AGHLABIYYAH, DAN RUSTAMIYYAH)
B. Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah I, Dinasti Idrisiyyah, Dinasti Aghlabiyyah dan Dinasti Rustamiyyah di Afrika
B. Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah I, Dinasti Idrisiyyah,
pada perang Badar Kubra. Dilihat dari sejarahnya, Bani Umayyah memang begitu kental dengan kekuasaan8.
Masa al-Khulafa’ al-Rasyidin, Yazid bin Abi Sufyan ditunjuk oleh Abu Bakar memimpin tentara Islam untuk membuka daerah Syam, khalifah Umar diserahi jabatan gubernur di Damaskus. Hal yang sama dilakukan Umar, daerah Yordania diberikan kepada Muawiyah. Bahkan setelah Yazid wafat, daerah yang diserahkan kepadanya diberikan kepada Muawiyah. Setelah Umar wafat dan digantikan Utsman, maka kerabatnya dari Bani Umayyah (Utsman termasuk dari Bani Umayyah) banyak yang menguasai pos-pos penting dalam pemerintahan. Pada masa Utsman, kekuatan Bani Umayyah, khususnya pada Muawiyah semakin mengakar dan menguat9. Kekuasaan Muawiyah pada wilayah Syam membuatnya mempunyai basis rasional untuk karier politiknya. Karena penduduk Syam yang diperintah Muawiyah mempunyai ketentaraan yang kokoh, terlatih, dan terpilih di garis depan dalam melawan Romawi10.
Dinasti Umayyah berkuasa hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun. Dimulai oleh kepemimpinan Muawiyyah bin Abi Sufyan dan diakhiri oleh kepemimpinan Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Al-Hakam. Adapun urut-urutan khalifah daulah Bani Umayyah adalah sebagai berikut: Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah, Muawiyah II bin Yazid, Marwan bin al-Hakam, Abdul Malik bin Marwan, Al-Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik, Yazid bin Al-Walid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan bin al-Hakam11.
8 Al-Maududi, Abu A’la dan Hasan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1993), hlm. 282.
9Ibid., hlm. 146-147.
10 Mufrodi Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997), hlm. 70.
11 Hamka, Sejarah Umat Islam (Edisi Baru), Pustaka Nasional PTE LTD Sigapura, hlm. 250.
2. Dinasti Idrisiyyah
Dinasti Idrisiyyah di Maroko (172-375 H/788-985 M).
Keberhasilan Bani Abbasiyah dalam menaklukkan Dinasti Umayyah dibantu oleh keluarga Alawiyun dan kelompok Syiah. Namun, setelah Dinasti Abbasiyah berjaya, permintaan mereka tidak diindahkan dan mereka merasa dikhianati oleh Bani Abbasiyah.
Kekecewaan membuat mereka memberontak dan pemberontakan dilakukan oleh dua orang bersaudara dari keturunan Ali bin Abi Thalib, yaitu Muhammad (al-Nafs al-Zakiyyah) dan Ibrahim, yang mana keduanya adalah putra Abdullah ibnu Hasan ibnu Ali. Akan tetapi, pemberontakan mereka dapat dilumpuhkan oleh penguasa dikarenakan pasukan penguasa Abbasiyah masih sangat kuat.
Pada tahun 144 H, Muhammad terbunuh di Madinah dan setahun kemudian yakni pada tahun 145 H, Ibrahim juga terbunuh di daerah antara Kufah dan Wasith. Ketika kekhalifahan di tangan al-Hadi, kelompok Alawiyun kembali melakukan pemberontakan terhadap Bani Abbasiyah di Fakh (kota kecil antara Mekkah dan Madinah) yang dipimpin oleh al-Husain ibnu Ali ibnu al-Hasan yang dikenal dengan peristiwa mauqi’ fakh. Dalam pertempuran ini kelompok Alawiyun gagal, dan mengakibatkan al-Hasan gugur bersama sejumlah keluarga Alawiyun yang lain.
