BAB 3 MODFIKASI PATI DAN SIFAT FUNGSIONAL
3.3. Resistant Starch
3.3.1. Klasifikasi RS
RS diklasifikasikan menjadi empat tipe yang disebut RS1, RS2, RS3 dan RS4 (Lunn dan Buttriss, 2007; Nugent, 2005). RS1 adalah pati yang secara fisik terperangkap diantara dinding sel bahan pangan dan ditemukan pada serealia dan biji-bijian. RS 2 adalah granula pati yang tahan terhadap enzim pencernaan dan ditemukan pada pati kentang, pisang mentah dan pati amilosa tinggi. RS 3 adalah pati retrogradasi, yaitu pati yang dirubah konformasinya melalui pengolahan pangan (proses panas dan dingin). RS 4 adalah pati yang dimodifikasi secara kimia yang tahan terhadap hidrolisis enzim diantaranya pati eter, pati ester dan pati ikat silang (Ratnayaka dan Jackson, 2008; Sanz dkk., 2009). Diskripsi dari masing-masing tipe RS disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Klasifikasi dan diskripsi tipe RS Tipe
RS Diskripsi
Pencernaan Dalam Usus
Halus
Penurunan
Resistensi Sumber RS 1 Terproteksi
secara fisik
Lambat Penggilingan dan
Pengunyahan
Biji-bijian pecah atau utuh dan legum
RS 2 Resisten terhadap gelatinisasi dan akan terhidrolisis secara lambat oleh α-amilase
Sangat lambat
Pengolahan dan Pemasakan
Kentang mentah, pisang yang masih hijau, legum dan pati amilosa tinggi
RS 3 Pati
teretrogradasi
Lambat Kondisi Pengolahan
Potato yang sudah dimasak dan didinginkan, cornflakes dan produk-produk yang disimpan dalam waktu yang cukup lama dan atau yang dipanaskan secara berulang- ulang
RS 4 Modifikasi pati secara kimia dengan menggunakan reagen kimia
Tahan terhadap hidrolisis
Pencernaan in vitro
Produk-produk pangan yang menggunakan pati
termodifikasi seperti roti dan kue
Sumber: Perera dkk., 2010
3.3.2. Efek fungsional RS
RS diketahui memiliki efek fungsional yang menguntungkan bagi kesehatan yang mengkonsumsinya (Nugent, 2005). Efek fungsional tersebut antara lain adalah RS dapat mencegah terjadinya kanker kolon, memiliki efek hipolipidemik dan meningkatkan absorpsi kolesterol, asam empedu, dan mineral.
3.3.2.1. Efek anti kanker kolon dari RS
Banyak teori menyatakan bahwa tingginya prevalensi penyakit kanker kolon berkaitan dengan rendahnya diet serat pangan dan tingginya diet daging (Bingham, 1990). Namun, diet kaya serat yang dilakukan oleh masyarakat Jepang relatif kecil (11 g/hari), kenyataannya Jepang merupakan negara maju yang insiden kanker kolon-nya paling rendah. Kenyataan ini mungkin disebabkan oleh tingginya diet pati resisten yang berperan dalam perlindungan terhadap kanker kolon (Bingham, 1990). Hal ini didukung oleh data lain yang menunjukkan bahwa pada orang yang pencernaan dan absorpsi patinya sangat efisien, sehingga pati yang lolos mencapai kolon lebih sedikit ternyata insiden kanker kolonnya lebih besar.
Kelebihan sifat RS bukan hanya disebabkan oleh RS itu sendiri, tetapi juga oleh hasil fermentasinya, yaitu SCFA yang dipercaya mempunyai banyak keuntungan dari segi metabolisme dan kesehatan kolon. SCFA sangat cepat diabsorpsi dari lumen kolon masuk ke mukosa di sekitarnya di mana sebagian besar butirat dioksidasi menghasilkan energi. Sisa butirat dan sebagian besar sisa SCFA yang lain masuk ke dalam pembuluh darah porta dan diangkut ke liver.
Asam butirat diduga dapat mencegah kanker kolorektal antara lain karena kemampuannya menekan pembentukan sel abnormal.
