BAB IV ANALISIS PENAFSIRAN
4. QS. Al-Baqarah [2] Ayat 275-281
Baqarah [2]: 279, yaitu latazhlimun wa latuzhlamun (kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya).79
Kmudian ditinjau dari munasabah ayat Wahbah az- Zuhaili menjelaskan bahwa Allah SWT. menggabung larangan ini dengan perintah bagi orang beriman untuk bertakwa agar mereka selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat.
Kemudian Allah SWT. lebih memperkuat larangan ini pada ayat selanjutnya QS. [3]: 131-133 dengan mengancam siksa api neraka dan memperingatkan mereka untuk melindungi diri dari siksa api neraka serta perintah untuk menaati Allah SWT dan Rasul-Nya seraya memohon ampunan kepada-Nya dan Al- Qur'an menyebutkan bahwa orang yang menafkahkan hartanya (di waktu lapang ataupun sempit), menahan amarah, memaafkan orang, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik QS.
[3]: 134.80
lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 275)81
Muhammad Ali ash-Sh b ni menjelaskan bahwa orang- orang yang berinteraksi dengan riba sama seperti manusia yang menghisap darah kemudian mereka tidak dapat berdiri pada hari kiamat, melainkan menderita dan kesakitan. Mereka bangkit dan terjatuh dan tidak mampu berdiri dengan tegak, mereka berjalan sempoyongan. Itu merupakan balasan bagi mereka yang disebabkan karena mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. "Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." Allah menghalalkan jual-beli karena ada transaksi tukar menukar hal-hal yang bermanfaat dan mengharamkan riba karena dapat membahayakan individu dan masyarakat. Riba merupakan kelebihan harta hasil jerih-payah orang si penghutang.82
Dalam kitab Raw n Tafs r yat al Ahk m Min al- n, dijelaskan bahwa diserupakannya para pemakan riba dengan orang-orang yang kesurupan adalah suatu ungkapan yang halus sekali. Maksudnya, Allah SWT. memasukkan riba ke dalam perut mereka itu, sehingga memberatkan mereka hingga sempoyongan, bangun, dan jatuh lagi. Yang demikian itu akan menjadi tanda mereka nanti di hari kiamat sehingga semua orang akan mengenalnya.83
81Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 47.
82Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 174.
83 -
- , Jilid 1, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, 1980), h.
387.
Muhammad 'Ali ash-
orang-orang yang telah berhenti dari mengambil riba dikarenakan telah sampai kepadanya larangan Allah SWT. maka apa yang telah diambilnya dahulu sebelum diharamkan dan itu urusannya diserahkan kepada Allah. Jika Allah menghendaki, maka Allah akan mengampuninya dan jika Allah menghedaki, maka Allah akan menghukumnya. Akan tetapi jika orang itu kembali mengambil riba dan menghalalkannya setelah diharakamkan, maka orang itu akan kekal di neraka Jahanam.84
- al-
yang berbentuk dalam ayat ini merujuk pada riba yang . Oleh sebab itu yang diharamkan dalam ayat ini adalah riba yang dipraktikkan orang Arab pra-Islam (riba Jahiliyyah); tambahan jumlah hutang karena penundaan pembayaran yang diistilahkan dengan
Setidaknya ada tiga alasan; Pertama, dengan menggunakan kaidah bahasa bahwa pengulangan kosa kata yang menyatakan, apabila ada kosa kata yang menunjukkan pengkhususan ( ) diulang, maka pengertian kosa kata kedua sama
. Oleh sebab itu kata al- dalam ayat ini sama dengan kata yang ada pada QS.
[3]: 130. Kedua, memahami ayat yang tidak bersyarat berdasarkan ayat yang sama tetapi bersyarat. Jadi, kata al- pada QS. Al-Baqarah [2]: 275 yang tidak bersyarat dipahami berdasarkan kata yang bersyarat ( ) pada QS.
[3]: 130. Ketiga, pembicaraan Al-Qur an tentang riba senantiasa dihubungkan dan dihadapkan dengan pembicaraan tentang shadaqah dan , yang dihubungkan dengan zhulum (penganiayaan dan penindasan).85
84Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 175.
85Muhammad Rasyid Ridha, -
Mu -115.
