BAB III LAPORAN KASUS
3.10 Usulan
54
SOAP Keterangan
22 Agustus 2023 Subjective
Bayi menangis kuat, tonus otot kuat, napas spontan, gasping (-)
Objective
HR : 182x/menit RR :57x/menit T : 36,6ºC
SpO2 : 85-87% room air CRT : <2 detik
BB : 2070 gram
Kepala/Leher : UUB datar, anemis (+), ikterik (+),pernapasan cuping hidung (-)
Thoraks : Simetris, retraksi (-)
Paru : bronkovesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Jantung : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : supel, tali pusar berbau (-), bising usus (+) distensi (-),
Assessment
BCB KMK BBLR
Planning Thermoregulasi (jaga suhu 36,5-37,5 ℃) Perawatan rutin bayi baru lahir
Vaksin HB0 Zalf 1xODS
Observasi BAK dan BAB Inj vit K 1x1 mg IM
Tabel 3.12 Follow Up By. Ny. S Hari Perawatan ke-II
SOAP Keterangan
23 Agustus 2023 Subjective
Instabilitas suhu(-), disstres napas (-), residu (-), ptekie (-), pucat (- ), muntah (-), desaturasi (-), BAB (+), BAK (+)
Objective
CRT : <2 detik BB : 2070 gram
Kepala/Leher : UUB datar, anemis (-), ikterik (-),pernapasan cuping hidung (-)
Thoraks : Simetris, retraksi (-)
Paru : bronkovesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Jantung : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : supel, tali pusar berbau (-), bising usus (+) distensi (-),
Assessment
BCB KMK BBLR
Planning Termoregulasi (jaga suhu 36,5-37,5 ℃) Observasi BAK & BAB
Tabel 3.13 Follow Up By. Ny. S Hari Perawatan ke-III
SOAP Keterangan
24 Agustus 2023 Subjective
Instabilitas suhu(-), disstres napas (-), residu (-), ptekie (-), pucat (- ), muntah (-), desaturasi (-), BAB (+), BAK (+)
Objective
HR : 144 x/menit RR :48 x/menit T : 36,7ºC
SpO2 : 96-98% room air CRT : <2 detik
BB : 1975 gram
Kepala/Leher : UUB datar, anemis (-), ikterik (-),pernapasan cuping hidung (-)
Thoraks : Simetris, retraksi (-)
Paru : bronkovesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Jantung : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : supel, tali pusar berbau (-), bising usus (+) distensi (-),
Tabel 3.14 Follow Up By. Ny. S Hari Perawatan ke-IV
SOAP Keterangan
25 Agustus 2023 Subjective
Instabilitas suhu(-), disstres napas (-), residu (-), ptekie (-), pucat (- ), muntah (-), desaturasi (-), BAB (+), BAK (+)
Objective
HR : 148 x/menit RR :46 x/menit T : 37ºC
SpO2 : 96%-98% room air CRT : <2 detik
BB : 1940 gram
Kepala/Leher : UUB datar terbuka, anemis (-), ikterik (- ),pernapasan cuping hidung (-)
Thoraks : Simetris, retraksi (-)
Paru : bronkovesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Jantung : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : supel, tali pusar berbau (-), bising usus (+) distensi (-),
Assessment
BCB KMK BBLR
Planning BLPL
Dilaporkan By. Ny. S berjenis kelamin perempuan dilahirkan di usia kehamilan 36 minggu pada tanggal 22 Agustus 2023 di RSUD Ulin Banjarmasin secara sectio caesarea atas indikasi ibu mengalami trombositopenia, CML, dan anemia berulang. Bayi lahir langsung menangis, gerakan aktif, dan kulit kemerahan.
American Academy of Pediatrics (AAP) membagi masa kehamilan/gestational age sebagai berikut:
a. Preterm/bayi kurang bulan, yaitu masa kehamilan < 37 minggu (≤ 259 hari).
b. Late preterm, yaitu usia kehamilan 34-36 minggu (239-259 hari).
c. Early preterm, yaitu usia kehamilan 22-34 minggu.
d. Aterm/ bayi cukup bulan, yaitu usia kehamilan 37-41 minggu (260-294 hari).
e. Post term/bayi lebih bulan, yaitu usia kehamilan 42 minggu atau lebih (≥ 295 hari).
Hubungan antara umur kehamilan dengan berat badan bayi lahir mencerminkan kecukupan intrauterin, penentuan hubungan ini akan memepermudah morbiditas dan mortalitas bayi. Menurut hubungan berat lahir / umur kehamilan maka berat bayi lahir dikelompokan menjadi Kecil Masa Kehamilan (KMK), Sesuai Masa Kehamilan (SMK) dan Besar Masa Kehamilan (BMK) berdasarkan grafik Lubchenco, seperti terlihat pada gambar 4.1.Kecil Masa Kehamilan bila berat lahir <P10 menurut masa gestasi grafik Lubchenco, KMK
Gambar 4.1 Kurva pertumbuhan Lubchenco, digunakan untuk mengevaluasi bayi baru lahir berdasarkan berat badan dan usia gestasi.