Menurut Brouns dkk. (2002), bahwa asam butirat tidak hanya mampu menghambat pertumbuhan kanker kolon, tetapi juga mampu menghambat pertumbuhan kanker prostat. Adapun mekanisme pati resisten dalam mencegah kanker kolon adalah sebagai berikut: (i) Feses menjadi cair, dan mudah dikeluarkan dari kolon, sehingga akan memberikan waktu transit di dalam kolon yang lebih pendek. Hal ini akan memperpendek waktu kontak antara karsinogen dengan mukosa kolon. (ii) Asam butirat yang dihasilkan akan menjaga kesehatan mukosa, dan SCFA akan menstimulasi pertumbuhan bakteri yang
menguntungkan yang terdapat di dalam kolon. (iii) Bersifat bulky sehingga akan lebih mudah mengabsorpsi air.
3.3.2.2. Efek hipolipidemik dari RS
Selain memberikan efek terhadap pencegahan kanker kolon dan efek hipoglikemik, RS juga dapat memberikan efek hipokolesterolamik.
Menurut Han dkk. (2004), efek hipokolesterolemik RS dari kintoki disebabkan karena kemampuannya menghambat absorpsi asam empedu dan senyawa steroid di usus halus. Selanjutnya asam empedu dan steroid tersebut diekskresikan bersama feces. Hasil penelitian lainnya yang juga dilakukan Han dkk. (2004), menunjukkan bahwa pemberian diet RS dari kintoki secara nyata dapat meningkatkan ekskresi asam empedu dibandingkan dengan yang diberi diet selulosa. Hal ini merupakan karakteristik khas dari RS yang memiliki kemampuan untuk mengikat asam empedu, meningkatkan viskositas isi usus halus dan mereduksi absorpsi asam empedu dari usus halus melalui sirkulasi enterohepatik. Selain itu juga diketahui bahwa mRNA kolesterol 7α-hydroxylase pada tikus yang diberi diet RS lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Enzim kolesterol 7α-hydroxylase merupakan jenis enzim di dalam usus halus yang berperan dalam mengkonversi kolesterol menjadi asam empedu.
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan hewan coba (tikus), diketahui bahwa tikus yang diberi pakan yang mengandung RS (25% kentang mentah) secara nyata dapat meningkatkan konsentrasi SCFA, terutama asam butirat. SCFA ini selanjutnya akan diabsorpsi oleh tubuh. Di dalam tubuh, SCFA dapat menghambat sintesis kolesterol di dalam liver sehingga akan menurunkan total kolesterol plasma darah (Tester dkk., 2004). Efek penurunan kolesterol oleh RS sangat tergantung pada low dencity lipoprotein reseptor, tingkat mRNA kolesterol 7α-hydroxylase, ekskresi steroid
bersama feses dan kecepatan produksi asam butirat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa RS memiliki pengaruh positif terhadap metabolism lipid di hati.
Pati jagung kaya amilosa (high amylose corn starch, HACS) mengandung RS 2 dan granula pati tidak tergelatinisasi resistan terhadap enzim α-amilase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa HACS dapat mereduksi konsentrasi kolesterol dan trigliserida pada tikus. Mekanisme efek hipokolesterolemik dari HACS belum diketahui secara pasti, akan tetapi efek tersebut dapat terjadi dari beberapa kemungkinan, yaitu (i) karena peningkatan asam empedu dan sterol yang diekskresikan bersama feses, (ii) peningkatan produksi asam empedu sebagai akibat dari peningkatan asam empedu yang diekskresikan bersama feses, (iii) peningkatan produk hasil fermentasi, seperti asam propionat, yang dapat menghambat proses sintesis kolesterol hepatik. Peningkatan rasio molar propionat dan butirat akan berimplikasi pada penurunan rasio molar asam asetat, sehingga jumlah kolesterol yang dapat disintesis juga menurun. Asam asetat merupakan prekusor sintesis kolesterol di dalam tubuh (Kishida dkk., 2002).
Menurut Annison dkk., (2003), pemberian jenis RS yang berbeda pada hewan coba (tikus) akan menghasilkan konsentrasi SCFA yang berbeda pula. Pemberian diet pakan yang mengandung pati jagung asetat dapat meningkatkan kosentrasi asam asetat di dalam digesta kolon dari 37,1 menjadi 142,0 µmol. Pemberian diet pakan yang mengandung pati jagung propionat dapat meningkatkan kosentrasi asam propionat di dalam digesta kolon dari 12,1 menjadi 95,6 µmol.