Dari penjelasan tersebut hemat penulis menyimpulkan bahwa yang penting untuk diingat kembali adalah konsep riba sebelum turunnya ayat ini dikalanga berbeda pendapat seperti ash-Shabuni mengharamkannya dan sebagian masih mendapatkan legitimasi akan kebolehannya apabila tidak terdapat unsur berlipat ganda . Dengan turunnya QS. Al-Baqarah 275 ini memberi dampak bagi pelaku riba yang menyerupai orang yang dirasuki oleh setan, sulit untuk menghindari dari jebakan bathil, karena bagi mereka ada anggapan bahwa antara melakukan amaliah jual beli dan memberikan pinjaman uang dengan harapan kompensasi utang (rentenir) adalah sama dalam sama-sama dapat menghasilkan keuntungan yang halal.86 Untuk itulah, maka Allah SWT.
membantah dengan tegas bahwa kedua profesi itu tidak sama.
Allah SWT. menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Selanjutnya Allah SWT. menjelaskan riba dan sedekah dalam firman-Nya:
Artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqarah [2]: 276)87
Muhammad Ali ash-Sh b ni menjelaskan bahwa secara zhahir harta dari hasil riba memang terlihat lebih, akan tetapi Allah menghilangkannya dan memusnahkan kebaikannya, maka hanya keburukan yang akan diperoleh. Kemudian Allah memperbanyak jalan shadaqah dan menyuburkannya meski secara zhahir harta akan kelihatan berkurang, akan tetapi harta
86 -
Min al- , Jilid 1, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, 1980), h.
391.
87Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 47.
bertambah dari sisi keberkahannya.88 Pelaku riba mencari keuntungan harta dengan cara riba, dan pembangkang sedekah mencari keuntungan harta dengan jalan tidak mengeluarkan sedekah. Untuk itulah, maka Allah menjelaskan bahwa riba menyebabkan kurangnya harta dan menjadi sebab tidak berkembangnya harta itu, sementara sedekah penyebab tumbuhnya harta, dan bukan penyebab berkurangnya harta.
Tambah dan kurang ini ditinjau dari akibatnya baik di dunia maupun akhirat kelak.89 Allah membenci setiap hati yang tidak taat dan dosa dalam perkataan dan perbuatan. Ayat ini merupakan penegasan tentang riba dan pernyataan bahwa riba adalah perbuatan orang-orang kafir.90
Dalam kehidupan sehari-hari dampak yang nyata dari sedekah adalah tidak hanya dicintai oleh Allah SWT, tetapi juga dicintai oleh manusia. Tidak ada orang yang hasad, iri, dengki ingin menyakiti, ingin mencuri hartanya atau bentuk-bentuk gangguan lainnya. Adapun dampak yang nyata dari riba adalah bahwa orang yang membungakan utang tidak hanya dibenci oleh Allah SWT, tetapi semua orang juga membencinya. Semua orang merasa dengki kepadanya dan mereka akan merasa senang jika ia tertimpa sesuatu yang menyakitkan, semua orang selalu menanti- nanti datangnya saat di mana ia mengalami kebangkrutan.91
Ayat ini kembali menunjuk pada kekafiran orang-orang yang melakukan riba, bahkan kekafiran ganda sebagaimana dipahami dengan penggunaan kata kaffar bukan kafir. Kekafiran ganda adalah ketika mereka menyamakan riba dengan jual beli,
88Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 175.
89 -
- , Jilid 1, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, 1980), h.
388.
90Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- h. 175.
91Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Jakarta: Gema Insani, 2016), Jilid 2, h. 117.
yaitu sama dengan mengingkari perintah Allah dan tidak mensyukuri nikmat keutamaan yang mereka miliki, bahkan sampai menindas dan menganiayanya.92 Oleh karena itu Allah sangat membenci perbuatan tersebut, karena penganiayaan yang mereka lakukan tidak hanya untuk satu orang, tetapi untuk banyak orang, bahkan untuk seluruh masyarakat.
Kemudian untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan, dalam ayat selanjutnya Allah SWT.
berfirman:
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih. (QS. Al-Baqarah [2]:
277).93
Muhammad Ali ash-Sh b ni menerangkan ayat tersebut bahwa kemudian Allah memuji orang mukmin yang taat, dengan memerintahkan menjalankan shalat dan mengeluarkan zakat.
Sehingga mereka mendapat pahala yang sempurna dari Allah di surga. Mereka tidak perlu khawatir pada hari yang menakutkan dan tidak bersedih hati terhadap apa yang telah lewat di dunia.94
Dijelaskan bahwa Al-Qur'an sering menggabungkan sesuatu dengan lawannya, sehingga perbandingan yang diharapkan mengajak mereka untuk memilih apa yang terbaik
92M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al- (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 595.
93Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 47.
94Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 175.
yang ditawarkan kepada pendengar dan pembacanya.95 Jadi dalam ayat ini ada janji bagi orang yang beriman dan beramal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman dan keburukan atas mereka.96 Secara khusus menyebutkan shalat dan zakat, padahal kedua bentuk ibadah tersebut sebenarnya untuk beramal shaleh.
Hal ini untuk mengingatkan bahwa keduanya merupakan bentuk ibadah yang sangat penting karena keduanya merupakan dua titik tertinggi ibadah.97
Dalam ayat ini tidak di jelaskan tentang riba akan tetapi menjelaskan tentang amalan yang berlawanan dengan riba serta ibadah yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan zhalim atau riba. Adapun ayat selanjutnya menjelaskan dengan tegas perkara riba yang diharamkan, Allah SWT. berfirman:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
95M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al- (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 596.
96Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di,
, (Riyadt: Darussalam, 2002), h. 387.
97Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Jakarta: Gema Insani, 2016), Jilid 2, h. 118.
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqarah [2]:
278-279).98
Ayat ini turun ketika Bani Amr dari Tsaqif menghutangi (dengan riba) kepada Bani Mughirah. Ketika telah jatuh tempo, mereka ingin memperoleh riba (kelebihan harta) darinya, ada kekuatan bagi kami untuk memerangi Allah dan Rasul- mereka bertaubat dan hanya mengambil uang pokonya saja.99
Muhammad Ali ash-Sh b ni menegaskan terkait firman Allah pada ayat tersebut untuk takut kepada Allah, dan rasakanlah pengawasan-Nya disetiap perbuatan kalian, kemudia tinggalkanlah riba, jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah SWT. Jika kalian tidak meninggalkan interaksi kalian dengan riba, maka yakinlah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian dan apabila kalian tidak lagi berinteraksi dengan riba dan meninggalkannya maka bagimu pokok hartamu yang telah kamu bayarkan tanpa ada kelebihan dan kekurangan.100
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan yang dimaksud dengan harbun minallaah (perang yang dilancarkan Allah SWT kepada mereka) adalah murka dan ancaman siksa Allah SWT. bagi orang-orang yang mengambil riba dengan menimpakan kejelekan kepada mereka di dunia dan siksa neraka di akhirat. Adapun yang dimaksuddengan harbun min Rasuulih (perang yang dilancarkan oleh Rasulullah SAW.) adalah sikap permusuhan beliau terhadap mereka, karena barangsiapa yang berani memerangi Allah SWT dan Rasul-Nya maka ia pantas untuk diperangi karena ia telah
98Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 47.
99Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 174.
100Ibid., h. 175.
melanggar syariat dan hukum-hukum-Nya.101 Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman yang tegas bagi orang-orang yang masih melaksanakan praktik riba setelah diberi peringatan.102
Pada surah Al-Baqarah ayat 278-279 ini merupakan tahap terakhir dari tahapan penharaman riba, Allah SWT. dengan jelas dan tegas mengharamkan apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman, baik sedikit (kecil) mupun banyak (berlipat ganda) serta pengharamannya bersifat kulli (menyeluruh) dan
(jelas).103 Ayat ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba. Karena ayat ini didahului oleh ayat-ayat yang lain yang berbicara tentang riba, maka tidak heran jika kandungannya bukan saja melarang praktik riba, tetapi juga sangat mencela pelakunya, bahkan mengancam mereka. Kemudia Allah berfirman:
Artinya: Jika dia (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan.
Kamu bersedekah (membebaskan utang) itu lebih baik bagimu apabila kamu mengetahui(-nya). (QS. Al-Baqarah [2]: 280).104
Muhammad Ali ash-Sh b ni menafsirkan dan memberi perbandingan bahwa ketika orang berhutang lagi kesulitan, maka beri keringanan hingga batas waktu ia mampu. Tidak seperti yang dilakukan orang pada zaman jahiliyah, Ibnu Katsir berkata, tempo, si pemberi hutang berkata: dibayar lunas atau diribakan!
Jika tidak dibayar lunas, maka si pemberi hutang memperpanjang
101Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Jakarta: Gema Insani, 2016), Jilid 2, h. 119.
102Muhammad Nasib Ar- , Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 2000), h. 458.
103Ibid., h. 391.
104Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 47.
masa pembayaran dengan menambah jumlah uang yang harus dibayar. Begitulah yang mereka lakukan setiap tahun. Hutang Jika kalian merelakan hutang itu kepada orang yang berhutang, sungguh hal demikian lebih mulia dan baik, jika kalian mengetahui bahwa menyedekahkan mendapatkan pahala yang agung.105
Allah SWT. menyukai bila seseorang menangguhkan pengutang yang kesulitan (membayar). Anjuran ini juga terdapat dalam Sunnah. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. berkisah:
"Seorang laki-laki dikenal sebagai orang yang mengutangi orang-orang. Lalu ia berkata kepada pembantunya: Kalau engkau datang ke tempat orang yang masih dalam kesempitan, maka biarkanlah ia! Kiranya, Allah akan melewatkan (siksa-Nya) dari kita, maka kelak ia akan bertemu Allah (di Hari Kiamat) dan
106
Al-Muhayimi berkata: Jika orang yang meminjamkan uang (debitur) menuntut hak penuhnya menyisakan ruang untuk debiturnya, maka Allah juga menuntut hak penuh darinya.
Namun, jika debitur memaafkan, maka Allah lebih berhak mengampuninya.107 Orang yang menunda kredit dianggap qardh hasan, yaitu kredit yang baik. Setiap saat dia bimbang dan menahan diri untuk tidak menagih, setiap saat Allah memberinya pahala sehingga pahalanya berlipat ganda. Firman Allah dalam surah Al-Hadid [57] ayat 11
105Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 176.
106 -
- , Jilid 1, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, 1980), h.
388.
107Ibid., h. 389.
Artinya:
basan (pinjaman yang baik), maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh
(QS. Al-Hadid 11).108
Berlipat ganda, karena pada saat itu pemberi pinjaman berharap untuk mendapatkan pinjamannya kembali, tetapi tertunda, dan dia dengan sabar dan anggun menerima penundaan tersebut. Lain halnya dengan sedekah, yang sejak awal sudah tidak diharapkan lagi oleh yang bersangkutan. Kesadaran dan kesabaran menunggu, maka Allah memberi pahala setiap saat dan berlipat ganda.109 Mengampuni sebagian atau seluruh hutang anda lebih baik daripada meminjam. Jika demikian, jika anda tahu lebih baik, maka cepatlah melunasi hutang atau membebaskannya dari hutang. Dalam ayat selanjut Allah berfirman:
Artinya: Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang padawaktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masingng-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah [2]: 281)110
Muhammad Ali ash-Sh b ni mejelaskan bahwa Allah memperingatkan tentang hari yang sangat menakutkan, dimana semuanya tidak berguna kecuali amal shalih. Maksudnya, berhati-hatilah pada hari yang ketika itu kalian akan dikembalikan kepada Tuhan kalian. Sehingga kalian diberi
108Departemen Agama RI, Al- (Jakarta:
Departemen Agama, 2019), h. 538.
109M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al- (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 559.
110Departemen Agama RI, Al- h. 47.
balasan yang sesuai berdasarkan hitungan amal shalihnya di dunia. Rangkaian ayat-ayat tersebut ditutup oleh ayat ini yang cakupannya menyeluruh karena ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan, dengan diturunkannya ayat ini berarti terputuslah wahyu. Dalam ayat ini terdapat juga peringatan bagi para hamba terhadap hari yang mengerikan itu. Ibnu Katsir berkata,
merupakan ayat Al-Qur'an yang turun terakhir. Setelah turunnya ayat ini, Nabi hidup selama sembilan hari, lalu beliau dipanggil
111
Menurut beberapa riwayat, ayat ini turun beberapa hari sebelum Rasul SAW. wafat. Satu riwayat menyatakan seminggu dan riwayat lain berkata tiga minggu. Riwayat lain bahkan menyatakan beberapa saat sebelum beliau wafat. Betapapun, ada jarak waktu antara ayat-ayat yang lalu dan ayat ini. Namun Rasul SAW. memerintahkan para penulis wahyu untuk meletakkannya setelah ayat yang lalu, karena memang terdapat keterkaitan yang erat antara kepercayaan akan adanya hari Kemudian dengan praktek-praktek riba. Seorang yang percaya tentang hari Kemudian, pasti akan bersedia menangguhkan keuntungan hari ini yang bersifat sementara, demi meraih keuntungan besar, berkesinambungan dan kekal di hari esok. Mereka yang melakukan praktek riba dengan berbagai penganiayaan yang ditimbulkannya, pada hakikatnya hanya melihat di sini dan sekarang. Mereka tidak percaya, apalagi takut dengan adanya kematian dan pembalasan, padahal kematian dan hari pembalasan adalah suatu kepastian yang tidak dapat dihindarkan.112
Ayat ini mengingatkan kita betapa agungnya berkumpul di hadapan Allah SWT. dzat paling bijaksana,
harta benda, anak anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang
111Muhammad Ali ash-Sh b ni, Shafwah at- (Beirut: Daarul -Karim, 1981), Jilid 1, h. 176.
