BAB VII KESIMPULAN
2.4 Risiko Pengelolaan Proyek Konstruksi
Salah satu tujuan utama dalam mendirikan perusahaan adalah mencari keuntungan. Setiap kegiatan usaha akan memunculkan adanya peluang memperoleh keuntungan yang selalu berdampingan dengan risiko menderita kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, salah satu fungsi manajemen yang termasuk penting adalah melaksanakan manajemen risiko[50].
Risiko memiliki beberapa definisi yang berbeda dari pakar yang berbeda, diantaranya sebagai berikut:
a. [51]Risiko adalah suatu potensi kejadian, yang dapat dihindari atau dikurangi sekecil mungkin, agar dampaknya minimal sesuai yang kita rencanakan atau yang dapat kita terima dalam batas toleransi yang diperkenankan, dan tidak mengganggu secara signifikan terhadap sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
25
Universitas Indonesia
b. [52]Risiko adalah kemungkinan (probabilitas) terjadinya peristiwa di luar yang diharapkan.
c. [53]Risiko adalah suatu ancaman atau peluang, dimana dia dapat memberikan akibat yang sangat tidak menyenangkan atau sebaliknya terhadap pencapaian dari suatu tujuan proyek yang dibuat.
d. [54]Risiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang membawa akibat yang tidak diinginkan atas tujuan, strategi, sasaran dan atau target.
[55]Risiko memiliki tiga elemen utama, yaitu:
a. Kejadian (event), yaitu peristiwa atau situasi yang terjadi pada tempat tertentu selama selang waktu tertentu.
b. Probabilitas atau kemungkinan (likelihood), merupakan deskripsi kualitatif dari probabilitas atau frekuensi.
c. Dampak (consequences), yaitu hasil dari sebuah kerjadian, baik kuantitatif, maupun kualitatif, yang berupa kehilangan atau kerugian.
Risiko-risiko harus dikelola dengan baik agar semua kejadian dapat berlangsung sesuai dengan rencana.Dengan demikian manajemen risiko usaha kontraktor dapat didefinisikan sebagai gabungan antara seni dan ilmu dalam melakukan identifikasi, analisis, dan respons terhadap seluruh risiko yang teridentifikasi pada semua bidang usaha, dan pada seluruh tahapannya, untuk menjaga sasaran-sasaran usaha yang telah ditetapkan. Tujuan manajemen risiko[56]diantaranya sebagai berikut:
a. Mengurangi tingkat kemungkinan terjadinya risiko yang telah teridentifikasi, dari “sering terjadi” hingga “tidak terjadi”. Di sini artinya adalah mengatasi penyebab dari risiko yang bersangkutan.
b. Mengurangi besar dampak yang mungkin ditimbulkan dari risiko yang telah teridentifikasi, dari kondisi “fatal” sampai pada kondisi “tidak berarti”.
Manajemen risiko mengenal tiga faktor, yaitu sebagai berikut[57]:
a. Risk even status, yaitu merupakan kriteria nilai risiko atau sering disebut peringkat risiko, misal: high, significant, medium, dan low.
b. Risk probability, yaitu merupakan tingkat kemungkinan terjadinya suatu risiko, biasanya dinyatakan dalam persen (%).
c. Risk consequences, yaitu merupakan nilai pengaruhnya bila risiko tersebut benar-benar terjaadi. Ukuran ini tergantung risikonya, bisa berupa rupiah, persen, waktu, banyaknya kejadian, dan lain-lain.
Manajemen risiko terdiri dari empat tahapan proses, yaitu sebagai berikut[58]:
a. Identifikasi Risiko b. Analisis Risiko c. Respons Risiko
d. Dokumentasi (Monitoring and Controling)
Penentuan tingkat probability, sifatnya sangat subyektif, sulit diukur secara pasti, tetapi hal tersebut penting untuk dilakukan. Oleh karena itu ada beberapa teknik untuk menentukan tingkat probability[59], yaitu dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Brainstorming b. Sensitivity Analysis c. Probability Analysis d. Delphi Method e. Monte Carlo
f. Decision Tree Analysis g. Utility Theory
h. Decision Theory
Cara yang terbaik adalah ditentukan berdasarkan atas pengalaman dan pemikiran yang dalam melalui brainstorming para pakar yang terkait. Begitu juga untuk menentukan tingkat pengaruhnya[60].
2.4.1 Identifikasi Risiko
Tahapan proses manajemen risiko ada empat, yaitu: identifikasi, analisis, respons, dan dokumentasi (monitoring and controlling). Jadi langkah awal dari proses manajemen risiko adalah melakukan identifikasi terhadap risiko-risiko yang mungkin terjadi[61].
[62]Identifikasi risiko merupakan proses penganalisisan untuk menemukan secara sistematis dan secara berkesinambungan risiko (kerugian yang potensial)
yang menantang perusahaan. Identifikasi risiko usaha kontraktor dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan sumbernya dan berdasarkan dampak[63]. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan identifikasi risiko melalui pendekatan sumber.
Gambar 2.
Sumber: Asiyanto (2009)
Berikut ini adalah identifikasi risiko melalui pendekatan dampak terhadap triple constraint dan keselamatan kerja.
a. Dampak terhadap Dampak ini
anggarannya[64]. [65]Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran.
b. Dampak terhadap
Mutu adalah sifat dan karakteristik produk atau jasa yang membuatnya memenuhi kebutuhan pelanggan
ini adalah hasil kegiatan proyek yang harus memenuhi spesifikasi dan kriteria
Eksternal Tak Terprediksi
- Peraturan- peraturan - Bencana
Alam
Eksternal Terprediksi
-
Lingkungan
Universitas Indonesia
ng menantang perusahaan. Identifikasi risiko usaha kontraktor dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan sumbernya dan berdasarkan dampak[63]. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan identifikasi risiko melalui pendekatan sumber.
