• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsentrasi asam sulfat untuk pretreatment tetes tebu yang sesuai dengan kondisi pertumbuhan optimal yeast.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai jenis strain yeast yang digunakan sehingga dapat menghasilkan yield etanol dan efisiensi fermentasi yang lebih optimal.

74

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh metode fermentasi dengan aerasi dan tanpa aerasi menggunakan fermentor atau bioreaktor.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsentrasi gula substrat yang lebih tinggi karena berdasarkan penelitian penulis perlakuan terbaik yaitu pada faktor konsentrasi gula tertinggi yaitu 30% brix.

75

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S. N., dan K. C. Sembiring. 2009. Bioproses dan Teknologi Pembuatan Bioetanol. Berita IPTEK LIPI. Tahun ke-47 (1): 64-71

Algus, L. F. 2014. Isolasi Khamir dari Tetes Tebu (Tetes tebu) dan Potensinya dalam Menghasilkan Etanol. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulanan Malik Ibrahim Malang. Malang Apriyantono, A. dkk. 1989. Analisis Pangan. PAU Pangan dan Gizi, IPB, Bogor Arshad, M., T. Hussain, M. Iqbal, M. Abbas. 2017. Enhanced ethanol production

at commercial scale from molasses using high gravity technology by mutant S. cerevisiae. brazilian journal of microbiology 48: 403–409 Azizah, N., A. N. Al-Baarri, dan S. Mulyani. 2012.

Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH, dan Produ ksi Gas Pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Subst itusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1 (2): 72-77

Basso, L. C., Thiago O. B., and Saul N. R. Ethanol Production in Brazil: The Industrial Process and Its Impact on Yeast Fermentation. Biofuel Production-Recent Developments and Prospects, Brazil

Bekatorou, A., C. Psarianos, and A. A. Koutinas. 2006. Production of Food Grade Yeasts. Food Technol. Biotechnol, 44 (3): 407–415

Biosan SIA. 2013. DEN-1 Densitymeter Suspension turbidity detector.Latvia:

Medical–Biological Research & Technologies

Borzani, W., C. H. Jurkiewicz. 1998. Variation of the Ethanol Yield During Very Rapid Batch Fermentation of Sugarcane Blackstrap Molasses. Braz. J Chem. Eng, 15 (3)

BPOM RI. 2014. Etanol. Dipublikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (http://ik.pom.go.id/). Diakses tanggal 27 Februari 2018

BPS. 2016. Statistik Tebu Indonesia 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik - Indonesia

Bries A.R, 2008, The Extraction of Bioethanol from Pineapple Peelings Through Simultaneous Saccharification and Fermentation Using the Yeast Saccharomyces cerevisiae. Republic of the Philippines Cumhyriyet Filipinler

76

Chae, H. J., H. Joo, M. J. In. 2000. Utilization of brewer's yeast cells for the production of food-grade yeast extract. Part 1: effects of different enzymatic treatments on solid and protein recovery and flavor characteristics. Bioresource Technology, 76 (2001): 253-258

Chen, J.C.P and Chou C.C. 1993. Cane Sugar Handbook, pp 408 – 409. Willey son, New York

Chotineeranat, S., Rungtiva W., Kuakoon P., Pathama C., Pipat V., and Klanarong S. 2010. Effect of calcium ion on ethanol production from molasses by Saccharomyces cerevisiae. Proceeding Internasional Society Sugarcane Technology Vol. 27

Dias, M. O. S., A. V. Ensinas, S. A. Nebra, R. M. Filho, C. E. V Rossell, and M. R.

W. Maciel. 2009. Production of bioethanol and othe bio-based materials from sugarcane bagasse: Integration to conventional bioethanol production process. Chemical Engineering Research Design, 87: 1206-1216

Demain, A. L., M. Newcomb, W. J. H. David. 2005. Cellulase, Clostridia, and Ethanol. Microbiology and Molecular Biology Reviews, 69 (1): 124-154 Dwiastuti, I. 2008. Analisis Manajemen Strategi Industri Energi Alternatif:

Studi Kasus Biofuel. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 27 (1): 36-44 Endah, R. D., D. Sperisa, A. Nur, dan Paryanto. 2007. Pengaruh Kondisi

Fermentasi Terhadap Yield Etanol Pada Pembuatan Bioetanol Dari Pati Garut.GEMA TEKNIK, 2 (X): 83-88

Ernes, A., L. Ratnawati, A. K. Wardani, dan J. Kusnadi. 2014. Optimasi Fermentasi Bagas Tebu Oleh Zymomonas Mobilis CP4 (NRRLB- 14023) Untuk Produksi Bioetanol. AGRITECH, 34 (3): 248-256

Ilhamdy, A. F. 2011. Optimasi Proses Produksi Etanol dari Mikroalga Chlamydomonas sp. ICBB 9113, ICBB 9114 dan Synechococcus sp.