112M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al- (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 600.
(QS. Asy- -89).113 Semua itu untuk nasihat mengingatkan akan berlalunya dunia ini dan kedatangan akhirat, kembalinya manusia kepada Allah, hisab Allah dengan apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya. Pemberian balasan dengan kebaikan atau keburuan yang telah di lakukan dan Allah mengingatka terhadap azab-Nya.114
Sangat wajar jika ayat ini merupakan ayat terakhir yang diterima Nabi SAW, karena akhir kehidupan di dunia ini adalah kematian, maka akhir dari hidayah yang diingat adalah juga kematian. Hindarilah siksa yang terjadi pada hari yang sangat dahsyat, yang pada waktu itu semuanya dikembalikan kepada Allah, yakni meninggal dunia. Redaksi ayat ini memberi kesan, bahwa ketika itu tidak ada daya untuk mengelak, seperti keadaan manusia ketika dilahirkan. Semua berada dalam kekuasaan Allah.
Kata tsumma yang berarti kemudian, mengisyaratkan adanya waktu yang relatif lama antara kematian dan pembalasan, waktu tersebut adalah waktu keberadaan di alam barzakh dan perhitungan yang dirasakan begitu panjang, khususnya oleh mereka yang bergelimang dosa. Lalu masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terbadap apa yang telah dikerjiakannya, sedang mereka sedikit pun tidake dianiaya, yakni dirugikan, bahkan yang beramal akan sangat diuntungkan oleh kemurahan Allah SWT.115
113 -
- , Jilid 1, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, 1980), h.
389.
114Muhammad Nasib Ar- Ringkasan Ta fsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 2000), h. 460.
115M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al- (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 600.
48 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara bahasa riba berarti lebih atau bertambah dan menurut terminologi para fuqaha
tafadhul (penambahan) antara keduanya dengan ganti (bayaran), dan adanya takhir (tempo) dalam menerima sesuatu yang
qabdh Ulama
membagi riba menjadi dua, riba nasi'ah dan riba fadhl.
Sebagian ulama lainnya membagi riba menjadi empat, yaitu riba nasi'ah, riba fadhl, riba yad, dan riba qardh. Riba hukumnya haram, baik dalam skala kecil (sedikit) maupun besar (berlipat ganda).
2. Menurut -Shabuni riba dalam Al- disebut sebanyak delapan kali dan diturunkan dalam empat tahap.
Tahap pertama tercantum dalam surah Ar-R m ayat 39, ayat ini memberikan definisi tentang riba dan sekedar menggambarkan adanya unsur negatif di dalamnya yakni tidak akan menambah harta dan kemuliaan di hadapan Allah SWT., kemudian tahap kedua, dalam surah An- ayat 161 yang disusul dengan isyarat tentang keharamannya dan akan berdampak terjerumus ke dalam azab yang pedih, selanjutnya tahap ketiga dalam surah ayat 130 secara jelas dinyatakan keharaman salah satu bentuknya sehingga berdampak pada kegagalan, kejatuhan, bahkan kesedihan. Kemudian terakhir pada tahap ke empat, dalam surah Al-Baqarah ayat 278, diharamkan secara total dalam berbagai bentuknya.
B. Saran
Akhirnya penulis menyelesaikan karya ini, penulis mempunyai beberapa saran seperti:
1. Diharapkan peneliti dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang riba untuk mendapatkan informasi yang lebih kaya dan menarik untuk kedepannya.
2. Peneliti memahami bahwa pembahasan diatas hanyalah topik pembahasan riba, sehingga masih sangat mungkin untuk dikembangkan lebih baik lagi.
3. Bagi kita umat Islam sangat diharapkan agar menjauhi dari transaksi atau praktik riba, karena konteks riba berhubungan dengan orang-orang miskin dan lemah sebagai obyek, maka riba sangat bertentangan dengan Islam. Dari sini, riba harus dientaskan secara perlahan dan dijadikan musuh bersama agar hilang dari masyarakat.
4. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diperlukan.