MANAJEMEN KEUANGAN DAN AKUNTANSI DALAM EKONOMI KESEHATAN
SERI EK ONOMI KESEHA TAN
MANAJEMEN
KEUANGAN DAN AKUNTANSI
DALAM EKONOMI KESEHATAN
SERI EKONOMI KESEHATAN
BUKU VI
Anedya Niedar Chriswardani Suryawati
Donny Hardiawan Jorghi Vadra Nur Afni Panjaitan
Puguh Widodo Puji Harto Rabiah al Adawiyah
MANAJEMEN
KEUANGAN DAN AKUNTANSI
DALAM EKONOMI KESEHATAN
SERI EKONOMI KESEHATAN
BUKU VI
Anedya Niedar Chriswardani Suryawati
Donny Hardiawan Jorghi Vadra Nur Afni Panjaitan
Puguh Widodo Puji Harto Rabiah al Adawiyah
Penulis
Seri Ekonomi Kesehatan VI
Manajemen Keuangan dan Akuntansi dalam Ekonomi Kesehatan
©2021 PPJK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Penulisan buku ini dimungkinkan atas dukungan rakyat Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID) yang diproduksi melalui kontrak Health Financing Activity USAID No. 72049719C00002.
Materi yang disampaikan, baik berupa informasi narasi dan visualisasi infografik sepenuhnya menjadi tanggung jawab ThinkWell, dan tidak mencerminkan pandangan USAID atau Pemerintah Amerika Serikat.
Buku ini dapat diakses dari https://thinkwell.global/ dan http://ppjk.kemkes.go.id/ dan dapat disebarluaskan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkannya. PPJK Kementerian Kesehatan RI, United States Agency for International Development (USAID) (2021). Manajemen Keuangan dan Akuntansi dalam Ekonomi Kesehatan.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Pengarah : dr. Kalsum Komaryani MPPM
(Kepala PPJK Kementerian Kesehatan RI) Koordinator : Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
Chief of Party for the Indonesia Health Financing Activity (HFA) Manager Program & : Ryan R. Nugraha
PJ Penerbitan Buku
Penyelia Buku : Chriswardani Suryawati
Penulis : Anedya Niedar, Donny Hardiawan, Jorghi Vadra, Nur Afni Panjaitan, Puguh Widodo, Puji Harto, Rabiah al Adawiyah
Penyelaras Akhir : Sonta Frisca Manalu Diterbitkan oleh:
PPJK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Cetakan I, September 2021
Ukuran Buku : 21 x 29,6 cm Tebal Buku : xvi, 93 hlm
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 368.42
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat m Jenderal
Manajemen Keuangan dan Akuntansi dalam Ekonomi Kesehatan : Seri ekonomi kesehatan VI.—
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2021
ISBN 978-623-301-250-8
1. Judul I. HEALTH CARE ECONOMICS AND ORGANIZATIONS II. FINANCIAL MANAGEMENT
III. HEALTHCARE FINANCING IV. FINANCING, ORGANIZED V.HEALTH POLICY
VI. GOVERNMENT PROGRAMS
PPJK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jl. H.R. Rasuna Said Kav 4-9 Jakarta 12950 Indonesia Phone: (62-21) 5201587, 5201591 Email: [email protected] Website: http://www.depkes.go.id
Cetakan I, Februari 2022
Tim Penyusun
Pengarah : dr. Kalsum Komaryani MPPM
(Kepala PPJK Kementerian Kesehatan RI) Koordinator : Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
Chief of Party for the Indonesia Health Financing Activity (HFA) Manager Program & : dr. Ryan R. Nugraha, M.P.H.
PJ Penerbitan Buku
Anggota :
Penyelia Buku : Dr. Dra. Chriswardani Suryawati. M.Kes.
Penulis : Anedya Niedar, dr., AAK.
Donny Hardiawan S.E., M.E.
Jorghi Vadra, S.E.
Nur Afni Panjaitan, S.E., M.E.
Puguh Priyo Widodo, Amd., R.M.I.K., S.Si., S.K.M., M.M.R.S., A.A.A.K.
Puji Harto, SE, Akt, M.Si, Ph.D.
Rabiah al Adawiyah, dr., M.Ms.
Penyelaras Akhir : Sonta Frisca Manalu dr. Yuli Farianti, M.Epid dr. Ackhmad Afflazir, M.K.M.
Nana Tristiana Indriasari, SE, Ak., M.M.
Amalia Zulfah DHW, S.K.M., M.K.M.
Andhika Nurwin Maulana, S.E., M.S.E.
Mutia Astrini Pratiwi, M.P.A
Kata Pengantar
P
usat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK) Kementerian Kesehatan telah berkomitmen untuk membangun ekosistem pembiayaan dan jaminan kesehatan yang kuat dan berkelanjutan. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk inisiatif PPJK untuk secara ekstensif meningkatkan kapasitas akademisi dan praktisi kesehatan dalam bidang pembiayaan kesehatan.Beberapa upaya peningkatan kapasitas yang telah dilakukan, antara lain bimbingan rekapituliasi biaya program Kesehatan Masyarakat dengan menggunakan aplikasi SISCOBIKES, peningkatan kapasitas Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK), dan tata kelola Casemix Based Groups (CBGs) kepada rumah sakit di seluruh Indonesia.
PPJK menyadari bahwa upaya peningkatan kapasitas dalam bidang pembiayaan dan jaminan kesehatan tersebut membutuhkan dukungan referensi dan sumber daya pengetahuan yang kuat, baik yang bersumber dari disiplin ilmu maupun praktik kebijakan ekonomi kesehatan. Pengetahuan ini berguna baik sebagai sumber inspirasi panduan dalam pengambilan kebijakan jaminan dan pembiayaan kesehatan.
Karena itulah PPJK menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi terhadap USAID- ThinkWell LLC yang telah memprakarsai Health Financing Activity (HFA). Melalui program Young Health Economists (YHE), HFA telah menghimpun tenaga-tenaga ahli muda dalam bidang ekonomi kesehatan dan mendorong mereka untuk memberikan kontribusi keilmuan dan pemikiran bagi peningkatan kualitas pembiayaan dan jaminan kesehatan. Saya berharap YHE dapat menjadi sebuah komunitas praktisi (community of practice) ekonomi kesehatan yang di masa depan dapat menjadi motor penggerak sistem kesehatan, serta hub bagi para ahli dalam mengembangkan tatanan sistem pembiayaan kesehatan.
Seri Ekonomi Kesehatan ini adalah salah satu produk penting YHE. Saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan para tenaga ahli muda mencurahkan ilmu dan pengalaman mereka dalam buku ini; juga para koordinator penulisan yang telah membantu memastikan kualitas dan kesesuaian buku dengan konteks perkembangan sistem kesehatan Indonesia. Melalui berbagai telaah, analisis kasus, dan refleksi terhadap praktik- praktik pembiayaan kesehatan yang mereka bahas tuntas dalam buku ini, saya berharap buku dapat menjadi katalisator untuk mempercepat proses perbaikan jaminan dan pembiayaan kesehatan di Indonesia.
Penghargaan serupa juga saya sampaikan kepada Kementerian PPN/BAPPENAS, Kementerian Keuangan, BPJS Kesehatan, organisasi non-pemerintah seperti the World Bank, para akademisi, praktisi kebijakan ekonomi kesehatan baik di rumah sakit, Dinas Kesehatan dan pihak-pihak lain yang telah memberikan berbagai masukan bagi penyempurnaan buku ini. Saya berharap kolaborasi ini akan terus berlanjut sehingga mampu menghasilkan produk-produk pengetahuan yang berguna bagi peningkatan kualitas kebijakan, pelayanan, jaminan, dan pembiayaan kesehatan di Indonesia.