ICBB 911. Thesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Falahudin, D. 2014. Bioassay antioksidan ekstrak daging buah salak bongkok (Sallaca edulis reinw.) dengan khamir Candida sp. Y. 390. Jurnal Oseanografi. Jakarta: LIPI

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

77

Fieldmann, H. 2005. Yeast Molecular Biology. A Short Compen Dium on Basic Features and Novel Aspects, Adolf Butenandt Institute, University of Munich, Munich, Germany

Flamholz, A., E. Noor, A. Bar-Even, W. Liebermeister, and R. Milo. 2013.

Glycolytic strategy as a tradeoff between energy yield and protein cost. Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America, 110 (24): 10039-10044

Fleming, E. J., A. E. Langdon, Martinez-Garcia M, Stepanauskas R, Poulton NJ, Masland EDP et al. 2011. What’s new is old: resolving the identity of Leptothrix ochracea using single cell genomics, pyrosequencing and FISH. PLoS One 6: e17769

Gandjar, I., W. Sjamsuridzal, A. Oetari. 2006. Mikologi: Dasar dan Terapan.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Gellisen, G., C.P. Hollenberg. 1997. Application of yeasts in gene expression studies: A comparison of Saccharomyces cerevisiae, Hansenula polymorpha and Kluyveromyces lactis – A review, Gene, 190: 87–97 Godbole, J. 2002. Ethanol from cane molasses. Fuel Ethanol Workshop

Honohulu. Hawaii. (http://www.hawaii.gov). Diakses tanggal 27 Februari 2018

Hapsari, M. A., dan Alice P. 2013. Pembuatan Bioetanol dari Singkong Karet (Manihot glaziovii) untuh Bahan Bakar Kompor Rumah Tangga sebagai Upaya Mempercepat Konversi Minyak Tanah ke Bahan Bakar Nabati. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2 (2): 240-245

Harde, M., S. B. Bankar, H. Ojamo, T. Granstrom, R.S. Singhal, and S. A. Survase.

2014. Continuous lignocellulosic ethanol production using Coleus forskohlii root hydrolysate. Fuel, 126: 77–84

Hartina, F., Akyunul J., dan Anik M. 2014. Fermentasi Tetes Tebu dari Pabrik Gula Pagotan Madiun Menggunakan Saccharomyces cerevisiae untuk Menghasilkan Bioetanol Dengan Variasi pH dan Lama Fermentasi. Jurnal Alchemy, 3 (1): 93-100

Hidayanto, E., A. Rofiq, dan H. Sugito. 2010. Aplikasi Portable Brix Meter untuk Pengukuran Indeks Bias. Berkala Fisika, 13 (4): 113 - 118

Ihsan, F. dan A. Wahyudi. 2010. Teknik Analisis Kadar Sukrosa Pada Buah Pepaya. Buletin Teknik Pertanian, 15 (1): 10-12

78

Jayus, J., S. Suwasono, dan I. Wijayanti. 2017. Produksi Bioetanol Secara Shf Dan Ssf Menggunakan Aspergillus Niger, Trichoderma Viride Dan New Aule Instant Dry Yeast Pada Media Kulit Ubi Kayu. Jurnal Agroteknologi, 11 (01): 61-68

Jennifer, C.B. 2005. Characteristic of Flo-11-dependent flocculation in Saccharomyces cerevisiae. FEMS Yeast, 5: 1151—1156

Jin, H., R. Liu, and Y. He. 2012. Kinetics of batch fermentations for ethanol production with immobilized Saccharomyces cerevisiae growing on sweet sorghum stalk juice. Procedia Environmental Science, 12: 137–

145

Juwita, R. 2012. Studi Produksi Alkohol dari Tetes Tebu (Saccharum officinarum L) Selama Proses Fermentasi. Skripsi. Makassar:

Universitas Hasanuddin

KEM (Kyoto Electronics Manufacturing). 2004. Density/Specific Gravity Meter Concentration Meter. Tokyo, Japan

Komarayati, S., Ina W., dan Djarwanto. 2011. Pembuatan Bioetanol dari Empulur Sagu (Metroxylon spp.) dengan Menggunakan Enzim. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 29 (1): 20-32

Kuncahyo, P., A. Z. M. Fathallah, dan Semin. 2013. Analisis Prediksi Potensi Bahan Baku Biodiesel sebagai Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel di Indonesia. Jurnal Teknik Pomits, 2 (1): 2337-3539

Lin, Y., W. Zhang, C. Li, K. Sakakibara, S. Tanaka, and H. Kong. 2012. Factors affecting ethanol fermentation using Saccharomyces cerevisiae BY4742. Biomass and Bioenergy, 47: 95–401

Lopes, M. L., S. C. Paulino, A. Godoy, R. A. Cherubin, and M. S. Lorenzi. 2016.

Ethanol production in Brazil: a bridge between science and industry.

