• Tidak ada hasil yang ditemukan

COVER, DAFTAR ISI DAN ABSTRAK.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "COVER, DAFTAR ISI DAN ABSTRAK.docx"

Copied!
341
0
0

Teks penuh

(1)

Bidang Penelitian : Ilmu Pendidikan Kode/Nama Rumpun Ilmu :793/PGSD

PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY LEARNING DALAM BENTUK MODEL MONOPOLI PINTAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI KELAS 5B SDN SUNGAI MIAI 7 BANJARMASIN

PENELITI :

Dr. Hj. ASNIWATI, S.Pd., M.Pd.

NIDN 0017125206

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT JULI 2016

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

Judul Penelitian :

Pengembangan Model Pembelajaran Inquiry Learning dalam Bentuk Model Monopoli Pintar untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin

Kode/Nama Rumpun Ilmu : 793 / PGSD Bidang Unggulan PT : Pendidikan

Topik Unggulan : Model-model pembelajaran Ketua Peneliti :

a. Nama Lengkap : Dr. Hj. Asniwati, S.Pd., M.Pd.

b. NIDN : 0017125206

c. Jabatan Fungsional : Lektor

d. Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar e. Nomor HP : 081349681993

f. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Lama Penelitian Keseluruhan : 3 (tiga) bulan

Biaya Penelitian Keseluruhan : Rp. 5.000.000,-

Banjarmasin, 23 Maret 2016 Mengetahui,

Ketua Program PG-PSD

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat

Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D.

NIP 19591225 198303 1 001

Peneliti

Dr. Hj. Asniwati, S.Pd., M.Pd.

NIP 19521217 197903 2 001

(3)

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM 1. Judul Penelitian :

Pengembangan Model Pembelajaran Inquiry Learning dalam Bentuk Model Monopoli Pintar untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin

2. Peneliti No

. Nama Jabatan Bidang

Keahlian Instansi

Asal Alokasi Waktu (jam/minggu) 1 Dr. Hj. Asniwati,

S.Pd., M.Pd.

Ketua Peneliti

Manajemen

Pendidikan PGSD 21 Jam/Minggu 3. Objek Penelitian :

Perbaikan proses pembelajaran dan implementasi kurikulum 2013 di Sekolah Dasar 4. Masa Pelaksanaan

Mulai : bulan: Mei tahun: 2016 Berakhir : bulan: Juli tahun : 2016 5. Lokasi Penelitian (lab/studio/lapangan)

SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin 6. Temuan yang ditargetkan

Pelaksanaan proses pembelajaran pada kurikulum 2013 saat ini belum berlangsung maksimal sebaimana yang diharapkan pemerintah khususnya departemen pendidikan selaku penyelenggara kurikulum nasional. Untuk memaksimalkan pelaksanaan proses pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013, diperlukan model pembelajan yang akan memfasilitasi guru untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran bermakna disertai muatan penuh tuntutan pendekatan saintifik didalamnya.

Penelitian ini menargetkan perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 yang dapat menjadi referensi bagi guru untuk pelaksanaan proses pembelajaran bermakna yang cocok dan maksimal diimplementasikan pada kurikulum 2013.

7. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu

Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi perbaikan proses pembelajaran, memaksimalkan potensi peserta didik didalam proses pembelajaran, memberikan pembelajaran bermakna yang akan melahirkan peserta didik yang unggul sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 yakni pribadi yang berjiwa saintifik melalui keterpaduan model-model pembelajaran kooperatif dan saintifik.

(4)

8. Jurnal ilmiah yang menjadi

Hasil penelitian ini akan diterbitkan pada jurnal Nasional terakreditasi dengan judul

“Paradigma” yang berisi kumpulan jurnal hasil penelitian Universitas Lambung Mangkurat

9. Rencana luaran HKI, buku, purwarupa atau luaran lainnya yang ditargetkan, tahun rencana perolehan atau penyelesaiannya

Luaran yang akan dihasilkan adalah referensi model pembelajaran yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran kurikulum 2013 serta menjadi bahan pelatihan penerapan model pembelajaran inovatif bagi para guru sekolah dasar di kota Banjarmasin.

(5)

RINGKASAN

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 menuntut para siswa untuk memiliki sikap ilmiah, mampu berpikir kritis dan menggali sendiri informasi berdasarkan topik pembelajaran yang terintegrasi dalam tema. Namun, kenyataan dilapangan masih ditemukan pembelajaran yang kurang maksimal sehingga tuntutan kurikulum 2013 di atas belum terlaksana dengan maksimal. Hal ini didasarkan atas berbagai alasan, para guru mengaku belum mempunyai referensi strategi dan model pembelajaran yang mampu merangkum seluruh tuntutan kurikulum 2013 kedalam satu rangkaian proses pembelajaran. Disamping itu mereka belum memiliki keterampilan untuk merancang proses pembelajaran yang mampu membangun antusias dan keaktifan siswa, serta memiliki kendala waktu persiapan yang cukup singkat dikarenakan banyak yang harus dilaksanakan terkait dengan penilaian individu di dalam kelas.

Dengan solusi yang ditawarkan, yakni Model Pembelajaran Monopoli Pintar yang merupakan pengembangan model Inquiry Learning, para guru akan dibantu untuk melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 ditambah dengan rangkaian kegiatan yang menambah keaktivan dan antusias siswa didalam kelas. Dengan penerapan model pembelajaran ini, guru dapat memaksimalkan pelaksanaan pembelajaran didalam kelas serta dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik.

Metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas. Metode ini merupakan metode perbaikan proses pembelajaran didalam kelas yang dirancang dengan penekanan skenario pembelajaran agar proses pembelajaran yang dilaksanakan didalam kelas berlangsung maksimal. Metode ini juga menitikberatkan tuntutan perbaikan aktivitas guru dan aktivitas siswa di dalam kelas melalui lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa yang akan menuntun kedua pihak untuk memberikan kontribusi terbaik didalam kelas. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi pelaksanaan proses pembelajaran yang dapat dikatakan mencakup seluruh tuntutan pembelajaran didalam kurikulum 2013.

(6)

ABSTRAK

Asniwati. 2016. Pengembangan Model Pembelajaran Inquiry Learning dalam Bentuk

Model Monopoli Pintar untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin

Kata Kunci : Implementasi Kurikulum 2013, Inquiry Learning, Model Monopoli Pintar, Aktivitas dan Hasil Belajar.

