Sehingga dapat dikatakan bahwa proses pematangan budaya politik Indonesia pada dasarnya melibatkan suatu tahap penyerasian antar sub-subbudaya politik dengan struktur politik nasional yang ada di berbagai wilayan nusantara. Menjadi wajar kemudian, jika terdapat bermacam pendapat mengenai model budaya politik Indonesia. Namun dalam hal ini, Nazarudin Syamsudin, menyebutkan bahwa budaya politik Indonesia kemudian semuanya bermuara dalam konsep dan semangat Bhineka Tunggal Ika yang merupakan bagian penting dari ideologi pancasila yang hingga saat ini masih teruji kuat masih menjadi simpul pemersatu bangsa kita, dan itulan yang menjadi wujud nyata dari budaya politik Indonesia yang sesungguhnya.
sikap politik masyarakat menjadi bersifat patronage.26 Hal ini nampak dalam pola-pola perilaku masyarakat termasuk pula dalam perilaku birokrat dan elite politik di permerintahan kita.
Budaya politik masyarakat lebih didominasi parokial kaula dan pada sisi lain diikat oleh primordialisme, maka hal ini cendrung tidak akan membangun demokrasi Indonesia yang konstruktif sarat kemajuan.
Nilai-nilai yang dianut masyarakat telah membatasi dirinya untuk tidak bebas bergerak, termasuk dalam pengambilan keputusan dibidang politik baik pada aras pemerintahan pusat maupun di daerah. Benturan-benturan nilai yang terjadi relatif tidak bisa berkolaborasi secara positif dengan etika dan prinsip- prinsip demokrasi modern yang ada seperti keadilan, keterbukaan, persamaan hak dimata hukum, dan kesejahteraan.
Warga masyarakat telah terpolakan dalam budaya sungkan, dan ewuh pakewuh atau acuh tak acuh. Sehingga realitas yang terbangun di masyarakat saat berinteraksi dengan birokrat di dalam pelayanan birokrasi kita, budaya politik balas jasa seolah bagian yang telah menyatu dalam diri mereka dan membatasi diri dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Hal ini kemudian dapat menjadi salah satu penyebab tidak berkembangnya budaya politik konstruktif tersebut.
Jika dilihat lebih jauh, selain penyebab di atas, penyebab lain mengapa budaya politik masyarakat tidak berkembang secara konstruktif, salah satunya dikarenakan terjadinya krisis
26 Aos Kuswandi, Membangun Gerakan Budaya Politik Dalam Sistem Politik Indonesia, 47.
keteladanan pada proses kaderisasi kepemimpinan didalam masyarakat sosial dan masyarakat politik. Krisis keteladanan menjadi salah satu penyebab muramnya wajah perpolitikan kita, dibuktikan betapa sulitnya kita menemukan sosok pemimpin yang mampu menjadi panutan bagi setiap masyarakat, jikapun ada sosok yang dapat dicotoh saat ini, itu tidak lepas dari kamuflase-kamuplase yang sengaja dilakukan dengan agenda setting tertentu.
Maka untuk membangun keteladanan sebagai wujud dari gerakan budaya politik Indonesia, diperlukan sikap dari para elite politik, pejabat negara dan tokoh-tokoh yang duduk pada lembaga tinggi maupun lembaga publik di tingkat daerah maupun pusat. Proses membangun kualitas keteladanan para pelaku politik tersebut memang tidak bisa berlangsung secara instan, karena harus terpolakan dan tersistematisasi atau terprogram secara baik, dan berjenjang. Hal tersebut jelas memerlukan upaya serius dari berbagai komponen bangsa dan para pengambil keputusan.