Brazilian Journal of Microbiology, 47S: 64-76

Lusiana. 2010. Kemampuan Antioksidan Asal Tanaman Obat Dalam Modulasi Apoptosis Sel Khamir (Saccharomyces cerevisiae). Tesis. Bogor, Institut Pertanian Bogor

Maulana, G. E., T. B. Indrato, dan Syaifudin. 2017. Portable Densitymeter Berbasis Pc Via Bluetooth. Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Surabaya

79

Mayzuhroh, A. 2015. Produksi Bioetanol Menggunakan Starter Komersial Dengan dan Tanpa Pemberian Aerasi Agitasi Pada Media Tetes tebus.

Skripsi. Universitas Jember

MEP Instruments. 2009. Alcohol Measurement Using Anton Paar Density Meters. North Shore, New Zealand

Mettler Toledo. 2018. Comparison of different measuring techniques for density and refractometry. Dipublikasi Mettler Toledo (www.mt.com). Diakses 15 Juli 2018

Miller, G.L. 1959. Use for dinitrosalicylic acid for determination for reducing sugar. Analysis chemistry, 31: 426

Muslihah, R. W. 2012. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes Secara In Vitro. Skripsi. Jember: Universitas Jember

Natsir. 2003. Mikrobiologi Farmasi Dasar. Universitas Hasanudin: Makassar Nelson, David L and Cox, Michael M. 2004. Lehninger principles of

biochemistry. Willey Sons Library, USA

Nigam, P. S., and A. Singh. 2011. Production of liquid biofuels from renewable resources. Progress in Energy and Combustion Science, 37: 52-68 Nurnasari, E. 2016. Produksi Bioetanol dari Tetes tebu Oleh Saccharomyces

cerevisiae Pembentuk Flok (NCYC-1195). Tesis. Malang: Universitas Brawijaya

Olbrich, H. 1963. The molasses fermentation technologist. Institute fur Zuckerindustrie, Berlin, Germany

Ortiz-Muniz B, O.Carvajal-Zarrabal, B.Torrestiana-Sanchez, and M. G. Aguilar- Uscanga. 2010. Kinetic study on ethanol production using Saccharomyces cerevisiae ITV-01 yeast isolated from sugar cane molasses. Journal of Chemical Technology and Biotechnology, 85 (10):

1361–1367

Patrascu, E., Rapeanu, G., Bonciu, C., Vicol, C., dan Bahrim. 2009. Investigation of Yeast Performances in The Fermentation of Beet and Cane

80

Molasses to Ethanol Production. Ovidius University Press, 20 (2):202- 203

Pérez, R., 1995. Molasses. In: Tropical Feeds and Feeding Systems. First FAO Electronic Conference. (http://www.fao.org/). Diakses tanggal 27 Februari 2018

Poitrenaud, B. 2006. Yeast. Di dalam Hand Book of Food Science, Technology, and Engineering Volume 2. Y. H. Hui (ed). Boca Raton, London, dan New York: CRC Press

Pradeep P. dan O. V. S. Reddy. 2010. High Gravity Fermentation of Sugarcane Molasses to Produce Ethanol: Effect of Nutrient. Indian Journal Microbiology, 50: 82-87

Prasertwasu, S., D.Khumsupan, T.Komolwanich, T.Chaisuwan, A.

Luengnaruemitchai, and S. Wongkasemjit. 2014. Efficient process for ethanol production from Thai Mission grass (Pennisetum polystachion). Bioresource Technology, 163: 152–159

Rachmadena, D. 2014. Pemanfaatan Ampas Tebu Dalam Pembuatan Bioetanol Dengan Metode Pretreatment Steam Explosion. Skripsi.

Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya

Rahim, D. A. 2009. Produksi Etanol Oleh Saccharomyces cerevisiae var.

Ellipsoideusdari SIRUP DEKSTRIN PATI SAGU (Metroxylon sp.) Menggunakan metode Aerasi Penuh Dan Aerasi Dihentikan. Skripsi.

IPB. Bogor

Rahmana, S. F., S. Nurhatika, dan A. Muhibuddin. 2016. Uji Potensi Fermentasi Etanol Beberapa Yeast yang Diisolasi dari Daerah Malang, Jawa Timur dengan Metode SDN (Soil Drive Nutrient). Jurnal Sains Dan Seni ITS, 5 (2): 2337-3520

Ringbom, K., A. Rothberg, B. Saxén. 1996. Model-based automation of baker’s yeast production. J. Biotechnol, 51: 73–82.

Rudolph Research Analytical. 2014. Measuring Alcohol Concentration for Proof by measuring the Density of Alcohol. Dipublikasi Rudolph Research Analytical (www.rudolphresearch.com) Diakses 17 Juli 2018.

