BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
65
66
DAFTAR PUSTAKA
Adelaku O. 2014. Post harvest losses reduction of tomatoes (lycopersicon esculentum l) stored in natural preservatives. Asian Journal of Agricultural and Food Sciences.;2(5):420-424.
Agoes G. 2009. Teknologi Bahan Alam. Bandung: Penerbit ITB.
Ambuk SL, Lestari ABS. 2012. Formulasi Tablet Effervescent Ekstrak Daun Singkong (Manihot utillissima Pohl) Dan Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas.;9(2):52-58.
Andriana RC, Mufrod, Lutfi C. 2014. Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Sebagai Antioksidan Dengan Variasi Konsentrasi Gelatin Sebagai Bahan Pengikat. Khazanah.;6(2):47-54.
Ansel HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Edisi IV). Terjemahan Farida Ibrahim. Jakarta: UI Press.
Bahri F. 2000. Studi mengenai aspek biologi ikan belut sawah (Monopterus albus) di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skripsi. Bogor:
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Bareta R. 2018. Formulasi dan Uji Efektifitas Pengawet dalam sediaan Kapsul Tepung Belut (Monopterus albus Zuiew). Skripsi. Padang: Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang.
Barus P. 2009. Pemanfaatan bahan pengawet dan antioksidan alami pada industri bahan makanan. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Cahyadi W. 2008. Analisis Dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Daryono ED. 2012. Oleoresin dari jahe menggunakan proses ekstraksi dengan pelarut etanol. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional. Malang.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia (Edisi III). Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia (Edisi IV). Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia (Edisi I). Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia (Edisi V). Jakarta: Depkes RI.
Daryono ED. 2012. Oleoresin dari jahe menggunakan proses ekstraksi dengan pelarut etanol. Malang: Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri.
Institut Teknologi Nasional.
67
Djafar R, Harmain RT, Dali FA. 2014. Efektivitas belimbing wuluh terhadap parameter mutu organoleptik dan pH ikan layang segar selama penyimpanan ruang. Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan.;2(1):23-28.
Djamal R. 2010. Kimia Bahan Alam Prinsi-Prinsip Dasar Isolasi dan Identifikasi.
Padang: Universitas Baiturrahmah.
Dwidjoseputro D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusatama.
Endinkeau K, Tan KK. 1993. Profile of Fatty Acid Contents in Malaysian Freshwater Fish. PERTANIKA.;16(3):215–221.
Ernawati R. 2016. Kajian Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Sebagai Antibakteri pada Edible Coating untuk Memperpanjang Umur Simpan Buah Tomat (Lycopersium esculentum). Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Fardiaz S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Harborne JB. 1987. Metode Fisikokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan (Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, penerjemah).
Bandung: ITB.
Haryati S. 2006. Optimalisasi penggunaan Bawang Putih sebagai pengawet alami dalam pengolahan ikan asin jambal roti. Tesis. Bogor: Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Ikhsanudin A, Mardhiyah S. 2018. Formulasi dan Uji Antijerawat Gel Ekstrak Etanol 70% Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) terhadap Bakteri Propionibacterium acnes. MEDULA.;5(1):416-426.
Koswara S. 2009. Pengawet Alami Untuk Produk dan Bahan Pangan.
Ebookpangan. com.
Lachman L, Herbert AL, Joseph LK. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri (Edisi III, jilid II). Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Depok: UI Press.
Lehninger AL. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Lieberman HA, Leon L, Joseph BS. 1989. Pharmaceutical Dosage Forms ( Edition). New York: Marcel Dekker, Inc.
Mulyani 2015. Pengaruh Pemberian Gel Ekstrak Belut (Monopterus albus) terhadap Luka Bakar Tikus Putih Jantan Spraque-Dawley. Skripsi. Padang:
Universitas Andalas.
Ngajow M, Abidjulu J, Kamu, VS. 2013. Pengaruh antibakteri ekstrak kulit batang matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Jurnal MIPA Unsrat Online.;2(2):128-132.
68
Nuzulandari J. 2018. Formulasi dan Uji Efektifitas Pengawet pada Tablet Tepung Belut (Monopterus albus Zuiew). Skripsi. Padang: Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang.
Nursal SW, Juwita WS. 2006. Bioaktifitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roxb) Dalam Menghambat Distribusi Koloni Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Jurnal Biogenesis.;2(2):64-66.