Permasalahan penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematik di kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan 75 (2014/2015) hanya 26 orang yang mencapai nilai ≥75 atau 76% pada tema 7, selebihnya belum berhasil. Hal ini disebabkan siswa terkesan kurang antusias, potensi sikap ilmiah belum terasah, sebagian siswa masih pasif dan belum terbiasa berpikir kritis. Untuk meningkatkan hasil belajar tema ekosistem kelas 5B di sekolah ini maka dilaksanakan penelitian tindakan kelas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas guru, meningkatkan aktivitas siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar. Penelitian ini dilaksanakan mengikuti prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes dan observasi terhadap siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin dengan jumlah 34 orang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi siswa, tes hasil hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri atas 2 pertemuan. Siklus II terdiri 2 kali pertemuan. Teknik analisa data yang digunakan merupakan interpretasi dari hasil distribusi frekuensi dan persentasi. Adapun indikator keberhasilan PTK ini adalah siswa dapat mencapai ketuntasan belajar secara individu apabila mencapai skor nilai ≥ 80 dan dapat mencapai ketuntasan klasikal ≥ 80% dari seluruh siswa mendapat skor nilai ≥ 80 serta aktivitas guru mencapai kategori “sangat baik” dan aktivitas siswa mencapai kategori

“sangat aktif”.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas guru siklus I memperoleh skor 42 meningkat pada siklus II menjadi 48. Aktivitas siswa pada siklus I dari 26,47%, meningkat pada siklus II menjadi 100%. Hasil belajar siswa pada siklus I ketuntasan klasikalnya hanya 47,10% meningkat pada siklus II menjadi 100%.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin meningkat dan hipotesis dapat diterima. Disarankan kepada guru agar menggunakan model- model pembelajaran dalam mengajar untuk meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal.

(7)

KATA PENGANTAR Bismillaahhirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil ’alamin, segala puji bagi Allah karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya jualah, penulisan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Inquiry Learning dalam Bentuk Model Monopoli Pintar untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin” ini dapat terselesaikan dengan baik.

Shalawat serta salam tidak lupa dihaturkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad Saw, beserta sahabat, kerabat, dan pengikut beliau illa yaumil qiyamah.

Dalam pelaksanaan penulisan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, penulis telah mendapat bantuan, bimbingan, pengarahan, pembinaan, dan dukungan serta dorongan dari berbagai pihak sehingga penulisan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat diselesaikan tepat waktu. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ketua Program PG-PSD Bapak Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D. yang telah memberikan dukungan dan izin penelitian hingga penulisan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas ini terselesaikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya khususnya kepada Kepala SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin serta Guru Kelas 5B yang telah bekerjasama dan bersedia memberikan saran dan bimbingan dalam menyelesaikan penulisan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini.

(8)

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada yang terhormat : 1. Bapak Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. selaku Rektor Universitas

Lambung Mangkurat Banjarmasin,

2. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Wahyu, MS. selaku Dekan FKIP Universitas Lambung Mangkurat,

3. Bapak Drs. H. Zulkipli, M.Pd. selaku Ketua Program Studi PGSD Banjarmasin, Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, segala kekurangan yang terdapat di dalamnya merupakan refleksi dari berbagai keterbatasan penulis. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tema yang sama dimasa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan juga bagi semua insan pendidik dalam meningkatkan profesionalitas dan peningkatan kualitas pendidikan dimasa yang akan datang.

Banjarmasin, Juli 2016 Peneliti,

Dr. Hj. Asniwati, S.Pd., M.Pd.

NIDN 0017125206

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...i

HALAMAN PENGESAHAN...ii

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM...iii

RINGKASAN...v

ABSTRAK...vi

KATA PENGANTAR...vii

DAFTAR ISI...ix

DAFTAR TABEL...xii

DAFTAR GAMBAR...xv

DAFTAR LAMPIRAN...xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Luaran yang Dihasilkan D. Tujuan Penelitian

E. Kontribusi Hasil Penelitian

1 1 4 4 6 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

8 8

(10)

1. Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

2. Konsep Model Pembelajaran Inquiry Learning, dalam Monopoli Pintar

3. Model Pembelajaran Monopoli Pintar

4. Produk model pembelajaran pengembangan Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar

5. Penelitian yang Relevan B. Hipotesis

8 10

12 17

18 19 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian B. Setting atau Lokasi Penelitian C. Faktor yang diteliti

D. Data dan Cara Pengambilan Data E. Indikator Keberhasilan

20 20 21 22 24 27 BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN TEMUAN

A. Deskripsi Seting Penelitian B. Pelaksanaan Tindakan Kelas

1. Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus I 2. Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus II C. Analisis Hasil Penelitian

28 28 31 31 93 143

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 1. Aktivitas Guru

148 148

(11)

3. Hasil Belajar BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

160 165 165 165

REFERENSI 167

LAMPIRAN 169

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Rentang Skor Pengamatan Aktivitas Guru...26

3.2 Rentang Skor Pengamatan Aktivitas siswa...26

4.1 Jadwal Penelitian Tindakan Kelas Siklus I...31

4.2 Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan 1...39

4.3 Persentase Setiap Aspek Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan 1...41

4.4 Hasil Aktivitas Siswa Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I Pertemuan 1 Secara Klasikal...42

4.5 Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus I Pertemuan 1...44

4.6 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 1...45

4.7 Akumulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I Pertemuan 1...46

4.8 Analisis Hasil Tes Akhir Pertemuan 1 Siklus I pada Setiap Butir Soal...49

4.9 Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan 2...68

4.10 Persentase Setiap Aspek Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan 2...70 4.11 Hasil Aktivitas Siswa Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I Pertemuan 2 Secara

(13)

4.12 Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus I Pertemuan 2...72

4.13 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 2...73

4.14 Akumulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I Pertemuan 1...75

4.15 Analisis Hasil Tes Akhir Pertemuan 2 Siklus I pada Setiap Butir Soal...77

4.16. Hasil Tes Akhir Siklus I...86

4.17. Rekapitulasi Hasil Tes Akhir Siklus I Secara Klasikal...87

4.18. Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus I...88

4.19. Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Siklus I...89

4. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus I...91

4.20 Jadwal Penelitian Tindakan Kelas Siklus I...93

4.21 Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Pembelajaran Siklus II Pertemuan 1....101

4.22 Persentase Setiap Aspek Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus II Pertemuan 1...102

4.23 Hasil Aktivitas Siswa Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II Pertemuan 1 Secara Klasikal...103

4.24 Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus II Pertemuan 1...104

4.25 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 1...105

4.26 Akumulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II Pertemuan 1...107

4.27 Analisis Hasil Tes Akhir Pertemuan 2 Siklus I pada Setiap Butir Soal...109

(14)

4.28 Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Pembelajaran Siklus II Pertemuan 2....125

4.29 Persentase Setiap Aspek Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus II Pertemuan 2...126

4.30 Hasil Aktivitas Siswa Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II Pertemuan 2 Secara Klasikal...127

4.31 Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus II Pertemuan 2...128

4.32 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 2...129

4.33 Akumulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II Pertemuan 1...130

4.34 Analisis Hasil Tes Akhir Pertemuan 2 Siklus II pada Setiap Butir Soal...132

4.35. Hasil Tes Akhir Siklus II...137

4.36. Rekapitulasi Hasil Tes Akhir Siklus II...138

4.37. Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus II...139

4.38. Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Siklus II...140

4.39. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus II...141

4.40. Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus I dan II...143

4.41. Persentase Klasikal Aktivitas Siswa pada Kategori SangatAktif dalam Pembelajaran Siklus I dan II...144

4.42. Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan II...146

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1 Grafik Akivitas Siswa Siklus I Pertemuan 1...42