Jakarta, 2 Juni 2021
dr. Kalsum Komaryani MPPM.
Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
Kata Pengantar
D
i Indonesia dan negara-negara mitra lainnya di seluruh dunia, United States Agency for International Development (USAID) atau Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat bekerja untuk memobilisasi pendekatan seluruh masyarakat dalam mengoptimalkan sistem kesehatan untuk mencapai potensi penuhnya. Kami menyadari perlunya visi bersama untuk memastikan kolaborasi yang efektif dalam lingkungan yang terus berkembang dan berubah. Dengan bekerja sama, kita dapat mempercepat kemajuan menuju sistem kesehatan yang lebih tangguh dan lebih mampu memajukan perawatan preventif, promotif, dan kuratif. Untuk mencapai tujuan yang ambisius tetapi realistis ini, USAID tetap berkomitmen untuk membantu Pemerintah Indonesia membangun dan memperkuat sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan—khususnya dalam program prioritas seperti HIV, TB, dan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.Melalui USAID, Pemerintah Amerika Serikat berinvestasi untuk mengembangkan kekayaan sumber daya manusia Indonesia—termasuk pelajar dan profesional—agar lebih banyak lagi penduduk Indonesia yang dapat menikmati kesehatan yang lebih baik. Health Financing Activity (HFA) USAID memperkuat kemampuan para profesional Indonesia, termasuk pejabat pemerintah, untuk menggunakan fakta dan data dalam proses pembuatan kebijakan. Hal ini akan meningkatkan efisiensi pembiayaan dan pengeluaran domestik untuk kesehatan, meningkatkan mekanisme dan kapasitas belanja kesehatan strategis, serta mengoptimalkan manajemen tenaga kesehatan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas manajemen pembiayaan kesehatan masyarakat.
Elemen kunci dari kemitraan penting ini adalah program fellowship HFA USAID, yang dirancang untuk memperdalam kemampuan Young Health Economists (YHE) atau ekonom kesehatan muda generasi berikutnya di Indonesia melalui aktivitas akademis yang ketat. Program YHE membekali akademisi, praktisi, dan ekonom kesehatan yang sedang berkembang agar dapat menerapkan prinsip-prinsip kebijakan berbasis bukti dalam merencanakan, menganalisis, dan merancang kebijakan pembiayaan kesehatan dalam sistem kesehatan yang kompleks. Sejauh ini, 30 orang ekonom kesehatan muda yang luar biasa telah lulus dari program ini dan telah diterima di Indonesian Health Economics Association (InaHEA) atau Asosiasi Ekonomi Kesehatan Indonesia yang bergengsi.
Untuk mempertahankan dan melembagakan pertukaran pengetahuan dan pembelajaran yang difasilitasi oleh fellowship ini, HFA USAID dan 30 ekonom kesehatan muda tersebut mengembangkan enam buku referensi ekonomi kesehatan ini untuk mendefinisikan konsep ekonomi dan mengembangkan ide-ide transformatif untuk meningkatkan pembiayaan kesehatan di Indonesia.
Setiap buku membahas secara mendalam berbagai aspek ekonomi kesehatan yang berbeda, termasuk belanja kesehatan strategis, pembiayaan kesehatan, national health account, dan banyak lagi. Buku ini diterbitkan oleh Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang merupakan mitra USAID, dan tersedia bagi siapa saja yang membutuhkannya. Saya berharap buku-buku ini akan memberikan akses ke informasi yang komprehensif dan relevan tentang ekonomi kesehatan yang dibutuhkan oleh para pemimpin sistem kesehatan di Indonesia untuk terus memajukan dan memperkuat sistem kesehatan Indonesia. USAID berharap dapat melihat bagaimana informasi yang terkandung dalam buku-buku ini dapat meningkatkan pendanaan kesehatan dan kebijakan berbasis bukti.
Sebagai penutup, izinkan saya mewakili USAID untuk mengucapkan terima kasih kepada Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, para ekonom kesehatan muda, Bappenas, Kementerian Keuangan, BPJS Kesehatan, dan tim HFA USAID. Terima kasih atas kontribusi Anda dalam penerbitan buku-buku yang informatif dan inspiratif ini. Kami berharap kolaborasi dan publikasi ini dapat membawa perubahan nyata: kesehatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang Indonesia.
Pamela Foster
Director, Office of Health USAID/Indonesia
Prakata
K
emajuan teknologi kesehatan, kompleksitas layanan kesehatan, serta tuntutan untuk menyediakan layanan kesehatan untuk seluruh penduduk mengharuskan adanya sinergi antara teknologi kedokteran dan kesehatan serta ketersediaan sumber daya di berbagai negara. Kondisi ini mendorong berkembangnya ilmu ekonomi kesehatan dalam 3 dekade terakhir dan telah mendapat tempat yang luas di berbagai negara. Namun di Indonesia, ilmu ekonomi kesehatan berjalan relatif stagnan dalam 30 tahun terakhir.USAID melalui Health Financing Activity (HFA) bekerja sama dengan Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK) membantu Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan proses sustainable health financing melalui projek-projek pembiayaan kesehatan di tahun 2019-2024. Projek USAID mengidentifikasi kendala dalam sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia yaitu terbatasnya kapasitas dan jumlah orang yang memahami tentang ekonomi kesehatan.
Didorong oleh alasan tersebut, projek HFA dengan senang hati berterima kasih para penulis Young Health Economists (YHE), yaitu anak-anak muda yang disupervisi oleh health economists senior, yang telah menyelesaikan 6 buku ekonomi kesehatan. Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin mengembangkan dan memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia melalui disiplin ilmu ekonomi kesehatan.
Buku ini membahas akuntansi manajemen layanan kesehatan. Buku membahas secara mendalam konsep manajemen keuangan dengan studi kasus rumah sakit, instrumen pengukuran serta evaluasi kinerja untuk menggambarkan akuntansi manajemen layanan kesehatan. Akuntansi manajemen layanan kesehatan perlu ditata untuk meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, serta ketepatgunaan dan akuntabilitas pemberian layanan.
Pemberi layanan mengaplikasikan instrumen tatakelola/manajerial dan kendali biaya sesuai dengan siklus perencanaan sehingga dapat memberikan layanan optimal yang berorientasi pada kualitas dan kepuasan pasien. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan dan keberlanjutan organisasi pemberi layanan kesehatan.
Kami berharap bahwa buku ini bermanfaat bagi perguruan tinggi, pemangku kebijakan dalam bidang kesehatan, dan berbagai pihak lain yang mempunyai interest dan kemauan mendalami ilmu ekonomi kesehatan.