Oktavianti D. 2016. Pengaruh Filtrat Bawang Putih (Allium Sativum Linn) Terhadap Jumlah Koloni Bakteri Pada Fillet Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsk). Prosiding Seminar Nasional II. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Olivia F. 2004. Seluk Beluk Food Suplement. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Padmawinata K. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Organik. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
Pakaya YT, Olii AH, Nursinar S. 2014. Pemanfaatan Belimbing Wuluh sebagai Pengawet Alami pada Ikan Teri Asin Kering. Jurnal Nike.;2(2):93-96.
Pratiwi ST. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
Puspitasari I. 2008. Uji Anti Bakteri Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L) terhadap Staphylococcus aureus In Vitro. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.
Putri FA. 2017. Pengaruh Konsentrasi sari jahe (Zingiber officinale) terhadap umur simpan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) kering. Diploma thesis. Padang: Universitas Andalas.
Razak ZK, Basri M, Dzulkefly K, Razak CNA, Salleh AB. 2001. Extraction and Characterization of Fish Oil from Monopterus albus. Malay J. Anal Sci.
;7(1):217-220.
Rowe RC, Sheskey PJ, Quinn ME. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient ( Edition). Washington : Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.
Roy R. 2009. Buku Pintar Budidaya & Bisnis Belut. Jakarta: Penerbit Agromedia Pustaka.
Sarwono B. 1991. Budi Daya. Belut & Sidat. Jakarta: Niaga Swadaya.
Siregar CJP dan Saleh W. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Sofiyah. 2017. Pengaruh kombinasi ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum), temu mangga (Curcuma manggo) dan jeringau (Acorus calamus) terhadap enzim GTP dan GOT hepar tikus putih (Rattus novergitus) betina. Skripsi.
Malang: Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim.
69
Steenis CV, Hoed D, Blommbergen S, Eyma PJ. 1992.Flora Untuk Sekolah Di Indonesia (Edisi 6). Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Subandi M. 2010. Mikrobiologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syamsuni H. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: ECG.
Uhl SR. 2000. Handbook of Spices, Seasonings and Flavoring. Lancaster-USA.
Technomic Publishing Co. Inc.
Voigt R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi (Edisi 5). Diterjemahkan oleh Soendani Noerono Soewandhi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Warisno KD. 2010. Budidaya Belut Sawah dan Rawa di Kolam Intensif dan Drum (Edisi 1). Yogyakarta: Penerbit Andi.
Winarno F. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Winarti C, Nurdjanah N. 2005. Peluang Tanaman Rempah dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian.;24(2):47-55.
Wirahadikusumah M. 2011. Biokimia: Metabolisme Energi, Karbohidrat, dan Lipid. Bandung: ITB.
Yuliarti N. 2009. A to Z food supplement . Penerbit: Andi.
70
Lampiran 1. Surat Keterangan Hasil Identifikasi
Gambar 14. Hasil Identifikasi Belut
71
Lampiran 2. Skema Kerja
Dibersihkan
Diambil bagian leher sampai ekor (dipotong kecil ± 2 cm)
Dimasukkan ke dalam autoklaf 15 min, 121 ºC, 15 psi
(+) Pengawet
Dioven pada suhu 55 ºC
Diblender dan diayak
Gambar 15. Skema Kerja Pembuatan Tepung Belut Bahan Baku/Belut Sawah
( 500 g)
Belut basah (300 g)
Belut kering
Tepung Belut (64 g)
72
Lampiran 2. (lanjutan)
Ditimbang
Tepung Belut dan Avicel PH 102 dihomogenkan (M1)
M1 ditambahkan dengan mucilago amili sedikit demi sedikit
Diayak dengan ayakan mesh 16
Dikeringkan sampai kering