Dengan demikian, upaya membangun gerakan budaya politik Indonesia bisa dilakukan melalui program pendidikan, baik jalur pendidikan formal melalui bangku kuliah di kampus, sekolah, dan pendidikan-pendidikan politik oleh lembaga dan partai politik, maupun non formal melalui advokasi-advokasi langsung ke masyarakat. Sebagai alasannya bahwa pendidikan tidak dapat terpisah dari struktur kebudayaan, di mana proses pendidikan itu terjadi. Artinya penanaman nilai-nilai positif bagi masyarakat bisa dimulai dari pendidikan ini. Proses pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan dan ilmu
pengetahuan, tetapi merupakan proses dekonstruksi dan rekonstruksi kebudayaan, terutama kebudayaan politik. Tentu saja nilai-nilai, norma, etika dan cara bersikap dalam berpolitik merupakan bagian utama yang diberikan dalam program pendidikan tersebut nantinya.
Terutama dalam hal pendidikan politik tersebut, peranan partai politik sangatlah penting. Sebagai lembaga yang merepresentasikan kelompok masyarakat politik dalam ideologi maupun nilai-nilai yang dianut, harus mampu menjadikan dirinya sebagai mesin produksi SDM unggul berkualitas yang sarat dengan pengalaman dan integritas, sehingga dapat berperan besar bagi perubahan orientasi dan sikap politik masyarakat, dan partai politik harus bisa menjadi rumah siapapun yang hendak belajar politik, tanpa membedakan asal usul dan latar belakang, bukan sebaliknya hanya menjadi rumah bagi keluarga, kolega atau kelompok yang orang yang menjadi pemilik atau pengurus yang menguasai partai, atau kondisi yang lebih parah, partai hanya menjadi milik elit yang punya modal dan uang saja, yang akhir-akhir ini cendrung tampak menguat menjelang momentum politik, jika pendidikan politik tersebut dapat diatensi sedemikian rupa, maka proses kaderisasi akan semakin baik dan kadernya menjadi semakin berkualitas dan berintegritas.
Selain itu, kelompok masyarakat yang terlibat aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan (Ormas) dan LSM yang berorientasi pada peningkatan kapasitas warga masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun perbaikan budaya politik Indonesia. Karena kelompok ini memiliki predikat
sebagai masyarakat yang melek politik. Di dalamnya terdiri dari individu-individu yang mengerti dan memahami sistem politik dan bagian-bagian yang ada di dalamnya. Idealnya Ormas dan LSM ini harus mengambil andil dalam proses gerakan membangun budaya politik. Peran serta yang dapat dilakukan adalah melalui pendampingan, advokasi dan peningkatan kapabilitas masyarakat melalui pelatihan dan kegiatan lainnya.
Bukan sebaliknya, malah elit ormas dan LSM tersebut justru terjebak sebagai ―makelar‖ politik atau proyek yang terus mengambil keuntungan pribadi dengan menjual atas nama aspirasi masyarakat, yang juga akhir-akhir ini menggrogoti elit- elit ormas dan LSM kita di daerah maupun di pusat.
Maka untuk membangun gerakan budaya politik yang konstruktif seperti diuraikan di atas, hendaknya dilaksanakan secara berkelanjutan. Karena ini terkait dengan regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan politik. Tujuannya ke depan agar dalam setiap perhelatan politik, maupun proses dalam berbagai penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah dapat berjalan dengan baik sesuai dengan aturan main dan UU yang berlaku. Masyarakat akan semakin dewasa dalam berpolitik dan tingkat konflik politik semakin berkurang, sehingga stabilitas politik negara akan tetap terjaga dalam koridor hukum yang menjadi landasan pijaknya.
Komitmen yang tidak kalah penting juga dalam upaya membangun gerakan budaya politik Indonesia tersebut adalah kesadaran bersama secara kolektif akan tanggung jawab segenap elemen bangsa, mulai dari akademisi, politisi, birokrat, dan siapapun yang terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang
bersinggungan dengan aktifitas politik untuk secara bersama- sama menyadari pentingnya membangun budaya politik yang beradab tersebut. Ini bertujuan agar pola-pola tindakan politik warga negara dapat terarah dan terprogram menuju pada proses pencapaian kesejahteraan masyarakat mulai dari hulu hingga ke hilir, terhadap semua rakyat Indonesia.
D. Budaya Politik Pesantren: Telaah Pola Hubungan