• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

H. Teknik Analisis Data

I. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

a. Peneliti membaca, mempelajari dan memahami studi pendehuluan dan kajian pustaka.

b. Pembuatan dan penyusunan serta uji coba instrument penelitian.

c. Pada tahap awal, kegiatan yang akan dilakukan yaitu:

1) menyusun angket kontrol diri dan angket perilaku konsumtif pada remaja muslim penggemar Bangtan Sonyeondan (BTS).

2) Uji coba skala pada remaja muslim penggemar Bangtan Sonyeondan (BTS) di Kota Lombok yang termasuk populasi, tetapi diluar sampel penelitian, agar penggemar BTS remaja muslim di Kota Mataram yang termasuk sempel penelitian tidak familiar dengan skala yang telah ada

2. Tahap pelaksanaan penelitian yakni meliputi pelaksanaan penyebaran angket.

3. Tahap terakhir peneliti menganalisis data serta menyimpulkan hasil peneliti.

49 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Kota Mataram adalah salah satu daerah di Pulau Lombok dan menjadi Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota mataram diapit oleh diantara Kabupaten Lombok Barat dan Selat Lombok. Letak geografisnya diantara 080 33` dan 080 38` Lintang Selatan dan antara 1160 04` - 1160 10` Bujur Timur. Luas wilayah Kota Mataram tersebut hanya 0,30 persen atau 61,30 Km2 dari luas provinsi Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan yaitu 20.153,15 km2, sehingga Kota Mataram menjadi koda dengan wilayah terkecil dari 10 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kota Mataram terdiri dari enam kecamatan yaitu Kecamatan Sandubaya dengan luas wilayah 10,32 Km2, Kecamatan Mataram dengan luas wilayah 10,76 Km2, Kecamatan Ampenan dengan luas wilayah 9,46 Km2, Kecamatan Selaparang dengan luas wilayah 10,77 Km2, Kecamatan Cakranegara dengan luas wilayah 9,67 Km2 dan Kecamatan Sekarbela dengan luas wilayah 10,319 Km2. Berikut selengkapnya luas masing-masing wilayah kecamatan di Kota Mataram sebagai berikut:

Tabel 4.1

Luas Wilayah Kota Mataram Menurut Kecamatan

No Kecamatan Luas (Km2) Persentase Luas Kota

1. Ampenan 9,46 15,43

2. Mataram 10,76 17,56

3 Cakranegara 9,67 15,77

4. Sandubaya 10,32 16,84

5. Sekarbela 10,319 16,84

6. Selaparang 10,77 17,56

Total 61,299 100

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Mataram 2021

50

Selanjutnya, visi dari Kota Mataram adalah terwujudnya Kota Mataram yang religius, maju dan berbudaya sebagai Pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa Tahun 2025. Dan memiliki misi antara lain: pertama, mewujudkan masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menjunjung tinggi nilai- nilai moral dan etika. Kedua, mewujudkan keberdayaan masyarakat dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum. Ketiga, mewujudkan SDM yang berkualitas dan menguasai IPTEK serta diimbangi dengan IMTAQ. Keempat, mewujudkan kemandirian dan daya saing daerah dalam menghadapi era globalisasi. Kelima, mewujudkan penyelenggaraan kepemerintahan yang baik. keenam, mewujudkan pengelolaan potensi dan sumber keuangan daerah yang efektif, efisien dan akutabel. Dan ketujuh, mewujudkan pengelolaan potensi SDA berdasarkan prinsip kelestarian lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.