4.2 Grafik Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus I Pertemuan 1...44

4.3 Grafik Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 1...47

4.4 Grafik Akivitas Siswa Siklus I Pertemuan 2...71

4.5 Grafik Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus I Pertemuan 2...73

4.6 Grafik Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 2...76

4.7 Grafik Hasil Tes Akhir Siklus I...87

4.8 Grafik Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus I...89

4.9 Grafik Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Siklus I...91

4.10 Grafik Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus II Pertemuan 1...105

4.11 Grafik Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 1...108

4.12 Grafik Nilai Hasil Kerja Kelompok Siklus II Pertemuan 2...128

4.13 Grafik Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 2...131

4.14 Grafik Hasil Tes Akhir Siklus II...138

4.15 Grafik Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus II...140

4.16 Grafik Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Siklus II...141

(16)

4.17 Grafik Perbandingan Skor Aktivitas Guru Siklus I dan II...144 4.18 Grafik Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Siklus I dan II...145 4.19 Grafik Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan II...147

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Lembar Observasi Aktivitas Guru...169

2. Rubrik Penilaian Observasi Aktivitas Guru...171

3. Hasil Observasi Guru Siklus I Pertemuan 1...176

4. Hasil Observasi Guru Siklus I Pertemuan 2...177

5. Hasil Observasi Guru Siklus II Pertemuan 1...178

6. Hasil Observasi Guru Siklus II Pertemuan 2...179

7. Lembar Observasi Aktivitas Siswa...180

8. Rubrik Penilaian Aktivitas Siswa...182

9. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 1...186

10. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 2...188

11. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 1...190

12. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 2...192

13. Daftar Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 1...194

14. Daftar Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 2...200

15. Daftar Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 1...208

16. Daftar Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 2...216

17. Foto-foto Pelaksanaan Tindakan Penelitian...224

18. Biodata peneliti...227

(18)
(19)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kurikulum 2013 sebetulnya bukanlah kurikulum baru di dunia, kurikulum seperti ini sudah diterapkan di Finlandia, Jerman dan Prancis. Bentuk kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar menggunakan sistem tematik integratif dengan menekankan pendekatan scientific dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. (Husamah dan Yanur, 2013:19)

“Cara belajar siswa di dalam kurikulum 2013 juga berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Siswa dituntut lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah” (Kurniasih dan Berlin, 2014:40). Terlihat secara nyata bahwa siswa tidak lagi hanya berkutat pada sistem kooperatif yang menekankan pada karakter musyawarah dan tutor sebaya. Tetapi lebih kompleks lagi, siswa dituntut memiliki sikap ilmiah layaknya seorang ilmuan dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dan disajikan dalam proses pembelajaran yang dikenal sebagai pendekatan saintifik.

Menurut Daryanto (2014:55) “Pendekatan saintifik (scientific) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titisan emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah para ilmuan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang

(20)

diobservasi, empiris dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis”.

Salah satu tema yang terdapat dalam pembelajaran kelas 5 adalah tema Ekosistem. Tema ini mengupas mengenai komponen-komponen ekosistem, hubungan manusia dengan ekosistem dan cara memelihara ekosistm agar tetap lestari.

Pembelajaran ini didominasi oleh muatan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembelajaran pada tema ini tentu memerlukan kemasan yang menarik agar siswa tertarik untuk aktif dan berpikir kritis dalam menganalisis dan mengidentifikasi berbagai informasi mengenai ekosistem dengan berbagai komponen di dalamnya.

Siswa dituntut untuk menjadi pribadi yang aktif, kreatif dan mampu berpikir kritis di dalam proses pembelajaran. Dari tema ini, maka terlihat jelas keterampilan yang harus dipakai oleh siswa sepenuhnya menerapkan pendekatan scientific, yakni dimulai dari mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar dan mencipta. Keterampilan ini akan dimiliki oleh siswa jika dalam proses pembelajaran siswa bersedia untuk aktif menggali informasi sebanyak-banyaknya. Untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, tentunya harus dilaksanakan pembelajaran yang kreatif, menarik dan menyenangkan.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan hal berbeda. Siswa yang seharusnya memiliki sikap ilmiah yang dimulai dari menggali permasalahan melalui bertanya sedetail mungkin mengenai berbagai permasalahan yang tergambar, mengidentifikasi berbagai informasi dan menemukan sendiri

(21)

masih banyak siswa yang masih belum terlatih dalam menggali informasi melalui pertanyaan, masih terpaku pada kebiasaan lama yakni hanya mengandalkan informasi yang tersedia di buku dan hanya menunggu arahan dari guru dalam memecahkan masalah, walaupun beberapa siswa telah menunjukkan sikap ilmiah yang memuaskan di tahun kedua pelaksanaan kurikulum 2013 ini. Hal seperti ini menunjukkan bahwa implementasi kurikulum 2013 di tingkat sekolah belum dapat dikategorikan maksimal dan berhasil seutuhnya.

Berdasarkan wawancara dengan guru kelas dan hasil observasi pada bulan Januari 2016 dikelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin, aktifitas siswa di dalam kelas memang telah menerapkan pendekatan scientifik, namun tanpa diselingi dengan pemakaian model pembelajaran yang dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, hal ini berdampak pada jumlah siswa yang aktif dapat ditaksir hanya sekitar 30% dari jumlah siswa yang ada di dalam kelas.

Sedangkan sisanya belum menunjukkan partisipasi yang mendalam. Menurut penjelasan guru, sebagian siswa yang aktif tersebut memang mempunyai antusias yang tinggi terhadap proses pembelajaran, mereka mempunyai inisiatif sendiri dalam menentukan solusi dalam setiap permasalah yang di dalam kegiatan pembelajaran. Namun menurut penuturan beliau, guru masih belum terlalu mahir dalam menguasai penerapan kurikulum 2013, sehingga pengembangan potensi siswa yang telah memiliki kemampuan lebih dan kreatif dalam memecahkan masalah belum terlalu banyak perhatian. Begitulah penuturan dari Ibu Raidah, S.Pd. guru kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin.

(22)

Smentara itu, hasil belajar secara keseluruhan yang diteliti melalui prolehan nilai ulangan tema 1 pada semester 1 tahun ajaran 2014/2015, hasil belajar siswa kelas 5 di SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin kurang memuaskan, yaitu nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 55 dan diperoleh presentasi sebesar 88,23% tidak memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada tiap tema yang seharusnya kriteria ketuntasan minimalnya adalah 75 dan hanya 21,77% siswa yang tuntas sebelum diadakan remidial. Berlanjut ke tema 2 perolehan nilai rata-rata setiap siswa adalah 65 dan presentasi perolehan nilai siswa adalah 76,26% belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal dan hanya 23,74% siswa yang tuntas sebelum diadakan remedial. (sumber : penilaian guru kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin).

