HASIL BELAJAR SIKLUS 1 PERTEMUAN 2
5) Refleksi Pertemuan 2 Siklus I
Berdasarkan temuan yang diperoleh melalui observasi kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat direfleksikan sebagai berikut:
a. Aktivitas Guru
Kegiatan pembelajaran yang direncanakan dengan alokasi waktu 7 x 35 menit sebetulnya sudah optimal. Hal ini dapat dilihat dari lembar observasi penilaian guru dimana guru memperoleh skor 4 (skor maksimal) sebanyak 7 kali yaitu pada setiap aspek kecuali aktivitas guru membimbing siswa menguji hipotesis, serta membimbing siswa melakukan presentasi kelompok.
Hal ini dikarenakan pada saat setiap kelompok bermain, guru terfokus untuk membacakan soal dengan baik dan jelas, tetapi hal tersebut memunculkan masalah dalam menentukan kelompok mana yang terlebih dahulu mengangkat tangan untuk menjawab. Hal ini memicu terjadinya protes dari siswa dan mengharuskan peneliti meminta tolong kepada observer untuk menjadi penentu kelompok yang terlebih dahulu mengangkat tangan.
Untuk itu, solusi untuk menangani hal ini adalah peneliti akan berupaya memperbaiki teknis pelaksanaan dengan rencana mewajibkan juru bicara dalam setiap kelompok untuk menuliskan jawabannya pada sebuah kertas terlebih dahulu, kemudian kertas tersebut di angkat oleh juru bicara. Kelompok yang terlebih dahulu mengangkat kertas jawaban, mereka lah yang berhak menjawab pertanyaan pertama kali dan jawaban langvsung dikoreksi oleh guru dan diberi poin.
b. Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 2 telah berjalan optimal. Hal tersebut terlihat pada hasil pengamatan aktivitas siswa yang menunjukkan bahwa siswa sangat aktif berjumlah 32 orang atau dalam persentase klasikal sebesar
memuaskan karena skor yang diperoleh menunjukkan angka di atas indikator keberhasilan yaitu ≥ 80% siswa memperoleh kategori sangat aktif. Perolehan skor ini dikarenakan siswa sudah mengenal proses pembelajaran dengan menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar yang diajarkan oleh guru. Dari semua aspek yang dilaksanakan, masih ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Terutama pada aspek terlibat aktif memberikan masukan dalam merumuskan masalah dan merumuskan hipotesis lah yang menjadi sorotan utama karena pada aspek ini terdapat 1 orang siswa atau 2,9%
yang masih mendapat kriteria cukup aktif sedangkan 12 orang atau 35,3% sudah memperoleh kriteria aktif dan 19 orang atau 55,9% telah mendapatkan skor maksimal. Disamping itu, aspek bekerjasama dalam diskusi kelompok juga menjadi perhatian karena hanya 19 orang siswa atau 55,9% yang memperoleh kategori sangat aktif. Begitu pula pada aspek bekerjasama menjawab pertanyaan (game) yang hanya 10 orang siswa atau 29,4% yang memperoleh kriteria sangat aktif.
Hal ini dikarenakan pada saat kegiatan memberikan masukan dalam merumuskan masalah dan hipotesis, siswa yang bersangkutan masih enggan berbicara, namun ia memberikan masukan kepada temannya sehingga masukan yang diberikan harus
disampaikan oleh temannya tanpa mengangkat tangan langsung atau menjawab sendiri secara langsung. Disamping itu, dalam merumuskan masalah, sebagian siswa
masih saja menunggu arahan dari guru, belum seluruhnya mau memberikan aspirasi dan berinisiatif dalam mengemukakan pendapatnya. Hal ini di indikasi pula masih ada siswa yang masih malu dan khawatir apabila nantinya salah dalam mengemukakan pendapatnya.
Sementara itu, aspek berdiskusi mengumpulkan data juga menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena 13 orang siswa masih menjadi orang yang pasif di dalam kelompoknya. Mereka masih banyak diam dan menunggu jawaban dari teman yang lain dan belum ada inisiatif dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi khususnya pada saat melakukan kegiatan membuat album ekosistem dan peta pikiran.
Begitu pula pada saat mempresentasikan hasil pemecahan masalah, para siswa masih terlihat kurang aktif dan terkesan malu-malu dalam mengemukakan hasil diskusinya. Dari 32 siswa yang hadir hanya 6 orang yang memndapatkan kriteria sangat aktif. Hal ini disebabkan karena mereka masih mewakilkan kepada salah satu anggota kelompok untuk membacakan hasil diskusi mereka. Ada pula yang membacakan hasil diskusi terkesan kurang percaya diri serta takut apabila dalam hasil diskusi mereka terdapat kekeliruan.