Diayak dengan ayakan mesh 18
Ditambahkan Magnesium Stearat
Masukkan granul ke dalam cangkang kapsul
Gambar 16. Skema Kerja Pembuatan Sediaan Kapsul Belut Tepung Belut dan
Bahan Tambahan
F2
Yang terdiri dari : Tepung Belut (ekstrak belimbing wuluh)
Avicel PH 102 Mucilago amili
F3
Yang terdiri dari : Tepung Belut (ekstrak bawang putih)
Avicel PH 102 Mucilago amili F1
Yang terdiri dari : Tepung Belut (ekstrak jahe) Avicel PH 102 Mucilago amili
Massa dapat di kepal Granul Basah
Granul Kering Evaluasi :
- Kandungan Air - Kecepatan Alir - Sudut Istirahat - Bobot Jenis Nyata - Bobot Jenis Mampat - Bobot Jenis Benar - Kompresibilitas - Hausner Ratio
Massa Granul
Massa Granul Akhir
Evaluasi :
- Keragaman Bobot - Waktu Hancur Kapsul
73
Lampiran 2. (lanjutan)
- Disterilisasi
- Ditimbang NA 2,8 g - Ditimbang 3,9 g PDA - Dilarut ke dalam 100 mL - Dilarutkan ke dalam
aquadest 100 mL aquadest
- Dipanaskan hingga larut - Dipanaskan hingga
- Diautoklaf pada suhu larut
121°C, 15 psi, 15 min - Diautoklaf pada suhu 121°C, 15 psi, 15 min
Sebanyak 15 mL media dimasukkan kedalam cawan petri
Setelah media mengeras ditambahkan 1 mL sampel uji
Lalu diinkubasi selama ± 24 jam dengan suhu 37 °C untuk bakteri dan ± 72 jam 25 °C suhu untuk jamur
Gambar 17. Skema Kerja Uji Aktivitas Pengawet Alat dan Bahan
Bahan (NA dan PDA)
Media Nutrient Agar Media potato Dextrosa Agar
Pengujian Aktivitas Pengawet (ekstrak jahe, belimbing wuluh dan bawang putih) pada sediaan kapsul
Hasil pertumbuhan bakteri
Hasil pertumbuhan jamur
74
Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Bahan Tambahan dan Bahan Pengawet Tabel XII. Hasil Pemeriksaan Avicel PH 102
No. Pemeriksaan Persyaratan (Rowe dkk, 2009) Pengamatan 1. Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Serbuk halus
Putih
Lemah Khas
Tidak Berasa
Serbuk halus
Putih
Tidak berbau
Tidak berasa
Tabel XIII. Hasil Pemeriksaan Amylum manihot
No. Pemeriksaan Persyaratan (Rowe dkk, 2009) Pengamatan 1. Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Serbuk halus
Putih
Lemah
Tidak Berasa
Serbuk halus
Putih
Tidak berbau
Tidak berasa
Tabel XIV. Hasil Pemeriksaan Magnesium Stearat
No. Pemeriksaan Persyaratan (Depkes RI, 1995) Pengamatan 1. Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Serbuk halus
Putih
Lemah Khas
Tidak Berasa
Serbuk halus
Putih
Tidak berbau
Tidak berasa
75
Lampiran 3. (Lanjutan)
Tabel XV. Hasil pemeriksaan Ekstrak Jahe
Tabel XVI. Hasil pemeriksaan Ekstrak Belimbing Wuluh
No Pemeriksaan Persyaratan
(Depkes RI, 2008) Pengamatan 1 Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Kental
Kuning kecoklatan Khas aromantis Pedas
Kental
Kuning kecoklatan Khas aromantis Pedas
2 Rendemen Tidak kurang dari 6,6% 7,32%
3 Kelarutan
Dalam air
Dalam alkohol 96%
Praktis tidak larut Larut
Praktis tidak larut Larut
4 pH 4,6-6,5 4,82
5 Susut Pengeringan Tidak lebih dari 10% 8,41%
6 Kadar Abu Tidak lebih dari 4,2% 4,02%
7 Identifikasi metabolit sekunder ekstrak etanol jahe.
Flavonoid
Fenolik
Saponin
Terpenoid
Alkaloid
+ + + + +
+ + + + +
No Pemeriksaan Persyaratan
(Depkes RI, 2008) Pengamatan 1 Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Kental Coklat pekat Khas aromantis Agak pahit
Kental Coklat pekat Khas aromantis Agak pahit
2 Rendemen Tidak kurang dari
14,45%
15,22 % 3 Kelarutan
Dalam air
Dalam alkohol 96%
Praktis tidak larut Larut
Praktis tidak larut Larut
4 pH 4,6-6,5 4,66
5 Susut Pengeringan Tidak lebih dari 9,22% 8,33%
6 Kadar Abu Tidak lebih dari 9,5% 7,50%
7 Identifikasi metabolit sekunder ekstrak etanol
76
Tabel XVII. Hasil pemeriksaan Ekstrak Bawang Putih belimbing wuluh.