Pemberian diet pakan yang mengandung pati jagung butirat dapat meningkatkan kosentrasi asam butirat di dalam digesta kolon dari 8,1 menjadi 93,3 µmol. Hal ini menunjukkan bahwa pati termodifikasi dengan cara esterifikasi dapat berfungsi sebagai pembawa asam lemak rantai pendek yang teresterifikasi pada molekul pati tersebut. Selain
memberikan efek positif sebagaimana tersebut di atas, RS juga memiliki efek bagi usus dan kesehatan manusia (Brouns dkk., 2002), yaitu (i) menaikan berat feses, (ii) memberikan efek laksatif pada konsumsi yang besar, (iii) mereduksi energi yang masuk ke dalam tubuh manusia, (iv) mereduksi respons insulin terutama bila dibandingkan dengan pati alami atau karbohidrat, (v) meningkatkan absorbsi Ca dan Mg, dan (vi) menstimulasi sistem kekebalan tubuh manusia.
3.3.2.3. Asam empedu
Asam empedu disintesis oleh liver dari kolesterol dan asam-asam empedu ini dibutuhkan untuk metabolisme lipid. Asam empedu baik asam kolat atau chenodeoksikolat merupakan asam empedu primer yang disintesa oleh tubuh di dalam liver. Asam empedu yang terdapat pada manusia umumnya dalam bentuk asam empedu yang telah terkonjugasi yakni sodium glikokolat dan sodium taurokolat yang merupakan turunan dari asam kolat. Asam kolat berkonjugasi dengan glisin membentuk glikokolat dan jika berkonjugasi dengan taurin akan membentuk taurokolat. Asam empedu juga dapat disintesis oleh mikroorganisme yang terdapat pada saluran pencernaan seperti asam deoksikolat yang dikenal dengan asam empedu sekunder. Asam empedu yang telah terkonjugasi mempunyai kelarutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam empedu yang tidak terkonjugasi.
Struktur asam empedu yang berbeda akan berpengaruh terhadap proses pengikatan antara asam empedu dengan RS (Perera dkk., 2010).
Asam empedu yang disintesa di liver akan disimpan pada kantung empedu dan akan disekresikan melalui saluran empedu ke dalam usus halus ketika makanan melewati lambung menuju duodenum (Gambar 22). Sekresi cairan empedu distimulasi oleh hormon sekretin dan kolesitokinin. Di dalam tubuh manusia, sekitar 20-30 gram asam empedu disekresikan ke dalam usus setiap harinya
melalui saluran empedu. Sebagian besar asam empedu tersebut (95%) akan direabsorbsi oleh ileum dan dibawa ke liver untuk digunakan kembali. Siklus ini disebut dengan siklus enterohepatik (Shaw, 2009). Dari Gambar 18, terlihat bahwa sebagian kecil dari asam empedu yang disintesa akan keluar melalui feses dan sebagian besar akan masuk kembali ke dalam liver.
Pengikatan garam empedu akan meningkatkan jumlah garam empedu yang keluar melalui feses dan ini merupakan salah satu cara untuk menurunkan kolesterol plasma, karena kolesterol akan digunakan untuk sintesa garam empedu yang hilang melalui feses.
Ada beberapa senyawa yang dapat mengikat garam empedu salah satu di antaranya adalah kolestiramin. Kolestiramin adalah suatu anion ammonium kuartener penukar resin dengan inti stiren. Gugus klorida kolestiramin dapat ditukar dengan anion lainnya, seperti garam empedu. Camire dan Daugherty (2003) menyebutkan bahwa kolestiramin dapat mengikat sodium taurokolat sebesar 75%.
Gambar 22. Proses metabolisme dan siklus enterohepatik dari asam empedu (sumber: Shaw, 2009)
3.3.2.4. Kolesterol
Kolesterol di dalam tubuh manusia dapat berasal dari dua sumber yaitu dari makanan dan biosintesis de novo. Kolesterol yang bersumber dari makanan berasal dari bahan pangan hewani. Biosintesis de novo kolesterol terjadi hampir pada semua sel yang mengandung nukleus, tetapi yang terbesar terjadi pada hati, usus, korteks adrenal dan jaringan reproduktif. Jumlah laju sintesis kolesterol de novo berhubungan dengan jumlah kolesterol yang berasal dari makanan, jika jumlah kolesterol di dalam makanan meningkat maka sintesis kolesterol dalam hati dan usus akan menurun, sebaliknya jika jumlah kolesterol dari makanan berkurang maka sintesis kolesterol di dalam hati dan usus akan meningkat. Kolesterol dalam tubuh mempunyai empat fungsi yang esensial antara lain untuk: (1) sebagai komponen membran sel, (2) sebagai prekursor untuk sintesis asam/
garam empedu yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau minyak, (3) sebagai substrat sintesis hormon steroid dan (4) sebagai pelarut vitamin D (Chen dkk., 2011).