Sankh, S. N., P. S. Deshpande, and A. U. Arvindekar. 2011. Improvement of ethanol production using Saccharomyces cerevisiae by

81

enhancement of biomass and nutrient supplementation. Applied Biochemistry and Biotechnology, 164 (8): 1237–1245

Sebayang, F. 2006.Pembuatan Etanol Dari Molase Secara Fermentasi Menggunakan Sel Saccharomyces cerevisiae Yang Terimobilisasipada Kalsum Alginat. Jurnall Teknologi Proses 5(2): 68- 74

Soekotjo, R. A. 2010. Pengaruh Konsentrasi Yeast Dan Jenis Emulsifier Pada Frozen Dough. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-1679-1989. 1989. Tetes Tebu. Dipublikasi oleh Dewan Standardisasi Nasional - DSN. Diakses 27 Februari 2018 Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-7390:2012. 2012. Bioetanol terdenaturasi

untuk gasohol. Dipublikasi oleh Badan Standar Nasional Indonesia (www.bsn.go.id). Diakses 27 Februari 2018

Sudarmadji, S. dkk. 1997. Prosedur Analisis untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta

Sukomulyo, G. S. 2007. Yeast dalam Pembuatan Roti. Majalah Foodreview Vol II No.5 Mei 2007

Sulistyanto, A. 2007. Pengaruh Variasi Bahan Perekat Terhadap Laju Pembakaran Biobriket Campuran Batubara dan Sabut Kelapa. Jurnal Media Mesin, 8 (2): 45-52

Susmiati, Y., D. Setyaningsih, dan T. C. Sunarti. 2011. Rekayasa Proses Hidrolisis Pati dan Serat Ubi Kayu (Manihot utilissima) untuk Produksi Bioetanol. Jurnal Agritech, 31 (4): 384-390

Syahnan, A. P., M. Agung P. H., dan Johannes T. 2014. Pemanfaatan Limbah Pabrik Gula (Tetes Tebu) Sebagai Bahan Tambah Dalam Campuran Beton. Skripsi. Medan: Pps Universitas Sumatera Utara Medan

Teswaf, A., and F. Assefa. 2014. Current Trends in Bioethanol Production by Saccharomyces cerevisiae: Substrate, Inhibitor Reduction, Growth Variables, Coculture, and Immobilization. International Scholarly Research Notices Hindawi Publishing Corporation, Article ID 532852: 1-11

Tyassena, A. F. A. 2015. Pengaruh Variasi Kadar Tetes tebu Dan Limbah Jamu (Beras Kencur Dan Daun Pepaya) Terhadap Penghasilan Biogas Oleh Bakteri Metanogen. Skripsi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta

82

Vasconcelos, J N D. 2015. Chapter 15: Ethanol Fermentation in Sugarcane agricultural production, bioenergy and ethanol. USA: Academic Press Verstrepen, K. J., D. Iserentant, P. Malcorps, G. Derdelinckx, P.V. Dijck, J.

Winderickx, I.S. Pretorius, J.M. Thevelein, F.R. Delvaux. 2004. Glucose and sucrose: Hazardous fast-food for industrial yeast?. Trends Biotechnol, 22: 531–537

Wardani, A. K., dan F. N. E. Pertiwi. 2013. Produksi Etanol Dari Tetes Tebu Oleh Saccharomyces cerevisiae Pembentuk Flok (NRRL – Y 265). Jurnal Agritech, 33 (2): 131-139

Wulandari, R. 2011. Pengaruh Etanol 0-5% Terhadap Kekerasan Permukaan Resin Komposit Hybrid. Skripsi. Universitas Sumatera Utara

Zeleny, M. 1982. Multiple criteria decision making. McGraw Hill, New York Zhang, Y., Shang-Tian Yang, Xiaoguang Liu. (2007). Chapter 4 - Metabolic

Engineering – Applications, Methods, and Challenges. Bioprocessing for Value-Added Products from Renewable Resources page 73-118 Zheng, D., K. Zhang, K. Gao, Z. Liu, X. Zhang, O. Li, J. Sun, et al. 2013.

Construction of Novel Saccharomyces cerevisiae Strains for Bioethanol Active Dry yeast (ADY) Production. PLoS ONE 8 (12):

e85022. doi:10.1371/journal.pone.0085022

83 LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Analisis

1.1 Prosedur Analisis Kadar Gula Reduksi (Miller, 1959) - Pembuatan Pereaksi

a. Ditimbang 2.5 gram 3,5 Dinitro Salisylic Acid (DNS), 2.5 gram Kristal NaOH, 45.5 gram KNa-Tartarat, 2.5 gram Natrium Sulfat (Na2SO3) kemudian dilarutkan dalam 250 ml akuades menggunakan labu ukur hingga homogen

- Pembuatan Kurva Standar

a. Dibuat larutan glukosa dengan cara melarutkan 0.1 gram glukosa dalam 100 ml akuades (konsentrasi 1000 ppm)

b. Diencerkan hingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm, 300 ppm, 350 ppm

c. Dipipet masing-masing konsentrasi sebanyak 2 ml pada tabung reaksi d. Ditambahkan pereaksi DNS ke dalam masing-masing tabung reaksi

kemudian ditutup dan divortex

e. Dipanaskan dalam penangas air suhu 100oC selama 15 menit f. Didinginkan dengan cepat menggunakan air mengalir

g. Dibuat kurva standar antara absorbansi dengan konsentrasi gula - Penetapan Sampel

a. Dimasukkan 2 ml sampel (dari persiapan sampel) ke dalam tabung reaksi.

b. Diakukan tahap (c) sampai (f) seperti pada pembuatan kurva standar.

c. Ditentukan konsentrasi kadar gula reduksi dalam sampel.

