• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang Tinggal

Dalam dokumen Buku Seni Monumental - Spada UNS (Halaman 72-82)

B. Ruang Gerak dan Ruang Tinggal

2. Ruang Tinggal

Ruang Tinggal adalah ruang yang digunakan untuk tempat tinggal, tidur, duduk-duduk santai, istirahat, menunggu, menikmati pemandangan, dan sebagainya.

Ruang Tinggal sebaiknya dilengkapi dengan pohon-pohon peneduh, lampu-lampu penerangan, dan kalengkapan-kelengkapan lain sesuai dengan kepentingan yang dimaksudkan. Ruang tinggal dalam sebuah rumah tinggal selalu berhubungan dengan aktifitas manusia. Ruang tidak hanya indah dalam warna, bentuk, dan rupa, tetapi juga menunjang terbentuknya tingkah laku, pengorganisasi gaya hidup, dan dapat menggugah daya khayal, serta dapat menyumbangkan secara nyata untuk ketentraman, kesenangan, dan pertumbuhan manusia yang tinggal di situ, serta memperkenalkan kenikmatan pribadi, rasa aman, dan membuktikan bahwa ruang yang ada hubungannya

73 dengan kepribadian dapat menunjang lingkungan hidup di mana manusia tinggal menjadi lebih baik (Wardani, 2004: 42).

Keharmonisan dalam tata ruang tinggal sudah pasti akan mempengaruhi hidup dan kehidupan manusia. Suatu saat seseorang betah dan nyaman duduk di suatu ruangan, baik ruang tamu, ruang rapat, atau ruang apapun. Namun bisa juga seseorang merasa ingin segera meninggalkan suatu ruangan itu karena merasa gerah, merasa lelah, dan tidak nyaman. Kesadaran orang akan pentingnya berbagai unsur dalam bangunan ruang tinggal atau rumah, seperti sirkulasi udara, pencahayaan, keamanan dan estetika, tampaknya semakin tinggi. Karena berbedanya fungsi ruangan, maka penanganannya pun sedikit berbeda. Meletakkan kursi sofa di ruangan keluarga, tentu tidak sama dengan menempatkan kursi makan di ruang bersantap. Selain perlu dipelajari dulu sifat ruangan, yang perlu dilakukan adalah mempertimbangkan ukuran, bentuk dan proporsi ruangan yang hendak diisi, termasuk mencermati letak jendela, pintu, sampai jarak antara langit-langit dengan lantai. Semuanya itu berpengaruh pada keputusan tentang bentuk perabot maupun penataannya. Ruangan yang tidak terlalu besar dengan langit-langit amat tinggi, akan semakin terasa meninggi apabila bentuk perabotnya cenderung ke atas. Demikian juga pengaruh warna maupun kekontrasan yang dapat mempengaruhi kedramatisan ruang. Dominan gelap akan membuat ruang berkesan hangat dan lebih kecil. Warna terang membuat ruang berkesan lapang, menyegarkan, tetapi kadang monoton (Ching, 1996).

Kenyamanan dan kreativitas dapat juga dipengaruhi oleh warna seperti dapat dipelajari pada alam sekitar dengan warna bunga, burung, kupu-kupu dan sebagainya yang semua itu memiliki arti tertentu. Oleh karena itu, warna adalah suatu cara untuk mempengaruhi ciri khas suatu ruang tinggal atau gedung. Badan manusia bereaksi sensitif terhadap rangsangan dari masing-masing warna. (Sayoso, 2004: 169). Warna juga merupakan unsur penting dalam desain, karena dengan warna, suatu karya desain akan mempunyai arti dan nilai lebih (added value) dari utilitas karya tersebut. Dengan

74 warna dapat diciptakan suasana ruang yang berkesan kuat, menyenangkan, dan sebaginya, sehingga secar psikologis memberi pengaruh emosional (Pile, 1995).

