Prinsip Akuntansi dalam Manajemen
BAB 3 Evaluasi Kinerja Keuangan
3.3. Analisis Laporan Keuangan
3.3.3. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas yang disebut juga dengan debt management ratios atau leverage ratio ialah suatu rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi utang dan seluruh kewajibannya. Jaminan yang digunakan adalah modal dan aktiva (harta kekayaan dalam bentuk apa pun) yang dimiliki
dalam jangka panjang serta jangka pendek. Dua rasio yang dapat digunakan untuk menunjukkan asset debt management, yaitu:
1. Rasio kapitalisasi (Capitalization ratios). Rasio ini menggunakan data neraca untuk menentukan sejauh mana dana pinjaman telah digunakan untuk membiayai aset.
2. Rasio cakupan (Coverage ratios). Rasio ini menggunakan data laporan laba rugi untuk menentukan sejauh mana biaya keuangan tetap ditutupi oleh laba yang dilaporkan.
Kedua rasio tersebut saling melengkapi sehingga sebagian besar analisis laporan keuangan menggunakan kedua jenis rasio tersebut.
3.3.3.1. Rasio Kapitalisasi 1: Total Utang Terhadap Total Aset (Rasio Utang)
Rasio total utang terhadap total aset (total kewajiban dan ekuitas), yang umumnya disebut rasio utang, mengukur persentase total modal yang diberikan oleh kreditor. Rasio utang menilai seberapa besar perusahaan berpatokan pada utang untuk membiayai asetnya. Rasio ini membandingkan total utang (total debt) dengan total aset yang dimiliki.
Rasio ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan kapasitas perusahaan dalam memperoleh pinjaman baru yang berjaminan aktiva tetap untuk menambah modal. Jika tingkat rasio ini semakin tinggi, jaminan berupa aset yang ada dan uang yang diberikan oleh kreditor dalam jangka panjang semakin terjamin. Perhitungan dari rasio utang adalah sebagai berikut:
Rasio utang Rumah Sakit XYZ adalah 29%. Hal ini berarti bahwa kreditornya telah memasok kurang dari sepertiga dari total pembiayaan bisnis. Dengan kata lain, aset RS XYZ dibiayai dengan 29% dari utang dan 71% dari ekuitas (Rasio Ekuitas adalah 1).
Contoh rata-rata rasio utang untuk industri rumah sakit adalah 40% maka Rumah Sakit XYZ menggunakan utang yang jauh lebih sedikit daripada rata-rata rumah sakit. Rasio utang yang rendah menunjukkan bahwa rumah sakit relatif mudah untuk meminjam dana tambahan.
3.3.3.2. Rasio Kapitalisasi 2: (DER)
Rasio kapitalisasi lain yang umum digunakan adalah Debt to Equity Ratio (DER) atau Rasio Utang Terhadap Ekuitas. Rasio utang dan DER saling bertransformasi. Keduanya memberikan informasi yang sama, tetapi dengan pemahaman yang sedikit berbeda.
DER membandingkan total kewajiban (liabilities) dengan ekuitas Rasio utang
menilai seberapa besar perusahaan berpatokan pada utang untuk membiayai asetnya.
(equity). Utang tidak boleh lebih besar daripada modal supaya beban perusahaan tidak bertambah. Tingkat rasio yang rendah berarti kondisi perusahaan semakin baik karena porsi utang terhadap modal semakin kecil.
Rasio ini menunjukkan bahwa kreditur Rumah Sakit XYZ memberikan kontribusi 40,9% untuk setiap modal ekuitas. Jika rata-rata DER dari industri serupa adalah 73,3%, Rumah Sakit XYZ memiliki DER yang lebih rendah dibandingkan rata-rata DER rumah sakit lainnya.
Rasio utang dan DER meningkat karena bisnis dengan ukuran tertentu menggunakan proporsi pembiayaan utang yang lebih besar. Namun, rasio utang meningkat secara linier dan mendekati batas 100%, sedangkan rasio utang terhadap ekuitas meningkat secara eksponensial dan mendekati tak terbatas. Pemberi pinjaman atau kreditor lebih memilih DER daripada Ratio utang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin berisiko posisi kreditor.
3.3.3.3. Rasio Cakupan 1: Rasio TIE
Rasio Waktu Perolehan Bunga (Times Interest Earned/TIE) ditentukan dengan membagi Earning Before Interest and Tax (EBIT) atau Pendapatan Sebelum Bunga dan Pajak dengan biaya bunga. EBIT digunakan dalam pembilang karena mewakili jumlah pendapatan yang tersedia untuk membayar beban bunga. Untuk bisnis nirlaba yang tidak membayar pajak, EBIT = Pendapatan bersih + Beban bunga. Untuk Rumah Sakit XYZ:
Rasio TIE mengukur jumlah pendapatan akuntansi yang tersedia untuk membayar setiap biaya bunga. Intinya, TIE adalah indikator sejauh mana pendapatan dapat menurun sebelum kurang dari biaya bunga tahunan. Kegagalan untuk membayar bunga dapat membawa tindakan hukum oleh kreditor perusahaan yang mungkin dapat menyebabkan kebangkrutan. Bunga RS XYZ ditutupi 6,6 kali lipat sehingga memiliki pendapatan akuntansi Rp6,60 untuk membayar setiap 1 Rupiah dari biaya bunga. Jika dimisalkan rasio TIE rata-rata industri adalah empat kali lipat, rumah sakit menutupi beban bunga dengan margin keamanan yang relatif tinggi.
Dengan demikian, rasio TIE memperkuat kesimpulan sebelumnya yang didasarkan pada rasio utang, yaitu bahwa rumah sakit dapat dengan mudah memperluas penggunaan pembiayaan utang.
Pemberi pinjaman atau kreditor lebih memilih DER daripada Ratio utang.
Rasio cakupan sering kali menjadi ukuran pemanfaatan utang perusahaan yang lebih baik dibandingkan dengan rasio kapitalisasi, Hal ini karena rasio cakupan membedakan utang dengan suku bunga rendah dan utang dengan suku bunga tinggi. Misalnya, suatu rumah sakit mungkin memiliki 10 Juta Rupiah dari 4% utang di neracanya, sementara rumah sakit lain mungkin memiliki 10 Juta Rupiah dari 8% utang. Jika kedua perusahaan tersebut memiliki pendapatan dan aset yang sama, keduanya akan memiliki rasio utang yang sama. Namun, rumah sakit yang membayar bunga 4% akan memiliki beban bunga yang lebih rendah. Rumah sakit tersebut akan memiliki posisi keuangan yang lebih baik daripada rumah sakit yang membayar 8%. Rasio TIE akan menunjukkan peningkatan kinerja keuangan rumah sakit tersebut.
Meskipun rasio TIE mudah dihitung, rasio ini memiliki dua keterbatasan. Pertama, bisnis leasing telah meluas dalam beberapa tahun terakhir dan rasio TIE mengabaikan pembayaran leasing.
Selain itu, banyak kontrak utang mengharuskan pembayaran pokok dilakukan selama masa pinjaman, bukan hanya pada saat jatuh tempo. Jadi, sebagian besar bisnis harus memenuhi biaya keuangan tetap selain pembayaran bunga. Kedua, rasio TIE mengabaikan fakta bahwa pendapatan akuntansi baik yang diukur dengan EBIT atau laba bersih tidak menunjukkan arus kas aktual yang tersedia untuk memenuhi pembayaran biaya tetap.