1.2 Prosedur Analisis Total Gula (Apriyantono dkk, 1989) - Pereaksi

a. Pereaksi Anthrone 0,1% dalam asam sulfat pekat. Dibuat hanya pada waktu hari akan digunakan, tidak stabil, hanya tahan 1 hari.

84

b. Larutan glukosa standar 0,2 mg/ml. Larutan 200 mg glukosa dalam 100 ml akuades. Diambil 10 ml dan diencerkan menjadi 100 ml (1 ml = 0,2 mg glukosa).

- Pembuatan Kurva Standar

a. Dipipet ke dalam tabung reaksi 0,0 (blanko); 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; dan 1 ml larutan glukosa standar. Ditambahkan akuades sampai total volume masing-masing tabung reaksi 1 ml.

b. Ditambahkan dengan cepat 5 ml pereaksi Anthrone ke dalam masing- masing tabung reaksi.

c. Ditutup tabung reaksi dan divortex.

d. Ditempatkan dalam water bath 1000C selama 12 menit (rendam dalam air mendidih).

e. Didinginkan dengan cepat menggunakan air mengalir.

f. Dipindahkan ke dalam kuvet dan baca absorbansinya pada λ = 630 nm.

g. Dibuat kurva hubungan antara absorbansi dengan mg glukosa.

- Persiapan Sampel

a. 2 gram sampel dimasukkan dalam labu ukur 100 ml

b. Ditambahkan akuades hingga tanda batas dan dihomogenkan c. Ditambahkan CaCO3 hingga pH netral

d. Dipanaskan selama 30 menit

e. Dimasukkan labu ukur 100 ml dan ditambahkan akuades hingga tanda batas kemudian dihomogenkan

f. Disaring

g. Diambil 5-7 ml sampel dimasukkan pada falcon tube h. Disentrifugasi 6000 rpm 5 menit

i. Disaring j. Diambil filtrat

k. Diencerkan hingga absorbansi pada spektrofotometer terbaca 0,2 - 0,8

- Penetapan Sampel

a. Dimasukkan 1 ml sampel (dari persiapan sampel) ke dalam tabung reaksi.

85

b. Diakukan tahap (b) sampai (f) seperti pada pembuatan kurva standar.

c. Ditentukan konsentrasi total gula dalam sampel.

1.3 Prosedur Analisis Kadar Abu (Sudarmadji, 1997)

a. 10 gram (W1) dan dimasukkan ke dalam cawan porselen yang sudah diketahui beratnya

b. Diarangkan di atas kompor listrik 600 watt hingga berwarna hitam dan tidak berasap

c. Dimasukkan ke dalam tanur pengabuan dan dipijarkan sampai warna abu keputih putihan (6400C) selama 5 jam

d. Dioven pada suhu 1050C selama 1 jam

e. Dimasukkan ke dalam desikator dan didinginkan f. Ditimbang hingga beratnya konstan (W2)

g. Dihitung kadar abunya

𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑏𝑢 (%) = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (𝑔)

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 (𝑔)× 100%

1.4 Prosedur Analisis Kadar Mineral dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) (Apriyantono dkk, 1989)

a. Dilakukan pengabuan terhadap sampel

b. Ditambahkan 1 ml HNO3 pekat ditambahkan ke dalam abu hingga sampel berubah jernih

c. Disaring dengan kertas saring halus

d. Filtrat diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

e. Blanko dibuat dari 10 ml akuades ditambah dengan 1 ml HNO3 pekat f. Diukur absorbansi akuades, blanko dan sampel dengan menggunakan AAS

1.5 Prosedur Analisis pH dengan Menggunakan pH Meter (Apriyantono dkk, 1989)

a. Sampel yang berbentuk larutan homogen yang tidak terlalu pekat dapat langsung diukur pH-nya tanpa dilakukan pengenceran terlebih dahulu.

86

b. pH meter dikalibrasi menggunakan larutan buffer pH 4 dan pH 7, kemudian elektroda dibilas dengan aquades tiap mengganti buffer dan dikeringkan dengan tisu.

c. Celupkan elektroda pada sampel, set pengukuran pH.

d. Biarkan elektroda tercelup beberapa saat sampai diperoleh pembacaan yang stabil.

e. Catat pH sampel dan harus diingat setiap kali mengganti sampel, elektroda dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan aquades serta dikeringkan dengan tisu.