Salam,
Hasbullah Thabrany
Chief of Party for the Indonesia Health Financing Activity
Daftar Singkatan
ABC : Activity Based Costing AIC : Annualized Investment Cost
APBD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah APBN : Anggaran Pendapatan Belanja Nasional ART : Antiretroviral Treatment
ATK : Alat Tulis Kantor
BCG : Bacillus Calmette–Guérin BLD : Badan Layanan Daerah BLU : Badan Layanan Umum BLUD : Badan Layanan Umum Daerah BOK : Bantuan Operasional Khusus
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan BUMN : Badan Usaha Milik Negara
CP : Clinical Pathway CRR : Cost Recovery Rate DCH : Days Cash on Hand DER : Debt to Equity Ratio DPT : Difteri, Pertusis, dan Tetanus DRG : Diagnosis-related group
DSAK IAI : Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia DSAK : Dewan Standar Akuntansi Keuangan
DSAS IAI : Dewan Standar Syariah Ikatan Akuntan Indonesia DUR : Drug Utilization Review
EBIT : Before Interest and Tax
EMKM : Entitas Menengah Kecil dan Mikro ETAP : Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik FFS : Fee-for-service
FORNAS : Formularium Nasional
HTA : Health Technology Assessment I : Laju inflasi
IAI : Ikatan Akuntan Indonesia
IFRS : International Financial Reporting Standard IIC : Initial Investment Cost (Nilai Awal Barang) IKU : Indikator Kinerja Umum
INA-CBGs : Indonesia Case Based Groups
ISAK : Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
L : Perkiraan masa pakai M/B Ratio : Market/Book Ratio
MCO : Managed Care Organization P/E Ratio : Price/Earning Ratio
PA : Pharmaceutical Authorization PERDA : Peraturan Daerah
PERSI : Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia PNS : Pegawai Negri Sipil
PSAK : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
r : Bunga bank
ROA : Return on Assets ROE: : Return on Equity RS : Rumah Sakit
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SAK : Standar Akuntansi Keuangan SC : Sectio Caesaria
SOP : Standard Operating Procedure SPM : Standar Pelayanan Minimum T : Masa pakai
TIE : Times Interest Earned TT : Tetanus Toksoid UI : Utilization Review
UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat UKP : Upaya Kesehatan Perseorangan
Daftar Isi
Kata Pengantar Kementerian Kesehatan RI v
Kata Pengantar USAID vii
Prakata Health Financing Activity ix
Daftar Singkatan xi
Daftar Isi xiii
Prolog xv
BAB 1 PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN KEUANGAN 1
1.1. Pengantar 1
1.2. Bentuk dan Jenis Layanan Kesehatan 1
1.3. Definisi dan Tujuan Manajemen Keuangan dalam Organisasi Layanan Kesehatan 3
1.4. Aspek Akuntansi dalam Manajemen Keuangan 6
1.5. Manajemen Keuangan Rumah Sakit 9
1.6. Simpulan 14
Daftar Pustaka 14
BAB 2 PRINSIP AKUNTANSI DALAM MANAJEMEN KEUANGAN 17
2.1. Pengantar 17
2.2. Akuntansi Keuangan 18
2.3. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia 26
2.4. Akuntansi Manajemen 26
2.5. Biaya and Harga 27
2.6. Perilaku Biaya dan Perencanaan Laba 28
2.7. Pengalokasian Biaya 29
2.8. Pembentukan Harga 29
2.9. Penilaian Kinerja Manajemen Keuangan 30
2.10. Simpulan 34
Daftar Pustaka 35
BAB 3 EVALUASI KINERJA KEUANGAN 37
3.1. Pengantar 37
3.2. Analisis Laporan Keuangan 37
3.3. Analisis Laporan Keuangan 41
3.4. Analisis Perbandingan dan Tren 51
3.5. Simpulan 52
Daftar Pustaka 52
BAB 4 AKUNTANSI BIAYA (COSTING & PRICING) 55
4.1. Pengantar 55
4.2. Teori atau Konsep Biaya 55
4.3. Metode Penghitungan Biaya 61
4.4. Metode Penghitungan Analisis Biaya 62
4.5. Analisis Biaya Program Kesehatan 65
4.6. Cara Memahami Hasil Analisis Biaya dan Best Practice 66
4.7. Faktor Penting dalam Penetapan Tarif 67
4.8. Contoh Kasus: Menghitung Tarif Pemeriksaan Radiodiagnostik di Rumah Sakit 68
4.9. Simpulan 71
Daftar Pustaka 71
BAB 5 PENGENDALIAN BIAYA (COST CONTAINMENT) LAYANAN KESEHATAN 73
5.1. Pengantar 73
5.2. Pengendalian Biaya 74
5.3. Metode Pengendalian Biaya 75
5.4. Implementasi Pengendalian Biaya 79
5.5. Membangun Kesadaran Biaya 84
5.6. Aplikasi dan Contoh 85
5.7. Simpulan 86
Daftar Pustaka 87
Glosarium 89
Tentang Penulis 93
Health Finance Activity dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Kesehatan
Lanskap pembiayaan kesehatan Indonesia telah mengalami perubahan besar sejak dilaksanakannya Program Jaminan Kesehatan Nasional pada 2014, dari supply side financing menjadi demand side financing. Perubahan ini telah melahirkan perkembangan dan inovasi ekonomi kesehatan yang cukup pesat.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah memudahkan masyarakat mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan tanpa harus takut dengan biaya yang mahal, atau dengan kata lain melindungi rumah tangga dari pengeluaran kesehatan besar yang dapat memiskinkan rumah tangga akibat penyakit katastropik. Berbagai instrumen pembiayaan kesehatan publik telah dikembangkan, termasuk alokasi sistem monitoring serta efisiensi pembiayaan kesehatan demi peningkatan layanan kesehatan berkelanjutan.
Kecepatan perubahan, inovasi, dan reformasi sistem kesehatan tersebut membutuhkan kapasitas yang mumpuni dari seluruh sumber daya kesehatan, terutama para tenaga kesehatan dan akademisi kesehatan, untuk terus-menerus mendorong dan mengembangkan perbaikan kebijakan pelayanan kesehatan.
Kapasitas kunci yang diperlukan antara lain melakukan advokasi pembiayaan, mendorong pemerintah daerah untuk mengaplikasikan sistem perencanaan dan penganggaran kesehatan yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kualitas program kesehatan masyarakat. Akademisi kesehatan yang ada di setiap perguruan tinggi sudah semestinya terlibat dalam proses advokasi perubahan ini dengan menjadikan dirinya sebagai pusat rujukan dalam teori serta praktik ekonomi kesehatan bagi pemerintah daerah.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya kesehatan itulah Program Health Finance Activity dirancang. Program ini merupakan kolaborasi United States Agency for International Development (USAID) dan Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program ini akan berlangsung selama lima tahun dengan tujuan spesifik mengembangkan analisis atas evidence data dan fakta kesehatan untuk menyokong pembiayaan kesehatan yang tepat guna dan berkelanjutan.
Implementasi program ini digarap oleh ThinkWell sebagai lembaga pelaksana kegiatan, bekerja sama dengan Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Universitas Gadjah Mada, Results for Development (R4D), serta mitra pemerintah lainnya seperti Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).
Berbagai upaya peningkatan kapasitas yang sudah dilakukan USAID HFA dan PPJK Kementerian Kesehatan antara lain serial seminar, diskusi pertukaran pengalaman, dan pelatihan tentang berbagai topik ekonomi kesehatan yang melibatkan tenaga kesehatan
Prolog
dan akademisi kesehatan bagi dari lingkungan pemerintah dan nonpemerintah.
Beberapa contoh kegiatan yang bisa disebut misalnya “Pelatihan “Pelatihan Jurnalistik bidang Ekonomi Kesehatan” dan “Pelatihan Analisis Sosioekonomi dan Kesehatan”.
Seri Ekonomi Kesehatan untuk Akademisi Muda
Salah satu perhatian HFA adalah konsolidasi dan peningkatan kapasitas ilmu ekonomi kesehatan di kalangan ahli dan akademisi muda. Untuk tujuan ini, HFA dan PPJK telah melaksanakan program The Young Health Economists, yang menghasilkan seri buku didaktik di bidang ekonomi kesehatan.
Seri Ekonomi Kesehatan terdiri dari enam buku, yaitu (1) Pengantar Ekonomi Kesehatan;
(2) Pembiayaan Kesehatan: Konsep dan Praktik Terbaik di Indonesia; (3) Belanja Strategis Kesehatan: Konsep dan Praktik Terbaik di Indonesia; (4) Evaluasi Ekonomi dan Penilaian Teknologi Kesehatan: Konsep dan Praktik Terbaik di Indonesia; (5) Akun Kesehatan Nasional; dan (6) Manajemen Keuangan dan Akuntansi dalam Ekonomi Kesehatan.
