BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Retribusi Daerah
10. Sistem Pengendalian Intern pada Lingkungan Pemrosesan Data Elektronik.
Sistem pengendalian intern dalam perusahaan yang menggunakan manual system dalam akuntansinya lebih menitik beratkan pada orang yang melaksanakan sistem tersebut (People Oriented). Jika komputer yang digunakan sebagai alat bantu pengolahan data, akan terjadi pergeseran dari sistem yang berorientasi pada orang ke sistem yang berorientasi pada komputer (Computer Oriented).
disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan”.
Dengan menyimak berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Retribusi dipungut oleh pemerintah daerah.
2. Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis.
3. Adanya kontraprestasi yang secara langsung dapat ditunjuk
4. Retribusi dikenakan pada setiap orang/badan yang mengunakan/
mengenyam jasa-jasa yang disiapkan negara.
Beberapa pengertian istilah yang terkait dengan retribusi daerah antara lain sebagai berikut :
1. Retribusi daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
2. Jasa, adalah kegiatan pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
3. Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
4. Jasa usaha, adalah jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sector swasta.
5. Perizinan tertentu, adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan pengertian istilah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi objek retribusi daerah adalah :
1. Jasa umum, yakni retribusi yang dikenakan atas jasa umum digolongkan sebagai retribusi jasa umum.
2. Jasa usaha, yakni retribusi yang dikenakan atas jasa usaha yang digolongkan sebagai retribusi jasa usaha.
3. Perizinan tertentu, yakni retribusi yang dikenakan atas perizinan tertentu digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu.
Dan yang menjadi subjek retribusi daerah adalah sebagai berikut : 1. Retribusi jasa umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan
atau menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
2. Retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.
3. Retribusi perizinan tertentu adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh izin tertentu dari pemerintah daerah.
Selanjutnya yang menjadi prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi adalah sebagai berikut :
1. Retribusi jasa umum, ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Biaya yang dimaksudkan disini meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.
2. Retribusi jasa usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang lacak, yaitu keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan beriorentasi pada harga pasar.
3. Retribusi perizinan tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaran pemberian izin yang bersangkutan.
2. Tata cara pemungutan retribusi
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis, kupon, dan kartu langganan. Dalam hal wajib retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrative berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan surat tagihan retribusi daerah. Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi ditetapkan dengan peraturan Kepala Daerah.
D. Pendapatan Daerah
Pendapatan Daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan Setiap daerah harus memiliki sumber-sumber penerimaan atas sumber pendapatan daerah yang memadai, karena biayanya yang harus dikeluarkan oleh daerah untuk melaksanakan aktivitas pembangunan daerah besar sekali jumlahnya.
Penerimaan daerah tidak lepas dari pengertian pendapatan daerah.
Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode anggaran tertentu. Adapun sumber-sumber pendapatan daerah menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah : 1. Pendapatan asli daerah, yang terdiri dari :
a. Hasil pajak daerah, yakni kontribusi wajib kepala daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
b. Hasil retribusi daerah, yakni pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah daerah yang bersangkutan.
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Lain-lain PAD yang sah.
2. Dana perimbangan, yaitu penerimaan transfer pemerintah daerah dari pemerintah pusat yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). Terdiri dari :
a. Dana bagi hasil.
b. Dana alokasi umum (DAU).
c. Dana alokasi khusus (DAK)
3. Pendapatan lain-lain yang sah terbagi 3 yaitu a. Hibah/bantuan.
b. Dana penyesuaian/dana otonomi khusus.
Uraian yang tercantum dalam undang-undang tersebut menekankan kepada daerah untuk mampu dan cekatan dalam hal pengelolaan keuangan daerahnya, agar dana-dana yang diperoleh dari berbagai komponen tersebut mampu untuk membiayai kegiatan pembangunan dan melancarkan roda pemerintahan, karena itu setiap daerah lurus harus mengupayakan agar pendapatan daerah dapat dipungut seintensif mungkin.
Pengelolaan keuangan daerah harus diadakan melalui program yang mempunyai sasaran peningkatan dan pengembangan keuangan daerah, misalnya dengan peningkatan efisiensi pembiayaan dalam pembangunan otonomi, dan pemantapan manajemen keuangan Negara.