Dan untuk aspek bekerjasama untuk menjawab pertanyaan (game) kelompok, para siswa sudah mau bekerjasama dan berkomunikasi satu sama lain dalam menjawab pertanyaan game kelompok. 20 orang lainnya masih kurang antusias dalam bekerjasama menjawab pertanyaan walaupun mereka bersemangat untuk meraih nilai yang tinggi untuk kelompoknya, tetapi pemikiran utama masih belum dikeluarkan
Oleh sebab itu, solusi yang akan dilaksanakan guru adalah pada pertemuan selanjutnya guru akan kembali memberikan pancingan dan apresiasi bagi siswa yang belum terlalu terlibat dalam kegiatan merumuskan masalah dan hipotesis, memberikan
bimbingan kelompok untuk memperjelas pembagian tugas antar anggota kelompok agar setiap siswa aktif dalam kelompok.
Selain itu, guru akan kembali berusaha untuk mendorong siswa agar lebih banyak mengemukakan pendapat melalui diskusi dan presentasi kelompok, serta memberikan informasi mengenai pemberian penghargaan kepada kelompok yang memperoleh nilai tertinggi pada game kelompok sebagai pancingan bagi seluruh siswa agar mau terlibat sepenuhnya dalam kegiatan tersebut.
Disamping itu, karena ada 2 orang yang tidak hadir di dalam proses pembelajaran, hal ini menyebabkan kurangnya tingkat ketuntasan skor aktivitas siswa secara klasikal di dalam kelas. Dengan demikian, guru berharap di pertemuan berikutnya siswa yang tidak hadir bisa memperoleh skor maksimal seperti yang diharapkan dalam indikator keberhasilan.
c. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa pada pertemuan 2, dalam aspek kognitif siswa yang mencapai kategori tuntas sebanyak 27 orang dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 7 orang. Adapun ketuntasan klasikal hanya mencapai 79,4%.
Ketuntasan klasikal ini masih belum memenuhi indikator yang ditetapkan namun sudah lebih meningkat dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hal ini dikarenakan siswa lebih meningkatkan pemusatan perhatiannya pada penyampaian materi dan
diskusi kelompok dalam menggali informasi. Namun, masih ada 7 orang siswa yang memperoleh nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh guru.
Hal ini disebabkan karena 5 orang siswa yaitu yang bernama Ahmad Faqih, Muhammad Ayfa Nabil, Muhammad Anggana S, Miftahul Rahma, M.
Aldy Rahmatillah, M. Ayfa Nabil dan M. Fadillah Hazmi masih memiliki kendala dalam mengingat berbagai rangkaian materi yang sudah disampaikan pada hari itu. Sehingga
setelah diberikan soal evaluasi keduanya memiliki kendala dalam menyelesaikannya.
Kemudian untuk 2 orang siswa lainnya yaitu Muhammad Al-Fitrah tidak dapat berhadir karena sedang sakit, dan Rizka Ramadhani tidak dapat berhadir karena mengikuti lomba menggambar tingkat kota Banjarmasin mewakili SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin.
Dengan demikian, solusi yang akan dilakukan guru adalah meningkatkan kinerja dalam penyampaian materi dan membantu siswa dalam mengingat seluruh rangkaian materi yang diajarkan pada hari itu dengan memfokuskan pada setiap langkah kegiatan untuk memotivasi siswa yang belum mencapai kategori tuntas. Guru akan lebih mengawal siswa dalam menerima materi dan terus menerus mengingatkan agar mereka mengingat setiap informasi yang didapatkan karena akan ada soal tes evaluasi di akhir pembelajaran.
Keberhasilan siswa pada ranah kognitif ini dapat diuraikan lagi dalam setiap butir soal. Dari 7 soal yang diberikan kepada siswa, 5 soal telah berhasil mencapai
nomor 2, 3, 5, 6 dan 7 dengan kategori soal menjelaskan, mengidentifikasi dan menunjukkan. Sedangkan pada 2 soal lainnya yakni soal nomor 1 dan 4 dengan kategori soal menjelaskan dan mengidentifikasi masih belum memenuhi indikator keberhasilan.
Hal ini disebabkan karena para siswa masih memiliki kendala dalam menjawab soal dengan tingkat kesulitan mengidentifikasi yakni pada soal nomor 1. Dalam soal ini siswa diminta untuk mengidentifikasi 2 faktor yang menjadi penyebab ketidakseimbangan lingkungan. Namun para siswa terkesan melewatkan penjelasan dari guru dan literatur yang telah disediakan. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan pula oleh penggunaan bahasa oleh guru pada soal yang diberikan. Kemungkinan sebagian siswa tidak mengerti apa itu mengidentifikasi dan menjelaskan sehingga jawaban yang mereka berikan hanya sebatas nama benda saja.