Setiap warna memiliki sifat-sifat tertentu, tidak hanya mempengaruhi kenyamananan manusia, melainkan juga mempengaruhi suasana dan kesan suatu ruang tinggal. Tentu saja letak warna sangat berarti dalam ruang tinggal karena pengaruh warna bisa berbeda apakah berada pada lantai, pada dinding, atau pada langit-langit.

Karena setiap warna memiliki frekuensi tertentu, maka pengaruhnya tehadap manusia juga berbeda. Menurut Sayoso (2004: 171) pada praktek pengetahuan, warna juga dapat dimanfaatkan untuk mengubah atau memperbaiki proporsi ruang tinggal secara visual demi peningkatan kenyamanan, misalnya:

1. Langit-langit yang terlalu tinggi dapat “diturunkan” dengan warna yang hangat dan agak gelap.

2. Langit-langit yang agak rendah diberi warna putih atau cerah, dinding bagian paling atas juga diberi warna putih, sehingga kesan langit-langit seolah-olah melayang dengan suasana yang sejuk.

3. Warna-warna yang aktif seperti: merah atau oranye pada bidang yang luas memberi kesan memperkecil ruang.

4. Ruang yang agak sempit panjang dapat berkesan pendek dengan memberi warna hangat pada dinding bagian muka, sedangkan dapat berkesan panjang dengan menggunakan warna dingin.

5. Dinding samping yang putih memberi kesan luas ruang tersebut.

6. Dinding, lantai, dan langit-langit tidak seharusnya diberi warna yang sama. Jika dinding bergaris horisontal ruang terkesan terlindung, sedangkan yang bergaris vertikal berkesan lebih tinggi.

Menurut Frick (2003) ruang tinggal atau rumah dapat dianggap sebagai kulit manusia ketiga atau pakaian di luar pakaian yang menempel di tubuhnya. Membeli rumah dapat dibayangkan seperti seorang yang membeli kemeja baru, ada yang dari kain sintesis dan ada juga yang dari kain katun. Tentu saja pembeli merasa lebih segar

75 dengan kemeja dari katun walaupun kurang lama tahan dan membutuhkan alat setrika dan sebagainya.

Saat ini, penataan ruang tinggal atau rumah dengan luas terbatas sangat dipengaruhi kebutuhan masing-masing individu (manusianya). Banyak ruang tinggal yang mengalami alih fungsi. Misalnya, kamar tidur untuk tamu menjadi ruang ganti pakaian (wardrobe), ruang keluarga dan ruang tamu menjadi satu yaitu tempat berkumpulnya keluarga dengan nyaman (greatroom). Tidak jarang pula kamar kerja berfungsi ganda sebagai kamar tidur tamu juga. Jika masih ada kamar ekstra, biasanya digunakan menjadi ruangan media elektronik yang kian diminati. Kini dengan semakin canggihnya peralatan dapur, tidak perlu dirisaukan lagi tentang keberadaan dapur yang kotor. Satu dapur harus bisa mengakomodasi keperluan makan seisi rumah tanpa mengganggu ruangan lainnya (Sayoso, 2004: 172).

C. Sequence (Urutan atau Rangkaian)

Agar ruang dapat berperanan mempengaruhi perasaan orang maka harus terdapat pembukaan-pembukaan, penyempitan-penyempitan, atau perubahan ketinggian, perbedaan-perbedaan yang mudah diketahui maupun titik-titik sebagai orientasi. Jalan yang lurus tanpa ujung pangkal tidak akan mempunyai arti apa-apa.

Orang biasanya secara naluriah menginginkan perjalanan mereka berakhir pada tanda- tanda yang mudah diingat atau dikenang, misalnya jalan yang berputar atau berbelok sekian kali yang sifatnya menahan atau melepaskan seseorang karena akan memberikan suatu kesan terhadap pengalaman-pengalaman visual yang beragam dan dapat mengejutkan ataupun menyenangkan.