Beberapa penyebab rendahnya nilai ulangan bagi siswa sebagian besar siswa belum mempunyai antusias untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya, siswa cenderung menunggu teman yang memiliki kemampuan lebih, sebagian besar siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran yang berdampak pada siswa yang kurang memahami langkah demi langkah pemecahan setiap permasalahan yang tersedia.

Apabila hal ini terus dibiarkan maka akan berdampak bagi siswa itu sendiri, pembelajaran yang masih terpaku pada gaya lama ataupun proses pembelajaran yang hanya menerapkan langkah-langkah pembelajaran yang umum dan tersedia di buku guru atau bahkan tanpa pendekatan sama sekali, akan membuat siswa terlatih untuk hanya menunggu informasi dari guru dan siswa-siswa yang aktif tanpa dibiasakan untuk menganalisis, mengidentifikasi dan menggali permasalahan lebih mendalam

(23)

scientific yang diharapkan dalam kurikulum 2013. Dengan kebiasaan seperti ini yang terus dipertahankan, maka implementasi kurikulum 2013 tidak akan berjalan maksimal.

Memang tidak mudah dalam mengubah paradigma yang sudah membudaya, tetapi jika tidak dimulai dengan inovasi sedini mungkin maka mustahil perubahan kurikulum lama ke kurikulum 2013 akan berjalan maksimal. Terlebih lagi akan berdampak pada mutu pendidikan di Indonesia yang terus mengalami penurunan karena memiliki sumber daya manusia (SDM) yang rendah dan tidak mampu bersaing dengan negara lain.

Dalam setiap situasi selalu ada jalan keluar untuk sebuah solusi yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang kita hadapi di atas. Caranya adalah menggunakan strategi

pembelajaran yang dapat mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar dan berkomunikasi di antara siswa yang lain serta memberikan celah seluas-luasnya bagi siswa untuk

mengembangkan kreatifitas dan budaya berpikir kritis dalam

memecahkan masalah, dimulai dari hal terkecil yakni menganalisis masalah ringan hingga sampai pada mengidentifikasi, mencari dan menganalisis permasalahan dan memberikan solusi terbaik untuk suatu permasalahan yang diberikan. Dengan demikan, peneliti mencoba memecahkan permasalahan tersebut melalui penelitian tindakan kelas dengan judul : “Pengembangan Model

Pembelajaran Inquiry Learning dalam Bentuk Model Monopoli Pintar untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin

B. Rumusan Masalah

(24)

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini dapat dirumuskan dengan permasalahn sebgai berikut:

1. Bagaimana aktivitas guru dalam meningkatkan hasil belajar menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin?

2. Bagaimana aktivitas siswa pada saat melaksanaan pembelajaran dalam tema ekosistem menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin?

3. Apakah terdapat peningkatan hasil belajar dalam tema ekosistem menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin?

C. Luaran yang Dihasilkan

Dalam penelitian ini, peneliti merancang sebuah tindakan perbaikan proses pembelajaran dengan menghasilkan model pembelajaran baru yang merupakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar.

Target luaran yang diharapkan adalah terciptanya efektivitas proses pembelajaran serta memaksimalkan keterlaksanaan tuntutan pembelajaran dalam kurikulum 2013. Model pembelajaran gabungan yang dirancang oleh peneliti ini

(25)

merupakan perpaduan yang kompleks dari seluruh tuntutan pembelajaran yang harus dilaksanakan didalam kurikulum 2013.

Peneliti memberikan rancangan langkah pembelajaran yang dapat diterapkan disetiap proses pembelajaran dengan berbagai pertimbangan isi proses pembelajaran yang akan memberikan pengalaman pembelajaran bermakna bagi peserta didik.

Langkah – langkah kombinasi model pembelajaran pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar adalah sebagai berikut :

1. Guru menunjukkan gambar yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, kemudian meminta siswa untuk mengamati gambar tersebut dengan seksama. (Langkah mengamati dalam pembelajaran scientific).

2. Orientasi, membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif dengan meminta siswa untuk melontarkan pertanyaan dari gambar yang di tayangkan di depan kelas, kegiatan ini merupakan tanya jawab rebutan sebelum memasuki materi pelajaran. (Langkah orientasi dalam inquiry).

3. Membagi siswa ke dalam kelompok dengan jumlah anggota 4-5 orang. Merumuskan masalah, membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. (Langkah merumuskan masalah dalam Inquiry).

4. Merumuskan hipotesis, mengajak siswa merumuskan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji.

(Langkah merumuskan hipotesis dalam Inquiry).

(26)

5. Melakukan kegiatan yang melibatkan indera, gerak dan melibatkan fisik. Kegiatan ini diisi dengan mengilustrasikan peristiwa yang berkaitan dengan materi pelajaran dengan melibatkan siswa sebagai pelaku utama di dalamnya.

(Langkah mencoba dalam pembelajaran scientific).

6. Melakukan kegiatan yang melibatkan siswa dalam penggunaan media pembelajaran, dan lain-lain. Kegiatan ini akan diisi dengan melakukan pendalaman materi dalam bentuk kegiatan bermain monopoli pintar (Langkah monopoli pintar dan langkah mencoba dalam pembelajaran scientific).

7. Mengumpulkan data, melakukan aktivitas monopoli pintar untuk menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan berdasarkan lembar kerja kelompok yang tersedia. (Langkah monopoli pintar dan pengumpulan data pada Inquiry).

8. Menguji hipotesis, menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data dan dituangkan ke dalam lembar jawaban LKS. (Langkah pengujian hipotesis pada Inquiry dan langkah menalar dalam pembelajaran scientific).

9. Merumuskan kesimpulan dan presentasi, mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan mempresentasikannya di depan kelas.

(Langkah mengomunikasikan dalam pembelajaran scientific).

Jika langkah pembelajaran ini dapat diimplementasikan di sekolah dasar, pelaksanaan kurikulum 2013 dengan tuntutan pendekatan saintifiknya akan

(27)

dasar terlebih dahulu dengan target jangka panjang dapat dilaksanakan diseluruh sekolah dasar di kota Banjarmasin.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan aktivitas guru dalam meningkatkan hasil belajar menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin.

2. Meningkatkan aktivitas siswa pada saat melaksanaan pembelajaran menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin.

3. Meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk model Monopoli Pintar pada siswa kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin.

E. Kontribusi Hasil Penelitian

Kontribusi dari hasil penelitian ini adalah:

1. Hasil penelitian ini dapat memberikan referensi tentang teknik melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menjadi bahan masukan bagi guru untuk menggunakan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

(28)

2. Penelitian ini diharapkan mampu memperbaiki gaya belajar siswa, serta membantu para siswa mengembangkan sikap ilmiah dalam tuntutan kurikulum 2013 melalui metode dan model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti.