2.12 Identifikasi Risiko Proyek berdasarkan Sumber
Berikut ini adalah identifikasi risiko melalui pendekatan dampak terhadap dan keselamatan kerja.
Dampak terhadap biaya
berupa pembengkakan biaya pelaksanaan terhadap anggarannya[64]. [65]Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran.
Dampak terhadap mutu
Mutu adalah sifat dan karakteristik produk atau jasa yang membuatnya memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemakai (customers). Produk dalam hal ini adalah hasil kegiatan proyek yang harus memenuhi spesifikasi dan kriteria
Identifikasi Risiko
Eksternal Terprediksi
- Pasar - Dampak Lingkungan
- Inflasi
Internal Non Teknis
- Manajemen - Schedule
- Cost - Cash Flow
Teknis
- Teknologi - Desain - Metode -Kompleksitas
27
Universitas Indonesia
ng menantang perusahaan. Identifikasi risiko usaha kontraktor dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan sumbernya dan berdasarkan dampak[63]. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan identifikasi risiko
Identifikasi Risiko Proyek berdasarkan Sumber
Berikut ini adalah identifikasi risiko melalui pendekatan dampak terhadap
berupa pembengkakan biaya pelaksanaan terhadap anggarannya[64]. [65]Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak
Mutu adalah sifat dan karakteristik produk atau jasa yang membuatnya ). Produk dalam hal ini adalah hasil kegiatan proyek yang harus memenuhi spesifikasi dan kriteria
Legal
- Lisensi - Hak Paten
- Kontrak
yang dipersyaratkan[66]. [67]Dampak ini berupa penyimpangan mutu pekerjaan terhadap persyaratan yang ada (risiko ini sudah diatur dalam sistem mutu ISO 9001: 2000).
c. Dampak terhadap waktu
[68]Dampak ini berupa keterlambatan penyelesaian pekerjaan, baik parsial maupun secara keseluruhan (project delay). Proyek harus dikerjakan dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan[69].
d. Dampak terhadap kecelakaan kerja
[70]Dampak ini sudah diatur pada OHSAS 18001.
Gambar 2.13 Identifikasi Risiko Proyek berdasarkan Dampak
Sumber: Asiyanto (2009)
[71]Sumber informasi, teknik, dan alat yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi risiko diantaranya sebagai berikut:
a. Rekaman tercatat
b. Praktik, pengalaman industry, dan pengalaman lain yang relevan c. Bahan bacaan yang relevan
d. Hasil uji pemasaran
e. Hasil percobaan dan prototype
f. Wawancara terstruktur dengan pakar di area yang terkait g. Penggunaan kelompok pakar multi disiplin
h. Evaluasi individual dengan menggunakan kuisioner i. Penggunaan pemodelan komputer dan pemodelan lainnya j. Diagram sebab akibat dan diagram arus
Identifikasi Risiko Proyek
Biaya Mutu Waktu Kecelakaan
Kerja
29
Universitas Indonesia
k. Daftar periksa
l. Pertimbangan berdasarkan pengalaman dan rekaman tercatat m. Brainstorming
n. Analisis sistem, dan lain-lain
Setelah mengidentifikasi risiko, kemudian disusul dengan mencari kemungkinan peristiwa yang menyebabkan dampak terhadap sasaran tersebut.
Beberapa penyebabrisiko diantaranya sebagai berikut:
a. Lemahnya Manajemen Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang ada, jika tidak diseleksi dengan baik, apalagi kalau perusahaan tidak memiliki sistem seleksi, maka dalam kegiatan pelaksanaan dapat memicu munculnya personel yang tidak mendukung pelaksanaan proyek secara maksimal[72].
b. Lemahnya Manajemen Sumber Daya Alat
Sumber daya alat yang ada di proyek bisa saja memiliki produktivitas rendah sehingga tidak mampu bersaing. Produktivitas rendah tersebut bisa saja disebabkan oleh usia alat yang sudah tidak layak. Bahkan menimbulkan kerugian karena depresiasinya saja tidak dapat dikembalikan yang diakibatkan alat yang bersangkutan tidak memberikan kontribusi manfaat yang semestinya[73].
c. Lemahnya Manajemen Sumber Daya Material
Material bahan bangunan tentunya mudah didapatkan, karena kontraktor biasanya sudah mempunyai rekanan penyedia material. Tetapi masalah yang terkait dengan material bisa saja muncul, seperti masalah pengaturan material berupa mobilisasi, penempatan, dan pembayaran[74].
d. Metode Pelaksanaan Konstruksi yang Kurang Tepat
Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat, dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.Sehingga, target waktu, biaya, dan mutu sebagaimana diterapkan, dapat tercapai. Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi lapangan di mana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung jenis proyek yang dikerjakan[75].
e. Kondisi Lingkungan
[76]Kondisi lingkungan berupa cuaca akan mempengaruhi risiko peningkatan biaya proyek, misalnya: salju, cuaca dingin, dan banjir. Cuaca mempengaruhi produktivitas kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
[77]Risiko dikategorikan secara struktural untuk memastikan terbentuknya identifikasi risiko yang sistematis.Pengkategorian risiko ini dalam bentuk RBS (Risk Breakdown Sructure).RBS adalah pengaturan secara hierarki yang menggambarkan identifikasi penyebab risiko ke dalam suatu kategori dan subkategori.Contoh RBS ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 2.14 Contoh Risk Breakdown Structure
Sumber: PMBOK (2008)