RUTE PERDAGANGAN ISLAM ANTARBENUA (ASIA, AFRIKA, DAN EROPA)
A. Rute Perdagangan Islam 1. Rute-Rute Perdagangan Islam
Jauh sebelum kehadiran slam di Saudi Arab, telah ada rute-rute perdagangan yang selama beberapa abad dilalui oleh para pedagang.
Dalam penelusuran para pakar, artefak sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Saba (Sabean) yang berdomisili di bagian selatan, merupakan Bangsa Arab pertama yang mengembangkan sistem perniagaan dan membangun peradaban di semenanjung Arab sekitar 900 SM2. Meski demikian, kontak komersil antara kawasan Mediterania dengan beberapa daerah sepanjang Samudra Hindia telah dimulai sejak 3000 SM. Kawasan Arab Selatan saat itu terkenal sebagai pedagang dupa dan beberapa barang lainnya, sehingga jalur tersebut dikenal dengan jalur dupa (incense route). Kontak kultural dan komersial paling awal antara Mediterania dan kawasan di sekitar Samudra Hindia terjadi melalui jalur tersebut. Tidak heran jika di tahun 900 SM, perniagaan tersebut semakin berkembang.
Dikatakan bahwa ketika itu Bangsa Arab telah memegang kendali rute perdagangan menuju India dan menyuplai Mesir dengan rempah–rempah dan barang tenun Hindia (Asia Selatan dan Asia Tenggara). Mereka juga menyuplai kawasan Irak kuno sehingga kesepakatan kebijakan anatara orang Arab dan Syiria kuno adalah untuk menjamin jalur dupa demi kelancaran transaksi perdagangan mereka.3
Jalur perdagangan di semenangjung Arab ketika itu pada dasarnya terjadi melalui jalur selatan dan memiliki dua pintu transportasi utama. Pertama jalur timur yang melalui kawasan saat ini menjadi Oman yang sampai ke kawasan Irak. Para pedagang jalut ini membawa barang dagangan yang berasal dari Yaman Persia, India dan berakhir di pasar-pasar Syam. Kedua, jalur perdagangan barat yang melewati kawasan Yaman. Jalur inilah yang melewati
2 Hitti, History, 7 dan Patrica Crone, Meccan Trade and the Rise of Islam (Piscataway: Gorgias Prees, 2004:9).
3 Crone, Meccan Trade, 8-9.
pasar-pasar di Hijaz sebelum akhirnya sampai di daerah Syam.
Begitupun sebaliknya, pedagang dari Syam berdagang ke kawasan selatan sampai ke Habsyah dan kawasan Samudra Hindia melalui jalur barat tersebut4.
Kawasan Hijaz juga dilewati oleh jalur dagang internasional.
Setidaknya, ada empat (4) jalur perdagangan yang melewati Mekkah. Pertama, jalur Mekkah ke Kanton (Hongkong saat ini) yang ditempuh melalui Madain (ibu kota Persia lama/Sasania), terus ke Kabul, Khasmir, sampai Singkiang (Xinjiang saat ini), ke Jaitun, dan ke Kanton sebelum akhirnya sampai ke alam Melayu lewat jalur laut. Jalur kedua, dimulai dari Mekkah melalui Sana’a, terus ke Aden, Maskat, Raisut, Siraf, Guadar (pelabuhan di Pakistan), Daibul, sampai ke Malabar, India, seterusnya ke Tanjung Comorine (antara Srilangka dan India selatan). Dari sini ada yang langsung dari Kutaraja (Banda Aceh) dengan waktu tempuh selama 6 bulan dan harus menghadang ombak yang sangat ganas. Sebagian besar jalur alternatif juga menyusuri Pantai Karamandel; Saptagram, dan Chittagong yang terletak di Teluk Bangla, tempat transit bagi para pedagang dari Arab, Persia, dan Malbar, sebelum melanjutkan perjalanan ke alam Melayu lewat Selat Malaka atau ke Kutaraja
4 Sa’id al-Afghani, Aswaq al-‘Arab fi al-Jahiliyyah wa al-Islam (Beirut: Dar al-Fikr, 1973:15)
(Banda Aceh) dan Indrapura (Sumatera Barat), sebelum sampai ke Tanah Jawa5.
Jalur ketiga, dimulai dari Mekkah ke Damaskus, Aleppo (Halb), Anatolia, Selat Bosphorus dan sampai ke Konstantinopel. Di jalur darat, jalur sutra (silkroad) juga menghubungkan Singkiang lewat Asia Tengah termasuk Transoxiana (ma wara’a al-nahar) sampai ke pelabuhan di Kazan, Sarai Baru, dan kota-kota lain di kawasan Rusia.
Jalur keempat, dimulai dari Mekkah ke Jeddah melewati Aydzab, Habsyah (Ethiopia), Sungai Nil, sampai ke Pelabuhan di Afrika Utara melewati Farama, Alexandria, Barkah, Tripoli, Tunis, Hodna, Ceuta dan Tangier (Maroko), terus ke Selat Giblartar ke pelabuhan ai al- Andalus sampai ke Narbonne di wilayah Prancis Selatan6.