Pada soal berikutnya yakni soal nomor 4 juga demikian. Siswa masih memiliki kesulitan pada saat menjelaskan dengan bahasa sendiri macam-macam komponen ekosistem yang telah ditelitinya. Pada soal ini siswa diminta untuk mengidentifikasi sekaligus menjelaskan apa saja komponen ekosistem yang telah dia teliti dan diminta membuat bahasa sendiri mengenai hal tersebut. Hal ini terjadi karena para siswa masih kesulitan merangkai kalimat untuk menjelaskan sesuatu ditambah lagi dengan kurang fokus terhadap setiap pokok bahasan yang diajarkan dalam jaringan tema, hal ini berdampak pada kurangnya perbendaharaan kalimat yang membantu mereka untuk menjawab soal yang diberikan.
Solusi yang akan dilakukan guru untuk meningkatkan keberhasilan dalam soal dengan ranah kognitif soal mengidentifikasi dan menjelaskan guru akan memberikan penjelasan kepada para siswa untuk tidak bosan menggali materi sampai pada berbagai hal kecil yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Hal ini tidak lupa disertai dengan motovasi bagi seluruh siswa untuk mengingat-ingat kembali seluruh bagian materi karena setiap bagian dari materi tersebut akan dikeluarkan pada evaluasi akhir pembelajaran. Disamping itu, guru akan memberikan penjelasan dan keterangan bagi para siswa mengenai apa itu mengidentifikasi serta lebih memperjelas redaksi kalimat dalam soal yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan bahasa anak. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka untuk menjawab soal dengan lebih baik dan lebih mudah dipahami.
Kemudian untuk ranah kognitif menjelaskan, guru akan lebih memotivasi siswa dengan memberikan pancingan untuk selalu memperhatikan setiap detail materi yang diberikan dan didiskusikan dan kembali mengingatkan pada seluruh siswa bahwa materi – materi tersebut akan dikeluarkan pada tes akhir pembelajaran dengan berbagai variasi soal. Untuk lebih khusus pada menjelaskan, guru akan memberikan beberapa kata kunci bagi para siswa agar mereka mudah untuk menyambung kata – kata tersebut dan dibuat ke dalam kaliamt dengan bahasa sendiri. Untuk memperbanyak perbendaharaan kata tentang materi, tentu mereka harus selalu diingatkan dan dipancing dengan tanya jawab agar selalu fokus pada materi yang diberikan.
Sedangkan untuk aspek afektif, 31 orang siswa atau 88,2% sudah memperoleh nilai di atas kriteria ketuntasan minimal atau memperoleh kriteria sering membudaya sedangkan 1 orang lainnya memiliki kriteria mulai berkembang. Penilaian ini diperoleh berdasarkan akumulasi nilai antara 76-100 atau skor 3,01-4,00 pada rentang skor penilaian kurikulum 2013.
Dalam penilaian afektif tersebut guru menggunakan aspek komunikatif, kerjasama, jujur dan teliti. Dalam aspek komunikatif, ada 18 orang yang memiliki kriteria sering membudaya dan 16 orang berada pada kategori mulai berkembang.
Pada aspek kerjasama, 12 orang siswa sudah menunjukkan sikap sering membudaya, 19 siswa berada pada kategori mulai berkembang sedangkan 1 orang lainnya masih berada pada kategori mulai terlihat. Untuk aspek jujur, hampir seluruh siswa sudah menunjukkan sikap sering membudaya, 31 orang telah memiliki kriteria sering membudaya dan hanya ada 1 orang yang masih berada pada kriteria mulai berkembang. Dan untuk aspek teliti, 21 orang sudah berada pada kriteria sering membudaya sedangkan 11 orang lainnya berada pada kriteria mulai berkembang.
Hal tersebut disebabkan karena para siswa masih belum maksimal komunikatif di dalam proses pembelajaran, khususnya komunikasi yang harusnya terjalin antarsiswa.