Flavonoid
Fenolik
Saponin
Terpenoid
Alkaloid
+ + + + +
+ + + + +
No Pemeriksaan Persyaratan
(Depkes RI, 2008) Pengamatan 1 Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa
Kental Coklat muda Khas aromantis Agak pahit
Kental Coklat muda Khas aromantis Agak pahit
2 Rendemen Tidak kurang dari
4,90%
5,92 % 3 Kelarutan
Dalam air
Dalam alkohol 96%
Praktis tidak larut Praktis tidak larut
Praktis tidak larut Praktis tidak larut
4 Ph 4,6-6,5 5,28
5 Susut Pengeringan Tidak lebih dari 10% 9,09%
6 Kadar Abu Tidak lebih dari 3,0% 2,93%
7 Identifikasi metabolit sekunder ekstrak etanol bawang putih.
Flavonoid
Fenolik
Saponin
Terpenoid
Alkaloid
+ + - - +
+ + - - +
77
Lampiran 4. Hasil Evaluasi Granul dan Kapsul Tabel XVIII. Hasil Evaluasi Organoleptis Granul
Formula Bentuk Warna Bau Rasa
F1 Granul Abu-abu Khas Khas
F2 Granul Abu-abu Khas Khas
F3 Granul Abu-abu Khas Khas
F4 Granul Abu-abu Khas Khas
Tabel XIX. Hasil Evaluasi Kandungan air Granul
Formula Berat Awal (g) Kandungan air (%)
F1 5,008 4,19%
F2 5,012 3,64%
F3 5,003 4,02%
Tabel XX. Hasil Evaluasi Kecepatan Alir Granul
Formula Berat Massa (g) Waktu (s) Kecepatan Alir (g/s)
F1 10 1,40±0,02 7,14
F2 10 1,42±0,01 7,04
F3 10 1,41±0,01 7,09
Contoh Perhitungan data 1:
Kecepatan Alir = ( ) ( )
=
= 7,14 g/s
78
Lampiran 4. (lanjutan)
Tabel XXI. Hasil Evaluasi Sudut Istirahat Granul
Formula Berat Massa (g) Jari-jari (cm) Tinggi (cm) Tg
F1 30 5 2,56±0,04 27,11
F2 30 5 2,60±0,07 27,47
F3 30 5 2,63±0,06 27,74
Contoh Perhitungan data 1:
Tg α = =
= 27,11
Tabel XXII. Hasil Evaluasi BJ Nyata dan BJ Mampat Granul
Formula
Berat Massa
(g)
Volume Sebelum dimampatkan
(mL)
Volume Setelah dimampatkan
(mL)
BJ Nyata (g/mL)
BJ Mampat ( g/mL)
F1 30 85±0,57 77±0,57 0,3529 0,3896
F2 30 85±0,56 78±0,57 0,3529 0,3846
F3 30 84±0,57 76±0,56 0,3571 0,3947
Contoh Perhitungan data 1:
Bobot jenis nyata = ( ) ( )
=
= 0,3529 g/mL
Bobot jenis mampat = ( )
( )
=
= 0,3896 g/mL
79
Lampiran 4. (lanjutan)
Tabel XXIII. Hasil Evaluasi BJ Benar Granul
Formula
Volume piknometer
(mL)
Piknometer Kosong (g)
Piknometer + paraffin
cair (g)
Piknometer + granul
(g)
Piknometer + granul +
gparaffin cair (g)
Bj Benar (g/mL) F1 25 22,2380 45,3677 24,2516 46,1006 1,4545
F2 25 22,2380 45,3677 24,2520 46,1011 1,4549
F3 25 22,2380 45,3677 24,2532 46,1026 1,4561
Contoh Perhitungan data 1:
Bobot jenis pelarut (ρ) =
Bobot jenis pelarut (ρ) = –
= 0,9251 g/mL Bobot jenis benar =
( ) ( ) ρ = –
( – ) ( )
=
= 1,4545 g/mL
Tabel XXIV. Hasil Evaluasi Kompresibilitas dan Faktor Hausner Granul Formula Kompresibilitas (%) Faktor Hausner
F1 9,4199 1,1039
F2 8,2423 1,0898
F3 9,5262 1,1052
Contoh Perhitungan data 1:
Kompresibilitas =
=
= 9,4199%
80
Lampiran 4. (lanjutan)
Faktor hausner =
=
= 1,1039
Tabel XXV. Hasil Evaluasi Organoleptis Kapsul
Formula Bentuk Warna Bau Rasa
F1 Lonjong Abu-abu Khas Khas
F2 Lonjong Abu-abu Khas Khas
F3 Lonjong Abu-abu Khas Khas
Tabel XXVI. Hasil Evaluasi Keragaman Bobot Kapsul
No.