Di dalam perancangan Ruang Luar dapat menggunakan pengulangan- pengulangan Ruang Positif. Pengulangan ini sebenarnya merupakan suatu rancangan yang menerapkan teknik sequence atau urutan. Teknik sequence adalah untuk memberikan pengalaman berupa urutan atau rangkaian dengan cara membuat pengulangan-pengulangan sebelum seseorang mencapai obyek sebagai pusat tujuannya.

76 Ada dua hal yang dapat ditempuh dalam memanfaatkan sequence, yaitu: dalam merancang Ruang Luar dapat menampilkan seluruh pemandangan terhadap obyek sejak awal atau permulaan dan secara berangsur-angsur, tahap demi tahap. Dalam hal ini perancang harus memilih salah satu dari dua cara tersebut berdasarkan kebutuhan.

Apabila yang dipilih adalah cara pertama, yaitu sajak awal seluruh pemandangan serta obyek yang dituju sudah terlihat, maka sequence dapat berupa pembukaan atau penyempitan jalan pada urutan pintu-pintu gerbang yang dibuat berulang pada jarak tertentu, atau dengan cara membuat perbedaan tinggi lantai yang berulang, atau dapat juga menggunakan gabungan dari dua cara tersebut.

Jika memilih cara kedua, yaitu obyek disembunyikan terlebih dulu atau berangsur-angsur nampak, rancangan dapat sebagai berikut: Sequence berupa pembelokkan arah jalan secara tegak lurus setelah sampai pada rintangan misalnya dinding. Dengan demikian pemandangan yang terlihat jauh tidak akan langsung nampak. Sehingga dapat menambah kesan yang mendalam terhadap obyek. Perubahan- perubahan arah dengan sudut 96° bagi orang berjalan merupakan perubahan terhadap pemandangan seluruhnya dan dapat pula menjadikan variasi pada ruang serta menghilangkan kesan membosankan. Jadi suatu obyek yang kadang-kadang nampak, kadang-kadang lenyap dari penglihatan adalah bergantung pada gerakan dari pengamat. Di samping mengadakan perubahan arah juga terdapat cara lain, yaitu membuat suatu pengulangan pada tinggi rendahnya permukaan lantai dan luas maupun sempitnya anak tangga.

77 Gambar 67. Perubahan tinggi permukaan lantai yang berulang atau berurutan pada kompleks

Garuda Wisnu Kencana, Bali.

(Sumber: traveltextonline.com)

Gambar 68. Bagan arah pandang pada Sequence

78 Saat seseorang berdiri pada kaki tangga maka tangga yang lain yang berada di atas tidak akan nampak karena jarak antara kedua tangga sangat besar atau luas.

Kemudian wujud dari tangga pertama menjadi suatu garis horizon bagi pandangan orang tersebut. Apabila seseorang menaiki tangga pertama setapak demi setapak maka tangga berikutnya yang berada di atas berangsur-angsur nampak. Demikian seterusnya, sehingga apabila pada anak tangga teratas yang merupakan horizon terdapat obyek yang muncul dengan tiba-tiba, maka obyek tersebut akan merupakan pusat perhatian.

Kemudian bila orang tadi menaiki tangga selanjutnya, sedikit demi sedikit obyek yang menjadi pusat perhatian akan menampakkan diri. Cara ini juga diterapkan pada sebuah kompleks olahraga, yakni Park Olimpiade Komazawa di Tokyo, Jepang. Sebagai hasilnya menara kompleks olahraga tersebut nampak sekali kualitas monumentalnya.