3. Semoga menjadi materi dalam memberikan pelatihan kepada guru-guru dalam melakukan pengembangan profesi berkaitan dengan peningkatan kemampuan merancang proses pembelajaran yang inovatif.

(29)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

1. Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013 a. Pengertian Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik berkaitan erat dengan metode saintifik. Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau mengumpulkan data. Metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh sebab itu, kegiatan percobaan dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari berbagai sumber. (Abdullah, 2014:51).

Pendekatan saintifik (scientific) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Karena itu kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titisan emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan dan pengetahuan peserta didik.

Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang diobservasi, empiris dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.

Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.

(Daryanto, 2014:55).

b. Tahap-Tahap Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

(30)

Tahapan aktivitas belajar yang dilakukan dengan pembelajaran saintifik tidak harus dilakukan dengan prosedur yang kaku, namun dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang hendak dipelajari. Pada suatu pembelajaran mungkin dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum memunculkan pertanyaan, namun pada pelajaran yang lain mungkin siswa mengajukan pertanyaan terlebih dahulu sebelum melakukan ksperimen dan observasi. Aktivitas membangun jaringan juga mungkin dilakukan dalam upaya melakukan eksperimen atau juga mungkin dibutuhkan ketika siswa mendesiminasikan hasil eksperimen. (Abdullah, 2014:54).

(31)

Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:

1. Melakukan Pengamatan (Observasi)

Observasi adalah menggunakan panca indera untuk memperoleh informasi. Sebuah benda dapat diobservasi untuk mengetahui karakteristiknya, misalnya : warna, bentuk, sushu, volume, berat, bau, suara dan teksturnya. Benda dapat menunjukkan karakteristik yang berbeda jika dikenai pengaruh lingkungan. Perilaku manusia juga dapat diobservasi untuk mengetahui sifat, kebiasaan, respons, pendapat dan karakteristik lainnya. Pengamatan dapat dilakukan secara kualitatid atau kuantitatif. Pengamatan kualitatif mengandalkan panca indera dan hasilnya dideskripsikan secara naratif.

Sementara itu, pengamatan kuantitatif untuk melihat karakteristik benda pada umumnya menggunakan alat ukur karena dideskripsikan menggunakan angka. Pengamatan kuantitatif untuk melihat perilaku manusia atau hewan dilakukan dengan menggunakan hitungan banyaknya kejadian. (Abdullah, 2014:55).

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. (Daryanto, 2014:60).

2. Menanya

Kegiatan “menyanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai pada pertanyaan yang

(32)

bersifat hipotetik). “Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat”. (Daryanto, 2014:65)

3. Melakukan Eksperimen/Percobaan atau Memperoleh Informasi Menurut Abdullah dan Hayati (2014:62) “belajar dengan menggunakan pendekatan ilmiah akan melibatkan siswa dalam melakukan aktivitas menyelidiki fenomena dalam upaya menjawab suatu permasalahan. Guru juga dapat menugaskan siwa untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber…Guru perlu mengarahkan siswa dalam merencanakan aktivitas, melaksanakan aktivitas, dan melaporkan aktivitas yang telah dilakukan”.

Metode utama yang digunakan dalam membantu siswa melaksanakan kegiatan penyelidikan adalah dengan mengajukan pertanyaan. Pada tahap akhir guru perlu melakukan koordinasi agar siswa dapat menyampaikan hasil penyelidikannya kepada teman atau kelompok lain. Pada tahap ini tindakan guru adalah :

a. Mendorong siswa untuk berbagi hasil penyelidikan

b. Berdiskusi dengan siswa atau men garahkan mereka dalam membuat kesimpulan atau “menemukan” konsep.

(Abdullah dan Hayati, 2014:63) 4.Mengasosiasikan/Menalar

Menurut Daryanto (2014:75), aplikasi pemgembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

 Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntunan kurikulum.

 Guru tidak banyak menggunakan metode ceramah atau metode kuliah.

Tugas utama guru adalah memberi intruksi singkat dan jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.

 Bahan pembelajaran disusun berjenjang atau hirerarkis, dimulai dari yang

(33)

 Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.

 Setiap kesalahan harus segera berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.

 Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki.

 Perlu dilakukan pengulangan dan pelatihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.

 Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.

 Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.

5. Mengomunikasikan

Pada pendekatan saitifik guru diharapkan memberi kesempatan peserta didik untuk mengomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. “Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar” (Daryanto, 2014:80).

2. Konsep Model Pembelajaran Inquiry Learning, dan Monopoli Pintar a. Konsep inkuiri

Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara- cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu (Herdian 2010:1).

Menurut Suriansyah, dkk (2014:115) “Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.

Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri”.

(34)

Menurut Sanjaya (2012:196) “model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa”.

b. Keunggulan Model Pembelajaran Inkuiri

1. Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap lebih bermakna.

2. Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.

3. Dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.

4. Inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

5. Pengajaran berubah dari teacher centered menjadi student centered.

6. Guru lebih banyak bersifat membimbing.

7. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri siswa.

8. Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.

9. Menghindarkan cara belajar menghafal. (Sanjaya, 2008:208)

c. Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri

1. Inkuiri sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.

2. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.

3. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model inkuiri akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru

(35)

4. Dalam pelaksanaannya memerlukan penyediaan sumber belajar dan fasilitas yang memadai yang tidak selalu tersedia.

5. Tidak efisien khususnya untuk mengajar siswa dalam jumlah besar, sedangkan jumlah guru terbatas. (Sanjaya, 2010:208).

.

3. Model Pembelajaran Monopoli Pintar A. Konsep Model Pembelajaran Monopoli Pintar

a. Inquiry Learning Sebagai Landasan Pengembangan Model Monopoli Pintar

Sesuai periode perkembangan anak usia sekolah dasar yang suka bermain, sebagai pendidik seharusnya mampu mengembangkan berbagai macam model pembelajaran yang mampu membawa dunia peserta didik tersebut kedalam dunia pendidikan dan di dalam proses pembelajaran di sekolah, Menurut Bobby De Porter (Aris Shoimin, 2014:139) :“Inquiry learning adalah konsep yang menguraikan cara- cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat

pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan”.

Inquiry learning adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Inquiry learning juga menyertakan segala kaitan antara, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Inquiry learning berfokus pada hubungan dinamis pada lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Inquiry learning berisi prinsip-prinsip sistem

perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif. Dalam praktik Inquiry learning bersandar pada asas utama “bawalah dunia mereka kedalam dunia kita, dan antarkan dunia kita kedalam dunia mereka”. Setiap bentuk interaksi dengan pembelajar, setiap rancangan

(36)

kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun prinsip utama tersebut.