F1 F2 F3
Bobot (g) % Bobot (g) % Bobot
(g) %
1. 0,2198 -1,9625 0,2260 0,5338 0,2216 -0,9387 2. 0,2224 -0,8028 0,2319 3,1583 0,2212 -1,1175 3. 0,2272 1,3380 0,2196 -2,3131 0,2282 2,0116 4. 0,2285 1,9179 0,2219 -1,2900 0,2305 3,0397 5. 0,2246 0,1784 0,2196 -2,3131 0,2281 1,9669 6. 0,2243 0,0446 0,2218 -1,3345 0,2187 -2,2351 7. 0,2267 1,1150 0,2273 1,1120 0,2286 2,1904 8. 0,2269 1,2042 0,2280 1,4234 0,2185 -2,3245 9. 0,2248 0,2676 0,2296 2,1352 0,2203 -1,5198 10. 0,2239 -0,1338 0,2263 0,6672 0,2289 2,3245 11. 0,2262 0,8920 0,2241 -0,3113 0,2276 1,7434 12. 0,2229 -0,5798 0,2238 -0,4448 0,2143 -4,2020 13. 0,2264 0,9812 0,2271 1,0231 0,2306 3,0844 14. 0,2279 1,6503 0,2318 3,1138 0,2288 2,2798 15. 0,2220 -0,9812 0,2310 2,7580 0,2174 -2,8162 16. 0,2187 -2,4531 0,2120 -5,6939 0,2324 3,8891 17. 0,2196 -2,0517 0,2280 1,4234 0,2125 -5,0067 18. 0,2203 -1,7395 0,2190 -2,5800 0,2280 1,9222 19. 0,2245 0,1338 0,2278 1,3345 0,2214 -1,0281 20. 0,2270 1,2488 0,2201 -2,0907 0,2170 -2,9950
0,2242 0,0133 0,2248 0,0155 0,2237 0,0134 SD 0,0029 1,3256 0,0051 2,2776 0,0060 2,7090
81
Lampiran 4. (lanjutan) Contoh Perhitungan data 1:
Keragaman bobot = ( ) – ( )
( ) = –
= -1,9625%
Tabel XXVII. Hasil Evaluasi Waktu Hancur Kapsul
No.
Formula
F1 F2 F3
1. 11 min 06 s 11 min 49 s 11 min 28 s
2. 11 min 56 s 12 min 17 s 11 min 57 s
3. 12 min 16 s 12 min 22 s 12 min 28 s
4. 12 min 39 s 12 min 38 s 12 min 42 s
5. 12 min 50 s 13 min 06 s 13 min 04 s
6. 13 min 22 s 13 min 18 s 13 min 24 s
12 min 14 s 12 min 41 s 12 min 30 s
SD 47,2429 32,9484 42,7820
82
Lampiran 5. Foto tepung belut, granul tepung belut dan kapsul tepung belut
(F1) (F2) (F3)
Gambar 18. Foto tepung belut F1 (ekstrak jahe), F2 (ekstrak belimbing wuluh) dan F3 (ekstrak bawang putih)
(F1) (F2) (F3)
Gambar 19. Foto granul tepung belut F1 (ekstrak jahe), F2 (ekstrak belimbing wuluh) dan F3 (ekstrak bawang putih)
(F1) (F2) (F3)
Gambar 20. Foto kapsul tepung belut F1 (ekstrak jahe), F2 (ekstrak belimbing wuluh) dan F3 (ekstrak bawang putih)