Terdapat dua orang yang berhasil meloloskan diri dari keluarga Alawiyun, yaitu Idris ibnu Abdillah dan saudaranya, Yahya ibnu Abdillah. Idris melarikan diri ke daerah barat yaitu Maroko (Afrika Utara) melalui Mesir hingga Maghrib al-Aqsha, dan Idris inilah yang
kemudian dikenal sebagai perintis berdirinya Dinasti Idrisiyyah.
Dinasti Idrisiyyah merupakan salah satu dinasti yang muncul di saat posisi kekhalifahan Abbasiyah masih kuat. Wilayah kekuasaan Dinasti Idrisiyyah adalah Maghribi (Maroko). Dinasti ini adalah dinasti pertama yang beraliran syiah. Sultan Idrisiyyah yang terbesar adalah Yahya IV (905 M-922 M). Dalam perkembangannya dinasti ini sempat mengukir peradaban yang maju di masanya. Idris ibnu Abdullah memilih Maroko sebagai basis kekuatannya dengan beberapa alasan. Pertama, bangsa Barbar di Maroko menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Kedua, Maroko cukup kondusif untuk mendirikan kekuasaan yang otonom.
Periode Idrisiyyah sangat penting bagi penyebaran kultur Islam di kalangan masyarakat Barbar di dalam negeri. Namun, selama pemerintahan Muhammad al-Muntashir, berbagai wilayah kekuasaan Idrisiyyah terpecah secara politis sehingga menjadi mangsa serangan musuh-musuh mereka yaitu Barbar, terutama abad X dengan munculnya dinasti Fathimiyyah12. Adapun khalifah pada masa Dinasti Idrisiyyah adalah Idris I, Idris II, Muhammad bin Idris, Ali I bin Muhammad, Yahya I bin Muhammad, Yahya II bin Yahya, Ali II bin Umar, Yahya III bin Kasim13.
3. Dinasti Aghlabiyyah
Dinasti Aghlabiyyah (184-296 H/800-908 M). Dinasti Aghlabiyyah merupakan sebuah dinasti yang pusat pemerintahannya berada di
12 Ahmad Mustagghfirin, Islamisasi di Afrika Sub-Sahara, dalam Jurnal Dirasat:
Jurnal Studi Islam dan Peradaban, Vol. 14, No. 2, 2019, hlm. 136
13 Hamka, Op.Cit., hlm. 325.
Sijilmasa. Nama dinasti ini dinisbatkan dari nama Ibrahim ibn al Aghlab, seorang perwira dalam barisan tentara Abbasiyah pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid14. Dinasti Aghlabiyyah adalah salah satu dinasti Islam di Afrika Utara yang berkuasa selama kurang lebih 100 tahun (800-909 M), dan berpusat di Sijilmasa15. Wilayah kekuasaannya meliputi Ifriqiyah, Algeria, dan Sisilia. Dinasti ini didirikan oleh Ibnu Aghlab. Ayah Ibrahim ibn Al-Aghlab adalah seorang pejabat Khurasan dalam militer Abbasiyah16.
Pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid, di daerah bagian barat Afrika Utara muncul dua kekuatan yang mengancam stabilitas kekhalifahan Abbasiyah. Kekuatan tersebut adalah Dinasti Idrisiyyah yang beraliran syiah dan kelompok khawarij. Dalam rangka mempertahankan pemerintahan Abbasiyah kemudian Harun al-Rasyid mengirimkan bala tentaranya menuju Ifriqiyah (sekarang Tunisia) di bawah pimpinan Ibrahim ibn al-Aghlab dan berhasil menumpas kelompok khawarij. Dengan keberhasilan yang dicapai, Ibrahim mengusulkan kepada khalifah agar wilayah Ifriqiyah tersebut dihadiahkan kepadanya dan keturunannya secara permanen. Usulan Ibrahim itu kemudian disetujui khalifah dan secara resmi ia diangkat sebagai gubernur di Tunis pada tahun 800 M serta diberi hak otonomi secara luas, dan sebagai imbalannya dia harus membayar upeti tahunan sebesar 40.000 dinar kepada khalifah di Baghdad17.