1.6 Prosedur Analisis Total Padatan Terlarut (% Brix) (Apriyantono dkk, 1989)

a. Sampel diambil dengan pipet tetes.

b. Diletakkan pada prisma refraktometer.

c. Nilai hasil pengukuran ditentukan dengan melihat skala yang tertera pada refraktometer.

1.7 Prosedur Analisis Jumlah Sel dengan Metode Total Plate Count (Fleming, 2011)

a. Media PDA dituang ke dalam cawan petri yang akan digunakan untuk inokulasi mikroba sebanyak 10 ml setiap cawan

b. Ditunggu hingga memadat

c. Sampel diambil 0,5 ml, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 4,5 ml larutan aquades steril (pengenceran 10-1).

d. Diambil 0,5 ml dari larutan pengenceran 10-1, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 4,5 ml larutan pepton steril (pengenceran 10-2), begitu seterusnya sampai pengenceran tertinggi yang diinginkan (disesuaikan dengan jam yang diamati)..

e. Diambil 0,1 ml dari tiga pengenceran tertinggi ke dalam cawan yang sudah berisi media memadat

f. Diratakan dengan spreader yang sudah disterilkan dengan alkohol g. Cawan petri dibungkus dengan kertas payung dan diinkubasi suhu 300C

24 jam

87

h. Dicatat pertumbuhan koloni pada setiap cawan yang mengandung koloni.

i. Dihitung angka TPC dalam per ml dengan mengalikan jumlah koloni rata- rata dengan faktor pengenceran yang digunakan dengan satuan colony forming unit/ml atau koloni/ml.

Untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan digunakan sebagai standar yang disebut standard plate count, yaitu:

a. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300.

b. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya dihitung sebagai satu koloni.

c. Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai satu garis tebal dihitung sebagai satu koloni.

Perhitungan:

SPC =𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛1 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖

1.8 Prosedur Analisis OD Sel dengan Spektrofotometer (Jennifer, 2005) - Persiapan blanko

a. Diambil 10 ml larutan untuk setiap perlakuan dan dimasukkan ke dalam falcon tube, ditimbang hingga beratnya sama

b. Disentrifugasi 5 menit 4000 rpm, endapan dibuang

c. Diambil filtrat hasil sentrifugasi 1 ml dan ditambahkan dengan 4 ml aquades lalu divortex

d. Diambil 2 ml sebagai larutan blanko

- Pengukuran sampel

a. Blanko dan sampel diisikan pada kuvet yang berbeda sebanyak ± 3 ml b. Dilakukan pembacaan OD sampel pada panjang gelombang 600 nm

setelah dikalibrasi dengan blanko

1.9 Prosedur Analisis Alkohol dengan Densitymeter (Rudolph, 2014)

88

a. sampel diinjeksi dalam alat sebanyak 1-3 ml untuk membuang sisa sampel sebelumnya

b. sampel dimasukkan kembali 1-3 ml c. sampel diberi kode/nama pada alat

d. ditunggu 1-2 menit hingga hasil terbaca pada layar densitymeter.

1.10 Penentuan Perlakuan Terbaik (Zeleny, 1982)

Untuk menentukan kombinasi perlakuan terbaik menggunakan multiple atribut dengan prosedur pembobotan sebagai berikut:

a. Menentukan nilai ideal pada masing-masing parameter

Nilai ideal adalah nilai yang sesuai dengan pengharapan yaitu nilai maksimal atau nilai minimal dari setiap parameter. Untuk parameter dengan rerata semakin tinggi semakin baik, maka nilai terendah sebagai nilai terjelek dan nilai tertinggi sebagai nilai terbaik.

b. Menghitung derajat kerapatan (dk)

Derajat kerapatan dihitung berdasarkan nilai ideal dari masing-masing parameter.

Bila nilai ideal maksimal, maka:

𝑑𝑘 = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡𝑖 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 − 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑙𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑡𝑖𝑓 Bila nilai ideal minimal, maka:

𝑑𝑘 =𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 − 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑙𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑒𝑘𝑎𝑡𝑖 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 c. Menghitung jalkohol kerapatan (λ)

Dengan asumsi bahwa semua parameter penting, jalkohol kerapatan (λ) dihitung berdasarkan jumlah parameter pada masing-masing perlakuan.

λ = 1/jumlah parameter L1 = 1 – Ʃ (λ2x dk) L2 = Ʃ (λ2x (1 - dk)2)

L = nilai maks (λx (1 - dk))

Perlakuan terbaik dipilih dari perlakuan yang mempunyai nilai L1, L2, L

maksimal.