Buku seri ini ditulis dengan niat besar mendorong dan memperkenalkan ilmu ekonomi kesehatan sebagai insight dan jalan keluar bagi pengembangan sistem kesehatan di Indonesia. Ekonomi kesehatan, yang pertama kali digaungkan oleh ekonom Kenneth Arrow pada 1963, pada akarnya mengobservasi interaksi antar-faktor determinan kesehatan dan fungsi sistem layanan kesehatan demi menghasilkan derajat kesehatan terbaik.
Buku seri ini diharapkan dapat menjadi sumber belajar dan referensi bagi akademisi dan praktisi kesehatan, serta para perencana kebijakan kesehatan baik di tingkat pusat maupun daerah, terutama mereka yang ingin melakukan penelitian atau mendesain program-program pelayanan kesehatan secara efisien dan tepat sasaran.
Metode Penyusunan Seri Ekonomi Kesehatan
Proses penyusunan Seri Ekonomi Kesehatan ini menempuh jalan panjang. Serial modul ini merupakan hasil dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas, pelatihan, dan diskusi intensif banyak pihak yang diselenggarakan oleh Program HFA.
Seri EKonomi Kesehatan ditulis secara kolaboratif oleh para ekonom muda yang menjadi peserta kegiatan peningkatan kapasitas dengan latar belakang profesi yang beragam. Di dalam modul yang ditulisnya kita akan melihat bagaimana mereka memandang ekonomi kesehatan dari perspektif dan kepakarannya masing-masing.
Para penulis mengembangkan buku ini dengan bimbingan seorang penyelia pada setiap topik. Dalam waktu yang cukup lama, penulis dan penyelia ini bersama-sama mendalami dan mengembangkan setiap topik sehingga menghasilkan buku yang komplet seperti sekarang. Materi buku juga telah melewati proses review yang melibatkan beragam pemangku kebijakan di sektor kesehatan. Merekalah yang memberikan masukan terhadap konten buku dari sisi praktikal terhadap setiap topik pembahasan. Melalui proses ini, HFA USAID dan PPJK Kemenkes RI berharap buku ini memiliki kedalaman konten yang memadai, baik dari sisi teoretis maupun praktik pengelolaan pembiayaan kesehatan.
Buku Seri VI yang tengah Anda baca ini berjudul Manajemen Keuangan dan Akuntansi dalam Ekonomi Kesehatan. Buku ini akan mengantarkan Anda untuk mendalami Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Keuangan, Prinsip Akuntansi dalam Manajemen Keuangan, Evaluasi Kinerja Keuangan, Akuntansi Biaya (Costing & Pricing), dan Pengendalian Biaya (Cost Containment) Layanan Kesehatan.
BAB 1
Pengertian dan Ruang Lingkup
Manajemen Keuangan
Nur Afni Panjaitan, Puji Harto & Chriswardani Suryawati
1.1. Pengantar
Bab ini membahas tentang pengertian dan ruang lingkup manajemen keuangan yang terdiri dari enam subbab. Subbab 1 berisi Pengantar juga tujuan dari pembelajaran. Subbab 2 membahas Bentuk dan Jenis Layanan Kesehatan. Subbab 3 mengulas Konsep Manajemen Keuangan, dari definisi, elemen utama, hingga identifikasi pihak yang terlibat dalam manajemen keuangan.
Subbab 4 membahas Aspek Akuntansi dalam Manajemen Keuangan. Subbab 5 membahas Manajemen Keuangan Rumah Sakit di Indonesia dan Subbab 6 berisi Simpulan. Diharapkan pembaca diharapkan dapat memahami hal tersebut dengan baik.
1.2. Bentuk dan Jenis Layanan Kesehatan
Pihak pemerintah dan swasta secara bersama-sama menyelenggarakan upaya kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Bentuk organisasi berpengaruh terhadap implementasi manajemen keuangan yang diadopsi suatu organisasi. Layanan kesehatan dapat berbentuk organisasi yang tidak mengutamakan keuntungan (not for profit), nirlaba (non-profit), atau bertujuan mencari keuntungan (for profit).
Secara umum tujuan penyediaan layanan kesehatan pemerintah adalah pemenuhan pelayanan kepada masyarakat dan tidak
Pihak pemerintah dan swasta secara bersama-sama menyelenggara- kan upaya
kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi- tingginya.
Keterlibatan swasta penting karena keterbatasan kapasitas pemerintah dalam memenuhi permintaan layanan kesehatan yang terus terus meningkat.
untuk mencari keuntungan. Dalam perannya melaksanakan upaya kesesehatan, pemerintah mayoritas menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) melalui aktivitas pemeliharaan dan peningkatkan kesehatan serta pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Selain itu, pemerintah juga melaksanakan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) melalui kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit dan pemulihan kesehatan perseorangan (Kemenkes Republik Indonesia, 2014).
Upaya kesehatan dilakukan salah satunya di fasilitas kesehatan.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 47 Tahun 2016 Tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan menguraikan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan. Pemerintah pusat bertanggung jawab untuk mengelola rumah sakit khusus dan rumah sakit rujukan tersier, sementara provinsi dan kabupaten atau kota bertanggung jawab mengelola rumah sakit daerah level provinsi dan kabupaten atau kota. Selain itu, pemerintah daerah kabupaten atau kota lewat Dinas Kesehatan juga bertanggung jawab mengelola pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan fasilitas kesehatan lainnya yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan.
Sementara itu, keterlibatan swasta penting karena keterbatasan kapasitas pemerintah dalam memenuhi permintaan layanan kesehatan yang terus terus meningkat. Organisasi layanan kesehatan swasta dapat dimiliki oleh organisasi keagamaan, perusahaan, individu, dan kelompok individu. Layanan kesehatan swasta dapat berupa yayasan (non-profit), bukan untuk mencari keuntungan (not-for-profit), dan organisasi yang murni untuk mencari keuntungan (for profit).
Kurniawan, R. (2019). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
No Jenis Layanan
Kesehatan Definisi Penyelenggara
1 Pusat layanan kesehatan (Puskesmas)
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Pemerintah
2 Klinik Klinik adalah fasilitas medis dan spesialistik yang diselenggarakan untuk memberikan Pelayanan Kesehatan Perseorangan.
Pemerintah Masyarakat (badan usaha atau perorangan) 3 Praktik
dokter, dokter gigi, bidan perseorangan
Praktik dokter, dokter gigi, bidan perseorangan adalah praktik kedokteran dan kebidanan yang sudah memiliki surat izin.
Masyarakat
4 Rumah sakit Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perseorangan secara paripurna, dari rawat inap, rawat jalan, hingga gawat darurat.
Pemerintah Swasta
1.3. Definisi dan Tujuan Manajemen Keuangan dalam Organisasi Layanan Kesehatan
1.3.1. Definisi Manajemen Keuangan
Manajemen berasal dari kata bahasa Perancis kuno management yang berarti seni melaksanakan dan mengatur (PERSI, 2018).
Definisi manajemen telah berkembang dan saat ini secara umum diartikan sebagai proses mengoordinasikan dan mengintegrasikan sumber daya manusia (SDM), sumber daya teknis, dan sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan tertentu (Dunn & Haimann, 2007).
Lebih lanjut manajemen didefinisikan sebagai, “the pursuit of organizational goals efficiently and effectively by integrating the work of people through planning, organizing, leading, and controlling the organization’s resources” (Kinicki & Williams, 2010)
“manajemen diartikan sebagai tindakan untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif dengan mengintegrasikan usaha melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan sumber daya organisasi.