Kolesterol terdapat di dalam jaringan dan lipoprotein plasma baik dalam bentuk bebas maupun terikat dengan asam lemak rantai panjang sebagai ester kolesterol. Kolesterol merupakan komponen yang penting untuk pembentukan membran sel dan pemeliharaan integritas sel. Sel tubuh tidak akan bereproduksi, berkembang dan berfungsi secara normal jika tidak ada asupan kolesterol (Shaw,2009).
Kolesterol juga merupakan subtrat untuk pembentukan zat-zat esensial lain seperti asam empedu, hormon-hormon steroid dan vitamin D3.
Level kolesterol di dalam plasma relatif konstan yakni 150-200 mg/100 mL yang dipertahankan dengan adanya biosintesa kolesterol secara alami. Kandungan kolesterol plasma dipengaruhi juga oleh zat gizi lain diantaranya protein. Protein dari sumber yang berbeda
akan memberi efek yang berbeda pada konsentrasi kolesterol.
Pengikatan asam empedu akan berdampak pada meningkatnya jumlah asam empedu yang diekskresikan melalui feses dan menurunnya resirkulasi asam empedu ke hati. Penurunan resirkulasi asam empedu akan memacu hati untuk mensintesa asam empedu baru dengan menggunakan kolesterol sebagai prekursornya. Hal ini akan menyebabkan penurunan konsentrasi kolesterol di dalam darah (Marsono, 2009).
3.3.3. Fermentasi RS di dalam kolon
Substrat utama bagi fermentasi oleh bakteri dalam kolon adalah karbohidrat yang lolos melewati saluran cerna bagian proksimal, yang terutama terdiri atas RS, disusul non-starch polysaccharide, dan nondigestible oligosaccharide. Selain daripada itu juga protein yang lolos baik eksogen maupun endogen. Sehubungan dengan banyaknya jenis spesies yang hidup bersama dalam kolon, dengan kemampuan metabolisme yang sangat bervariasi, maka proses fermentasi dalam kolon sangat rumit. Produk akhir metabolisme satu spesies dapat menjadi substrat bagi spesies lainnya. Bacteroides, genus terbanyak, adalah pengguna polisakarida, di samping bakteri sakarolitik lainnya seperti Bifidobacteria, Ruminococcus, Eubacteria, Lactobacilli dan Clostridia. Proses metabolisme dalam kolon bergantung pada kerjasama berbagai enzim dari bermacam-macam spesies bakteri yang saling bergantung satu sama lain dalam rantai proses fermentasi (Gibson dan Roberfroid, 1995).
Modifikasi dengan cara esterifikasi dapat menghasilkan pati termodifikasi dengan kandungan RS yang tinggi. Menurut Bird dkk.
(2006), RS tidak tercerna di dalam usus halus dan masuk ke dalam kolon. Di dalam kolon, RS dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon dalam proses fermentasi oleh mikroba kolon dan meningkatkan
konsentrasi SCFA, khususnya asam asetat, asam propionat dan asam butirat, yang berpotensi fungsional pada kesehatan kolon karena dapat menurunkan pH, mencegah kanker dan peradangan kolon (Beards dkk., 2010). Peningkatan SCFA di dalam kolon sangat mungkin disebabkan karena hasil deesterifikasi substituen yang teresterifikasi pada molekul pati dan produk fermentasi mikrobia kolon.