89 Lampiran 2. Data Penelitian

2.1 Analisis Bahan Baku

Sampel Total Padatan Terlarut (% Brix) Total gula (anthrone) (%) Kadar Gula reduksi (%) U1 U2 rerata stdev U1 U2 rerata stdev U1 U2 rerata stdev Bahan baku 79.20 81.00 80.10 0.90 57.48 56.54 57.01 0.47 20.10 20.86 20.48 0.38 dengan pretreatment

asam sulfat 44.00 44.00 44.00 0.00 44.78 43.19 43.99 0.80 15.79 15.24 15.51 0.28 tanpa pretreatment

asam sulfat 42.00 42.00 42.00 0.00 41.14 42.07 41.60 0.47 14.84 14.23 14.53 0.30

Sampel Abu (%) Ca (ppm)

U1 U2 rerata stdev U1 U2 rerata stdev Bahan baku 7.51 7.41 7.46 0.05 5952.35 5989.00 5970.67 18.33 dengan pretreatment

asam sulfat 3.39 3.23 3.31 0.08 186.77 185.89 186.33 0.44 tanpa pretreatment

asam sulfat 5.51 5.42 5.47 0.04 769.65 787.24 778.45 8.80 Keterangan:

U1: ulangan 1 U2: ulangan 2

90 2.2 Konsentrasi Gula (% Brix)