Tabel 1.1. Jenis Layanan Kesehatan di Indonesia
Dalam penggunaannya, prinsip manajemen keuangan dimanfaatkan oleh organisasi yang bertujuan mencari keuntungan dan bukan bertujuan mencari keuntungan.
Sumber daya organisasi terdiri dari beberapa aspek, di antaranya sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sumber daya berupa material, mesin, dan sumber daya lainnya. Aspek keuangan merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi yang penting dikelola dalam mencapai tujuan organisasi.
Merujuk pada definisi di atas, manajemen keuangan dapat diartikan sebagai “seni untuk mengelola sumber daya keuangan suatu organisasi melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi”.
Manajemen keuangan merupakan aktivitas yang berfokus pada pembuatan keputusan berupa seberapa banyak aset yang diperlukan, bagaimana meningkatkan modal suatu organisasi atau bisnis, dan bagaimana suatu organisasi memaksimalkan nilainya. Dalam penggunaannya, prinsip manajemen keuangan dimanfaatkan oleh organisasi yang bertujuan mencari keuntungan dan bukan bertujuan mencari keuntungan (Brigham & Houston, 2012). Lebih lanjut, manajemen keuangan merupakan metode untuk menentukan strategi arah keuangan suatu organisasi dan pelaksanaan operasional keuangan suatu oganisasi sehari-hari (Berger, 2014)
1.3.2. Tujuan Manajemen Keuangan
Finkler, et.al., pada 2019 mengatakan bahwa manajemen keuangan memiliki dua tujuan, yaitu profitabilitas dan viabilitas. Tujuan dari sisi profitabilitas bahwa layanan kesehatan masih menjadi kebutuhan dasar dan sebagian penyedianya adalah pemerintah. Memang tidak semua layanan kesehatan berusaha untuk menetapkan profitabilitas sebagai tujuan utama. Namun demikian, organisasi layanan kesehatan perlu melakukan pengelolaan keuangan supaya:
(1) mampu membiayai biaya operasional, seperti gaji pimpinan dan karyawan, biaya obat, penyediaan sarana atau fasilitas, termasuk peralatan medis serta biaya pemeliharaan gedung dan perlengkapan; (2) mampu memperluas layanan dari sisi jumlah layanan atau produk dan kapasitas pelayanan konsumen yang lebih besar; (3). mampu mengakses teknologi yang lebih maju dan melakukan upaya-upaya lain untuk meningkatkan kualitas layanan. Meskipun tujuan utamanya adalah menyediakan jasa layanan kesehatan berkualitas, perlu digarisbawahi bahwa profit tetap dibutuhkan untuk pencapaian tersebut.
Ketika mengejar profit yang maksimal, organisasi kesehatan harus menyadari trade-off antara risiko dan return. Semakin besar risiko, semakin besar pula profit yang didapatkan. Dalam konteks layanan kesehatan, para manajer perlu menyeimbangkan aktivitas risiko- tinggi dan risiko-rendah walaupun keduanya memberikan manfaat kesehatan yang sama kepada masyarakat. Fasilitas layanan kesehatan sebaiknya dapat mengantisipasi risiko dengan layanan kesehatan yang dipilih.
Likuiditas merupakan indikator untuk melihat apakah suatu oganisasi memiliki
sejumlah kas tunai atau sumber daya likuid lainnya yang dapat ditukar untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban jangka pendek.
Tujuan kedua manajemen keuangan adalah aspek viabilitas. Pada dasarnya fasilitas kesehatan tidak ingin mengalami kebangkrutan sehinga memastikan kelangsungan finansial menjadi tujuan yang sama pentingnya. Aspek viabilitas sering kali diukur dari dua faktor, yaitu likuiditas dan solvabilitas (Finkler, et.al., 2019).
Likuiditas merupakan indikator untuk melihat apakah suatu oganisasi memiliki sejumlah kas tunai atau sumber daya likuid lainnya yang dapat ditukar untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban jangka pendek. Jangka pendek umumnya berarti maksimal satu tahun.
Suatu organisasi dianggap memiliki likuiditas yang baik jika memiliki sumber daya jangka pendek yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya saat jatuh tempo pembayaran.
Sementara itu, solvabilitas merupakan indikator untuk mengukur kelangsungan hidup suatu organisasi untuk jangka panjang. Jangka panjang dapat diartikan lebih dari satu tahun, bisa tiga, lima, atau sepuluh tahun. Aspek perencanaan sangat penting untuk menjaga solvabilitas suatu perusahaan di periode jangka panjang. Sering kali krisis likuiditas terjadi akibat suatu organiasi tidak merencanakan strategi solvabilitasnya dengan baik (Finkler, et.al., 2019).
Para manajer layanan kesehatan juga dihadapkan pada trade-off antara solvabilitas dan profitabilitas. Apabila para manajer berusaha untuk mengejar profitabilitas dengan banyak menginvestasikan sumber daya keuangan dan menyisakan sedikit untuk likuiditasnya, risiko mengalami krisis likuiditas akan meningkat dan merongrong viabilitasnya. Sementara itu, bila likuiditas semakin tinggi, keuntungan akan semakin rendah.
Selain itu, para menajer juga dihadapkan pada trade-off dalam penyediaan jenis layanan kesehatan dan viabilitasnya. Organisasi layanan kesehatan tidak selalu mampu menyediakan semua alternatif layanan kesehatan yang diinginkan meskipun pasien memiliki kemampuan untuk membayar.
Oleh karena itu, manajer fasilitas layanan kesehatan harus mampu menyeimbangkan profitabilitas dengan viabilitas. Dia harus melihat di mana daya saing fasilitas kesehatannya, mempertimbangkan penawaran dan permintaan dari setiap layanan kesehatan yang akan disediakan, dan juga mempertimbangkan skala ekonomi dalam menentukan layanan kesehatan yang akan disediakan.
1.3.3. Ruang Lingkup Manajemen Keuangan
Ruang lingkup manajemen keuangan terdiri dari beberapa aspek meliputi: (1) pencarian sumber dana, baik jangka pendek maupun jangka panjang; (2) pengelolaan sumber pendanaan untuk tujuan operasional dan investasi; (3) pelaporan pencapaian kinerja keuangan kepada pemangku kepentingan; (4) pengolahan informasi
Akuntansi merupakan alat yang sangat penting dalam melihat kinerja suatu perusahaan, sementara manajemen keuangan merupakan teori, alat, dan konsep yang membantu manajer dalam mengambil pengambilan keputusan.
keuangan; dan (5) perencanaan, analisis, dan pengendalian (PERSI, 2018). Manajer keuangan harus dapat mengelola keseluruhan aspek tersebut untuk menjaga kelangsungan rumah sakit. Dalam majemen rumah sakit misalnya, fungsi keuangan terdiri dari beberapa proses berikut (PERSI, 2018).
1. Menyusun rencana anggaran yang meliputi pengelolaan penerimaan, belanja baik rutin maupun investasi, dan rencana anggaran kas.
2. Mengorganisasikan keuangan melalui penyediaan sistem akuntansi untuk mencatat penerimaan dan belanja;
pengembangan dan pengooridinasian sistem pengendalian anggaran; pengembangan prosedur pembayaran hutang dan penagihan piutang, dan prosedur penerimaan pembayaran.
3. Melaksanakan pengawasan internal.
4. Menyiapkan laporan keuangan kepada pihak yang relevan.
1.4. Aspek Akuntansi dalam Manajemen Keuangan
Perencanaan target profitabilitas dan viabilitas suatu organisasi kesehatan memerlukan data aktivitas organisasi. Data ini kemudian akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu perusahan (retrospective) dan merencanakan target ke depan (prospective).
Data informasi keuangan ini biasanya merupakan bagian dari akuntansi.