Selanjutnya, berdasarkan data BPS atau badan pusat statistik tahun 2021, jumlah penduduk Kota Mataram berjumlah 432.024 jiwa dengan jumlah remaja dengan rentang usia 10-14 tahun sebesar 36.106 jiwa, usia 15-19 tahun sebesar 34.105 jiwa, dan usia 20-24 tahun sebesar 37.026 jiwa. Berikut selengkapnya jumlah penduduk tergolong remaja di Kota Mataram:

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Tergolong Remaja di Kota Mataram Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

10-14 18.646 17.460 36.106

15-19 17.318 16.787 34.105

20-24 18.859 18.167 37.026

Total 54.823 52.414 107.237

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Mataram 2021

Jumlah yang tergolong remaja di Kota Mataram 107.237 jiwa, akan tetapi dengan jumlah penduduk tersebut belum ada sensus yang menunjukkan seberapa jumlah remaja yang menyukai Korean Pop (K-Pop) di Kota Mataram. Akan tetapi kemunculan

51

base atau kelompok dari penggemar K-Pop terkhusus penggemar BTS di Kota Mataram seperti BTS Lombok, BTS ARMY Project, BTS Sunshine Project, Utopia Land dan lainnya, telah menggambarkan adanya penggemar BTS di Kota Mataram.

Terlebih lagi beberapa tempat penjualan baik online maupun offline atau tempat tongkrongan di Kota Mataram bernuansa K- Pop seperti cafe Es Kepal Mataram yang memajang viguran personil BTS, Ommo Shop Merch of BTS, Kpop Merch dan lainnya. Dengan beberapa hal yang peneliti jelaskan diatas, berarti ada kemungkinan remaja penggemar K-Pop (BTS) memiliki perilaku konsumtif.

2. Gambaran Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini merupakan penggemar Bangtan Sonyeondan (BTS) yang berdomisili atau alamat Kota Mataram sejumlah 80 partisipan. Pada bagian ini akan dibahs mengenai gambaran responden pada penelitian ini berdasarkan usia, pekerjaan, domisili, dan berdasarkan penghasilan.

a. Gambaran Responden Berdasarkan Usia

Gambaran responden berdasarkan usia dapat dilihat dari tabel dan grafik berikut:

Tabel 4.3

Distribusi Usia Responden

Usia Jumlah (N) Persentase (%)

12-15 tahun 4 5

16-18 tahun 12 15

19-22 tahun 64 80

Total 80 100

52 Gambar 4.1

Grafik Distribusi Usia Responden

Sumber : Analisis Peneliti

Berdasarkan grafik dan tabel diatas diketahui bahwa responden penelitian ini yang berusia 12-15 tahun memiliki persentase 5% atau berjumlah 4 orang. Responden yang berusia 16-18 tahun memiliki persentase 15% atau berjumlah 12 orang sedangkan responden 19-22 tahun memiliki persantese 80%

atau berjumlah 64 orang.

b. Gambaran Responden Berdasarkan Pekerjaan

Gambaran responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat dari tabel dan grafik berikut:

Tabel 4.4

Distribusi Pekerjaan Responden

Pekerjaan Jumlah (N) Persentase (%)

SMP 4 5

SMA 5 6

Kuliah 26 32

Bekerja 30 38

Tidak bekerja 15 19

Total 80 100

Sumber : Analisis Peneliti

4 12

64 0

50 100

12-15 tahun 16-19 tahun 20-22 tahun

Usia

Usia

53 Gambar 4.2

Grafik Distribusi Pekerjaan Responden

Sumber : Analisis Peneliti

Berdasarkan grafik dan tabel diatas diketahui bahwa responden penelitian ini yang SMP memiliki persentase 5% atau berjumlah 4 orang. Responden yang SMA memiliki persentase 5% atau berjumlah 5 orang. Responden yang kuliah memiliki persantese 32% atau berjumlah 26 orang. Responden yang bekerja memiliki persantese 38% atau berjumlah 30 orang.