Pelayanan antenatal setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak terjadinya masa konsepsi hingga sebelum mulainya proses persalinan yang komprehensif dan berkualitas dan diberikan kepada seluruh ibu hamil. Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal komprehensif dan berkualitas yang diberikan kepada semua ibu hamil. Pelayanan antenatal terpadu secara umum bertujuan untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat dan melahirkan bayi yang
diderita ibu hamil, melakukan intervensi terhadap kelainan/penyakit/gangguan pada ibu hamil sedini mungkin, dan melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanan kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang ada. Pada kasus ini, ibu pasien telah mendapat pelayanan antenatal terpadu dengan adanya diagnosis CML dan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan yang lebih tinggi.
Kejadian CML yang bersamaan dengan kehamilan sangat jarang, diperkirakan 1-2/100.000 kehamilan. Diagnosis CML selama kehamilan sebagian besar diketahui pada saat kehamilan trimester kedua atau ketiga karena gejala awal tidak spesifik. Faktor terpenting dalam tata laksana CML pada masa kehamilan adalah waktu diagnosis, toleransi klinis terhadap penyakit, dan efek samping obat terhadap ibu dan anaknya. Pengobatan CML selama kehamilan menimbulkan dilema terhadap si ibu maupun janin, bisa efek langsung berupa teratogenik; ataupun efek lambat yang jarang, yaitu gangguan gonad dan endokrinologis serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf pusat. Risiko ini khususnya bisa pada kehamilan trimester pertama yang mendapat kemoterapi. CML sendiri yang terjadi saat kehamilan ada risiko terjadi leukostasis dan insufisiensi plasenta dengan konsekuensi berat bayi lahir rendah, kelahiran premature dan peningkatan mortalitas.
Bayi Ny. S pada kasus ini dilahirkan pada usia kehamilan 36 minggu dengan tindakan SC atas indikasi ibu trombositopenia, CML, dan anemia berulang.
Status bayi Ny. S: lahir cukup bulan, langsung menangis, gerakan aktif, dan
Nilai 0 1 2
Denyut jantung Absen <100x/menit >100x/menit
Respirasi Absen Pelan, tidak
teratur
Baik, menangis
Tonus otot Lemas Ekstermitas
sedikit fleksi
Gerakan aktif Iritabilitas reflek Tidak ada respon Meringin Batuk, bersin,
menangis
Warna kulit Biru atau pucat Badan merah
muda, ekstermitas biru
Merah muda Tabel 3.3. Skor APGAR
- Maturitas Fisik : 17 - Total skor : 33 Usia Gestasi 33 minggu Finstrom
7,75 x LK+11,03
7 = 7,75 x 31+11,03
7 = 36 minggu
Dalam kasus ini, bayi Ny. S digolongkan bayi berat lahir rendah (BBLR) karena berat kurang dari 2500 gramdiukur pada saat lahir atau sampai hari ke tujuh setelah lahir.Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gram terlepas dari berapapun usia gestasinya. Berat badan bayi rendah juga dikategorikan menjadi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) yaitu berat badan bayi <1500 gram, dan berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) di mana berat badan bayi <1000 gram.
Tidak semua bayi BBLR adalah bayi prematur atau kurang bulan. Oleh karena itu, BBLR dapat juga dibagi berdasarkan usia gestasi, yakni bayi cukup bulan (37‒42 minggu) dan bayi kurang bulan atau prematur (<37 minggu).
BBLR dapat disebabkan karena persalinan preterm, intrauterine growth restriction (IUGR), atau kombinasi dari keduanya. Terdapat beberapa faktor yang diduga berperan menyebabkan BBLR, seperti malnutrisi, penyakit kronis, dan merokok selama masa kehamilan. Pada kasus ini diduga bayi BBLR berkaitan dengan penyakityang diderita ibu, CML.
mempertahankan suhu tubuh normal, serta menjaga kebersihan tali pusat dan kulit.
Obat-obatan dan tindakan pembedahan sesuai indikasi dan jika ada komplikasi, yang biasanya terjadi bayi prematur. Pemberian nutrisi pada bayi BBLR, baik bayi prematur maupun cukup bulan bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, dan imunitas. Beberapa aspek penting dalam pemberian nutrisi yang baik pada bayi BBLR adalah metode pemberian, jenis, waktu dan frekuensi pemberian, serta jumlah pemberian nutrisi. Bayi BBLR rentan untuk mengalami hipotermia, atau suhu tubuh 32‒36,4℃. Suhu tubuh bayi sebaiknya diukur setiap 6‒12 jam. Jika terjadi hipotermia, maka cara untuk menghangatkan bayi dengan metode kontak kulit ke kulit. Selanjutnya monitoring penanganan bayi BBLR, berdasarkan WHO, termasuk pengukuran tanda-tanda vital (suhu, denyut jantung, laju pernapasan, dan tekanan darah), saturasi oksigen, volume residu lambung, tes darah di antaranya gula darah, dan pemantauan pertumbuhan.