Akuntansi merupakan alat yang sangat penting dalam melihat kinerja suatu perusahaan, sementara manajemen keuangan merupakan teori, alat, dan konsep yang membantu manajer dalam mengambil pengambilan keputusan. Sering kali kedua konsep ini melebur satu sama lain di mana akuntansi sering kali melibatkan pengambilan keputusan, dan aplikasi teori dan konsep manajemen keuangan membutuhkan data-data akuntansi (Gapenski & Reiter, 2016). Lebih lanjut, akuntansi dalam layanan kesehatan didefinisikan sebagai bagian dari pengelolaan keuangan yang terkait dengan pengukuran dan pencatatan seluruh aktivitas perusahaan dalam nilai uang yang pada akhirnya akan memberikan gambaran status keuangan dan operasional perusahaan (Gapenski, 2016).
Secara garis besar akuntansi dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu akuntansi keuangan (financial accounting), akuntansi manajerial (managerial accounting), dan akuntansi biaya (cost accounting).
Dalam pengelolaan layanan kesehatan, manajemen keuangan membutuhkan ketiga aspek akuntansi ini sesuai kebutuhan.
Akuntansi keuangan dibutuhkan dalam proses pelaporan kinerja keuangan dengan pihak eksternal dan mengikuti standar akuntansi yang ada. Kemudian akuntansi manajerial dibutuhkan pencatatan dan pengolahan informasi keuangan keseluruhan bagian
Akuntansi manajerial merupakan bagian dari akuntansi yang memperlihatkan informasi
keuangan untuk kebutuhan internal perusahaan.
perusahaan. Hasil informasi akuntansi manajerial digunakan dalam pembuatan keputusan perusahaan sehinga bentuk informasi yang dicatatkan biasanya sesuai kebutuhan perusahaan dan digunakan untuk pihak internal. Sementara itu, akuntansi biaya secara spesifik digunakan dalam proses penentuan biaya layanan dan produk.
1.4.1. Akuntansi Keuangan
Akuntansi keuangan merupakan aktivitas yang melibatkan pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan komunikasi transaksi ekonomi yang terjadi pada organisasi layanan kesehatan.
Informasi yang dihasilkan pada aktivitas tersebut kemudian diringkas dan disajikan dalam satu set laporan keuangan.
Tujuan akuntansi keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu bagi pihak eksternal perusahaan sehingga dapat digunakan sebagai referensi pembuatan keputusan. Pengguna laporan akuntansi keuangan adalah pihak luar yang tidak terlibat langsung dalam manajemen dan operasional perusahaan, seperti investor, kreditor, pelanggan, dan pemerintah (Warren, et.al, 2018).
Akuntansi keuangan disediakan oleh akuntan atau bagian keuangan organisasi layanan kesehatan dengan output yang dihasilkan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan utamanya meliputi income statement, the retained earnings statement, the balance sheet, dan the statement of cash flows.
Penyusunan laporan keuangan layanan kesehatan merujuk pada pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) atau prinsip- prinsip umum akuntansi yang dapat diterima sehingga dapat dipahami oleh pihak eksternal. Ikatan akuntansi Indonesia (IAI) telah menerbitkan SAK, yaitu:
1. SAK konvergen International Financial Reporting Standard (IFRS).
2. SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP).
3. SAK Syariah.
4. SAK Entitas Mikro Kecil dan Menengah (EMKM).
5. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mengacu pada institusi pemerintah, sedangkan untuk Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Layanan Daerah (BLUD) mengacu pada pedoman akuntansi dan pelaporan keuangan BLU.
1.4.2. Akuntansi Manajerial
Akuntansi manajerial merupakan bagian dari akuntansi yang memperlihatkan informasi keuangan untuk kebutuhan internal perusahaan. Pengguna utama laporan akuntansi manajerial adalah pihak internal, seperti pelaksana, kepala departemen, manajer, supervisor, dan direktur layanan kesehatan. Laporan akuntansi manajerial biasanya dikeluarkan secara berkala sesuai kebutuhan.
Tujuan akuntansi manajerial adalah untuk menyediakan informasi sesuai kebutuhan pihak internal dalam penentuan keputusan dalam konteks pengelolaan suatu layanan kesehatan. Konten laporan akuntansi manajerial dapat sangat detail dan sesuai aturan setiap layanan kesehatan. Standar pelaporan sangat bergantung pada keputusan yang akan dibuat internal perusahaan.
Oleh karena itu, seorang akuntan manajerial berusaha melihat kondisi di masa yang akan datang. Seorang akuntan manajerial memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik mengenai masa depan daripada berusaha untuk melaporkan apa yang telah terjadi.
Meskipun demikian, biasanya akuntan keuangan dan akuntan manajerial dijabat oleh orang atau divisi yang sama (Finkler et.al, 2019).
Akuntansi Keuangan Akuntansi Manajerial Pengguna Ditujukan untuk pihak
eksternal suatu organisasi, misalnya investor, kreditur, dan pemerintah
Ditujukan untuk pihak internal suatu organisasi, misalnya manajer dan pembuat keputusan Time Horizon Fokus pada perspektif
historis Menggunakan perspektif
historis dan masa depan Verifikasi vs.
Relevansi Menekankan aspek verifikasi Menekankan aspek relevansi
Presisi vs.
Timeliness Menekankan aspek presisi Menekankan aspek aktualitas (tepat waktu) Unit Analisis Keseluruhan organisasi Unit organisasi atau
keseluruhan organisasi (sesuai kebutuhan) Regulasi
Pencatatan Mengikuti standar akuntansi yang telah ditetapkan, misalnya IFRS
Mengikuti kebijakan internal perusahaan Intensitas
Kebutuhan Wajib Tidak wajib
1.4.3. Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi yang mengukur, mencatat, dan melaporkan biaya produk (Weygandt, et.al., 2012).
Akuntansi biaya bertujuan untuk memastikan dan mengendalikan biaya barang atau jasa serta akurasi biaya setiap operasi, melalui pengamatan yang cermat, serta analisis dan alokasi biaya.
Akurasi biaya produk yang dihasilkan dari akuntansi biaya sangat penting dalam keberhasilan suatu organisasi. Informasi dalam akuntansi biaya akan digunakan oleh internal perusahaan dalam menentukan produk yang akan diproduksi, penentuan harga, dan jumlah barang yang akan diproduksi. Informasi biaya produk yang akurat juga bersifat vital dalam proses evaluasi kinerja pegawai (Weygandt, et.al., 2012).
Tabel 1.2.
Perbedaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajerial
Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., Kieso, D. E., & Aly, I. M. (2018). Managerial Accounting: Tools for Business Decision-making.
John Wiley & Sons.
Sistem akuntansi biaya terdiri dari dua sistem utama, yaitu: job order system dan process cost system. Job order system merupakan akumulasi biaya dari setiap unit produk yang dihasilkan di suatu perusahaan, sementara process cost system mengakumulasi biaya dari setiap unit departemen atau bagian atau proses di suatu perusahaan (Warren, et.al., 2018).
Akuntansi biaya relatif lebih terkait pada akuntansi manajerial daripada akuntansi keuangan. Akuntasi biaya mengumpulkan informasi yang kemudian digunakan sebagai rujukan pembuatan keputusan dalam kegiatan produksi dan digunakan di internal perusahaan. Kedua hal tersebut merupakan persamaan utama dari akuntansi biaya dan akuntansi manajerial.
1.5. Manajemen Keuangan Rumah Sakit
Pengelolaan keuangan di rumah sakit terdiri dari empat siklus, yaitu perencanaan keuangan (planning), organisasi sumber daya untuk pengelolaan (organizing), pelaksanaan atau implementasi rencana keuangan (actuating), dan pengawasan rencana keuangan (controlling).