Sedangkan Responden yang tidak bekerja memiliki persantese 19% atau berjumlah 15 orang.

c. Gambaran Responden Berdasarkan Domisili

Gambaran responden berdasarkan domisili atau alamat dapat dilihat dari tabel dan grafik berikut:

Tabel 4.5

Distribusi Domisili Responden

Domisili/alamat Jumlah (N) Persentase (%)

Ampenan 18 22

Cakranegara 11 14

Mataram 46 57

Sandubaya 3 4

Selaparang 0 0

Sekarbela 2 3

Total 80 100

Sumber : Analisis Peneliti

4 5

26 30 0 15

10 20 30 40

Pekerjaan

Pekerjaan

54 Gambar 4.3

Garafik Distribusi Domisili Responden

Sumber : Analisis Peneliti

Berdasarkan grafik dan tabel diatas diketahui bahwa responden penelitian ini yang berdomisili Ampenan memiliki persentase 22% atau berjumlah 18 orang. Responden yang berdomisili Cakranegara memiliki persentase 14% atau berjumlah 11 orang. Responden yang berdomisili Mataram memiliki persantese 57% atau berjumlah 46 orang. Responden yang berdomisili Sandubaya memiliki persantese 4% atau berjumlah 3 orang. Responden yang berdomisili Sekarbela memiliki persantese 3% atau berjumlah 2 orang. Sedangkan berdomisili Selaparang 0% atau tidak perpartisipasi

d. Gambaran Responden Berdasarkan Penghasilan

Gambaran responden berdasarkan penghasilan dapat dilihat dari tabel dan grafik berikut:

Tabel 4.6

Distribusi penghasilan Responden

Domisili/alamat Jumlah (N) Persentase (%)

Kurang dari Rp 300.000 43 54

Rp. 300.000-Rp. 1 juta 20 25

Rp. 1 juta- Rp. 2 juta 13 16

Lebih dari 2 juta 4 5

Total 80 100

Sumber : Analisis Peneliti

18 11 46

3 0 2 0

50

Domisili

Domisili

55 Gambar 4.4

Grafik Distribusi Penghasilan Responden

Sumber : Analisis Peneliti

Berdasarkan grafik dan tabel diatas diketahui bahwa responden penelitian ini yang berpenghasilan atau uang saku kurang dari dari Rp 300.000 memiliki persentase 54% atau berjumlah 43 orang. Responden penelitian ini yang berpenghasilan atau uang saku Rp. 300.000-Rp. 1 juta memiliki persentase 25% atau berjumlah 20 orang. Responden penelitian ini yang berpenghasilan atau uang saku Rp. 1 juta- Rp. 2 juta memiliki persentase 16% atau berjumlah 13 orang. Sedangkan responden penelitian ini yang berpenghasilan atau uang saku Lebih dari 2 juta memiliki persentase 5% atau berjumlah 4 orang.

3. Hasil Penelitian

a. Deskripsi Data Variable Kontrol Diri dan Perilaku Konsumtif

Data variable kontrol diri dan perilaku konsumtif pada penelitian ini diukur dengan menyebarkan angket kepada 80 remaja muslim penggemar BTS di Kota Mataram. Pada penelitian ini, peneliti mengkategorikan kontrol diri dari responden menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Kategori ini didasari atas asumsi bahwa data hasil penelitian berdistribusi secara normal. Penerapannya terutama nila jumlah subjek dalam kelompok yang hendak didiagnosis

43 20 13 4

0 20 40 60

Penghasilan

Penghasilan

56 tidak begitu besar.109

Dengan menggunakan cara ini, tidak ditentukan kriteria kategorinya terlebih dahulu melainkan ditetapkan interval skor yang mencangkup kategori sedang. Oleh sebab itu perlu dihitung suatu interval batas bawah dan batas atas nilai skor yang berbeda secara signifikansi dari harga mean sample, menurut tingkat kepercayaan yang diinginkan.110 Interval skor yang digolongkan sebagai kategori tengah pada taraf signifikansi sebesar (1-α). Skor yang lebih besar dari batas interval akan diinterpretasi sebagai tinggi dan skor yang lebih kecil daripada bats bawah interval diinterpretasikan sebagi rendah.111 Berikut data deskriptif kontrol diri dengan bantuan Microsoft Excel:

Tabel 4.7 Data Deskriptif X

Statistik Nilai

Mean (M) 46,225

Standar devisiasi (SD) 5,301003

Sumber: Analsis peneliti

Selanjutnya untuk mengetahui responden tersebut dikategorikan tinggi, sedang atau rendah dapat ditentukan dalam rumus berikut:

1) Kategori tinggi = M + 1 SD ≤ X

= 46,225 + 1 (5,301003) ≤ X

= 51, 49 ≤ X

= 51 ≤ X

2) Kategori sedang = M - 1 SD ≤ X<M+ 1SD

= 41 ≤ X < 51 3) Kategori rendah = X < M – 1 SD

109 Saifuddin Azwar, “Penyususnan Skala Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 154.

110 Ibid., hlm 154.

111 Ibid., hlm. 155.

57

= X < 41

Untuk lebih jelas mengenai kategori skor pada kontrol diri diatas dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 4.8

Kategori Skor Kontrol Diri

Kategori Skor Frekuensi Persentase

Tinggi 51 ≤ X 80 20

Sedang 41 ≤ X < 51 56 70

Rendah X < 41 8 10

Total 80 100

Sumber : Analisis Peneliti

Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa responden yang memiliki kontrol diri yang tinggi berjumlah 80 orang atau 20%, responden yang memiliki kontrol diri yang sedang berjumlah 56 orang atau 70%, sedangkan responden yang memiliki kontrol diri yang rendah berjumlah 8 orang atau 10%.

Jadi dapat disimpulkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki kontrol diri yang sedang.

Selanjutnya berikut data deskriptif kontrol diri dengan bantuan Microsoft Excel:

Tabel 4.9 Data Deskriptif Y

Statistik Nilai

Mean 27.125

Standar devisiasi (SD) 4.322447

Sumber: Analisis peneliti

Selanjutnya untuk mengetahui responden tersebut dikategorikan tinggi, sedang atau rendah dapat ditentukan dalam rumus berikut:

58

1) Kategori tinggi = M + 1 SD ≤ X

= 27.125+ 1 (4.293527) ≤ X

= 31,41 ≤ X

= 31 ≤ X

2) Kategori sedang = M - 1 SD ≤ X<M+ 1SD

= 23 ≤ X< 31 3) Kategori rendah = X < M – 1 SD

= X < 23

Untuk lebih jelas mengenai kategori skor pada kontrol diri diatas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.10

Kategori Skor Kontrol Diri

Kategori Skor Frekuensi Persentase

Tinggi 31 ≤ X 20 25

Sedang 23 ≤ X< 31 51 63,8

Rendah X < 23 9 11,3

Total 80 100

Sumber : Analisis peneliti

Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa responden yang memiliki perilaku konsumtif yang tinggi berjumlah 20 orang atau 25%, responden yang memiliki perilaku konsumtif yang sedang berjumlah 51 orang atau 63,8%, sedangkan responden yang memiliki perilaku konsumtif yang rendah berjumlah 9 orang atau 11,3%. Jadi dapat disimpulkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki perilaku konsumtif yang sedang.

b. Analisis Data

Sebelum uji hipotesis dengan uji analisis regresi, peneliti melakukan uji normalitas dan uji lineritas sebagai syarat agar dapat menganalisis ketahap uji analisis regresi linear sederhana.

Pada uji Pada uji normalitas, uji linearitas, uji korelasi dan uji analisis regresi linear akan dibantu menggunakan SPSS versi 25.

peneliti menggunakan kolmogrov smirnov dengan bantuan SPS.

59

Jika nilai Signifikansi p > 0,05 maka data dapat disimpulkan berdistribusi normal, sedangkan p < 0,05 maka dapat disimpulkan berdistribusi tidak normal. Penjelasan hasil uji normalitas variable kontrol diri (X) dan perilaku konsumtif (Y), yang digambar pada tabel berikut:

Tabel 4.11 Hasil Uji Normalitas

P Α Kesimpulan

0,20 0,05 Berdistribusi normal

Sumber: Analisis SPSS

Berdasarkan tabel diatas bahwa hasil normalitas kolmogrov smirnov menunjukan nilai p = 0,20 yang berarti dapat dikatakan berdistribusi normal. Karena nilai p = 0,20 > α

= 0,05 atau kata lain nilai p lebih besar dari nilai α, maka penyebarakan data dapat disimpulkan berdistribusi normal.