4.1 Simpulan
Dalam laporan ini terdapat kasus seorang bayi Ny. S berjenis kelamin perempuan dengan ibu CML yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin. Bayi lahir di usia kehamilan 37 minggu dengan ibu obesitas dan berat lahir 2.075 gram, termasuk dalam BCB, KMK, dan BBLR.
4.2 Saran
1. Melakukan edukasi pada setiap pasangan usia subur untuk mempersiapkan kehamilan dengan baik dan melakukan ANC sesuai jadwal selama kehamilan.
2. Melakukan pelatihan terutama kepada petugas medis mengenai pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir bayi agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat.
64
Hamil, Persalinan dan Masa sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan pelayanan Kontrasepsi, Serta pelayanan Kesehatan seksual. Jakarta:
Permenkes RI. 2015
2. Nur YM, Septanelly S, Lestari L. Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal Care. J Kesehat. 2019;2:10-15
3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Epidemiologi Obesitas.
Riskesdas. 2018;5:20-30
4. Patrick M, Kartik S. Obesity and pregnancy: mechanisms of short term and long term adverse consequences for mother and child. Journal of BMJ, 2017;35:1-16.
5. Persson M, Cnattingus S, Villamor E. Risk of major congenital malformations in relation to maternal overweight and obesity severity: cohort study of 1.2 million singletons. Journal of BMJ, 2017;4:357.
6. Wetzler, M., Byrd, J.C., Bloomfield, C.D. 2008. Acute and Chronic Myeloid Leukemia. In A.S. Fauci, D.S. Kasper, D.N. Longo, E. Braunwald, S.L.
Hauser, J.L. Jameson, J.Loscolao (Eds.). Harrison’s Principals of Internal Medicine, Volume I, 17th Edition. New York Chicago San Francisco Lisbon London Madrid Mexico City New Delhi San Juan Seoul Singapore Sydney Toronto, The McGraw-Hill Companies, Inc. 677-686.
7. Lichtman M, Liesveld J. Acute myelogenous leukemia. 1047-1084. In:
Beutler E, Lichtman M, Coller B et al. (Eds). William Hematology (ed.6).
New York, N Y, McGraw-Hill 2001.
8. Ali R, Özkalemkas F, Özkocaman V, Özçelik T, Ozan U, Kimya Y, et al.
Successful pregnancyand delivery in a patient with chronic myelogenous leukemia (CML), and management of CML with leukapheresis during pregnancy: a case report and review of the literature. Jpn J Clin Oncol. 2004;
34 (4): 215-217.
In: Krishna U, Daftary S (Eds). Pregnancy at risk: Current concepts. New Delhi, FOGSI Publication. Jaypee Brothers 1997. 5. Brell J, Kalajcio M.
Leukemia in Pregnancy. Semin Oncol 2000; 27: 667-677.
11. Jabbour, E., Cortes, J.E., Giles, F.J., O’Brien, S., Kantarijan H.M. 2007.
Current and Emerging Treatment Option in Chronic Myeloid Leukemia.
American Cancer Society,109(11):2171-2181.
12. Nafrialdi, Gan. Farmakologi dan Terapi (5th ed), Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2007.
13. Doll DC, Ringenberg QS, Yarbro JW. Antineoplastic agents and pregnancy.
Semin Oncol 1989; 16: 337–346.
14. Chaube S, Murphy ML. The effects of hydroxyurea and related compounds on the rat foetus. Cancer Res 1996; 20: 1448–1457.
15. Jackson N, Shukri A, Kamaruzaman A. Hydroxyurea treatment for chronic myeloid leukaemia during pregnancy. Br J Haematol 1993; 85: 203–204.
16. Celiloglu M, Altunyurt S, Undar B. Hydroxyurea treatment for chronic myeloid leukemia during pregnancy. Acta Obstet Gynecol Scand 2000; 79:
803–804.
17. SAW Fadilah, H Ahmad-Zailani, C Soon-Keng, M Norlaila. Successful treatment of chronic myeloid leukemia during pregnancy with hydroxyurea.
Leukemia 2002; 16: 1202–1203.
18. Kuroiwa M, Gondo H, Ashida K, Kamimura T, Miyamoto T, Niho Y, Tsukimori K, Nakano H, Ohga S. Interferon-alpha therapy for chronic myelogenous leukemia during pregnancy. Am J Hematol. 1998; 59: 101-102.
19. M. S. Bazarbashi, M. R. Smith, C. Karanes, I. Zielinski, and C. R. Bishop.
Successful management of Ph chromosome chronic myelogenous leukemia with leukapheresis during pregnancy. Am J Hematol. 1991; 38(3): 235–237.
20. Sivers EL, Larson R, Stadtmauer E, Estey E, Lowenberg B, Dombret B, et al.
Efficacy and safety of gemtizumab ozogamicin in patiens with CD 33 positive