Gambar 1.1. Contoh Siklus Keuangan Rumah Sakit
Setyawan, J. (2020).
Urgent Principle Shift of Healthcare (Hospital) Accounting (Materi Webinar)
1.5.1. Perencanaan Keuangan (Planning)
Siklus perencanaan dan penganggaran keuangan memainkan peran penting dalam fungsi keuangan setiap layanan kesehatan.
Perencanaan mencakup keseluruhan proses persiapan keuangan di masa datang dan sangat memengaruhi keberhasilan organisasi kesehatan tersebut. Perencanaan dapat diklasifikan menjadi dua, yaitu: (1) rencana strategis yang berisi aktivitas jangka panjang untuk mencapai tujuan perusahaan yang biasanya dalam kurun lima-sepuluh tahun; dan (2) rencana operasional yang disusun untuk melaksanakan aktivitas jangka pendek terkait pengelolaan harian perusahaan (Warren, et.al., 2018)
1.5.2. Pengorganisasian Rencana Keuangan (Organizing)
Pengorganisasian adalah fungsi manajemen yang melibatkan pengembangan struktur organisasi dan alokasi sumber daya manusia untuk memastikan pencapaian rencana keuangan yang telah disusun. Struktur organisasi memperlihatkan kerangka kerja dan koordinasi. Pengorganisasian juga melibatkan pembagian dan desain tugas individu dalam organisasi. Desain organisasi sangat penting dan harus disusun secara detail bagaimana tugas dan tanggung jawab setiap individu, serta metode pelaksanaan tugas tersebut.
1.5.3. Implementasi Rencana Keuangan (Actuating)
Siklus pelaksanaan (actuating) merupakan bagian dari majemen keuangan yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan operasional perusahaan setiap hari. Setelah suatu organisasi kesehatan melakukan perencanaan keuangan, pengorganisasian tanggung jawab dan tugas kepada para pengelola keuangan, langkah penting yang harus dilakukan adalah memberikan arahan dan motivasi supaya setiap bagian perusahaan mampu mencapai tujuan keuangan yang telah dilaksanakan. Secara spesifik, siklus ini menyangkut aspek personalia dari pengelolaan organisasi kesehatan yang berhubungan langsung dengan memengaruhi, membimbing, mengawasi, memotivasi bawahan untuk pencapaian tujuan organisasi.
Fungsi actuating dapat dilakukan melalui beberapa aktivitas, yaitu:
1. Supervisi merupakan fungsi dengan para pengelola keuangan yang mengawasi pekerjaan staf keuangan. Supervisi juga menyangkut pemberian arahan kepada para pegawai keuangan.
2. Motivasi berarti menginspirasi, menstimulasi, atau mendorong staf keuangan dengan semangat untuk bekerja. Insentif positif, negatif, moneter, non-moneter dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi staf keuangan.
3. Kepemimpinan merupakan proses dengan manajer keuangan Siklus
pelaksanaan (actuating) merupakan bagian dari majemen keuangan yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan operasional perusahaan setiap hari.
yang membimbing dan memengaruhi pekerjaan staf keuangan ke arah yang diinginkan.
4. Komunikasi ditandai dengan aktivitas penyampaian informasi, pengalaman, pendapat dari satu orang ke orang lain sehingga terjadi transfer pengetahuan.
1.5.4. Fungsi Pengendalian (Controlling)
Aspek pengendalian dalam manajemen keuangan bertujuan untuk memverifikasi apakah semua aktivitas manajemen keuangan dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selain itu, aspek pengendalian juga mengevaluasi apakah alokasi sumber daya organisasi telah ditempatkan secara efektif dan efisien demi mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dalam siklus ini perlu dilakukan dokumentasi pengukuran penyimpangan kinerja aktual dari kinerja standar yang telah ditentukan sebelumnya. Proses ini tidak kalah penting karena penyebab penyimpangan tersebut dapat ditemukan sehinga hal tersebut dapat membantu pengambilan tindakan korektif sebagai masukan dalam penyusunan rencana keuangan pada siklus berikutnya.
1.5.5. Studi Kasus: Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit Pemerintah BLU/BLUD
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit dapat dibagi menjadi dua berdasarkan pengelolaannya, yaitu rumah sakit publik dan rumah sakit privat (swasta). Rumah sakit publik merujuk pada rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba.
Sementara itu, rumah sakit swasta merupakan rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit. Bagian ini akan berfokus pada rumah sakit publik yang dikelola oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan rumah sakit berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara mendefinisikan BLU sebagai instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberi pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Sementara itu, BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau
Rumah sakit dapat dibagi menjadi dua berdasarkan pengelolaannya, yaitu rumah sakit publik dan rumah sakit privat.
jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
Rumah sakit merupakan salah satu penyedia layanan barang dan atau jasa yang diperbolehkan berbentuk BLU/D. Apabila menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU/D, suatu rumah sakit pemerintah memiliki fleksibilitas pengelolaan keuangan, termasuk mengelola pendapatan dan belanja, kas, utang-piutang, investasi, dan pengadaan barang atau jasa. Selain itu, rumah sakit juga diberikan keleluasaan untuk mempekerjakan tenaga profesional non-Pegawai Negeri Sipil (non-PNS) dan memberikan imbalan jasa kepada pegawai sesuai dengan kontribusinya (Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, 2013).
Rumah sakit BLU/D harus melakukan penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA). RBA berisi perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran. RBA disusun berdasarkan:
1. Basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layananannya.
2. Kebutuhan dan kemampuan pendapatan yang diperkirakan akan diterima.
3. Basis akrual.
Dalam RBA manajer keuangan harus menjelaskan kemampuan pendapatan yang terdiri dari: (1) Pendapatan dari layanan yang diberikan kepada masyarakat; (2) Hibah tidak terikat dan/atau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain; (3) Hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya, seperti pendapatan jasa lembaga keuangan, hasil penjualan aset tetap, dan pendapatan sewa ; (4) Penerimaan lainnya yang sah; dan/atau (5) Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN(Kemenkes RI, 2013).
Sementara itu, belanja BLU terdiri dari tiga jenis, yaitu belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Belanja pegawai berasal dari APBN (Rupiah Murni), sedangkan belanja barang terdiri dari belanja gaji dan tunjangan, belanja barang, belanja jasa, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan, dan belanja penyediaan barang dan jasa BLU lainnya, termasuk belanja pengembangan SDM. Sementara itu, belanja modal digunakan untuk belanja modal tanah, belanja modal peralatan dan mesin, belanja modal jalan, irigasi dan jaringan, dan belanja modal fisik lainnya.
Pelaporan keuangan BLU/D menggunakan standar akuntansi pemerintahan. Laporan keuangan tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban BLU/D. Tujuannya adalah untuk menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi, dan perubahan ekuitas Tanggung jawab
penyusunan dan penyajian laporan keuangan BLU berada pada pimpinan BLU atau pejabat yang ditunjuk.
BLU/D yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.
Selanjutnya, informasi tersebut akan bermanfaat untuk proses pengambilan keputusan dan bukti akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan (K Komite Standar Akuntansi Pemerintahan, 2015). Tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan keuangan BLU berada pada pimpinan BLU atau pejabat yang ditunjuk.
Kinerja BLU/D dinilai melalui tiga indikator, yaitu (1) kinerja keuangan, (2) kinerja operasional, dan (3) kinerja mutu pelayanan dan manfaat bagi masyarakat (Kemenkeu RI, 2016). Penilaian kinerja dilakukan oleh auditor eksternal. Pengukuran pencapaian kinerja tahun berjalan dilakukan dengan cara membandingkan target dengan perkiraan realisasi sampai dengan akhir tahun (Kemenkes RI, 2013).