Peneliti melakukan uji linearitas terhadap dua variable penelitian yaitu kontrol diri (X) dan perilaku konsumtif (Y). uji linearitas ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variable linear atau tidak. Jika nilai sig. Deviation from linearity

> 0,05, maka terdapat hubungan yang linear antara variable bebas (X) dan variable terikat (Y). sedangakan Jika nilai sig.

Deviation from linearity < 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang linear antara variable bebas (X) dan variable terikat (Y).

Hasil uji linearitas yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.12 Hasil Uji Linearitas Variable Deviation from

linearity (sig.)

Α Kesimpulan

Kontrol diri dan perilaku

konsumtif

0,245 0,05 Linearitas

Sumber: Analisis SPSS

60

Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa nilai Deviation from linearity pada variable kontrol diri dan perilaku konsumtif sebesar 0,245 yang dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara dua variable. Atau kata lain sig. 0,245 > α = 0,05 artinya nilai signifikansi variable kontrol diri dan perilaku konsumtif 0,245 lebih besar dari 0,05 maka kedua variable tersebut memiliki hubungan linear.

Peneliti melakukan uji korelasi untuk mengetahui hubungan anatara variable kontrol diri (X) dan perilaku konsumtif (Y). jika nilai signifikansi < 0,05 maka berkorelasi sedangkan jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak berkorelasi.

Berikut hasil uji korelasi dalam penelitian ini yang dapat diliat pada tabel:

Tabel 4.13 Hasil Uji Korelasi Variable Signifikans

i (sig.)

Α R Kesimpulan

Kontrol diri dan perilaku konsumtif

0,039 0,05 -0,232 Terdapat hubungan yang signifikan yang bersifat negatif Sumber: Analisis SPSS

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai signifikansi kontrol diri dan perilaku konsumtif 0,039 yang artinya nilai sig. 0,039 < 0,05 dengan kata lain nilai signifikansi lebih kecil daripada nilai α. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara variable kontrol diri (X) dengan variable perilaku konsumtif (Y) yang bersifat negatif.

Artinya semakin tinggi kontrol diri maka semakin rendah perilaku konsumtifnya, begitu pula sebaliknya semakin rendah kontrol diri maka semakin tinggi perilaku konsumtifnya

Uji regresi linear sederhana pada penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hipotesis penelitian ini. Jika nilai

61

signifikansi < 0,05 maka variable X berpengaruh terhadap variable Y. sedangkan Jika nilai signifikansi > 0,05 maka variable X tidak berpengaruh terhadap variable Y. Hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.14

Hasil Analisis Regresi Linear (Uji Hipotesis) Signifikansi

(sig.)

Α Fhit Ftabel Kesimpulan

0,039 0,05 4.425 3.96 Ha diterima

Ho ditolak Sumber: Analisis SPSS

Berdasarkan hasil uji analisis regresi linear pada tabel diatas menenjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 4.425, sedangkan F tabel untuk sampel 80 orang sebesar 3.96, maka nilai F hitung lebih besar dari F tabel (F hitung > F tabel). Nilai sig. yang dihasilkan sebesar 0,039 sedangkan nilai α sebesar 0,05, maka nilai signifikansi lebih kecil dari α (sig. < α).

Sehingga dapat diambil keputusan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variable kontrol diri terhadap variable perilaku konsumtif dan dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Pada penelitian ini, peneliti menguji seberapa besar pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif pada remaja penggemar Bangtan Sonyeondan (BTS) di Kota Mataram.