Dalam pemetaan Maurice Lombard, ketika Islam mencapai masa kejayaannya, rute perdagangan di dunia Arab secara umum melalui berbagai jalur yang tersebar sepanjang kawasan menuju pusat peradaban kaum muslim. Di Timur Laut, ia membentuk rute benua oasis bermula dari Mesopotamia ke arah Iran dan Asia Tengah, lantas menuju Negara Turki, terus ke Utara Cina atau Barat Laut India. Bagian Tenggara terdiri dari jalur laut melalui lautan Hindia, bermula dari Mesopotamia dan Teluk Persia di satu sisi, dan dari Mesir dan Laut Merah di sisi lainnya, menuju ke pantai barat India, Malabar, terus ke Ceylon, Indonesia, Indo-Cina, dan Cina. Selain itu, jalur ini juga terkoneksi dengan Aden menuju negara Zanj (pantai Timur Afrika) dan Madagaskar. Bagian barat daya terdiri dari jalur Karavan dari Gurun Sahara, Afrika Utara menuju negara Negro (bilad al-Sudan). Terakhir, bagian barat laut, terdiri dari jalur laut, sungai, dan daratan berasal dari Mesopotamia dan Armenia menuju negara di sekitar Kaspia dan sungai-sungai Rusia, dan terus menuju negara Baltik dan Eropa Tengah, atau lainnya dari Pelabuhan Muslim di Mediterania menuju Italia dan Pelabuhan Languedoc, lainnya dari muslim Spanyol menuju kedaulatan kerajaan Iberian di Utara,
5 Muhammad Abdul Karim, “Islam in Indonesia; A Historical Perspective”, Indonesia Journal of Interdisciply Islamic Studies, Vol. 1, No. 1, 5.
6 Muhammad Abdul Karim, Ekonomi Islam, Sejarah Kebijakan Islam Pada Masa Awal Islam. SUKA PREES. Yogyakarta, 1 Januari, 2021
terus melalui tersan Pyrennes (pegunungan Spanyol dan Perancis) menuju barat Perancis atau lainnya, terakhir dari muslim Spanyol melalui rute laut menuju Inggris7.
2. Sistem Perdagangan
Para sejarawan sepakat bahwa sebelum kedatangan Islam, di Semenanjung Arab, khususnya di kawasan Hijaz, telah tercipta sebuah aktivitas perniagaan yang intens. Meski masih diliputi oleh beberapa kontroversi, para pakar biasanya mengelompokkan aktivitas perdagangan di Arab pra-Islam ke dalam kategori silent trade atau perniagaan dengan sistem barter (tukar menukar barang) tanpa suara, melainkan dengan menggunakan beberapa isyarat tertentu. Tradisi ini secara umum dipakai dalam setiap transaksi perdagangan orang-orang di Semenanjung Arab pra-Islam. Pasar- pasar Semenanjung Arab pada masa pra-Islam biasanya terlihat lebih ramai saat-saat tertentu. Meraka biasanya mengadakan lapak atau pasar besar-besaran pada beberapa bulan tertentu yang disebut dengan al-ashyur al-haram, suatu waktu di mana orang-orang Arab menyimpan senjata mereka untuk berperang dan melakukan kegiatan niaga. Bulan–bulan tersebut adalah Rajab, Dzu al-Qa’dah, Dzu al-Hijjah, dan Muharram. Di bulan Rajab, dibuka pasar Hubasyah dan Suhar, pasar Hadramaut (Yaman/Arab Selatan) dibuka pada bulan Dzulqa’dah, pada bulan Dzu al-Qa’dah dan Dzu al-Hijjah dibuka pasar ‘Ukadz, Majnah, dan Dzu al-Mijaz8. Sa’id Afghani telah mencatat beragam transaksi masyarakat Arab pada masa pra- Islam. Diantaranya yang terkenal adalah transaksi dengan cara melempar tongkat atau batu (al-ramy bil al-hisat aw al hijarah) sebuah cara transaksi yang populer dipraktikkan di pasar Daumatul Jandal ketika itu.
Dalam kasus ini, seorang pembeli melempar tongkat atau batu kepada salah satu barang dagangan. Barang yang terkena lemparan tersebut akan dijual oleh si pembeli. Selain itu, juga dikenal model
7 Muhammad Abdul Karim, Ekonomi Islam, Sejarah Kebijakan Islam Pada Masa Awal Islam. SUKA PREES. Yogyakarta, 1 Januari, 2021
8 al-Afghani, Aswaq al-‘Arab, 70.
mulamasah, yakni ketika sebuah barang dagangan telah disentuh selama masa khiyar, maka barang tersebut wajib dibeli. Al-Afghani sendiri menyebutkan bahwa seluruh bentuk transaksi tersebut pada dasarnya cacat dan merugikan salah satu antara pembeli dan penjual. Beberapa jenis transaksi di atas terjadi dengan isyarat khusus sehingga disebut dengan silenttrade atau near-silenttrade. Hal ini ditambahkan dengan praktik riba yang merajarela seperti jika seseorang tidak dapat mengembalikan uang pinjaman tepat waktu maka ia harus membayar dua kali lipat, dan jika sepenuhnya tidak bisa membayar, maka ia akan menjadi hamba sahaya bagi orang yang meminjamkan uang sebagai gantinya9.