Kesan dan perasaan yang diperoleh seseorang merupakan pengalaman yang berbeda saat menuruni tangga. Orang pada waktu menuruni tangga sudah merasa puas, sehingga pada umumnya tidak akan lama mengalami perasaan tersebut. Berbeda pada saat menaiki tangga yang penuh dengan harapan dan penuh semangat untuk mencapai sesuatu. Bagi seniman yang menciptakan seni monumental, pengetahuan tentang perancangan Ruang Luar ini sangat penting. Terutama karena merupakan salah satu faktor pendukung yang dapat menampilkan nilai monumental. Di dalam pelaksanaannya yang menyangkut perancangan Ruang Luar yang sedemikian besar, sudah sewajarnya jika melibatkan ahli-ahli lainnya, misalnya arsitek dan sebagainya karena beberapa hal dalam uraian ini tidak diberikan sampai detail terutama mengenai faktor-faktor lain yang menyangkut ukuran-ukuran, skala dan lain-lainnya.

79 Gambar 69. Pemandangan menara kompleks olahraga Komazawa yang tampak berubah-ubah

ketika orang menaiki tangga.

(Sumber: tadaimajp.com)

80 RANGKUMAN

A. Ada dua jenis ruang yang pokok pada Ruang Luar, yaitu Ruang Luar untuk kepentingan manusia berjalan kaki dan Ruang Luar untuk kepentingan kendaraan.

B. Ruang Luar untuk kepentingan manusia dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu ruang untuk bergerak yang disebut sebagai Ruang Gerak; dan ruang untuk tempat tinggal yang disebut Ruang Tinggal.

C. Agar Ruang Luar dapat berperan mempengaruhi perasaan orang, maka harus mendapat pembukaan-pembukaan, penyempitan-penyempitan atau perubahan ketinggian dan sebagainya. Perubahan-perubahan tadi berupa pengulangan- pengulangan dan biasanya merupakan sequence atau urutan. Ada dua hal di dalam memanfaatkan teknik sequence dan harus memilih salah satu dari dua cara tersebut berdasarkan kepada kebutuhan.

Kepustakaan :

Arifin, Sri Sutarni. Tt. Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo. Jurusan Teknik Arsitektur, Universitas Negeri Gorontalo.

Ashihara, Yoshinobu., Sugeng Gunadi (penterjemah). 1983. Merancang Ruang Luar.

Surabaya: PT. Dian Surya.

Ching, Francis D. K. 1996. Interior Design Illustrated. New York: Van Nostrand Reinhold Company Inc.

Departemen Pekerjaan Umum. Tt. Pengembangan Sistem RTH di Perkotaan. Makalah Lokakarya dalam Rangkaian Acara Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-60, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wilayah Perkotaan. Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian, IPB.

Khairunnisa, Ezra Salikha. Tt. Evaluasi Fungsi Ekologis Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung dalam Upaya Pengendalian Iklim Mikro Berupa Pemanasan Lokal dan

81 Penyerapan Air (Studi Kasus: Taman-Taman di WP Cibeunying). Bandung:

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota SAPPK, Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, ITB.

Kusuma, Bagas Harta. 2013. Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Sebagai Penopang Kawasan Mixed Use pada Koridor Jalan Fatmawati Semarang. Jurnal Teknik PWK Volume 2, Nomor 1, 2013. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.

Sayoso, Ign Dono. 2004. Desain Interior Berdasar pada Kebutuhan Sosial dan Material Ekologis. Dimensi Interior, Vol. 2, No. 2, Desember 2004. Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra.

Pile, John F. 1995. Interior Design. New York: Harry N. Abrams Inc.

Snyder Cs, Yames C., Ir. Hendro Sangkoyo (penterjemah). 1985. Pengantar Arsitektur.

Jakarta: Erlangga.

Talbot, Hamlin. Tt. Prinsip-prinsip Komposisi. Terjmahan. Bandung.

Wardani, Laksmi Kusuma. 2004. Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha pada Rumah Tinggal Tipe Kolonial di Pusat Kota Tuban. Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37–50. Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain. Universitas Kristen Petra Surabaya.

Wilson, Forrest. 1971. Structure the Essence of Architecture. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

82 BAB V

MURAL

Dalam dokumen Buku Seni Monumental - Spada UNS (Halaman 72-82)

Dokumen terkait