Berikut hasil uji yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.15 Model Summary

Variable R R square Adjusted R

Aquare Kontrol diri

dan perilaku konsumtif

0,232 0,054 0,042

Sumber: Analisis SPSS

62

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa besarnya pengaruh (R Square) kontrol diri terhadap perilaku konsumtif adalah sebesar 0,054 atau 5,4 %. Hal ini menunjukkan bahwa variable kontrol diri memperngaruhi perilaku konsumtif pada penggemar Korean pop (K-pop) yang menggemari Bangtan Sonyeondan (BTS) di Kota Mataram sebesar 5,4 % dan sisa 94,6 % dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Berikut juga penjelasan hasil uji persamaan regresi antara kontrol diri dan perilaku konsumtif yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.16

Persamaan Analisis Regresi

Unstandardize Coefficients Standardized Coefficient

Model B Std.Error Beta T Sig

(Constant) Kontrol diri

35.855 -189

4.1777

0,090 -232

8.584 -2.104

0.000 0.039 a. Dependent Variable: Peilaku Konsumtif

berdasarkan tabel diatas, dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut:

Y = a+bX

Y = 35.855+ (-0,189X)

Perilaku Konsumtif = 35.855+ (-0,189 Kontrol Diri)

Dari persamaan diatas diketahui bahwa hasil koefisien regresi -0,189 yang artinya apabila kontrol diri naik satu satuan maka perilaku konsumtif mengalami penurunan yaitu sebesar - 0,189 sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif bersifat negatif.

63 B. Pembahasan

Berdasarkan hasil uji sebelumnya dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas variable kontrol diri dan perilaku konsumtif memiliki hasil berdistribusi normal yang dimana nilai signifikansi 0,20 > α = 0,05, yang artinya nilai signifikansi lebih besar daripada nilai α = 0,05. dibuktikan juga pada data histogram penelitian menunjukkan data tersebut berpusat di tengah yang artinya data pada penelitian ini berdistribusi normal. Begitu pula pada uji linearitas yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukan bahwa adanya hubungan yang linear antara dua variable dengan nilai signifikansi sig. 0,245 > α = 0,05 artinya nilai signifikansi variable kontrol diri dan perilaku konsumtif 0,245 lebih besar dari 0,05. Hasil analisis ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Diana Tiona dalam penelitiannya, bahwa pada dasarnya kontrol diri memiliki hubungan yang linear terhadap perilaku konsumtif.

Berdasarkan dari kategori skor pada kontrol diri, dilihat bahwa responden yang memiliki kontrol diri yang tinggi berjumlah 80 orang atau 20%, responden yang memiliki kontrol diri yang sedang berjumlah 56 orang atau 70%, sedangkan responden yang memiliki kontrol diri yang rendah berjumlah 8 orang atau 10%. Sedangkan pada perilaku konsumtif dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku konsumtif yang tinggi berjumlah 20 orang atau 25%, responden yang memiliki peilaku konsumtif yang sedang berjumlah 51 orang atau 63,8%, sedangkan responden yang memiliki perilaku konsumtif yang rendah berjumlah 9 orang atau 11,3%. Dilihat dari persentase diatas yang dominan responden yang memiliki kontrol diri sedang dan responden yang perilaku konsumtif sedang. Hal ini disebabkan oleh salah satu faktor dari perilaku konsumtif ialah dari segi usia. Yang dimana pada usia remaja tersebut masih mencari jati diri atau masih beradaptasi dengan lingkungannya sehingga dapat dipengaruhi. Hal ini diperkuat oleh Sutomo dalam penelitian Dwi Nurhaini menyatakan bahwa perilaku konsumtif begitu dominan pada usia remaja, hal tersebut dikarenakan secara psikologis atau usia remaja masih berada dalam proses pembentukan jati diri dan sangat sensitive terhadap pengaruh dari luar.

Selanjutnya dilihat dari hasil hipotesis yang telah diperoleh

64

menggunakan uji analisis regresi menunjukkan bahwa F hitung sebesar 4.425, sedangkan F tabel untuk sampel 80 orang sebesar 3.96, maka nilai F hitung lebih besar dari F tabel (F hitung > F tabel).