Berdasarkan dari konsep-konsep Inquiry learning dapat dikembangkan sebuah model pembelajaran yang bersifat interaktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan, yakni model pembelajaran Monopoli Pintar.

b. Konsep Model Monopoli Pintar

Model pembelajaran Monopoli Pintar merupakan salah satu alternatif kegiatan pembelajaran yang berbeda bagi anak usia sekolah dasar untuk memaksimalkan pemberian pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa. Selain itu, model ini juga berisi pengembangan dan penerapan nilai-nilai karakter untuk anak usia sekolah dasar.

Model Monopoli Pintar adalah salah satu jenis permainan papan dan merupakan hasil modifikasi dari permainan monopoli yang biasanya dimainkan anak-anak. Pada dasarnya model ini memiliki peraturan-peraturan atau tata cara permainan yang sama, namun terdapat modifikasi pada bagian tertentu, yaitu pada bagian berikut ini.

1) Tujuan Permainan

Pada permainan monopoli biasa, tujuannya adalah untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya dengan cara membeli petak-petak di atas papan melalui pembelian,

penyewaan, dan pertukaran properti. Pada model pembelajaran monopoli pintar, peserta didik dibimbing untuk bersaing

mengumpulkan petak-petak yang berisi nilai-nilai karakter baik dengan cara menjawab berbagai soal. Sehingga tujuan pada model pembelajaran monopoli pintar ini peserta didik mampu

menerapkan nilai-nilai karakter yang terdapat pada petak permainan serta pengembangan pengetahuan dengan menjawab

(37)

buruk yang jika menempati petak tersebut tim harus mengucapkan janji untuk tidak melakukan karakter yang ada pada petak. Untuk mengetahui pemenang dari permainan model pembelajaran monopoli pintar ini, tim atau peserta didik mengumpulkan

sebanyak mungkin petak dan bintang, bintang diperoleh dari kartu Sumber Ilmu dan Taman Belajar.

2) Alat Pembayaran

Dalam model pembelajaran monopoli pintar alat pembayaran yang digunakan berupa sebuah pertanyaan yang terdapat di balik petak yang ingin dimiliki atau dibeli.

3) Kartu Dana Umum dan Kesempatan

Kartu dana umum dan kesempatan pada permainan monopoli berisi hadiah, hukuman, perintah, dan lain-lain.

Sedangkan pada model pembelajaran Monopoli Pintar kartu Dana Umum dan Kesempatan dimodifikasi menjadi Sumber Ilmu dan Taman Belajar. Sumber Ilmu berisi tentang pengetahuan-

pengetahuan umum, kemudian untuk Taman Balajar berisi tentang penjelasan sebuah karakter dan peserta didik diminta memberikan contoh atau aplikasi karakter yang disebutkan tadi yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

B. Implementasi Model Monopoli Pintar dalam Proses Pembelajaran

Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif.

Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Dalam interaksi pembelajaran unsur pendidik dan peserta didik harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi apabila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan.

Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan Model Monopoli Pintar, peserta didik harus lebih aktif daripada pendidik. Pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Aktif tidaknya peserta didik dalam belajar tentunya diawali dengan timbulnya rasa ketertarikan

(38)

dan minat peserta didik itu sendiri dalam mengikuti pelajaran,

ketercapaian tujuan dalam proses belajar mengajar adalah bukan dilihat dari terpenuhinya target materi yang harus diberikan, melainkan pada seberapa besar anak merasa tertarik untuk mengetahui dan memahami dari materi tersebut.

Dalam proses pembelajaran model Monopoli Pintar terdapat 3 tahap pelaksanaan sebagi berikut.

a. Tahap Persiapan

1) Guru membagi siswa menjadi beberapa tim dengan jumlah anggota dalam satu tim berkisar antara 3-4 orang.

2) Guru bersama peserta didik menyiapkan dan menata posisi papan monopoli sedemikian rupa sehingga semua tim dapat dengan mudah melakukan permainan.

3) Guru menyampaikan peraturan permainan.

4) Guru membagikan 10 bintang kepada setiap tim sebagai modal awal dalam melakukan permainan.

b. Pelaksanaan

1) Tim melempar dadu untuk menentukan giliran bermain.

2) Masing-masing tim bermain berurutan sesuai giliran yang sudah ada, kemudian melangkahkan bidaknya sesuai angka dadu yang diperoleh dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

(a) Jika bidak (sebut saja bidak 1) menempati petak karakter baik, tim A harus membeli petak tersebut dengan cara menjawab pertanyaan yang ada di balik kartu kepemilikan petak. Tim A diberi waktu menjawab maksimal 1 menit dan jika lebih dari itu, pertanyaan dilempar kepada tim yang maju berikutnya (tim B). Apabila tim B dapat menjawab pertanyaan, maka tim A harus menyerahkan satu bintang kepada tim B dan petak gagal dimiliki oleh tim A. Apabila tim berhasil menjawab pertanyaan, maka semua peserta didik

(39)

ucapan Hore!, tepuk tangan, dan ucapan selamat sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.

(b) Jika bidak menempati petak karakter buruk, tim pemilik bidak harus mengucapkan janji secara serentak untuk tidak melakukan karakter yang ada pada petak. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan agar peserta didik menjauhi setiap karakter buruk. Sehingga apabila peserta didik menemui karakter tersebut di kehidupan sehari-hari peserta didik mampu bersikap menghadapinya.

(c) Jika bidak menempati petak Sumber Ilmu ataupun Taman Belajar, maka tim pemilik bidak harus menjawab pertanyaan yang ada di balik kartu tersebut. Apabila tim dapat menjawab, mereka berhak mendapat satu bintang sebagai hadiah dari guru.

c. Penutup

Pelaksanaan model ini ditutup dengan pengumuman tim pemenang berdasarkan jumlah petak dan bintang yang berhasil dikumpulkan oleh masing-masing tim. Kemudian, pendidik

memberikan arahan, masukan, dan bimbingan kepada peserta didik mengenai nilai-nilai yang didapat dari proses pembelajaran model Monopoli Pintar.

Pendidik meminta peserta didik untuk menjabarkan nilai nilai- nilai serta karakter-karakter apa saja yang mereka dapatkan dari model pembelajaran Monopoli Pintar. Kemudian, menerapkan nilai-nilai atau karakter baik dan juga menjauhi nilai-nilai atau karakter yang buruk dalam kehidupan sehari-hari sesuai janji peserta didik pada saat proses bermain.

C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Monopoli Pintar

(40)

Seperti pada model-model pembelajaran lainnya, model pembelajaran Monopoli Pintar juga memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

a. Kelebihan Model Pembelajaran Monopoli Pintar

1) Meningkatkan keaktifan peserta didik, mengasah kecerdasan individu, kekompakan tim, strategi, dan keterampilan.

2) Membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran karena proses pembelajaran dibungkus dalam sebuah permainan sehingga proses pembelajaran menjadi sangat menyenangkan.