Penilaian kinerja keuangan BLU/D meliputi pengukuran rasio keuangan dan kepatuhan pengelolaan keuangan BLU. Rasio keuangan yang dinilai terdiri dari sembilan indikator, yaitu: rasio kas (cash ratio), rasio lancar (current ratio), periode penagihan piutang (collecting periode), perputaran aset tetap (fixed asset turn over), imbalan atas aset tetap (return on fixed asset), imbalan ekuitas (return on equity), perputaran persediaan (inventory turnover), rasio PNBP terhadap biaya operasional, dan rasio biaya subsidi.
Sementara itu, kepatuhan pengelolaan keuangan BLU digunakan untuk menilai tingkat kepatuhan BLU terhadap peraturan mengenai pengelolaan keuangan BLU. Aspek kepatuhan dinilai untuk sebelas aspek, yaitu: (1) penyusunan dan penyampaian RBA definitif; (2) penyusunan dan penyampaian laporan keuangan BLU berdasarkan SAK; (3) penyampaian surat perintah pengesahan pendapatan dan belanja BLU; (4) persetujuan tarif layanan; (5) penetapan sistem akuntansi; (6) persetujuan pembukaan rekening;
(7) penyusunan Standard Operating Procedures (SOP) pengelolaan kas; (8) penyusunan SOP pengelolaan piutang; (9) penyusunan SOP pengelolaan utang; (10) penyusunan SOP pengadaan barang dan jasa; dan (11) penyusunan SOP pengelolaan barang inventaris.
Hasil penilaian kinerja BLU dikelompokkan ke dalam tiga kriteria, yaitu kriteria Baik, Sedang, dan Buruk. Jika skor mendekati 100, disebut kriteria baik, dan jika mendekati 0, disebut kriteria buruk.
Penilaian BLU juga dilakukan untuk aspek pelayanan yang terdiri dari dua indikator, yaitu kualitas layanan dan mutu dan manfaat.
Indikator pertama mengukur segala bentuk aktivitas pelayanan umum guna memenuhi harapan pengguna barang dan jasa, sedangkan indikator kedua mengukur upaya peningkatan kualitas pelayanan dan kesesuaian terhadap persyaratan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Hasil penilaian kinerja BLU
dikelompokkan ke dalam tiga kriteria, yaitu kriteria Baik, Sedang, dan Buruk.
1.5.6. Tantangan Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit
Pengelolaan keuangan rumah sakit di Indonesia dihadapkan pada pergeseran paradigma pengelolaan keuangan. Beberapa tantangan ini di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Peningkatan intensitas akuntansi yang sebelumnya fokus sebagai pelaporan keuangan menjadi bagian dari pembuatan keputusan (akuntansi manajemen) dan penentuan biaya serta harga (akuntansi biaya).
2. Pengendalian biaya (cost containment) untuk tetap dapat melaksanakan operasionalnya. Oleh karena itu, rumah sakit dituntut untuk melakukan berbagai strategi pengendalian biaya.
3. Hambatan likuiditas dalam jangka pendek karena pembayaran dari konsumen yang tertunda. Oleh karena itu, pengelolaan kasnya harus dilakukan dengan baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
1.6. Simpulan
Manajemen keuangan merupakan hal yang penting dalam pengelolaan layanan kesehatan. Tujuannya adalah untuk mencapai profitabilitas dan viabilitas. Data aktivitas organisasi yang bersumber dari data keuangan diperlukan untuk menentukan perencanaan target profitabilitas dan viabilitas suatu organisasi kesehatan.
Data keuangan digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu perusahaan (retrospective) dan merencanakan target (prospective).
Data informasi keuangan ini merupakan bagian dari akuntansi.
Pengambilan kebijakan keuangan yang tepat menjadikan sistem akuntansi yang baik menjadi sesuatu yang esensial.
Implementasi pengelolaan keuangan di suatu layanan kesehatan terdiri dari beberapa siklus, yaitu perencanaan keuangan (planning), organisasi sumber daya untuk melakukan pengelolaan (organizing), pelaksanaan atau implementasi rencana keuangan (actuating), dan pengawasan rencana keuangan (controlling). Keempat siklus ini tidak dapat dipisahkan dan digunakan secara kontinu.
Daftar Pustaka
Berger, S. (2014). Fundamentals of Health Care Financial Management: a Practical Guide to Fiscal Issues and Activities. In Journal of Chemical Information and
Modeling (Fourth Ed., Vol. 53, Issue 9). Jossey-Bass. https://
doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2012). Fundamentals of Financial Management. Massachussetts: Cengage Learning.
Data keuangan digunakan untuk
mengevaluasi kinerja suatu perusahaan (retrospective) dan merencanakan target (prospective).
Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. (2013). Manual Pengelolaan Satker BLU Bidang Pelayanan Kesehatan.
Dunn, R. T., & Haimann, T. (2007). Healthcare Management (7th Ed.). Chicago: Health Administration Press.
Finkler, S. A., Ward, D. M., & Calabrese, T. D. (2019). Accounting Fundamentals for Health Care Management (3rd Ed.).
Massachussetts: Jones & Bartlett Learning.
Gapenski, L. C., & Reiter, K. L. (2016). Healthcare Finance: an
Introduction to Accounting & Financial Management (6th Ed., Issue 808). Chicago: Health Administration Press.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Permenkes 4/2013 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran Badan Layanan Umum di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014.
Kementerian Kesehatan Republik Indoneis (2017). Peraturan
Menteri Kesehatan nomor 51 tahun 2017 tentang Pedoman Penilaian Teknologi Kesehatan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2016). Per Dirjen Perbendaharaan Nomor 36/PB/2016. http://blu.djpbn.
kemenkeu.go.id/index.php?r=publication/regulation/
view&id=289
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. (2015). Standar
Akuntansi Pemerintahan: Penyajian Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum.
Kurniawan, R. (2019). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
PERSI. (2018). Manajemen Keuangan dan Akuntansi Rumah Sakit Indonesia.
Setyawan, J. (2020). Urgent Principle Shift of Healthcare (Hospital) Accounting.
Warren, C. S., Reeve, J. M., & Duchac, J. E. (2018). Financial and Managerial Accounting, 14th Ed. Massachussetts: Cengage Learning.
Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., & Kieso, D. E. (2012). Accounting Principles, 10th Ed. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., Kieso, D. E., & Aly, I. M. (2018).
Managerial Accounting: Tools for Business Decision- making. New Jersey: John Wiley & Sons.
BAB 2
Prinsip Akuntansi dalam Manajemen Keuangan
Jorghi Vadra, Puji Harto, & Chriswardani Suryawati
2.1. Pengantar
Akuntansi menjadi elemen penting dalam keberlanjutan suatu organisasi. Bab ini akan membahas prinsip akuntansi dalam manajemen keuangan organisasi, khususnya pada suatu fasilitas kesehatan, baik yang berorientasi laba (profit) dan tidak berorientasi laba (not-for-profit). Bab ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, dan Studi kasus pencatatan akuntansi pada rumah sakit. Pada bagian terakhir akan dilakukan pencatatan akuntansi di rumah sakit dan analisis sederhana mengenai laporan keuangan.
Setelah membaca bab ini diharapkan pembaca untuk memahami tujuan pembelajaran, yaitu memahami prinsip akuntansi dalam pencatatan transaksi keuangan, memahami siklus akuntansi di fasilitas kesehatan, mengetahui standar akuntansi di Indonesia, melakukan pencatatan akuntasi dari transaksi hingga pembuatan laporan keuangan, dan melakukan analisis laporan keuangan.
Akuntansi menjadi elemen penting dalam keberlanjutan suatu organisasi.