Sedangkan Nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,039 sedangkan nilai α sebesar 0,05, maka nilai signifikansi lebih kecil dari α (sig. < α), dapat disimpulkan bahwa Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dalam penelitian ini terdapat pengaruh signifikansi yang berkorelasi negatif antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif pada remaja muslim penggemar Bangtan Sonyeondan (BTS). Variable kontrol diri dapat mempengaruhi perilaku konsumtif pada remaja muslim penggemar K-Pop sebesar 5,4% sedangkan 94,6% dihasilkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Isna Amalia yang menghasilkan adanya pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif yang berkorelasi negatif dan memiliki besaran pengaruh sebesar 1,8% dan 98,2% dihasilkan dari faktor lain yang tidak terdapat pada penelitian tersebut.112 Begitupula diperkuat oleh penelitian lain yang dilakukan oleh Indri Anggraini dalam penelitiannya, dengan hasil yang sama memiliki pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif yang berkorelasi negatif dengan besar pengaruh 16,5% dan 83,8% dihasilkan dari faktor lain yang tidak terdapat pada penelitian tersebut.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku konsumtif ialah seperti mengenai fanatisme. Dibuktikan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kartika Adriani yang menunjukan adanya hubungan yang positif antara fanatisme dengan perilaku konsumtif pada penggemar K-Pop dan sebagian besar berada dalam kategori sedang.

Adapun faktor lain seperti celebrity workship, yang diteliti oleh Waode Heni Andraini dalam Skripsinya, menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara celebrity workship dengan perilaku konsumtif pada remaja dalam pembelian produk berkaitan dengan idol dengan besaran pengaruh 24,6%.

112 Isna Aulia. “Pengaruh Kontrol Diri…, hlm. 70.

65

Berdasarkan hasil penelitian ini yang dikaitkan dengan bebarapa penelitian sebelumnya menggunakan variable yang sama yaitu kontrol diri dan perilaku konsumtif, memperkuat hasil penelitian ini. Yang dimana menunjukan adanya pengaruh signifikansi variable kontrol diri terhadap perilaku konsumtif pada remaja muslim penggemar BTS yang bersifat berkorelasi negatif yang artinya semakin tinggi kontrol diri pada remaja muslim penggemar BTS maka semakin rendah perilaku konsumtif remaja muslim penggemar BTS.

66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dipaparkan dalam bab IV, hasil pengujian hipotesis menggunakan uji analisis regresi, maka dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif pada penggemar K-Pop remaja muslim (penggemar BTS) di Kota Mataram dan pengaruh tersebut bersifat negatif. Yang artinya semakin tinggi kontrol diri penggemar K-Pop remaja muslim (penggemar BTS), maka semakin rendah pula perilaku konsumtifnya. Begitu juga sebaliknya semakin rendah kontrol diri penggemar K-Pop remaja muslim (penggemar BTS) maka semakin tinggi pula perilaku konsumtifny.

Dengan kata lain uji hipotesis dalam penelitian ini hipotesis nol (Ho) ditolok dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Sedangkan diketahui besar pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif 5,4%. Dan sisa 94,6 % dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan ,aka ada beberapa pandangan yang dapat dijadikan saran diantaranya yaitu:

1. Bagi Penggemar K-Pop Remaja Muslim (Penggemar BTS) Bagi Penggemar K-Pop Remaja Muslim (Penggemar BTS) yang membeli pernak-pernak atau mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan BTS sebaiknya sewajarnya saja dan sesuai keuangan yang dimiliki. Apabila hendak membeli pernak-pernik lebih dipertimbangkan kembali sesuai kebutuhan, kegunaan dan keuangan yang ada agar dapat memenuhi kebutuhan yang akan datang.

2. Bagi peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar lebih teliti kembali dalam menentukan responden yang berperilaku konsumtif agar data penelitian yang didapatkan akurat hasilnya dan menyempurnakan kekurangan dari hasil penelitian ini. Dan alangkah baiknya peneliti selanjutnya menggunakan variable lain

67

yang berperan dalam perilaku konsumtif Penggemar K-Pop Remaja Muslim (Penggemar BTS) agar dapat memperoleh hasil yang lebih dalam.

Dokumen terkait