Dalam konteks Mekkah, menjelang kedatangan Islam, sistem ekonomi yang diaplikasikan selain dalam konteks perniagaan di atas adalah sebuah tradisi yang digagas oleh para pemimpin Klan Quraisy, termasuk ‘Abdul Mutalib yang dalam banyak hal bertujuan untuk merintis tradisi yang lebih baik dalam kehidupan orang Mekkah ketika itu. Selain menata tradisi yang etis dalam konteks sosial, ia juga menggagas tradisi baru untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat Mekkah dan para peziarah Ka’bah ketika itu.
Diantaranya yang fenomenal adalah sistem khums, atau kewajiban mengeluarkan seperlima bagian bagi seseorang yang menemukan harta karun yang dipendam oleh orang-orang Arab terdahulu. Hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu kebijakan pra-Islam terpenting yang diterapkan di kalangan masyarakat Arab sebelum kelahiran Islam di kawasan Hijaz. Diceritakan bahwa penggagas pertama sistem khums adalah Abdul Muttalib, kakek Rasulullah. Kebijakan khums sendiri pada awalnya bertujuan untuk mensejahterakan para peziarah Ka’bah dalam mencukupi makanan dan minuman mereka.
Sistem ini pada gilirannya juga dialokasikan untuk membantu mensejahterakan kelompok miskin setempat10.
9 Seyed Kazim Sadr, The Economic Syestem Of the Early Islamic Period (London:Palgrave, 2016:17)
10 Fase Madinah yang dimaksud diawali dari masa Hijrah Rasulullah pada tahun 622 dan berakhir sampai ia wafat di tahun 632 M.
3. Komoditi Perdagangan
Ketika itu, Mekkah telah menjadi salah satu pusat perdagangan baru di Semenanjung Arab. Hal ini menjadikan signifikankansi dari Mekkah meskipun dengan kondisi alam yang tidak sesubur di Madinah dan kota lainnya. Selain itu, Mekkah juga menjadi pusat sakral di Jazirah Arab di mana ia didatangi berbagai bangsa yang di samping bertujuan untuk ritual juga membawa komoditi dagang.
Komoditi yang dihasilkan oleh Mekkah juga berbeda dengan kawasan lain. W. Montgomery Watt mencatat bahwa al-Qur’an tidak turun di atmosfer tandus padang pasir, melainkan di sebuah ruangan dengan dinamika finansial yang tinggi11.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa komoditi utama yang menyebabkan kemunculan Mekkah dalam kancah dagang internasional adalah emas, perak, dan parfum yang mereka ekspor.
Komoditi yang diekspor pedagang Mekkah secara besar-besaran ketika itu adalah barang-barang yang terbuat dari kulit (leather) dengan berbagai bentuknya. Berdasarkan penelusuran terhadap beberapa sumber dalam tradisi Islam, komoditi dagang Mekkah pada masa kemunculan Islam adalah emas, perak, parfum, barang yang terbuat dari kulit, pakaian, hewan (terutama unta), aneka bahan makanan, kismis, anggur, dan budak (hamba sahaya). Koneksi dagang Mekkah terhubung dengan empat kawasan utama; Syiria, Yaman, Irak, dan Ethiopia.
Keempat kawasan berhubungan dengan Mekkah dalam satu jalur tunggal berskala internasional. Meskipun tidak ada waktu pasti kapan para pedagang Mekkah mulai aktif dalam kancah perniagaan internasional, tetapi menjelang datangnya Islam dan ketika Rasulullah berada di Mekkah, kota ini menjadi salah satu pusat niaga di Semenanjung Arab. Meski demikian, ketika di Mekkah, Rasulullah belum menjadi sosok pemimpin yang mengatur masyarakat, dikarenakan perlawanan suku kafir Quraisy saat itu yang masih belum menerima ajaran Islam. Rasulullah sebagai seorang pemimpin
11 W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca (Oxsford: Oxsford University Press, 1962:27).
masyarakat yang membuat berbagai kebijakan dimulai ketika nabi telah hijrah ke Madinah. Selain mengikuti petunjuk, alasan hijrah Rasulullah ke Madinah juga dapat ditinjau salah satunya dari alasan ekonomis. Upaya Rasulullah untuk memperbaiki mental masyarakat Mekkah yang ketika itu berkarakter hedonis dan menganut paham simple realism sebagaimana telah ditemukan sebelumnya, pada pada dasarnya mengalami banyak pertentangan dari para pembesar suku Quraisy. Pertentangan ini secara otomatis berpengaruh kepada kemapanan ekonomi pengikut Nabi Muhammad SAW ketika itu, sehingga Rasulullah SAW telah memutuskan untuk mencari dunia baru yang kooperatif, yakni Yatsrib, salah satu kita pesaing Mekkah, dengan kelompok Anshar yang telah menanti12.
B. Koneksi Mediterania