Strategi meningkatkan SCFA akan memberikan keuntungan pada manusia. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan konsumsi makanan yang banyak mengandung RS, sebab bila difermentasi akan menghasilkan asam butirat. Asam butirat merupakan penghasil energi utama bagi colonocyte karena oksidasi butirat mampu menyediakan lebih dari 70% oksigen untuk dikonsumsi jaringan kolon manusia (Brouns dkk., 2002; Annison dkk., 2003). Selain dapat mencegah terjadinya sel kanker pada kolon, asam butirat juga mampu menstimulasi sistem kekebalan tubuh melawan sel kanker (Brouns dkk., 2002). Butirat juga dipercaya mendukung fenotip normal colonocytes dengan perbaikan kerusakan DNA dan mendorong apoptosis (Topping, 2007).
Beberapa pengaruh SCFA terhadap kesehatan adalah sebagai berikut (Hijova dan Chmelarova, 2007):
• Absorpsi SCFA di dalam kolon akan meningkatkan absorpsi air dan sodium serta meningkatkan sekresi bikarbonat.
• SCFA yang diabsorbsi oleh kolonisitas digunakan sebagai sumber energi dari sel-sel epitel mukosa kolonisitas.
• Peningkatan jumlah SCFA di dalam kolon akan menurunkan pH kolon yang secara tidak langsung akan mempengaruhi komposisi mikroflora kolon (meningkatkan mikroflora menguntungkan dan menurunkan jumlah mikroba patogen), menurunkan kelarutan asam empedu, jumlah amonia dan amina dan meningkatkan absorpsi mineral.
• Asam asetat diabsorpsi dan dibawa ke dalam liver. Keberadaan asetil Co-A sintetase dalam sitosol adiposa menyebabkan asetat digunakan dalam proses lipogenesis. Asetat digunakan dalam sintesa asam lemak rantai panjang termasuk kolesterol, glutamin, glutamat dan β-hidroksibutirat. Asam asetat juga digunakan sebagai sumber energi sel-sel otot.
• Asam propionat digunakan sebagai substrat untuk glukoneogenesis hepatik dan menghambat sintesis kolesterol dalam jaringan hepatik sehingga dapat menurunkan kolesterol plasma.
• Butirat merupakan SCFA yang paling banyak digunakan sebagai sumber energi kolonisitas dan mempunyai sifat anti-inflamasi yang penting untuk menjaga kesehatan dan penyembuhan sel- sel kolon. Kondisi ini berimplikasi pada peranan butirat sebagai pengontrol diferensiasi, proliferasi dan apoptosis sel.
SCFA merupakan produk metabolit dari fermentasi polisakarida, oligosakarida, protein, peptide oleh bakteri anaerob di dalam kolon.
Pathway produksi SCFA di dalam kolon disajikan pada Gambar 23. Pada prinsipnya SCFA adalah asetat, propionat dan butirat, walaupun SCFA yang lainnya juga diproduksi akan tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Menurut Topping dan Clifton (2001), kolon dengan pH rendah dapat menghambat berkembangnya pertumbuhan sel abnormal. Pada manusia normal, konsentrasi asetat lebih besar dibandingkan dengan asam popionat, dan konsentrasi asam propionat lebih besar bila dibandingkan dengan asam butirat, tergantung dari diet.
Dalam diet manusia, RS bermanfaat karena dapat berfungsi sebagai prebiotik. RS tidak tercerna di dalam usus halus dan lepas ke usus besar. Dalam usus besar, RS akan menjadi substrat bagi mikroflora usus sehingga RS berperan sebagai prebiotik.
Gambar 23. Jalur metabolisme fermentasi karbohidrat oleh mikrobia kolon (Donadille, 2010)
3.3.4. RS sebagai prebiotik
Prebiotik adalah ingredien pangan yang tidak dapat dicerna yang akan menstimulasi pertumbuhan dan atau aktivitas bakteri di dalam kolon, terutama yang dapat meningkatkan kesehatan (Lim dkk., 2005; Topping dan Clifton, 2001). Ingredien pangan yang memiliki sifat prebiotik adalah rafinosa, inulin, fruktooligosakarida (FOS), galaktosilaktosa, laktolusa dan RS (Kolinda dan Gibson, 2007). Menurut Brouns dkk. (2002), RS memiliki efek bagi flora di dalam usus karena sebagai berikut : (i) dapat difermentasi dengan
sempurna oleh flora usus manusia, (ii) pada saat difermentasi gas yang terbentuk relatif sedikit, (iii) jumlah asam butirat lebih banyak bila dibandingkan dengan hasil fermentasi serat, (iv) digunakan secara selektif oleh Lactobacilli dan Bifidobacteria dan mampu mendukung pertumbuhan kedua mikroba tersebut, (v) menghambat pertumbuhan mikroba patogen yang terdapat di dalam usus, (vi) mengabsorpsi asam empedu, dan (vii) mengurangi toksisitas feses.
