Jampea) merupakan pelabuhan terpanjang kedua yang ada di Sulawesi Selatan

Di Pulau Jampea bisa juga menikmati destinasi wisata berupa wisata pulau yang indah dengan penduduk yang ramah. Selain itu juga bisa dinikmati destinasi wisata berupa pantai yang sangat indah dengan berbatuan yang beraneka ragam, meskipun pasirnya tidak berwarna putih. Selain itu eksotika pemandangan pulau, laut dan gunung bisa dilihat dari pulau ini.

Jarak dan Waktu Tempuh Menurut hitung-hitungan waktu tempuh melalui jalur laut dengan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan penyebarangan Pattumbukang di desa Lantibongan, kecamatan Bontosikuyu ke Pelabuhan penyeberangan Jampea di desa Kembang Ragi, kecamatan Pasimasunggu memakan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam sementara dari desa Lantibongan ke kota Benteng ditempuh sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan darat. Berarti lama perjalanan dari ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar ke Pulau Jampea sekitar 5 sampai 6 jam perjalanan.

BAB V

REALITAS KAPALLI

A. Kapalli Dalam Pespektif Masyarakat

Kapalli dalam pespektif masyarakat yaitu sebagai suatu larangan yang jika dilanggar akan mendatangkan celaka. Dalam beberapa pemahasan kapalli’ juga berperan sebagai aturan-aturan masyarakat khususnya mayarakat Selayar yang mengatur segala pola hidup masyarakatnya diluar kepercayaan masyarakat terhadap agama. Kapalli’ belum bisa ditentukan berasal dari mana bahkan sejak kapan, yang jelas kapalli’ banyak dimiliki oleh suku di bangsa Indonesia. khusus untuk masyarakat Selayar, kapalli’ menjadi sebuah aturan yang sangat tabu sehingga masyarakatnya memegang teguh aturan yang ada dalamkapalli’tersebut.

Adapun beberapa hasil wawancara dari masyarakat selayar tentang kapalli yaitu sebagai berikut :

Adapun jawaban dari informan ketika ditanya persoalan kapalli khususnya tentang Larangan untuk menunjuk ke arah pelangi yang dianggap dapat mengakibatkan jari telunjuk seseorang menjadi buntung?

Adapun jawaban yang dikemukakan kurang lebih seperti berikut ini:

“...inakke sebenarna nugele tonjua ku isse baji. Tapi inni pangajara battu ri tau toa jari ditte tau konni-konninjo minahang mamoki nasaba soddi tidek

39

anu ri olo tidak tonja anu konni-konni. Memang tau potte limanna gara-gara panjokjokna mange ri tarauhenjo, tide’pa nu kujanjang mata tapi minangi bede’ kajariang ri olo. Masala anakku geleji potte’ limanna, injo nasaba lakua tau ri olota ri kokko’ karamenta bede’ ampa kebetulan gele ri sangaja nanjo’jokki” (Dg. Sitti, Wawancara 25 Agustus 2017).”

Terjemahannya:

“saya sebenarnya juga kurang jelas. Akan tetapi ini adalah pesan leluhur sehingga kita sekarang harus mematuhinya sebab jika tidak ada yang dahulu itu maka mustahil ada yang sekarang. Sebenarnya perihal mengenai seseorang yang buntung jari tangannya karena menunjuk pada pelangi, saya juga belum pernah lihat secara kasat mata akan tetapi konon pernah kejadian dulu. Soal anak saya yang tidak buntung jari tangannya padahal sempat menunjuk pada pelangi, itu karena sempat menggigit jari tangannya setelah menunjuk berdasarkan pesan leluhur”

Dari penjelasan informan diatas dapat disimpulkan bahwa kepatuhan terhadap larangan atau kapalli’ yang dihubungkan dengan pelangi, bukan karena kebetulan mereka yang percaya karena pernah menyaksikan secara kasat mata atau secara langsung kejadian tertentu sebagai sanksi atas pelanggarannya. Sebaliknya, keyakinan (kepercayaan) kental terhadap pesan leluhurlah yang menjadi kekuatan utama yang pada gilirannya menjadi sumber kepatuhan. Selain itu, rupanya tindakan atas sesuatu yang dianggap kapalli’ atau mengandung sanksi (akibat fatal) tertentu bagi mereka yang melanggar pun memiliki semacam penangkal terutama bagi mereka yang melakukan secara tidak sengaja. Dengan kata lain, ketentuan ini berlaku bagi mereka yang tidak paham atau mengerti dan tidak secara sengaja melakukan dapat melakukan tindakan tertentu sebagai wujud permintaan maaf.

