• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

B. SARAN

Dari hasil penelitian ini, disarankan agar upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa terus diprioritaskan dan dievaluasi secara berkala. Penting untuk melibatkan seluruh staf pendidikan dalam mendukung proses ini, termasuk dengan pengembangan strategi yang lebih efektif dalam memberikan layanan konseling kelompok. Selain itu, perlu ditekankan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung di rumah.

Kerjasama yang erat antara sekolah dan orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih holistik dalam mengatasi masalah kepercayaan diri siswa. Evaluasi terus-menerus terhadap efektivitas program juga diperlukan untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian, diharapkan program konseling kelompok dapat terus berkontribusi pada pembangunan kepercayaan diri siswa dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan berdaya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Juntik, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling,(Bandung:Refika Aditama, 2009), hlm. 56

Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), hal. 190

Aristiani, Rina, & Kudus, S. M. A. Negeri. (2016). Meningkatkan Percaya Diri Siswa Melalui Layanan Informasi Berbantuan Audiovisual. 2(2), 182 – 189.

Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2008, h. 68.

Endah Rahayuningdiyah ”Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Layanan Konseling Kelompok pada Siswa Kelas VIII D di SMP Negeri 3 Ngrambe” JPE. Volume.1, 2016, Hal. 1

Imas Kurniasih, Berlin Sani. Model Pembelajaran. Yogyakarta: Kata Pena. 2015. h.68 Jhon W. Santrock, Adolesce. Perkembangan Remaja, jakarta, Erlangga, 2003, h 336.

Kurnato, M. Edi. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta,2014, h. 9

Nasrina Nur Fahmi dan Slamet, “Layanan Konseling Kelompok dalam Meningkatkan Rasa Percaya Diri Siswa SMKN 1 Depok Sleman” Jurnal Hisbah, Volume.13,2016. h 75.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2014), hal. 14.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta. 2012. h. 199 Suharismi Arikunto, Dasar -Dasar Research, (Bandung: Tarsoto, 1995 ), hal. 58

Suhertina, Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Pekanbaru: CV Mutiara Pesisir Sumatra, 2015, h. 29

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan . Jakarta: PT Bumi Aksara. 2003. h.27.

Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), Pekanbaru:

PT Raja Grafindo Persada, 2007, h 183-185

LAMPIRAN A. RPL (RANCANGAN PELAKSANAAN LAYANAN)

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2023/ 2024 Satuan Pendidikan : SMAN 1 PERCUT SEI TUAN

Kelas/ Semester : XI INGLANDBIO 3/ GENAP Alokasi Waktu : 1 x 45 Menit

Tugas Perkembangan : Dalam menumbuhkan kepercayaan diri A Topik Permasalahan/ bahasan Kepercayaan diri

B Kompetensi Dasar Dapat menumbuhkan kepercayaan diri C Bidang Bimbingan Pribadi

D Jenis Layanan Konseling Kelompok

E Format Layanan Kelompok

F Fungsi Layanan Pemahaman dan pengentasan

G Tujuan Layanan Peserta didik/ konseli agar mampu menumbuhkan kepercayaan diri

H Hasil yang Ingin Dicapai 1. Adanya respon yang baik dari peserta didik/

konseli

2. Masalah klien terentaskan.

I Sasaran Layanan Kelas XI INGLANDBIO 3

J Karakter yang Dikembangkan Percaya diri, yakin, tangguh dan kreatif K Uraian Kegiatan