Sehubungan dengan hal itu, dapat dikemukakan bahwa dalam rangka kebijaksanaan keuangan daerah peranan pemerintah daerah dalam hal pengelolaan keuangan dan pendapatan daerah harus ditingkatkan dan disempurnakan sesuai dengan pendapat Kamaluddin sebagai berikut:
a. Mobilisasi dana yang digali dari potensi daerah sendiri secara wajar dan tertib serta dengan berwawasan kesatuan yang berdasarkan prinsip otonomi daerah yang lebih nyata dan bertanggung jawab.
b. Desentralisasi dalam perencanaan, penyusunan dalam program serta pengambilan keputusan dalam memilih proyek-proyek daerah dan pelaksanaannya.
c. Penyempurnaan pelaksanaan subsidi bantuan dan pinjaman yang dapat mendorong peningkatan pendapatan pemerintah daerah tetap diarahkan untuk mewujudkan otonomi yang nyata dan bertanggung jawab, yang mencakup personalia, manajemen serta struktur organisasi.
d. Usaha memperkuat sistem-sistem pemantauan terhadap daerah yang efektif sehingga dapat mengoptimalisasikan penggunaan sumber ekonomi dan dana yang terbatas untuk pembangunan.
Pengelolaan keuangan daerah dengan baik sangat penting, karena dapat memberikan manfaat bagi pembangunan daerah. Pengelolaan keuangan daerah berturut-turut dari menggali potensi daerah yang ada, kemudian merencanakan dengan program yang tepat dalam memilih proyek pembangunan, pengelolaan untuk subsidi atau bantuan diterima beserta kemampuan organisasi pemerintah bertanggung jawab dan jeli membaca situasi daerah. Dengan mengoptimalkan keuangan daerah, maka pembangunan di daerah dapat tercapai sesuai apa yang diharapkan.
E. Pengeluaran Daerah
Pengeluaran oleh pemerintah daerah setiap tahun didasarkan pada penerimaan daerah, karena dana yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pembangunan.
Pada dasarnya setiap rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang merupakan pengeluaran terbagi atas dua yaitu :
1. Pengeluaran Rutin.
Pengeluaran rutin adalah pengeluaran yang bersifat permanen atau bersifat kontinyu dan selalu dianggarkan dalam setiap rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) dan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), misalnya gaji pegawai negri sipil, maupun pengeluaran untuk subsidi dan lain sebagainya.
Pengeluaran rutin pemerintah daerah setiap tahun didasarkan pada penerimaan daerah setiap tahun didasarkan pada penerimaan daerah, karena dana yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari diambil dari penerimaan daerah.
2. Pengeluaran pembangunan.
Pengeluaran pembangunan adalah semua pengeluaran negara untuk membiayai proyek pembangunan atau pengeluaran yang ditujukan untuk keperluan pembangunan, baik pembangunan fisik maupun non fisik. Pengeluaran pembangunan bersifat misalnya, pembangunan jalan, jembatan, irigasi dan lain-
lain sedangkan pembangunan non fisik misalnya meliputi pendidikan, pelatihan, penataran pegawai dan lain-lain.
Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan dalam arti perbaikan dan peningkatan taraf hidup masyarakat baik material maupun spiritual. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam ekonomi suatu negara atau bangsa yaitu adanya peningkatan pendapatan perkapita serta pemerataan pendapatan melalui kesempatan kerja, dimana salah satu tujuan pembangunan nasional dilakukan negara saat sekarang ini yaitu terwujudnya manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur baik material maupun spiritual.
Secara konsepsional, pendapatan pemerintah daerah dapat bersumber dari masyarakat itu sendiri maupun dari luar masyarakat. Demikian halnya retribusi terminal angkutan merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang sangat potensial untuk menunjang pembiayaan pembangunan.
Sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar adalah retribusi daerah, salah satu jenis retribusi daerah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam mengoptimalkan atau meningkatkan pendapatan asli daerah adalah terminal angkutan. Maka dari itu perlu dilakukan suatu pengendalian dibidang pemungutan retribusi tersebut.
Pengendalian ini merupakan implementasi pengendalian intern yang diterapkan dalam Dinas Perhubngan khususnya di bidang pemungutan retribusi terminal angkutan. Tujuannya adalah untuk penjagaan atau pengawasan dalam pemungutan retribusi terminal angkutan agar dapat dilakukan dengan baik serta
sesuai dengan sistem dan prosedur pemungutan retribusi yag telah ditetapkan oleh PERDA.
Bentuk pengendalian ini tidak hanya terlepas dari penjagaan saja tetapi juga bagaimana agar retribusi ini dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan asli daerah di kabupaten Bulukumba.