Pemberian ini meliputi hak-hak otonomi yang besar. Pada masa Ziyadatullah I, dimulailah proyek merebut Sisilia dari tangan Byzantium. Penaklukan ini agar dapat mengalihkan energi fanatis ke jihad melawan orang-orang kafir. Dengan demikian, akhirnya Sisilia berada di bawah penguasa muslim Aghlabiyyah untuk pertama kalinya. Wilayah ini merupakan pusat penting bagi penyebaran kultur Islam ke Eropa. Keberhasilan pada masa Aghlabiyyah adalah
14 M. Abdul Karim, Op.Cit., hlm. 189.
15Ibid., hlm. 188.
16 Ahmad Mustaghfirin, Islamisasi di Afrika Sub-Sahara, hlm. 137.
17 W. Montgomery Watt. Kejayaan Islam Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Terjemah. Hartono Hadikusumo, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990), hlm. 109.
memperluas masjid Agung Qayrawan dan masjid Tunis18. Hubungan Ibrahim semakin baik dengan khalifah Abbasiyah. Setelah satu tahun menjadi amir, khalifah kemudian memberikan hak otonomi penuh kepada Ibrahim untuk mengatur wilayahnya dan menentukan kebijakan politiknya, termasuk menentukan penggantinya tanpa campur tangan sedikit pun dari khalifah walaupun secara formal masih tetap mengakui kekhalifahan Baghdad19.
Dengan demikian, Ibrahim ibnu al-Aghlab membina wilayah ini dengan keturunannya, yang kemudian dikenal dengan Dinasti Aghlabiyyah. Dinasti Aghlabiyyah diperintah oleh 11 khalifah, Ibrahim I, Abdullah I, Ziadatullah I, Abu ‘Iqbal Al-Aghlab, Muhammad I, Ahmad bin Ab’il, Ziadatullah II, Muhammad II, Ibrahim II, Abdullah II, dan Ziadatullah II20.
4. Dinasti Rustamiyyah
Dinasti Rustamiyyah didirikan oleh Abdurrahman ibn Rustam. Ia merupakan pemimpin suku Barbar dari jabal Nefusa yang menganut faham Kharijiyah sekte Ibadiyah, berhasil menduduki Tripoli dan Qayrawan. Selanjutnya pada tahun 761 M, ia pergi ke Aljazair barat dan mendirikan basis Kharijiyah yang kemudian dinamakan dinasti Rustamiyyah yang berpusat di Tahert (Al-Jazair). Dinasti ini bertahan sampai tahun 909 M. Rustamiyyah memiliki nilai penting bagi sejarah Islam Afrika Utara yang tidak sebanding dengan masa dan lingkup kekuasaan politis mereka. Mayoritas Barbar Afrika
18 Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, Terjemahan Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1983), hlm. 45-46.
19 Imam Fuadi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm.160.
20 Hamka, Loc.Cit.
Utara menganut sekte Kharijiyah yang radikal, equalitarian, dan religio-politis, yang merupakan bentuk protes terhadap dominasi tuan-tuan mereka yang Arab dan ortodok. Sementara di Timur, Kharijiyah merupakan sekte minoritas yang ekstrim dan kasar.
Sedangkan di Barat, Kharijiyah merupakan sebuah gerakan massa yang lebih moderat. Namun, dengan bangkitnya Fathimiyah yang syiah di Maroko berakibat fatal bagi Rustamiyyah (777 – 909 M) dan berakhirlah dinasti ini begitu pula dinasti-dinasti lokal lainnya.
Di bawah Rustamiyyah, Tahart mengalami kemakmuran material yang luar biasa, menjadi terminal di utara dari salah satu rute kafilah trans-Sahara21.
C. Kebijakan Ekonomi Pada Masa Dinasti Umayyah I, Dinasti