Hal ini terbukti melalui tindakan yang dilakukan oleh sang ibu tadi saat anaknya secara tidak sengaja menunjuk kepada pelangi, secara spontan diperintahkan

kepada anaknya untuk segera menggigit jari tangannya (telunjuk) sebagai tanda permintaan maaf (penyesalan) atas tindakan yang dianggap tabu (pemali) tersebut.

Sekadar digambarkan bahwa menggigit jari dalam pengertian ini, hanya dilakukan dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam mulut kemudian masing-masing gigi atas dan bawah saling merapat secara pelan ke arah jari telunjuk (tidak dilakukan dengan gigitan kuat).

Terkait dengan akar historis kelahiran kapalli’ yang telah ditelusuri berdasarkan contoh kasus tersebut, maka dapat dikemukakan antara lain bahwa proses kelahiran kapalli’ ini bersumber pada keyakinan kukuh pada pesan leluhur yang dipercaya sebagai sesuatu yang pernah terjadi pada masa lampau (pappasang tau ri olo). Meskipun tidak dapat ditentukan kapan persis kelahirannya, namun yang pasti bahwa generasi masyarakat Selayar belakangan tetap percaya dan yakin bahwa kejujuran (orang dulu) yang selalu junjung tinggi menghapus keraguan mereka atas sesuatu terutama yang terkait dengan pesan (pappasang).

Dalam kaitannya dengan hal ini kepercayaan atau keyakinan atas pesan leluhur, juga sangat terkait dengan perbuatan dusta yang merupakan bagian penting dari sederet tindakan yang tergolong kapalli’. Dalam pengertian lain bahwa mereka yakin bahwa orang-orang tua dulu tidak mungkin berbohong kerena mereka tau persis bahwa perbuatan bohong/dusta dapat mengakibatkan bibir atau bagian mulut lain akan bengkak (puru-puruang, Selayar). Singkatnya, bahwa hal-hal yang terkait dengan kapalli’ dalam kenyataannya memang bervariasi berdasarkan tujuannya.

Maksudnya, bahwa ada beberapa di antaranya yang memang terbukti secara empirik

dan tentu saja sebagian hanya merupakan alat/cara untuk tujuan tertentu yang maksudnya baik.

Larangan menjelang magrib dilarang mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi terutama pada tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat?

Karena untuk menghindari kemungkinan sang pengendara menabrak makhluk halus yang dipercayai berkeliaran itu. Untuk terhindar dari kemungkinan mengalami hal- hal seperti itu, maka ada beberapa cara yang ditempuh antara lain:

1) Masuk ke dalam rumah saat menjelang magrib,

2) Jika dalam keadaan terpaksa berada di perjalanaan pada waktu sepeti ini, maka dianjurkan mengucapkan kata “tabe” setiap kali melintas di persimpangan jalan, tikungan, dekat kuburan, dan tempat-tempat yang dianggap keramat lainnya,

3) Mengucapkan salam (assalamu alikum) saat mendatangi tempat tertentu, 4) Mengucapkan/ membaca surat Al-Ikhlas saat berjalan atau mengendara

yang dimaksudkan agar setan menjauh. Hal ini tentu saja menjadi kebiasaan masyarakat Selayar sejak masuknya pengaruh Islam di daerah ini, bahkan beberapa surah pendek yang ada dalam al-Qur’an dijadikan sebagai alat pengusir setan (pa’bongka setan).

Dari penjelasan informan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat selayar khususnya Kecamatan Pasimasunggu Timur sangat mempercayai pesan kultural kapalli’ dapat mendatangkan musibah ketika dilanggar meski kepercayaan ini tidak

bersifat mutlak karena asal usul kapalli’ ini tidak diketahui kapan dan dari mana datangnya. Akan tetapi masyarakat mempercayai pesan kultural ini sebagai pesan leluhur yang ketika di langgar bisa celaka sehingga pesan kapalli sangat di jaga dan digunakan sebagai alat pengontrol di sebagaian masyarakat dlam kehidupan sehari- hari.

BAB VI

IMPLEMENTASI KAPALLI’ DI ERA MODERN

Dokumen terkait