Memang sebagian besar dari mereka sudah melakukan komunikasi dengan baik, tetapi sebagian lagi masih kaku dalam berkomunikasi satu sama lain, dan tidak ada lagi kelompok yang hanya mengandalkan 1 orang siswa untuk menyelesaikan masalah yang ada di lembar kerja kelompok. Hal serupa juga ditunjukkan pada aspek
kerjasama. Para siswa sudah mengedepankan kerjasama, namun sebagian dari mereka masih ada yang mengedepankan mengandalkan teman yang bisa daripada memilih untuk bekerjasama. Karena hal tersebut, akhirnya sebagian dari mereka masih memiliki kriteria yang belum terlalu memuaskan dalam aspek teliti. Hal ini dikarenakan sebagian dari siswa masih ada yang tidak saling mengoreksi dan mengingatkan satu sama lain. Sehingga pada aspek teliti ini masih ada siswa yang hanya berada pada kriteria mulai berkembang walaupun sebagian besar siswa sudah ada yang memiliki kriteria sering membudaya.
Untuk itu, guru kembali akan melakukan upaya memberikan motivasi dan semangat bagi seluruh siswa dan terus mengingatkan mereka ketika berada di dalam kelompoknya untuk berkomunikasi dengan maksimal, mengedepankan kerjasama dan membimbing mereka untuk lebih teliti.
Dan untuk aspek psikomotorik ada 30 orang siswa atau 88,2% yang telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal, sedangkan 2 orang lainnya atau 5,9% masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal. Penilaian ini diambil dengan menggunakan instrumen membuat pertanyaan di kartu tanya serta menceritakan kembali isi teks bersama teman di kelompoknya secara lisan. Dari gabungan kedua instrumen tersebut lah diperoleh data hasil psikomotorik siswa.
Hasil yang ditunjukkan sudah memuaskan. Hal ini disebabkan karena pada saat mereka disuruh membuat pertanyaan di kartu tanya, sebagian besar siswa sudah
sangat antusias dan memberikan pertanyaan-pertanyaan menggali informasi yang ada di teks dan gambar. Dan ketika di suruh menceritakan kembali isi teks kepada teman sekelompoknya, sebagian besar siswa sudah memberikan pernyataan yang dikembangkan ke dalam bahasa sendiri.
Untuk itu, dalam perteuan berikutnya guru akan memberikan memberikan pengawalan kepada hasil yang sudah ditunjukkan siswa pada penilaian psikomotorik.
Hal ini dikarenakan adanya instrumen penilaian aspek psikomotorik yang berbeda di setiap pertemuan dalam pembelajaran tematik. Guru akan kembali memberikan arahan
sebagaimana perintah yang diinginkan rubrik penilaian dalam pembelajaran tematik agar hasil yang sudah diperlihatkan siswa ini dapat dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan.
d. Tes Akhir Siklus I
Hasil belajar siswa dari tes akhir siklus I berupa tes secara tertulis, dan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.16 Hasil Tes Akhir Siklus I No Nilai Frekuen
si
Persentase Ketuntasan (%) Tuntas Tidak
Tuntas
1 51-55 3 8,8
2 56-60 0 0
3 61-65 2 5,9
4 66-70 1 2,9
5 71-75 3 8,8
6 76-80 6 17,6
7 81-85 3 8,8
8 86-90 7 20,8
9 91-95 6 17,6
10 96-100 3 8,8
Jumlah 34 73,6 26,4
Berdasarkan data di atas dapat diketahui nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah antara 96-100 sebanyak 3 orang dengan persentase 8,8%, nilai antara 91-95 sebanyak 6 orang dengan persentase 17,8%, nilai antara 86-90 sebanyak 7 orang dengan persentase 20,6%, nilai antara 81-85 sebanyak 3 orang dengan persentase 8,8%, nilai antara 76-80 sebanyak 6 orang dengan persentase 17,6%, nilai antara 71-75 sebanyak 3 orang dengan persentase 8,8%, nilai antara 66-70 sebanyak 1 orang dengan persentase 2,9%, nilai antara 61-55 sebanyak 2 orang dengan persentase 5,9% dan nilai antara 51-55 sebanyak 3 orang dengan persentase 8,8%.
Dari perolehan nilai di atas dapat diketahui bahwa dari 34 siswa, yang memperoleh nilai ≥ 80 ada 25 orang dengan persentase 73,6% yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan 9 orang siswa yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ketuntasan belajar individu pada tes akhir siklus I ini belum sesuai dengan indikator keberhasilan, karena indikator keberhasilan yang ditetapkan adalah pembelajaran dikatakan berhasil jika 80% siswa memperoleh
nilai ≥ 80. Ketuntasan klasikal tes akhir siklus 1 ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.17 Rekapitulasi Hasil Evaluasi Tes Akhir Siklus I
No Ketuntasa n
Frekue nsi
Persentase (%) 1
2
Tuntas Tidak Tuntas
25 9
73,6 26,4
Jumlah 34 100
Data hasil belajar tes akhir siklus I ini disajikan dalam bentuk grafik berikut ini :
73.60%
26.40%