1. Strategi Penyajian/

Mode

Diskusi/ tanya jawab

2. Materi 1. Pengertian kepercayaan diri

2. Ciri- ciri yang memiliki kepercayaan diri 3. Faktor- faktor yang mempengaruhi

kepercayaan diri

4. Aspek- aspek kepercayaan diri L Langkah-langkah Pelayanan

1. Tahap Pembentukan 1. Ucapan selamat datang 2. Memulai doa bersama

3. Menjelaskan pengertian konseling kelompok 4. Menjelaskan tujuan konseling kelompok 5. Menjelaskan latar belakang perlunya

konseling kelompok

6. Menjelaskan cara pelaksanaan konseling kelompok.

7. Menjelaskan asas-asas (kerahasiaan, keterbukaan, kesukarelaan, dan kenormatifan) 8. Ice breaking untuk perkenalan/ pengakraban

dengan menyanyikan lagu Rasa Sayange 2. Tahap Peralihan 1. Menjelaskan kembali cara pelaksanaan

kegiatan konseling kelompok

2. Menanyakan apakah anggota sudah siap 3. Mempelajari suasana yang terjadi dalam

kelompok

4. Menekankan/ mengulangi asas-asas kegiatan konseling kelompok

5. Mengucapkan “janji”

3. Tahap Kegiatan 1. Pemimpin kelompok memberikan topik yang akan dibahas

2. Pemimpin kelompok menyampaikan masalah yang akan segera dibahas bersama-sama a. Meminta konseli untuk menjelaskan

masalahnya

b. Pemimpin kelompok memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk bertanya jawab mengenai masalah yang dialami, serta faktor penyebab dari permasalahan konseli

c. Pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk memberi ide alternatif pemecahan masalah konseli

4. Tahap Pengakhiran 1. Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan berakhir

2. Pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok apa kemajuan yang didapatkan

3. Pemimpin kelompok menanyakan kesan dan pesan kepada seluruh anggota kelompok 4. Membuat kesepakatan untuk kegiatan

berikutnya 5. Doa bersama

6. Pengantar anggota kelompok mengisi BMB3 M Tempat Pelaksanaan Kelas

N Waktu

O Pelaksana Layanan Dewi Sinta

P Pihak yang dilibatkan 5 siswa dan 3 siswi Q Media dan bahan yang

digunakan

Buku dan Handphone

R Penilaian Laiseg (Penilaian Segera)

BMB3

S Keterkaitan Layanan dengan Kegiatan Pendukung

PK siap melakukan layanan Fasilitas tersedia

d. Pemimpn kelompok meminta konseli menyampaikan komitmennya.

e. Game peneguhan komitmen

Pelaksana Layanan

(Dewi Sinta) 1213151027

Materi Konseling Kelompok

Rasa percaya diri adalah keyakinan pada kemampuan sendiri, keyakinan pada adanya suatu maksud di dalam kehidupan, dan kepercayaan bahwa dengan akal budi mereka akan mampu melaksanakan apa yang mereka inginkan, rencanakan dan harapkan. Rasa percaya diri penting untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, seperti halnya ketika bergabung dengan suatu masyarakat yang didalamnya terlibat di dalam suatu aktivitas atau kegiatan, rasa percaya diri meningkatkan keefektifan dalam aktivitas atau kegiatan.

Kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman hidup dan berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu dengan baik. Dengan kepercayaan diri yang baik seseorang akan dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam dirinya (Kadek, 2011 : 130). Supriyo (2008:45) mendefinisikan percaya diri sebagai “perasaan yang mendalam pada batin seseorang, bahwa ia mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya, umatnya, agamanya, yang memotivasi untuk optimis, kreatif dan dinamis yang positif”. Pendapat lain disampaikan oleh Hambly (1995:3) sebagaimana dikutip oleh Syaifullah (2010:49) bahwa percaya diri merupakan keyakinan yang kuat dalam diri yang berupa perasaan dan anggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik sehingga memungkinkan individu tampil dan berperilaku dengan penuh keyakinan.

Seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan terlihat dalam setiap tindakan dan sikap yang ia lakukan. Fatimah (2008:149-150) menyebutkan beberapa karakteristik individu yang percaya diri sebagai berikut:

1. Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan ataupun hormat orang lain

2. Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok

3. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, berani menjadi diri sendiri 4. Punya pengendalian diri yang baik. Pengendalian diri yang baik akan menentukan

seseorang berhasil atau tidaknya bergabung dalam masyarakat.

5. Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak bergantung/mengharapkan bantuan orang lain, mempunyai cara pandang positif terhadap diri sendiri dan orang lain dan situasi di luar dirinya).

6. Memiliki harapan yang realistis terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

Schwartz (2008:88) menyampaikan beberapa ciri orang yang bertindak dan berpikir dengan penuh percaya diri adalah “(a) berani duduk di kursi terdepan, (b) mampu mengadakan kontak mata, (c) berjalan 25% lebih cepat, (d) berani menyampaikan pendapat dalam rapat atau forum lain, dan (e) menampilkan rasa percaya diri dengan tersenyum”.

Dari pendapat di atas dapat dilihat bahwa individu yang memiliki kepercayaan diri tinggi memiliki ciri-ciri (a) meyakini kemampuan diri dan mampu memanfaatkannya, (b) berani menghadapi permasalahan dan tidak takut untuk gagal, (c) berani menerima penolakan, (d) tidak mudah menyerah, (e) mampu mengendalikan diri, (f) memiliki harapan yang realistis terhadap dirinya sendiri, (g) mampu menyampaikan pendapat ketika dalam diskusi atau rapat, dan (h) memiliki penampilan yang penuh keyakinan.

Rasa percaya diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Ghufron, 2011 : 27-30):

1. Faktor internal, meliputi:

a. Konsep diri. Terbentuknya percaya diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu kelompok. Konsep diri merupakan gagasan tentang dirinya sendiri. Individu yang mempunyai rasa rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya individu yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.

b. Harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Individu yang memiliki harga diri tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain. Individu yang mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat dirinya sebagai individu yang berhasil percaya bahwa usahanya mudah menerima orang lain sebagaimana menerima dirinya sendiri. Akan tetapi individu yang mempuyai harga diri rendah bersifat tergantung, kurang percaya diri dan biasanya terbentur pada kesulitan sosial serta pesimis dalam pergaulan.

c. Kondisi fisik. Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada rasa percaya diri.

penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri seseorang.

d. Pengalaman hidup. Kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan. Apalagi jika pada dasarnya individu memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan kurang perhatian.

2. Faktor eksternal meliputi:

a. Pendidikan. Pendidikan mempengaruhi percaya diri individu. Tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.

b. Pekerjaan. Bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa percaya diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan, selain materi yang diperoleh. Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena mampu mengembangkan kemampuan diri.

c. Lingkungan. Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan yang baik yang diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat semakin bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar harga diri berkembang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada individu, yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal meliputi konsep diri, harga diri dan keadaan fisik. Faktor eksternal meliputi pendidikan, pekerjaan, lingkungan dan pengalaman hidup.

Menurut Lauster (dalam Ghufron, 2011) anak yang memiliki rasa percaya diri positif adalah:

1) Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif anak tentang dirinya bahwa anak mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.

2) Optimis yaitu sikap positif anak yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.

3) Obyektif yaitu anak yang percaya diri memandang permasalahan atau sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.

4) Bertanggung jawab yaitu kesediaan anak untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.

5) Rasional yaitu analisa terhadap sesuatu masalah, sesuatu hal, sesuatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

57

Menurut Kumara (dalam Isaningrum, 2007) individu yang memiliki rasa percaya diri merasa yakin akan kemampuan dirinya, sehingga bisa menyelesaikan masalahnya karena tahu apa yang dibutuhkan dalam hidupnya, serta mempunyai sikap positif yang didasari keyakinan akan kemampuannya. Individu tersebut bertanggung jawab akan keputusannya yang telah diambil serta mampu menatap fakta dan realita secara obyektif yang didasari keterampilan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki rasa percaya diri yaitu diantaranya memiliki rasa keyakinan akan kemampuan diri, optimis, obyektif, bertanggung jawab serta memiliki pemikiran rasional.

Dalam dokumen LAPORAN MR PTBK DEWI SINTA FINISH (Halaman 48-57)

Dokumen terkait