2.2.1 Konsentrasi Gula (% Brix) selama Fermentasi Kombinasi

Perlakuan Jam ke Ulangan 1

Ulangan 2

Ulangan

3 rerata stdev

20% dengan pretreatment asam sulfat

0 15.20 15.00 14.00 14.73 0.52

6 FI* 12.00 12.00 11.00 11.67 0.47 6 FII** 16.00 16.00 15.00 15.67 0.47

12 14.00 13.60 13.20 13.60 0.33

24 10.40 11.00 10.00 10.47 0.41

36 10.20 10.00 9.40 9.87 0.34

48 10.00 9.60 9.20 9.60 0.33

20% tanpa pretreatment

asam sulfat

0 14.00 14.00 14.00 14.00 0.00

6 FI* 12.00 11.00 11.00 11.33 0.47 6 FII** 16.00 14.80 14.60 15.13 0.62

12 13.20 12.20 12.60 12.67 0.41

24 10.00 9.00 9.40 9.47 0.41

36 9.00 9.00 9.00 9.00 0.00

48 9.00 9.00 9.00 9.00 0.00

25% dengan pretreatment asam sulfat

0 19.00 17.00 17.20 17.73 0.90

6 FI* 16.00 14.00 14.00 14.67 0.94 6 FII** 20.00 19.00 19.00 19.33 0.47

12 18.00 16.20 16.40 16.87 0.81

24 13.80 13.00 12.60 13.13 0.50

36 13.00 12.20 11.20 12.13 0.74

48 12.00 11.20 11.20 11.47 0.38

25% tanpa pretreatment

asam sulfat

0 18.00 18.00 17.40 17.80 0.28

6 FI* 15.00 15.00 15.00 15.00 0.00 6 FII** 19.00 19.00 19.00 19.00 0.00

12 16.20 17.20 17.20 16.87 0.47

24 13.20 14.00 13.20 13.47 0.38

36 12.60 13.00 12.00 12.53 0.41

48 12.20 12.20 12.00 12.13 0.09

30% dengan pretreatment asam sulfat

0 22.00 22.00 21.60 21.87 0.19

6 FI* 18.00 18.20 19.00 18.40 0.43 6 FII** 24.00 23.80 24.80 24.20 0.43

12 21.20 22.00 21.40 21.53 0.34

24 17.20 18.20 17.60 17.67 0.41

36 16.40 17.20 15.80 16.47 0.57

48 15.20 16.00 15.00 15.40 0.43

0 22.00 22.00 20.20 21.40 0.85

91 30% tanpa

pretreatment asam sulfat

6 FI* 19.00 18.20 18.00 18.40 0.43 6 FII** 24.60 24.00 23.00 23.87 0.66

12 21.20 21.20 20.40 20.93 0.38

24 17.20 18.00 16.60 17.27 0.57

36 16.20 17.00 15.20 16.13 0.74

48 15.20 15.40 14.00 14.87 0.62

*6 FI: jam ke 6 fermentasi setelah Feeding I

** 6 FII: jam ke 6 fermentasi awal Feeding II

2.2.2 Total Penurunan Konsentrasi Gula (% Brix)

perlakuan selisih jam

Konsentrasi Gula (% Brix) Ulangan

1

Ulangan 2

Ulangan

3 rerata stdev

20% dengan pretreatment

0-6 (FI*) 3.2 3.0 3.0 3.1 0.1

6 (FII**)-48 6.0 6.4 5.8 6.1 0.2

total

penurunan 9.2 9.4 8.8 9.1 0.2

20% tanpa pretreatment

0-6 (FI*) 2.0 3.0 3.0 2.7 0.5

6 (FII**)-48 7.0 5.8 5.6 6.1 0.6

total

penurunan 9.0 8.8 8.6 8.8 0.2

25% dengan pretreatment

0-6 (FI*) 3.0 3.0 3.2 3.1 0.1

6 (FII**)-48 8.0 7.8 7.8 7.9 0.1

total

penurunan 11.0 10.8 11.0 10.9 0.1

25% tanpa pretreatment

0-6 (FI*) 3.0 3.0 2.4 2.8 0.3

6 (FII**)-48 6.8 6.8 7.0 6.9 0.1

total

penurunan 9.8 9.8 9.4 9.7 0.2

30% dengan pretreatment

0-6 (FI*) 4.0 3.8 2.6 3.5 0.6

6 (FII**)-48 8.8 7.8 9.8 8.8 0.8

total

penurunan 12.8 11.6 12.4 12.3 0.5

30% tanpa pretreatment

0-6 (FI*) 3.0 3.8 2.2 3.0 0.7

6 (FII**)-48 9.4 8.6 9.0 9.0 0.3

total

penurunan 12.4 12.4 11.2 12.0 0.6

*6 FI: jam ke 6 fermentasi setelah Feeding I

** 6 FII: jam ke 6 fermentasi awal Feeding II

2.2.3 Analisis Ragam Total Penurunan Konsentrasi Gula (% Brix) General Linear Model: % brix versus Treatment, Konsentrasi Gula, Ulangan

92

Factor Information

Factor Type Levels Values Treatment Fixed 2 T1, T2 Konsentrasi Gula Fixed 3 G1, G2, G3 Ulangan Fixed 3 1, 2, 3

Analysis of Variance

Source DF Adj SS Adj MS F-Value P-Value Treatment 1 1.7422 1.7422 11.99 0.006 Konsentrasi Gula 2 30.3333 15.1667 104.36 0.000 Ulangan 2 0.6533 0.3267 2.25 0.156 Treatment*Konsentrasi Gula 2 0.9378 0.4689 3.23 0.083 Error 10 1.4533 0.1453

Total 17 35.1200

Model Summary

S R-sq R-sq(adj) R-sq(pred) 0.381226 95.86% 92.97% 86.59%

Konsentrasi Gula (% Brix)

BNT 0.0452

Ktgalat 0,1458

t (α, ktg) 2,228

α 0.05

Dbg 10

R 9

Comparisons for % brix

Tukey Pairwise Comparisons: Response = % brix, Term = Treatment

Grouping Information Using the Tukey Method and 95% Confidence Treatment N Mean Grouping

T1 9 10.7778 A

T2 9 10.1556 B

Means that do not share a letter are significantly different.

Tukey Simultaneous 95% CIs

Tukey Pairwise Comparisons: Response = % brix, Term = Konsentrasi Gula

Grouping Information Using the Tukey Method and 95% Confidence

93

Konsentrasi

Gula N Mean Grouping G3 6 12.1333 A

G2 6 10.3000 B G1 6 8.9667 C

Means that do not share a letter are significantly different.

2.3 Total Gula (%)

2.3.1 Total Gula (%) Selama Fermentasi Kombinasi

Perlakuan Jam ke Ulangan 1

Ulangan 2

Ulangan

3 rerata stdev

20% dengan pretreatment asam sulfat

0 11.657 11.774 11.977 11.803 0.132 6 FI* 9.447 8.516 7.992 8.652 0.601 6 FII** 14.158 13.024 12.762 13.315 0.606

48 4.648 4.880 4.735 4.754 0.096

total gula

awal*** 163.7 162.8 167.5 164.7 2.0

20% tanpa pretreatment

asam sulfat

0 13.897 13.722 12.675 13.431 0.539 6 FI* 10.232 10.087 9.127 9.815 0.490 6 FII** 14.362 14.217 13.460 14.013 0.395

48 6.335 6.393 5.753 6.160 0.289

total gula

awal*** 180.3 178.5 170.1 176.3 4.4

25% dengan pretreatment asam sulfat

0 17.038 15.031 15.176 15.748 0.914 6 FI* 13.402 11.424 11.395 12.074 0.939 6 FII** 17.300 17.183 17.125 17.203 0.073

48 7.702 6.975 6.829 7.168 0.382

total gula

awal*** 207.3 205.9 205.6 206.2 0.8

25% tanpa pretreatment

asam sulfat

0 16.456 15.962 16.107 16.175 0.207 6 FI* 13.373 13.140 13.257 13.257 0.095 6 FII** 17.649 17.765 17.707 17.707 0.047

48 8.545 8.632 8.254 8.477 0.162

total gula

awal*** 209.4 207.9 209.1 208.8 0.6

30% dengan pretreatment asam sulfat

0 20.464 20.115 17.963 19.514 1.106 6 FI* 16.043 15.694 15.403 15.714 0.262 6 FII** 22.849 22.384 21.278 22.170 0.659 48 12.437 12.146 10.575 11.719 0.818 total gula

awal*** 248.3 268.0 238.4 251.6 12.3 0 20.057 20.580 19.475 20.037 0.451 6 FI* 16.974 16.334 17.032 16.780 0.316

Dokumen terkait