Menurut Leu dkk. (2005), Nugent (2005), dan Sajilata dkk.
(2006) bahwa RS memiliki fungsi sebagai prebiotik, yang bermanfaat untuk memacu pertumbuhan mikroba yang menguntungkan, seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli. Hal ini dikarenakan RS tidak tercerna di dalam usus halus dan kemudian akan masuk ke dalam kolon digunakan sebagai substrat bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Komponen makanan dikatakan sebagai prebiotik apabila tidak dihidrolisis atau diserap dibagian atas saluran pencernaan, menjadi substrat selektif untuk satu atau sejumlah kecil bakteri yang menguntungkan di dalam kolon yang menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas metabolisme bakteri tersebut, mengakibatkan perubahan koloni flora menjadi komposisi yang lebih sehat dan mendorong efek sistematis yang menguntungkan bagi kesehatan manusia (Wang, 2009). Beberapa syarat suatu komponen makanan dikategorikan sebagai prebiotik yaitu (i) resisten terhadap keasaman lambung, hidrolisis oleh enzim pencernaan mamalia dan penyerapan pada usus kecil, (ii) difermentasi oleh mikroflora usus besar, (3) menstimulasi secara selektif pertumbuhan dan atau aktivitas bakteri dalam usus besar yang memberikan kontribusi terhadap kesehatan (Roberfroid, 2007).
Diet adalah faktor untuk mengontrol mikroflora intestinal dan mampu untuk memodulasi komposisi mikroflora lewat makanan.
Diet dapat mempengaruhi mikrobiota melalui dua cara yaitu:
1. Memasukkan mikroorganisme aktif, karena resisten terhadap pencernaan (keasaman lambung, kecernaan enzimatis, asam empedu, dan lain-lain) yang akan mencapai kolon dan menjadi aktif secara metabolik.
2. Memasukkan substrat tak tercerna yang tahan terhadap pencernaan dan sebagai makanan di dalam kolon untuk menstimulasi pertumbuhan dan metabolisme bakteri yang baik.
Substrat prebiotik secara selektif digunakan oleh komponen yang menguntungkan flora usus dan tidak mendukung potensi patogen seperti racun yang dihasilkan oleh Clostridia, bakteri proteolitik dan toksigenik E. Coli. Kesehatan mikroflora dicapai ketika Bifidobacteria dan/atau Lactobacilli menjadi dominan di saluran pencernaan dan mendukung kesehatan (Gibson, 2004). Salah satu komponen diet yang menunjukkan potensi besar sebagai prebiotik adalah RS, yang berperan dalam ekologi bakteri di usus manusia (Topping dkk., 2003).
Bakteri dalam usus besar menghasilkan enzim untuk mencerna substrat yang mampu difermentasi yang masuk di dalam usus besar. Fermentasi secara anaerob memungkinkan bakteri untuk menggunakan hasil dari proses ini untuk mencukupi energi yang dibutuhkan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan, sehingga meningkatkan biomassanya (Coles dkk., 2005). RS selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon bagi bakteri probiotik, akan tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon bagi mikroba patogen di dalam kolon. Menurut Sharp dan Macfarlane (2000), terdapat banyak isolat bakteri amilolitik yang mampu memanfaatkan RS sebagai sumber karbon, yaitu:
1. Bakteri yang dominan pada waktu fermentasi 0,03 jam dengan sumber karbon RS adalah Bacteroides ovatus, Bacteroides uniformis, Bacteroides thetaiotaomicron, Bacteroides caccae, Bifidobacterium angulatum, Bifidobacterium adolescentis, Bifidobacterium sp.
strain 1, Bifidobacterium sp. strain 2, Clostridium sporogenes, dan Clostridium sordellii.
2. Bakteri yang dominan pada waktu fermentasi 0,3 jam dengan sumber karbon RS adalah Bacteroides uniformis, Bacteroides thetaiotaomicron, Bifidobacterium angulatum, Clostridium sporogenes, Clostridium perfringens, Clostridium butyricum, Eubacterium limosum, Peptostreptococcus micros, dan Lactobacillus acidophilus.