3) Meningkatkan interaksi sosial, menumbuhkan kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota dalam kelompoknya maupun kepada kelompok lain. Hal ini tentunya sangat berdampak positif bagi tumbuh kembang peserta didik di kehidupan sehari-hari.

4) Mengedepankan penanaman nilai-nilai karakter yang diharapkan oleh tujuan pendidikan nasional.

5) Merangsang peserta didik untuk aktif mengamati dan menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan dapat mencoba melakukannya sendiri.

b. Kekurangan Model Pembelajaran Monopoli Pintar 1) Peserta didik cenderung terfokus pada permainan.

2) Dalam model ini ada perayaan berupa teriakan “Hore!”, tepuk tangan, dan bentuk apresiasi lainnya yang dapat mengganggu kelas lain.

3) Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang dan membutuhkan waktu yang cukup banyak.

4) Ketergantungan model ini terhadap media Papan Monopoli.

(41)

4. Produk model pembelajaran pengembangan Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar

1. Guru menunjukkan gambar yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, kemudian meminta siswa untuk mengamati gambar tersebut dengan seksama. (Langkah mengamati dalam pembelajaran scientific).

2. Orientasi, membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif dengan meminta siswa untuk melontarkan pertanyaan dari gambar yang di tayangkan di depan kelas, kegiatan ini merupakan tanya jawab rebutan sebelum memasuki materi pelajaran. (Langkah orientasi dalam inquiry).

3. Membagi siswa ke dalam kelompok dengan jumlah anggota 4-5 orang. Merumuskan masalah, membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. (Langkah merumuskan masalah dalam Inquiry).

4. Merumuskan hipotesis, mengajak siswa merumuskan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji.

(Langkah merumuskan hipotesis dalam Inquiry).

5. Melakukan kegiatan yang melibatkan indera, gerak dan melibatkan fisik. Kegiatan ini diisi dengan mengilustrasikan peristiwa yang berkaitan dengan materi pelajaran dengan melibatkan siswa sebagai pelaku utama di dalamnya.

(Langkah mencoba dalam pembelajaran scientific).

6. Melakukan kegiatan yang melibatkan siswa dalam penggunaan media pembelajaran, dan lain-lain. Kegiatan ini

(42)

akan diisi dengan melakukan pendalaman materi dalam bentuk kegiatan bermain monopoli pintar (Langkah monopoli pintar dan langkah mencoba dalam pembelajaran scientific).

7. Mengumpulkan data, melakukan aktivitas monopoli pintar untuk menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan berdasarkan lembar kerja kelompok yang tersedia. (Langkah monopoli pintar dan pengumpulan data pada Inquiry).

8. Menguji hipotesis, menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data dan dituangkan ke dalam lembar jawaban LKS. (Langkah pengujian hipotesis pada Inquiry dan langkah menalar dalam pembelajaran scientific).

9. Merumuskan kesimpulan dan presentasi, mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan mempresentasikannya di depan kelas.

(Langkah mengomunikasikan dalam pembelajaran scientific).

5. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian Israiyah (2014) dengan judul Meningkatkan hasil belajar tentang konsep energi panas melalui model pembelajaran inkuiri pada siswa kelas IV SDN Anjir Serapat Baru 2 Kecamatan Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penggunaan model pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hal ini terbukti dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I

(43)

klasikal 33,33%. Sedangkan nilai rata-rata pada prtemuan 2 meningkat menjadi 60,5 dengan persentase ketuntasan klasikal 50%. Berlanjut ke siklus II pertemuan 1 perolehan nilai rata-rata yang dcapai adalah 76 dengan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh mencapai 72,23% dan pada pertemuan 2 nilai rata-rata yang diperoleh adalah 84,44 dan telah mencapai persentase ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 100%.

2. Penelitian Aswaturraihan (2014) dengan judul Meningkatkan hasil belaja konsep energi panas dan energi bunyi melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan modifikasi media visual pada siswa kelas IV Semester II SDN Babirik Hilir 2 Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penggunaan model pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I pertemuan 1 mencapai 68 dengan persentase ketuntasan klasikal 55%. Sedangkan nilai rata-rata pada prtemuan 2 meningkat menjadi 67,5 dengan persentase ketuntasan klasikal 60%. Berlanjut ke siklus II pertemuan 1 perolehan nilai rata-rata yang dcapai adalah 76 dengan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh mencapai 85% dan pada pertemuan 2 nilai rata-rata yang diperoleh adalah 83 dan telah mencapai persentase ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 95%.

3. Penelitian Zaitun Nupus (2014) dengan judul Meningkatkan hasil belajar IPA pada materi konsep pembentukan tanah melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing di kelas V SDN SN Antasan Besar 7 Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penggunaan model pembelajaran

(44)

Inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I pertemuan 1 mencapai 65 dengan persentase ketuntasan klasikal 61,29%. Sedangkan nilai rata-rata pada prtemuan 2 meningkat menjadi 70 dengan persentase ketuntasan klasikal 67,74%. Berlanjut ke siklus II pertemuan 1 perolehan nilai rata-rata yang dcapai adalah 80 dengan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh mencapai 77,42% dan pada pertemuan 2 nilai rata-rata yang diperoleh adalah 90 dan telah mencapai persentase ketuntasan klasikal yang diharapkan yaitu 90%.

B. Hipotesis

Berdasarkan uraian teori di atas, maka hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : ”Dengan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar maka aktivitas dan hasil belajar siswa Kelas 5B SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin akan meningkat”.

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Sukmadinata (2010:60), penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Beberapa deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada penyimpulan.

Penelitian kualitatif melakukan penelitian dalam skala kecil, kelompok yang memiliki kekhususan, keunggulan, inovasi atau juga bermasalah. Kelompok yang diteliti merupakan satuan sosial-budaya yang saling berinteraksi secara individual atau kelompok. Kadang-kadang kelompok yang diteliti adalah sub kelompok yang memiliki kelainan atau perbedaan dengan kelompok besarnya, kelas yang lambat, mata pelajaran yang tidak disukai siswa atau prestasi belajarnya yang rendah (Sukmadinata, 2010:99).

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu upaya untuk mencermati kegiatan belajar sekelompok peserta didik dengan memberikan sebuah tindakan (treatment) yang sengaja dimunculkan. Tindakan tersebut dilakukan oleh guru, oleh guru bersama-sama peserta didik, atau oleh peserta didik dibawah bimbingan dan arahan guru, dengan maksud untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran (Mulyasa, 2011:11).

(46)

Ada 4 tahapan yang lazim dilalui di dalam model penelitian tindakan kelas yaitu: Tahap 1: Perencanaan (Planning)

Tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Penelitian kolaborasi ini sangat disarankan kepada para guru yang belum pernah atau masih jarang melakukan penelitian, dalam penelitian kolaborasi pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan.

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Tahap ini adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.

Tahap 3 : Pengamatan (Observing)

Tahap ini yaitu kegiatan pengamatan yang dilaksanakan oleh pengamat. Sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan yang dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.

Tahap 4 : Refleksi (Reflecting)

Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali

(47)

dilakukan ketika guru pelaksana sudah mendiskusikan implementasi rancangan tindakan (Arikunto, dkk, 2010:138).

B. Setting atau Lokasi Penelitian

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin semester II tahun ajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa 35 orang yang terdiri dari 14 orang siswa laki-laki dan 21 orang siswa perempuan.

Peneliti memilih SDN Sungai Miai 7 Banjarmasin untuk dijadikan tempat penelitian karena berdasarkan wawancara pada tanggal 13 November 2015 yang bernama Raidah, S.Pd.

yang memberikan informasi bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan konsep kurikulum 2013 di kelas V belum berjalan maksimal dengan indikator keberhasilan yang hanya berada pada kategori cukup baik. Di samping itu, berdasarkan hasil observasi peneliti aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran masih belum optimal yang dibuktikan dengan kurangnya antusias siswa untuk terlibat aktif di dalam proses pembelajaran. Hal ini merupakan akibat dari proses pembelajaran yang kurang mengundang antusias siswa karena proses pembelajaran hanya menggunakan panduan pelaksanaan pembelajaran di buku guru.

C. Faktor yang diteliti

Mengamati permasalahan di atas, maka ada beberapa faktor yang perlu diteliti, yaitu :

1. Faktor Guru

(48)

Dalam hubungannnya dengan faktor guru, dilihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar yang diterapkan guru, sehingga dalam pembelajaran anak dapat aktif dan berpartisipasi penuh dalam proses pembelajaran berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan. Aktivitas guru yang akan diamati adalah:

1. Aktivitas guru menunjukkan gambar yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, kemudian meminta siswa untuk mengamati gambar tersebut dengan seksama.

2. Aktivitas guru melakukan kegiatan orientasi, membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif dengan meminta siswa untuk melontarkan pertanyaan dari gambar yang di tayangkan di depan kelas, kegiatan ini merupakan tanya jawab rebutan sebelum memasuki materi pelajaran.

3. Aktivitas guru membagi siswa ke dalam kelompok dengan jumlah anggota 4-5 orang

4. Aktivitas guru membimbing siswa merumuskan masalah dan hipotesis, membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.

5. Aktivitas guru menyajikan kegiatan yang melibatkan indera, gerak dan melibatkan fisik. Kegiatan ini akan diisi dengan melakukan pendalaman materi dalam bentuk kegiatan bermain monopoli pintar.

6. Aktivitas guru menyajikan kegiatan yang melibatkan siswa dalam penggunaan media pembelajaran, dan lain-lain.

Kegiatan ini akan diisi dengan melakukan pendalaman materi dalam bentuk kegiatan bermain monopoli pintar

(49)

7. Aktivitas guru membimbing siswa mengumpulkan data, melalui aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan berdasarkan lembar kerja kelompok yang tersedia.

8. Aktivitas guru membimbing siswa menguji hipotesis, menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data dan dituangkan ke dalam lembar jawaban LKS.

9. Aktivitas guru membimbing siswa merumuskan kesimpulan dan presentasi, mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan mempresentasikannya di depan kelas.

2. Faktor Siswa

Dalam hubungannya dengan faktor siswa, dengan melihat dan mengamati proses pembelajaran dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, dalam kerja kelompok ataupun kinerja siswa secara individual pada saat melaksanakan pembelajaran dengan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar, apakah terjadi peningkatan atau tidak. Aktivitas siswa yang akan diamati adalah :

1. Aktivitas siswa mengamati gambar yang ditayangkan guru dengan seksama.

2. Aktivitas siswa mengajukan pertanyaan dari gambar yang ditayangkan di depan kelas

3. Aktivitas siswa memberikan masukan dalam merumuskan masalah dan merumuskan hipotesis.

4. Aktivitas siswa terlibat dalam kegiatan monopoli pintar.

(50)

5. Aktivitas siswa berdiskusi dalam kelompok untuk mengumpulkan data, menguji hipotesis dan merumuskan kesimpulan hasil percobaan.

6. Aktivitas siswa terlibat dalam mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

3. Faktor Hasil Belajar

Dalam hubungannya dengan hasil belajar, yaitu mengetahui peningkatan hasil belajar menulis karangan siswa setelah melaksanakan pembelajaran dengan pengembangan model pembelajaran Inquiry Learning dalam bentuk Monopoli Pintar pembelajaran pada tiap pertemuannya. Apakah terjadi peningkatan yang cukup signifikan.

Gambar

Tabel 4.1 Jadwal Penelitian Tindakan Kelas Siklus I No Hari/Tanggal Pertemuan
Tabel  4.2:  Observasi  Aktivitas  Guru dalam  Kegiatan  Pembelajaran  Siklus  I Pertemuan 1
Tabel   4.3   :   Persentase   Setiap   Aspek  Observasi   Aktivitas   Siswa   dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan 1
Tabel 4.4 : Hasil Aktivitas Siswa Mengikuti Pembelajaran Pada Siklus I                     Pertemuan 1 Secara Klasikal
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada siklus I berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada siswa, pengamatan kepada aktivitas siswa skor yang diperoleh dari lembar pengamatan aktivitas siswa siklus

Tabel 2 Realisasi Penjualan PT Berdikari (Persero) – Induk Semester I Tahun 2020 Tabel 3 Realisasi Penjualan PT Berdikari Logistik Indonesia Semester I Tahun 2020 Tabel 4

2. Dorongan dan kebutuhan dalam belajar. Harapan untuk mengembangkan potensi diri.. motivasi belajar siswa indikator 4 Adanya cita-cita untuk berhasildidapat skor ideal

Daftar Gambar Tabel 1 : Contoh kurikulum sekolah lapangan Tabel 2 : Matriks peran laki-laki dan perempuan Tabel 3 : Contoh formulir masalah dan solusi Tabel 4 : Formulir evaluasi

Sistematika Penulisan 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 2.1 Gunung Agung 4 2.2 Pengamatan Deformasi 5 2.3 Pengamatan Deformasi Menggunakan Survei GPS 6 2.4 Pengolahan Data GPS Menggunakan

x DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Master Tabel Hasil Penelitian 2 Penjelasan Sebelum Mengikuti Penelitian 3 Pernyataan Persetujuan Untuk Berpartisipasi Dalam Penelitian 4 Etik

xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Jadwal Penyusunan Skripsi Tahun 2019-2020 Lampiran 2 Surat surat Lampiran 3 Penjelasan Sebelum Persetujuan untuk Mengikuti Penelitian Lampiran 4

2 2021 217 Tabel 8 Hasil Pengamatan Metode Karyawisata No Aspek Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 1 Kekompakan memilih tempat tujuan wisata 80.00 % 2 Kekompakan menentukan jadwal